Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Bermain dengan Anak
    Bermain dengan Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 15 Rajab 1444 H / 6 Februari 2023 M.

    Kajian Tentang Bermain dengan Anak
    Salah satu kebutuhan dasar (primer) anak adalah bermain. Hal ini belum dipahami oleh sebagian orang tua. Ada sebagian orang tua yang tidak mengerti bahwa salah satu kebutuhan dasar anak adalah bermain. Dia pikir anak itu yang penting makan, minum, pakai baju, tidur, kenyang. Dia lupa bahwa selain anak butuh makan, butuh minum, butuh baju, butuh tempat tinggal, dia juga butuh sesuatu yang namanya bermain.
    Dikarenakan kekurangpahaman sebagian orang tua tentang hal ini, maka muncullah dua kubu yang bertolak belakang. Ada ekstrem kanan, ada ekstrim kiri.
    Orang tua ekstrim kanan adalah yang melarang anaknya bermain atau tidak memberikan jatah bermain yang cukup untuk anak. Salah satu alasan yang sering dikemukakan bagi orang tua jenis ini adalah agar anak fokus belajar. Tentu niat ini bagus. Tapi niat yang bagus saja tidak cukup. Di dalam agama kita, yang harus diperhatikan itu bukan hanya niat, tapi juga caranya harus benar.
    Ketika anak dihalangi dari kebutuhan dasarnya (yaitu bermain), itu malah akan membuat anak jadi tidak fokus belajar. Karena anak jadi tidak tersalurkan potensinya untuk bermain. Bahayanya bisa-bisa anak jadi stress. Akhirnya dia meluapkan stressnya itu dengan perilaku yang diluar nalar. Misalnya teriak-teriak, marah-marah, memukul, membanting. Sampai ada sebagian orang tua mengira anaknya kesurupan.
    Jadi justru kalau anak diberi kesempatan bermain, ini akan membuat anak fokus belajar. Karena suasana batinnya riang, senang, gembira. Kalau orang sudah gembira, maka ketika diajak belajar dia akan nyaman.
    Orang tua ekstrim kiri adalah orang tua yang terlalu longgar dalam memberikan hak bermain pada anak. Contoh kesalahan ini banyak sekali. Di antara contohnya: keliru dalam memberikan media (alat) bermain untuk anak, atau terlalu longgar dalam memberikan teman bermain.
    Salah satu media bermain yang kerap disediakan orang tua untuk anaknya adalah HP. Di zaman ini sudah bukan merupakan pemandangan asing, anak-anak SD pegang HP. Bahkan anak batita sudah diberi kesempatan untuk bermain HP. Kebanyakan orang tua beralasan: anak mendesak minta HP, karena rata-rata temannya punya HP. Atau karena orang tua merasa bahwa HP adalah solusi agar anak anteng, tidak rewel dan tidak bolak-balik mengganggu aktivitas orang tuanya. Padahal telah terbukti betapa dahsyatnya dampak buruk penggunaan HP secara serampangan. Jika orang dewasa -yang akalnya sudah sempurna- saja bisa rusak keimanannya gara-gara HP, apalagi anak kecil yang akalnya belum sempurna.
    Adapun terkait dengan teman bermain yang merusak akhlak anak, ini juga terkadang luput dari perhatian orang tua. Sebagian orang tua beralasan, jika anak berada di dalam rumah, suka mengganggu, sering berpolah menjengkelkan dan membuat masalah. Mendingan disuruh bermain di luar saja. Sayangnya tidak diperhatikan siapa teman-teman bermain anak di luar rumah. Akibatnya saat pulang bermain, anak membawa kosakata buruk baru, atau perilaku negatif baru.
    Solusi Jitu
    Seluruh kendala di atas insyaAllah bisa diatasi dengan mengamalkan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut. Yaitu: orang tua bermain dengan anak.
    Ya’la bin Murrah Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan,
    خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ، فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ، فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا، ويُضَاحِكُه ال...
    52 min
  • Pahala Infak – Tafsir Surah Al-Baqarah 270
    Pahala Infak – Tafsir Surah Al-Baqarah 270 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 9 Rajab 1444 H / 31 Januari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Setan Berusaha Menyesatkan Manusia – Tafsir Surah Al-Baqarah 268
    Pahala Infak – Tafsir Surah Al-Baqarah 270
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
    “Dan apa-apa yang kalian infakkan dari nafaqah atau yang kalian bernadzar, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahuinya. Dan tidaklah orang-orang yang dzalim itu mendapatkan penolong.” (QS. Al-Baqarah[2]: 270)
    Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya.
    Dari ayat ini kita ambil faedah:
    Pahala Infak
    Infak (baik sedikit ataupun banyak) pasti diberikan pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka semua diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, selama memenuhi dua syarat tentunya. Yang pertama ikhlas, yang kedua sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Makanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita untuk bersedekah walaupun itu hanya setengah kurma. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
    “Bertakwalah kalian dari api neraka walaupun dengan menginfakkan setengahnya kurma.” (HR. Muslim)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
    مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ.
    “Barangsiapa yang bersedekah sebanding dengan satu kurma dari penghasilan yang baik, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah menerima sedekahnya dengan tangan kananNya, kemudian mengembangbiakkannya bagi orang yang bersedekah, sebagaimana seorang di antara kalian membesarkan anak kuda, bahkan sampai menjadi seperti gunung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Berharap Pahala Ketika Berinfak
    Wajib seorang insan apabila berinfak, hendaklah ia mengharapkan pahala di sisi Allah. Karena Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Sebab kalau kamu berinfak dalam keadaan yakin bahwa Allah mengetahui infakmu, kamu akan berharap pahala.
    Menurut orang sufi, katanya berharap pahala itu bertentangan dengan keikhlasan. Karena katanya kalau kita berharap pahala berarti tidak mengharapkan ridha Allah. Padahal dalil menunjukkan bahwa berharap pahala termasuk mengharapkan ridha Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
    “Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
    Allah Mengetahui Nadzar
    Nadzar apapun yang dinazarkan oleh seorang insan, itu diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah ayat ini menunjukkan bahwa nadzar itu boleh? Jawabnya ayat ini tidak menunjukkan bolehnya nadzar. Karena sama dengan perkataan seseorang yang mengatakan “Kalau kamu mencuri,
    50 min
  • Keengganan Orang Tua Mengungkapkan Rasa Sayang
    Keengganan Orang Tua Mengungkapkan Rasa Sayang merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 9 Rajab 1444 H / 31 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Pentingnya Dialog dan Komunikasi dengan Anak
    Keengganan Orang Tua Mengungkapkan Rasa Sayang
    Rasa sayang atau cinta kadang-kadang perlu diungkapkan secara verbal (dengan kata-kata), sebagaimana juga perlu dibuktikan dengan tindakan nyata. Jadi tidak bisa hanya bersandar kepada apa yang ada di dalam hati. Karena anak tidak tahu apa yang ada dalam hati kita dan kita pun tidak bisa membaca isi hatinya. Tapi yang bisa kita tangkap darinya adalah apa yang dikatakannya dan apa yang dilakukannya.
    Orang tua perlu mengungkapkan rasa sayang kepada anak secara verbal, kemudian membuktikannya dalam bentuk tindakan nyata. Misalnya membelai, mengecup dan mencium anaknya sebagai ungkapan kasih sayang. Demikian pula dia perlu mengungkapkannya dengan lisannya. Dengan mengatakan misalnya “Ayah/Bunda mencintaimu,” dan sejenisnya.
    Sebagian orang tua ada yang enggan mengungkapkan rasa sayangnya kepada anak. Mungkin dia bersandar dengan apa yang ada di dalam hati. Tentu ini tidak cukup. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan kepada kita apabila mencintai seseorang, maka kita mengungkapkannya.
    Walaupun mencintai dalam hati adalah konsekuensi dari loyalitas kita kepada sesama mukmin, tapi kadang-kadang perlu diungkapkan. Karena ungkapan kasih sayang itu menunjukkan bahwa kasih sayang yang kita miliki kepadanya adalah kasih sayang yang spesial/istimewa. Sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    تَهَادُوا تَحَابُّوا‏
    “Salinglah memberi hadiah niscaya kalian akan saling menyayangi.” (HR. Bukhari)
    Hadiah adalah bukti/tindakan nyata ungkapan sayang kita kepada orang-orang yang kita memang sayangi.
    Orang Tua Jarang Berkomunikasi dengan Anak
    Ketika anak sudah usia remaja, bahkan mendekati dewasa, ini perlu diajak komunikasi. Maka kita tentunya memilih topik-topik pembicaraan yang menarik sesuai dengan usianya. Sehingga dia tertarik untuk terlibat dalam pembicaraan/obrolan dengan kita. Dari sela-sela obrolan itu kita bisa menyisipkan pesan-pesan atau nilai-nilai yang ingin kita sampaikan kepada anak.
    Cara seperti ini dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada anak-anak sahabat. Nabi sering berkomunikasi dengan mereka. Bahkan di atas kendaraan Nabi berkomunikasi dengan mereka. Nabi bertanya dan menyampaikan pelajaran-pelajaran kepada mereka. Seperti Nabi mengajarkan beberapa hal kepada Abdullah bin Abbas, Muadz bin Jabal dan beberapa sahabat-sahabat lainnya.
    Sebagian orang tua mungkin terlalu sibuk dengan dirinya sendiri atau dengan dunianya atau dengan pekerjaannya.
    Memang untuk mendekati anak itu perlu waktu yang kita korbankan. Sehingga untuk berkomunikasi dengan anak ini kadang-kadang kita terlalu pelit untuk memberikan waktu kepadanya. Kadang-kadang anak sudah membuka pembicaraan, tapi tidak direspon oleh orang tua.
    Sebagian orang tua merasa tidak levelnya untuk berkomunikasi/mengobrol dengan anaknya. Tentunya kita yang menyesuaikan diri dengan kondisinya, bukan dia mengikuti pembicaraan kita. Maka perlu mencari topik-topik yang menarik bagi mereka untuk dibicarakan. Apalagi masalah-masalah yang up to date misalnya, yang dia punya antusias untuk membicarakannya dengan kita.
    Obrolan ini sekedar untuk membuka hubungan dengannya. Karena kalau komunikasi antara anak dan orang tua itu lancar...
    50 min
  • Bershalawat Sebelum Berdoa
    Bershalawat Sebelum Berdoa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Seiasa, 9 Rajab 1444 H / 31 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Baitul Hamdi (Istana Pujian)
    Bershalawat Sebelum Berdoa
    وعن فَضَالَةَ بنِ عُبَيْدٍ – رضي الله عنه – قَالَ: سَمِعَ رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – رَجُلًا يَدْعُو في صَلاَتِهِ لَمْ يُمَجِّدِ الله تَعَالَى، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم: «عَجِلَ هَذَا» ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ – أَوْ لِغَيْرِهِ: «إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ».
    Dari Fadhalah bin ‘Ubaid Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendengar salah seorang yang berdoa dalam shalatnya, tetapi dia tidak menyanjung Allah dan tidak pula membaca bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang ini telah tergesa-gesa,” kemudian Rasulullah memanggil orang itu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu bersabda pada orang itu atau pada orang lainnya juga: “Jika salah seorang di antara kalian shalat (yakni ketika berdoa), maka hendaklah dia awali dengan memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian dia membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian setelah itu dia berdoa sesuai dengan doa yang dikehendakinya.” (HR. Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, dan Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits shahih)
    Yang perlu kita pahami dalam masalah ini, bahwa tempat doa yang dibaca oleh orang ini adalah ketika tasyahud akhir. Makanya kita kalau berdoa dalam shalat ketika sujud, itu tidak perlu shalawat. Tapi setelah membaca tasbih sujud, kemudian kita berdoa tanpa membaca shalawat. Jangan sampai ada yang memahami bahwa setiap doa dalam shalat harus diawali dengan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Setelah membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seorang berdoa dengan doa yang dikehendakinya. Dan doa-doa yang dibaca sesudah tasyahud sebelum salam itu ada riwayat-riwayatnya. Ada 13 atau 14 riwayat. Boleh juga membaca doa yang kita hafal.
    Dalam hadits ini menjelaskan kepada kita tentang adab doa, baik itu dalam shalat maupun di luar shalat. Sebelum berdoa kita dianjurkan untuk memuji dan menyanjung Allah. Kemudian membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini bagian dari adab-adab berdoa. Kecuali yang memang tidak ada tuntunannya. Contohnya doa apa yang tidak ada shalawat terlebih dahulu? Contohnya bacaan sesudah wudhu.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Bershalawat Sebelum Berdoa
    1 hr 6 min
  • Talbis Iblis dalam Nyanyian dan Musik
    Talbis Iblis dalam Nyanyian dan Musik ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 8 Rajab 1444 H / 30 Januari 2023 M.

    Kajian Tentang Talbis Iblis dalam Nyanyian dan Musik
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa mendengarkan lagu/nyanyian/musik itu bisa mengakibatkan dua keburukan bagi hati. Pertama, membuat hati lalai. Terutama untuk merenungkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan untuk melakukan peribadatan ataupun pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terutama mendengarkan dan membaca Al-Qur’an. Itu suatu hal yang akan saling bertabrakan di dalam diri seseorang.
    Ketika seseorang mendengar nyanyian/musik dengan Al-Qur’an, maka salah satu pasti akan mengalahkan. Artinya kalaulah bukan musik yang menang, maka Al-Qur’an yang menang. Tidak akan bersatu dan bertemu dua perkara itu di dalam hati seseorang.
    Yang kedua adalah membuat hati condong pada kenikmatan yang sesaat dan pada akhirnya mendorongnya agar berusaha mendapatkan berbagai kenikmatan yang diinginkan (yaitu syahwat). Ini adalah saluran syahwat. Maka kita lihat syair-syair ataupun lirik-lirik yang ada pada nyanyian-nyanyian itu semuanya mendorong pendengarnya untuk mengikuti berbagai kenikmatan syahwat. Dan puncak kenikmatan hati dari mendengar nyanyian ini adalah akan condong kepada hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas dasar itulah, maka mendengarkan musik, lagu dan nyanyian ini merupakan jalan kepada perzinaan.
    Ada hubungan yang sangat erat antara nyanyian dan perzinaan. Karena nyanyian merupakan kenikmatan jiwa, sedangkan perzinaan merupakan kenikmatan jasmani yang paling besar. Hubungan ini terjadi karena merasakan kenikmatan yang saling mendukung satu sama lainnya. Ini mendorong pelakunya untuk mengejar kenikmatan-kenikmatan yang dia dengar dan membuai hatinya. Pada akhirnya terjerumuslah mereka kepada perbuatan zina.
    Setelah iblis putus asa untuk mendengarkan suara-suara yang diharamkan dari kalangan ahli ibadah (semisal suara kecapi), maka ia pun melirik makna yang dihasilkan alat musik tersebut. Maka iblis pun memasukkan makna itu dalam nyanyian yang tidak diiringi oleh alat musik. Dan ia meyakinkan para ahli ibadah bahwa syair-syair yang tidak diiringi dengan musik merupakan suatu yang baik.
    Ahli ibadah ketika mendengarkan alat musik dibunyikan, mungkin dia akan lari. Iblis mungkin tidak bisa menaklukkan ahli ibadah ini agar mereka mau mendengarkan alat-alat musik. Tapi setan tidak putus asa membawa mereka untuk mendengarkan nyanyian yang tidak diiringi oleh alat musik. Hingga ahli ibadah menganggap itu adalah suatu yang baik. Padahal tujuan iblis sebenarnya adalah menjerumuskan secara pelan-pelan orang-orang yang jatuh di dalamnya. Yaitu dengan mendorong mereka dari suatu yang jelas menuju suatu yang samar.
    Akhirnya mereka lebih senang mendengarkan nyanyian-nyanyian itu daripada mendengarkan ilmu dan nasihat. Sehingga nasihat menjadi sesuatu yang berat. Kadang mereka lebih nikmat mendengarkan syair-syair tadi.
    Maka dari itu syair itu kalau isinya kemungkaran tidak boleh didengar. Kalaupun tidak berisi kemungkaran, para ulama memberikan syarat. Yaitu tidak lebih dominan daripada Al-Qur’an, dan tidak melalaikannya dari Al-Qur’an. Karena sebagian syair-syair itu mendominasi hati seseorang, hingga akhirnya dia mengalami:

    * Lebih nikmat mendengarkan syair daripada mendengarkan Al-Qur’an.
    * Kecanduan, sehingga dia mengabaikan dan meninggalkan Al-Qur’an dan lebih memilih untuk menden...
    33 min
  • Hal-Hal Yang Dibolehkan dalam Shalat
    Hal-Hal Yang Dibolehkan dalam Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 8 Rajab 1444 H / 30 Januari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Sunnah Duduk Iftirasy Pada Duduk Diantara Dua Sujud
    Kajian Tentang Hal-Hal Yang Dibolehkan dalam Shalat
    Pelajaran ini kita bahas karena banyak dari kaum muslimin yang menganggap bahwa hal-hal ini tidak dibolehkan untuk dilakukan di dalam shalat. Padahal kadang-kadang mereka sangat membutuhkan untuk melakukannya. Sehingga ketika mengetahui hal ini, maka ini akan memberikan jalan keluar bagi mereka yang ingin melakukan hal-hal ini yang sebenarnya memang dibolehkan di dalam shalat.
    Menggendong Anak
    Menggendong anak di dalam shalat sebenarnya dibolehkan. Walaupun ketika menggendong anak di dalam shalat ini akan menjadikan kita melakukan hal-hal yang sebenarnya kita tinggalkan ketika tidak melakukan hal ini. Seperti mengangkat anak kecil, kemudian menaruhnya. Ketika mengangkat, kita tidak meletakkan tangan di tempat asalnya. Meskipun demikian, hal ini tetap dibolehkan. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
    أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي وهو حامل أمامة بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم فإذا سد وضعها وإذا قام حلمها
    “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat dalam keadaan beliau menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika beliau sujud, beliau meletakkan Umamah, dan ketika beliau berdiri maka beliau menggendong kembali Umamah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membawa cucu beliau ini dalam keadaan berdiri dan rukuk, beliau hanya meletakkan cucunya ketika sujud saja. Ketika rukuk bisa kita bayangkan jelas tangan akan membawa bayi itu, sehingga akhirnya tangan tidak diletakkan di atas lutut.
    Makanya bagi para ibu yang melihat atau merasakan anaknya mau nangis, dan kalau menangis nanti akan mengganggu shalatnya, maka gendong anak itu. Ini tidak ada masalah karena ada contohnya dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Inilah kemudahan yang diberikan oleh syariat Islam. Jangan sampai kita mengharamkan sesuatu yang dibolehkan oleh syariat. Ini termasuk dari salah satu bukti dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    …وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ…
    “Allah tidak menjadikan kesulitan pada agama ini (agama Islam).” (QS. Al-Hajj[22]: 78)
    يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ…
    “Allah ingin untuk memberikan keringanan kepada kalian…” (QS. An-Nisa'[4]: 28)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
    إِنَّ الدِّينَ يُسْ…
    “Sesungguhnya agama ini adalah agama yang mudah.”
    Lihat juga: Islam Adalah Agama Yang Mudah – Prinsip Dasar Islam
    Berjalan Sedikit Ketika Dibutuhkan
    Misalnya kita shalat dengan mengambil sutrah punggungnya orang yang duduk. Lalu ternyata dia pergi, sedangkan di depan ada tiang. Maka tidak ada masalah bagi kita untuk maju, berjalan sedikit untuk menjadikan tiang itu sebagai sutrah shalat kita. Yang seperti ini tidak ada masalah. Karena jalannya sedikit, dan kita membutuhkan jalan itu.
    1 hr 5 min
  • Larangan Istinja’ dengan Tangan Kanan
    Larangan Istinja’ dengan Tangan Kanan merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 7 Rajab 1444 H / 29 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Menutupi Diri Ketika Buang Air Besar

    Kajian Hadits Tentang Larangan Istinja’ dengan Tangan Kanan
    Kajian kita sampai pada bab النهي عن الاستنجاء باليمين (Larangan istinja’ dengan tangan kanan).
    Hadits 114:
    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنْ الْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ في الْإِنَاءِ.
    Dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari ayahnya, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Janganlah salah seorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya dalam keadaan dia sedang buang air kecil. Dan jangan ia cebok dengan tangan kanannya, dan jangan ia bernafas di dalam bejana.'” (HR. Muslim)
    Larangan memegang kemaluan saat buang air kecil
    Para ulama berbeda pendapat apakah larangan ini hukumnya haram ataukah makruh. Jumhur ulama mengatakan bahwa hukumnya makruh. Karena ini berhubungan dengan adab. Sedangkan larangan yang berhubungan dengan adab biasanya pada asalnya hukumnya makruh. Adapun kalau sifatnya hukum, maka larangan itu pada asalnya haram.
    Pada hadits ini berhubungan dengan masalah adab. Maka jumhur berpendapat -karena ini berhubungan dengan masalah adab- sehingga dibawa kepada makruh, tidak sampai kepada haram. Sedangkan Ibnu Hazm dan mazhab dhahiri mengatakan hukumnya haram. Walaupun tentunya, sesuatu yang makruh itu bukan untuk dilakukan. Seorang muslim tidak baik untuk menganggap remeh perkara-perkara yang sifatnya makruh. Karena makruh juga termasuk perkara yang dilarang.
    Kemudian para ulama juga berbeda pendapat. Apakah larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan itu khusus saat kencing saja atau ketika tidak kencing juga? Sebagian mengatakan bahwa larangannya mutlak tidak boleh walaupun ketika kencing ataupun tidak sedang kencing. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa ini khusus ketika buang air kecil saja. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan di situ “dalam keadaan dia sedang kencing.” Adapun di luar itu tidak apa-apa. Dan kepada pendapat ini saya condong.
    Larangan cebok dengan tangan kanan
    Jumhur ulama mengatakan larangan di sini adalah makruh. Karena ini berhubungan dengan masalah adab. Ini juga menunjukkan bahwa tangan kanan itu jangan dipergunakan untuk perkara-perkara yang sifatnya tidak baik. Untuk hal-hal yang sifatnya bukan kebaikan maka hendaknya menggunakan tangan kiri. Tapi kalau untuk hal-hal yang sifatnya kebaikan, seperti bersuci, memakai sendal, atau mengambil sesuatu yang bermanfaat dan yang lainnya, maka itu hendaknya menggunakan tangan kanan.
    Larangan bernafas dalam bejana
    Kita dilarang bernafas dalam bejana karena dikhawatirkan akan keluar dari nafas kita penyakit. Sehingga akhirnya apa orang yang minum memakai bejana tersebut bisa merasa jijik atau terkena penyakit dan yang lainnya. Maka ini menunjukkan bahwa agama kita ini betul-betul sangat menjaga kesehatan, juga menjaga perasaan orang lain.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    48 min
  • Khutbah Jumat: Memperbanyak Amal Shalih di Bulan Rajab
    Khutbah Jumat: Memperbanyak Amal Shalih di Bulan Rajab ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 5 Rajab 1444 H / 27 Januari 2023 M.

    Khutbah Pertama: Memperbanyak Amal Shalih di Bulan Rajab
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah At-Taubah ayat 36:
    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ…
    “Sesungguhnya jumlah bulan di hari Allah menciptakan langit dan bumi adalah 12 bulan, di antaranya adalah 4 bulan yang haram. Itulah agama Allah yang lurus, maka janganlah kalian berbuat zalim di bulan-bulan haram tersebut…” (QS. At-Taubah[9]: 36)
    Di sini Allah mengingatkan tentang keagungan bulan-bulan haram. Ia adalah bulan yang haram, yang menunjukkan bahwasanya bulan tersebut mulia di mata Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita agar tidak berbuat kedzaliman di bulan-bulan tersebut. Padahal berbuat dzalim di bulan-bulan yang lainnya pun diharamkan. Akan tetapi Allah mengingatkan ini. Allah mengatakan: “Jangan kalian mendzalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan tersebut.”
    Para ulama menyebutkan bahwasanya perbuatan dzalim di bulan-bulan ini dibesarkan oleh Allah menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka berhati-hatilah saudaraku. Kita telah masuk di bulan haram, yaitu di bulan Rajab. Ini adalah merupakan salah satu bulan haram yang Allah Subhanahu wa Ta’ala agungkan dalam Al-Qur’anul Karim. Dan dahulu orang-orang Arab Quraisy, demikian pula Banu Mudhar, demikian pula orang-orang Arab yang lainnya. Walaupun mereka orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, tapi mereka sangat mengagumkan bulan-bulan haram ini.
    Oleh karena itulah saudaraku, kewajiban kita adalah mengetahui apa yang harus kita lakukan di bulan-bulan haram ini.
    Yang pertama, yaitu kita berusaha untuk memperbanyak amalan shalih. Karena sesungguhnya amalan shalih di bulan-bulan haram itu dilipatgandakan pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas (seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).
    Namun saudaraku, tidak ada amalan khusus di bulan Rajab. Tidak ada yang disebut dengan puasa khusus Rajab ataupun mengkhususkan di bulan Rajab dengan amalan tanpa bulan-bulan yang lainnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Kitab Tabyinul ‘Ajab bi Maa Waroda fi Fadhli Rojab mengingatkan bahwasanya semua hadits yang menyebutkan tentang amalan khusus di bulan Rajab adalah hadits yang dhaif ataupun hadits yang palsu.
    Akan tetapi amalan yang kita lakukan seperti halnya di bulan-bulan yang lainnya. Kita berusaha untuk beramal shalih dengan kita shalat tahajud seperti halnya di bulan-bulan yang lainnya. Kita pun memperbanyak puasa sunnah sebagaimana halnya di bulan-bulan yang lainnya. Mereka yang terbiasa dengan puasa Senin dan Kamis ataupun puasa dawud, ataupun puasa tiga hari setiap bulan, maka di bulan ini kesempatan besar untuk kita senantiasa menjaga amalan tersebut. Karena pahalanya di sisi Allah menjadi besar di bulan ini.
    Maka kita perbanyak dzikir kepada Allah, kita memperbanyak sedekah, membantu fakir miskin, orang-orang yang susah, pahalanya sangat besar di sisi Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ، وَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ.
    14 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 72-73 – Makar Ahli Kitab
    Tafsir Ali Imran Ayat 72-73 – Makar Ahli Kitab adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 4 Rajab 1444 H / 26 Januari 2023 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 72-73 – Makar Ahli Kitab
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَقَالَت طَّائِفَةٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ‎﴿٧٢﴾‏ وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَن تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ أَن يُؤْتَىٰ أَحَدٌ مِّثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِندَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ‎﴿٧٣﴾
    “Dan berkatalah segolongan orang dari Ahli Kitab: ‘Berimanlah kepada yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman diawal siang dan kufurlah diakhirnya, mudah-mudahan mereka kembali (kepada kekafiran). Dan janganlah kalian percaya kecuali kepada orang yang mengikuti agama kalian.’ Katakanlah:’Sesungguhnya petunjuk itu petunjuknya Allah, janganlah kalian percaya bahwa ada seseorang yang diberi anugerah seperti yang diberikan kepada kalian, atau dia menyanggah kalian di hadapan kalian kelak.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya karunia itu milik Allah, Allah memberikannya kepada siapa yang Allah kehendaki; dan Allah Maha Luas serta Maha Mengetahui.'” (QS. Ali ‘Imran[3]: 72-73)
    Dalam dua ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang makar orang-orang Ahli Kitab. Dimana mereka berkata: “Berimanlah kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman diawal siang, dan kufurlah di akhir siang, mudah-mudahan mereka kembali.”
    Maksud “mudah-mudahan mereka kembali” ini yang diinginkan oleh Ahli Kitab. Mereka pura-pura menjadi orang-orang yang beriman diawal siang, kemudian mereka mengingkari di akhir siang. Tujuannya adalah agar orang-orang muslim kembali kepada kekafiran.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 72-73 – Makar Ahli Kitab
    Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Ali Imran Ayat 72-73 – Makar Ahli Kitab” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    29 min
  • Tahapan Mendapatkan Buah dari Ilmu
    Tahapan Mendapatkan Buah dari Ilmu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 4 Rajab 1444 H / 26 Januari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Orang Yang Mengetahui Keberadaan Hari Akhir
    Ceramah Agama Islam Tentang Tahapan Mendapatkan Buah dari Ilmu
    Bagaimana caranya kita menjadikan ilmu sebagai sesuatu yang bisa memotivasi kebaikan pada diri kita? Kita Renungkan agar benar-benar bisa menggerakkan kehendak dalam hati kita untuk melakukan kebaikan.
    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa kebaikan dan kebahagiaan itu ibaratnya tersimpan dalam satu lemari yang kunci untuk membukanya adalah tafakur (memikirkan ilmu). Maka ilmu yang bermanfaat merupakan hasil dari memikirkan dan merenungkannya.
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa ada lima tahapan yang harus kita berusaha tempuh agar mendapatkan buah dari ilmu.
    Memikirkan dan memahami ilmu menghasilkan buah, yaitu ilmu yang bermanfaat. Kemudian memikirkan ilmu ini sendiri membuahkan satu keadaan yang akan terjadi pada hati. Kemudian buahnya akan akan membentuk keinginan berbuat di dalam hati. Kemudian buah dari keinginan itu adalah perbuatan (amal).
    Kita tahu dalam Islam, bahwa perbuatan yang dihukumi adalah perbuatan yang dilakukan dengan keinginan dari hati. Makanya kalau ada perbuatan yang dilakukan tanpa sengaja, itu tidak dihukumi. Berbeda dengan yang dilakukan dengan sengaja. Adapun orang yang berbuat karena kelupaan/tidak sengaja/dipaksa, maka ini diampuni. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي: الخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni karena aku perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh umatku dengan ketidaksengajaan, kelupaan atau yang mereka dipaksa melakukannya.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan yang lain)
    Maka ketika kita membentuk keinginan dari ilmu, kemudian akan menggerakkan hati sehingga terbentuklah kehendak di hati. Kalau itu dari kebaikan ilmu, berarti yang akan keluar nanti perbuatan-perbuatan yang baik.
    Subhanallah.. Berarti kalau kita bisa senantiasa memikirkan ilmu sehingga membentuk kehendak yang baik dalam hati, perbuatan-perbuatan kita akan selalu mayoritas diisi dengan kebaikan-kebaikan amal perbuatan anggota badan kita.
    Kalau begitu, merenungkan ilmu merupakan permulaan atau titik tolak dan kunci bagi semua kebaikan-kebaikan. Maka di sinilah akan menjelaskan bagimu tentang kemuliaan dan keutamaan merenungkan ilmu, dan bahwasanya itu merupakan seutama-utama amalan hati dan yang paling bermanfaat bagi hati. Sampai-sampai dikatakan dari nukilan sebagian pernyataan ulama yang mengatakan: “Berpikir (memikirkan ilmu) sesaat lebih baik daripada ibadah setahun.”
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    51 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah