Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Akhlakul Karimah
    Akhlakul Karimah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 22 Sya’ban 1444 H / 14 Maret 2023 M.
    Sebelumnya: Musibah Menggugurkan Dosa-Dosa

    Kajian Tentang Akhlakul Karimah
    Pada kajian sebelumnya telah kita kaji bersama bahwasanya salah satu kebaikan yang bisa menghapuskan keburukan-keburukan adalah musibah-musibah yang menimpa kita, kalau kita bisa menghadapinya dengan sabar dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) dari musibah yang menimpa itu.
    Kemudian juga telah kita kaji bersama pentingnya menggabungkan antara keshalihan pribadi dengan keshalihan sosial sebagai pengamalan dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Mu’ad bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu:
    وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
    “Dan perlakukanlah manusia dengan perlakuan yang baik.” (HR. Tirmidzi)
    Juga bahwasannya intisari dari akhlakul karimah adalah berlaku baik kepada sesama, tidak hanya kepada orang-orang yang sudah baik kepada kita kemudian kita membalasnya dengan kebaikan. Tapi juga membalas orang-orang yang berlaku buruk dan dzalim dengan kebaikan-kebaikan. Menyambung kerabat yang memutuskan tali silaturahim, memaafkan orang yang mendzalimi, ini adalah akhlakul karimah terbaik.
    Dan juga bahwasanya intisari dari akhlakul karimah adalah bersegera melakukan hal-hal yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan jiwa yang menerima dan lapang dada.
    Akhlakul karimah termasuk takwa dan termasuk dalam wasiat Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan kepada seluruh hamba-hambaNya. Penjelasannya adalah bahwasanya takwa kepada Allah itu mencakup segala apa yang Allah perintahkan, baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Juga menghindari apa yang Allah larang, baik yang hukumnya haram maupun makruh saja.
    Jadi, takwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah, baik yang hukumnya wajib seperti menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu, ini adalah ketakwaan (menjalankan perintah) yang sifatnya wajib. Atau yang berupa amalan-amalan seperti mengerjakan shalat sunnah rawatib, qiyamul lail, puasa sunnah, ini diperintahkan dan hukumnya sunnah.
    Takwa juga mencakup meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang hukumnya haram, seperti syirik, bid’ah, kedzaliman, zina, riba, khamr.
    Juga meninggalkan yang sifatnya makruh, misalnya minum dengan berdiri, membungkukkan badan sebagai penghormatan. Membungkukkan badan sebagai penghormatan (tidak sampai pada derajat rukuk atau sujud) dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimana sebagian besar ulama membawanya kepada makna makruh, karena ini larangan dalam bab adab. Adapun rukuk dan sujud hukumnya lebih tegas lagi pelarangannya. Inilah yang dimaksud dalam hadits Anas bin Malik.
    قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ ؟ قَالَ : لا .
    Sesorang bertanya: “Wahai Rasulullah, seseorang di antara kita bertemu saudaranya apakah dia boleh membungkuk (sebagai penghormatan)?” Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Tidak.” (HR. Tirmidzi)
    Hadits ini dibawa oleh para ulama kepada membungkuk yang tidak sampai derajat rukuk. Yang seperti ini hukumnya adalah makruh menurut jumhur ulama.
    Dan akhlakul karimah juga ada yang wajib dan ada yang sunnah. Yang wajib misalnya adalah jujur dalam memberikan penilaian kepada saudara kita, tidak memutuskan silaturahim, menjawab salam.
    1 hr 7 min
  • Membaca Doa Ketika Sujud
    Membaca Doa Ketika Sujud adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 22 Sya’ban 1444 H / 14 Maret 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Doa Agar Rajin Berdzikir, Bersyukur dan Memperbaiki Ibadah
    Membaca Doa Ketika Sujud
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه: أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «أقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ». رواه مسلم.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya yaitu ketika hamba itu sedang sujud, maka perbanyaklah berdoa.” (HR. Muslim)
    Yang dimaksud dengan sujud di sini adalah sujud ketika shalat, bukan sujud yang dibuat-buat. Terutama seorang yang dalam keadaan shalat sunnah ketika shalat sendirian. Ini adalah kesempatan untuk dia memperpanjang sujudnya, baik sujud pertama atau kedua, di rakaat pertama atau kedua, dan seterusnya. Karena seorang yang shalat sendirian tidak terikat dengan makmumnya. Tetapi kalau seseorang yang menjadi imam lalu dia memperbanyak doanya, ini tentu akan menggelisahkan makmumnya.
    Hadits berikutnya:
    وعنه: أنَّ رسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ في سجودِهِ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي ذَنْبِي كُلَّهُ: دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ». رواه مسلم.
    Juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu ketika shalat, beliau membaca dalam shalatnya: “Ya Allah ampunilah bagiku akan dosaku semuanya, baik dosa yang kecil juga yang besar, baik dosa yang sudah aku kerjakan atau yang belum aku kerjakan, dan dosa yang aku kerjakan dalam keadaan dilihat manusia ataupun disaat aku sendiri.” (HR. Muslim)
    Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang apa yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kita. Yaitu agar kita membaca doa di dalam sujud kita. Doa yang baru kita dengar ini sangat mencakup semua dosa.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Membaca Doa Ketika Sujud
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Membaca Doa Ketika Sujud” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 16 min
  • Bait-Bait Syair Yang Bermanfaat
    Bait-Bait Syair Yang Bermanfaat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 7 Sya’ban 1444 H / 27 Februari 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Bait-Bait Syair Yang Bermanfaat
    Al-Imam Bukhari mengatakan:
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدَةُ قَالَ: أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتِ: اسْتَأْذَنَ حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هِجَاءِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَكَيْفَ بِنِسْبَتِي؟» فَقَالَ: لَأَسُلَّنَّكَ مِنْهُمْ كَمَا تُسَلُّ الشَّعْرَةُ مِنَ الْعَجِينِ
    Telah mengajarkan kepada kami Muhammad bin Salam, dia berkata: telah mengajarkan kepada kami Abdah, dia berkata: telah mengajarkan kepada kami Hisyam bin Urwah, dari ayahnya (Urwah bin Zubair), dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Aisyah berkata bahwasanya Hasan bin Tsabit meminta izin kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mencela orang-orang musyrikin dengan bait-bait syair.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Bagaimana dengan nasabku?” Maka Hasan berkata: “Aku akan mencabutmu dari mereka (agar selamat dari celaan yang aku buat) sebagaimana diambilnya rambut dari adonan.” (HR. Bukhari)
    Pada masa itu syair merupakan media yang paling hebat dan paling mudah dihafal. Karena mudah dihafal, sehingga akan mudah untuk tersebar di kalangan masyarakat.
    Orang-orang musyrikin seringkali mencela Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan Nabi memiliki beberapa penyair, di antaranya Hasan bin Tsabit. Disebutkan ketika kaum musyrikin memaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin dengan bait-bait syair, Nabi memanggil Abdullah bin Rawahah untuk mencela mereka. Tapi sepertinya hasilnya kurang maksimal. Maka kemudian Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggil Hasan bin Tsabit. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada Hasan: “Silahkan engkau cela mereka dengan syair-syair itu dan Jibril akan menguatkanmu.”
    Pertanyaan Nabi “Bagaimana dengan nasabku?” ini maksudnya adalah bahwa Nabi adalah orang Quraisy. Sehingga kalau Hasan mencela suku Quraisy secara umum, mau tidak mau Nabi juga termasuk yang dicela. Maka harus berhati-hati.
    Dan disebutkan dalam beberapa atsar ketika Hasan bin Tsabit diminta memaki orang-orang musyrikin, maka Hasan mengeluarkan lidahnya sehingga seperti ular.
    Berbicara tentang hikmah, ternyata ada bait-bait syair yang bermanfaat. Bahkan kalau orang dicela dengan syair, biasanya mereka menjadi malu dan down. Dimana awalnya mereka semangat. Hal ini karena dibongkar kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan mereka. Mungkin sebagian mereka bangga dengan dirinya, setelah dicela oleh Hasan, mereka pun diam.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Bait-Bait Syair Yang Berm...
    1 hr 25 min
  • Kisah Harut dan Marut
    Kisah Harut dan Marut adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 21 Sya’ban 1444 H / 13 Maret 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Balasan Tergantung dari Perbuatan

    Balasan Tergantung dari Perbuatan
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
    “Ketika telah datang kepada mereka (Yahudi) seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, maka sekelompok dari orang-orang yang diberi Al-Kitab melemparkan kitab Allah di belakang punggung mereka, seakan-akan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 101)
    “Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan masa kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut, keduanya tidaklah mengajarkan siapapun sebelum berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah cobaan bagi kalian, janganlah kalian kafir.’ Maka manusia belajar dari kedua sihir yang bisa memisahkan antara suami dengan isterinya. Dan mereka itu tidak memudharatkan siapapun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sihir yang memudharatkan mereka dan tidak memberi manfaat. Padahal mereka sudah tahu bagi siapa orang yang mempelajari/menggunakan sihir, tidak ada bagian di akhirat kelak, dan buruklah perbuatan sihir yang dengannya mereka menjual diri mereka, seandainya mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 102)
    Pada surah ini Allah mengabarkan pada kita bahwa orang-orang Yahudi meninggalkan kebenaran dan mengikuti kebatilan. Di ayat yang kita baca sangat erat hubungannya antara sihir dengan orang-orang Yahudi.
    Orang-orang Yahudi meninggalkan kebenaran yang dibawa oleh kitab suci mereka sendiri, meninggalkan kebenaran apa yang ada dalam kitab suci Al-Qur’an dan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka mengikuti sihir yang dibawa oleh setan-setan.
    Mereka mengikuti sihir kemudian menisbatkan sihir itu kepada Nabi Sulaiman dengan dusta. Padahal Nabi Sulaiman berlepas diri dari sihir. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan di sini bahwa mereka mengikuti setan. Adapun Nabi Sulaiman tidak kafir. Allah menyatakan bahwa Nabi Sulaiman berlepas diri dari sihir dan kekafiran.
    Jadi disana ada kaitan yang sangat erat antara sihir dan setan. Sihir merupakan sarana dari sarana-sarana setan untuk menyesatkan manusia. Dan disebutkan di sini ada dua jenis setan: Yaitu setan setan dari kalangan jin dan dari kalangan manusia.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Kisah Harut dan Marut
    Mari turut membagikan link download kajian “Kisah Harut dan Marut”...
    46 min
  • Persiapan Menjelang Ramadhan
    Persiapan Menjelang Ramadhan merupakan bagian dari kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 21 Sya’ban 1444 H / 13 Maret 2023 M.

    Kajian Tentang Persiapan Menjelang Ramadhan
    Persiapan menjelang Ramadhan sangatlah penting agar kita bisa lebih maksimal. Menghadapi tamu istimewa seperti bulan suci Ramadhan harus punya target. Targetnya adalah bulan Ramadhan ini lebih baik daripada bulan Ramadhan tahun lalu. Karena kalau Ramadhan tahun ini sama saja dengan bulan Ramadhan tahun lalu, maka kita termasuk orang-orang yang tertipu. Maka Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari sebelumnya.
    Al-Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma pernah berkata, “Barangsiapa yang hari-harinya di dunia sama; maka dialah orang yang tertipu. Barangsiapa yang hari ininya lebih baik dibanding keesokannya maka dialah orang yang merugi.”
    Maka besok harus lebih baik daripada hari ini. Dan hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Inilah target. Kalau kemarin shalatnya telat, maka hari ini harus tepat waktu. Kalau kemarin seharian tidak membaca Al-Qur’an, maka hari ini harus membaca Al-Qur’an. Kalau kemarin seharian isinya marah-marah, maka hari ini harus sabar. Jadi setiap hari kita harus meningkatkan kualitas diri agar tidak termasuk dalam golongan merugi atau tertipu.
    Terkait dengan bulan Ramadhan yang akan kita  hadapi, supaya Ramadhan yang kita hadapi lebih baik dari Ramadhan tahun kemarin, maka harus ada persiapan. Di antara bentuk persiapan tersebut :
    1. Berpuasa di bulan Sya’ban
    Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengisahkan,
    “فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ”.
    “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam puasa sebulan penuh melainkan di Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihatnya memperbanyak puasa melebihi bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    2. Merasa bahagia dengan kedatangannya
    Bila Ramadhan tiba, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya. Di antara yang beliau sampaikan,
    “أَتَاكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ. تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ. لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ”.
    “Ramadhan telah datang kepada kalian. Bulan yang diberkahi. Allah ‘azza wa jalla telah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan jahat dibelenggu. Di dalamnya, Allah memiliki sebuah malam yang lebih baik dibanding seribu bulan. Barang siapa terhalang untuk meraih kebaikan malam itu, sesungguhnya ia benar-benar telah diharamkan (untuk mendapat kebaikan).” HR. Nasa’i dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albaniy.
    3. Mempelajari hukum-hukum yang berkenaan dengan puasa
    Mulai dari cara yang benar dalam penentuan hari pertama bulan Ramadhan. Batas awal mulai berpuasa; apakah sejak imsak atau dimulai sejak terbitnya fajar shadiq? Mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah yang mulia ini.
    Tentunya dengan melandaskan seluruh hukum tersebut di atas dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits yang sahih. Serta menghindari segala amalan yang hanya dilandaskan atas “katanya”, warisan nenek moyang atau sekedar mengikuti tradisi umum masyarakat.
    4. Bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla
    Bulan Ramadhan adalah bulan yang full ibadah. Agar kita bisa bersemangat untuk menjalaninya,
    49 min
  • Hal-Hal Yang Tidak Dibolehkan Dalam Shalat
    Hal-Hal Yang Tidak Dibolehkan Dalam Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 21 Sya’ban 1444 H / 13 Maret 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Menangis Ketika Shalat
    Kajian Tentang Hal-Hal Yang Tidak Dibolehkan Dalam Shalat
    Pada pertemuan yang sebelumnya kita sudah membahas tentang hal-hal yang dibolehkan di dalam shalat, baik hal-hal berupa perbuatan maupun ucapan. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang hal-hal yang sebaliknya, yaitu hal-hal yang tidak dibolehkan di dalam shalat. Hanya saja kita di sini akan membagi pembahasan menjadi dua bagian. Yaitu:

    * Hal-hal yang tidak dibolehkan di dalam shalat tapi tidak sampai membatalkan shalat. Hukumnya antara makruh atau haram.
    * Hal-hal yang tidak dibolehkan di dalam shalat yang sampai membatalkan shalat.

    Kalau itu merupakan sesuatu yang dimakruhkan, maka dia mengurangi pahala shalat. Kalau itu sesuatu yang diharamkan, disamping mengurangi pahala shalat maka itu mendatangkan dosa.
    Meletakkan kedua telapak tangan di pinggang
    Meletakkan kedua telapak tangan di pinggang atau yang disebut dengan istilah ikhtishar. Lihat video kajiannya di sini. Ini dilarang di dalam shalat. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala Anhu, beliau mengatakan:
    أن النبي صلى الله عليه وسلم «نهى عن الخصر في الصلاة»
    “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang ikhtishar (meletakkan kedua telapak tangan di dua pinggang) dalam shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ada juga atsar dari Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa beliau dahulu benci apabila orang yang shalat menjadikan tangannya di pinggangnya. Dan beliau mengatakan:
    إن اليهود تفعله
    “Sesungguhnya orang-orang Yahudi lah yang melakukan hal tersebut.” (HR. Bukhari)
    Tindakan seperti ini merupakan perbuatan orang-orang Yahudi, maka di luar shalat pun hendaknya kita meninggalkan yang demikian.
    Dan dari Ziyad bin Subaih Rahimahullah, beliau mengatakan: “Aku pernah shalat di sampingnya sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu Ta’ala Anhuma, aku pun meletakkan tanganku di atas pinggangku. Maka ketika sahabat Ibnu Umar telah menyelesaikan shalatnya, beliau mengatakan:
    هذا الصَّلْب في الصلاة، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهى عنه
    “Ini adalah tanda palang (salib) di dalam shalat, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang dari perbuatan seperti itu.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad)
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hal-Hal Yang Tidak Dibolehkan Dalam Shalat
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Hal-Hal Yang Tidak Dibolehkan Dalam Shalat” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya.
    56 min
  • Sampainya Perhiasan Sesuai Sampainya Air Wudhu
    Sampainya Perhiasan Sesuai Sampainya Air Wudhu merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 20 Sya’ban 1444 H / 12 Maret 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Sifat Wudhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Kajian Hadits Tentang Sampainya Perhiasan Sesuai Sampainya Air Wudhu
    Kita masih di bab تبلغ الحلية حيث يبلغ الوَضوء (Sampainya perhiasan sesuai dengan sampainya air wudhu).
    Hadits 134:
    عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ فَكَانَ يَمُدُّ يَدَهُ حَتَّى تَبْلُغَ إِبْطَهُ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا هَذَا الْوُضُوءُ فَقَالَ يَا بَنِي فَرُّوخَ أَنْتُمْ هَا هُنَا لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكُمْ هَا هُنَا مَا تَوَضَّأْتُ هَذَا الْوُضُوءَ سَمِعْتُ خَلِيلِي يَقُولُ تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ.
    Dari Abu Hazim, ia berkata: “Aku pernah berada di belakang Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- sementara ia sedang berwudhu untuk shalat. Maka ia mencuci tangannya sampai ke ketiaknya. Lalu aku berkata kepadanya: ‘Hai Abu Hurairah, wudhu apa ini?’
    Maka Abu Hurairah berkata: ‘Hai Banu Farrukh, kamu ada di sini? Kalau aku tahu kamu berada di sini aku tidak akan berwudhu seperti itu. Aku mendengar kekasihku (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) berkata: ‘Perhiasan mukmin itu sesuai dengan sampainya air wudhu.'” (HR. Bukhari)
    Dari hadits ini bisa kita ambil faedah:
    Hukum mencuci anggota wudhu melebihi batasannya
    Sebagaimana pernah kita bahas tentang perselisihan para ulama apakah disunahkan untuk mencuci anggota wudhu melebihi batasannya. Contohnya mengusap tangan sampai ke lengan bahkan sampai ke ketiak, atau mencuci kaki sampai ke betis.
    Sebagian Syafi’iyah berpendapat bahwa itu hukumnya sunnah. Alasannya berdasarkan hadits Abu Hurairah tadi. Karena disebutkan dalam riwayat yang telah lewat:
    فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
    “Siapa di antara kalian yang mampu untuk memanjangkan cahaya di ubunnya hendaklah ia lakukan.”
    Namun jumhur berpendapat bahwa itu tidak disyariatkan. Dalilnya, yang pertama bahwa ayat hanya menyebutkan sampai siku-siku, demikian pula sampai mata kaki. Yang kedua, semua para sahabat yang mencontohkan wudu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya menyebutkan sampai siku-siku dan sampai mata kaki, tidak lebih dari itu.
    Adapun riwayat yang mengatakan “Siapa di antara kalian yang mampu untuk memanjangkan cahaya di ubunnya…” Kita sudah sebutkan jawaban jumhur terhadap mereka, bahwa itu bukan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi itu dari ucapan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.
    Dan di sini terlihat sekali bahwa ini memang sebetulnya pendapat Abu Hurairah. Makanya Abu Hurairah mengatakan dalam hadits ini: “…Kamu ada di sini? Kalau aku tahu kamu berada di sini aku tidak akan berwudu seperti ini.” Artinya ini menunjukkan bahwa memang ini pendapat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.
    Maka dari itu pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah pendapat mayoritas ulama bahwa tidak disunnahkan melebihi daripada batasan yang disyariatkan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    47 min
  • Kunci Sukses Menghadapi Ujian
    Kunci Sukses Menghadapi Ujian adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 17 Sya’ban 1444 H / 9 Maret 2023 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Kunci Sukses Menghadapi Ujian
    Pembahasan kita sampai pada hal-hal yang berkenaan dengan hukum-hukum dalam syariat Allah, dan hal-hal yang menimpa manusia dalam kehidupan mereka.
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa seorang hamba dalam kehidupannya senantiasa akan berbolak-balik di antara hukum-hukum syariat (perintah dan larangan Allah) kemudian hukum-hukum dari peristiwa-peristiwa yang menimpa dalam kehidupannya sehari-hari. Maka dalam kondisi ini seorang hamba selalu butuh dan sangat bergantung untuk mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menghadapi perintah-perintah dalam syariatNya. Dan juga dia butuh (bahkan dengan kebutuhan yang sangat mendesak) untuk mendapatkan pertolongan Allah atau mendapatkan limpahan rahmatNya ketika menghadapi kejadian-kejadian yang menimpa dirinya dalam kehidupannya.
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan kaidah kalau kita ingin dimudahkan ketika menghadapi kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dimana yang mengatur ini semua hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sesuai dengan bagaimana semangat dia dalam menegakkan perintah Allah dalam agamanya, sesuai dengan itu dia akan mendapatkan kebaikan limpahan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menghadapi kejadian-kejadian yang dialaminya.
    Ketika dihadapan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita butuh taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bisa mengamalkannya dengan sebenar-benarnya. Karena tidak ada yang bisa mengamalkan kebaikan-kebaikan yang Allah syariatkan kecuali hamba-hamba yang ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ
    “Dan tidaklah taufik dalam mengamalkan kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.” (QS. Hud[11]: 88)
    Kemudian dalam kehidupan kita mengalami kejadian-kejadian. Yaitu terkadang bencana/musibah, atau terkadang mendapatkan nikmat, dalam dua keadaan ini kita selalu butuh pertolongan dari Allah untuk bisa melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya. Ketika bisa melaksanakan satu ibadah, kita mohon taufik dari Allah agar bisa ikhlas. Kemudian agar terus bisa melaksanakan ibadah tersebut dan istiqamah diatas iman, Islam, dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai kita menghadap Allah.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Kunci Sukses Menghadapi Ujian
    Mari turut membagikan link download kajian “Kunci Sukses Menghadapi Ujian” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya.
    48 min
  • Hutang Piutang – Tafsir Surah Al-Baqarah 282
    Hutang Piutang – Tafsir Surah Al-Baqarah 282 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 15 Sya’ban 1444 H / 7 Maret 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Tidak Boleh Mengambil Riba – Tafsir Surah Al-Baqarah 279
    Hutang Piutang – Tafsir Surah Al-Baqarah 282
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَن يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِن رِّجَالِكُمْ ۖ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَن تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَن تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِن تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian berhutang-piutang sampai kepada batas waktu yang ditentukan, maka catatlah. Dan hendaklah di antara kalian ada yang mencatat hutang-piutang tersebut dengan keadilan. Dan janganlah penulis merasa enggan untuk mencatat sebagaimana Allah ajarkan kepadanya, dan hendaklah si penulis ini mencatat, dan hendaklah yang punya hak untuk mendiktekan (misalnya mengatakan saya berhutang sama si A sekian jumlahnya dihari ini jam sekian), dan hendaklah bertakwa kepada Allah, dan jangan mengurang-ngurangi. Maka apabila yang berhutang ternyata bodoh (tidak bisa mendikte) atau lemah akalnya, atau memang dia tidak mampu mendiktekan, maka hendaklah walinya yang mendiktekannya. Dan hendaklah kalian mempersaksikan kepada dua orang saksi dari laki-laki. Kalau tidak ada dua laki-laki yang adil, maka yang menjadi saksi satu laki-laki dan dua wanita yang kalian ridhai, supaya apabila salah satunya lupa maka diingatkan sama yang lain. Dan janganlah para saksi itu merasa enggan saat mereka dipanggil; dan jangan kalian merasa bosan untuk mencatatnya baik hutang itu kecil maupun hutang itu besar sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih menegakkan persaksian dan supaya kalian tidak ragu. Kecuali apabila itu jual beli tunai yang kalian berjual beli di antara kalian, maka tidak dosa atas kalian untuk tidak mencatatnya. Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli; dan janganlah yang mencatat maupun yang menjadi saksi memberikan mudharat. Dan jika kalian melakukan kecurangan sebagai penulis ataupun sebagai seorang saksi, maka itu adalah kefasikan buat kalian. Dan bertakwalah kalian kepada Allah; dan Allah akan ajarkan kamu ilmu; dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 282)
    Perhatian tentang hukum-hukum yang disebutkan
    Allah disini memanggil: “Hai orang-orang yang beriman…” Berarti ini menunjukkan hendaknya kita perhatikan hukum-hukum seperti ini,
    48 min
  • Menegur Kesalahan Anak
    Menegur Kesalahan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 15 Sya’ban 1444 H / 7 Maret 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Terlalu Banyak Memberikan Perintah
    Terlalu Banyak Memberikan Perintah
    Pada pembahasan yang lampau kita telah membicarakan beberapa sikap yang keliru dan salah dari orang tua dalam memberikan teguran kepada anak-anaknya. Di antaranya adalah mengutuk. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menafikan sifat ini dari Mukmin.
    لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ
    “Seorang Mukmin itu bukanlah orang banyak mengejek dan banyak mengutuk.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya)
    Jadi nilai sifat yang Nabi nafikan dari seorang Mukmin. Mukmin tidak boleh suka mengejek, suka memburuk-burukkan, atau suka melaknat dan mengutuk. Terlebih lagi yang menjadi sasaran kutukan adalah anak sendiri. Kadang-kadang ini muncul ketika sedang marah. Maka muncullah ucapan-ucapan yang tidak baik.
    Kadang-kadang kata-kata itu bermuatan doa. Yang mana bisa saja hal itu terkabulkan. Misalnya seseorang mengatakan kepada si anak “anak durhaka.”
    Bagaimanapun buruknya kelakuan atau kesalahan yang dilakukannya, tidak selayaknya kita memanggil/menyebut/mengucapkan kata-kata itu kepadanya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Menegur Kesalahan Anak
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Menegur Kesalahan Anak” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    44 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah