Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Balasan Tergantung dari Perbuatan
    Balasan Tergantung dari Perbuatan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 14 Sya’ban 1444 H / 6 Maret 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Yahudi Sebab Semua Keburukan

    Balasan Tergantung dari Perbuatan
    Dari ayat ke-163 sampai seterusnya dalam kisah Ashabus Sabti, kita menjumpai ada tiga kelompok. Kelompok pertama orang-orang yang melanggar dengna menjala ikan di hari sabtu padahal dilarang oleh Allah. Kelompok yang kedua adalah kaum yang beramar ma’ruf nahi munkar menasehati mereka. Kaum yang diam (tidak mencegah kemungkaran juga tidak melakukan kemungkaran).
    Maka di antara faedah dari kisah ini adalah:
    الجزاء من جنس العمل
    “Balasan tergantung dari perbuatan.”
    Kalau manusia memahami kaidah ini, niscaya orang yang baik akan lebih semangat lagi untuk melakukan kebaikan, orang yang jahat akan takut untuk melakukan kejahatan dan kedzaliman.
    Balasan itu muncul sesuai dengan perbuatan. Ini diambil dari kisah Ashabus Sabti ketika Allah menguji mereka dengan beberapa perkara. Allah uji mereka dengan tiga perkara:

    * Mereka dilarang oleh Allah menjala ikan di hari sabtu.
    * Di hari sabtu ikan justru terapung-apung di permukaan air.
    * Tidak ada ikan di selain hari sabtu.

    Dan selama manusia masih hidup maka manusia akan mendapatkan ujian dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ…
    “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur untuk Kami uji…” (QS. Al-Insan[76]: 2)
    Jadi manusia hidup di atas muka bumi ini menghadapi yang namanya ujian. Baik itu ujian kebaikan atau ujian keburukan, ujian kesengsaraan atau ujian kenikmatan, ujian sehat atau ujian sakit.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Balasan Tergantung dari Perbuatan
    Mari turut membagikan link download kajian “Balasan Tergantung dari Perbuatan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    49 min
  • Talbil Iblis atas Para Sufi Terkait Al-Wajd
    Talbil Iblis atas Para Sufi Terkait Al-Wajd ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 14 Sya’ban 1444 H / 6 Maret 2023 M.

    Kajian Tentang Talbil Iblis atas Para Sufi Terkait Al-Wajd
    Al-Wajd yaitu kondisi tidak sadarkan diri lalu mungkin bertepuk tangan, berteriak, merobek-robek pakaian, menampar-nampar pipi, seperti orang kesurupan ataupun orang yang tidak sadarkan. Ini biasanya terjadi atas mereka ketika mendengarkan nyanyian.
    Dengan terlihatnya reaksi diluar kewajaran tersebut, iblis berhasil melancarkan talbis (tipu daya) terhadap mereka. Dan mereka menganggap bahwa itu adalah kondisi puncak.
    Tindakan ini mereka lakukan berdasarkan beberapa riwayat yang mengesankan bahwa tidak sadarkan diri ini terjadi pada kaum salaf. Di antaranya adalah riwayat yang menyebutkan bahwa ketika turun surah Al-Hijr ayat 43, Salman Al-Farisi pun berteriak dan jatuh tertelungkup. Lalu dia keluar mengasingkan diri selama tiga hari. Ini dijadikan dalil bahwa kondisi seperti itu adalah sesuatu yang biasa.
    Mereka juga berhujjah dengan riwayat Abu Wail yang berkata: “Kami melakukan perjalanan bersama Abdullah, dan saat itu Ar-Rabi bin Husain ikut bersama kami. Kami kemudian melintasi tempat salah seorang pandai besi. Di sana, Abdullah berhenti dan mengamati besi yang sedang dibakar dalam api, Ar-Rabi juga turut memperhatikannya sampai tubuhnya lunglai dan hampir jatuh pingsan.
    Abdullah memutuskan melanjutkan perjalanan sehingga kami tiba di tempat pembakaran kapur di dekat tepi sungai Eufrat. Tatkala Abdullah melihat tempat pembakaran itu dan saat itu api tengah berkobar-kobar, ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surah Al-Furqan ayat 12-14.
    Mendengar bacaan itu, Ar-Rabi pingsan hingga kami menggotongnya pulang ke tengah keluarganya.
    Abdullah tetap di samping Ar-Rabi sampai tiba waktu shalat dzuhur, namun dia belum siuman juga. Lalu Abdullah menunggu sampai ashar, namun dia belum siuman juga. Pada akhirnya Abdullah menunggunya hingga magrib dan barulah Ar-Rabi siuman dari pingsannya. Dan setelah itu Abdullah kembali ke tengah keluarganya.”
    Orang-orang sering mengangkat kisah seperti ini dari banyak ahli ibadah bahwa ketika mereka mendengar Al-Qur’an tiba-tiba ada yang meninggal dunia, ada yang jatuh pingsan, ada yang berteriak keras. Dan kisah-kisah seperti ini juga banyak didapati di dalam kitab-kitab Az-Zuhud. Yaitu kondisi mereka sampai tidak sadarkan diri karena rasa takut atau hati yang dipenuhi oleh rasa khawatir atas apa yang mereka dengar. Ini disebut kondisi Al-Wajd. Ini terjadi ketika mereka mendengar ayat-ayat tentang neraka, ancaman siksa yang ada di dalam neraka, atau kisah tentang para penghuni neraka.
    Kisah-kisah seperti ini dijadikan dalil oleh kaum sufi untuk melakukan hal yang sama. Tapi bedanya mereka mengalami kondisi seperti ini setelah mendengar lagu, musik dan nyanyian sehingga mereka tidak sadarkan diri. Ada yang berteriak-teriak, melompat-lompat, menari-nari, memukul-mukul tubuh seperti orang-orang yang sedang tidak sadarkan diri.
    Tentunya ini berbeda. Kalaulah riwayat-riwayat tadi adalah riwayat yang shahih, maka kondisi ini disebabkan karena rasa takut yang bersangatan dalam hati mereka sehingga jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri setelah mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ayat-ayat yang bercerita tentang nasib para penghuni neraka dan apa yang mereka jalani di sana.
    Bagaimana tanggapak Ibnul Jauzi terkait kisah-kisah tentang Al-Wajd? Mari download
    36 min
  • Menangis Ketika Shalat
    Menangis Ketika Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Sya’ban 1444 H / 6 Maret 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Memberikan Isyarat Ketika Shalat
    Kajian Tentang Menangis Ketika Shalat
    Menangis di dalam shalat ini dibolehkan dan tidak membatalkan shalat. Di antara dalilnya adalah hadits dari sahabat Abdullah bin Syikhir Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
    أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يصلي، ولصدره أزيز كأزيز المرِجل
    “Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau sedang shalat, dan di dalam dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada suara gemuruh seperti suara mendidihnya air yang dipanaskan di dalam sebuah tempat.” (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)
    Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu menangis dan beliau tahan tangisannya tersebut sampai ada suara gemuruh seperti suara mendidihnya air di dalam dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Ada juga hadits dari sahabat Ali Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
    ما كان فينا فارس يوم بدر غير المقداد، ولقد رأيتنا وما فينا إلا نائم إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم تحت شجرة يصلي ويبكي حتى أصبح
    “Dahulu di perang Badar tidak ada pasukan berkuda yang ada pada kita kecuali Miqdad, dan aku telah melihat bahwa kami ketika itu sudah tidur semuanya kecuali Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika itu beliau berada di bawah sebuah pohon untuk shalat dan menangis sampai waktu subuh tiba.” (HR. Ahmad)
    Ali Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan bahwa di dalam shalat tersebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menangis. Ini menunjukkan bahwa menangis di dalam shalat itu tidak membatalkan.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Menangis Ketika Shalat
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Menangis Ketika Shalat” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    57 min
  • Memperbagus Wudhu
    Memperbagus Wudhu merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 13 Sya’ban 1444 H / 5 Maret 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Sifat Wudhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Kajian Hadits Tentang Memperbagus Wudhu
    Kita masih di bab من توضأ فأحسن الوضوء (Orang yang berwudhu lalu ia memperbagus wudhunya).
    Hadits 130:
    عن حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أن عُثمان بنَ عفانَ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلَاةِ.
    Dari Humran Maula Utsman bin Affan -semoga Allah meridhainya- bahwasanya Utsman bin Affan meminta air wudhu, lalu beliau pun berwudhulah dengan cara mencuci dua telapak tangannya tiga kali. Kemudian beliau berkumpul-kumur dan istintsar (mengeluarkan air ke hidung). Kemudian beliau mencuci wajahnya tiga kali, kemudian beliau mencuci tangannya yang kanan sampai siku-siku tiga kali, kemudian mencuci tangannya yang kiri seperti itu juga (tiga kali). Kemudian beliau pun mengusap kepalanya. Kemudian beliau mencuci dua kakinya yang kanan sampai mata kaki tiga kali, kemudian beliau mencuci kakinya yang kiri juga sama (tiga kali). Kemudian Utsman berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwudhu seperti wudhuku ini. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia berdiri shalat dua rakaat, dan ia tidak berbicara pada dirinya (maksudnya tentang dunia), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.’
    Berkata Ibnu Syihab: ‘Dan adalah para ulama kami mengatakan bahwa cara wudhu ini adalah cara paling sempurna yang dilakukan oleh seseorang untuk shalat.'” (HR. Muslim)
    Mengusap kepala
    Dalam hadits ini disebutkan “Kemudian beliau mengusap kepalanya,” dan tidak dijelaskan apakah sekali atau tiga kali. Dan terjadi ikhtilaf para ulama apakah mengusap kepala itu disyariatkan tiga kali atau cukup sekali saja.
    Mazhab Imam Syafi’i mengatakan itu disyariatkan tiga kali. Berdasarkan hadits:
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا
    “Bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwudhu tiga kali tiga kali.” (HR. At-Tirmidzi)
    Berarti hadits ini bentuknya umum, mencakup padanya juga mengusap kepala.
    Sementara jumhur mengatakan bahwasanya mengusap kepala itu cukup sekali saja. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib ketika mencontohkan wudhunya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, disebutkan disitu: “Dan beliau pun mengusap kepalanya hanya sekali.”
    Dan hujjah mereka yang mengatakan disyariatkan mengusap kepala tiga kali juga berdasarkan riwayat lain dari hadit...
    58 min
  • Mengikhlaskan Agama Untuk Allah
    Mengikhlaskan Agama Untuk Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 10 Sya’ban 1444 H / 2 Maret 2023 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Mengikhlaskan Agama Untuk Allah
    Seseorang tidak akan bisa mengambil manfaat dari kebaikan, tidak akan bisa mengamalkan amalan shalih yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan kita mengikhlaskan agama kita untukNya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى
    “Sesungguhnya amal itu adalah tergantung niatnya, dan sesungguhnya masing-masing manusia mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
    “Tidak ada sesuatupun yang ada di dunia ini kecuali di sisi Kami-lah perbendaharaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Menguasai perbendaraan dari semua segala sesuatu yang ada di dunia ini.” (QS. Al-Hijr[15]: 21)
    Ini ayat yang dijadikan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala sebagai dasar dari pembahasan kita tentang masalah ikhlas.
    Ayat ini memberikan faedah kepada kita bahwa segala sesuatu tidaklah diminta kecuali kepada Dzat yang di tanganNya-lah semua perbendaraan dari segala sesuatu tersebut. Kalau kita mengetahui semua yang ada di dunia perbendaraannya ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mengapa kita minta kepada makhluk? Kenapa kita mengharapkan untuk mendapatkannya dari selain Allah Subhanahu wa Ta’ala? Harusnya tidaklah diminta kecuali kepada Dzat yang ada padaNyalah perbendaraan dari segala sesuatu tersebut.
    Misalnya keinginan manusia dalam beramal yang menjadi sebab untuk tidak ikhlas, rata-rata manusia berpaling dari ikhlas karena:

    * Mengharapkan pujian dan sanjungan. Ini termasuk sebab utama yang memalingkan manusia dari ikhlas. Ini disukai oleh hawa nafsu manusia yang selalu mengajak kepada keburukan.
    * Mengharapkan balasan imbalan yang ada di tangan manusia.

    Kalau kita renungkan ayat ini, tidak ada sesuatupun di dunia ini, termasuk harta yang kita inginkan, imbalan, bayaran atau perhiasan apapun, kecuali di tangan Allah semua perbendaharaannya, Dia yang Maha Menguasainya. Maka ini jelas akan bisa menghilangkan penyakit riya’ (memperlihatkan/memperdengarkan amal). Karena kalau kita tahu yang ada di tangan manusia sumbernya adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, kenapa kita tidak minta langsung kepada yang di tanganNyalah segala perbendaharaan langit-langit dan bumi?
    وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ
    “Dan sungguh milik Allah lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik tidak mamahaminya.” (QS. Al-Munafiqun[63]: 7)
    Kalau kita mengetahui hal tersebut, harusnya kita hanya minta dan mengharapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan izin Allah ini akan membantu kita untuk menjadikan niat kita lebih ikhlas.
    Juga dengan kita memahami bahwa meminta segala sesuatu kepada selain Allah berarti meminta kepada makhluk yang tidak memilikinya dan tidak mampu untuk memenuhinya. Berarti ini adalah kebodohan dan kesia-siaan.
    34 min
  • Sebagian Umat Islam Mengikuti Kebiasaan Yahudi dan Nasrani
    Sebagian Umat Islam Mengikuti Kebiasaan Yahudi dan Nasrani adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 8 Sya’ban 1444 H / 1 Maret 2023 M.

    Kajian Tentang Sebagian Umat Islam Mengikuti Kebiasaan Yahudi dan Nasrani
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا
    “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.'” (QS. Al-Kahfi[18]: 21)
    Ayat ini memberikan pelajaran bahwa Allah menceritakan tentang penguasa pada zaman Ashabul Kahfi (para pemuda yang melarikan diri untuk menyelamatkan aqidahnya ke gowa) yang hendak membangun masjid atau tempat ibadah pada kuburan Ashabul Kahfi.
    Ketika mereka dibangunkan kembali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah ratusan tahun, maka bergantilah penguasa. Kemudian setelah berganti penguasa tersebut penguasanya sudah sepakat dengan keyakinan para pemuda ini.
    Ketika sepakat dengan keyakinan para pemuda ini, maka akhirnya orang-orang tahu bahwa pemuda inilah yang dulu diceritakan mereka kabur dari penguasa yang dzalim dan mensyirikkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya mereka kemudian kembali lagi ke gowa karena mengira masih dikejar-kejar. Akhirnya mereka kemudian meninggal di dalam gua tersebut.
    Penguasa pada saat mereka itu hidup kembali itu ingin mengabadikan mereka dengan membangun masjid di atas gua yang merupakan kuburan mereka.
    Yang jadi pembicaran adalah penguasa yang waktu itu ingin membuat masjid di atas kuburan mereka. Perbuatan ini dicela. Karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لعن الله اليهود والنصارى اتَّخَذُوا قبور أنبيائهم وصَالِحِيهم مَسَاجِد
    “Allah telah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan-kuburan Nabi-Nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid.”
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan umatnya dengan keras agar tidak melakukan perbuatan seperti perbuatan Yahudi dan Nasrani tersebut.
    Hadits ini menunjukkan bahwa kita dilarang untuk mengikuti kebiasaan Yahudi dan Nasrani yang membangun kuburan Nabi-Nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid (yaitu sebagai tempat yang diibadahi).
    Juga dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ القُذَّةِ بِالْقُذَّةِ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوْهُ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اليَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
    “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti orang-orang sebelum kalian setapak demi setapak sampai jikalau mereka masuk kedalam lubang dhab maka niscaya kalian akan mengikutinya.” para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka ini Yahudi dan Nasrani? Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Kalau bukan mereka siapa lagi?” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Kalau kita perhatikan hadits ini menunjukkan bahwa kita dilarang untuk mengikuti kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani. Dan kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani adalah kebiasaan yang buruk yang kadang tidak ada manfaatnya.
    Dalam hadits ini digambarkan mereka masuk ke dalam lubang dhab. Dimana lubangnya berkelok-kelok, kotor, sempit, bau, tidak ada manfaat masuk ke dalamnya. Begitu juga nanti kaum muslimin akan mengikuti kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani. Pekerjaannya tidak ada manfaatnya dan banyak menghasilkan keburukan.
    1 hr 10 min
  • Tidak Boleh Mengambil Riba – Tafsir Surah Al-Baqarah 279
    Tidak Boleh Mengambil Riba – Tafsir Surah Al-Baqarah 279 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 7 Sya’ban 1444 H / 28 Februari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Berinfak – Tafsir Surah Al-Baqarah 274
    Tidak Boleh Mengambil Riba – Tafsir Surah Al-Baqarah 279
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ ‎
    “Jika kalian tidak meninggalkan riba, maka umumkanlah perang melawan Allah dan RasulNya. Dan jika kalian bertaubat, maka untuk kalian modalnya, kalian tidak mendzalimi dan tidak pula didzalimi.” (QS. Al-Baqarah[2]: 279)
    Di antara faedah ayat ini:
    Tidak boleh mengambil riba
    Tidak boleh mengambil melebihi modal harta kita. Karena kelebihannya itu adalah riba. Terkadang kalau kita menabung kemudian ada bunga-bunganya, maka uang yang sifatnya memang modal uang kita itu boleh. Tapi melebihi dari itu (yang merupakan bunganya), maka itu tidak boleh diambil untuk tujuan apapun. Baik itu mau disedekahkan atau dibagikan untuk kebaikan, ataupun untuk tujuan yang lainnya. Karena Allah menyuruh untuk meninggalkan sama sekali. Kalau diperbolehkan untuk mempergunakan riba tentu Allah akan menjelaskannya. Tapi di sini Allah tidak menjelaskan. Ini adalah pendapat Syaikh Utsaimin Rahimahullah.
    Hikmah diharamkannya riba
    Isyarat kepada hikmah diharamkannya riba. Riba diharamkan karena Allah mengatakan: “Agar kalian tidak mendzalimi dan kalian tidak didzalimi.” Berarti hikmah diharamkan riba karena riba itu dzalim (mengambil harta manusia dengan tanpa hak).
    Jika ada orang berkata: “Ada beberapa macam riba yang tidak mengandung kedzaliman.” Contoh ada orang yang membeli 1 sha’ kurma yang bagus dibayar dengan 2 sha’ kurma yang jelek. Kata mereka di sini tidak ada kedzaliman sama sekali.
    Kita jawab bahwa illat apabila sifatnya tersebar dan tidak mungkin dibatasi, maka hukumnya tidak batal hanya karena hikmahnya tidak ada. Oleh karena itu telah Shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa dibawakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kurma yang bagus. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada Bilal yang membawa kurma bagus tersebut. Kata Bilal: “Kami punya kurma-kurma jelek, maka aku beli 1 sha’ kurma yang bagus dengan 2 sha’ kurma yang jelek.” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أَوَّهْ ، أَوَّهْ ، عَيْنُ الرِّبَا ، عَيْنُ الرِّبَا ، لَا تَفْعَلُ . وَلَكِنْ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَشْتَريَ فَبِعَ التَّمْرَ
    “Jangan begitu, jangan begitu, itu riba, itu riba, jangan kamu lakukan itu. Jika kamu hendak membeli kurma bagus, jual dulu kurma-kurma buruk dengan dirham, lalu dengan dirham itu baru kamu beli kurma-kurma yang bagus.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Lihatlah ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap mengatakan itu riba, walaupun akal menilai seakan-akan tidak ada sisi dzalimnya. Masalahnya di situ tetap ada illat ribanya.
    Penetapan risalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam ayat ini: “Umumkan perang melawan Allah dan RasulNya.”
    Rahmat dan kasih sayang Allah
    Ayat ini menunjukkan akan rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya. Dimana Allah mengirimkan kepada hamba-hambaNya para Rasul.
    53 min
  • Terlalu Banyak Memberikan Perintah
    Terlalu Banyak Memberikan Perintah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 8 Sya’ban 1444 H / 28 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Jangan Rusak Kepribadian Anak Kita
    Terlalu Banyak Memberikan Perintah
    Terlalu banyak memerintah tanpa membangun kepercayaan terlebih dulu akan melemahkan kepribadian anak. Sebab dia akan berpikir bahwa dirinya hanya dijadikan alat untuk melaksanakan perintah orang tuanya. Kadang-kadang orang tua merasa itu adalah haknya, sedangkan kewajiban anak adalah menjalankan perintah. Ini yang kadang-kadang mendorong para orang tua untuk apa-apa menyuruh anak. Bahkan perkara-perkara sepele yang dia sendiri sebenarnya bisa melakukannya tanpa perlu menyuruh anak.
    Anak yang dieksploitasi oleh orang tuanya seperti ini akan melemahkan kepribadian anak tersebut. Seharusnya orang tua juga harus seimbang antara membangun kepercayaan diri terlebih dulu pada anak, menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab, kemudian memberikan perintah. Kalau tidak tidak seimbang (orang tua terlalu banyak memerintah), anaknya tidak menjalankan perintah lalu dia marah. Sementara kepercayaan diri, kesadaran, dan rasa tanggung jawab pada diri anak belum terbangun. Maka orang tua juga harus membangun rasa tanggung jawab dan kesadaran serta kepercayaan diri pada anak terlebih dulu.
    Terkadang anak sampai hafal bahwa kalau bertemu orang tua pasti disuruh. Dampak buruknya adalah anak akan takut bertemu orang tuanya dan berusaha menjauh. Karena kalau sudah dekat ada saja yang disuruh.
    Anak adalah objek pendidikan yang orang tua berkewajiban untuk mendidiknya. Maka jangan seperti hubungan antara atasan dan bawahan dimana urusannya adalah urusan pekerjaan. Urusan kita dengan anak adalah mendidik. Maka ini juga harus diperhatikan oleh para orang tua yang terlalu sering dan terbiasa memerintah. Sehingga kadang-kadang hal-hal sepele pun dia suruh anaknya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Terlalu Banyak Memberikan Perintah
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Terlalu Banyak Memberikan Perintah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    49 min
  • Doa Agar Rajin Berdzikir, Bersyukur dan Memperbaiki Ibadah
    Doa Agar Rajin Berdzikir, Bersyukur dan Memperbaiki Ibadah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 8 Sya’ban 1444 H / 28 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Dzikir Sesudah Mengerjakan Shalat Lima Waktu
    Doa Agar Rajin Berdzikir, Bersyukur dan Memperbaiki Ibadah
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وعن معاذ – رضي الله عنه: أن رسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أخذ بيده، وقال: «يَا مُعَاذُ، وَاللهِ إنِّي لأُحِبُّكَ» فَقَالَ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَة تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ». رواه أَبُو داود بإسناد صحيح.
    Dari Mu’az Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memegang tangannya dan berkata: “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu.” Lalu beliau bersabda: “Aku wasiatkan engkau Wahai Mu’adz, jangan sekali-kali kamu meninggalkan setiap selesai shalat lima waktu: ‘Ya Allah tolonglah aku agar senantiasa berdzikir mengingatMu, serta senantiasa bersyukur kepada Engkau dan senantiasa memperbaiki amal ibadahku kepada Engkau.'” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan sanad shahih.
    Hadits Mu’adz ini menjelaskan kepada kita tentang kedudukan yang tinggi bagi Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, yang mana beliau seorang yang dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan beliau bersumpah “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu.” Ada penekanan-penekanan dalam ucapan yang beliau sampaikan.
    Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan wasiat. Seorang kalau mencintai seseorang, ia tentu ingin kebaikan bagi orang itu. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpesan dengan pesan yang sampai hari ini dikerjakan oleh kaum muslimin. Yaitu doa:
    اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
    Permohonan yang semua ini menjadikan seorang hamba menjadi hamba yang shalih, hamba yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan memperbanyak berzikir kepada Allah atas nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba, agar banyak bersyukur kepada Allah Ta’ala, dan senantiasa meningkatkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Sebagian ulama menyebutkan tentang makna dubur shalat, ini bisa dimaknai dengan dua makna. Yang pertama adalah doa ini dibaca di akhir shalat sebelum salam. Kemudian yang kedua doa ini dibaca sesudah salam dari shalat. Kedua makna ini benar. Penghujung shalat itu bisa sebelum atau sebelum salam. Walaupun memang banyak di antara kaum muslimin membaca doa ini sesudah salam. Dan itu tidak mengapa. Tetapi misalnya ada orang yang dia shalat, kemudian sebelum salam membaca doa ini, maka ini pun tidak mengapa.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    1 hr 14 min
  • Syair-Syair Yang Mengandung Hikmah
    Syair-Syair Yang Mengandung Hikmah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 7 Sya’ban 1444 H / 27 Februari 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Syair-Syair Yang Mengandung Hikmah
    Kita sampai pada bab إن من الشعر حكمة (Diantara syair-syair itu ada yang mengandung hikmah). Hikmah itu artinya ucapan yang baik yang bisa menghalangi manusia dari perbuatan buruk dan memotivasi dia untuk berbuat baik.
    Al-Imam Bukhari mengatakan:
    حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَرْزُوقٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، سَمِعَ مُطَرِّفًا قَالَ: صَحِبْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ مِنَ الْكُوفَةِ إِلَى الْبَصْرَةِ، فَقَلَّ مَنْزِلٌ يَنْزِلُهُ إِلَّا وَهُوَ يُنْشِدُنِي شِعْرًا، وَقَالَ: إِنَّ فِي الْمَعَارِيضِ لَمَنْدُوحَةٌ عَنِ الْكَذِبِ
    Telah menceritakan kepada kami Amr bin Marzuq, dia berkata: telah mengajarkan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah, dia mendengar Mutharrif berkata: “Aku menemani Imran bin Husain dari Kufah ke Basrah, hampir setiap singgah di tempat persinggahan dia biasanya menyenandungkan buat aku syair, dan dia berkata: ‘Pada ma‘aridh (ucapan diplomatis yang memiliki banyak penafsiran yang terkadang orang yang menyampaikan dengan orang yang mendengarnya penafsirnya berbeda) itu ada ruang untuk menghindari dusta.'” (HR. Bukhari)
    Disebutkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih Muslim bahwa Mutharrif bin Abdillah mempunyai dua istri. Dia datang dari salah satu dari istrinya. Ketika dia datang ke rumah salah satu istrinya, istrinya tersebut bertanya: “Engkau baru datang dari rumahnya Fulanah?”
    Mutharrif tidak menjawab pertanyaan itu, tapi dia mengatakan: “Aku datang dari tempatnya Imran bin Husain.” Entah datangnya kapan dia tidak menyebutkannya. Inilah yang tadi disebut ma’aridh (jawaban yang diplomatis). Dia memang datang dari rumah istrinya. Tapi dia juga datang dari tempatnya Imran bin Husain, boleh jadi sebelum berangkat ke tempat istrinya itu, atau sesudah itu. Yang jelas dia tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia menjawab dengan jawaban lain.
    Ini para suami juga harus pintar menghadapi istrinya. Ada hal-hal yang kalau dijawab tambah ribut. Maka alihkan kepada jawaban yang lainnya. Dia menjawab: “Aku datang dari tempatnya Imran bin Husain (gurunya). Dan dia mengajarkan kepada kami, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أنَّ أقلَّ ساكني الجنَّةِ النِّساءُ
    “Sesungguhnya yang paling sedikit dari penghuni surga itu adalah para wanita.” (HR. Muslim)
    Jadi kecemburuan para istri itu sebenarnya hal yang lumrah. Tapi jangan diperturutkan. Karena kadangkala setan akan hadir di sana dan akan merusak rumah tangga. Maka hendaklah para istri berusaha untuk menahan diri dari ingin tahu, alihkan kepada yang lainnya dan cari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ada orang-orang yang melakukan perbuatan sehingga Allah tidak ridha, suaminya tidak ridha, dan orang-orang juga tidak ridha. Yang ada adalalh dia membuat setan ridha.
    Inilah kisah Mutharrif yang mengucapkan ucapan multi makna. Biarlah istri yang memahami dia dari rumahnya Imran bin Husain saja. Padahal dia hari itu mungkin dari banyak rumah. Inilah yang namanya ma’aridh sehingga tidak perlu berdusta.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    1 hr 26 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah