Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Murka Allah Bagi Orang Yang Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid
    Murka Allah Bagi Orang Yang Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 3 Rajab 1444 H / 25 Januari 2023 M.

    Kajian Tentang Murka Allah Bagi Orang Yang Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid
    Penulis Kitab Tauhid Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, Imam Malik Rahimahullahu Ta’ala telah meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
    “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang diibadahi, Allah sangat murka kepada orang-orang yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Imam Malik)
    Kita sudah sebutkan pada pertemuan sebelumnya bahwa makna dari bab yang ke-21 ini adalah menjelaskan sikap ghuluw terhadap kuburan-kuburan orang-orang shalih yang menyebabkannya sebagai berhala yang diibadahi. Ghuluw disini artinya adalah berlebih-lebihan terhadap kuburan orang-orang shalih. Baik dengan cara membangun di atas kuburan tersebut bangunan kemudian dihias-hiasi, kemudian dengan cara juga mengkhususkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, dan juga mengkhususkan ibadah di sisi pekuburan.
    Patut diketahui bahwasanya hanya sekedar ghuluw tidak menyebabkan seseorang terperosok ke dalam kesyirikan. Tetapi ghuluw tersebut adalah penyebab seseorang bisa masuk ke dalam jurang kesyirikan.
    Adapun penjelasan dalil yang kita baca tadi, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa agar kuburan beliau tidak dijadikan sebagai berhala. Kemudian beliau mengabarkan bahwa kemurkaan dari Allah sangat besar terhadap orang-orang yang menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid. Hubungan dalil dengan bab adalah menunjukkan contoh sikap yang menyebabkan terperosoknya seseorang ke dalam kesyirikan, yaitu berbuat ghuluw terhadap kuburan-kuburan orang-orang shalih.
    “Murka Allah sangat besar atas orang-orang yang menjadikan kuburan-kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.” Di dalam lafaz ini terdapat pengharaman membangun bangunan di atas kuburan, dan pengharaman shalat di sisinya. Ini termasuk daripada dosa besar.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Murka Allah Bagi Orang Yang Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Murka Allah Bagi Orang Yang Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 9 min
  • Setan Berusaha Menyesatkan Manusia – Tafsir Surah Al-Baqarah 268
    Setan Berusaha Menyesatkan Manusia – Tafsir Surah Al-Baqarah 268 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 2 Rajab 1444 H / 24 Januari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Wajibnya Zakat – Tafsir Surah Al-Baqarah 267
    Setan Berusaha Menyesatkan Manusia – Tafsir Surah Al-Baqarah 268
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
    “Setan menjanjikan kepada kalian kefakiran dan memerintahkan kalian kepada perbuatan yang keji; dan Allah menjanjikan untuk kalian ampunan dariNya dan karunia. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 268)
    Ayat ini kita ambil faedah, kata Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah:
    Setan Berusaha Menyesatkan Manusia
    Penetapan bahwa setan berusaha untuk menyesatkan anak Adam. Dengan cara memberikan janji-janji yang palsu. Allah mengatakan: “Setan menjanjikan kepada kalian kefakiran.” Artinya ketika kita mau berinfak/sedekah, kita ditakut-takuti dengan kefakiran. Demikian pula dalam setiap amal. Ketika kita hendak menuntut ilmu, ditakut-takuti kalau kita tidak bisa mengamalkan ilmu dan yang lainnya.
    Setan Memberikan Pengaruh
    Setan itulah yang memberikan pengaruh kepada manusia untuk melakukan maksiat atau meninggalkan perintah dan ketaatan. Maksiat dihiaskan seakan-akan sesuatu yang indah di mata kita. Seperti halnya dihiaskan kepada Nabi Adam ‘Alaihish Shalatu was Salam oleh iblis bahwa pohon yang diharamkan ini justru bisa membuat Nabi Adam kekal di surga. Iblis berkata:
    …هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ
    “Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu kepada pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan hancur?” (QS. Tha Ha[20]: 120)
    Iblis memutar balikkan fakta. Dimana pohon itu dinamai dengan nama yang mentereng. Yaitu pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan hancur. Akhirnya iblis pun berhasil membuat Nabi Adam memakan yang diharamkan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 268
    Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Setan Berusaha Menyesatkan Manusia – Tafsir Surah Al-Baqarah 268” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.
    49 min
  • Apakah Orang Musyrik Diberi Kunyah?
    Apakah Orang Musyrik Diberi Kunyah? adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 1 Rajab 1444 H / 23 Januari 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Apakah Orang Musyrik Diberi Kunyah?
    Kita sampai pada باب هل يكنى المشرك (Bab apakah orang musyrik diberi kunyah?). Kunyah adalah panggilan yang disitu ada penghormatan dan pengagungan. Mungkin hal ini tidak menjadi budaya dan tradisi di banyak negeri. Tapi Islam mengajarkan hal itu. Sebagaimana hal ini telah ada sebelum datangnya Islam. Dan mungkin di negeri kita Indonesia, sejatinya di budaya Jawa pun mempunyai kunyah. Yaitu memanggil seorang dengan nama anaknya. Misalnya bapaknya fulan atau ibunya fulan.
    Al-Imam Bukhari mengatakan:
    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَقِيلٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَغَ مَجْلِسًا فِيهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيِّ بْنُ سَلُولٍ، وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يُسْلِمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ، فَقَالَ: لَا تُؤْذِينَا فِي مَجْلِسِنَا، فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَقَالَ: «أَيْ سَعْدُ، أَلَا تَسْمَعُ مَا يَقُولُ أَبُو حُبَابٍ؟» ، يُرِيدُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ ابْنَ سَلُولٍ
    Telah mengajarkan kepada kami Abdullah bin Shalih, dia berkata telah mengajarkan kepadaku Al-Laits, dia berkata telah mengajarkan kepadaku ‘Uqail, dia meriwayatkan dari Muhammad bin Muslim, dia meriwayatkan dari ‘Urwah bin Zubair, bahwa Usamah bin Zaid memberitahunya bahwa Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah suatu hari sampai ke sebuah majelis yang di situ ada Abdullah bin Ubay bin Salul.
    Ubay bin Salul mengatakan: “Engkau jangan menyakiti kami di majelis kami.” Lalu akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menjumpai Sa’ad bin ‘Ubadah yang ketika itu sedang sakit. Maka beliau berkata kepada Sa’ad: “Wahai Sa’ad, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan Abu Hubab?” Maksudnya adalah Abdullah bin Ubai bin Salul. (HR. Bukhari)
    Al-Imam Bukhari dalam kitab ini meriwayatkan dengan ringkas kejadian tersebut. Diriwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya, disebutkan bahwa Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik keledai yang di atas keledai itu ada kainnya sebagai pelana dan beliau berboncengan dengan Usamah bin Zaid. Mereka pergi dalam rangka membesuk Sa’ad bin Ubadah.
    Kejadian itu sebelum perang Badar. Kita tahu sebelum Perang Badar orang munafik belum muncul. Tapi tatkala Allah memenangkan umat Islam di Perang Badar, orang-orang musyrik yang melihat kekuatan umat Islam takut, sehingga akhirnya menyatakan diri masuk Islam walaupun di dalam hati mereka tidak beriman.
    Dari hadits ini kita tahu bahwa ternyata boleh memberikan kunyah kepada orang munafik. Boleh jadi karena itu nama yang dikenal. Juga dalam rangka melembutkan hati mereka. Kita memanggil orang dengan nama yang paling dia sukai. Harapannya adalah dia mau mendengarkan dan mau menyimak apa yang kita sampaikan.
    Bagaimana kisah lengkap beserta faidah-faidah hadits ini? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio R...
    1 hr 10 min
  • Tidak Dibenarkannya Menyiksa Diri
    Tidak Dibenarkannya Menyiksa Diri ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 1 Rajab 1444 H / 23 Januari 2023 M.

    Kajian Tentang Tidak Dibenarkannya Menyiksa Diri
    Sebagian orang ada yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyiksa dirinya. Itu bukan bagian dari syariat dan bukan termasuk syariat. Karena syariat diturunkan untuk menjaga kemaslahatan manusia, bukan menjerumuskan mereka dalam bahaya ataupun kemudharatan. Bagaimana mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk membahayakan diri kita sementara Allah berfirman:
    …وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ…
    “Janganlah kamu membinasakan dirimu.” (QS. An-Nisa'[4]: 29)
    Maka di dalam syariat Islam ada kelapangan-kelapangan yang Allah berikan apabila kita mengalami kesulitan-kesulitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    …يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ…
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran atasmu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 185)
    Maka Allah merelakan kita tidak berpuasa disaat berpergian, juga saat sakit, ini demi memelihara jiwa. Ada hal-hal yang dilonggarkan untuk maslahat manusia. Syariat diturunkan bukan untuk menyengsarakan dan membinasakan. Ada kaidah-kaidah secara umum yang mesti diperhatikan. Misalnya kaidah:
    لا ضرر ولا ضرار
    “Tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan tidak boleh juga memudharatkan orang lain.”
    Dan beberapa kaidah-kaidah lainnya, seperti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا
    “Mudahkanlah dan jangan dipersulit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Dari situ para ulama membuat kaidah:
    اذا ضاق الامر اتسع
    “Jika satu masalah sudah sempit, maka ada kelapangan disana.”
    Maka di dalam Islam ada hukum darurat. Kondisi darurat itu membolehkan hal-hal yang sebelumnya tidak dibolehkan.
    Maka seorang muslim juga harus tahu batasan-batasan rukhsah yang Allah berikan. Dan hendaknya dia jangan ragu mengambilnya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suka melihat hambaNya mengambil rukhsah (keringanan) yang Allah berikan kepadanya sebagaimana Allah suka dia melakukan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan atasnya. Ini merupakan keluwesan dan keluasan syariat Islam. Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengedepankan kemudahan bagi kita.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tidak Dibenarkannya Menyiksa Diri
    Mari turut membagikan link download kajian “Tidak Dibenarkannya Menyiksa Diri” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    31 min
  • Memadukan Kelembutan dengan Ketegasan
    Memadukan Kelembutan dengan Ketegasan merupakan bagian dari kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 1 Rajab 1444 H / 23 Januari 2023 M.

    Kajian Tentang Memadukan Kelembutan dengan Ketegasan
    Siapapun yang hidup di dunia, pasti akan menghadapi masalah. Dan itu dialami oleh semua yang hidup. Masalah yang dihadapi pun bermacam-macam, mulai dari ekonomi, kesehatan, rumah tangga, dan lain sebagainya.
    Walaupun masalah itu tidak mungkin lepas dari kehidupan, kita tidak pernah diperintahkan untuk mencari dan meminta masalah. Oleh karena itu salah satu bacaan dzikir pagi dan petang adalah:
    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ…
    “Ya Allah, sungguh aku meminta kepadaMu maaf dan keselamatan di dunia dan akhirat…”
    Kita tidak pernah minta masalah, tapi kalau datang masalah jangan lari. Hadapi masalah tersebut. Namanya berumah tangga pasti ada masalah. Itu dihadapi.
    Dalam menghadapi masalah itu ada yang sukses dan ada yang gagal. Yang berhasil itu karena taufik (bantuan/pertolongan/petunjuk) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun yang gagal itu karena tidak mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kemudian, orang bisa gagal dalam menghadapi masalah karena karakter (sifat yang ada di dalam diri orang tersebut). Karena menghadapi masalah itu perlu modal. Modal yang terbesar itu bukan uang, setelah taufik dari Allah adalah sifat-sifat positif.
    Dalam kajian ini kita jelaskan dua karakter sebagai modal menghadapi masalah. Yaitu kelembutan dan ketegasan.
    Ada sebagian orang tidak mengerti kalau lembut bisa dipadukan dengan tegas. Jadi ada sebagian orang punya pemahaman bahwa kalau lembut berarti tidak tegas, sedangkan kalau tegas berarti tidak lembut. Padahal ketegasan dan kelembutan bisa jalan bersama.
    Mereka pikir, kelembutan itu selalu identik dengan kelembekan dan ketidakberdayaan. Sebaliknya, ketegasan itu identik dengan kekasaran dan emosi yang meledak-ledak. Padahal sejatinya tidak demikian.
    Motivasi Kelembutan
    Salah satu sifat yang sangat dianjurkan dalam Islam adalah kelembutan. Sebab kehadiran sifat ini akan mendatangkan banyak sekali kebaikan. Sebaliknya, alpanya sifat ini akan mengundang beragam keburukan. Bahkan Allah ta’ala sampai memuji Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam lantaran kelembutan beliau,
    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ، وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
    “Wahai Muhammad, berkat rahmat Allah lah, engkau bersikap lemah lembut terhadap para pengikutmu. Sekiranya engkau bersikap kasar dan berhati keras; niscaya mereka akan menjauhi kamu.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 159)
    Kelembutan itu diwujudkan antara lain dengan:

    * Kesabaran saat menghadapi hal-hal yang memancing emosi
    * Memilih kata-kata halus yang tidak menyinggung perasaan lawan bicara
    * Mengatur intonasi suara sehingga tetap pada level yang wajar
    * Menjaga ekspresi wajah dan gestur tubuh agar tetap nyaman dilihat
    * Menghargai orang lain dengan kesopansantunan.

    Motivasi Ketegasan
    Adapun ketegasan, maka ini lebih identik dengan keteguhan dalam berpegang dengan prinsip-prinsip kebenaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memotivasi,
    عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ
    “Kalian wajib mengikuti tuntunanku dan tuntunan para Khulafaur Rasyidin. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian.
    46 min
  • Khutbah Jumat: Gembira dengan Al-Qur’an dan Hadits
    Khutbah Jumat: Gembira dengan Al-Qur’an dan Hadits ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 26 Jumadil Akhir 1444 H / 20 Januari 2023 M.

    Khutbah Pertama: Gembira dengan Al-Qur’an dan Hadits
    Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan kepada RasulNya segala macam kebaikan. Tidak ada satupun kebaikan kecuali telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan tidak ada satupun keburukan yang menjerumuskan ke dalam api neraka kecuali telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mungkin menyembunyikan satupun wahyu dari Allah. Sebab kalaulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyembunyikannya, tentu beliau disifati dengan khianat, bukan lagi dengan amanah.
    Maka kewajiban kita adalah untuk senantiasa mencukupkan diri dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian kita berusaha untuk memahaminya sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih. Karena mereka adalah sebaik-baik orang yang memahami Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Ketika seseorang tidak merasa cukup dengan Al-Qur’an dan hadits sehingga ia membutuhkan ucapan-ucapan manusia dan pendapat-pendapatnya, ia pasti akan tersesat jalan. Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mencukupkan, beliau bersabda:
    تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
    “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, selama kalian berpegang kepada dua perkara ini kalian tidak akan tersesat selama-lamanya; Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Malik, Al-Hakim dan yang lainnya)
    Saudaraku, cukupkan diri kita dengan terus mempelajari Al-Qur’an, terus kita mengkaji sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah telah memudahkan Al-Qur’an untuk dipelajari. Allah berfirman:
    وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
    “Sungguh Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk dipelajari/diingat, maka adakah orang yang mau mengingatnya?” (QS. Al-Qamar[54]: 22)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang tidak mau mentadabburi Al-Qur’an, bahwa hatinya tertutup mati. Allah berfirman:
    أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
    “Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah ada gembok-gemboknya?” (QS. Muhammad[47]: 24)
    Saudaraku, Al-Qur’an jangan sampai menyeret kita ke dalam api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
    “Al-Qur’an akan menjadi hujjah yang akan membela kamu atau Al-Qur’an akan menjadi hujjah yang akan menyeret kamu ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)
    Subhanallah.. Sesungguhnya Al-Qur’anul Karim Allah turunkan untuk menjadi hidayah untuk kita. Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
    “Wahai manusia, telah datang kepada kalian peringatan dari Rabb kalian dan penyembuh bagi apa yang ada di dalam hati kalian dan sebagai rahmat serta hidayah untuk orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus[10]: 57)
    Di sini Allah mensifati Al-Qur’an dengan beberapa sifat yang luar biasa.
    Yang pertama, sebagai peringatan bagi orang-orang yang mau takut kepada Allah, peringatan bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan akhirat,
    13 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 70 – Celaan Terhadap Ahlul Kitab
    Tafsir Ali Imran Ayat 70 – Celaan Terhadap Ahlul Kitab adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 25 Jumadil Akhir 1444 H / 19 Januari 2023 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 70 – Celaan Terhadap Ahlul Kitab
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنتُمْ تَشْهَدُونَ ‎﴿٧٠﴾‏يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ‎﴿٧١﴾
    “Wahai Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), kenapa kalian mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kalian menyaksikan. Wahai Ahli Kitab, kenapa kalian mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan kalian menyembunyikan kebenaran, padahal kalian mengetahui?” (QS. Ali ‘Imran[3]: 70-71)
    Dua ayat yang mulia ini mengandung beberapa pelajaran. Yaitu:
    Pertama, celaan Allah kepada Ahlul Kitab atas kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah.
    Kedua, Celaan ini betul-betul pada tempatnya. Karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah, padahal mereka menyaksikan.
    Ketiga, ini merupakan hukum tegas yang tidak ada takwil lagi. Ahlul Kitab yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kekufuran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai Ahli Kitab, kenapa kalian kafir terhadap ayat-ayat Allah sedangkan kalian melihatnya?”
    Sangat jelas sekali di sini. Allah menghukumi mereka dengan kufur. Dan AllAh tidak memberikan celaan melainkan perkaranya nyata. Mengkafiri ayat-ayat Allah merupakan pengkafiran terhadap Allah. Dengan hal ini maka kita mengetahui bahwasanya walaupun mereka mengklaim beriman kepada Allah, hakikatnya mereka itu kafir dengan kekafiran yang jelas. Kita harus yakin dengan ayat yang mulia ini.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 70 – Celaan Terhadap Ahlul Kitab
    Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Ali Imran Ayat 70 – Celaan Terhadap Ahlul Kitab” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    37 min
  • Orang Yang Mengetahui Keberadaan Hari Akhir
    Orang Yang Mengetahui Keberadaan Hari Akhir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 25 Jumadil Akhir 1444 H / 19 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Merenungkan Hakikat Dunia
    Ceramah Agama Islam Tentang Orang Yang Mengetahui Keberadaan Hari Akhir
    Ada dua keadaan orang yang mengetahui keberadaan hari akhir. Keadaan yang pertama adalah mengetahui tanpa ada keyakinan di hatinya. Adapun keadaan kedua yaitu orang yang meyakini dan memastikan dengan kepastian yang tidak ada keraguan padanya bahwa dia memiliki negeri selain negeri yang saat ini dia berada di dalamnya, dia punya tempat kembali di akhirat nanti yang dengan untuk tujuan itulah Allah menciptakan dia. Dan bahwasanya dunia ini hanya merupakan jalan untuk menuju tempat kembali di akhirat, dan merupakan tempat persinggahan dari tahapan-tahapan yang akan dilalui oleh orang yang berjalan menuju akhirat.
    Keyakinan yang kedua ini hubungannya dengan ilmu dan merenungkan ilmu. Bagaimana akan merasuk dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan tentang akhirat, balasan di akhirat, kemuliaan di akhirat, atau kesengsaraan adzabnya? Tentu dengan taufik dari Allah melalui merenungkan/memikirkan supaya hati kita benar-benar memiliki keyakinan. Inilah manfaatnya kita merenungkan ilmu.
    Kemudian bersamaan dengan itu dia meyakini bahwa akhirat itulah negeri yang kekal abadi, kenikmatannya dan adzabnya tidak akan hilang. Siapa yang dapatkan nikmat maka dia akan rasakan terus-menerus, siapa yang dapatkan adzab maka itu adalah adzab yang kekal abadi.
    Dan tidak ada perbandingan antara kenikmatan dan penderitaan di dunia dibandingkan dengan kenikmatan dan penderitaan yang ada di akhirat kecuali perumpamaannya hanya seperti seseorang yang memasukkan satu jarinya di dalam lautan kemudian dia mencabut jarinya, maka air yang menempel di jarinya itu seperti perumpamaan dunia dibandingkan dengan akhirat yang seperti lautan yang luas tersebut.
    Maka pengetahuan yang disertai keyakinan ini akan membuahkan bagi seorang hamba sikap selalu mendahulukan dan mencari akhirat, selalu mempersiapkan diri untuk menghadapinya, dan selalu berusaha untuk memperbaiki diri dengan sebaik-baik usaha. Tentu saja apa yang diyakini oleh seorang hamba di dalam hatinya, itu yang akan menggerakkan anggota badannya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Orang Yang Mengetahui Keberadaan Hari Akhir
    Mari turut membagikan link download kajian “Orang Yang Mengetahui Keberadaan Hari Akhir” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    47 min
  • Wajibnya Zakat – Tafsir Surah Al-Baqarah 267
    Wajibnya Zakat – Tafsir Surah Al-Baqarah 267 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 24 Jumadil Akhir 1444 H / 17 Januari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Larangan Mengungkit-Ungkit Infak – Tafsir Surah Al-Baqarah 262
    Wajibnya Zakat – Tafsir Surah Al-Baqarah 267
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
    “Hai orang-orang yang beriman, infakkah dari perkara-perkara yang thayyib (halal) dari apa yang kalian usahakan dan dari apa-apa yang Kami keluarkan untuk kalian dari bumi ini. Dan janganlah kalian menyengaja untuk mengambil yang buruk untuk kalian infakkan, sementara kalian sendiri tidak mau mengambilnya kecuali sambil memejamkan mata. Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah[2]: 267)
    Ayat ini kita ambil faedah, kata Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah:
    Bantahan Terhadap Kaum Jabariyah
    Jabariyah adalah suatu kaum yang mereka berlebihan di dalam menetapkan takdir. Kalau Qadariyah kaum yang berlebihan dalam meniadakan takdir. Jabariyah mengatakan bahwa semua sudah takdir, manusia tidak diberikan oleh Allah kemampuan apa-apa. Ayat 267 ini membantah mereka. Karena Allah mengatakan: “Infakkanlah hasil usaha kalian yang halal” Allah menyebutkan “hasil usaha”, berarti itu menunjukkan bahwasanya manusia punya kemampuan untuk berusaha. Tidak seperti yang diyakini kaum Jabariyah, dimana orang-orang Jabariyah meyakini bahwa manusia tidak punya kemampuan apa-apa. Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa manusia punya kemampuan.
    Menurut orang-orang Jabariyah, manusia dipaksa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya mereka mengatakan bahwa orang yang berbuat maksiat itu tidak boleh disalahkan. Mereka menganggap iblis tidak salah.
    Maka Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah berkata bahwa kalaulah manusia itu dipaksa, tentu tidak akan Allah mengatakan “Berinfaklah.” Bukankah itu menunjukkan perintah dan manusia mampu untuk melaksanakan apa perintah tersebut? Sebab kalau misalnya manusia tidak punya kemampuan, tentu manusia tidak akan bisa berinfak. Di sini Allah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengidhafahkan usaha kepada manusia. Berarti manusia punya kemampuan untuk usaha. Ini keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
    Wajibnya zakat dari semua perkara yang keluar dari bumi
    Dalilnya adalah Allah mengatakan: “Dan dari apa-apa yang Kami keluarkan untuk kalian dari bumi ini.” Lahiriyah ayat ini menunjukkan bahwa semua yang keluar dari bumi wajib dizakatkan secara mutlak. Ini adalah pendapat sebagian ulama. Tapi pendapat yang benar yaitu yang ditunjukkan oleh Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahwasanya zakat tidak wajib pada sesuatu yang tertentu secara jenis dan banyaknya. Akan tetapi zakat tidak wajib pada sesuatu yang sedikit, karena Rasulullah sudah menyebutkan nishabnya. Seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ
    “Yang kurang dari lima wasaq tidak ada zakatnya.” (HR. Tirmidzi)
    Dan tidak wajib zakat kecuali untuk perkara yang ditimbang. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salla...
    51 min
  • Pentingnya Dialog dan Komunikasi dengan Anak
    Pentingnya Dialog dan Komunikasi dengan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 24 Jumadil Akhir 1444 H / 17 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Mendidik dengan Cinta
    Pentingnya Dialog dan Komunikasi dengan Anak
    Di antara metode berinteraksi/berhubungan dengan anak adalah dengan cara berdialog. Ini adalah cara yang paling efektif. Cara ini bisa mengurangi perselisihan, menghindari munculnya kesalahpahaman, dan akan membuka hubungan antara anak dan orang tua.
    Anak sebenarnya memerlukan orang yang memahami kondisi kejiwaannya dan bisa memenuhi kebutuhan perkembangannya. Oleh karena itu anak membutuhkan ayah bunda yang sekaligus mampu menjawab masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaannya dengan masuk akal baginya. Teman yang mendengarkannya sampai akhir pembicaraan.
    Masalah yang paling sering dikeluhkan oleh anak (khususnya anak remaja) adalah orang tuanya jarang berkomunikasi dengan mereka. Bukan karena tidak mampu ataupun tidak bisa, akan tetapi lantaran waktu yang tidak ada untuk saling bicara. Dan kadang-kadang orang tua juga mengalami kesulitan dalam mencari tema pembicaraan. Hingga akhirnya diam-diam saja, tidak terjadi dialog apalagi diskusi.
    Tentunya hal ini harus dipersiapkan segala sesuatunya, terutama waktu. Sisihkan waktu untuk bisa berdialog dengan anak. Kemudian kita persiapkan juga tema. Apa kira-kira yang ingin kita bicarakan dengannya. Sehingga pembicaraan itu melahirkan sesuatu yang positif baginya.
    Kadang-kadang kita perlu menyampaikan nasihat melalui dialog. Tidak satu arah (monolog), yaitu orang tua bicara terus sedangkan anak diam saja mendengar. Tapi perlu dialog, yaitu pembicaraan dua arah. Sehingga kita mengerti juga bagaimana perkembangan akalnya dan perubahan yang terjadi pada jiwanya. Karena seseorang dapat dinilai dari bagaimana cara dia berkomunikasi. Apakah anak ini sudah sudah makin dewasa pemikirannya atau masih sangat kekanak-kanakan? Ini bisa kita lihat dari bagaimana cara dia berkomunikasi.
    Jadi salah satu faedah kita sering berdialog dan berkomunikasi dengan anak-anak adalah kita bisa mengetahui levelnya sampai dimana dan bagaimana perkembangan kepribadiannya.
    Demikian juga komunikasi ini untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang dihadapinya. Ada masalah-masalah yang perlu dicari titik temunya. Hal itu tidak mungkin kecuali dengan cara berdiskusi. Sehingga kita tahu masalah yang sebenarnya dan dapat memberikan solusi yang tepat.
    Disamping itu, berdialog dengan anak ini juga akan memunculkan ide-ide yang sebelumnya mungkin tidak ada.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Pentingnya Dialog dan Komunikasi dengan Anak
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Pentingnya Dialog dan Komunikasi dengan Anak” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    52 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah