Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Wanita Haid
    Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Wanita Haid merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 20 Dzulhijjah 1444 H / 9 Juli 2023 M.

    Kajian Hadits Tentang Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Wanita Haid
    Kita sampai pada bab الاتكاء في حجر الحائض والقراءة (bersandar di pangkuan istri yang sedang haid dan hukum membaca Al-Qur’an untuk wanita haid).
    Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:
    عن عائشة ﵂ أَنها قالت: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَتَّكِئُ في حَجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ فَيَقْرَأُ القُرْآنَ.
    “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersandar di pangkuanku, sementara aku sedang haid, lalu Beliau membaca Al-Qur’an.” (HR. Muslim)
    Hadits ini dijadikan dalil oleh jumhur bahwa wanita haid tidak boleh membaca Al-Qur’an.
    Sisi pendalilannya bahwa di situ ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersandar di pangkuanku lalu membaca Al-Qur’an. Kalaulah haid itu boleh membaca Al-Qur’an, tentu ‘Aisyah tidak akan perlu untuk menceritakan tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca Al-Qur’an itu di pangkuan beliau. Tapi ketika disebutkan “membaca al-Qur’an di pangkuanku”, ini memberikan isyarat bahwa wanita haid tidak boleh membaca Al-Qur’an.
    Demikian pula mereka mengqiyaskan wanita haid dengan orang yang junub. Bahwa orang junub tidak boleh membaca Al-Qur’an. Demikian pula mereka berhujjah dengan hadits:
    لاَ تَقْرَإِ الحْاَئِضُ وَلاَ الْجُنُبُ
    “Tidak boleh wanita haid membaca Al-Qur’an, tidak pula orang yang junub.” (Hadits dhaif dengan kesepakatan para ulama hadits)
    Sementara sebagian ulama seperti Imam Malik dan riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal, dan itu yang dirajikan oleh Imam Ibnu Taimiyah, mereka mengatakan bahwa wanita haid boleh membaca Al-Qur’an dengan syarat tidak memegang mushaf. Alasannya adalah pada asalnya boleh, dan tidak ada dalil yang sharih (tegas) yang menunjukkan dilarangnya wanita haid untuk membaca Al-Qur’an. Ada hadits yang shahih tapi tidak tegas, seperti hadits yang sedang kita bahas ini.
    Adapun diqiyaskan dengan junub maka ini qiyas yang berbeda. Wanita haid tidak bisa disamakan dengan orang yang junub. Banyak perbedaannya, di antaranya bahwa orang junub itu hadatsnya tidak terus-menerus, sementara orang haid itu hadatsnya terus-menerus. Sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Atas dasar itu kata Ibnu Taimiyah wanita haid boleh membaca Al-Qur’an dengan syarat tidak boleh memegang mushaf.
    Dan juga kalau wanita haid tidak boleh membaca Al-Qur’an, maka dia akan banyak luput dari kebaikan yang banyak. Sudahlah ia tidak boleh shalat, kemudian tidak boleh baca Al-Qur’an.
    Wallahu a’lam, saya condong kepada pendapat Ibnu Taimiyah dalam masalah ini. Wanita haid boleh membaca Al-Qur’an.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Wanita Haid dan 10 Fitrah
    Mari turut membagikan link download
    54 min
  • Keutamaan Ilmu dan Ulama
    Keutamaan Ilmu dan Ulama merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah pada Ahad, 20 Dzulhijjah 1444 H / 9 Juli 2023 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama
    Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu tentang agama. Al-Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah ketika menyebutkan tentang definisi ilmu, beliau berkata: “Hakikat ilmu adalah yang difirmankan oleh Allah, dan disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan apa yang dipahami oleh para sahabat, bukan sesuatu yang sifatnya dibuat-buat. Ilmu bukan dengan menabrakkan antara dalil dengan pendapat ulama.”
    Imam Asy-Syafi’i berkata: “Ilmu adalah yang ada padanya ucapan haddatsana (ungkapan untuk menunjukkan bahwa sanadnya bersambung sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Selain itu hanyalah was-was setan saja.”
    Artinya kalau ilmu itu tidak nyambung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, itu hakikatnya bukanlah ilmu. Maka setiap ilmu yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits dan apa yang dipahami oleh para sahabat, itu hakikatnya bukan ilmu.
    Oleh karena itu majelis bid’ah tidak disebut majelis ilmu. Karena bid’ah bukan ilmu, bid’ah hakikatnya terputus dan tidak sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Demikian pula setiap orang yang berbicara dalam agama ini tanpa ilmu, hanya sebatas pendapat-pendapat, ini pun hakikatnya bukan ilmu.
    Belajar ilmu agama itu merupakan perkara yang wajib bagi setiap muslim, baik itu yang sifatnya wajib ain maupun wajib kifayah. Allah mencela orang yang hanya berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang akhirat.
    يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
    “Mereka hanya berilmu tentang lahiriah kehidupan dunia, sementara mereka lalai dari kehidupan akhirat.” (QS. Ar-Rum[30]: 7)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إن اللهَ يَبغضُ كلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ، سَخَّابٍ في الأسواقِ، جيفةٍ بالليلِ، حِمارٍ بالنهارِ، عالمٍ بأمرِ الدنيا، جاهلٍ بأمرِ الآخِرةِ
    “Allah benci kepada orang yang sombong, kasar, suka berteriak-teriak, diwaktu malam bagaikan bangkai, diwaktu siang bagaikan keledai, berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang akhirat.” (HR. Ibnu Hibban)
    Ternyata orang yang berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang akhirat termasuk orang yang dibenci oleh Allah.
    Diantara tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk ilmu. Allah berfirman:
    وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً…
    “Ingatlah ketika Rabbmu berkata kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menciptakan makhluk yang akan berbuat kerusakan di muka bumi dan mengucurkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 30)
    Lalu Allah ingin memperlihatkan kepada malaikat hikmah diciptakannya Nabi Adam. Allah berfirman setelahnya:
    وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
    “Allah pun mengajarkan kepada Nabi Adam nama-nama seluruhnya, kemudian Allah menampakkan kepada para malaikat, lalu Allah berfirman: ‘Coba beritahu kepadaKu tentang nama-nama itu semuanya jika kalian orang-orang yang benar.'” (QS. Al-Baqarah[2]: 31)
    Tampaklah kepada malaikat hikmah diciptakan Nabi Adam. Ternyata Allah menciptakan Nabi Adam untuk ilmu. Ternyata Allah lebihkan Nabi Adam di atas malaikat dengan ilmu.
    1 hr 54 min
  • Tujuan Haji Mendapatkan Ridha Allah
    Tujuan Haji Mendapatkan Ridha Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Tujuan-Tujuan Haji. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 14 Dzulhijjah 1444 H / 3 Juli 2023 M.

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Tujuan Haji Mendapatkan Ridha Allah
    Salah satu tujuan daripada melaksanakan ibadah haji yang mulia adalah mendapatkan keuntungan dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keselamatan dari neraka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tujuan ini memiliki dalil-dalil yang sangat banyak sekali. Salah satunya adalah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
    “Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian mereka tidak melakukan rafats (hal-hal yang bisa menghilangkan pahala), tidak melakukan kefasikan, maka mereka pulang seperti baru saja dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Demikian juga hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lainnya:
    الحجُّ المبرور ليس له جزاء إلاَّ الجنَّة
    “Sesungguhnya haji yang mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya kecuali surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
    أما علمتَ أنَّ الإسلامَ يهدم ما كان قبله، وأنَّ الهجرة تهدم ما كان قبلها، وأنَّ الحجَّ يهدم ما كان قبله
    “Tidakkah engkau tahu (wahai ‘Amr) bahwa sesungguhnya Islam akan menghilangkan kesalahan-kesalahan sebelumnya? Begitu juga dengan hijrah akan menggugurkan kesalahan-kesalahan sebelumnya? Begitu juga dengan ibadah haji akan menggugurkan kesalahan-kesalahan sebelumnya?” (HR. Muslim)
    Demikian juga hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
    “Hendaklah kalian ikutkan setelah haji dengan melaksanakan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat dari besi, emas, dan perak. Dan tidak ada balasan yang paling bagus untuk haji yang mabrur kecuali surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi)
    Keberuntungan mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan nikmat yang paling agung dan luar biasa. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ…
    “Sesungguhnya seorang mukmin yang laki-laki dan yang perempuan sebagian mereka adalah wali daripada sebagian yang lainnya, yang mana mereka saling memerintahkan kepada yang ma’ruf, melarang kepada yang mungkar, mendirikan shalat, membayar zakat, taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu adalah orang-orang yang akan dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kepada orang-orang mukmin yang laki-laki ataupun yang perempuan surga yang mengalir di bawahnya anak-anak sungai, mereka kekal di dalamnya dan mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang bagus di dalam surga ‘Adn. Kemudian mereka mendapatkan keridhaan dari Allah yang sangat agung. Karena yang demikian merupakan kemenangan yang luar biasa.” (QS. At-Taubah[9]: 71-72)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam aya...
    44 min
  • Tujuan Haji Mewujudkan Tauhid kepada Allah
    Tujuan Haji Mewujudkan Tauhid kepada Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Tujuan-Tujuan Haji. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 07 Dzulhijjah 1444 H / 26 Juni 2023 M.

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Tujuan Haji Mewujudkan Tauhid kepada Allah
    Sesungguhnya, di antara tujuan ibadah haji yang agung ini adalah mewujudkan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berlepas diri dari segala yang dapat merusak tauhid tersebut, yaitu kesyirikan kepada Allah. Kita berusaha untuk mengikhlaskan semua ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini merupakan tujuan yang paling mulia dalam visi dan misi yang agung, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tauhid adalah pondasi Allah menciptakan hamba-Nya, dan merupakan bentuk Allah menciptakan kita bersama.
    Ketika melaksanakan manasik haji yang mulia ini, dan syiar-syiar yang jelas disebutkan oleh Allah keberkahannya. Maka jelaslah dengan sejelas-jelasnya bagaimana kedudukan tauhid yang sangat mulia dan posisinya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tauhid adalah pondasi yang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dibangun diatasnya, serta semua ketaatan yang mendekatkan diri kepada Allah juga dibina diatasnya. Bahkan semua ketaatan dan ibadah yang tidak berdiri diatas mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melakukan kesyirikan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah menerima dari mereka yang melakukannya.
    Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan Haji Wada, beliau menyebutkan:
    فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ «لَبَّيْكَ اللهُمَّ، لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ، وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ
    “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai ibadahnya dengan mengucapkan tauhid: ‘Labbaik Allahumma Labbaiik….'” (HR. Muslim)
    Kalimat-kalimat yang mulia ini merupakan kalimat tauhid dan mengikhlaskan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam semua ibadah serta berlepas diri dari kesyirikan.
    Orang-orang yang melakukan kesyirikan, mereka bertalbiyah dengan mensyarikatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga mereka tidak mewujudkan apa yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dilakukan dalam bentuk mentauhidkan Allah dan berpas dari kesyirikan.
    Di dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, dari sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik dikala mereka mengucapkan kalimat talbiyah, mereka menyebutkan: لبيك لا شريك لك. Ketika mendengarkan yang demikian tentunya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan:
    ويلكم قد قد
    “Celaka kalian, cukup sampai di situ, cukup sampai di situ.”
    Maknanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih menyetujui apa yang mereka ucapkan. Tapi setelahnya mereka melanjutkan kalimat talbiyah: إلا شريكا هو لك ، تملكه وما ملك (kecuali syarikat yang mana itu milikMu Ya Allah yang Engkau memiliki mereka dan apa yang Kau miliki).
    Mereka mengatakan yang demikian (mensyirikan Allah Subhanahu wa Ta’ala) sedangkan mereka sedang melakukan tawaf di Ka’bah al-Musyarrafah.
    Makna kalimat talbiyah
    Di dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: لَا شَرِيكَ لَكَ (tidak ada serikat dan sekutu untukMu Ya Allah). Dan kalimat ini berulang dua kali di dalam mengucapkan kalimat talbiyah. Yang pertama diucapkan setelah kita mengucapkan لَبَّيْكَ,
    36 min
  • Mukaddimah Kajian Tujuan-Tujuan Haji
    Mukaddimah Kajian Tujuan-Tujuan Haji adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Tujuan-Tujuan Haji. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 30 Dzulqa’dah 1444 H / 19 Juni 2023 M.

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Mukaddimah Kajian Tujuan-Tujuan Haji
    Ibadah haji merupakan ibadah yang paling mulia dan bisa mendekatkan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ibadah ini merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang difardhukan oleh Allah dan menjadi pondasi utama dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan dalam haditsnya:
    بُنِيَ الإسلامُ على خمسٍ شَهادةِ أن لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وأنَّ محمَّدًا رسولُ اللَّهِ وإقامِ الصَّلاةِ وإيتاءِ الزَّكاةِ وصَومِ رمضانَ وحجِّ البيتِ
    “Islam berdiri diatas lima landasan, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan melaksanakan ibadah haji.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Nabi juga memberikan motivasi kepada umatnya untuk melaksanakan ibadah haji dan mengungkapkan keutamaan-keutamaan di dalamnya.
    Salah satunya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan kepada Amr bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu ketika pertama kali dia masuk ke dalam agama Islam. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan:
    أما عَلِمْتَ أنَّ الإسْلامَ يَهْدِمُ ما كانَ قَبْلَهُ؟ وأنَّ الهِجْرَةَ تَهْدِمُ ما كانَ قَبْلَها؟ وأنَّ الحَجَّ يَهْدِمُ ما كانَ قَبْلَهُ؟
    “Tidakkah kamu tahu? Bahwa Islam akan menghilangkan kesalahan-kesalahan sebelumnya, begitu juga dengan hijrah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan sebelumnya, begitu juga dengan ibadah haji yang akan menghapuskan kesalahan-kesalahan sebelumnya.” (HR. Muslim)
    Dalam hadits lain yang disampaikan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan:
    مَنْ حَجَّ وَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
    “Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji tanpa melakukan kefasikan atau melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama, maka dia pulang seolah-olah baru saja dilahirkan oleh orang tuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Sebagaimana juga dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan:
    الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
    “Apabila seseorang melakukan ibadah umroh kemudian diikutkan dengan umroh lainnya, maka dapat menghapus kesalahan-kesalahan yang ada di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan yang paling pantas untuknya kecuali Surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
    Kapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Melaksanakan Haji?
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri melaksanakan ibadah haji pada tahun ke-10 Hijriyah. Beliau mengajarkan tata cara pelaksanaan ibadah haji yang langsung dipraktekkan oleh beliau, dengan harapan agar umatnya dapat mencontohnya.
    Kemduian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan motivasi kepada umatnya agar mereka mengambil ibadah haji langsung dari beliau, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim:
    لَعَلِّي لَا أَلْقَـاكُم بَعدَ عَامي هَذا
    “Hendaklah kalian mengambil semua manasik ibadah haji dariku, karena mungkin aku tidak lagi berjumpa dengan kalian.” (HR. Muslim)
    38 min
  • Nasihat Untuk Jama’ah Haji
    Nasihat Untuk Jama’ah Haji merupakan bagian dari kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, MA Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 29 Syawal 1444 H / 20 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Nasihat Untuk Jama’ah Haji
    Ibadah haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau menyebutkan:
    بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
    “Islam dibangun atas lima perkara; syahadat Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji, puasa ramadhan.”
    Lihat: Hadits Tentang Rukun Islam Dibangun Diatas Lima
    Padahal dalam Islam memiliki banyak amal shalih. Ada sedekah, mengucapkan salam, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya. Yang paling besar pahalanya dari ibadah-ibadah tersebut adalah yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ini menunjukkan keutamaan ibadah haji. Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan ibadah haji salah satu di antara rukun Islam yang lima.
    Maka seorang muslim dan muslimah yang diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji hendaknya merasa bahagia karena melakukan amalan yang besar dalam agama ini.
    Ibadah haji diwajibkan pada tahun ke-9 Hijriah, dua tahun sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal dunia atau setahun sebelum Haji Wada.
    Dalil tentang wajibnya haji adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
    “Dan bagi Allah atas manusia melakukan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu ke sana.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 97)
    Demikian juga dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوْا
    “Telah diwajibkan atas kalian ibadah haji, maka tunaikanlah (ibadah haji tersebut).” (HR. Muslim)
    Berdasarkan ayat dan juga hadits tadi seseorang mengetahui bahwasannya haji ini hukumnya adalah wajib bagi orang yang mampu menuju ke sana. Kemampuan di sini adalah dari sisi fisik maupun harta.
    Keutamaan Haji
    Haji memiliki banyak keutamaan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    العُمرةُ إلى العُمرةِ كفَّارةُ ما بَيْنَهما والحجُّ المبرورُ ليس له جزاءٌ إلَّا الجنَّةُ.
    “Umroh ke umroh berikutnya adalah penebus dosa yang dilakukan di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak memiliki balasan kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Selain sebab masuknya seseorang ke dalam surga, ibadah haji juga memiliki keutamaan dalam menghapus dosa seseorang. Dalam hadits lain, disebutkan bahwa haji yang diulang-ulang dapat menghapuskan dosa, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
    “Hendaklah kalian mengikuti (mengulang-ulang) haji dan umroh, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana api menghilangkan kotoran pada besi, emas, dan perak. Dan tidak ada bagi orang yang mendapatkan haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai, At-Tirmidzi, Ahmad)
    Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Ra...
    57 min
  • Mengenal Allah dengan KemahaindahanNya
    Mengenal Allah dengan KemahaindahanNya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 26 Dzulqa’dah 1444 H / 15 Juni 2023 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Mengenal Allah dengan KemahaindahanNya
    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan dua cara bagi manusia untuk mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan mengenal makhluk ciptaannya, dan dengan mengenal dan memahami ayat-ayat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan di dalam kitab suci Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Selanjutnya Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala mengatakan: “Dan termasuk seagung-agungnya cara mengenal Allah adalah dengan sifat Kemahaindahan-Nya.”
    Tentu pembahasan ini sangat berhubungan erat dengan tema tentang aqidah dan tauhid. Karena mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan dasar kita bisa beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar, yaitu beribadah dengan cinta, takut, dan berharap kepada Allah semata-mata. Tidak akan bisa kita wujudkan ini kalau kita tidak mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits Shahih riwayat Muslim menyatakan:
    إنَّ اللهَ جميلٌ يُحبُّ الجمالَ
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Indah dan mencintai keindahan (yang disyariatkan dalam agamaNya).” (HR. Muslim)
    Ini merupakan cara mengenal Allah yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang istimewa. Dan semua mereka mengenal Allah dengan salah satu dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dan yang paling sempurna mengenal Allah di antara makhluk adalah yang mengenal Allah dengan sifat kemahasempurnaan-Nya, keagungan-Nya, dan kemahaindahan-Nya.
    Maka semakin kita mengenal Allah, semakin kuat rasa cinta, takut, dan harapan kita kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dengan sebenarnya di antara hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fatir[35]: 28)
    Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala mengatakan yaitu orang yang berilmu yang mengenal Allah. Hal ini dikarenakan semakin sempurna pengenalan seorang hamba terhadap Allah dengan menganal nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan ilmu pengetahuannya tentang kemahaagungan Allah semakin kuat, maka otomatis rasa takut dan ketakwaannya kepada Allah semakin kuat dan semakin besar pula.
    Inilah pentingnya mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan selalu merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah, kemudian kita memahami sebagaimana yang dipahami oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Men...
    49 min
  • Cara Kerja Otak Manusia
    Cara Kerja Otak Manusia merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 24 Dzulqa’dah 1444 H / 13 Juni 2023 M.

    Kajian Tentang Cara Kerja Otak Manusia
    Cara kerja otak manusia telah diteliti dan terbukti bahwa otak merekam semua yang masuk ke dalamnya. Mata dan telinga berperan sebagai media untuk mengirimkan informasi ke otak. Informasi yang dikirim ke otak ini akan membentuk cara kerjanya. Oleh karena itu penting bagi seorang mukmin untuk selalu berhati-hati dan waspada terhadap apa yang masuk ke dalam otaknya.
    Salah satu aspek dharuriyyatul–khams adalah menjaga akal, baik dari kerusakan secara fisik (maka kita tidak boleh memukul kepala karena bisa membahayakan otak), demikian juga kita tidak boleh merusak otak dengan minuman keras, narkoba. Demikian juga hal-hal yang bisa merusak melalui pandangan mata dan pendengaran telinga.
    Maka perhatikanlah hikmah syariat yang memerintahkan setiap mukmin agar selalu menjaga pandangan, pendengaran, dan hati dari perkara-perkara yang tidak patut yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin sering seseorang melanggar perintah Allah dengan tidak menjaga pandangan serta pendengarannya, maka hatinya akan semakin keras.
    Oleh karena itu, dilarang untuk mendengarkan syubhat ahli bid’ah yang merusak otak. Demikian juga kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan agar dapat menjaga kebersihan otak, pikiran, dan akal. Jika seseorang selalu melayangkan pandangannya kepada apa saja yang ingin dilihatnya, maka hatinya akan terganggu dan otaknya akan rusak, karena informasi-informasi yang dikirimkan ke otak adalah informasi yang rusak dan kotor.
    Allah menyatakan dalam Al-Qur’an:
    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra'[17]: 36)
    Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menyampaikan informasi yang positif kepada anak-anak sejak usia dini, ini akan menjadi data yang membangun kepribadian anak. Terutama informasi yang berkaitan dengan aqidah (tentang Allah, malaikat, kitab-kitab suci, para nabi dan rasul, hari kiamat, dan takdir). Selain itu, juga penting untuk menanamkan karakter yang baik dan akhlak yang mulia serta membiasakan anak mendengarkan hal-hal yang bermanfaat dan menjauhkan mereka dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
    Orang tua juga harus membentengi anak-anak dari informasi yang merusak, data-data sampah yang dapat membawa pengaruh negatif secara permanen. Apalagi hari ini, teknologi informasi dan media sosial telah sangat maju, dan informasi dapat menyebar dengan cepat hingga ke tangan anak-anak.
    Oleh karena itu, anak-anak sering terpapar informasi yang tidak bermanfaat atau bahkan hoaks. Anak-anak -terutama remaja- yang belum memiliki filter, cenderung menyerap semua informasi tanpa menyaringnya. Hal ini dapat mempengaruhi cara kerja akal mereka. Oleh karena itu, orang tua harus melindungi anak-anak dari informasi yang merusak dan mengisi otak mereka dengan data yang membangun.
    Kesimpulannya, sangat penting untuk melindungi pendengaran dan penglihatan kita dari informasi yang merusak atau negatif. Apalagi saat ini dengan kemajuan teknologi informasi, kita sering terpapar oleh berita dan video yang tidak bermanfaat. Terlebih lagi, anak-anak dan remaja yang penasarannya tinggi rentan terpengaruh oleh informasi yang tidak ba...
    51 min
  • Bab Dipukulnya Orang Karena Salah Bicara Dalam Bahasa Arab
    Bab Dipukulnya Orang Karena Salah Bicara Dalam Bahasa Arab adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 23 Dzulqa’dah 1444 H / 12 Juni 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Bab Dipukulnya Orang Karena Salah Bicara Dalam Bahasa Arab
    Bab Dipukulnya Orang (tentu memukul dalam rangka mendidik) Karena Salah Bicara Dalam Bahasa Arab.
    Kita tahu Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat mulia, bahasa agama kita. Kemanapun kita pergi, kita akan mendapati semua muslim ketika beribadah menggunakan Bahasa Arab. Hal ini tidak dimiliki oleh agama lainnya. Di berbagai negara, orang Muslim dari berbagai latar belakang etnis dan bahasa menggunakan bahasa Arab dalam shalat. Misalnya, di Afrika, Australia, Papua, Aceh, China, Eropa, Italia, mereka mengucapkan “Allahu Akbar” dan salam mereka sama dengan bahasa Arab, yaitu Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bahkan di Spanyol dan Portugal, meskipun mereka memiliki bahasa sendiri, mereka tetap beribadah dengan menggunakan bahasa Arab. Hal yang sama berlaku di Amerika dan Amerika Latin. Bahasa Arab adalah bahasa agama Islam.
    Kita dapat melihat betapa pentingnya bahasa Arab dalam agama Islam dari perhatian Salafus Sholeh terhadapnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan mengatakan di dalam Al-Qur’an:
    بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ
    “Al-Qur’an itu dengan bahasa Arab yang dapat menjelaskan dengan jelas, lugas, dan tegas.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 195)
    Ini tidak ada dalam bahasa lain. Oleh karena itu, tidak ada terjemahan huruf per huruf dari Al-Qur’an, tetapi yang ada adalah tafsir yang menjelaskan maknanya. Ini menunjukkan keutamaan bahasa Arab yang dipilih oleh Allah sebagai bahasa agama Islam dan bahasa Al-Qur’an yang merupakan pedoman bagi umat Islam.
    Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, memerintahkan para sahabat, tabiin, dan generasi berikutnya untuk belajar bahasa Arab. Beliau berkata:
    تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم
    “Kalian belajar bahasa Arab, karena itu bagian dari agama kalian. Belajar juga faraid (ilmu pembagian waris), itu juga termasuk dari agama kalian.”
    Umar bin Khattab pernah menulis surat kepada Abu Musa Al-Asyari Radhiyallahu ‘Anhu yang ketika itu menjadi gubernur. Isi suratnya: “Kalian perdalam pemahaman tentang sunnah, dan kalian perdalam dalam ilmu bahasa Arab. Dan Arabkan Al-Qur’an ini (artinya baca secara bahasa Arab).”
    Di sini Umar  memberikan pencerahan agar orang memahami bahasa Arab dan agar orang-orang belajar syariat. Yang mana sumber syariat itu adalah dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, mengapa ketika seseorang belajar agama melalui bahasa Indonesia, terkadang terjadi kesalahan terjemahan sehingga bisa menyebabkan salahnya pemahaman.
    Imam Bukhari menyebutkan dalam kitabnya bagaimana seseorang bisa dipukul jika mereka salah dalam susunan bahasa Arab. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    1 hr 2 min
  • Khutbah Jumat: Memperbanyak Dzikir Di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
    Khutbah Jumat: Memperbanyak Dzikir Di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 04 Dzulhijjah 1444 H / 23 Juni 2023 M.

    Khutbah Jumat: Memperbanyak Dzikir Di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
    Kita berada dalam hari-hari yang paling dicintai oleh Allah untuk beramal shalih. Hari-hari ini sangat agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sungguh amalan-amalan shalih yang kita lakukan di hari-hari ini sangat dicintai Allah. Sebagai seorang mukmin, kita harus memanfaatkan hari-hari ini untuk beramal shalih dan memperbanyak ketaatan kepada Allah. Amalan-amalan shalih yang kita lakukan di hari-hari ini sangat dicintai oleh Allah.
    Salah satu amalan yang sangat ditekankan adalah memperbanyak takbir, tahlil, dan tahmid.
    Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
    “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintaiNya untuk beramal shalih daripada sepuluh hari ini. Maka, perbanyaklah oleh kalian bertahlil, bertakbir dan bertahmid.” (HR. Ahmad)
    Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya bahwa Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, mereka pergi ke pasar pada tanggal 1 bulan Dzulhijjah dan mereka berdua bertakbir. Orang-orang pun ikut bertakbir bersama mereka. Mereka sengaja pergi ke pasar untuk bertakbir, bukan untuk belanja.
    Sampai-sampai takbirnya manusia pada saat itu bagaikan gemuruh gelombang. Ini karena mereka berusaha untuk melaksanakan anjuran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil, mengucapkan:
    اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْد
    Namun, banyak di antara kita yang lisannya kelu dan malu untuk mengucapkan itu. Padahal, itu merupakan amalan besar di sisi Allah. Ulama tafsir menafsirkan firman Allah:
    وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
    “Dan mereka hendaklah berdzikir kepadaNya di hari-hari yang telah diketahui (yaitu di 10 awal bulan Dzulhijjah).” (QS. Al-Hajj[22]: 28)
    Maka, mari jadikan lisan kita di hari-hari ini mengucapkan takbir membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Besar Allah dengan lisan dan hati kita. Orang yang membesarkan Allah dengan lisannya akan mengagungkan syariat Allah dan perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Semua kita mampu untuk bertakbir, bertahlil, dan bertahmid. Amalan ini ringan di lisan kita namun pahalanya sangat besar di sisi Allah, terutama di hari-hari ini.
    Memperbanyak Shalat
    Selain itu, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak beramal shalih, seperti shalat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    اعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ
    “Ketahuilah, sebaik-baik amal kalian adalah shalat.” (HR. Ahmad)
    Ketika seorang hamba berusaha memperbanyak shalat, yaitu shalat lima waktu, kemudian dia menjaga shalat-shalat rawatibnya, kemudian shalat-shalat sunnah yang lainnya, sungguh ia mendapatkan pahala besar di hari-hari ini, saudaraku.
    Mari kita manfaatkan kesempatan di hari-hari ini untuk banyak beramal shalih. Jangan kita membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Ingatlah bahwa perbuatan dosa di hari-hari ini juga menjadi besar di sisi Allah. Sebagaimana halnya amalan yang sangat dicintai olehNya, perbuatan dosa dihari-hari ini sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    11 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah