Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Semua Milik Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 284
    Semua Milik Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 284 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 25 Syawal 1444 H / 16 Mei 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Hukum Gadai – Tafsir Surah Al-Baqarah 283
    Semua Milik Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 284
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لِّلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
    “Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kalian memperlihatkan apa yang ada pada diri kalian atau kalian menyembunyikannya, maka Allah akan hisab itu semuanya untuk kalian. Lalu Allah mengampuni untuk siapa yang Allah kehendaki dan Allah adzab siapa yang Allah kehendaki; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 284)
    Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah, di antara faedah ayat ini adalah:
    Semua Milik Allah
    Kepemilikan Allah yang bersifat umum. Artinya bahwa semua yang ada di langit dan di bumi ini milik Allah semata. Allah berfirman: “Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”
    Kita hanya mengetahui langit dan bumi saja. Namun masuk padanya langit, kursi, Arsy, para malaikat, arwah, dan semua yang ada di langit dan bumi milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Mengurus Langit dan Bumi
    Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengurus langit dan bumi. Dan Allah yang mengatur dengan apa yang Allah kehendaki. Tidak ada yang membantu Allah dalam mengatur langit dan bumi. Dan bagi Allah itu mudah. Allah berfirman: ”
    وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا
    “Dan menjaga langit dan bumi itu tidak memberatkan Allah sama sekali.” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 284
    Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Semua Milik Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 284” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.
    41 min
  • Hari Kiamat Pasti Datang
    Hari Kiamat Pasti Datang adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 24 Syawal 1444 H / 15 Mei 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah Ya’juj dan Ma’juj

    Kajian Tentang Hari Kiamat Pasti Datang
    Ya’juj dan Ma’juj adalah keturunan Nabi Adam. Artinya mereka manusia, tapi sifat mereka sangat kejam. Mereka memerangi kaum muslimin, membuat kerusakan di bumi. Dan tidak ada yang sanggup melawan mereka. Itu yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Karena merasa menang, kuat dan sombong, maka mereka memanah penduduk langit. Kemudian Allah pulangkan panahnya dengan darah. Mereka semakin sombong dengan sebab itu.
    Kemudian mereka mengepung kaum muslimin dan Nabi Isa. Tapi Subhanallah -sebagaimana dalam hadits yang sudah kita baca- Allah Subhanahu wa Ta’ala menghancurkan mereka dengan sangat mudah. Yaitu dengan salah satu tentara Allah berupa ulat. Hanya dengan ulat saja mereka mati. Kemudian Allah juga mengirimkan tentara Allah yang lain berupa burung. Burung itu mengangkatnya dan melemparkan mereka ke tempat yang jauh. Kemudian Allah turunkan hujan membersihkan bau busuk bekas mereka. Sehingga bumi menjadi bersih lagi.
    Hari Kiamat Pasti Datang
    Kisah Ya’juj dan Ma’juj ini menunjukkan bahwa hari kiamat pasti datang dan waktunya sudah dekat. Dalam surah Al-Anbiya ayat yang ke 96 sampai 97, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ ‎﴿٩٦﴾‏ وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ…‏
    “Sehingga apabila dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari tempat-tempat yang tinggi. Dan dekatlah janji yang haq (maksudnya hari kiamat)…” (QS. Al-Anbiya[21]: 96-97)
    Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah berkata kepada para sahabat:
    إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ
    “Hari kiamat tidak akan tegak sehingga sebelumnya kalian melihat 10 tanda hari kiamat…dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan diantaranya ada Ya’juj dan Ma’juj.” (HR. Muslim)
    Tapi sangat disayangkan walaupun hari kiamat dekat, banyak di antara manusia lalai dari hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman:
    اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ ‎﴿١﴾‏ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ ‎﴿٢﴾
    “Telah dekat bagi manusia penghisaban mereka, sedangkan mereka dalam kelalaian lagi berpaling. Setiap diturunkan ayat-ayat yang baru kepada mereka, mereka mendengarnya sambil bermain.” (QS. Al-Anbiya[21]: 1-2)
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hari Kiamat Pasti Datang
    Mari turut membagikan link download kajian “Hari Kiamat Pasti Datang” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya.
    46 min
  • Teladan Para Salaf dalam Bekerja
    Teladan Para Salaf dalam Bekerja ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 24 Syawal 1444 H / 15 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Teladan Para Salaf dalam Bekerja
    Para Salaf dahulu dan orang-orang yang datang setelahnya menekuni dan menggeluti berbagai macam profesi. Mereka bekerja mendapatkan dunia untuk menegakkan punggung mereka. Yaitu untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Mereka bukanlah orang yang berpangku tangan dan mengharapkan bantuan orang lain.
    Disebutkan oleh Ibnul Jauzi bahwa Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, mereka dikenal sebagai pedagang kain. Demikian pula halnya Muhammad bin Sirin, Maimun bin Mihran, yang juga merupakan pedagang kain.
    Adapun Zubair bin Al-Awwam, Amr bin Al-Ash, Amr bin Kuraiz termasuk para pedagang kain campuran sutra dengan wol. Begitu pula Abu Hanifah. Sa’ad bin Abi Waqqash bekerja membuat anak panah. Utsman bin Thalhah berprofesi sebagai penjahit.
    Demikian pula tabi’in serta generasi Salaf berikutnya tetap bekerja dan memerintahkan orang-orang untuk bekerja. Mereka menggeluti profesi ataupun melakukan sesuatu untuk mencari nafkah. Seperti kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    لأَنْ يَأْخُذَ اََحَدُكُمْ اَحْبُلَهُ ثُمَّ يَاْتِى الْجَبَلَ فَيَاْتِىَ بِحُزْمَةٍ مِنْ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِخِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ اَعْطَوْهُ اَوْ مَنَعُوْهُ.
    “Sesungguhnya seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia baik mereka memberi atau tidak.” (HR. Bukhari)
    Dari Amr bin Maimun, dari ayahnya, dia berkata: “Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, lalu dia diberi gaji dua ribu dirham. Abu Bakar pun berkata: “Tambahkan gaji itu, karena aku punya keluarga. Kalian telah membuatku sibuk hingga aku tidak bisa berdagang.” Lalu Para Sahabat kemudian memberinya tambahan lima ratus dirham.”
    Mereka mencari duni juga seperti halnya kita hari ini. Karena rezeki tidak turun dari langit. Rezeki harus diusahakan, tidak bisa modal doa atau modal keshalihan. Kita tahu para Nabi pun bekerja dan berusaha. Mereka punya pekerjaan-pekerjaan yang mereka geluti. Mereka pernah menggembalakan kambing milik penduduk Mekah, pernah membuka jasa titipan harta benda orang-orang Quraisy.
    Jadi para Nabi juga berusaha, tapi tidak demikian halnya menurut pandangan kaum Sufi.
    Ibnul Jauzi berkata; Apabila seseorang bertanya kepada kaum sufi: “Dari mana aku memberi makan keluargaku?” tentu mereka berkata: “Kamu telah berbuat syirik!”
    Andaikan mereka ditanya tentang orang yang keluar rumah untuk berdagang, niscaya mereka berkomentar: “Dia bukan orang yang bertawakal, dia adalah orang yang tidak yakin.”
    Ini semua terjadi karena ketidaktahuan akan makna tawakal dan yakin. Apabila ada di antara mereka menutup pintu rumah lalu bertawakal, tentu orang itu mendekati pernyataan tadi. Tapi mereka berada dalam dua dilema; kebanyakan mereka sungguh-sungguh mencari dunia dan ada yang mengirim budaknya agar berkeliling untuk menjajakan makanan dan mengumpulkan uang baginya. Artinya bahwa kenyataan tidak bisa ditolak. Bagaimanapun mereka meyakini bahwa tawakal itu jangan keluar rumah, tapi kenyataannya mereka memerintahkan orang lain bekerja untuk menghidupi mereka.
    36 min
  • Hukum Qunut Di Semua Shalat Fardhu
    Hukum Qunut Di Semua Shalat Fardhu ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 24 Syawal 1444 H / 15 Mei 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Hukum Qunut Dalam Shalat Fardhu
    Kajian Tentang Hukum Qunut Di Semua Shalat Fardhu
    Pada pertemuan yang sebelumnya Alhamdulillah kita sudah membahas tentang qunut subuh. Bahwa perbedaan pendapat yang ada di qunut subuh adalah perbedaan pendapat yang mu’tabar (sudah ada sejak zaman para imam). Ada yang mengatakan:

    * Qunut subuh yang dilakukan terus-menerus adalah sunnah,
    * Qunut subuh yang dilakukan terus-menerus adalah bid’ah,
    * Qunut subuh yang dilakukan terus-menerus adalah sunnah, dan meninggalkannya secara terus-menerus juga sunnah (tidak ada masalah).

    Dari tiga pendapat yang disebutkan itu, tidak ada satupun dari ulama yang mengatakan bahwa qunut subuh wajib untuk dilakukan terus-menerus. Dan ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semuanya -terutama bagi yang berpendapat bahwa qunut subuh hukumnya sunnah dilakukan terus-menerus- bahwa apabila kita yang berpendapat demikian shalat di belakang orang yang tidak qunut subuh, maka jangan mengkhawatirkan batalnya atau tidak sahnya shalat subuh kita. Karena tidak ada satupun mazhab yang mengatakan bahwa qunut subuh itu diwajibkan.
    Dan tidak perlu juga bagi kita yang berpendapat bahwa qunut subuh adalah sunnah untuk qunut sendiri di belakang imam yang tidak qunut. Karena kita bermakmum kepada orang yang tidak berqunut.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu telah menyabdakan:
    إنما جُعِلَ الإمامُ ليُؤتَمَّ به
    “Imam dijadikan sebagai imam untuk diikuti.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Lihat: Pengikut Hukumnya Mengikuti Sesuatu Yang Dia Ikuti
    Maka ketika imamnya tidak berqunut subuh, jangan sampai kita menyelisihinya.
    Qunut di semua shalat fardhu
    Apakah dibolehkan qunut di semua shalat fardhu? Jawabannya dibolehkan, tapi khusus untuk qunut nazilah. Qunut nazilah adalah qunut yang dilakukan karena ada kejadian/musibah besar yang menimpa kaum muslimin. Dengan adanya kejadian tersebut akhirnya kita sebagai saudara mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah mengangkat musibah tersebut. Kalau mereka dizalimi oleh kaum lain, maka kita meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah misalnya melemahkan atau menimpakan adzab kepada musuh mereka.
    Disyariatkannya qunut nazilah disemua shalat farfhu disebutkan di dalam hadits. Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau mengatakan:
    قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الْصُّبْحِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، مِنَ الرَّكْعَةِ اْلأَخِرَةِ يَدْعُوْ عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِيْ سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ.
    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berqunut satu bulan berturut-turut, beliau ketika itu berqunut di shalat dzuhur, ashar, magrib, isya’ dan juga subuh, di akhir setiap shalat (maksudnya di rakaat terakhirnya). Yaitu apabila beliau telah membaca Sami’Allahu liman hamidah di rakaat yang terakhir, beliau mendoakan keburukan kepada kabilah Ri’lin, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang ada pada perkampungan Bani S...
    53 min
  • Ucapan Setelah Wudhu
    Ucapan Setelah Wudhu merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 23 Syawal 1444 H / 14 Mei 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Sampainya Perhiasan Sesuai Sampainya Air Wudhu

    Kajian Hadits Tentang Ucapan Setelah Wudhu
    Kita masih di bab القول بعد الوضوء (Ucapan setelah wudhu), artinya apa yang kita ucapkan setelah selesai berwudhu.
    Hadits 143:
    عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ – رضيَ اللهُ عنه – قَالَ كَانَتْ عَلَيْنَا رِعَايَةُ الْإِبِلِ فَجَاءَتْ نَوْبَتِي فَرَوَّحْتُهَا بِعَشِيٍّ فَأَدْرَكْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا يُحَدِّثُ النَّاسَ فَأَدْرَكْتُ مِنْ قَوْلِهِ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ قَالَ فَقُلْتُ مَا أَجْوَدَ هَذِهِ فَإِذَا قَائِلٌ بَيْنَ يَدَيَّ يَقُولُ الَّتِي قَبْلَهَا أَجْوَدُ فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ – رضي الله عنه – قَالَ إِنِّي قَدْ رَأَيْتُكَ حين جِئْتَ آنِفًا قَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأشهدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يدخلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ.
    Dari Uqbah bin Amir -semoga Allah meridainya- ia berkata: “Kami punya kewajiban untuk menggembalakan unta-unta. Lalu datanglah giliranku, dan aku pun kemudian pulang di waktu sore. Dan aku mendapatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang berdiri menyampaikan hadits kepada manusia. Dan aku mendapatkan dari sabda beliau: ‘Tidak ada seorang muslim pun yang berwudhu lalu ia memperbagus wudhunya kemudian ia berdiri shalat dua rakaat dan betul-betul ia menghadap dengan wajah dan hatinya, kecuali ia wajib untuknya masuk surga.’ Aku berkata: ‘Betapa bagusnya ini.’
    Tiba-tiba ada seseorang di depanku berkata: ‘Yang sebelumnya lebih bagus lagi.’ Aku melihat ternyata ia adalah Umar. Beliau berkata: ‘Aku tadi melihat kamu datang. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Tidak ada seorangpun yang berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia mengucapkan setelah wudhu: ‘Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh’, kecuali akan dibukakan untuknya delapan pintu surga, ia boleh masuk dari pintu manapun juga.‘”
    Keutamaan shalat wudhu
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pahala yang luar biasa. Kata Nabi: “Tidak ada seorangpun muslim yang berwudhu lalu ia memperbagus wudhunya, kemudian ia berdiri shalat dua rakaat dan betul-betul menghadapkan wajah dengan hatinya, kecuali wajib dia masuk surga.” Dalam riwayat Utsman bin Affan: “Kecuali Allah akan gugurkan dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang.”
    Keistimewaan ini kalau kita perhatikan sepertinya mudah. Tapi kalau kita praktekkan sulit. Setiap wudhu kita shalat. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Bilal: “Hai Bilal, dengan apa engkau mendahuluiku ke surga?” Kata Bilal: “Tidaklah aku berhadats kecuali aku berwudhu lalu shalat dua rakaat.”
    Kemudian untuk mendapatkan pahala yang besar ini, disebutkan syarat dalam hadits dengan menyempurnakan wudhunya. Ini tentunya InsyaAllah mudah untuk kita. Syarat yang kedua ini yang susah. Kata Nabi: “Ia betul-betul menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati...
    51 min
  • Hukum Gadai – Tafsir Surah Al-Baqarah 283
    Hukum Gadai – Tafsir Surah Al-Baqarah 283 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Senin, 17 Syawwal 1444 H / 08 Mei 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Aturan dalam Hutang Piutang – Tafsir Surah Al-Baqarah 282
    Hukum Gadai – Tafsir Surah Al-Baqarah 283
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
    “Dan jika kalian dalam keadaan safar, dan kalian tidak mendapatkan orang yang bisa mencatat transaksi di antara kalian, maka hendaknya ada gadaian sebagai jaminan dipegang oleh orang yang memberikan hutang. Dan jika sebagian kalian merasa percaya (aman dari pengkhianatan) kepada sebagian yang lain, maka hendaklah orang yang telah diberikan amanah itu melaksanakan amanahnya dengan benar, dan hendaklah ia bertakwa kepada Rabbnya. Dan jangan kalian menyembunyikan persaksian. Dan siapa yang menyembunyikan persaksian itu, maka sesungguhnya berdosa hatinya itu. Dan Allah mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 283)
    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala masih berbicara tentang muamalah yang berhubungan dengan hutang piutang. Dan Subhanallah ayat yang terpanjang dalam Al-Qur’an ternyata tentang hutang piutang. Ini menunjukkan betapa pentingnya masalah hutang piutang. Maka kewajiban kita tentunya jangan menganggap remeh hutang.
    Sebagian Ikhwan berhujjah dengan hadits “Siapa yang berniat untuk membayar hutang kemudian dia tidak bisa bayar hutang, nanti Allah akan bayarkan.” Akhirnya malah meremehkan dan berhutang sana sini dengan anggapan “Yang penting saya ada niat mau bayar.” Sehingga yang terjadi dia malah meremehkan masalah membayar hutang. Ini tentu tidak dibenarkan.
    Dari ayat ini kita ambil faedah, kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah:
    Gadai sebagai jaminan hutang
    Ketika safar lalu ada yang akan berhutang dengan jumlah yang cukup besar, dan ternyata tidak ada orang yang bisa mencatatnya. Maka pada waktu itu bisa diganti dengan cara gadaian. Misalnya dikatakan: “Oke, kamu saya akan berikan hutang 10 juta, tapi jaminannya apa?” Misalnya dia punya HP yang harganya 15 juta, maka itu bisa dijadikan jaminan.
    Allah menjaga harta hambaNya
    Perhatian Allah dalam masalah menjaga harta hambaNya. Artinya Allah menyebutkan sampai bentuk seperti ini. Bahwa seseoarng ketika tidak menemukannya orang yang bisa mencatatnya, maka dia ganti dengan jaminan. Ini adalah untuk menjaga hartanya dan agar tidak terjadi pertikaian.
    Namun terkadang dalam masalah gadaian pun terjadi riba. Sebagaimana telah banyak dijelaskan. Misalnya petani menggadaikan sawahnya. Ternyata hasil sawah itu diambil oleh orang yang menghutangkan. Lalu ketika petani membayar hutang, yang menghutangkan itu mendapatkan uang ditambah keuntungan dari sawah. Ini jelas riba.
    Jadi hasil panen dari sawah yang digadaikan itu seharusnya untuk siapa? Jawabnya adalah untuk petani itu. Karena hakikatnya sawah itu hanya sebagai harta jaminan saja.
    Apa lagi aturan dalam hutang piutang? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    44 min
  • Sebagian dari Penjelasan adalah Sihir
    Sebagian dari Penjelasan adalah Sihir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 17 Syawwal 1444 H / 08 Mei 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Sebagian dari Penjelasan adalah Sihir
    Al-Imam Bukhari mengatakan:
    حَدَّثَنَا عَارِمٌ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَجُلًا – أَوْ أَعْرَابِيًّا – أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَكَلَّمَ بِكَلَامٍ بَيِّنٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا، وَإِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حِكْمَةً»
    Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menceritakan bahwasanya ada seorang Arab Badui yang dia datang menjumpai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berbicara dengan Nabi dengan pembicaraan yang sangat jelas dan lugas. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Sesungguhnya penjelasan yang baik itu termasuk dari sihir. Dan sesungguhnya di antara syi’ir itu mengandung hikmah.”
    Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kepada manusia kemampuan untuk berbicara mengungkapkan apa yang di dirinya. Ini sebuah karunia yang Allah tidak berikan kepada binatang. Kita melihat ada burung, ayam, monyet, atau yang lain-lainnya, mereka tidak bisa memberikan penjelasan.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    الرَّحْمَٰنُ ‎﴿١﴾‏ عَلَّمَ الْقُرْآنَ ‎﴿٢﴾‏ خَلَقَ الْإِنسَانَ ‎﴿٣﴾‏ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ ‎﴿٤﴾
    “Ar-Rahman, Dia-lah Allah yang mengajarkan Al-Qur’an, Dia yang menciptakan manusia, Allah mengajarkan kepadanya al-bayan (penjelasan tentang apa yang ada di dalam dirinya).” (QS. Ar-Rahman[55]: 1-4)
    Ini menunjukkan bahwa manusia benar-benar istimewa. Manusia tidak sama dengan makhluk yang lainnya. Allah ajarkan tata cara mengungkapkan dan menjelaskan tentang apa yang ada pada dirinya. Itu hanya ada pada manusia.
    Dan Nabi menjelaskan ketika orang Badui ini mengungkapkan apa yang ada pada dirinya dengan penjelasan yang begitu lugas, keterangan yang begitu jelas, beliau mengatakan: “Sesungguhnya penjelasan yang baik itu termasuk dari sihir.” Artinya orang yang mendengarkan itu bisa benar-benar terhipnotis. Sehingga pendengar menyimak dengan benar, nyaman, fokus dan konsentrasi, lalu dia terpengaruh dengan ucapan orang ini.
    Para ulama berbeda pendapat tentang pernyataan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam “Sesungguhnya di antara penjelasan itu adalah sihir” apakah ini pujian atau celaan? Kalau penjelasannya membuat orang menerima kebatilan sebagai sebuah kebenaran, menjadikan yang salah terlihat benar, maka ini termasuk sihir yang tercela. Tapi kalau seseorang memberikan penjelasan yang membuat orang yang tidak paham menjadi paham, maka ini menjadi pujian untuk penjelasan tadi.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Sebagian dari Penjelasan adalah Sihir
    Mari turut membagikan link
    1 hr 26 min
  • Kisah Ya’juj dan Ma’juj
    Kisah Ya’juj dan Ma’juj adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 17 Syawwal 1444 H / 08 Mei 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah Harut dan Marut

    Kajian Kisah Ya’juj dan Ma’juj
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
    “Sehingga apabila dibuka dinding Ya’juj dan Ma’juj, mereka turun dengan cepat dari semua tempat yang tinggi.” (QS. Al-Anbiya[21]: 96)
    Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda kiamat besar.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada para sahabat, ketika mereka sedang berbicara sesama mereka: “Apa yang sedang kalian bicarakan?” Mereka menjawab: “Kami berbicara tentang hari kiamat.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ – فَذَكَرَ – الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ…
    “Kiamat sesungguhnya tidak akan tegak sampai kalian melihat 10 tanda (besar). Maka beliau menyebutkan: Dukhan, Dajjal, Dabbah, terbitnya matahari dari barat, turunnya ‘Isa bin Maryam ‘Alaihis Salam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj…” (HR. Muslim)
    Hari kiamat adalah hari yang semua kita tidak tahu kapan terjadinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا
    “Manusia bertanya kepada engkau (wahai Muhammad) tentang hari kiamat. Katakanlah: ‘Pengetahuannya itu di sisi Allah.’ Dan tahukah engkau, boleh jadi hari kiamat itu waktunya dekat.” (QS. Al-Ahzab[33]: 63)
    Dari sini kita tahu bahwa manusia tidak mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Yang tahu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kapan hari kiamat terjadi, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.”
    Lihat: Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan
    Hanya saja ulama menyebutkan tanda-tanda kiamat. Keluaran Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu dari tanda kiamat besar.
    Ya’juj dan Ma’juj adalah dari kalangan manusia. Mereka adalah dua umat besar yang jumlahnya sangat banyak. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Kisah Ya’juj dan Ma’juj
    Mari turut membagikan link download kajian “Kisah Ya’juj dan Ma’juj” y...
    0 min
  • Doa, Tawakal dan Ikhtiar
    Doa, Tawakal dan Ikhtiar ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 17 Syawwal 1444 H / 08 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Doa, Tawakal dan Ikhtiar
    Kita masih berbicara tentang hubungan antara tawakal dan ikhtiar. Bahwa keliru dan salah orang yang memisahkan antara keduanya. Tawakal tanpa ikhtiar tidak dikategorikan sebagai tawakal. Sedangkan ikhtiar tidak akan sempurna tanpa tawakal. Maka dari itu keduanya perlu disandingkan di dalam kehidupan kita.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan di dalam Al-Qur’an dalam banyak ayat perintah untuk tawakal.
    …وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
    “Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu, berserah diri.” (QS. Ibrahim[14]: 12)
    Dan banyak lagi ayat-ayat yang menyuruh kita untuk bertawakal.
    Adapun berikhtiar, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah sebutkan itu di dalam Al-Qur’an dalam banyak ayat. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    … خُذُوا حِذْرَكُمْ …
    “Ambillah persiapan kamu…” (QS. An-Nisa'[4]: 71)
    Dan banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menyuruh kita melakukan usaha-usaha untuk meraih apa yang kita inginkan. Demikian juga sikap berhati-hati dan berjaga-jaga, ini juga termasuk salah satu bentuk ikhtiar. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkannya di dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an. Misalnya firman Allah dalam surat Yusuf ayat 5, Allah mengatakan berkaitan dengan mimpi yang dilihat oleh Yusuf:
    …لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ…
    “Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu.” (QS. Yusuf[12]: 5)
    Ini adalah bentuk kehati-hatian agar tidak muncul hasad dari penafsiran mimpi tersebut.
    Demikian juga ketika mereka berusaha kembali ke Mesir untuk mendapatkan bantuan dari raja. Nabi Ya’qub berkata:
    … لَا تَدْخُلُوا مِن بَابٍ وَاحِدٍ…
    “Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang.” (QS. Yusuf[12]: 67)
    Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Mulk ayat 15:
    …فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا…
    “Maka jelajahilah di segala penjurunya.” (QS. Al-Mulk[67]: 15)
    Ini adalah perintah untuk berikhtiar.
    Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita pentingnya untuk melakukan tindakan kehati-hatian atau berjaga-jaga dimana itu masuk dalam bab ikhtiar. Maka tidak ada alasan untuk mengabaikan karunia yang Allah sudah titipkan kepada kita.
    Kita tetap wajib menggunakan kekuatan yang dimiliki. Baru silahkan kita minta apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disinilah baru selaras antara doa, tawakal dan ikhtiar. Dengan demikian kita bisa memahami takdir dengan benar.
    Maka untuk itu Allah menciptakan berbagai perlengkapan dan naluri pada makhluk hidup. Sebagai contoh, Allah menciptakan perlengkapan dan naluri bagi burung agar bisa menolak segala keburukan. Allah melengkapinya dengan cakar, kuku dan taring. Sehingga dia bisa berburu mencari makan dan mempertahankan diri dengan perlengkapan-perlengkapan itu.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan akal bagi manusia. Ini adalah perlengkapan paling tinggi yang Allah berikan kepada makhluk hidup. Akal hanya diberikan kepada manusia yang membimbing mereka supaya mampu mempertahankan diri, mencari kehidupan, membela diri, agar bisa mencapai apa yang dicita-citakan oleh manusia itu.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya?
    41 min
  • Hukum Qunut Dalam Shalat Fardhu
    Hukum Qunut Dalam Shalat Fardhu ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 17 Syawwal 1444 H / 08 Mei 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Membersihkan Kerikil Yang Ada Di Tempat Sujud
    Kajian Tentang Hukum Qunut Dalam Shalat Fardhu
    Qunut adalah masalah yang dari zaman dulu sampai sekarang sangat menarik untuk kita bahas dan diskusikan. Dan masalah tentang qunut ini bisa kita bagi menjadi tiga.

    * Qunut di dalam shalat subuh secara terus-menerus,
    * Qunut di shalat fardhu yang lainnya,
    * Qunut di shalat witir.

    Tiga permasalahan inilah yang sering dibahas oleh para ulama ketika mereka membicarakan tentang qunut.
    Qunut di dalam shalat subuh
    Qunut dalam shalat subuh diperselisihkan oleh para ulama. Ini adalah masalah ijtihadiyah. Dizaman para imam sudah ada perselisihan dalam masalah ini.
    Ada beberapa pendapat. Di antaranya adalah empat pendapat yang masyhur.
    Pertama, qunut subuh ini sunnah muakkadah atau sunnah yang ditekankan dan dianjurkan untuk di rutinkan. Sunnah yang ditekankan maksudnya adalah sunnah yang tingkatannya diatas sunnah-sunnah yang biasa, tapi dia tidak mencapai derajat wajib. Sehingga kalau ditinggalkan pun tidak dianggap berdosa.
    Pendapat ini dipilih oleh Imam Malik. Beliau adalah seorang Imam yang tinggal di kota Madinah. Juga dipilih oleh Imam Syafi’i.
    Pendapat yang pertama ini dipraktekkan oleh mayoritas masyarakat Indonesia yang memang para ulama-ulamanya bermazhab Syafi’i.
    Dalil dari pendapat ini adalah hadits umum yang shahih. Ada juga hadits khusus yang diperselisihkan oleh para ulama tentang kesahihannya, namun –wallahu a’lam– yang lebih kuat hadits tersebut hadits yang lemah.
    Hadits yang shahih adalah hadits umum, diantaranya dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau pernah ditanya: “Apakah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu berqunut di shalat subuh?” Maka sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan: “Iya”. Kemudian sahabat Anas ditanya lagi: “Apakah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu qunutnya sebelum ruku’?” Maka sahabat Anas mengatakan:
    بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا
    “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu qunutnya setelah ruku dan sebentar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ini adalah hadits umum. Memang pertanyaannya tentang qunut subuh, tapi masih ada sisi umumnya. Sisi umumnya adalah apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu qunut subuh secara terus-menerus atau hanya sementara?
    Hadits yang kedua tentang qunut subuh dan khusus. Hanya saja ini diperselisihkan oleh para ulama tentang kesahihannya. Dan saya katakan tadi -wallahu a’lam- hadits ini lemah.
    Dari sahabat Anas Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
    ما زال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت في الفجر حتى فارق الدنيا
    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu selalu qunut di shalat subuhnya sampai beliau meninggalkan dunia ini.”
    Pendapat yang pertama ini bukan pendapat yang lemah, tapi ini pendapat yang lumayan kuat. Diantara yang menguatkannya adalah kenyataan bahwa Imam Malik Rahimahullahu Ta’ala hidup di Madinah dalam waktu yang lama. Sampai mendapatkan julukan “Imamnya Penduduk Madinah.” Kota Madinah adalah kota yang dahulu dipenuhi oleh para sahabat Nabi Shallall...
    1 hr 7 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah