Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Hukum Bertepuk Tangan Ketika Merasa Senang
    Hukum Bertepuk Tangan Ketika Merasa Senang ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 5 Ramadhan 1444 H / 27 Maret 2023 M.

    Kajian Tentang Hukum Bertepuk Tangan Ketika Merasa Senang
    Satu kebiasaan yang dilakukan oleh kaum sufi dalam mengekspresikan rasa gembira karena mendengar qasidah/nyanyian yaitu mereka mengiringinya dengan tepukan tangan.
    Abu Ali bin Al-Katib menceritakan bahwa Ibnu Banan terbiasa mengalami wajd, sedangkan Abu Sa’id Al-Kharraz terbiasa bertepuk tangan untuknya.
    Ibnul Jauzi mengatakan: Padahal tepuk tangan merupakan kemungkaran yang menyenangkan yang bisa mengeluarkan pelakunya dari batas-batas kewajaran. Perbuatan seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang berakal, dan pelakunya pun menyerupai orang-orang musyrik yang biasa bertepuk tangan di Baitullah. Perbuatan mereka ini dicela oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً…
    “Dan ibadah mereka di sekitar Baitullah tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan…” (QS. Al-Anfal[8]: 35)
    Bertepuk tangan juga menyerupai perbuatan yang biasa dilakukan oleh kaum wanita. Maka orang yang berakal niscaya enggan melakukan sesuatu yang bisa mengeluarkannya dari kewibawaan kepada tindakan yang memalukan dan menjadi kebiasaan orang-orang kafir dan kaum wanita.
    Kebiasaan tepuk tangan merupakan salah satu kebiasaan yang buruk dan tidak pantas, ini menjatuhkan kehormatan di kalangan Salaf dahulu. Tepuk tangan merupakan bentuk tasyabbuh dengan orang-orang musyrik dan kaum wanita. Maka tidak selayaknya ini dilakukan.
    Anak-anak jangan dilatih dan dibiasakan tepuk tangan. Karena itu bukan kebiasaan yang baik. Itu adalah kebiasaan orang-orang di luar Islam yang tidak patut ditiru oleh kaum muslimin.
    Salah satu di antara talbis iblis terhadap kaum sufi adalah mereka mengekspresikan kegembiraan/ketakjuban terhadap sesuatu yang mereka lihat dan dengar, maka mereka bertepuk tangan. Apalagi tepukan tangan ini mengiringi ibadah dzikir yang dilakukan, ini tentunya sangat tidak layak. Apalagi misalnya dilakukan di masjid atau di majelis ilmu. Maka kita menjauhi hal-hal seperti itu.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hukum Bertepuk Tangan Ketika Merasa Senang
    Mari turut membagikan link download kajian “Hukum Bertepuk Tangan Ketika Merasa Senang” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    31 min
  • Meludah Ketika Shalat
    Meludah Ketika Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 5 Ramadhan 1444 H / 27 Maret 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Hal-Hal Yang Tidak Dibolehkan Dalam Shalat
    Kajian Tentang Meludah Ketika Shalat
    Meludah ke arah kiblat atau ke sisi kanan ketika shalat dilarang di dalam Islam. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
    إن أحدكم إذا قام يصلي فإن الله تبارك وتعالى قبل وجهه، فلا يبصقنَّ قِبل وجهه ولا عن يمينه، وليبصق عن يساره تحت رجله اليسرى فإن عجلت به بادرة فليقل بثوبه هكذا» ثم طوى ثوبه بعضه على بعض
    “Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila berdiri untuk shalat, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ada di depannya. Maka jangan sampai dia meludah ke arah depan dan juga jangan sampai dia meludah ke arah kanan. Hendaklah dia meludah ke arah kirinya di bawah kaki kirinya. Apabila ia tergesa-gesa untuk meludah dan dia tidak bisa meludah ke arah kiri, hendaklah dia meludah ke bagian pakaiannya kemudian pakaian tersebut dilipat.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
    Dalam hadits ini, perintah “meludah ke arah kirinya di bawah kaki kirinya” datang setelah larangan. Sebelumnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang untuk meludah ke arah depan dan ke arah kanan. Perintah yang datang setelah larangan itu menunjukkan hukum mubah, bukan dianjurkan. Kalau ingin meludah, maka meludahlah ke arah kiri dan meludahlah di bawah kaki kiri.
    Kita juga harus memahami hadits ini sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masjid itu masih beralaskan tanah, tidak seperti masjid-masjid kita saat ini yang beralas dan karpet, keramik, granit atau yang lainnya. Yang jelas ketika keadaannya seperti di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka tidak ada masalah melakukan yang seperti ini. Tapi keadaan kita saat ini berbeda. Kalau kita meludah di karpet atau di keramik atau di granit, maka ini sangat tidak baik. Maka jangan lakukan yang seperti ini di masjid-masjid yang sudah beralaskan karpet, sajadah, atau yang lainnya. Kita harus memahami hadits sesuai dengan situasi dan kondisinya.
    Kemudian kita juga harus memahami bahwa ini bisa kita lakukan ketika di sebelah kiri kita tidak ada orang.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Meludah Ketika Shalat
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Meludah Ketika Shalat” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    54 min
  • Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal
    Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jumat, 2 Ramadhan 1444 H / 24 Maret 2023 M.

    Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal
    Kita bersyukur kepada Allah yang masih memberikan kepada kita kesempatan untuk bisa beribadah di bulan Ramadhan yang mulia ini. Sungguh bulan Ramadhan adalah merupakan nikmat Allah yang besar kepada kita. Karena dengan adanya bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita banyak sekali kebaikan-kebaikan, berupa ampunan dari dosa, dan diangkatnya derajat-derajat kita.
    Maka saudaraku.. Inilah bulan yang mulia. Kesempatan kita untuk memperbanyak beramal shalih dan menyelamatkan diri kita dari api neraka. Karena setiap kita berkewajiban untuk menyelamatkan dirinya dari api neraka dengan banyak beramal shalih, menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan-larangan.
    Namun saudaraku.. Amal ketaatan tidak akan sempurna kecuali dengan tiga perkara. Al-Imam Ibnu Qudamah menyebutkan itu dalam Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin:
    لا يتم المعروف إلا بثلاث ‏:‏ بتصغيره، وتعجيله، وستره
    “Tidak sempurna amal kebaikan kecuali dengan tiga perkara; [pertama] tidak menganggap bahwa amal kita banyak, [kedua] segera melakukannya dan tidak menunda-nunda, [ketiga] menyembunyikannya/tidak memperlihatkan kepada manusia.”
    1. Menyegerakan Amalan Shalih
    Sesungguhnya itu yang diperintahkan oleh Allah. Allah berfirman:
    وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ …
    “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan Rabb kalian…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 133)
    Allah juga berfirman:
    وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
    “Dalam perkara itulah hendaklah orang-orang yang berlomba-lomba itu berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin[83]: 26)
    Allah menyuruh kita bersegera kepada segala kebaikan. Ini menunjukkan bahwa ketika bersegera tentu kita tidak menunda-nunda sampai waktu esok ataupun kapan. Karena sesungguhnya sifat menunda-nunda bukanlah sifat seorang mukmin yang semangat di dalam beramal shalih.
    Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Jauhi oleh kalian sifat taswif (menunda-nunda). Karena engkau berada di hari ini, bukan di hari esok. Jika engkau bisa melakukan di hari ini besok pun engkau bisa melakukannya.”
    Saudaraku seiman.. Sifat menunda-nunda bukanlah sifat orang yang semangat, akan tetapi ia adalah sifat pemalas. Orang yang senantiasa menunda hakikatnya ia tertipu oleh setan. Setan berusaha bagaimana supaya ia menunda-nunda amal shalihnya. Oleh karena itulah Abdullah bin Umar bin Khattab ketika membawakan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
    “Jadilah kamu di dunia seakan-akan kamu orang yang asing atau kamu sedang berada dalam perjalanan safar.”
    Lalu Abdullah bin Umar berkata: “Kalau kamu berada di waktu pagi, jangan tunggu-tunggu waktu sore. Dan kalau kamu berada di waktu sore, jangan tunggu-tunggu waktu pagi. Ambil kesempatan sehatmu sebelum kamu sakit. Dan ambil kesempatan hidupmu sebelum kamu meninggal dunia.”
    Maka saudaraku.. Kita berusaha setiap kali Allah berikan kepada kita kesempatan beramal shalih, jangan sampai kita tunda dan berkata “nanti dan nanti”.
    Demi Allah, saudaraku.. Kita tidak tahu kapan ajal kita akan datang. Maka ketika Allah berikan kepada kita sekarang di bulan Ramadhan ada kesempatan emas untuk menggugurkan dosa-dosa, maka kita gunakan sebaik-baiknya puasa Ramadhan ini dengan banyak beramal shalih, dengan membaca Al-Qur’an,
    14 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 77 – Ancaman Bagi Orang Yang Memperjualbelikan Janji dan Sumpah
    Tafsir Ali Imran Ayat 77 – Ancaman Bagi Orang Yang Memperjualbelikan Janji dan Sumpah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 1 Ramadhan 1444 H / 23 Maret 2023 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 77 – Ancaman Bagi Orang Yang Memperjualbelikan Janji dan Sumpah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
    “Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah, mereka itu tidak mendapatkan bagian di akhirat kelak, dan Allah tidak mengajak bicara kepada mereka dan tidak melihat mereka di hari kiamat dan Allah tidak mensucikan mereka. Dan bagi mereka adzab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 77)
    Sebab turun dari ayat yang mulia ini disebutkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَن حَلف على يمينِ صَبْرٍ، يَقْتَطِعُ بها مالَ امرىءٍ مُسلمٍ، هو فيها فاجِرٌ، لَقِيَ الله وهو عليه غضبانُ
    “Barangsiapa yang bersumpah dengan sumpah untuk mengambil secara paksa harta seorang Muslim, sedangkan dia melakukan kefajiran padanya, maka dia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Al-Asy’as bin Qais berseteru dengan seorang dari Yahudi tentang sebuah tanah. Kemudian dia ingkar. Al-Asy’as mengadukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apakah engkau punya bukti?” Dia menjawab: “Tidak.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Yahudi: “Bersumpahlah engkau.”
    Maka Al-Asy’as bin Qais berkata: “Ya Rasulullah, kalau dia bersumpah maka hartaku akan hilang.” Maka Allah Ta’ala menurunkan firmanNya ini.
    Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang Yahudi dan mencela orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah Allah dengan harga murah.
    Maksud “Janji Allah” yaitu janji yang Allah ambil dari mereka berupa keimanan. Mereka berjanji akan beriman kepada Allah untuk mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, membenarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta untuk menjelaskan ilmu yang ada pada kitab mereka tentang hal tersebut. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:
    وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ
    “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji kepada Ahli Kitab: ‘Hendaknya kalian menjelaskannya kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka memperjualkannya dengan harga yang murah. Amatlah buruklah jual beli mereka itu.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 187)
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    32 min
  • Bacaan Dzikir Pendek
    Bacaan Dzikir Pendek adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 28 Sya’ban 1444 H / 21 Maret 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Membaca Doa Ketika Sujud
    Bacaan Dzikir Pendek
    Hadits terakhir yang kita bahas adalah hadits Ummul Mukminin Juwairiyah binti Al-Harits Radhiyallahu ‘Anha, salah seorang dari istri Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Pada kesempatan yang lalu sudah dibahas tentang dzikir yang dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena ketika Nabi akan pergi mengerjakan shalat subuh, Juwairiyah Radhiyallahu ‘Anha sedang berdzikir. Sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali beliau tetap berada di tempat shalatnya. Sehingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mengajarkan agar mengucapkan kalimat-kalimat yang seandainya ditimbang, maka kalimat tersebut telah memadai apa yang diucapkan oleh Juwairiyah Radhiyallahu ‘Anha semenjak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar dari rumahnya ke masjid sampai kembali. Yaitu mengucapkan tiga kali:
    سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
    “Maha suci Allah, dan segala puji hanya milikNya sebanyak ciptaanNya, Maha suci Allah sesuai dengan keridhaanNya, Maha suci Allah seberat timbangan ArsyNya, dan sebanyak tinta yang mencatat kalimat-kalimat Allah.” (HR. Muslim)
    Lihat: Dzikir Pagi
    Kita melihat bahwa kalimat-kalimat ini semuanya adalah pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Maha suci Allah, dan segala puji hanya milikNya sebanyak ciptaanNya. Tidak ada yang mengetahui ciptaan Allah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang memuji dan mensucikan Allah Ta’ala sejumlah ciptaanNya.
    Maha suci Allah sesuai dengan keridhaanNya. Ini satu hal yang tentu tidak terbatas. Sehingga ini adalah ucapan yang sangat luar biasa dalam mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Maha suci Allah seberat timbangan Arsy-Nya. Dari lafadz ini para ulama menyebutkan bahwa makhluk Allah yang paling berat adalah Arsy (singgasana Allah Subhanahu wa Ta’ala). Yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di atasnya. Adapun bagaimana Allah ada di atasnya, wallahu a’lam. Kita tidak mengetahuinya. Tapi Allah memberitahukan dan kita beriman kepada Allah, beriman kepada RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
    “Allah Yang Maha Pemurah, Dia berada di atas ArsyNya.” (QS. Tha Ha[20]: 5)
    Jangan ditanya seperti apa, dan jangan kita menggambarkan sifat-sifat Allah Ta’ala sama dengan sifat makhlukNya. Kita harus yakin keberadaan Allah di atas ArsyNya bukan berarti Allah membutuhkan Arsy. Allah tidak membutuhkan Arsy, tapi seluruh makhlukNya (termasuk Arsy) membutuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ini aqidah Salaf, aqidah para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in, aqidah yang diajarkan oleh Al-Qur’anul Karim dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang mana para sahabat berpegang teguh kepadanya.
    Allah menginformasikan kepada kita bahwa Allah berada di atas Arsy. Kewajiban kita beriman, bukan kemudian kita benturkan dengan akal kita yang sempit, akal kita yang bisa pikun, akal kita yang bisa lupa, akal kita yang bisa lalai,
    1 hr 10 min
  • Menangkal Kondisi Al-Wajd
    Menangkal Kondisi Al-Wajd ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 27 Sya’ban 1444 H / 20 Maret 2023 M.

    Kajian Tentang Menangkal Kondisi Al-Wajd
    Kita masih membicarakan tentang salah satu kondisi yang dialami oleh orang-orang sufi ketika mereka beribadah, berzikir, atau mendengarkan Al-Qur’an atau bahkan mendengarkan qasidah adalah kondisi al-wajd. Al-Wajd yaitu kondisi tidak sadarkan diri, bisa berteriak, melakukan gerakan-gerakan seperti tarian, atau menggelepar-gelepar seperti orang yang sedang kesurupan. Ini menunjukkan kondisi hati yang mungkin sangat takut, atau sangat khawatir, kemudian mereka tunjukkan dalam bentuk seperti itu.
    Ini merupakan salah satu di antara perkara yang menyimpang dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Memang dialami oleh para Salaf ketika mendengarkan nasihat, sampai mereka tidak sadarkan diri. Tapi sebatas itu saja, tidak sampai berteriak-teriak atau menari-nari atau menggelepar-gelepar seperti orang yang sedang kesurupan.
    Adapun yang terjadi pada kaum sufi (khususnya yang mutaakhirin), mereka melakukan gerakan-gerakan yang dibuat-buat untuk menunjukkan bahwa mereka sedang mengalami suatu kondisi yang hebat akibat dari dzikir ataupun mendengar qasidah ataupun nasihat.
    Menangkal Kondisi Al-Wajd
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa jika demikian mari kita fokuskan pernyataan ini kepada orang yang benar-benar berusaha menangkal wajd, namun dia tetap tidak mampu menangkalnya. Seperti kita sebutkan kaum Salaf ataupun para sahabat ada juga yang mengalami kondisi seperti itu, tapi mereka berusaha untuk menangkalnya.
    Seperti yang diriwayatkan dari Ayyub As-Sikhtiyani -salah seorang ulama Salaf- ketika ia berbicara hingga hatinya tersentuh. Maka ia mengusap hidungnya dan berkata: “Alangkah beratnya flu ini.” Ia mengesankan sedang terkena flu, padahal tujuannya adalah untuk menutupi suasana batinnya agar tidak menangis. Mereka berusaha untuk melawan kondisi al-wajd, bukan justru ingin meraih atau mendapatkannya.
    Seperti yang terjadi pada sebagian ulama-ulama Salaf, mereka mengalami kondisi itu tapi berusaha untuk menangkal, mengendalikan, dan menahannya sebisa mungkin. Ada yang berpura-pura seperti terkena flu supaya bisa menutupi tangisnya. Ada juga yang tidak mampu dan mengalami kondisi tidak sadarkan diri seperti yang terjadi.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Menangkal Kondisi Al-Wajd
    Mari turut membagikan link download kajian “Menangkal kondisi Al-Wajd” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    33 min
  • Aqidah Dalam Ibadah Puasa
    Aqidah Dalam Ibadah Puasa merupakan bagian dari kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, MA Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 26 Sya’ban 1444 H / 18 Maret 2023 M.

    Kajian Tentang Aqidah Dalam Ibadah Puasa
    Aqidah ini merupakan pondasi di dalam agama kita. Dan pokok aqidah Islam adalah apa yang tercantum di dalam rukun iman yang enam. Ini  disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau ditanya oleh Malaikat Jibril tentang apa itu iman, maka beliau mengatakan:
    أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ.
    “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, RasulNya, hari akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)
    Lihat: Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan
    Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (bahkan para Rasul sebelum beliau), ketika berdakwah maka yang mereka dahulukan adalah dakwah kepada aqidah ini. Dalam masalah rukun iman, semua Nabi sama, tidak ada perbedaan di antara mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ…
    “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya kalian menyembah kepada Allah dan menjauhi thaghut.” (QS. An-Nahl[16]: 36)
    Mulai dari Rasul yang pertama, yaitu Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid. Dan dakwah tauhid termasuk di antara iman kepada Allah, dan iman kepada Allah termasuk rukun iman yang enam, bahkan dia adalah yang paling pokok di antara rukun iman. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…
    “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaum, kemudian dia mengatakan: ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia.'” (QS. Al-A’raf[7]: 59)
    Orang yang memulai dakwahnya dengan aqidah, maka aqidah tersebut akan menjadikan seseorang mudah untuk melaksanakan syariat. Dan sebaliknya, orang yang melaksanakan syariat akan menguatkan aqidah dia. Karena di dalam syariat tadi ada kaitannya dengan aqidah. Termasuk di antaranya adalah ibadah puasa.
    Di dalam puasa ternyata kalau kita renungi ada banyak permasalahan-permasalahan aqidah. Yang kita maksud dengan ibadah puasa di sini adalah:

    * Ibadah puasa itu sendiri.
    * Aqidah yang terkandung di dalam balasan bagi orang-orang yang berpuasa.
    * Aqidah yang terkandung di dalam ibadah-ibadah lain yang dilakukan di bulan Ramadhan.
    * Aqidah yang terkandung di dalam kejadian-kejadian yang terjadi di bulan Ramadhan.

    Dalam kajian ini disebutkan contoh masing-masing dari empat perkara ini. Dan bagaimana keterkaitan yang sangat erat antara ibadah puasa ini dengan aqidah.
    1. Aqidah yang ada di dalam ibadah puasa
    Puasa adalah merupakan bentuk perwujudan tauhid al-uluhiyah, yaitu mentauhidkan Allah di dalam ibadah. Tauhid merupakan iman kepada Allah yang merupakan pokok-pokok aqidah.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan untuk orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.”
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan.
    55 min
  • Khutbah Jumat: Kita Membutuhkan Ibadah Puasa
    Khutbah Jumat: Kita Membutuhkan Ibadah Puasa ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 25 Sya’ban 1444 H / 17 Maret 2023 M.

    Khutbah Jumat: Kita Membutuhkan Ibadah Puasa
    Tak lama kita akan kedatangan sebuah tamu yang agung, bulan yang sangat mulia. Allah syariatkan bulan Ramadhan adalah untuk kebaikan kita semuanya. Allah tidak membutuhkan amal ibadah puasa kita, namun kitalah yang membutuhkan kepada amalan tersebut. Allah syariatkan agar Allah menjadikan kita hamba-hambaNya yang mulia, Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian shiam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183)
    Allah menyebutkan bahwa tujuan daripada shiam adalah agar kalian bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena takwa di sisi Allah adalah sesuatu yang agung, balasannya adalah surga. Allah berfirman:
    إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ‎﴿١٥﴾‏ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ ‎﴿١٦﴾
    “Sesungguhnya orang yang bertakwa berada di dalam surga dan mata air yang mengalir, mereka mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka berupa kenikmatan tersebut.” (QS. Az-Zariyat[51]: 15-16)
    Subhanallah.. Orang yang bertakwa ialah yang masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah bersama orang yang bertakwa, Allah berfirman:
    إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
    “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl[16]: 128)
    Allah menjanjikan bahwa orang yang bertakwa pasti akan diberikan oleh Allah jalan keluar dari kesulitan hidupnya dan Allah berikan kepada mereka rezeki yang tak disangka-sangka. Allah berfirman:
    …وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ …
    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar dari kesulitan hidupnya, dan Allah akan berikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq[65]: 2-3)
    Allah mengabarkan bahwa orang yang bertakwa, sehebat apapun tipu daya musuh-musuh Islam untuk menghancurkannya, maka pasti Allah akan bela ia. Allah berfirman:
    …وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا…
    “Jika kalian terus bersabar dan kalian terus bertakwa kepada Allah, tidak akan membahayakan kalian tipu daya mereka sedikitpun juga.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 120)
    Allah juga menyebutkan bahwasanya apabila penduduk negeri itu semua bertakwa, maka Allah akan berikan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Allah berfirman:
    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ…
    “Kalaulah penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Kami akan bukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf[7]: 96)
    Subhanallah, betapa janji Allah untuk orang-orang yang bertakwa itu sesuatu yang sangat mulia sekalian, saudaraku. Kemuliaan di dunia dan akhirat yang akan didapatkan bagi mereka yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
    Dan ternyata Allah syariatkan shiam Ramadhan tiada lain adalah agar kita mau bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar dengan ketakwaan itu kita bisa mendapatkan semua kemuliaan yang Allah janjikan kepada ki...
    12 min
  • Hak-Hak Tauhid
    Hak-Hak Tauhid adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 24 Sya’ban 1444 H / 16 Maret 2023 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Hak-Hak Tauhid
    Hak tauhid membahas tentang bagaimana kita seharusnya bersikap di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa beruntunglah seorang hamba yang bersikap adil di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu hamba ini mengakui dirinya sendiri penuh dengan kebodohan dalam ilmunya, banyak cacat dalam amal-amal yang dilakukannya, banyak kekurangan pada dirinya, banyak lalai dalam menunaikan hak Allah, dan banyak berbuat dzalim dalam bersikap di hadapanNya.
    Setelah itu dia mengakui semua keagungan, semua karunia, semua kebaikan ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka senantiasa hamba ini selalu dalam keadaan fakir dan selalu butuh kepada rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu melimpahkan karunia kepadanya sementara dia selalu kurang dalam mensyukuri nikmat Allah tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
    “Wahai sekalian manusia, kalian adalah makhluk-makhluk yang selalu miskin (butuh) kepada rahmat Allah, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fatir[35]: 15)
    Inilah yang kita pernah ingatkan di salah satu kajian yang lalu tentang rahasia sayyidul istighfar yang merupakan salah satu di antara dzikir yang kita dianjurkan membacanya di waktu pagi dan petang. Di situ ada kalimat:
    أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ
    “Ya Allah, aku mengakui di hadapanMu atas besarnya limpahan nikmat yang selalu Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosa-dosaku.”
    Lihat: Dzikir petang
    Maksud dosa-dosa di sini yakni kekuranganku dalam mensyukuri nikmat, banyaknya kelalaianku dalam menunaikan hak-hakMu.
    Maka dikatakan beruntunglah orang yang selalu menanamkan sikap ini dalam dirinya.
    Jika hamba ini melihat Allah menghukumnya karena dosa-dosa yang dilakukan hamba ini, maka dia memandang Allah melakukan itu dengan keadilanNya sehingga pantas dirinya mendapatkan hukuman atas dosanya, karena memang dia banyak berbuat dosa. Sebaliknya ketika dia melihat Allah tidak menghukum dia karena Allah memaafkannya, Allah tidak menimpakan adzab kepada dirinya, dia melihat ini adalah karunia Allah. Jadi semua kebaikan ada di tangannya.
    Inilah pandangan seorang hamba.
    Ketika hamba melihat dirinya melakukan satu kebaikan. Misalnya dia mengenal Islam, kenal tauhid, belajar tentang iman, dia rajin menuntut ilmu, dia rajin melakukan amal-amal yang wajib, kemudian dia mengamalkan amalan sunnah, dia melihat kebaikan yang dilakukannya itu adalah karena karunia Allah dan sedekah yang Allah berikan kepadanya. Karena itu semua dengan taufik (kemudahan) yang Allah berikan bagi dirinya, bukan karena kehebatan dirinya.
    Dan ketika Allah menerima amal kebaikan yang dilakukan oleh hamba ini, maka itu adalah karunia dan sedekah Allah lagi bagi dirinya. Semua adalah kebaikanNya.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pen...
    1 hr 3 min
  • Aturan dalam Hutang Piutang – Tafsir Surah Al-Baqarah 282
    Aturan dalam Hutang Piutang – Tafsir Surah Al-Baqarah 282 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 22 Sya’ban 1444 H / 14 Maret 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Hutang Piutang – Tafsir Surah Al-Baqarah 282
    Hutang Piutang – Tafsir Surah Al-Baqarah 282
    Kajian ini masih melanjutkan faedah surah Al-Baqarah ayat 282. Kata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah:
    Rujukan dalam hutang piutang
    Rujukan dalam ketentuan berapa nilai jumlah hutang atau macamnya atau tata caranya, bahkan semua yang berhubungan dengan hutang piutang adalah orang yang berhutang, bukan kepada orang yang menghutangi. Karena Allah mengatakan: “Hendaklah yang mendiktekan itu yang punya kewajiban membayar hutang.”
    Sebab kalau yang mendiktekan adalah yang memberikan hutang, bisa jadi dia akan menambah-nambah. Dan mungkin saja ada orang yang berkata: “Kalau yang menjadi rujukan adalah yang berhutang, bisa saja dia menguranginya.” Maka jawabannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mewanti-wanti, Allah berfirman dalam ayat 282 ini: “Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan janganlah ia mengurang-ngurangi hutangnya tersebut.”
    Pencatat hutang
    Yang berkewajiban membayar hutang tidak mencatat, tapi yang mencatat adalah seorang pencatat antara pemberi hutang dengan yang wajib membayar hutang. Karena di sini Allah mengatakan bahwa kewajiban orang yang wajib bayar hutang adalah mendiktekan saja. Namun kalau yang wajib membayar hutang ternyata dia yang mencatatnya, maka sah catatannya tersebut, kalau memang dia orang yang bisa dipercaya.
    Wajib bertakwa
    Orang yang wajib membayar hutang wajib bertakwa kepada Allah dan wajib memperhatikan keadilan. Karena hakikat adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Maka wajib dia membayar hutang sesuai perjanjian. Karena banyak orang yang wajib bayar hutang itu tidak bertakwa kepada Allah. Tapi dia mengulur-ulur. Sedangkan mengulur pembayaran hutang sedangkan dia mampu adalah kedzaliman kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Apa lagi aturan dalam hutang piutang? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 282
    Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Aturan dalam Hutang Piutang – Tafsir Surah Al-Baqarah 282” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.
    45 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah