Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Hukum Nyanyian Menurut Sufi
    Hukum Nyanyian Menurut Sufi ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 7 Sya’ban 1444 H / 27 Februari 2023 M.

    Kajian Tentang Hukum Nyanyian Menurut Sufi
    Sebelumnya kita sudah menjelaskan bahwa menurut para ulama mazhab yang empat (mulai dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) bahwa nyanyian, musik, senandung, qasidah ataupun sejenisnya ini adalah perkara yang diharamkan/dilarang. Demikian pula kita sudah menyebutkan penukilan dari Ibnul Jauzi yang merangkum beberapa dalil-dalil dari Al-Qur’an dan juga As-Sunnah serta juga dari logika atas haramnya musik, lagu dan nyanyian.
    Lalu bagaimana dengan kaum sufi?
    Sekelompok kaum sufi yakin bahwa nyanyian yang haram menurut pendapat sekelompok fuqaha dan dimakruhkan menurut fuqaha lain justru termasuk perkara yang dianjurkan bagi suatu kaum.
    Abu Ali Ad-Daqqaq menerangkan: “Nyanyian haram bagi orang-orang awam untuk menjaga keberlangsungan jiwa mereka. Akan tetapi mengubah bagi orang-orang zuhud untuk memudahkan dalam mendapatkan mujahadah. Dan ia perkara yang dianjurkan bagi rekan-rekan kami (yaitu kaum sufi) demi menjaga kehidupan hati mereka.”
    Ini pandangan Abu Ali Ad-Daqqaq terhadap musik, lagu dan nyanyian. Ia mengatakan bahwa nyanyian itu haram bagi orang-orang awam. Seperti pandangan mereka juga tentang derajat manusia. Ada yang derajatnya syariat, makrifat dan hakikat. Ini hukumnya berbeda. Bagi orang-orang yang tingkatannya syariat (orang-orang awam) nyanyian itu haram. Tapi yang sudah sampai ke derajat hakikat dan makrifat, nyanyian itu bisa jadi mubah bahkan dianjurkan.
    Ibnul Jauzi membantah pernyataan ini dengan mengatakan: Pernyataan ini keliru dengan lima alasan.
    Pertama, sebagaimana yang telah kami riwayatkan dari Abu Hamid Al-Ghazali bahwa mendengar nyanyian boleh bagi siapa saja. Dan wawasan Abu Hamid jauh lebih luas daripada Ad-Daqqaq.
    Kedua, tabiat jiwa manusia tidak berubah, dan hanya mujahadah yang dapat mengendalikan gejolaknya. Maka siapa saja yang mengaku tabiatnya berubah berarti ia telah mengakui sesuatu yang mustahil. Tatkala ada sesuatu yang menggerakkan tabiat dan kendalinya menjadi lepas, maka kebiasaan kembali kepada seperti sediakala.
    Ketiga, para ulama tidak sepaham terkait haram atau mubahnya nyanyian. Tidak seorangpun dari mereka yang menjadikan pendengar sebagai pertimbangan dalam menentukan hukumnya. Sebab mereka tahu kesamaan asli umat manusia. Baik itu katanya tingkatan syariat (awam) atau hakikat atau ma’rifat. Itu pembagian yang sebenarnya bermasalah. Karena manusia pada hakikatnya sama. Apalagi hal-hal yang bisa mengotori jiwa. Kalau demikian adanya maka tentunya Nabi dan para sahabat-sahabat yang terdekat membolehkan bagi mereka apa yang tidak boleh bagi orang-orang awam seperti arab-arab Baduy dan sejenisnya. Karena mereka tingkatannya lebih tinggi, tapi mereka justru adalah orang yang paling menjauhi hal-hal yang bisa merusak hati.
    Kalaulah orang yang sudah tinggi tingkatannya menjadi boleh terhadap hal-hal yang diharamkan, maka tentunya tidak ada tingkatan kezuhudan/keshalihan/ketakwaaan yang lebih tinggi daripada Nabi dan para sahabat. Tapi mereka justru adalah orang-orang yang paling menjauhi hal-hal yang bisa merusak hati.
    Keempat, ijma’ mengungkapkan bahwa nyanyian tidak dianjurkan, melainkan intinya hanya membolehkannya dengan catatan-catatan dan syarat-syarat yang sudah kita jelaskan. Misalkan tanpa diiringi alat musik, syair-syair yang disenandungkan itu adalah hal-hal...
    29 min
  • Sifat Wudhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Sifat Wudhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 6 Sya’ban 1444 H / 26 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Keluarnya Dosa Bersama Air Wudhu

    Kajian Hadits Tentang Sifat Wudhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Kita masih di bab صفة وضوء رسول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Sifat Wudhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).
    Hadits 125:
    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ الْأَنْصَارِيِّ – رضي الله عنه – وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ قَالَ قِيلَ لَهُ تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِإِنَاءٍ فَأَكْفَأَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
    Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim Al-Anshari -semoga Allah meridhainya-. Dikatakan kepada beliau: “Contohkan kepada kami wudhunya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Maka ia pun meminta air dalam bejana, lalu ia pun menuangkan dari bejana tersebut kepada kedua tangannya, dan beliau pun mencucinya tiga kali.
    Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu mengeluarkannya, maka beliau pun berkumur-kumur dan istinsyaq dari satu telapak tangan, beliau melakukan itu tiga kali.
    Kemudian beliau masukkan tangannya ke dalam bejana, lalu beliau mengeluarkannya, maka beliau mencuci wajahnya tiga kali.
    Kemudian beliau memasukkan kembali tangannya ke dalam bejana dan beliau pun mengeluarkannya, maka beliau pun mencuci dua tangannya sampai siku-siku dua kali dua kali.
    Kemudian beliau memasukkan kembali tangannya dan mengeluarkannya, dan beliau pun mengusap kepalanya dengan cara dua tangannya datang dan pergi.
    Kemudian beliau mencuci dua kakinya sampai mata kaki. Kemudian beliau berkata: “Demikianlah tata cara wudhunya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Muslim)
    Istinsyaq
    Ikhtilaf para ulama tentang hukum berkumur-kumur dan istinsyaq, apakah berkumur-kumur dan istinsyaq hukumnya wajib atau sunnah? Ini menjadi dua pendapat. Sebagian mengatakan sunnah, dan ini pendapat Imam Syafi’i dan kebanyakan ulama. Dalilnya adalah ayat, dimana Allah mengatakan:
    … فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ…
    “Cucilah wajah kalian.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 6)
    Allah tidak menyebutkan di situ kumur-kumur dan istinsyaq. Allah hanya menyuruh kita untuk mencuci wajah.
    Sedangkan Imam Ahmad pendapatnya mengatakan ini wajib. Dalilnya ayat itu juga. Beliau berpendapat bahwa mulut dan hidung termasuk wajah. Dan juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah sekalipun meninggalkannya. Kalaulah itu hukumnya sunnah tentu Nabi akan meninggalkan sekali untuk mencontohkan bahwa itu adalah hukumnya sunnah. Dan juga Nabi bahkan memerintahkan. Dalam riwayat Abu Dawud Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِذَا توضَّأتَ فمَضمِضْ
    “Kalau kamu berwudhu, maka berkumur-kumurlah.” (HR. Abu Dawud)
    37 min
  • Golongan Yang Selamat Mengajak Berpegang Teguh dengan Sunnah
    Golongan Yang Selamat Mengajak Berpegang Teguh dengan Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 5 Sya’ban 1444 H / 25 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Golongan Yang Selamat Senantiasa Menghidupkan Sunnah
    Golongan Yang Selamat Mengajak Berpegang Teguh dengan Sunnah
    Golongan yang selamat selalu mengajak kaum muslimin agar mereka senantiasa berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan petunjuk para sahabatnya Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan pertolongan kepada mereka. Di akhirat nanti mereka akan masuk surga dengan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian juga dengan sebab syafaat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Inilah golongan yang selamat. Mereka selalu mengajak kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sunnah para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in.
    Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat inilah yang dijamin bagi orang-orang yang berpegang teguh dengannya dia akan selamat. Selamat dari fitnah (syubhat maupun syahwat) di dunia, hal-hal yang menyimpangkan dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus, dan selamat dari ancaman adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
    “Barangsiapa yang menentang Rasul (yakni berpaling dari petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) setelah jelas petunjuk baginya, kemudian dia mengikuti selain jalannya kaum mukminin (para sahabat), maka Kami akan palingkan dia ke arah kesesatan yang dia cenderung kepadanya kemudian Kami akan masukkan dia ke dalam neraka jahanam yang itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa'[4]: 15)
    Inilah yang menyebabkan seseorang celaka dunia dan akhirat. Ketika di dunia dia memilih meninggalkan berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat, maka Allah akan palingkan dia.
    … فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ…
    “Ketika mereka berpaling maka sekalian Allah Subhanahu wa Ta’ala palingkan hati-hati mereka.” (QS. As-Saff[61]: 5)
    Makanya berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat ini merupakan sebab turunnya pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menjanjikan pertolongan di dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala jelas menegaskan:
    …وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
    “Bahwa haq bagi Kami (Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan bagi diriNya) untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum[30]: 47)
    Di sini Allah gandengkan pertolongan dengan iman yang benar. Dan iman yang benar tidak lain adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kemudian dipraktekkan dengan sempurna setelah itu oleh para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in. Makanya kata beliau “Dengan sebab inilah pertolongan Allah diturunkan ke...
    53 min
  • Khutbah Jumat: Ilmu Yang Paling Mulia
    Khutbah Jumat: Ilmu Yang Paling Mulia ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 4 Sya’ban 1444 H / 24 Februari 2023 M.

    Khutbah Pertama: Ilmu Yang Paling Mulia
    Sesungguhnya hakikat keberhasilan dan kesuksesan adalah diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman:
    …فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
    “Siapa yang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh ia telah sukses. Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)
    Allah mengingatkan bahwa kesuksesan itu bukan di dunia. Dunia hanyalah kehidupan yang sementara. Dunia adalah kesenangan yang menipu. Setiap manusia pasti akan merasakan kematian. Oleh karena itu Allah berfirman sebelumnya:
    كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ…
    “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)
    Siapapun dia, tidak ada di dunia ini manusia yang selamanya hidup. Kekal di dunia tidak mungkin, saudaraku. Allah berfirman kepada RasulNya:
    إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ
    “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) akan meninggal dan mereka pun semua akan menjadi mayat.” (QS. Az-Zumar[39]: 30)
    Semua kita akan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, semua kita akan dikumpulkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka saudaraku, karena kehidupan dunia adalah sesuatu yang sementara, maka hendaknya seorang hamba melihat bahwasanya kesuksesan yang paling sukses adalah ketika ia dimasukkan ke dalam surga Allah ‘Azza wa Jalla dan diselamatkan dari api neraka.
    Dan tidak mungkin saudaraku, tidak mungkin kita bisa mendapatkan surga Allah kecuali dengan ilmu dan amal. Kita berilmu tentang jalan menuju surga yang bisa kita titi dan senantiasa kita pegang. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الجَنَّةِ
    “Siapa yang meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)
    Siapapun kita yang ingin dimudahkan jalannya menuju surga, hendaklah ia menuntut ilmu Allah.
    Ilmu apa yang dimaksud? Tentu ilmu agama. Karena dalam ilmu dunia tidak ada tentang jalan menuju surga Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada dalam ilmu matematika ataupun fisika ataupun biologi ataupun lainnya yang menjelaskan tentang apa yang Allah ridha dan apa yang Allah benci, tentang jalan menuju surga dan ke neraka, tentang halal dan haram, adanya hanya dalam ilmu agama.
    Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
    “Siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan jadikan ia faqih dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Agama Allah, itulah ilmu yang paling mulia, ilmu yang sangat kita butuhkan untuk kehidupan di dunia dan akhirat kita.
    Demi Allah, saudaraku.. Tak mungkin manusia bahagia tanpa agama yang Allah turunkan kepada kita. Tak mungkin beres urusan manusia tanpa agama yang Allah turunkan kepada kita. Sebatas kecerdasan/kepandaian dan ilmu dunia, itu sama sekali tidak akan menimbulkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Berapa banyak orang-orang yang diberikan oleh Allah kecerdasan dalam kehidupan dunia, pengetahuan tentang ilmu dunia, tapi mereka berbuat kerusakan di muka bumi.
    Namun ketika seorang hamba dekat dengan Rabbnya,
    13 min
  • Sebagian Umat Islam Yang Menyembah Berhala
    Sebagian Umat Islam Yang Menyembah Berhala adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 01 sya’ ban 1444 H / 22 Februari 2023 M.

    Kajian Tentang Sebagian Umat Islam Yang Menyembah Berhala
    Pada kajian kali ini kita masuk kepada bab مَا جَاءَ أَنَّ بَعْضَ هَذِهِ الأُمَّةِ يَعْبُدُ الأَوْثَانَ (keterangan bahwa ada sebagian di kalangan umat ini yang menyembah berhala). Maksud dari bab ini adalah bahwa akan terjadi kesyirikan di tengah umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan penyembahan terhadap berhala. Kemudian juga bab ini akan menyebutkan sanggahan terhadap orang-orang yang berkeyakinan bahwa tidak terjadi kesyirikan sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Bab ini fungsinya adalah agar kita khawatir terhadap diri kita. Jangan sampai seseorang masuk ke dalam perbuatan syirik, baik dia menyadarinya ataupun tidak menyadarinya.
    Dalil pertama yang dibawakan oleh penulis Rahimahullah adalah firman Allah:
    أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا
    “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa'[4]: 51)
    Di dalam bab tadi disebutkan يَعْبُدُ الأَوْثَانَ, jamak dari kata الوثن. Maksudnya adalah dari macam-macam ibadah kepada selain Allah. Yang termasuk dalam “selain Allah” misalnya kuburan, tempat-tempat yang diziarahi dan selainnya. Hal ini berdasarkan ucapan Nabiyullah Ibrahim, bahwa beliau berkata:
    إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا…
    “Sesungguhnya yang kalian sembah dari selain Allah hanyalah autsan (berhala-berhala), dan kalian membuat dusta…” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 17)
    Jadi berhala yang dimaksud adalah berhala yang tidak menyerupai makhluk hidup, contohnya yaitu seperti kuburan-kuburan yang diibadahi ataupun tempat-tempat ziarah yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Juga ucapan Nabi Ibrahim:
    قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ
    “Ibrahim berkata: ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?'” (QS. As-Saffat[37]: 95)
    Dengan ini semua diketahui bahwa yang namanya al-Watsan jika disebutkan, maka salah satu maksudnya adalah berhala menyerupai makhluk hidup, dan selain daripada itu dari apa saja yang diibadahi dari selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya dalam hadits.
    “Mereka beriman kepada jibt dan thaghut.”
    Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah Rahimahullah, ia berkata, ” Datang Huyay bin Akhthab dan Ka’ab bin Al-Asyraf ke Mekah, maka orang-orang Mekah berkata kepada mereka, ‘Kalian adalah ahli kitab, kalian orang yang ilmu, maka beritahukanlah kepada kami sebenarnya kami ini bagaimana dan Muhammad itu bagaimana?’ Keduanya bertanya, ‘Ada apa antara kalian dengan Muhammad?’ Mereka menjawab, ‘Kita menyambung hubungan rahim, menyembelih hewan untuk orang-orang yang kita muliakan, memerah susu untuk dibagikan, menolong orang-orang yang kesusahan, dan memberikan minum kepada para jamaah haji. Sedangkan Muhammad adalah orang mandul, dia memutus hubungan rahim antara kita,
    1 hr 14 min
  • Berinfak – Tafsir Surah Al-Baqarah 274
    Berinfak – Tafsir Surah Al-Baqarah 274 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 30 Rajab 1444 H / 21 Februari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Hidayah – Tafsir Surah Al-Baqarah 272
    Berinfak – Tafsir Surah Al-Baqarah 274
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
    “Orang-orang yang menginfakkan harta mereka di waktu malam dan di waktu siang secara rahasia maupun terang-terangan, bagi mereka pahala di sisi Rabb mereka. Dan mereka tidak akan merasa ketakutan dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah[2]: 274)
    Di sini Allah menyebutkan tentang keutamaan orang yang berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa mereka diberikan pahala yang besar dan juga mereka tidak akan merasa ketakutan nanti pada hari kiamat, tidak pula bersedih hati.
    Dari ayat ini kita ambil faedah, kata Syaikh Shalih Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala.
    Pujian kepada orang yang berinfak
    Ayat ini merupakan pujian atas orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah, baik di waktu malam maupun di waktu siang, secara rahasia maupun terang-terangan. Ini menunjukkan bahwa berinfak di jalan Allah sangat dianjurkan dalam setiap keadaan.
    Sebagian ulama mengatakan dianjurkan kita bersedekah setiap hari. Karena setiap paginya ada dua malaikat yang turun, yang satu berdoa: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا (Ya Allah berikanlah kepada orang yang berinfak itu ganti), dan yang satu lagi berdoa: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (Ya Allah berikanlah kepada orang orang yang kikir itu kehancuran pada hartanya).
    Bayangkan setiap pagi dua malaikat tersebut berdoa. Sehingga ini menunjukkan bahwa kita berusaha setiap hari (walaupun sedikit) bisa berinfak/bersedekah.
    Lihat: Penjelasan Hadits Tentang Keutamaan Sedekah
    Agungnya pahala infak
    Pahala orang yang berinfak itu sangat banyak sekali. Karena Allah menyandarkan pahala mereka kepada diriNya. Allah berfirman: “Bagi mereka pahalanya di sisi Rabb mereka.” Ini menunjukkan bahwa pahala sedekah/infak itu agung sekali di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa orang yang berinfak sebutir kurma, itu akan Allah terima. Lalu Allah akan kembangbiakkan terus sampai menjadi sebesar gunung. Subhanallah.
    Infak sebab lapangnya dada
    Infak adalah sebab lapangnya dada dan hilangnya kegundahan serta kegelisahan. Makanya Allah mengatakan: “Orang yang berinfak itu tidak akan merasa ketakutan, tidak pula bersedih hati.” Itu menunjukkan bahwa orang yang bersedekah/berinfak dijadikan hatinya lapang. Dan kelapangan hati atau kelapangan dada itu Subhanallah nikmat yang sangat besar. Sampai-sampai nikmat yang pertama yang Allah sebutkan terhadap Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam adalah lapangnya dada. Allah berfirman:
    أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
    “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” (QS. Al-Insyirah[94]: 1)
    Dan di antara sebab yang menyebabkan hati kita lapang adalah sedekah/infak. Siapapun Antum yang ia melakukan itu, maka Antum akan dapatkan itu.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian
    47 min
  • Jangan Rusak Kepribadian Anak Kita
    Jangan Rusak Kepribadian Anak Kita merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 30 Rajab 1444 H / 21 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Mendekati Anak Perlu Usaha
    Jangan Rusak Kepribadian Anak Kita
    Ada beberapa sikap dan cara yang keliru para orang tua ketika berinteraksi dengan anaknya sejak usia kecil sampai dewasa. Ini menyebabkan rusaknya kepribadian anak tersebut. Di antaranya adalah berteriak.
    Berteriak adalah sesuatu yang tidak baik. Nabi bukanlah orang yang suka berteriak seperti berteriaknya orang di pasar. Maka jagalah kekondusifan rumah kita dari suara-suara teriakan yang ini tentunya sangat mengganggu dan sangat tidak baik. Hendaklah berbicara dengan lemah-lembut dan dengan suara yang enak didengar. Karena teriakan-teriakan ini tentunya akan membuat hati terkejut.
    Berteriak bisa meniadakan komunikasi dan pemahaman antara dua pihak. Kita bisa lihat dua orang yang berbicara saling berteriak satu sama lainnya, maka terputuslah pemahaman dari komunikasi keduanya. Mungkin kedua belah pihak tidak saling memahami apa yang disampaikan. Seorang anak berada dalam posisi mempertahankan diri dan cenderung takut kepada suara yang tinggi. Apalagi masih kanak-kanak, perhatiannya tertuju kepada cara yang mampu melindungi dirinya dari teriakan-teriakan yang menggelegar itu.
    Maka berbicaralah dengan lemah-lembut dan merendahkan suara sehingga nyaman sampai ke telinga. Bukan suara-suara yang mengejutkan dan membuat buyar konsentrasi orang yang mendengarnya.
    Berteriak merupakan cara yang paling buruk dalam berkomunikasi, apalagi berinteraksi dengan anak. Pengaruh negatifnya jauh lebih besar daripada memukul ataupun hukuman yang lain. Karena apa yang didengar dari teriakan itu mungkin masih terngiang-ngiang di kepalanya bahkan mungkin bisa terbawa sampai ke dalam mimpinya. Hal ini dikarenakan teriakan tersebut akan membawa memori negatif di dalam otak anak dan memori ini tersimpan dalam waktu yang cukup lama.
    Bagaimana dengan yang beralasan bahwa berteriak merupakan karakter sukunya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Jangan Rusak Kepribadian Anak Kita
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Jangan Rusak Kepribadian Anak Kita” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    51 min
  • Dzikir Sesudah Mengerjakan Shalat Lima Waktu
    Dzikir Sesudah Mengerjakan Shalat Lima Waktu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 30 Rajab 1444 H / 21 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Memperbanyak Berdzikir
    Dzikir Sesudah Mengerjakan Shalat Lima Waktu
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وعن المغيرة بن شعبة – رضي الله عنه: أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ». متفقٌ عَلَيْهِ.
    Dari Almughirah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila beliau selesai mengerjakan shalat setelah mengucapkan salam, beliau mengucapkan: La ilaha illalah wahdahu laa syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir – Allahumma la mani’a lima a’thaita wa la mu’thia lima mana’ta wa la yanfa’u dzaljaddi minkal jaddu (Ya Allah, tiada yang kuasa menolak terhadap apa saja yang Engkau berikan dan tiada yang kuasa memberi terhadap apa saja yang Engkau tolak dan tiada akan memberikan kemanfaatan kekayaan itu kepada orang yang memilikinya daripada siksaMu.” (Muttafaq ‘alaih)
    Makna dan uraiannya serta pelajaran-pelajaran yang diambil dari dzikir ini sudah dijelaskan pada pertemuan yang lalu.
    Hadits berikutnya juga masih berkaitan dengan dzikir sesudah mengerjakan shalat lima waktu.
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وعن عبدِ الله بن الزُّبَيْرِ رضي الله تَعَالَى عنهما أنَّه كَانَ يَقُولُ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ، حِيْنَ يُسَلِّمُ: «لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ، لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُونَ».
    Dari Abdullah Ibnu Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau dahulu setelah mengerjakan shalat lima waktu membaca kalimat-kalimat berikut ini setelah mengucapkan salam dari shalatnya: La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir. Lahaula wa la quwwata illabillah. La ilaha illallahu wa la na’budu illa iyyah, lahun ni’matu wa lahuts tsana-ul hasan. La ilaha illallah mukhlishina lahuddina walau karihal kafirun. (Tiada sembahan yang haq kecuali Allah yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagiNya. Hanya miliknya segala kekuasaan dan segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tiada sembahan yang haq kecuali Allah dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepadaNya. Hanya miliknya semua nikmat dan semua karunia dan semua pujian dan sanjungan yang baik. Tiada sembahan yang haq kecuali Allah, kami mengikhlaskan hanya kepadaNya ibadah kami, meskipun dibenci oleh orang-orang kafir.) Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma berkata: “Dan adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca kalimat-kalimat ini setiap selesai shalat yang wajib.” (HR. Muslim)
    Dzikir yang sangat agung ini salah satu di antara yang dibaca setelah seorang men...
    53 min
  • Ayat Al-Qur’an Yang Mengharamkan Nyanyian
    Ayat Al-Qur’an Yang Mengharamkan Nyanyian ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 29 Rajab 1444 H / 20 Februari 2023 M.

    Kajian Tentang Ayat Al-Qur’an Yang Mengharamkan Nyanyian
    Ibnul Jauzi Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan beberapa dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah yang berisi larangan terhadap nyanyian dan ratapan. Ada tiga ayat di dalam Al-Qur’an yang berisi petunjuk atas larangan hal tersebut.
    Ayat yang pertama adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Luqman ayat 6, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ…
    “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang sia-sia…” (QS. Luqman[31]: 6)
    Mengenai tafsir ayat ini, para Mufassirin menyebutkan beberapa riwayat, di antaranya dari Abu Shaba, bahwa ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Luqman Ayat 6 ini, yaitu وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ. Ibnu Mas’ud pun berkata: ‘Demi Allah itu adalah nyanyian.'”
    Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas berkaitan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surah Luqman Ayat 6 tersebut. Ibnu Abbas mengatakan: “Itu adalah nyanyian atau yang semacamnya.”
    Diriwayatkan dari Said bin Yasar, ia mengisahkan: “Aku bertanya kepada Ikrimah makna dari لَهْوَ الْحَدِيثِ (percakapan kosong). Dan Ikrimah menjawab: ‘Yaitu maksudnya adalah nyanyian.'”
    Demikian pula diriwayatkan dari Al-Hasan, Said bin Zubair, Qatadah, dan Ibrahim An-Nakha’i. Mereka menyebutkan yang dimaksud di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut adalah nyanyian.
    Ayat ini adalah ayat yang paling sering diangkat oleh para ulama untuk mengharamkan musik, lagu dan nyanyian.
    Ayat yang kedua adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surah An-Najm ayat 61:
    وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ
    “Sedang kamu lengah darinya.” (QS. An-Najm[53]: 61)
    Mengenai tafsir ayat An-Najm ayat 61 ini, diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan bahwa maknanya adalah nyanyian berdasarkan dialek suku Himyar.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Ayat Al-Qur’an Yang Mengharamkan Nyanyian
    Mari turut membagikan link download kajian “Madzhab Imam Ahmad Terkait Nyanyian” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    30 min
  • Memberikan Isyarat Ketika Shalat
    Memberikan Isyarat Ketika Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 29 Rajab 1444 H / 20 Februari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Meraba Kaki Orang Lain dan Memakai Sandal Ketika Sedang Shalat
    Kajian Tentang Memberikan Isyarat Ketika Shalat
    Memberikan isyarat dengan tangan atau dengan kepala ketika dibutuhkan, kalau tidak dibutuhkan maka jangan dilakukan.
    Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
    أرسلني رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو منطلق إلى بني المصطلق فأتيته وهو يصلي على بعيره فكلمته فقال بيده هكذا، ثم كلمته فقال بيده هكذا
    “Aku pernah diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau pergi ke daerahnya Bani Musthaliq. Maka aku pun mendatangi beliau ketika beliau sedang shalat diatas untanya. Maka aku pun berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membalasnya dengan isyarat, aku pun berbicara lagi dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beliau membalasnya dengan memberikan isyarat.”
    Ini menunjukkan bahwa memberikan isyarat di dalam shalat ketika dibutuhkan itu dibolehkan. Wallahu Ta’ala A’lam bentuk isyarat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu bagaimana tidak disebutkan di dalam riwayat ini.
    Kata Jabir selanjutnya:
    وأنا أسمعه يقرأ ويومئ برأسه
    “Ketika itu aku mendengar beliau membaca bacaannya di dalam shalat (maksudnya membaca Al-Qur’an) dan beliau memberikan isyarat dengan kepalanya.”
    Kalimat “memberikan isyarat dengan kepala” bisa diartikan bahwa karena beliau shalatnya di atas kendaraan, maka gerakan rukuk dan sujudnya harus dengan membungkukkan badan, dan itu bisa disebut sebagai berisyarat dengan kepalanya untuk rukuk dan sujudnya.
    فلما فرغ قال: «ما فعلت في الذي أرسلتك فإنه لم يمنعني من أن أرد عليك إلا أني كنت أصلي»
    “Lalu ketika beliau selesai menjalankan shalatnya, beliau mengatakan: ‘Apa yang telah engkau lakukan wahai Jabir pada perkara yang aku telah mengutusmu untuk hal tersebut? Karena sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab perkataanmu kecuali karena aku tadi sedang shalat.'” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
    Jadi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di sini memberikan isyarat karena beliau sedang shalat.
    Hadits ini menunjukkan bahwa isyarat di dalam shalat itu tidak dianggap sebagai pembicaraan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa isyarat di dalam shalat dibolehkan ketika dibutuhkan.
    Kenapa harus berisyarat dalam shalat? Di dalam riwayat lain disebutkan ada seorang sahabat yang mengajak bicara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menjawabnya dan tidak memberikan isyarat. Akhirnya sahabat ini merasa dicuekin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sehingga hatinya menjadi sedih. Dia merasa ada yang salah pada dirinya. Ini menunjukkan bahwa terkadang kita memang butuh memberikan isyarat kepada orang yang mengajak berbicara. Karena terkadang orang tersebut tidak tahu kita sedang shalat. Kalau dia tahu bahwa kita sedang shalat mungkin kita tidak perlu memberikan isyarat.
    Adapun tidak ada kebutuhan untuk memberikan isyarat, maka kita jangan memberikan isyarat kepada orang lain.
    Bagaimana cara berisyarat untuk menjawab salam ketika sedang shalat?
    59 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah