Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Mukaddimah Al-Bayan Min Qashashil Qur’an
    Mukaddimah Al-Bayan Min Qashashil Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 13 Muharram 1445 H / 31 Juli 2023 M.

    Kajian Tentang Mukaddimah Al-Bayan Min Qashashil Qur’an
    Isi dari kitab Al-Bayan Min Qashashil Qur’an adalah kisah para Nabi yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an selain Ulul Azmi.
    Penulis Abu Islam Rahimahullahu Ta’ala menyendirikan kisah-kisah yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an secara khusus Ulul Azmi dalam buku beliau juga yang berjudul Al-Burhan Min Qashashil Qur’an.
    Manusia sangat butuh kepada para Nabi dan Rasul. Allah utus para Nabi dan Rasul dengan banyak tujuan, yaitu:
    Pertama, untuk mendakwahi manusia agar beribadah kepada Allah semata. Tidak ada seorang Rasul pun yang diutus melainkan untuk mendakwahi manusia agar mereka beribadah kepada Allah semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa semua para Nabi mengatakan:
    …يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…
    “Wahai kaumku, beribadah hanya kepada Allah saja, kalian tidak memiliki sesembahan selain Dia.” (QS. Al-A’raf[7]: 59)
    Kedua, untuk mengeluarkan hamba-hamba Allah dari kegelapan menuju kepada cahaya. Allah Ta’ala berfirman:
    كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ‎﴿١﴾
    “Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepada engkau wahai Muhammad agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Rabb mereka kepada jalannya Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim[14]: )
    Ketiga, untuk memberikan petunjuk kepada manusia dan membimbing mereka kepada jalan yang lurus. Allah Ta’ala berfirman:
    …وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ‎﴿٥٢﴾‏ صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ ‎﴿٥٣﴾
    “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad), sungguh-sungguh memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Jalan yang lurus ini adalah jalannya Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, ketahuilah kepada Allah semata semua perkara dikembalikan.” (QS. Asy-Syura[42]: 52)
    Keempat, untuk memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan memberikan peringatan kepada orang-orang yang bermaksiat. Allah Ta’ala berfirman:
    …وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ…
    “Tidaklah Kami mengutus para Rasul melainkan sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.” (QS. Al-An’am[6]: 48)
    Kelima, untuk mensucikan jiwa. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
    “Dialah Allah yang telah mengutus di tengah-tengah kaum yang ummi seorang Rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan mereka serta mengajarkan Kitab dan Hikmah. Walaupun sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah[62]: 2)
    Keenam, untuk menjelaskan kepada manusia akan hakikat dunia ini. Hal ini agar manusia tidak tertipu. Oleh karena itu sebaik-baik dari kita adalah yang mau mendengar/membaca Al-Qur’an dan hadits Rasul kita Shallal...
    54 min
  • Tujuan Haji Memperkuat Ketundukan Terhadap Perintah Allah
    Tujuan Haji Memperkuat Ketundukan Terhadap Perintah Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Tujuan-Tujuan Haji. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 13 Muharram 1445 H / 31 Juli 2023 M.

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Tujuan Haji Memperkuat Ketundukan Terhadap Perintah Allah
    Di antara tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita untuk melaksanakan ibadah haji, salah satunya adalah bagaimana kita betul-betul tunduk dan patuh untuk menjawab seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita akan melaksanakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, kita akan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita akan tunduk terhadap syariat-syariat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada kita bersama. Dan ini merupakan di antara tujuan yang paling mulia dari tujuan diwajibkan ibadah haji kepada kita bersama. Sehingga mesti bagi kita untuk memperhatikannya.
    Tujuan ibadah haji ini bisa kita perhatikan di dalam berbagai macam tempat ketika kita melaksanakan ibadah haji. Dan yang paling agung adalah ketika seorang jemaah haji mengucapkan kalimat talbiyah yang mungkin puluhan kali mereka akan mengucapkannya, bahkan ratusan kali membacanya. Tergantung bagaimana kesungguhan dan ketekunan seseorang di dalam melaksanakan ibadah yang mulia ini.
    Kalimat talbiyah merupakan di antara bentuk kita menjawab seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebuah kalimat dimana kita ingin melaksanakan semua perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam kalimat talbiyah akan terulang لبيك empat kali, dan itu merupakan kalimat yang menjawab seruan. Artinya:
    “Ya Allah, sesungguhnya aku akan menjawab seruanMu, aku akan melaksanakan perintahMu, aku akan tunduk terhadap syariat-syariatMu. Engkau memanggilku untuk melaksanakan ibadah haji dan aku pun mengatakan لَبَّيْكَ اللهُمَّ، لَبَّيْكَ (Ya Allah aku jawab seruanMu dan aku pun menjawab seruanMu).”
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam firmanNya:
    وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
    “Umumkanlah kepada manusia agar mereka melaksanakan ibadah haji, maka mereka akan datang dalam keadaan berjalan kaki, menggunakan unta-unta yang kurus, mereka akan datang dari semua arah.” (QS. Al-Hajj[22]: 27)
    Maka panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dijawab oleh mereka-mereka yang ada iman di dalam jiwa dan raganya. Mereka pun mengucapkan لَبَّيْكَ اللهُمَّ، لَبَّيْكَ (Ya Allah, kami menjawab seruanMu, kami patuh terhadap perintahMu, kami tunduk terhadap apa yang Engkau ajak kami untuk melakukannya.)
    Dan kalimat لَبَّيْكَ اللهُمَّ، لَبَّيْكَ dalam talbiyah betul-betul memberikan penekanan di dalam menjawab seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk setelah ketundukan, melaksanakan perintah dan betul-betul berusaha mengerjakannya.
    Dianjurkan bagi mereka yang mengucapkan talbiyah agar mengangkat suaranya. Sebagaimana yang bersumber dari Nabi kita yang mulia, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    جاءَني جبريلُ فقالَ يا محمَّدُ مُر أصحابَكَ فليَرفَعوا أصواتَهُم بالتَّلبيةِ فإنَّها مِن شعارِ الحجِّ.
    “Jibril datang kepadaku, kemudian dia mengatakan: ‘Wahai Muhammad, perintahkan sahabat-sahabatmu untuk mengangkat suaranya ketika mengucapkan kalimat talbiyah, karena itu adalah bagian daripada syiar haji.'” (HR. Ibnu Majah)
    Mengangkat suara di kala kita mengucapkan talbiyah memiliki makna yang sangat agung da...
    43 min
  • Meninggalkan Kewajiban dengan Dalih Uzlah
    Meninggalkan Kewajiban dengan Dalih Uzlah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 13 Muharram 1445 H / 31 Juli 2023 M.

    Kajian Tentang Meninggalkan Kewajiban dengan Dalih Uzlah
    Ibnul Jauzi menyinggung sikap kaum Sufi yang meninggalkan kewajiban (seperti shalat Jumat dan shalat berjamaah) dengan dalih menyendiri atau uzlah. Ini salah satu talbil iblis terhadap mereka.
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa para Salaf memang meilih uzlah (menjauhkan diri dari manusia) agar mereka dapat menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah. Namun, uzlah atau menyendiri ini tidak sampai membuat mereka meninggalkan shalat Jumat dan shalat berjamaah, atau kewajiban-kewajiban agama lainnya, termasuk tuntutan-tuntutan hidup seperti mencari nafkah, menjenguk saudara yang sakit, menghadiri jenazah, atau menjalankan berbagai kewajiban-dewajiban dunia maupun agama.
    Ini menjelaskan kepada kita bahwa uzlah memang ada, tetapi tidak seperti yang dilakukan atau diamalkan oleh kaum Sufi. Dengan alasan ini, mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban. Maka dikatakan bahwa uzlah (العزلة) tanpa huruf ‘ain (yakni ilmu) menjadi zallah (زلة), yaitu ketergelinciran dan kekeliruan. Dan jika tanpa huruf za (yakni zuhud) akan menjadi ‘illah (علة), yaitu penyakit/musibah/malapetaka. Maka tentunya uzlah harus dengan ilmu dan tujuannya adalah kezuhudan.
    Kaum Sufi beruzlah tanpa ilmu. Sehingga mereka mengabaikan kewajiban-kewajiban. Di lain pihak, ada orang yang uzlah tanpa zuhud, maka menyendirinya mereka adalah untuk berbuat maksiat. ADapun para Salaf, para ulama, para sahabat yang beruzlah memiliki keduanya (ilmu dan zuhud).
    Maka dari itu, kita diperintahkan untuk bertakwa:
    اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
    “Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada.” (HR. Tirmidzi)
    Lihat juga: Hadits Arbain ke 18 – Hadits Tentang Takwa
    Bahkan kita dilarang untuk safar sendiri. Hendaknya bersama sahabat atau saudara yang lain. Hal ini karena setan itu bersama orang yang sendiri. Maka kalau uzlah ini tanpa zuhud maka menjadi penyakit.
    Orang-orang yang beruzlah tanpa ilmu, maka akhirnya mereka meninggalkan kewajiban. Memang mereka tidak buat maksiat, mereka mungkin berdzikir dan shalat. Tapi karena tanpa ilmu, akhirnya mereka mengabaikan kewajiban. Mereka tidak mencari nafkah, mengabaikan kewajiban menafkahi anak dan istri. Bahkan mengabaikan kewajiban agama, seperti shalat Jumat dan shalat berjamaah. Mereka juga mengabaikan kewajiban hak-hak sesama muslim, misalnya menjenguk orang yang sakit, menghadiri jenazah, dan lain-lain. Sehingga mereka meninggalkan banyak kewajiban, baik untuk kewajiban agama, maupun kewajiban-kewajiban duniawi. Tentu ini adalah uzlah yang keliru.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Meninggalkan Kewajiban dengan Dalih Uzlah
    Mari turut membagikan link
    31 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 83 – Semua Tunduk Kepada Allah
    Tafsir Ali Imran Ayat 83 – Semua Tunduk Kepada Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 9 Muharram 1445 H / 27 Juli 2023 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 83 – Semua Tunduk Kepada Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ ﴾‏
    “Maka apakah selain agama Allah yang mereka cari, padahal semua yang ada di langit dan di bumi itu tunduk menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik secara sukarela ataupun terpaksa. Dan hanya kepadaNya lah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 83)
    Ini merupakan istifham inkari dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka mencari agama selain agamanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena agama Allah adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Barangsiapa yang mencari agama selain agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka sesungguhnya dia dianggap mencari agama selain agamanya Allah. Bahkan dia mengikuti awak nafsunya.
    Allah Ta’ala berfirman:
    فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ…
    “Apabila mereka tidak sanggup untuk memenuhi tantangan engkau (wahai Muhammad) berupa mendatangkan kitab yang lebih memberikan petunjuk dari Al-Qur’an, sesungguhnya mereka itu mengikuti hawa nafsu belaka…” (QS. Al-Qashash[28]: 50)
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tunduklah penduduk langit dan bumi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dengan sukarela ataupun terpaksa…”
    Maksud tunduk dengan sukarela adalah orang yang beriman dimana mereka orang-orang yang beriman itu tunduk kepada Allah dengan sukarela.
    Adapun tunduk dengan terpaksa maksudnya adalah orang kafir yang tunduk juga kepada Allah tapi dengan terpaksa. Karena pada hakekatnya orang kafir itu tidak keluar dari rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari tadbir (pengaturan) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena semua alam semesta ini di bawah pengaturan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Jadi orang kafir tidak keluar dari kerajaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka bagaimana dia keluar dari agama Allah?
    Artinya bahwa orang kafir itu mengakui akan tauhid rububiyah, tapi mereka mengingkari tauhid uluhiyah.
    Sehingga kesimpulannya orang kafir itu tunduk kepada Allah dari sisi tauhid rububiyah, tapi mereka mengingkari Allah dari sisi tauhid uluhiyah. Mereka beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 83 – Semua Tunduk Kepada Allah
    Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Ali Imran Ayat 83 &...
    38 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 81 – Jalan Para Rasul Itu Satu
    Tafsir Ali Imran Ayat 81 – Jalan Para Rasul Itu Satu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 2 Muharram 1445 H / 20 Juli 2023 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 81 – Jalan Para Rasul Itu Satu
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ ‎﴿٨١﴾‏ فَمَن تَوَلَّىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ‎﴿٨٢﴾‏
    “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Manakala Aku memberikan kepada kalian kitab dan hikmah kemudian datang kepada kalian rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya’. Allah berfirman: ‘Apakah kalian setuju dan mengambil perjanjianKu atas hal demikian?’ Mereka menjawab: ‘Kami setuju’. Allah berfirman: ‘Maka persaksikanlah oleh kalian dan Aku bersama kalian termasuk orang-orang yang bersaksi’. Maka Barangsiapa berpaling sesudah itu, maka mereka adalah orang-orang yang fasik.'” (QS. Ali ‘Imran[3]: 81-82)
    Ada lima hukum yang bisa kita ambil dari dua ayat di atas:
    Jalan Para Rasul Itu Satu
    Pertama, diambil dari ayat-ayat ini bahwa jalannya para rasul itu satu. Yaitu berdakwah untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah dan berdakwah untuk mengikuti para Rasul.
    Para Rasul itu bersaudara. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    نَحْنُ مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ أَوْلَادُ عَلات دِينُنَا وَاحِدٌ
    “Kami para Nabi adalah anak-anak seayah, agama kami satu (sedangkan syariat berbeda-beda.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Jadi agama tauhid itu satu, adapun syariat amaliyah maka berbeda-beda. Allah berfirman:
    … لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا…
    “Bagi setiap umat Kami jadikan di antara kalian aturan dan jalan.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 48)
    Allah memberikan syariat kepada umatNya sesuai dengan waktunya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus hal tersebut dan membuat syariat bagi umat berikutnya dengan syariat yang sesuai dengan masanya. Sampai Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan syariat Nabi Muhammad, Allah menghapus semua syariat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tetaplah syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai akhir dunia ini.
    Syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam harus kita yakini merupakan syariat yang kekal dan layak bagi setiap masa dan tempat.
    Wajib Mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Wajib bagi seluruh penduduk bumi untuk mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Termasuk kaum Yahudi dan Nasrani.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di surah Al-A’raf ayat 158:
    قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
    “Katakanlah wahai Muhammad: ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang diutus untuk ...
    1 hr 7 min
  • Ayat-Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat – Tafsir Surah Ali Imran 7
    Ayat-Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat – Tafsir Surah Ali Imran 7 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 7 Muharram 1445 H / 25 Juli 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Kesempurnaan Ilmu Allah – Tafsir Surah Ali Imran 5
    Ayat-Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat – Tafsir Surah Ali Imran 7
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
    “Dialah Allah yang telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an). Di antara Al-Qur’an ada ayat-ayat muhkamat, dan itu adalah merupakan Ummul Kitab. Dan ada ayat yang mutasyabihat. Adapun orang-orang yang ada di hatinya kecondongan kepada kesesatan, maka mereka mengikuti apa-apa yang mutasyabihat karena mencari fitnah dan mencari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang kokoh dalam ilmu berkata: ‘Kami beriman kepadanya, semua berasal dari sisi Rabb kami.’ Dan tidak ada yang mengingatnya kecuali orang-orang yang punya pikiran saja.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 7)
    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala akan Islam, ia menyebutkan bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an, dan Allah menyebutkan bahwa di dalam Al-Qur’an itu ada dua macam ayat. Yang pertama ayat muhkamat, yaitu ayat yang jelas menunjukkan kepada sebuah hukum atau mengabarkan. Ayat-ayat muhkamat itu tidak ada problem untuk memahaminya.
    Kemudian macam yang kedua, yaitu ayat-ayat mutasyabihat (samar). Kesamaran itu terkadang dalam makna, dimana maknanya tidak jelas, atau kesamaran akibat karena ada pertentangan. Dimana ada orang menganggap bahwa dua ayat saling bertabrakan, tapi ini tidak mungkin.
    Kenapa ada orang menganggap ada ayat bertabrakan, padahal Al-Qur’an tidak mungkin saling bertabrakan? Jawabnya karena memang dia belum punya ilmunya.
    Adanya orang-orang yang menganggap adanya pertentangan dikaren beberapa sebab. Di antaranya:

    * bisa jadi karena ilmunya kurang, sehingga ia tidak tahu bagaimana tata cara mengkompromikannya,
    * atau pemahamannya yang dangkal,
    * atau kurang dalam mentadaburinya,
    * atau memang tujuan atau maksud tujuannya sudah buruk seperti sengaja memang mencari-cari ayat-ayat yang membenarkan hawa nafsunya.

    Maka saat itu akan ada persangkaan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu saling bertabrakan.
    Lalu Allah menyebutkan bahwa ayat-ayat muhkamat itu ummul kitab (induknya Al-Qur’an). Kenapa Allah menyebutkan demikian? Yaitu untuk menjelaskan bahwa hendaknya ayat-ayat mutasyabihat itu dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat. Hal ini karena ayat muhkamat itu bagaikan ibu. Berarti yang lainnya itu harus dikembalikan kepada induk, sebagaimana anak-anak kembali kepada induknya.
    Dan yang dimaksud ummul kitab adalah pokoknya atau rujukannya. Ini adalah manhaj yang benar. Kewajiban kita membawa ayat-ayat mutasyabihat kepada ayat-ayat muhkamat.
    Berbeda dengan manhajnya ahlul bid’ah, mereka membawa ayat-ayat muhkamat kepada ayat-ayat mutasyabihat agar sesuai dengan keinginan mereka.
    Maka kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan setel...
    45 min
  • Dzikir Muqayyad
    Dzikir Muqayyad merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 7 Muharram 1445 H / 25 Juli 2023 M.
    Sebelumnya: Amalan Terbaik Setelah Amalan-Amalan Wajib

    Kajian Tentang Dzikir Muqayyad
    Di antara jawaban yang hampir disepakati oleh para ulama adalah bahwasanya amalan terbaik setelah yang fardhu adalah dzikir, yakni mengingat dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini juga yang telah di-nash oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits shahih dari beliau, bahwasanya amalan yang lebih afdhal daripada menginfakkan emas dan perak, lebih afdhal daripada berjihad di jalan Allah, juga yang paling suci di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling mengangkat derajat adalah dzikrullah (mengingat dan memuji atau menyebut Allah Subhanahu wa Ta’ala).
    Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan ada tiga macam dzikir. Yaitu:

    * Mu’aqqatah (yang ditentukan waktunya),
    * Muqayyadah (yang terkait dengan amalan atau kondisi tertentu),
    * Mutlaqah (yaitu yang tidak terikat dengan waktu).

    Sebagian ulama membagi dzikir menjadi dua saja, mutlaqah dan muqayyadah. Mutlaqah adalah yang bebas/tidak terikat, sedangkan muqayyadah adalah yang terkait dengan waktu atau kondisi atau amalan.
    Ini adalah pembagian yang dilakukan oleh para ulama. Jadi, kadang-kadang ada perbedaan dalam mengklasifikasinya. Ini sesuatu yang wajar, kadang-kadang ada yang membaginya menjadi dua, kadang-kadang membaginya menjadi 3, tapi maknanya sama. Maknanya mereka tidak berselisih, yang beda adalah cara mengklasifikasinya saja. Alhamdulillah.
    Jenis dzikir mu’aqqatah sudah dibahas pada kajian sebelumnya.
    Dzikir Muqayyad
    Jenis kedua menurut klasifikasi adalah Ibnu Taimiyah adalah Dzikir Muqayyadah. Maka beliau mengatakan bahwa diantara amalan yang paling utama adalah mengingat Allah dan memujiNya dengan dzikir yang muqayyadah, yaitu yang dikaitkan dengan amalan-amalan atau kondisi-kondisi tertentu.
    Dzikir Sebelum dan Setelah Makan
    Apa yang kita ucapkan saat kita makan atau minum? Yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Umar bin Abi Salamah, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada Umar bin Abi Salamah Radhiyallahu ‘Anhu:
    سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
    “Ucapkan Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang dekat darimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Lihat: Hadits Tentang Makan dan Minum
    Ini adalah ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk sahabat Umar bin Abi Salamah Radhiyallahu ‘Anhu.
    Di sini, beliau mengatakan “سَمِّ اللَّهَ”, terjemahan leterleknya “sebutlah nama Allah,” tapi yang dimaksud beliau adalah mengucapkan Bismillah. Dan ini sudah dikenal di kalangan ahli bahasa, dikenal para ulama syariat bahwasanya menyebut nama Allah, maksudnya adalah Bismillah. Bukan menyebut nama Allah dengan dzikir yang lain. Jadi, jangan kita memahami, “Oh, berarti menyebut asma Allah apa saja bisa, al-Jabbar bisa, al-Karim, al-Mannan?” Tidak seperti itu. Maksud dari سَمِّ اللَّهَ adalah mengucapkan Bismillah.
    Maka dzikir yang shahih yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat kita akan makan atau minum adalah mengucapkan Bismillah.
    1 hr 4 min
  • Ungkapan-Ungkapan Yang Multi Tafsir
    Ungkapan-Ungkapan Yang Multi Tafsir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 6 Muharram 1445 H / 24 Juli 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Ungkapan-Ungkapan Yang Multi Tafsir
    Kita sampai pada bab yang berkaitan dengan ungkapan-ungkapan yang memiliki multi tafsir. Misalnya, ketika seseorang menyebutkan bahwa dia dari “belakang,” sehingga pendengarnya mengira maksudnya “toilet.” Padahal sebenarnya, yang dimaksud adalah belakang kampus atau belakang studio, bukan toilet.
    Ungkapan-ungkapan dengan multi tafsir seperti itu bisa terjadi karena perbedaan pemahaman antara pembicara dan pendengar. Contohnya, ketika seseorang penjahat berkunjung ke rumahmu, dan ditanya apakah ada orang di rumah, kamu menjawab: “Demi Allah sejak saya berdiri, tidak ada orang yang masuk ke rumah.” Ternyata, yang dimaksud sejak dia berdiri tidak ada orang yang masuk. Namun, pendengarnya memahaminya bahwa “tidak ada orang yang masuk ke rumahnya.”
    Ungkapan seperti ini diperbolehkan. Tentu tidak dalam semua kondisi. Dalam kondisi darurat atau keadaan tertentu yang memang membutuhkan mengucapkan ungkapan-ungkapan dengan multi tafsir. Namun, seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menggampangkan penggunaannya.
    Anas bin Malik berkata: “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah perjalanan, ternyata ada Al-Hadi (pemandu yang melantunkan syair untuk menyemangati unta), lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    ارْفُقْ يَا أَنْجَشَةُ وَيْحَكَ بِالْقَوَارِيرِ
    “Berlembutlah wahai Anjasyah, hendaklah engkau berlemah-lembut kepada gelas-gelas kaca.” (HR. Bukhari)
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut wanita dengan “Qawarir”. Karena wanita itu lembut, tidak seperti laki-laki. Dia lebih perasa. Gelas kalau pecah sulit untuk direkatkan kembali.
    Kalau Nabi berpesan kepada Anjasyah seperti demikian agar tidak membuat unta itu berjalan keras, lalu bagaimana laki-laki yang melakukan KDRT kepada istrinya?
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpesan kepada kita untuk berlemah lembut kepada mereka. Muncul laki-laki yang tidak bertanggung jawab, yang seharusnya dia menjadi pengganti ayah, ibu dan kakak atau adik untuk anak perempuan itu, tapi ternyata dia tidak berlemah lembut kepada para wanita.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
    إِنِّيْ أُحَرِّجُ عَلَيْكُمْ حَقَّ الضَّعِيْفَيْنِ: اَلْيَتِيْمُ وَالْمَرْأَةُ
    “Aku benar-benar menimpakan kesulitan bagi orang yang tidak memberikan hak dua orang yang lemah ini: anak yatim dan wanita.” (HR. Ibnu Majah)
    Wanita itu mudah pecah. Hal ini bukan sebagai bentuk penghinaan terhadap wanita, tapi sebagai bentuk agar orang-orang peduli untuk menjaga dan memperhatikan wanita.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berpesan:
    خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ
    “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dengan keluarganya.” (HR. Tirmidzi)
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    58 min
  • Tujuan Haji Memperkuat Keimanan
    Tujuan Haji Memperkuat Keimanan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Tujuan-Tujuan Haji. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 6 Muharram 1445 H / 24 Juli 2023 M.

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Tujuan Haji Memperkuat Keimanan
    Di antara tujuan ibadah haji diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah untuk memberikan kekuatan kepada keimanan. Ibadah haji terhitung sebagai salah satu wadah yang bisa memperbaiki jiwa seseorang, melembutkan hati, dan menambah keimanan. Betapa banyak pelajaran-pelajaran yang indah, nasehat-nasehat yang memberikan manfaat, agar hati senantiasa bisa tunduk dan kuat keimanannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Senantiasa menginginkan harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ingin selalu kembali kepada Allah.
    Betapa banyak di dalam orang-orang yang melaksanakan ibadah haji air mata yang menetes, betapa banyak taubat-taubat yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, betapa banyak keinginan-keinginan yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, betapa banyak dosa-dosa yang digugurkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, betapa banyak orang-orang yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari api neraka.
    Tempat-tempat untuk memberikan kekuatan kepada keimanan dan penyebab ditambahnya iman di dalam melaksanakan ibadah haji sangatlah banyak sekali. Karena ibadah haji adalah ibadah yang bisa menggugurkan dosa-dosa sebelumnya.
    Haji yang mabrur, tidak ada balasan yang paling pantas untuknya kecuali surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang melaksanakannya tanpa rafats, bermain-main di dalamnya, melakukan hal-hal yang bisa membuat dia lalai, dan juga tanpa melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan dosa kepadanya, maka seolah-olah dia keluar dari melaksanakan ibadah haji tersebut sebagaimana dia baru saja dilahirkan oleh ibunya. Karena ibadah haji merupakan ibadah yang menghilangkan dosa-dosa seorang hamba, sebagaimana api akan menghilangkan karat yang ada di dalam besi. Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits-haditsnya.
    Betapa banyak jamaah haji yang mereka bisa memberikan perubahan dalam kehidupannya. Yang tadinya dari kurang baik menjadi baik, yang tadinya dari baik menjadi yang lebih baik. Dan contoh-contoh demikian bisa kita saksikan di dalam kehidupan. Yang mana kita tidak bisa menghitung contoh tersebut.
    Betapa banyak orang yang melaksanakan ibadah haji, mereka menjadi tempat-tempat yang doa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka mengangkat kedua tangannya dengan penuh kekhusyukan, penuh kerendahan, penuh pengharapan terhadap karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memperbaharui iman yang ada di dalam jiwa dan raganya, memberikan kekuatan, ketabahan di dalam dirinya, agar menjauhkan dari mereka fitnah-fitnah bagi yang dzahir ataupun yang tidak. Mereka juga berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah memperbaiki dunia dan agamanya, demikian juga dengan akhiratnya. Mereka juga bermohon kepada Allah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghiasi dirinya dengan hiasan iman dan menjadikan mereka orang-orang yang bisa memberikan petunjuk.
    Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah mengecewakan hambaNya yang berdoa kepadaNya, dan Allah tidak akan menolak permintaan seorang hamba yang meminta kepadaNya.
    41 min
  • Bermain Adalah Kebutuhan Anak
    Bermain Adalah Kebutuhan Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 07 Dzulhijjah 1444 H / 26 Juni 2023 M.

    Kajian Tentang Bermain Adalah Kebutuhan Anak
    Kita terkadang merasa jenuh ketika aktivitas rutin hariannya itu-itu saja. Hal ini karena kita mengabaikan sesuatu yang namanya refreshing. Ini terjadi pada orang dewasa yang akalnya sudah sempurna. Apalagi orang yang akalnya belum sempurna seperti anak-anak.
    Kalau orang dewasa yang akalnya sudah sempurna saja sangat mungkin terjangkiti kejenuhan dan kebosanan, apalagi anak-anak kecil yang akalnya belum sempurna, mereka lebih berpotensi untuk mengalami kejenuhan.
    Anak kecil yang tantrum bisa jadi adalah ekspresi dari sebuah kejenuhan dan kebosanan. Karena anak kecil itu akalnya belum sempurna, maka dia belum bisa mengekspresikan kebosanannya dengan cara yang lebih elegan.
    Maka pahami bahwa anak punya potensi untuk bosan dan jenuh. Yaitu terutama ketika kebutuhannya tidak terpenuhi.
    Salah satu kebutuhan anak yang kalau tidak dipenuhi maka anak bisa jenuh, bosan bahkan tantrum adalah kebutuhan bermain.
    Bukti bermain merupakan kebutuhan anak adalah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat memperhatikan terpenuhinya kebutuhan itu bagi anak kecil. Bukan hanya memaklumi anak-anak yang punya mainan, bahkan beliau sendiri bermain dengan mereka.
    Terkait dengan mainan, Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan, “Angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai raknya, hingga terlihatlah boneka-boneka miliknya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Beliau bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Koq kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. (HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albaniy)
    Beliau juga menghibur seorang anak kecil bernama Abu Umair, saat mainannya berupa burung kecil mati. (HR. Bukhari dan Muslim)
    Tidak cukup sekedar memastikan anak kecil memiliki mainan, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri bermain dengan anak kecil. Ya’la bin Murrah Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan:
    “Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain Radhiyallahu ‘Anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencandainya dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil menangkapnya”. (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai hasan oleh al-Albaniy)
    Lihat juga: Bermain dengan Anak
    Catatan penting tentang permainan anak
    Pertama: Pilihlah permainan yang minim dampak negatifnya
    Di zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online, menghabiskan waktu dengan HP dan yang semisalnya.
    46 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah