Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Hukum Melaparkan Diri Sampai Membahayakan Kesehatan
    Hukum Melaparkan Diri Sampai Membahayakan Kesehatan ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 23 Jumadil Akhir 1444 H / 16 Januari 2023 M.

    Kajian Tentang Hukum Melaparkan Diri Sampai Membahayakan Kesehatan
    Kita masih berbicara tentang talbis yang dilancarkan iblis terhadap para pengikut ajaran sufi dalam hal makanan. Di antara mereka ada yang menjadikan lapar sebagai ibadah. Bahwa lapar adalah kondisi yang lebih baik dan dapat membantu seseorang menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi apakah demikian adanya di dalam syariat? Tentunya tidak.
    Ibadah puasa sendiri yang mana kita dilarang makan dan minum, itu bukanlah tujuannya untuk melaparkan diri. Karena tentunya kita mengenal diakhirkannya makan sahur dan menyegerakan berbuka.
    Jadi bukan intinya kita harus melaparkan diri hingga membuat mudharat bagi diri. Bahkan kalau kondisi lapar itu bisa membahayakan kesehatan, kita dianjurkan untuk berbuka. Bahkan ada empat orang yang Allah bolehkan tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan tidak perlu mengganti (cukup membayar fidyah), mereka adalah:

    * wanita yang sedang hamil,
    * wanita yang sedang menyusui,
    * orang yang terkena penyakit menahun. Yaitu penyakit itu tidak lepas darinya hingga dia tergantung hidupnya kepada obat.
    * Orang-orang yang sudah tua renta hingga tidak mampu berpuasa.

    Ini dilakukan oleh para sahabat. Di antaranya Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu ketika sudah lanjut usia. Karena orang-orang tua yang sudah renta berpuasa, tentunya ini membahayakan kesehatan mereka. Mereka tentu tidak bisa menahan lapar seperti halnya anak muda.
    Maka ibadah puasa sendiri bukanlah tujuannya untuk menyulitkan diri dan membuat jatuh dalam mudharat. Kalaulah itu membahayakan dirinya, maka ada kelapangan untuk berbuka.
    Kita lihat sebagian orang tua yang sudah renta masih dipaksakan juga berpuasa. Kadang-kadang kita kasihan juga melihatnya. Tapi orang tua itu kadang-kadang juga tidak tahu kelapangan yang Allah berikan kepada mereka. Mereka merasa bahwa berpuasa lebih bagus dalam kondisi seperti itu. Padahal Allah suka hambaNya menerima keringanan yang Allah berikan kepadanya, sebagaimana Allah suka ia menjalankan kewajiban-kewajibannya. Dalam kondisi lemah seperti itu, lebih bagus mereka tidak puasa.
    Seperti yang dilakukan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Kalau dipaksa-paksa mungkin Anas bin Malik bisa berpuasa. Namun ini salah satu hal yang kadang-kadang dilupakan orang, yaitu keringanan yang Allah berikan. Allah suka hamba itu mengambil keringanan yang Allah berikan.
    Memang di kalangan Salaf ada orang-orang yang biasa lapar, tapi bukan sengaja melaparkan diri. Melainkan karena faktor kemiskinan, yaitu ketiadaan makanan. Ini pernah terjadi dan dialami oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta para sahabat. Kadang kala mereka tidak menemukan makanan di rumah mereka. Tapi mereka biasa lapar.
    Di kalangan mereka juga ada yang biasa menahan lapar namun tidak sampai membahayakan diri mereka. Mereka akan cari makanan. Ketika Nabi lapar lalu keluar mencari makan, ternyata bertemu Abu Bakar dan Umar yang sama-sama mencari makanan. Artinya mereka tidak berdiam diri di rumah kelaparan sampai membahayakan jiwa.
    Menit ke- Ibnul Jauzi mengatakan: “Kami tidak menganjurkan akan kenyang, tetapi kami melarang lapar yang bisa melemahkan kekuatan fisik dan menyakiti tubuh.”
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download
    35 min
  • Menutupi Diri Ketika Buang Air Besar
    Menutupi Diri Ketika Buang Air Besar merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 22 Jumadil Akhir 1444 H / 15 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Separuh Penduduk Surga

    Kajian Hadits Tentang Menutupi Diri Ketika Buang Air Besar
    Kajian kita sampai pada bab ما يستتر به لقضاء الحاجة (apa yang bisa digunakan untuk menutupi diri ketika buang air besar). Maksud bab ini adalah ketika buang air, kita berusaha untuk menutupi diri.
    Hadits 107:
    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ – رضي الله عنهما – قَالَ أَرْدَفَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ خَلْفَهُ فَأَسَرَّ إِلَيَّ حَدِيثاً لَا أُحَدِّثُ بِهِ أَحَدًا مِنْ النَّاسِ وَكَانَ أَحَبَّ مَا اسْتَتَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَتِهِ هَدَفٌ أَوْ حَائِشُ نَخْلٍ قَالَ ابْنُ أَسْمَاءَ في حَدِيثِهِ يَعْنِي حَائِطَ نَخْلٍ.
    Dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memboncengku suatu hari di belakang beliau. Lalu beliau pun berbicara kepadaku secara rahasia, dan aku tidak ingin menceritakannya kepada siapapun dari manusia. Dan beliau suka untuk menutupi dirinya ketika buang hajat dengan hadaf (gundukan tanah) atau haisy kurma.” Ibnu Asma’ menafsirkan batang pohon kurma (untuk menutupi diri). (HR. Muslim)
    Hadits ini menunjukkan bolehnya membonceng seseorang di atas kuda atau unta atau keledai, itu tidak termasuk mendzaliminya selama memang itu di bawah kemampuan binatang tersebut. Tapi kalau Antum badannya berat dimana untanya jadi keberatan, maka ini tetap tidak boleh. Karena disebutkan dalam hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah masuk sebuah kebun kurma. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seekor unta. Lalu kemudian unta itu mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa pemiliknya suka memukulinya dan memberikan beban-beban yang berat. Maka Rasulullah bertanya: “Siapa pemilik unta ini?” Seorang pemuda berkata: “Aku Wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أفلا تتقي الله في هذه البهيمة التي مَلَّكَك الله إياها؟ فإنه يَشْكُو إلي أنك تُجِيعه وتُدْئِبه
    “Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah yang telah menjadikanmu pemilik unta ini. Sesungguhnya unta ini mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya lapar dan memberikan beban-beban yang berat.” (HR. Muslim)
    Lihatlah bagaimana adab Islam. Bahkan terhadap binatang tunggangan kita. Tetap tidak diperbolehkan untuk memukulinya, menzaliminya atau memberikan beban-beban berat diluar kemampuan dia. Subhanallah, sampai kepada binatang ternak pun kita harus punya adab. Memang agama kita ini adalah agama yang penuh adab.
    “Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merahasiakan kepadaku sebuah perkataan yang aku tidak mau menyampaikan kepada siapapun juga.” Ini menunjukkan kalau ada orang berbicara kepada kita “Akhi, bisa tidak kita berbicara berdua saja?” Maka itu artinya rahasia yang tidak boleh kita sampaikan kepada siapapun, sampai kepada istri kita sekalipun.
    Saudaraku, kalau ada teman kita yang minta berbicara empat mata kemudian kita sampaikan kepada orang lain, maka kita sudah berkhianat. Khianat adalah dosa besar dan termasuk perangi-perangi kemunafikan.
    Hadits ini juga menunjukkan bahwa diperintahkan apabila kita buang air di luar untuk menutupi diri kita.
    47 min
  • Tata Cara Beragama Seorang Mukmin
    Tata Cara Beragama Seorang Mukmin adalah ceramah agama dan kajian Islam oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Sabtu, 21 Jumadil Akhir 1444 H / 14 Januari 2023 M.

    Kajian Tentang Tata Cara Beragama Seorang Mukmin
    Pada kajian ini dibahas salah satu permasalahan yang berkaitan dengan akidah. Yaitu keyakinan seorang muslim terhadap agamanya yang dia yakini dengan saya yakin-yakinnya, tanpa ada keraguan sedikitpun di dalamnya.
    Tata cara beragama seorang mukmin diambilkan dari tiga prinsip dasar berdasarkan Al-Qur’an dan hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Prinsip dasar tersebut adalah:

    * Mengagungkan dalil-dalil syariat dan tunduk patuh kepada dalil-dalil tersebut.
    * Bersandar kepada hadits-hadits yang shahih.
    * Kebenaran memahami dalil-dalil syariat.

    1. Pengagungan Terhadap Dalil-Dalil Syariat
    Menit ke- Dalil-dalil syariat yang dimaksud adalah Al-Qur’an dan hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Dalil yang menunjukkan akan hal ini, di antaranya adalah surah An-Nur ayat 51-52. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ‎﴿٥١﴾‏ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ ‎﴿٥٢﴾‏
    “Sesungguhnya ucapan orang-orang beriman, jika diajak kepada Allah dan RasulNya agar menghakimi di antara mereka, mereka mengucapkan: ‘Kami mendengar, dan kami taat.’ Dan merekalah orang-orang yang beruntung. Siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut serta bertakwa kepadaNya, mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur[24]: 51-52)
    Dari ayat ini kita ambil pelajaran, bahwa sikap orang-orang beriman adalah sangat mengagungkan dalil syar’i. Apapun ayat dari Al-Qur’an, apapun hadits yang shahih dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka mereka mengatakan “Kami mendengar kemudian kami taati.”
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului di depan Allah dan RasulNya, dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat[49]: 1)
    Ayat ini juga memberikan pelajaran tentang sikap orang beriman dalam beragama. Yaitu sangat mengagungkan dalil-dalil syar’i. Mereka tidak berani mendahului Al-Qur’an atau hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan pendapatnya, dengan perasaannya, dengan akal/logikanya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
    “Dan tidak pantas bagi seorang laki-laki beriman atau perempuan beriman, jika Allah dan RasulNya telah menetapkan sebuah perkara, mereka memiliki pilihan lain dari perkara mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab[33]: 36)
    Kalau sudah ada ayatnya, maka mereka berdiri tegak lurus di batasan dalil, tidak memiliki pilihan lain kecuali dalil syar’i.
    Bagaimana praktik Salafush Shalih dalam mengagungkan dalil? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 7...
    0 min
  • Baitul Hamdi (Istana Pujian)
    Baitul Hamdi (Istana Pujian) adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 17 Jumadil Akhir 1444 H / 10 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Mengajarkan Hadits
    Baitul Hamdi (Istana Pujian)
    عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ: “قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟” فَيَقُولُونَ: “نَعَمْ” فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْد
    Dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila ada anak seorang hamba yang meninggal, maka Allah Ta’ala berkata kepada para malaikat: ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak dari hambaKu?’ Maka para malaikat menjawab: ‘Iya benar.’ Allah berkata: ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?’ Para malaikat menjawab, ‘Iya.’ Kemudian Allah berkata: ‘Apa yang diucapkan hambaKu?’ Para malaikat menjawab, ‘Dia memuji Engkau dan mengucapkan kalimat istirja’ (Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun).’ Maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Bangunlah untuk hambaKu di Surga sebuah istana dan beri nama istana tersebut dengan istana pujian.’” (HR. At-Tirmidzi)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang dialog antara Allah dengan para malaikat yang mencabut nyawa anak seorang hamba. Dan Allah Maha Mengetahui. Karena yang menetapkan ajal manusia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun Allah bertanya pada mereka, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Hadits ini juga menunjukkan bahwa anak itu pada hakekatnya adalah buah hati setiap orang tua. Karena orang tua selalu mencintai anaknya. Oleh karena itu disebut oleh Allah Ta’ala dalam hadits Qudsi ini dengan istilah “Buah Hati”.
    Ketika nyawa anaknya dicabut oleh Allah, hamba tersebut memuji Allah. Ini menunjukkan bahwa hamba tersebut betul-betul beriman kepada Allah dan beriman kepada takdir Allah. Maka ketika putranya meninggal, dia memuji Allah dan mengucapkan: Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun (Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah). Ini adalah ucapan ketika seseorang terkena musibah. Baik itu musibah kematian ataupun musibah yang lainnya. Ini adalah sebagai tanda keimanan seorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa Allah yang memberikan anak kepada kita, dan Dia pula yang memanggil anak kita.
    Orang yang ketika terkena musibah kematian itu memuji Allah, kemudian dia mengucapkan istirja’, dan dia yakin bahwa kita sebagai manusia adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Orang yang demikian, Allah berikan balasan di sisiNya dengan balasan yang besar. Yaitu dibangun baginya istana di surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menyebutkan istana tersebut dengan Baitul Hamdi (Istana Pujian). Karena orang itu bersabar dan memuji Allah ketika diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ini juga menunjukkan bahwa kita wajib beriman kepada adanya surga dan neraka. Dan dua-duanya sudah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ketika seseorang diuji oleh Allah dengan satu ujian (salah satunya ujian k...
    1 hr 29 min
  • Sunnah Duduk Iftirasy Pada Duduk Diantara Dua Sujud
    Sunnah Duduk Iftirasy Pada Duduk Diantara Dua Sujud ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 16 Jumadil Akhir 1444 H / 9 Januari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Sunnah Ketika Ruku’ dan Sujud
    Kajian Tentang Sunnah Duduk Iftirasy Pada Duduk Diantara Dua Sujud
    Ketika kita duduk di antara dua sujud, maka kita disunnahkan untuk duduk dengan cara iftirasy. Ini dikatakan sunnah, berarti kalau melakukan yang lainnya tidak mengapa. Namun (jika ditinggalkan) jadi kurang afdhal. Seperti apabila kita duduk di antara dua sujud dengan cara duduk tawarruk, apakah membatalkan ibadah shalat? Jawabannya tidak. Apakah dibolehkan? Jawabannya boleh. Karena duduk iftirasy ketika duduk di antara dua sujud itu sunnah. Dan tidak sepantasnya kita tinggalkan yang disunnahkan ini ketika mudah melakukannya. Karena dengan melakukan yang sunnah, kita mendapatkan tambahan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bagaimana duduk iftirasy?
    Duduk iftirasy itu dengan duduk di atas telapak kaki kiri (pantat diletakkan di atas telapak kaki kiri). Telapak kaki kanan kita posisikan dalam keadaan berdiri. Kemudian jari-jemarinya kita tekuk, sehingga jari-jemari itu menghadap ke kiblat. Inilah duduk iftirasy.
    Adapun duduk tawarruk yang itu disunnahkan ketika tasyahud kedua disebuah shalat, maka caranya dengan menempelkan pantat kita ke lantai. Kaki kiri diposisikan menyilang dan ditetakkan telapak kaki kiri di bawah lengan kaki kanan. Kemudian telapak kaki kanan berdiri dan kita tekuk jari-jemari kaki kanan sehingga menghadap ke kiblat.
    Ketika duduk di antara dua sujud, disunnahkan untuk duduk secara iftirasy. Dalilnya adalah hadits ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala Anha, beliau mengatakan tentang shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى
    “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika duduk di antara dua sujud, beliau membentangkan telapak kaki kirinya (untuk diduduki), dan beliau memberdirikan telapak kaki kanannya.” (HR. Muslim)
    Duduk iq’a
    Ketika duduk di antara dua sujud ini diperbolehkan duduk dengan cara iq’a. Ini juga dikatakan sebagai sunnah. Tapi jangan sering-sering. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan hal ini kadang-kadang. Seringnya beliau duduk iftirasy.
    Duduk secara iq’a yaitu dengan menjadikan kedua telapak kaki dalam posisi berdiri. Kemudian kita tekuk jari-jemarinya sehingga jari-jemari itu bisa lurus menghadap kiblat. Dan kita dudukkan pantat di atas kedua tumit.
    Ada juga jenis iq’a yang tidak dibolehkan di dalam shalat. Yaitu iq’a-nya kera. Yaitu dengan meletakkan dua tangan di lantai, kemudian menjadikan lengan kaki bawah dalam posisi berdiri. Pantat menempel di atas lantai. Sehingga lutut bisa sejajar dengan dada.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Sunnah Duduk Iftirasy Pada Duduk Dianta...
    58 min
  • Separuh Penduduk Surga
    Separuh Penduduk Surga merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 15 Jumadil Akhir 1444 H / 8 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Adanya Ampunan Yang Bersifat Sebagian

    Kajian Hadits Tentang Separuh Penduduk Surga
    Hadits 102:
    عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود – رضي الله عنه – قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في قُبَّةٍ نَحْوًا مِنْ أَرْبَعِينَ رَجُلًا فَقَالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ قَالَ قُلْنَا نَعَمْ فَقَالَ أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَقُلْنَا نَعَمْ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِ محمد بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَذَاكَ أَنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَمَا أَنْتُمْ في أَهْلِ الشِّرْكِ إِلَّا كَالشَّعْرَةِ الْبَيْضَاءِ في جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ أَوْ كَالشَّعْرَةِ السَّوْدَاءِ في جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَحْمَرِ.
    Dan ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di sebuah kemah yang memuat sekitar 40 orang. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Apakah kalian ridha untuk menjadi seperempatnya penduduk surga?’ Kami berkata: ‘Iya.’ Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Ridha-kah kalian menjadi sepertiga penduduk surga?’ Kami berkata: ‘Iya.’
    Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Demi Dzat yang Nabi Muhammad berada di tangannya, sesungguhnya aku berharap kalian menjadi separuhnya penduduk surga. Karena surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim. Dan tidaklah jumlah kalian dibandingkan dengan orang-orang yang berbuat syirik kecuali seperti satu helai rambut yang berwarna putih di kulit banteng yang berwarna hitam. Atau seperti satu helai rambut hitam di kulit banteng yang berwarna merah.'” (HR. Muslim)
    Keutamaan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa beliau berharap sekali kalau umat Islam itu menjadi separuhnya penduduk surga. Namun dalam riwayat yang lain dikatakan bisa lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    خُيِّرْت بَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ ؛ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْت الشَّفَاعَةَ…
    “Aku diberikan oleh Allah pilihan antara separuh dari umatku masuk surga atau diberi syafa’at. Maka aku pun memilih syafa’at…” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
    Bahkan umat Islam pada asalnya seluruhnya masuk surga kecuali yang enggan. Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.
    “Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang tidak mau.” Kemudian para sahabat bertanya: “Siapa yang tidak mau wahai Rasulullah?” Kata Rasulullah: “Siapa yang menaatiku dia pasti masuk surga, tapi siapa yang memaksiatiku maka ia tidak mau masuk ke dalam surga.” (HR. Bukhari)
    Islam adalah syarat untuk masuk surga
    Nabi mengatakan: “Surga itu tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim.” Maka jiwa yang tidak muslim (berbuat syirik dan wafat di atas kesyirikan) haram masuk ke dalam surga.
    50 min
  • Merenungkan Hakikat Dunia
    Merenungkan Hakikat Dunia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 12 Jumadil Akhir 1444 H / 5 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Tafakur
    Ceramah Agama Islam Tentang Merenungkan Hakikat Dunia
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa ketika seseorang memikirkan akhir dari makanan-makanan mewah/mahal/enak yang begitu dikejar oleh jiwa-jiwa manusia yang serupa dengan hewan, apa nanti jadinya nanti ketika keluar darinya? Makanan itu akan menjadi kotoran. Seenak apapun makanannya sama keluarnya. Dengan pemikiran ini, maka tekadnya akan naik. Sehingga dia tidak akan terlalu mencurahkan pikirannya untuk rakus mengejar makanan-makanan seperti ini atau menjadikan makanan ini memperbudak hatinya. Yang dengan sebab makanan inilah dia ridha atau marah. Inilah yang berusaha keras untuk dicarinya. Bahkan dia bisa mencintai atau membenci seseorang karena perkara-perkara seperti ini.
    Yakni kalau orang memikirkan hal seperti ini, dimana akhirnya bukanlah sesuatu yang seperti terkesan diawannya, maka dia tidak akan memperbudak dirinya untuk mencari makanan-makanan tersebut atau urusan-urusan dunia yang seperti itu keadaannya.
    Sebagaimana disebutkan di dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنَّ الله جَعَل طعامَ ابن آدم مَثَل الدنيا وإنْ قَزَحَه ومَلَّحَه فإنه يعلمُ إلى ما يصير
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan makanan manusia di dunia ini seperti perumpamaan dunia. Meskipun makan itu dicampur dengan berbagai macam rempah-rempah dan diberi garam, maka sesungguhnya orang yang memakannya tahu apa nanti kesudahan makanan tersebut.” (HR. Ahmad)
    Seenak apapun dia mencampurnya, maka tetap jadi kotoran yang tentu kita sangat jijik terhadapnya.
    Inilah nasibnya dunia. Kalau kita kejar, kelihatannya awalnya indah, tapi ujung-ujungnya adalah sesuatu yang bahkan kita tidak mau mendekatinya apalagi menyentuhnya.
    Jika seseorang memikirkan tentang kesudahan dari makanan yang dianggapnya tadi sangat-sangat menggugah seleranya, maka tentu dia akan meninggikan dirinya daripada menjadikan dirinya sebagai budak makanan, dimana dia sampai terbayang-bayang dan selalu mengganggu pikirannya. Ini tentu akan menjadikan dirinya sebagai budak dari makanan ini yang ternyata akhirnya adalah sesuatu yang paling busuk, menjijikan, dan buruk.
    Subhanallah.. Inilah hakikatnya dunia. Ujung-ujungnya adalah sesuatu yang tidak seindah kelihatan diawalnya. Berbeda dengan akhirat yang kekal abadi kenikmatan tersebut selama-lamanya.
    Apa artinya merenung di sini? Yaitu menghadirkan dua pengetahuan kita untuk masuk ke dalam hati. Yang dengan dua pengetahuan ini kita akan memetik buah ilmu pengetahuan yang ketiga.
    Contohnya seseorang yang menghadirkan di hatinya pengetahuan tentang dunia (perhiasannya, makanannya, dan keindahannya). Yang kenikmatannya (kalaupun ada) selalu tidak pernah luput dari adanya kerusakan-kerusakan. Kemudian kenikmatan tersebut tidak kekal. Setelah itu dia menghadirkan di hatinya tentang akhirat. Kenikmatannya kekal abadi, nikmatnya tidak berakhir dengan sesuatu yang busuk/bau atau menjijikan seperti nikmat dunia tadi, kelezatannya kekal abadi. Kita bisa menghadirkan ini tentu setelah belajar, membaca Al-Qur’an dan yakin dengan berita-berita gembira yang Allah berikan terhadap orang-orang yang beriman.
    57 min
  • Sikap Berlebihan Terhadap Kuburan Orang Shalih Akan Menjadikannya Sebagai Berhala
    Sikap Berlebihan Terhadap Kuburan Orang Shalih Akan Menjadikannya Sebagai Berhala adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 11 Jumadil Akhir 1444 H / 4 Januari 2023 M.

    Kajian Tentang Sikap Berlebihan Terhadap Kuburan Orang Shalih Akan Menjadikannya Sebagai Berhala
    Kita masuk bab ke-21: sikap berlebihan terhadap kuburan orang-orang shalih akan menjadikannya sebagai berhala yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Makna dari bab ini adalah menjelaskan bahwa sikap ghuluw atau berlebih-lebihan/memuji-muji kuburan-kuburan orang-orang shalih yang menyebabkan kuburan-kuburan orang shalih itu dijadikan sebagai berhala yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencegah akan hal ini (berbuat ghuluw terhadap kuburan orang-orang shalih). Karena sebagaimana sejarah yang terjadi, ini menjadikan kuburan orang-orang shalih tersebut sebagai berhala yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hubungan bab ini dengan perkara tauhid adalah bab ini menunjukkan contoh perbuatan yang menyebabkan terperosok ke dalam kesyirikan. Yaitu sikap ghuluw terhadap kuburan orang-orang shalih.
    Arti ghuluw adalah melampaui batas dari yang diizinkan oleh syariat. Dan sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih adalah menjadikannya sebagai tempat ibadah. Misalnya seseorang lebih khusyuk beribadah di samping kuburan orang-orang shalih, lebih mantap hati membaca Al-Qur’an, shalat, berzikir, berdoa di kuburan orang-orang shalih dibandingkan di tempat yang memang disyariatkan untuk diibadahi (yaitu masjid-masjid Allah Subhanahu wa Ta’ala).
    Imam Malik Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Muwattha’, bahwa Rasulullah bersabda:
    اللّهُمّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
    “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang diibadahi. Allah sangat murka kepada orang-orang yang telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Imam Malik)
    Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa agar kuburan beliau tidak dijadikan sebagai berhala. Kemudian beliau mengabarkan bahwa kemurkaan dari Allah sangat besar terhadap orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.
    Hubungan dalil ini dengan bab adalah menunjukkan contoh sikap yang menyebabkan terperosok ke dalam kesyirikan. Yaitu berbuat ghuluw terhadap kuburan orang-orang shalih.
    Penjelasan hadits
    Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ya Allah jangan jadikan kuburanku sebagai berhala yang diibadahi.”
    Doa dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini telah dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim, beliau berkata:  “Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabbul Alamin mengabulkan doa beliau. Maka kuburan beliau ditutupi dengan tiga dinding. Sampai seluruh harapan-harapannya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh kemuliaan dan penjagaan serta wasiat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
    Hadits ini menunjukkan bahwa kuburan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jikalau diibadahi, maka menjadi berhala. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga dengan apa yang menghalangi antara kuburan beliau dengan manusia. Maka tidak ada yang bisa sampai kepada kuburan beliau, tidak bisa diusap, tidak bisa diletakkan air pada samping kuburan beliau,
    1 hr 9 min
  • Adanya Ampunan Yang Bersifat Sebagian
    Adanya Ampunan Yang Bersifat Sebagian merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 8 Jumadil Akhir 1444 H / 1 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Waspada Terhadap Pemikiran Khawarij

    Kajian Hadits Tentang Adanya Ampunan Yang Bersifat Sebagian
    Hadits 97:
    عَنْ جَابِرٍ – رضي الله عنه – أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو الدَّوْسِيَّ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ هَلْ لَكَ في حِصْنٍ حَصِينٍ وَمَنْعَةٍ قَالَ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ في الْجَاهِلِيَّةِ فَأَبَى ذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلَّذِي ذَخَرَ اللهُ لِلْأَنْصَارِ فَلَمَّا هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو في مَنَامِهِ فَرَآهُ وَهَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ وَرَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ مَا صَنَعَ بِكَ رَبُّكَ فَقَالَ غَفَرَ لِي بِهِجْرَتِي إِلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا لِي أَرَاكَ مُغَطِّيًا يَدَيْكَ قَالَ قِيلَ لِي لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ.
    Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Thufail bin ‘Amr Ad-Dausi mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia berkata: “Ya Rasulullah, maukah engkau mendapatkan benteng yang sangat kokoh yang akan melindungi kamu dari kaummu.” Dia berkata lagi: “Yaitu benteng yang merupakan milik Kabilah Daus dimasa jahiliyah.” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menolak tawaran Thufail bin ‘Amr itu. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan untuk beliau kaum Anshar.
    Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah ke kota Madinah, maka Thufail bin ‘Amr pun ikut hijrah. Dan juga berhijrah bersama Thufail ada seorang laki-laki dari kaumnya. Maka mereka merasa berat untuk tinggal di madinah. Maka orang itu sakit dan tidak sabar. Ia pun mengambil beberapa ujung tombak (pisau) lalu ia memotong urat nadinya, sehingga meninggal dunia.
    Thufail bermimpi bertemu dengan orang tersebut, dan dia melihat dalam mimpinya itu dalam keadaan bagus, tapi ia menutup tangannya. Thufail berkata kepadanya: “Apa yang dilakukan oleh Rabbmu terhadap dirimu?” Orang itu berkata: “Allah telah mengampuni dosaku karena hijrahku kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Tufail berkata: “Lalu kenapa aku melihat engkau menutup tanganmu itu?” Dia berkata: “Dikatakan kepadaku: ‘Kami tidak akan memperbaiki yang telah kamu rusak itu.'”
    Maka kemudian Thufail pun mengisahkan mimpi tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah, maafkan juga dua tangannya.” (HR. Muslim)
    Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
    Hadits ini menunjukkan akan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak kekal dalam api neraka. Ini adalah keyakinan yang diselisihi oleh kaum Khawarij yang meyakini bahwa pelaku dosa besar itu kafir murtad dari agama Islam. Adapun Ahlus Sunnah tidak meyakini demikian, kecuali kalau dia meyakini kehalalan dosa besar itu.
    46 min
  • Keutamaan Mengajarkan Hadits
    Keutamaan Mengajarkan Hadits adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 10 Jumadil Akhir 1444 H / 3 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Mengajarkan Ilmu Yang Bermanfaat
    Keutamaan Mengajarkan Hadits
    Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِع مِنَّا شيئا، فَبَلَّغَهُ كما سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أوْعَى مِن سَامِعٍ
    “Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah seorang yang dia mendengar dari kami sesuatu kemudian menyampaikan apa yang didengar itu dari kami sebagaimana apa yang dia dengar. Banyak orang yang disampaikan sesuatu kepadanya lebih mampu memahami daripada orang yang mendengarkannya.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan ini hadits shahih)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi orang-orang (terutama sahabat) yang mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari hadits-hadits beliau. Ini satu keutamaan bagi para sahabat dan ulama-ulama hadits yang mereka menerima hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mereka sampaikan kepada yang lainnya.
    Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan dalam hadits ini pula bahwa terkadang ada orang yang dia mendengar tentang hadits Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam kemudian disampaikan kepada orang lain. Yang mana orang lain ini bisa jadi lebih mampu memahami apa yang disampaikan tadi. Tentu keduanya mempunyai keutamaan. Karena intinya bahwa mereka menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang bertingkat-tingkatnya pemahaman seseorang dalam memahami suatu nash (Al-Qur’anul Karim ataupun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Tentu ada perbedaan dalam kemampuan memahaminya. Tetapi ketika disampaikan, ini sudah satu poin mulia yang diperoleh oleh seorang yang menyampaikannya, meskipun orang yang disampaikannya itu lebih mampu memahami apa yang disampaikannya.
    Hadits ini menganjurkan untuk menyampaikan dan mengajarkan ilmu itu kepada manusia. Yaitu agar orang yang berilmu itu menyampaikan ilmu kepada orang lain. Itulah di antara ilmu yang bermanfaat, dan itu salah dari amal-amal yang akan berkesinambungan. Jika seorang telah meninggal, maka amalnya ada yang berkelanjutan. Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada manusia. Maka orang yang mengajarkannya mendapatkan fadhilah berupa amal jariyah (yaitu amal yang mengalir pahalanya).
    Maka dari itu mengajarkan ilmu adalah salah satu dari amalan-amalan yang mengalir pahalanya meskipun seorang telah wafat meninggalkan dunia ini. Namun semua itu tentu apabila seorang yang menyampaikannya dia ikhlaskan karena Allah Ta’ala. Karena keikhlasan ini sangat penting. Kita hidup ini hendaknya beribadah kepada Allah Ta’ala dengan selalu ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Dan senantiasa mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang kewajiban untuk menjaga dan memelihara ilmu. Supaya ilmu itu betul-betul dipelihara, jangan ditambahi, jangan dikurangi. Makanya Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menyebutkan dalam hadits ini: “Dia menyampaikan ...
    1 hr 29 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah