Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Doa Bangun Tidur
    Doa Bangun Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 22 Rajab 1444 H / 13 Februari 2023 M.
    Lihat sebelumnya: Doa Saat Terjaga Ditengah Malam

    Kajian Tentang Doa Bangun Tidur
    Kalau kita perhatikan, Islam sangat detail sekali dalam menyampaikan ajarannya kepada kita. Bayangkan mulai dari terjaga, kemudian bangun, sampai tidur kembali kita selalu diajarkan untuk berdoa dan berzikir mengingatkan Allah. Melalui dzikir-dzikir dan doa-doa tersebut kita diajarkan agar jangan pernah lupa mengingat Allah. Sehingga disediakanlah di dalam agama kita berbagai macam dzikir dan doa agar waktu-waktu kita tidak ada yang kosong dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Mengingat Allah ‘Azza wa Jalla 24 jam bukan artinya 24 jam kita harus di masjid terus. Mengingat Allah 24 jam maksudnya adalah kita memanfaatkan waktu-waktu itu untuk mengingat Allah dimanapun berada, dengan cara apapun, dan dalam aktivitas apapun sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Ada beberapa doa yang diajarkan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yang pertama:
    Membaca doa berikut ini sekali:
    الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
    Dalil Landasan
    Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan:
    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … إِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ»
    “Biasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam… apabila bangun tidur, beliau membaca: “Alhamdulillâhil ladzî ahyânâ ba’da mâ amâtanâ wa ilaihinnusyûr” (Segala puji untuk Allah yang telah menghidupkan kita setelah mematikan kita. Dan hanya kepada-Nya lah kita dibangkitkan).” (HR. Bukhari)
    Renungan Kandungan
    Doa ini sangat familiar di telinga kita. Bahkan kebanyakan kita sejak kecil telah menghapalnya. Namun amat disayangkan, tidak sedikit di antara kita yang belum mengetahui artinya. Apalagi merenungi kandungannya. Padahal dengan memahami, merenungi dan mengamalkan prinsip-prinsip yang terkandung di dalam doa ini, insyaAllah kita bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik. Di antara prinsip tersebut:
    Prinsip Pertama: Bersyukur
    Saat bangun tidur, kita mengawali pagi dengan mengucapkan Alhamdulillâh. Sebagai pujian dan ungkapan rasa syukur kepada Allah yang telah mengaruniakan nikmat teramat banyak kepada kita. Salah satunya adalah nikmat bangun tidur. Betapa banyak orang yang tidur, lalu tidak bangun lagi. Saking seringnya kita bangun tidur, hingga kita tidak merasa bahwa itu adalah nikmat. Padahal salah satu penyebab terbesar ketidaktenangan hidup, adalah kurang menyadari nikmat dan minim bersyukur kepada Allah. Mengapa di sana-sini orang mengeluhkan kondisi rumah tangganya, ekonominya, kesehatannya, rumah tempat tinggalnya, dan lain sebagainya? Sebab ia kurang mensyukuri apa yang dimilikinya. Ia selalu melihat orang yang lebih tinggi dibandingkan dirinya, dan jarang melihat orang yang di bawahnya.
    Prinsip Kedua: Meyakini bahwa semua sudah diatur Allah
    Setelah mengucapkan hamdalah, kita menyatakan bahwa Allah lah yang menghidupkan kita, sesudah sebelumnya mati. Maksudnya: Dialah yang membangunkan kita, setelah sebelumnya kita tidur. Jadi yang menentukan siapa orang yang setelah tidur bakalan bangun, dan siapa orang yang setelah tidur tidak bangun kembali, adalah Allah. Hanya Dia yang memiliki kuasa untuk menentukan dan melakukan itu.
    46 min
  • Meraba Kaki Orang Lain dan Memakai Sandal Ketika Sedang Shalat
    Meraba Kaki Orang Lain dan Memakai Sandal Ketika Sedang Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 22 Rajab 1444 H / 13 Februari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Hal-Hal Yang Dibolehkan dalam Shalat
    Kajian Tentang Meraba Kaki Orang Lain dan Memakai Sandal Ketika Sedang Shalat
    Meraba kaki orang lain ketika sedang shalat pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau shalat dan di depan beliau ada kaki ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha yang sedang tidur. Karena rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sempit, apalagi kamar beliau, maka ketika shalat beliau mendapati istri beliau berada di depan beliau. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa posisi ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha melintang seperti melintangnya jenazah yang dishalati.
    Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika akan sujud? Beliau raba dulu kaki ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha untuk memberikan isyarat agar disingkirkan sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bisa bersujud di tempat itu.
    Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau mengatakan:
    كنت أمد رجلي في قبلة النبي صلى الله عليه وسلم وهو يصلي، فإذا سجد غمزني، فإذا قام مددتها
    “Aku pernah meluruskan kakiku di arah kiblatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika sedang shalat. Ketika beliau akan sujud beliau merabaku (untuk memberikan isyarat agar kaki itu disingkirkan dulu). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri kembali di dalam shalatnya, maka ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha meluruskan kembali kakinya.” (HR. Bukhari, Muslim dan selainnya)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meraba sebelum sujud. Ini tentunya bukan gerakan shalat. Tapi beliau lakukan ini karena memang dibutuhkan. Gerakan yang seperti ini dibolehkan dan tidak membatalkan shalat.
    Menanggalkan sandal
    Menanggalkan sandal atau yang semisalnya di tengah-tengah shalat karena adanya kebutuhan pernah dilakukan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini juga pernah dilakukan oleh para sahabat beliau. Dan mereka tidak membatalkan shalat. Ini menunjukkan bolehnya melakukan hal ini di tengah-tengah shalat ketika ada kebutuhan.
    Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
    بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي بأصحابه إذ خلع نعليه فوضعهما عن يساره فلما رأى ذلك القوم ألقوا نعالهم ….
    “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat bersama para sahabat beliau, tiba-tiba beliau menanggalkan kedua sandalnya lalu meletakkan di sisi kiri beliau. Ketika para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, mereka juga akhirnya melemparkan sandal-sandal mereka…”
    Hadits ini menunjukkan bahwa termasuk di antara sunnah atau sesuatu yang dituntunkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam shalat adalah memakai sandal. Bahkan di dalam hadits disebutkan:
    صَلُّوا فِي نِعَالِكُمْ
    “Shalatlah kalian dengan memakai sandal.”
    Tentunya kita harus memahami hadits ini sesuai dengan konteksnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup di zaman yang masih sangat sederhana.
    1 hr 4 min
  • Kulit Yang Disamak
    Kulit Yang Disamak merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 21 Rajab 1444 H / 12 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Larangan Istinja’ dengan Tangan Kanan

    Kajian Hadits Tentang Kulit Yang Disamak
    Kajian kita sampai pada bab إذا دبغ الإهاب فقد طهر (Apabila kulit disamak, maka ia menjadi suci).
    Hadits 118:
    عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ أَنَّ أَبَا الْخَيْرِ حَدَّثَهُ قَالَ رَأَيْتُ عَلَى ابْنِ وَعْلَةَ السَّبَئيِّ فَرْوًا فَمَسِسْتُهُ فَقَالَ مَا لَكَ تَمَسُّهُ قَدْ سَأَلْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ قُلْتُ إِنَّا نَكُونُ بِالْمَغْرِبِ وَمَعَنَا الْبَرْبَرُ وَالْمَجُوسُ نُؤْتَى بِالْكَبْشِ قَدْ ذَبَحُوهُ وَنَحْنُ لَا نَأْكُلُ ذَبَائِحَهُمْ وَيَأْتُونَا بِالسِّقَاءِ يَجْعَلُونَ فِيهِ الْوَدَكَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَدْ سَأَلْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ دِبَاغُهُ طَهُورُهُ.
    Dari Yazid bin Abi Habib bahwasannya Abul Khair menceritakan, ia berkata: “Aku melihat Ibnu Wa’lah Asbaiy memakai pakaian yang terbuat dari kulit. Lalu kemudian aku pun memegangnya. Lalu kemudian Ibnu Wa’lah berkata: ‘Kenapa kamu memegangnya? Sungguh aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Abbas: ‘Kami tinggal di Maghrib, dan tinggal bersama kami kaum Barbar dan orang-orang Majus. Dan kami diberikan hadiah dengan kambing yang telah mereka sembelih. Dan tentunya kami tidak mau memakan sembelihan mereka. Dan mereka datang membawa kepada kami bejana yang terbuat dari kulit, dimana mereka menyimpan di situ minyak samin.’
    Maka Ibnu Abbas -semoga Allah meridhainya, berkata: “Kami pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang masalah ini. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Menyamak kulitnya itu menjadikan kulit tersebut suci.'” (HR. Muslim)
    Dari hadits ini kita ambil faedah bahwa menyamak kulit bangkai menjadikan kulit tersebut menjadi suci. Namun para ulama berbeda pendapat apakah setiap kulit kalau disamak menjadi suci atau bagaimana? Pendapat mayoritas para ulama mengatakan bahwa semua kulit apabila disamak maka ia menjadi apa suci. Kecuali dua binatang, yaitu anjing dan babi. Dasarnya yaitu keumuman hadits:
    إذا دُبِغ الإهابُ فقد طهُر
    “Apabila kulit telah disamak, maka ia telah suci.” (HR. Muslim)
    Kata mereka bahwa hadits ini umum, tidak boleh dikhususkan kecuali oleh dalil. Dan telah ada dalil yang menunjukkan akan kenajisan anjing dan babi. Maka untuk anjing dan babi tidak bisa suci kulitnya.
    Sebagian ulama lagi berpendapat bahwa dibedakan antara binatang yang halal dimakan dagingnya apabila disembelih dengan binatang yang tidak halal dimakan dagingnya apabila disembelih. Adapun kalau misalnya halal, seperti unta, kambing, sapi, kijang, maka yang seperti ini menjadi suci dengan disamak.
    Adapun binatang yang dagingnya tidak halal, walaupun disembelih dengan baca bismillah pun tetap tidak halal. Maka pada waktu itu tidak menjadi suci ketika disamak.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    55 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 74 – Rahmat Allah
    Tafsir Ali Imran Ayat 74 – Rahmat Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 18 Rajab 1444 H / 9 Februari 2023 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 74 – Rahmat Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
    “Allah mengkhususkan rahmatNya kepada siapa yang Allah kehendaki dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 74)
    Allah mengkhususkan rahmat kepada siapa yang Allah kehendaki. Akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla mengkhususkan rahmatNya kepada yang Allah kehendaki itu kalau dia berhak mendapatkan rahmat. Allah mengkhususkan rahmat kepada orang yang layak mendapatkan hal tersebut. Ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
    اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
    “Allah lebih mengetahui kepada siapa Allah menugaskan tugas kerasulannya.” (QS. Al-An’am[6]: 124)
    Semua perbuatan Allah yang dikaitkan dengan kehendak Allah, maka ia mengandung hikmah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
    “Kamu tidak bisa menempuh jalan itu kecuali atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan[76]: 30)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Dia memberikan karuniaNya kepada siapa yang Dia kehendaki dari orang-orang yang berhak mendapatkan karunia tersebut.
    Kemudian ayat yang mulia ini ditutup dengan firmanNya: “Dan Allah memiliki karunia yang besar.” Jadi yang memiliki karunia itu adalah Allah. Dan karuniaNya Allah sifati dengan Al-Adzim yang artinya luas dan banyak. Tidak ada karunia yang lebih besar daripada karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Perhatikanlah kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba Allah dari awal dunia sampai akhirnya. Semua hal tersebut itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 74 – Rahmat Allah
    Mari turut membagikan link download kajian “Rahmat Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    40 min
  • Penjagaan Nabi Pada Sisi-Sisi Tauhid
    Penjagaan Nabi Pada Sisi-Sisi Tauhid dan Bagaimana Nabi Menutup Segala Jalan Menuju Kesyirikan adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 17 Rajab 1444 H / 8 Februari 2023 M.

    Kajian Tentang Penjagaan Nabi Pada Sisi-Sisi Tauhid
    Kita sampai pada بَابُ: مَا جَاءَ فِي حِمَايَةِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَابَ التَّوْحِيْدِ وَسَدِّهِ كُلَّ طَرِيْقٍ يُوْصِلُ إِلَى الشِّرْكِ (Tindakan Al-Mustafa untuk melindungi tauhid dan menutup setiap jalan menuju kesyirikan).
    Bab ini membahas sikap-sikap dan ucapan-ucapan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perihal menjaga tauhid dari segala yang mengurangi tauhid dan dari segala yang merusak tauhid. Kemudian ini juga merupakan upaya agar seseorang tidak masuk ke dalam pintu kesyirikan.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
    “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah[9]: 128)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sebagai bentuk pemberian nikmat atas orang-orang beriman dengan pengutusan kepada mereka Rasul dari jenis mereka, yaitu manusia dan sesuai dengan bahasa mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam:
    رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ …
    “Wahai Rabb kami, utuslah di tengah-tengah mereka Rasul dari mereka…” (QS. Al-Baqarah[2]: 129)
    Sebagaimana juga firman Allah:
    لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ…
    “Dan sungguh Allah telah memberikan nikmat atas orang-orang yang beriman ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari diri mereka…”  (QS. Ali ‘Imran[3]: 167)
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Berat terasa oleh beliau apa yang kalian rasakan.” Yaitu merasa berat oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apa yang menyulitkan umatnya. Oleh sebab itulah telah terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan dari beberapa jalan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda:
    بُعثتُ بالحنيفيَّةِ السَّمحةِ
    “Aku diutus dengan ajaran yang lurus dan mudah.” (HR. Ahmad)
    Dan di dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ
    “Sesungguhnya agama ini adalah mudah.” (HR. Bukhari)
    Syariat Islam seluruhnya mudah, ringan dan sempurna.
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu.” Maksudnya yaitu semangat/gigih atas hidayah kalian dan sampainya manfaat duniawi bahkan ukhrawi kepada kalian.
    Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:
    تَرَكْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ ، إِلا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا
    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah meninggalkan kita, dan tidaklah ada burung yang mengepakkan sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan untuk kita ilmu darinya.”
    Abu Dzar berkata lagi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    1 hr 18 min
  • Hidayah – Tafsir Surah Al-Baqarah 272
    Hidayah – Tafsir Surah Al-Baqarah 272 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 16 Rajab 1444 H / 7 Februari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Pahala Infak – Tafsir Surah Al-Baqarah 270
    Hidayah – Tafsir Surah Al-Baqarah 272
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
     لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
    “Bukanlah kewajiban kamu untuk memberi mereka hidayah, akan tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki. Dan apa-apa yang kalian infakkan dari harta, maka itu untuk diri kalian juga sendiri. Dan tidaklah kalian berinfak kecuali hanya mengharapkan ridha Allah semata. Dan tidaklah kalian menginfakkan dari harta kecuali semua akan diberikan kepada kalian pahalanya dan kalian tidak didzalimi sama sekali.” (QS. Al-Baqarah[2]: 272)
    Hidayah Taufik
    Hidayah yang bersifat taufik itu bukan kewajiban para Rasul. Adapun hidayah yang bersifat ilmu dan bimbingan itu sudah kewajiban para Nabi dan Rasul. Tapi untuk yang sifatnya taufik itu hanya milik Allah saja. Terkadang ada orang yang diberikan oleh Allah hidayah ilmu, tapi tidak diberi oleh Allah hidayah taufik, sehingga dia tidak mengamalkan ilmunya. Tahu tentang kebenaran tapi tidak mau diikuti, tahu tentang sesuatu yang haram tapi malah dilanggar. Ini musibah.
    Sebatas menyampaikan ilmu
    Seorang insan apabila telah menyampaikan ilmu, maka ia telah berlepas tanggungan di hadapan Allah nanti pada hari kiamat. Karena Allah mengatakan: “Bukan kewajiban kamu untuk memberi mereka hidayah (taufik).” Akan tetapi kewajiban Kamu adalah memberi hidayah yang sifatnya ilmu. Makanya kita hanya bisa memberi ilmu dengan menyampaikan saja, masalah hidayah adalah urusan Allah. Kita hanya ditugaskan untuk menasihati saja. Kalau ternyata orangnya tidak mau menerima nasihat berarti belum dapat hidayah.
    Makanya berdakwah itu bukan tujuan kita supaya diikuti banyak orang. Tujuan dakwah adalah hanya menyampaikan saja. Karena sudah kewajiban orang yang berilmu untuk menyampaikan. Adapun kemudian orangnya tidak mau terima, berarti Allah belum memberi padanya hidayah. Tapi bukan berarti kita putus asa.
    Semua di tangan Allah
    Penetapan bahwa seluruh perkara (baik yang kecil maupun yang besar) semua di tangan Allah. Karena Allah berfirman: “Akan tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki.”
    Ada yang diberikan oleh Allah hidayahnya banyak, ada yang diberikan oleh Allah hidayahnya sedikit, ada juga yang tidak diberi hidayah sama sekali. Kenapa Allah memberi ini hidayah tapi yang ini tidak? Tentunya Allah Maha Adil. Allah letakkan itu semua pada tempatnya masing-masing. Dan Allah tahu siapa yang berhak mendapat hidayah, siapa yang tidak berhak dapat hidayah.
    Orang kalau tidak berhak dapat hidayah, ketika dikasih hidayah juga bakal disia-siakan. Sebagaimana kita lihat ada orang yang Alhamdulillah dikasih hidayah tapi dia sia-siakan, akhirnya dia kembali lagi kepada masa lalunya yang kelam.
    Bantahan terhadap orang-orang qadariyah
    Qadariyah mengatakan bahwa semua dengan kehendak manusia, tidak ada campur tangan kehendak Allah. Kalau Jabariyah mengatakan bahwa semua dengan kehendak Allah, adapun manusia tidak punya kehendak.
    Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa semua me...
    50 min
  • Menciptakan Keharmonisan dengan Anak
    Menciptakan Keharmonisan dengan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 16 Rajab 1444 H / 7 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Keengganan Orang Tua Mengungkapkan Rasa Sayang
    Menciptakan Keharmonisan dengan Anak
    Kita sebagai orang tua berusaha untuk menciptakan hubungan yang harmonis menciptakan keharmonisan dengan anak. Sehingga kalau kita berkomunikasi dengan mereka maka bisa berkomunikasi dengan lancar. Ada beberapa usaha yang harus kita lakukan untuk menciptakan keharmonisan itu. Di antaranya adalah:
    1. Memahami anak
    Kita harus memahami anak, karena anak adalah objek observasi kita. Kita harus mengobservasi anak itu hingga bisa memahaminya dengan lebih baik dan dekat lagi. Karena tidak ada yang mampu memahami anak seperti orang tuanya. Maka dari itu orang tua harus memahami sifat, karakter, dan tabiatnya. Demikian pula kekurangan dan kelebihannya sehingga kita tahu bagaimana mendekatinya dan mengatasi masalah-masalahnya.
    2. Jangan fokus pada hal-hal yang negatif
    Jangan fokus pada hal-hal negatif. Misalnya orang tua mengurusi persoalan-persoalan yang sepele dan sebenarnya tidak perlu dibicarakan, tidak perlu diributkan, dan tidak perlu dipermasalahkan juga. Karena kesalahan wajar dilakukan oleh anak, tidak perlu heboh dan berlebihan dalam menyikapinya.
    Namun sebaliknya, cari hal-hal positif. Terkadang si anak juga tidak mengerti sisi positif yang ada pada dirinya. Dan juga terkadangorang tua tahu tapi menyembunyikannya atau tidak mengekspos itu.
    Anak perlu diberitahu bahwa dia punya kelebihan dan keunggulan di sini. Karena setiap orang Allah beri rezeki yang berbeda-beda. Tidak ada rezeki yang sama. Maka dari itu orang tua harus mengarahkan anak kepada hal-hal yang bisa bermanfaat baginya, lebih-lebih lagi bagi orang lain.
    Setiap anak berbeda-beda. Ada yang memiliki kemampuan verbal yang luar biasa, ada yang berbakat mungkin di bidang IT, atau kedokteran atau hal-hal lain yang bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
    Demikian pula sebagian anak ada yang memiliki kekuatan hafalan yang lebih daripada yang lainnya. Sehingga dia mungkin dengan mudah bisa menghafal Al-Qur’an lebih daripada anak-anak yang lain. Sisi-sisi positif ini perlu kita tuangkan kepada anak, sehingga dia juga mengerti.
    3. Berusahalah untuk bersikap realistis
    Orang tua yang terlalu ambisius terhadap anaknya membuat anak justru menjadi terbebani. Orang tua memaksakan anak begini begitu, sementara tentunya tidak semua anak mampu mewujudkan keinginan orang tua. Ada keterbatasan yang mereka miliki juga.
    Misalnya orang tua menarget anak harus begini begitu. Usia segini harus harus hafal 30 juz, misalnya. Tentu tidak semua anak punya kemampuan yang sama. Walaupun kita mungkin punya target yang sama, tapi untuk mencapai target itu tentunya jalannya tidak sama. Maka jangan terlalu muluk-muluk dengan membuat gambaran yang mana anak harus menjadi seperti sosok-sosok yang mereka inginkan.
    Tapi yang terpenting bagi orang tua adalah menggali potensi yang ada pada anak. Bukan memaksakan kehendaknya pada anak. Ini cenderung tidak membimbing si anak, tapi menuntut. Banyak orang tua yang hanya bisa menuntut anak harus begini begitu, tapi tidak memberikan bimbingan bagaimana jalannya. Sehingga kadang-kadang tidak realistis jadinya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    52 min
  • Motivasi Berdzikir
    Motivasi Berdzikir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 16 Rajab 1444 H / 7 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Bershalawat Sebelum Berdoa
    Motivasi Berdzikir
    DSorang yang berzikir pada Allah Ta’ala akan mendapatkan ganjaran yang besar di sisi Allah. Sebagaimana Allah berfirman:
    … وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
    “Dan laki-laki dan wanita yang banyak berzikir mengingat Allah, Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 35)
    Dan Allah perintahkan kepada kaum mukminin:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42)
    “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kalian (dengan menyebut nama) Allah dengan dzikir yang banyak. Dan bertasbihlah mengingat Allah baik dipagi hari maupun petang.” (QS. Al-Ahzab[33]: 41-42)
    Di dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum mukminin secara umum untuk berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang banyak.
    Adapun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dibawakan oleh Al-Imam Abu Zakaria An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala, di antaranya:
    وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم: «كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ العظيمِ». متفقٌ عَلَيْهِ.
    Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Ada dua kalimat yang mana dua kalimat ini ringan dilisan (diucapkan), berat dalam timbangan, sangat dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih: Subhanallahi wabihamdih, Subhanallahil ‘adzim (Maha Suci Allah dan dengan mengucapkan puji-pujian padaNya dan Maha Suci Allah yang Maha Agung).'” (Muttafaqun ‘alaih)
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita dua kalimat yang amat mulia dan ringan untuk diucapkan ini.
    Sebelum beliau menganjurkan kita untuk memperbanyak berdzikir dengan dua kalimat ini, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kalimat-kalimat pendahuluan. Kalimat-kalimat pendahuluan ini untuk mendorong seorang hamba dalam berdzikir dengan dua kalimat ini. Makanya beliau awali dengan kalimat: “Dua kalimat yang ringan di atas lisan.” Artinya bahwa kalimat yang demikian bagusnya ini adalah kalimat yang mudah/ringan untuk diucapkan oleh lisan. Ini adalah kalimat-kalimat yang mendorong seseorang konsentrasi mendengar apa yang akan disampaikan oleh beliau.
    Kemudian beliau menambah bahwa dua alimat ini “Ringan dalam ucapan namun berat dalam timbangan.” Timbangan adalah satu hal yang wajib kita imani sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir. Di hari kiamat kelak amal-amal kaum mukminin akan ditimbang di atas Mizan. Dan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam aqidah mereka semua sepakat bahwa timbangan amal di akhirat kelak adalah haq.
    Dua kalimat ini adalah dua kalimat yang benar dalam timbangan amal kebaikan seseorang dihari kiamat kelak. Ini juga merupakan dorongan/sugesti kepada seorang untuk mencermati kalimat yang akan diucapkan Beliau.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya?
    1 hr 25 min
  • Ashabus Sabti (Kisah Orang-Orang Dihari Sabtu)
    Ashabus Sabti (Kisah Orang-Orang Dihari Sabtu) adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 15 Rajab 1444 H / 6 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Syar’i Mengangkat Derajat Pemiliknya

    Ashabus Sabti (Kisah Orang-Orang Dihari Sabtu)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ ‎﴿١٦٣﴾‏
    “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan dihari Sabtu, yaitu ketika datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung di permukaan laut, padahal pada hari-hari selain Sabtu, ikan-ikan tersebut tidak mendatangi mereka. Demikianlah Kami uji mereka disebabkan karena mereka berlaku fasik.” (QS. Al-A’raf[7]: 163)
    وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
    “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?’ Mereka menjawab: ‘Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-A’raf[7]: 164)
    فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
    “Maka ketika mereka telah lupa dari apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang manusia dari berbuat keburukan dan Kami menimpakan orang-orang yang dzalim dengan siksaan yang keras, disebabkan karena mereka selalu berbuat kefasikan.” (QS. Al-A’raf[7]: 165)
    فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
    “Maka ketika mereka sombong dari apa yang dilarang, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kalian kera-kera yang hina.” (QS. Al-A’raf[7]: 166)
    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ ۗ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ ۖ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
    “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan, sungguh Rabbmu akan mengirim kepada mereka sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka adzab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Rabbmu betul-betul sangat cepat siksaNya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf[7]: 167)
    وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
    “Dan Kami pecahkan mereka di bumi menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan dengan keburukan-keburukan, agar mereka kembali.” (QS. Al-A’raf[7]: 168)
    Pembicaraan kita dalam kesempatan yang mulia ini ada tiga poin:

    * Orang-orang Yahudi dan tentang hari Sabtu.
    * Kisah Ashabus Sabti menjelaskan hakikat dari kaum Yahudi.
    49 min
  • Hukum Nyanyian dan Musik
    Hukum Nyanyian dan Musik ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 15 Rajab 1444 H / 6 Februari 2023 M.

    Kajian Tentang Hukum Nyanyian dan Musik
    Kita membicarakan salah satu tip budaya iblis terhadap sebagian orang (terutama kaum sufi) dalam masalah nyanyian, tarian dan perasaan cinta. Dimana iblis masuk melalui perkara-perkara ini untuk merusak anak Adam, bahkan merusak ahli ibadah. Sehingga mereka menjadikan musik, nyanyian, dan tarian itu sebagai salah satu bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka jadikan sebagai salah satu sarana ibadah.
    Hal ini sudah menimpa umat-umat sebelum kita. Dan sebagian dari umat ini ada juga yang mengikuti tradisi umat-umat terdahulu. Seperti yang diingatkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ
    “Kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sahasta demi sehasta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa para ulama membahas nyanyian secara panjang lebar. Sebelumnya sudah kita singgung, ada sebuah buku yang ditulis oleh Ibnul Qayyim bermana حكم سماع الغناء. Yang mana itu adalah buku yang bersumber dari satu pertanyaan tentang nyanyian atau syair yang biasa disenandungkan. Maka Ibnul Qayyim memberikan jawaban yang sangat detail, sehingga dikumpulkan menjadi sebuah buku. Beliau merangkum di situ pendapat 4 ulama madzhab, bahwa mereka semua sepakat atas haramnya musik, lagu dan nyanyian.
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa para ulama membahas nyanyian secara panjang lebar, ada yang mengharamkannya, ada yang membolehkan tanpa memakruhkannya, ada pula yang memakruhkan. Kesimpulan akhir dalam masalah ini adalah kita perlu memperhatikan esensinya. Yaitu apa yang dimaksud dengan nyanyian atau syair? Dan yang dibicarakan ini tentunya tanpa alat musik. Apabila nyanyian itu diiringi dengan alat musik tentunya itu diharamkan.
    Biasanya syair-syair seperti ini digunakan untuk menyebut beberapa hal. Misalnya senandung para jamaah haji ataupun para musafir yang di tengah perjalanan melantunkan bait-bait syair yang menyebut tentang Ka’bah, air zam-zam, maqam Ibrahim, hal-hal yang menarik minat hati untuk segera sampai ke Mekah. Hal ini dilakukan mungkin untuk mengusir rasa bosan dan menambah semangat ke tempat yang hendak dituju. Mendengar lantunan syair-syair seperti ini hukumnya mubah. Karena mereka melantunkannya untuk kesenangan dan tidak menyimpang dari batas kewajaran. Dan tentunya ini tanpa diiringi alat musik.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hukum Nyanyian dan Musik
    Mari turut membagikan link download kajian “Hukum Nyanyian dan Musik” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    34 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah