Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Keluarnya Dosa Bersama Air Wudhu
    Keluarnya Dosa Bersama Air Wudhu merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 28 Rajab 1444 H / 19 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Kulit Yang Disamak

    Kajian Hadits Tentang Keluarnya Dosa Bersama Air Wudhu
    Kajian kita sampai pada bab خروج الخطايا مع الوضوء (Bab keluarnya dosa bersama air wudhu).
    Hadits 121:
    عن أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال إذا تَوَضَّأَ العَبْدُ المُسْلِمُ أَو المُؤمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنِهِ مَعَ المَاءِ أَو مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ فإذا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِن يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ المَاءِ أو مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ فإذا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ المَاءِ أو مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيَّا مِنَ الذُّنُوبِ.
    Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang hamba Muslim berwudhu atau Mukmin lalu ia mencuci wajahnya, akan keluarlah dari wajahnya itu semua kesalahan yang dilakukan oleh matanya bersama air atau bersama tetesan-tetesan terakhir dari air wudhu. Apabila ia mencuci dua tangannya, maka akan keluarlah dari dua tangannya semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya tersebut bersama air atau bersama tetesan terakhir dari wudhunya. Dan apabila ia mencuci dua kakinya, akan keluarlah semua kesalahan yang dilakukan oleh kakinya bersama air atau bersama tetesan terakhir dari air wudhu sehingga ia selesai dari wudhu dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Muslim)
    Keutamaan berwudhu
    Hadits ini menunjukkan keutamaan wudhu. Dan bahwasanya berwudhu itu menggugurkan dosa-dosa kecil (bukan dosa besar). Karena kata para ulama dosa besar itu harus dengan taubat. Adapun yang digugurkan oleh amalan shalih itu adalah dosa-dosa kecil, kecuali bila ada dalil yang menunjukkan bahwa yang digugurkan itu adalah dosa besar.
    Penggugur dosa
    Di antara dosa ada yang bisa digugurkan oleh amalan shalih. Ada juga dosa yang tidak bisa digugurkan oleh amal shalih, tapi digugurkan dengan ujian yang sangat berat seperti penyakit atau bencana. Ada juga dosa yang ternyata bencana pun tidak bisa menggugurkan, tapi yang bisa menggugurkan adalah api neraka. Ada juga dosa yang bahkan api neraka pun tidak bisa menggugurkannya, yaitu dosa syirik. Maka pelakunya kekal dalam neraka jahanam.
    Di dalam hadits ini disebutkan bahwa dosa itu keluarnya bersama air atau tetesan terakhir dari air wudhu. Apakah berarti ini menunjukkan bahwa tidak disyariatkan untuk menyeka wajah atau tangan dengan kain setelah selesai wudhu? Jawabnya tidak. Karena yang dimaksud dengan akhir tetesan itu saat berwudhu. Adapun setelah selesai berwudhu maka telah ada riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyekanya.
    Syaikh Albani mengatakan ada satu riwayat yang hasan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki secarik kain yang beliau gunakan untuk menyeka air wudhunya tersebut. Maka itu menunjukkan boleh. Kalau misalnya kita tidak seka pun tidak masalah. Itu hukumnya mubah-mubah saja.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    49 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 75-76 – Keburukan Ahli Kitab
    Tafsir Ali Imran Ayat 75-76 – Keburukan Ahli Kitab adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 25 Rajab 1444 H / 16 Februari 2023 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 75-76 – Keburukan Ahli Kitab
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِن تَأْمَنْهُ بِقِنطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُم مَّنْ إِن تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَّا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ‎﴿٧٥﴾‏ بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ وَاتَّقَىٰ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ ‎﴿٧٦﴾
    “Dan di antara Ahli kitab ada yang kamu percayai dengan qinthar, dan ia mengembalikannya kepada engkau; dan di antara mereka ada yang kau percayai dengan satu dinar saja tetapi tidak mengembalikannya kepada engkau, kecuali jika engkau terus menagihnya. Yang demikian itu karena mereka berkata: ‘tidak ada dosa atas kami kepada orang-orang yang buta huruf.’ Mereka berkata atas nama Allah dengan dusta, dan mereka mengetahui. Yang sebenarnya barang siapa orang yang menunaikan janjinya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 75-76)
    Dalam ayat ini Ahlul kitab terbagi menjadi dua, ada yang bisa dipercaya dan ada yang berkhianat. Sebagaimana juga mereka terbagi dua, ada yang mukmin ada yang kafir. Contohnya seperti Abdullah bin Salam Radhiyallahu ‘Anhu yang dulu adalah pendetanya Yahudi. Kemudian Allah memberikan hidayah kepadanya dan dia masuk Islam.
    Contoh Yahudi yang kafir adalah Ka’ab bin Ashraf. Dimana dia terus dalam kekafirannya dan tidak beriman.
    Sebagaimana orang Yahudi terbagi menjadi dua; ada yang beriman ada yang kafir, mereka juga terbagi dua; ada yang bisa dipercaya dan ada yang berkhianat.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bermuamalah dengan orang Yahudi. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal sedangkan baju besinya digadai kepada orang Yahudi. Ini menunjukkan bahwa di antara orang Yahudi ada yang bisa dipercaya. Kalau tidak dipercaya bagaimana Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggadaikan baju besinya kepada laki-laki Yahudi?
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 75 – Keburukan Ahli Kitab
    Mari turut membagikan link download kajian “Keburukan Ahli Kitab” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    35 min
  • Mukaddimah Kajian Kitab Al-Fawaid
    Mukaddimah Kajian Kitab Al-Fawaid adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 25 Rajab 1444 H / 16 Februari 2023 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Mukaddimah Kajian Kitab Al-Fawaid
    Ketika disebutkan Kitab Al-Fawaid (faedah-faedah) di kalangan para ulama atau para penulis ilmu maksudnya adalah kitab yang memuat kebanyakan dari faedah-faedah detail dan petikan-petikan rinci yang didapatkan oleh seorang yang berilmu ataupun yang dia simpulkan dari memahami dalil ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau dari satu kenyataan yang dialaminya, atau dari keduanya sekaligus. Tentu ini disela-sela kegiatan ilmiahnya yang panjang, disela-sela pengalaman pribadinya, atau disela-sela kesibukannya menuntut ilmu, bertemu dengan para ulama, senantiasa menelaah kitab-kitab ilmu, dan disela-sela berdiskusi dengan para ulama.
    Oleh karena itu seorang penuntut ilmu ketika belajar agama, ada hal-hal yang mungkin baru didapatkannya tapi faedah ini sangat-sangat penting berhubungan dengan makna ayat atau hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mungkin dari kutipan pernyataan sahabat Radhiyallahu ‘Anhu, atau ulama terdahulu, atau faedah dari ulama yang lain, kemudian dia tuliskan faedah tersebut. Maka ketika dikumpulkan faedah-faedah ini, maka terkumpullah di dalam kitab ini faedah-faedah yang sangat banyak dari berbagai bidang ilmu yang tentu sangat bermanfaat bagi penuntut ilmu ketika membacanya.
    InsyaAllah mulai dari pekan berikutnya setelah saya menyampaikan bahwa kita akan mengkaji Kitab Fawaid yang atau disunting oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi Rahimahullahu Ta’ala yang berjudul Fawaidul Fawaid sesuai dengan susunan yang beliau cantumkan agar kita lebih mudah untuk membahasnya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Mukaddimah Kajian Kitab Al-Fawaid
    Mari turut membagikan link download kajian “Mukaddimah Kajian Kitab Al-Fawaid” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    46 min
  • Janganlah Jadikan Rumah Seperti Kuburan
    Janganlah Jadikan Rumah Seperti Kuburan adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 24 Rajab 1444 H / 15 Februari 2023 M.

    Kajian Tentang Janganlah Jadikan Rumah Seperti Kuburan
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لاَ تَتَّخِذُوْا قَبْرِي عِيْدًا، وَلاَ بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا، وَصَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّ تَسْلِيْمَكُمْ يَبْلُغُنِي أَيْنَ كُنْتُمْ.
    “Janganlah jadikan kuburanku sebagai ied (tempat yang dikunjungi dalam waktu-waktu yang dirutinkan), dan janganlah jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan (yaitu tidak menjadikan rumah kosong dari shalat sunnah ataupun bacaan Al-Qur’an), dan bershalawatlah kalian atasku, sesungguhnya salam kalian sampai kepadaku dimanapun kalian berada.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la)
    Perhatikanlah sunnah ini yang keluar dari penduduk kota Madinah, dari ahlul bait Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka memiliki kedekatan nasab dan kedekatan tempat tinggal dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena mereka lebih berhajat kepada hal itu dibandingkan selain mereka. Dan mereka lebih menjaga untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Kenapa sampai demikian diberitakan oleh ahlul bait? Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan orang yang paling dekat kedudukannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan juga paling dekat rumahnya dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka-merekalah yang akan menjaga kuburan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari penyimpangan-penyimpangan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Janganlah Jadikan Rumah Seperti Kuburan
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Janganlah Jadikan Rumah Seperti Kuburan” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 18 min
  • Musibah Menggugurkan Dosa-Dosa
    Musibah Menggugurkan Dosa-Dosa merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 23 Rajab 1444 H / 14 Februari 2023 M.
    Sebelumnya: Ikutilah Keburukan dengan Kebaikan

    Kajian Tentang Musibah Menggugurkan Dosa-Dosa
    Di antara hal yang bisa menghapuskan dampak dari dosa adalah musibah-musibah yang menggugurkan dosa. Musibah adalah segala sesuatu yang menyakitkan kita. Yakni semua yang menimpa berupa hal yang tidak kita sukai, yang menyakitkan dan membuat sedih. Ini disebut sebagai musibah. Bahkan kalau ada seorang yang tidak kita sukai datang bertamu ke rumah kita sedangkan kita tidak suka dengan kunjungannya, maka oleh para ulama itu disebut sebagai musibah juga. Sehingga kalau kita sabar dalam menghadapi kunjungan orang yang tidak kita sukai ini, maka kita mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kesabaran. Dan hal itu juga bisa menggugurkan dosa-dosa dan maksiat.
    Di antara contohnya adalah hal-hal yang membuat kita sakit seperti hamm (terbebani pikiran tentang masa depan). Ketika seseorang memikirkan masa depannya, memikirkan apa yang nanti dia makan disiang hari, memikirkan apa yang akan dia lakukan pada pekan yang akan datang, bagaimana pendidikan anak-anak dia nanti, maka ini semuanya bisa menggugurkan dosa seorang muslim yang baru saja berbuat maksiat.
    Contoh yang lain adalah kesedihan. Kesediaan yang kita dapatkan saat kehilangan harta, saat diejek dan dihina, saat kehilangan orang-orang yang kita cintai, ini semuanya menimbulkan kesedihan bagi seorang muslim. Maka ini adalah musibah dan dia bisa mendapatkan pengampunan dosa ketika dihadapkan pada musibah ini.
    Atau gangguan yang dihadapi oleh seorang muslim pada hartanya. Berupa ancaman untuk dicuri, dirampok, dijambret dan lain sebagainya. Demikian pula gangguan pada kehormatan. Baik itu dengan ghibah, namimah, atau dengan perkataan-perkataan yang buruk, gelar-gelar yang jelek, ini semuanya juga adalah gangguan pada kehormatan seseorang.
    Atau gangguan pada jasadnya diserang oleh musuh, terkena duri, terkilir, terjatuh, ini semuanya terhitung sebagai musibah.
    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    ما من مرض أو وجع يصيب المؤمن إلا كان كفارة لذنوبه حتى الشوكة يشاكها، أو النكبة ينكبها
    “Tidaklah ada suatu penyakit atau rasa sakit yang mengenai seorang mukmin kecuali hal itu akan menjadi penggugur dosa baginya. Bahkan kalau dia tertusuk duri atau tertimpa bencana, maka itu menjadi penggugur dosa baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwasanya penyakit dan rasa sakit itu menggugurkan dosa. Jadi dibedakan antara penyakit dengan rasa sakit. Ketika seseorang tertusuk duri, dia merasakan sakit tapi tidak disebut sebagai penyakit. Ketika seseorang jatuh kemudian terkilir, maka itu adalah rasa sakit dan bukan penyakit. Tidaklah seorang muslim mengalami hal ini kecuali akan menjadi penggugur dosa baginya.
    Di akhir hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan: “Bahkan kalau dia tertusuk duri atau bencana yang menimpa dia.” Ini semuanya menggugurkan dosa.
    Para ulama menjelaskan bahwasanya musibah-musibah ini menjadi penggugur dosa kalau kita menghadapi musibah-musibah ini dengan sabar dan ihtisab (mengharap pahala kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).
    Memang redaksi hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Al-Bukha...
    1 hr 9 min
  • Mendekati Anak Perlu Usaha
    Mendekati Anak Perlu Usaha merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 23 Rajab 1444 H / 14 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Menciptakan Keharmonisan dengan Anak
    Mendekati Anak Perlu Usaha
    Mendidik adalah sebuah tugas dan tanggung jawab yang dibebankan ke pundak para orang tua. Maka mereka harus mengerahkan segala usaha/upaya/ikhtiar untuk mengemban tugas mulia tersebut.
    Oleh karena itu jangan pernah merasa gagal dalam mendidik anak. Jatuh bangun dan berbuat salah dalam mendidik itu pasti, tapi jangan pernah merasa gagal. Karena itu menunjukkan keputusan.
    Mungkin kita ingin segera meletakkan tugas itu dari pundak kita. Jangan merasa gagal, tapi wajib merasa salah. Karena kita banyak jahilnya, banyak lupa, banyak lalai. Kita harus menyadari dan mengakui itu.
    Oleh karena itu kita berkewajiban untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut. Sehingga dari waktu ke waktu semakin baik dalam mendidik anak-anak. Mungkin mendidik anak pertama tidak sama seperti mendidik anak yang kedua atau ketiga. Berdasarkan pengalaman mungkin kita semakin matang. Itu satu yang wajar terjadi. Oleh karena itu manusia (apalagi orang tua) harus terus belajar memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Dan jangan sekali-kali merasa gagal. Karena kita tidak tahu kesudahannya. Yang yang menjadi kewajiban kita adalah terus berusaha dan tetap konsisten dan istiqamah.
    Ada orang tua yang merasa berhasil lalu dia lalai dan lengah. Pada saat lalai dan lengah ini mungkin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Atau dia stuck (berhenti) tidak bisa memanfaatkan dan memompa potensi anaknya lebih jauh luas dan lebih besar lagi. Ini satu kerugian tentunya. Maka jangan pernah merasa puas dan jangan pernah merasa gagal.
    Yang Allah Subhanahu wa Ta’ala nilai dari kita sebagai orang tua adalah usaha yang sudah kita keluarkan, usaha yang sudah kita lakukan. Banyak di sana orang tua yang berpangku tangan anaknya jadi, tapi bukan melalui dirinya. Tentunya dia rugi karena tidak terhitung orang tua yang berhasil di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Pendekatan kepada anak
    Mendekati anak itu perlu usaha. Kadang-kadang ini tidak mudah. Karena hati tidak bisa dipaksakan. Ada orang tua yang berusaha sedemikian rupa mati-matian mendekati anaknya tapi anaknya sepertinya tidak merespon atau justru menjauh dari orang tua. Jangan putus asa. Lakukan terus usaha untuk mendekati mereka.
    Kalau kita yang tidak mendekati mereka, siapa lagi? Jangan biarkan orang-orang atau pendidik-pendidik yang tidak bertanggung jawab mendekati anak-anak kita.
    Untuk bisa selalu dekat di hati anak tentunya dibutuhkan berbagai macam usaha. Disamping itu satu hal yang sangat penting adalah waktu yang cukup bersama mereka, bukan sebaliknya. Akan tetapi sayang banyak orang tua yang justru hilang dari kehidupan anaknya. Mungkin karena kurangnya kepedulian terhadap kebutuhan jiwa anak-anak tersebut. Padahal ada banyak hal yang mungkin bisa dilakukan agar anak itu dekat dengan kita. Kadang kala yang terjadi justru sebaliknya, orang tua tidak memperhatikan. Sehingga anak itu semakin hari semakin jauh dari orang tuanya dan kemudian dia asyik dengan dunianya sendiri. Inilah yang sering terjadi sehingga masing-masing sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
    Ada beberapa perilaku yang menjauhkan orang tua dari anak-anak. Di antaranya adalah orang tua tidak berbicara dengan anak-anak mereka dan meninggalkannya di kamar untuk waktu yang lama tanpa bertanya sama sekali kepada mereka.
    54 min
  • Memperbanyak Berdzikir
    Memperbanyak Berdzikir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 23 Rajab 1444 H / 14 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Motivasi Berdzikir
    Memperbanyak Berdzikir
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وعن أَبي مالك الأشعري – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم: «الطُّهُورُ شَطْرُ الإيمانِ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ». رواه مسلم.
    Dari Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bersuci itu adalah setengah dari iman, mengucapkan Alhamdulillah akan memenuhi timbangan amal, ucapan Subhanallah walhamdulillah ini akan memenuhi di antara langit dan bumi.” (HR. Muslim)
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini menjelaskan tentang di antara dzikir yang dianjurkan kita untuk memperbanyak membacanya adalah “Alhamdulillah.” Atau juga “Subhanallah walhamdulillah.” Dan yang lebih lengkap lagi adalah “Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar.” Ini adalah empat kalimat yang paling dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Dzikir dalam Islam ini Alhamdulillah banyak macamnya. Ada dzikir yang mutlak dan ada yang muqayyad (terikat dengan waktu atau bilangan).
    Hadits selanjutnya:
    Berkata Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala:
    وعن سعد بن أَبي وقاصٍ – رضي الله عنه – قَالَ: جَاءَ أعْرَابيٌّ إِلَى رَسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: عَلِّمْنِي كَلاَمًا أقُولُهُ. قَالَ: «قُلْ: لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ، اللهُ أكْبَرُ كَبِيرًا، وَالحَمْدُ للهِ كَثيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَالِمينَ، وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَزِيزِ الحَكِيمِ» قَالَ: فهؤُلاءِ لِرَبِّي، فَمَا لِي؟ قَالَ: «قُلْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي». رواه مسلم.
    Dari Sa’ad bin Abu Waqqash Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Ada seorang Arab dusun -yang datang dari kampung- datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia berkata: “Tolong ajarkanlah kepadaku suatu ucapan yang aku bisa mengucapkannya!” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Katakanlah: La ilaha illallah wahdahu laa syarikalah, Allahu Akbar kabira, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi rabbil ‘alamin wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘azizil hakim.” Artinya: Tiada sembahan yang haq kecuali Allah yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagiNya. Allah Maha Besar dengan segala kebesaranNya, dan segala puji hanya milik Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah Rabb semesta alam, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Perkasa lagi Bijaksana.
    Orang itu lalu berkata: “Semua ucapan yang engkau ajarkan itu adalah untuk Allah. Lalu manakah yang untuk kepentinganku?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Katakanlah: Allahummaghfir li warhamni wahdini warzuqni” Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berikanlah kepadaku petunjuk dan rezeki. (HR. Muslim)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang semangatnya para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    1 hr 17 min
  • Tata Krama Berjalan Bersama Orang-Orang Besar
    Tata Krama Berjalan Bersama Orang-Orang Besar adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 22 Rajab 1444 H / 13 Februari 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Tata Krama Berjalan Bersama Orang-Orang Besar
    Kita sampai pada بَابُ كَيْفَ الْمَشْيُ مَعَ الْكُبَرَاءِ وَأَهْلِ الْفَضْلِ (Bab tentang tata krama berjalan bersama orang-orang besar dan orang-orang mulia).
    Islam mengajarkan tentang bagaimana caranya kalau kita berjalan kaki bersama orang yang mulia. Tentang posisimu, apakah di depan di belakang, di samping kanan atau kiri?
    Sebagian kita tidak tahu tentang adab meletakkan cangkir. Padahal sebaiknya meletakkan dengan pegangan cangkir berada di sebelah kanan orang yang hendak minum. Jangan diletakkan di kirinya karena itu akan merepotkannya ketika hendak minum.
    Jadi ada adab. Tanpa adanya adab akan terlihat buruk dan tidak mengenakkan.
    Dari Anas bin Malik ia berkata:
    بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَخْلٍ لَنَا – نَخْلٍ لِأَبِي طَلْحَةَ – تَبَرَّزَ لِحَاجَتِهِ، وَبِلَالٌ يَمْشِي وَرَاءَهُ، يُكْرِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَمْشِيَ إِلَى جَنْبِهِ، فَمَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرٍ فَقَامَ، حَتَّى تَمَّ إِلَيْهِ بِلَالٌ، فَقَالَ: «وَيْحَكَ يَا بِلَالُ، هَلْ تَسْمَعُ مَا أَسْمَعُ؟» قَالَ: مَا أَسْمَعُ شَيْئًا، فَقَالَ: «صَاحِبُ هَذَا الْقَبْرِ يُعَذَّبُ» ، فَوُجِدَ يَهُودِيًّا
    “Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di kebun kurma milik kami (kebun Abu Thalhah) untuk buang hajat, dan Bilal berjalan di belakang Nabi untuk menghormatinya, dia tidak berjalan di samping Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati sebuah kuburan lalu beliau berhenti sampai Bilal sejajar dengan beliau. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Kesinilah wahai Bilal! apakah kamu mendengar apa yang aku dengar?’ Bilal menjawab, ‘Saya tidak mendengar apa-apa.’ Beliau berkata, ‘Yang dikubur di tempat ini sedang disiksa.’ Lalu diketahui bahwa orang tersebut adalah Yahudi.” (HR. Bukhari)
    Ini caranya berjalan dengan orang yang lebih mulia. Berjalanlan di belakang dia. Kecuali orang itu meminta kita jalan di sampingnya.
    Bagaimana penjelasan lengkap beserta faidah-faidah hadits ini? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Tata Krama Berjalan Bersama Orang-Orang Besar
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Tata Krama Berjalan Bersama Orang-Orang Besar ” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 20 min
  • Yahudi Sebab Semua Keburukan
    Yahudi Sebab Semua Keburukan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 22 Rajab 1444 H / 13 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Ashabus Sabti (Kisah Orang-Orang Dihari Sabtu)

    Yahudi Sebab Semua Keburukan
    Kita masih pada kisah dari surah Al-A’raf ayat 163-168. Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut. Yaitu:
    Yahudi sebab semua keburukan
    Orang-orang Yahudi merupakan sebab bagi semua keburukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengawasi mereka. Dalam kisah Ashabus Sabti dengan bentuk yang jelas bahwa kaum Yahudi itu melampaui batas, melakukan hilah di hari sabtu dan melakukan kedzaliman. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala murka terhadap mereka dan Allah ubah mereka menjadi kera-kera yang hina.
    Penulis berkata bahwa tidak ada keburukan dan kerusakan atau kedzaliman yang terjadi di muka bumi melainkan dibelakangnya ada orang Yahudi. Marilah kita mempelajari/mengetahui tentang hakikat orang-orang Yahudi dari Al-Qur’an dan Sunnah supaya kita berhati-hati terhadap mereka. Supaya binasalah orang yang binasa diatas keterangan yang jelas dan hiduplah orang yang hidup diatas keterangan yang jelas. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ
    “Ceritakan tentang Bani Israil, tidak berdosa.” (HR. Bukhari)
    Ada beberapa kerusakan, kedzaliman, dan keburukan yang dilakukan oleh kaum Yahudi.
    Allah telah menciptakan orang-orang Yahudi, memberi nikmat kepada mereka dengan nikmat yang tidak terhitung. Semestinya mereka bersyukur. Tetapi justru mereka berbicara tentang Allah dengan sesuatu yang mendatangkan murka Allah. Mereka berbicara tentang Allah seperti yang Allah kabarkan:
    لَّقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ…
    “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu fakir sedangkan kami kaya.'” (QS. Ali ‘Imran[3]: 181)
    وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ…
    “Orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah itu terbelenggu’, terbelenggulah tangan-tangan mereka dan mereka dilaknat disebabkan ucapan mereka.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 64)
    Dari dua ayat ini kita mengetahui bagaimana orang Yahudi berani berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan mensifati Allah dengan sifat yang keji.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Yahudi Sebab Semua Keburukan
    Mari turut membagikan link download kajian “Yahudi Sebab Semua Keburukan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    48 min
  • Madzhab Imam Ahmad Terkait Nyanyian
    Madzhab Imam Ahmad Terkait Nyanyian ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 22 Rajab 1444 H / 13 Februari 2023 M.

    Kajian Tentang Madzhab Imam Ahmad Terkait Nyanyian
    Nyanyian di masa Imam Ahmad hanyalah senandung nasyid yang berisi cerita-cerita kezuhudan. Namun demikian saat mereka mulai melagukan nasyid, ada beberapa pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad.
    Diriwayatkan dari Abdullah Rahimahullah, putra Imam Ahmad, bahwa ayahnya mengatakan: “Nyanyian dapat menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Aku tidak menyukainya.”
    Diriwayatkan juga dari Ismail bin Ishaq Ats-Tsaqafi, dari Imam Ahmad, bahwa beliau ditanya tentang mendengarkan kasidah. Lalu beliau menjawab: “Aku tidak menyukainya. Itu adalah bid’ah. Mereka yang biasa mengamalkannya tidak boleh ditemani.”
    Demikian juga Abul harits meriwayatkan dari Imam Ahmad, ia berkata: “Taghbir (mengulang-ulang suara bacaan, baik dengan cara membaca atau yang sejenisnya) itu bid’ah.” Lalu ada yang menimpali: “Itu dapat melunakkan hati.” Namun Imam Ahmad Rahimahullah menegaskan: “Tidak, itu adalah bid’ah.”
    Dari Ya’qub Al-Hasyimi, ia meriwayatkan dari Imam Ahmad, beliau mengatakan: “Taghbir itu adalah bid’ah yang dibuat-buat.”
    Ya’qub bin Bukhtan meriwayatkan dari Imam Ahmad Rahimahullah, beliau mengatakan: “Aku tidak menyukai taghbir (semacam kasidah).” Imam Ahmad melarang mendengarkan nyanyian disamping taghbir tadi.
    Ini adalah penukilan dari Imam Ahmad tentang sikap dan pendapat beliau tentang musik, lagu dan nyanyian dalam bentuk nasyid/kasidah/taghbir dan sejenisnya.
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa semua riwayat dari Imam Ahmad tersebut menunjukkan bahwa nyanyian itu hukumnya makruh (beliau tidak menyukainya).
    Abu Bakar Al-Khalal mengungkapkan: “Imam Ahmad memakruhkan kasidah, yakni saat ada yang mengadukan kepadanya: ‘Mereka (pembaca dan pendengar kasidah) itu bertingkah seperti orang gila.'”
    Dalam riwayat lain Abu Bakar menukil dari Imam Ahmad sebuah keterangan yang menerangkan bahwasannya kasidah itu tidak apa-apa dilakukan.
    Al-Marwazi berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) tentang kasidah. Abu Abdillah menjawab: ‘Itu bid’ah.’ Aku lalu bertanya kepadanya: ‘Perlukah mereka dijauhi?’ Abu Abdillah menjawab: ‘Terhadap mereka tidak perlu dilakukan.'”
    Ibnul Jauzi Rahimahullah mengatakan bahwa diriwayatkan kepada kami bahwa Imam Ahmad mendengar ada seseorang bersenandung di dekat anaknya yang bernama Shalih, namun dia tidak mengingkarinya. Shalih kemudian bertanya kepada kepada Imam: “Wahai Ayah! Bukankah engkau mengingkari hal ini (nyanyian)?” Imam Ahmad menjawab: “Itu karena ada yang menyampaikan kepadaku bahwa mereka menggunakan nyanyian itu untuk berbuat suatu kemungkaran. Itulah sebabnya aku makruhkan hal itu. Sedangkan yang terlihat kini, aku tidak memerlukannya.”
    Seperti yang kita jelaskan sebelumnya bahwa disana ada senandung-senandung yang biasa dilantunkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Misalnya untuk membela kebenaran, untuk mematahkan argumentasi orang-orang yang menyimpang, untuk menghalau dan untuk menyemangati hewan tunggangan di dalam perjalanan, atau untuk mengusir kepenatan pada saat safar panjang yang isinya adalah kebaikan-kebaikan, ajakan kepada perkara-perkara kebaikan. Itu adalah hal yang dibolehkan.
    34 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah