Khutbah Jumat: Mengingat Kematian Ketika Tahun Baru ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 6 Jumadil Akhir 1444 H / 30 Desember 2022 M.
Khutbah Pertama: Mengingat Kematian Ketika Tahun Baru
Pergantian tahun mengingatkan kita kepada kematian, semakin dekat ajal kita. Ketika semakin berganti tahun, berarti itu menunjukkan bahwasanya berkuranglah umur kita, dan semakin dekat ajal kita menuju kematian.
Maka seorang mukmin ketika di penghujung tahun, dia semakin takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, barangkali tahun depan itu adalah merupakan tahun yang terakhir baginya. Dia tidak tahu kapan ajal itu akan datang kepadanya.
Maka sesungguhnya, seorang muslim senantiasa mengingat kematiannya. Dan ia pun berusaha untuk bersiap-siap menujunya.
Adapun kemudian seseorang merayakan tahun baru dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang dalam syariat, tasyabbuh dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, menghambur-hamburkan uang dengan membakar petasan, mengganggu orang-orang yang sedang tidur, itu bukanlah perkara yang disyariatkan dalam Islam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita untuk senantiasa menganggap bahwasanya pergantian hari itu tidak ada perbedaannya dengan pergantian tahun ataupun bulan ataupun minggu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita untuk memakmurkan hidup-hidup kita, waktu-waktu kita, hari-hari kita untuk ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Malam-malam tahun baru tidak ada bedanya dengan malam-malam yang biasanya. Pernahkah kita mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merayakan tahun baru? Pernahkah kita mendengar bahwa para sahabat merayakan tahun baru? Ataukah para tabi’in dan para ulama? Tidak ada satupun dari mereka yang merayakannya. Justru mereka semakin ingat kepada kematian. Semakin datang tahun maka semakin dekat ajal kita.
Maka kewajiban kita untuk semakin semangat dalam ketaatan, semakin kita menambah amalan shalih, semakin kita semangat menuntut ilmu Allah ‘Azza wa Jalla. Karena tidaklah datang suatu zaman kecuali zaman setelahnya lebih buruk dibandingkan dengan zaman sebelumnya. Sebagaimana itu diriwayatkan dalam hadits yang shahih. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ
“Tidak akan datang kepadamu suatu zaman, kecuali zaman sesudahnya akan lebih buruk.” (HR. Bukhari)
Bukan lebih buruk dalam masalah perekonomian, bukan lebih buruk dalam masalah kepemimpinan, akan tetapi ilmu ilmu semakin berkurang, fitnah semakin merajalela, kemaksiatan semakin terlihat. Sehingga banyak orang yang tidak peduli dengan agama Allah ‘Azza wa Jalla.
Maka saudaraku.. Yang kita khawatirkan apabila kita terhampas di dalam kubangan syahwat dan syubhat. Sehingga kemudian kita pun masuk ke dalam neraka jahanam. Na’udzubillah Nas’alullah as salamah wal ‘afiah.
Seorang mukmin yang ia pikirkan adalah keselamatan agamanya. Karena musibah-musibah dunia pasti menerpa. Seorang mukmin tidak mungkin lepas daripada ujian di dalam kehidupan dunia ini. Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda:
مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Senantiasa ujian itu pasti menerpa setiap mukmin pria maupun wanita, pada dirinya,