Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Sunnah Ketika Ruku’ dan Sujud
    Sunnah Ketika Ruku’ dan Sujud ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 9 Jumadil Akhir 1444 H / 2 Januari 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Sunnah-Sunnah Fi’liyah dalam Shalat
    Kajian Tentang Sunnah Ketika Ruku’ dan Sujud
    Ketika sedang shalat, kita disunnahkan untuk melihat tempat sujud. Hal ini berdasarkan hadits dari ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha. Dan kita juga kemarin sudah singgung bahwa seseorang boleh juga melihat ke arah depan sebagaimana ditunjukkan oleh hadits yang lain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilihat oleh para sahabatnya menggerak-gerakkan jenggotnya ketika shalat, dimana ini menandakan bahwa beliau membaca sesuatu. Ini juga menunjukkan bahwa sahabat yang menceritakan hadits ini melihat ke depan ketika shalat. Kalau dia melihat ke tempat sujud, tentunya tidak melihat kejadian ini.
    Meluruskan Punggung Ketika Ruku’
    Ketika ruku’ disunnahkan untuk benar-benar meluruskan punggung. Hal ini berdasarkan hadits dari sahabat Abu Humaid Radhiyallahu ‘Anhu yang menyatakan:
    وإذا ركع أمكن يديه من ركبتيه، ثم هصر ظهره حتى يعتدل ولا يبقى محدودبًا
    “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ruku’, maka beliau meletakkan tangannya dengan mantap di kedua lutut beliau, kemudian beliau menjadikan punggungnya benar-benar terhampar lurus.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)
    Kepala Sejajar dengan Punggung
    Menjadikan kepala ketika ruku’ tidak mendongak ke atas, tidak juga terlalu bungkuk ke bawah. Jadi kepalanya benar-benar sejajar dengan punggung. Ini sunnah dalam ruku’. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau mengatakan:
    كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا ركع لم يُشخص رأسه ولم يُصوِّبه ولكن بين ذلك
    “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila beliau ruku’, beliau tidak mendongakkan kepalanya ke atas, beliau juga tidak menghujamkan kepala ke bawah, akan tetapi di antara dua posisi ini.”
    Sehingga kepala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ruku’ benar-benar sejajar dengan punggungnya.
    Menggenggam Kedua Lutut dengan Jari-Jemari Yang Terbuka
    Hal ini berdasarkan hadits dari sahabat Abu Humaid Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
    .. ثم ركع، فوضع يديه على ركبتيه كأنه قابض عليهما
    “Kemudian beliau ruku’ dan beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya seakan-akan beliau memegang kedua lututnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Jadi tangan itu diletakkannya di atas lutut ketika ruku’ dengan posisi jari-jemari terbuka. Kemudian jari-jemari itu menggenggam lutut. Bukan di paha, bukan juga di lengan kaki bawah.
    Adapun posisi jari-jemari terbuka ini berdasarkan hadits dari sahabat Wail bin Hujr, beliau mengatakan:
    كان إذا ركع فرَّج أصابعه
    “Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ruku’, beliau merenggangkan jari-jemarinya.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
    Menjauhkan Lengan Atas dari Sisi Tubuh
    Ini sunnah. Adapun kalau ada orang ruku’ dengan tangan lurus, maka tidak ada masalah. Tapi lebih afdhalnya adalah tangan dalam keadaan melengkung. Karena kita berusaha menjauhkan lengan bagian atas dari sisi tubuh.
    Hal ini berdasarkan hadits dari sahabat Abu Humaid Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
    51 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 69 – Ahlul Kitab Ingin Menyesatkan Kaum Muslimin
    Tafsir Ali Imran Ayat 69 – Ahlul Kitab Ingin Menyesatkan Kaum Muslimin adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 5 Jumadil Akhir 1444 H / 29 Desember 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 69 – Ahlul Kitab Ingin Menyesatkan Kaum Muslimin
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
    “Segelongan dari ahli kitab ingin sekali menyesatkan kalian, dan tidaklah mereka menyesatkan melainkan menyesatkan diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari akan hal itu.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 69)
    Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang permusuhan ahlul kitab terhadap kaum muslimin, dimana mereka ingin sekali menyesatkan kaum muslimin.
    Ayat ini memberikan peringatan kepada kita dari ahlul kitab. Ahlul kitab berusaha terus menghalangi kaum muslimin dari agama mereka. Mereka seperti orang-orang musyrikin. Baik ahlul kitab atau kaum musyrikin ingin kaum muslimin masuk pada kesesatan. Hal ini sebagaimana Allah kabarkan dalam surah An-Nisa:
    وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً…
    “Mereka ingin kalian itu menjadi kafir, sebagaimana mereka kafir, sehingga kedudukan kalian bersama mereka itu sama.” (QS. An-Nisa'[4]: 89)
    Semua orang musyrik, orang yang menyimpang, orang yang mengklaim bahwa ia memiliki kitab, mereka menginginkan agar orang Islam itu menjadi sesat setelah mendapatkan hidayah dan keimanan. Kalau perkaranya seperti itu, maka wajib bagi kita untuk hati-hati dari mereka dan meyakini bahwa mereka adalah musuh. Mereka ingin menghabisi agama kita dalam waktu yang cepat.
    Sedangkan orang yang zalim akan dibalas sesuai dengan kezalimannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Mereka tidak menyesatkan melainkan menyesatkan diri mereka sendiri.”
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 69 – Ahlul Kitab Ingin Menyesatkan Kaum Muslimin
    Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Ali Imran Ayat 69 – Ahlul Kitab Ingin Menyesatkan Kaum Muslimin” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    25 min
  • Keutamaan Tafakur
    Keutamaan Tafakur adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 5 Jumadil Akhir 1444 H / 29 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Berpikir Untuk Memahami Ilmu
    Ceramah Agama Islam Tentang Keutamaan Tafakur
    Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    استعينوا على الكلام بالصمت، وعلى الاستنباط بالفكر
    “Jadikanlah penolong bagimu untuk ucapanmu (yakni untuk mengurangi keburukan ucapan) dengan cara diam, dan untuk bisa mengambil kesimpulan hukum dengan cara memikirkan dalil (yang ada di hadapan kita).”
    Nukilan dari pernyataan para ulama Salaf ini menyebutkan keutamaan tafakur (memikirkan/merenungkan ilmu) yang demikian tinggi.
    Di sini diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala bahwa merenungkan ilmu itu adalah amalan hati. Sedangkan ibadah biasa itu adalah amalan anggota badan. Sementara hati itu lebih mulia dibandingkan anggota badan. Maka berarti perbuatan hati lebih mulia/utama dibandingkan amalan anggota badan.
    Pertimbangan lain bahwa tafakur (merenungkan ilmu) itu akan bisa menguatkan iman seorang hamba yang ini tidak bisa ditumbuhkan dengan amal semata-mata kalau tanpa ada perenungan.
    Hal ini jelas sekali. Bahkan Al-Qur’an saja ketika diturunkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa perumpamaan-perumpamaan. Ini semua bertujuan agar manusia bisa memikirkan dan mengambil pelajaran darinya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
    “Maka perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat bagi manusia agar mereka bisa memikirkannya.” (QS. Al-Hasyr[59]: 21)
    كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
    “Kitab Al-Qur’an yang Kami turunkan kepadamu (wahai Rasulullah) penuh dengan keberkahan (kebaikan-kebaikan yang banyak) di dalamnya agar manusia bisa memikirkan kandungannya dan agar orang-orang yang berakal bisa mengambil pelajaran darinya.” (QS. Shad[38]: 29)
    Jelas sekali bahwa perenungan dan memikirkan kandungan ilmu ini akan bisa mewujudkan/menguatkan iman yang itu tidak akan terwujud dengan beramal semata-mata tanpa ada perenungan.
    Tafakur bisa melahirkan -bagi orang yang melakukannya- tersingkapnya hakikat dari segala perkara yang ada di hadapannya, dan menjadi jelas di hadapannya, serta dia bisa membedakan tingkatan-tingkatannya dalam kebaikan dan keburukan. Orang yang memikirkan ilmu, dia bisa mengetahui bahwa satu amal ada yang lebih utama dibandingkan yang dibawah. Ketika bertentangan mana yang dia harus dahulukan, ini semua membutuhkan perenungan.
    Dan sudah pernah kita jelaskan keterangan para ulama bahwa setan memperdaya manusia dengan tingkatan-tingkatan godaan. Ketika dia tidak bisa memperdaya manusia untuk melakukan keburukan, ternyata setan punya godan dibuat kelihatannya sibuk beramal tapi amal-amal yang kurang keutamaannya sehingga dia meninggalkan amal yang lebih utama. Contoh seperti menuntut ilmu. Sebagian orang ketika tidak paham maka dia meremehkan. Dia berpikir kenapa harus belajar terus, kapan waktunya beramal? Padahal menuntut ilmu akan memperbaiki amalnya, membenarkan pemahamannya, bahkan membenarkan akidah dan imannya. Ketika dia lupa atau lalai dari menuntut ilmu akhirnya setan masuk membisikan s...
    51 min
  • Hukum Membangun Kuburan dan Menulis Batu Nisan
    Hukum Membangun Kuburan dan Menulis Batu Nisan adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 4 Jumadil Akhir 1444 H / 28 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Hukum Membangun Kuburan dan Menulis Batu Nisan
    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Adapun membangun masjid-masjid di atas kuburan-kuburan, maka telah menegaskan kebanyakan kelompok-kelompok tentang larangan hal tersebut sebagai pengikutan terhadap hadits-hadits yang shahih. Dan ulama-ulama mazhab kami (mazhab Hambali) telah menegaskan akan hal itu, dan juga selain mereka dari ulama-ulama mazhab Imam Malik dan ulama-ulama mazhab Imam Syafi’i tentang keharaman akan hal tersebut.”
    Kemudian Syaikhul Islam berkata lagi: “Dan tidak ada keraguan tentang pastinya keharaman membangun kuburan di atas masjid.” Kemudian beliau menyebutkan hadits-hadits dalam hal tersebut. Sampai beliau berkata: “Dan masjid-masjid yang dibangun diatas kuburan -kuburan para Nabi-Nabi dan orang-orang shalih atau para raja-raja dan selain mereka, maka wajib dihilangkan dengan menghancurkannya atau yang selainnya. Ini adalah sesuatu yang aku tidak mengetahui di dalamnya terjadi perbedaan di antara para ulama yang dikenal.”
    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Wajib menghancurkan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan. Karena ia dibangun diatas kemaksiatan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan sebagian ulama dari mazhab Syafi’i telah memberikan fatwa dengan menghancurkan apa yang ada di dalam Qarrafah dari bangunan-bangunan, di antaranya Ibnul Jummaizi, Azh-Zhahir At-Tarmanti dan yang lainnya.”
    Berkata Ibnu Kaj (salah seorang ulama dari mazhab Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala), “Dan tidak diperbolehkan untuk meng-keramik (mengeraskan dengan semen) kuburan-kuburan. Dan tidak diperbolehkan untuk membangun di atasnya kubah-kubah dan juga selain kubah-kubah. Dan apabila ada wasiat dengan hal itu maka wasiatnya adalah wasiat yang batil tidak boleh dikerjakan.”
    Al-Adzru’i berkata: “Adapun batalnya wasiat dengan membangun kubah-kubah atau yang selainnya dari bangunan-bangunan di atas kuburan dan mengeluarkan harta yang banyak untuk hal itu, maka ini semua tidak ada keraguan di dalamnya adalah hal yang diharamkan.”
    Imam Al-Qurtubi berkata tentang hadits Jabir Radhiyallahu ‘Anhu: “Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kuburan dikeramiki atau dibangun di atasnya.” Beliau juga berkata: “Dengan kejelasan hadits ini Imam Malik Rahimahullah berkata seperti itu. Imam Malik Rahimahullahu Ta’ala membenci membangun dan mengkeramiki di atas kuburan. Sebagian ulama ada yang membolehkannya, dan hadits ini adalah hujjahnya (alasan yang mengharamkan perbuatan tersebut meskipun ada ulama yang membolehkannya).”
    Ibnu Rusyd berkata: “Imam Malik Rahimahullah membenci membangun di atas kuburan dan membenci nisan-nisan itu ditulis. Ini adalah perbuatan bid’ahnya orang-orang berharta, mereka mengada-ada untuk berbangga-bangga dan berbesar-besar atas bangunan di atas kuburan. Dan ini tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya tentang keharamannya.”
    Az-Zaila’i berkata: “Dan dimakruhkan untuk dibangun di atas kuburan. Qadhi Khan berkata bahwa tidak dikeramiki kuburan dan tidak dibangun di atasnya, berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau melarang untuk melakukan pengerasan (pengramikan) terhadap kuburan dan membangun d...
    1 hr 9 min
  • Khutbah Jumat: Mengingat Kematian Ketika Tahun Baru
    Khutbah Jumat: Mengingat Kematian Ketika Tahun Baru ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 6 Jumadil Akhir 1444 H / 30 Desember 2022 M.

    Khutbah Pertama: Mengingat Kematian Ketika Tahun Baru
    Pergantian tahun mengingatkan kita kepada kematian, semakin dekat ajal kita. Ketika semakin berganti tahun, berarti itu menunjukkan bahwasanya berkuranglah umur kita, dan semakin dekat ajal kita menuju kematian.
    Maka seorang mukmin ketika di penghujung tahun, dia semakin takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, barangkali tahun depan itu adalah merupakan tahun yang terakhir baginya. Dia tidak tahu kapan ajal itu akan datang kepadanya.
    Maka sesungguhnya, seorang muslim senantiasa mengingat kematiannya. Dan ia pun berusaha untuk bersiap-siap menujunya.
    Adapun kemudian seseorang merayakan tahun baru dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang dalam syariat, tasyabbuh dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, menghambur-hamburkan uang dengan membakar petasan, mengganggu orang-orang yang sedang tidur, itu bukanlah perkara yang disyariatkan dalam Islam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
    “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita untuk senantiasa menganggap bahwasanya pergantian hari itu tidak ada perbedaannya dengan pergantian tahun ataupun bulan ataupun minggu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita untuk memakmurkan hidup-hidup kita, waktu-waktu kita, hari-hari kita untuk ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
    Malam-malam tahun baru tidak ada bedanya dengan malam-malam yang biasanya. Pernahkah kita mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merayakan tahun baru? Pernahkah kita mendengar bahwa para sahabat merayakan tahun baru? Ataukah para tabi’in dan para ulama? Tidak ada satupun dari mereka yang merayakannya. Justru mereka semakin ingat kepada kematian. Semakin datang tahun maka semakin dekat ajal kita.
    Maka kewajiban kita untuk semakin semangat dalam ketaatan, semakin kita menambah amalan shalih, semakin kita semangat menuntut ilmu Allah ‘Azza wa Jalla. Karena tidaklah datang suatu zaman kecuali zaman setelahnya lebih buruk dibandingkan dengan zaman sebelumnya. Sebagaimana itu diriwayatkan dalam hadits yang shahih. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ
    “Tidak akan datang kepadamu suatu zaman, kecuali zaman sesudahnya akan lebih buruk.” (HR. Bukhari)
    Bukan lebih buruk dalam masalah perekonomian, bukan lebih buruk dalam masalah kepemimpinan, akan tetapi ilmu ilmu semakin berkurang, fitnah semakin merajalela, kemaksiatan semakin terlihat. Sehingga banyak orang yang tidak peduli dengan agama Allah ‘Azza wa Jalla.
    Maka saudaraku.. Yang kita khawatirkan apabila kita terhampas di dalam kubangan syahwat dan syubhat. Sehingga kemudian kita pun masuk ke dalam neraka jahanam. Na’udzubillah Nas’alullah as salamah wal ‘afiah.
    Seorang mukmin yang ia pikirkan adalah keselamatan agamanya. Karena musibah-musibah dunia pasti menerpa. Seorang mukmin tidak mungkin lepas daripada ujian di dalam kehidupan dunia ini. Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda:
    مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
    “Senantiasa ujian itu pasti menerpa setiap mukmin pria maupun wanita, pada dirinya,
    11 min
  • Larangan Mengungkit-Ungkit Infak – Tafsir Surah Al-Baqarah 262
    Larangan Mengungkit-Ungkit Infak – Tafsir Surah Al-Baqarah 262 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 3 Jumadil Akhir 1444 H / 27 Desember 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Meminta Tambahan Keimanan – Tafsir Surah Al-Baqarah 260
    Larangan Mengungkit-Ungkit Infak – Tafsir Surah Al-Baqarah 262
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
    “Orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengikutkan infak tersebut dengan mengungkit-ungkit, tidak pula menyakiti hati, bagi mereka pahalanya di sisi Rabb mereka. Dan mereka tidak akan merasa takut dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah[2]: 262)
    Ayat ini kita ambil faedah, kata Syaikh Utsaimin Rahimahullah:
    Anjuran untuk berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah menyebutkan di situ pahalanya besar. Allah mengatakanlah: “Bagi mereka pahalanya di sisi Rabb mereka.”
    Isyarat agar ikhlas
    Isyarat agar kita ikhlas dan mengikuti syariat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Di jalan Allah” Dan disebut di jalan Allah kalau ikhlas dan sesuai dengan syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Larangan mengungkit-ungkit infak
    Orang yang menyertai infaknya dengan mengungkit-ungkit atau menyakiti, maka tidak ada pahalanya. Apalagi mengungkit-ungkit itu dosanya berat di mata Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : الْمَنَّانُ, الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلَفِ الْكَاذِبِ
    “Ada tiga (golongan) orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah nanti pada hari kiamat, tidak akan dilihat, tidak akan disucikan dan bagi mereka adzab yang pedih, yaitu: orang yang mengungkit-ungkit pemberian, yang memakai kain melebihi mata kaki, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah-sumpah dusta.” (HR. Muslim)
    Maka dari itu saudaraku, hati-hati. Jangan sampai amal kita dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala gara-gara kita mengungkitnya.
    Pembatal pahala sedekah
    Mengungkit-ungkit dan menyakiti bisa membatalkan pahala sedekah. Maka atas dasar itu berarti sedekah itu ada syaratnya. Yaitu ikhlas dan sesuai dengan syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedekah juga memiliki pembatal-pembatalnya. Yaitu mengungkit-ungkit dan menyakiti.
    Ada sebuah permasalahan. Apakah sebatas orang yang berinfak mengabarkan bahwa ia sudah memberi Si Fulan sekian-sekian sudah dianggap sebagai mengungkit dan menyakiti? Jawabnya iya. Misalnya seseorang mengatakan: “Dulu saya pernah memberi kamu sekian.” Itu sudah sudah dianggap mengungkit dan menyakiti hati. Sebab kalau diungkit seperti itu pasti orangnya jadi merasa tidak enak.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    50 min
  • Ikutilah Keburukan dengan Kebaikan
    Ikutilah Keburukan dengan Kebaikan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 3 Jumadil Akhir 1444 H / 27 Desember 2022 M.
    Sebelumnya: Penggugur Dosa dan Kesalahan

    Kajian Tentang Ikutilah Keburukan dengan Kebaikan
    Pada pertemuan sebelumnya telah kita kaji bersama tentang dua sifat yang diingatkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk jangan sampai kita ikuti. Yaitu:

    * Sifat orang-orang yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena memiliki ilmu tapi tidak mengamalkannya.
    * Sifat orang-orang tersesat yang mereka semangat mengamalkan agama tapi tanpa didasari oleh ilmu yang memadai.

    Ini adalah dua sifat yang disinggung oleh Sufyan bin Uyainah Rahimahullahu Ta’ala dalam perkataan beliau:
    من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود، ومن فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى
    “Orang-orang yang rusak dari kalangan ulama-ulama umat Islam, mereka serupa dengan orang-orang Yahudi (yang disifati oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai orang-orang yang dimurkai oleh Allah ‘Azza wa Jalla). Dan barangsiapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, maka dia memiliki keserupaan dengan orang-orang Nasrani (yang disifati oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam orang-orang yang sesat karena mereka semangat beramal tanpa didasari oleh ilmu yang memadai).”
    Dua sifat ini adalah dua sifat yang kita diingatkan untuk jangan sampai jatuh kedalamnya. Kita diwanti-wanti untuk waspada dengan dua sifat ini. Maka jalan umat Islam adalah jalan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka adalah yang menggabungkan kebaikan yang dimiliki oleh dua kelompok yang lain dan meninggalkan dua keburukan yang dimiliki oleh mereka.
    Orang-orang Yahudi disifati memiliki ilmu tapi tidak mengamalkannya. Maka kita mengambil yang baik, yaitu sifat ilmunya. Sedangkan orang-orang Nasrani disifati sebagai rajin beramal tapi tanpa dasar ilmu yang memadai. Maka di sini kita mengambil sifat yang baik, yaitu mengamalkan ilmu. Maka umat Islam hendaknya memiliki ilmu yang memadai dalam agama mereka, paling tidak yang wajib-wajib. Kemudian setelah memiliki ilmu mereka mengamalkannya.
    Kalau kita menilik kepada diri kita masing-masing, maka kita akan dapatkan bahwasanya kita memiliki dosa-dosa dan maksiat yang berhubungan dengan dua hal ini.
    Kalau kita mengetahui bahwasanya kondisinya seperti itu, maka hal yang paling bermanfaat yang perlu diketahui oleh orang-orang awam maupun orang-orang khusus dari kalangan umat Islam adalah hal-hal apa saja yang bisa melepaskan jiwa mereka dari keteledoran-keteledoran ini. Dan kuncinya adalah mengikuti keburukan dengan kebaikan. Yakni kapan kita jatuh dalam keburukan kita segera bangkit, ikuti dengan kebaikan-kebaikan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits:
    وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا
    “Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan akan menutup keburukan.” (HR. Tirmidzi)
    Kemudian beliau menjelaskan yang dimaksud dengan kebaikan. Kebaikan adalah semua apa yang Allah anjurkan dan telah dijelaskan oleh lisan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Rasul yang terakhir. Baik berupa amalan-amalan, akhlak-akhlak, maupun sifat-sifat.
    Di sini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menambahkan faedah bahwasanya penghapus dosa berupa kebaikan-kebaikan tidak hanya berupa amalan-amalan yang sudah kita bahas pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.
    1 hr 12 min
  • Mendidik dengan Cinta
    Mendidik dengan Cinta merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 3 Jumadil Akhir 1444 H / 27 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Jangan Memukul Wajah
    Mendidik dengan Cinta
    Mendidik dengan cinta, yaitu kita mengedepankan rasa cinta dan kasih sayang di dalam mendidik dan membimbing. Inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala serukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ…
    “Dan dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu kamu berlaku lemah lembut kepada mereka.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 159)
    Kita perlu mengedepankan kasih sayang, kelembutan dan cinta di dalam mendidik anak-anak.
    Banyak orang tua mengeluh ketika melihat kenakalan anaknya. Misalnya anak susah diatur, tidak mau taat, suka memberontak, suka membantah dan perilaku-perilaku lain yang mungkin tidak menyenangkan bagi orang tua. Anak yang dulu lucu dan menggemaskan sekarang menjadi sumber masalah. Kerap kali sikap, perilaku dan ucapannya menyesakkan dada, tidak enak didengar telinga. Namun apakah kita harus memarahinya? Lalu siapa yang seharusnya disalahkan?
    Kita tidak perlu mencari kambing hitam. Jika inilah kenyataan yang harus dihadapi, maka orang tua harus berupaya dan berpikir keras untuk bisa mengambil sikap yang tepat, tidak mendahulukan amarah dan emosi. Allah mengatakan:
    … أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ …
    “Sesungguhnya harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah (ujian).” (QS. Al-Anfal[8]: 28)
    Ini ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana juga kata Nabi:
    فِتْنَةُ الرَّجُلِ في أهْلِهِ ومَالِهِ ووَلَدِهِ وجَارِهِ
    “Fitnah yang Allah berikan kepada seseorang bisa melalui hartanya, keluarganya, anak istrinya atau tetangganya.” (HR. Bukhari)
    Begitulah kita menjalani ujian demi ujian di dunia ini. Maka kita harus berupaya mencari penyelesaian jalan keluarnya. Bagaimana kita bisa melewati ujian yang Allah berikan kepada kita. Sebab jika orang tua salah mengambil sikap atau salah melakukan tindakan, maka keadaannya bisa menjadi keruh. Bahkan lebih mengerikan dari yang dibayangkan.
    Maka di sini harus dikedepankan sabar atas ujian yang Allah berikan. Demikianlah dunia ini memang darul bala’ (penuh dengan ujian-ujian). Tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan surga tanpa ujian. Siapapun pasti akan menjalani ujian itu untuk meraih surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
    “Apakah manusia mengira mereka dibiarkan begitu saja sementara mereka belum lagi diuji?” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 2)
    Artinya kita akan diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, salah satunya juga melalui anak-anak.
    Maka di dalam sirah para Nabi dan Rasul, ada Nabi yang diuji dengan anaknya. Contohnya Nabi Nuh dan Nabi Ya’kub ‘Alaihimus Salam. Ini satu contoh bahwa para Nabi juga mendapatkan ujian melalui orang-orang dekatnya. Ada yang diuji melalui istrinya seperti Nabi Nuh dan Nabi Luth.
    Begitulah ujian-ujian yang Allah berikan melalui orang-orang dekat yang notabene mereka adalah orang-orang yang kita cintai. Dalam masalah ini adalah bagaimana kita bisa melewati ujian-ujian yang berat itu?
    Maka dari itu di sini orang tua harus betul-betul memperhatikan bagaimana dia bisa mengatasi ujian-ujian itu dengan baik.
    48 min
  • Mengajarkan Ilmu Yang Bermanfaat
    Mengajarkan Ilmu Yang Bermanfaat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 3 Jumadil Akhir 1444 H / 27 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Ilmu dan Ulama
    Mengajarkan Ilmu Yang Bermanfaat
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ دعا إلى هُدىً كانَ لهُ مِنَ الأجْر مِثلُ أُجورِ منْ تَبِعهُ لا ينْقُصُ ذلكَ من أُجُورِهِم شَيْئاً
    “Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
    Ini menunjukkan keutamaan orang yang menyeru manusia kepada petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika orang itu mendapat petunjuk, maka dia pun akan mendapat pahala dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka dia pun akan mendapatkan dosa sebanyak orang yang dia sesatkan tanpa mengurangi dosa orang-orang itu.
    Maka jadilah penyeru yang menyeru manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Agar mereka beribadah hanya kepada Allah, meminta hanya kepada Allah, berharap hanya kepada Allah, takut hanya kepada Allah, cinta hanya kepada Allah. Dengan demikian maka seseorang insyaAllah jika dia ikhlas dalam berdakwah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia akan mendapatkan ganjaran yang besar disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hadits berikutnya:
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إذا ماتَ ابْنُ آدَم انْقَطَع عَملُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدقَةٍ جارية ، أوْ عِلمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أوْ وَلدٍ صالحٍ يدْعُو لَهُ
    “Apabila seorang manusia meninggal, maka terputus semua amalnya,kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak yang shalih yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)
    Pertama, sedekah jariyah yang pernah diberikan oleh seseorang ketika dia masih hidup. Misalnya menyumbang untuk pembangunan masjid, sekolah dan yang lainnya dari hal-hal yang bermanfaat bagi manusia. Maka sedekah jariyah adalah sedekah yang tidak terputus. Meskipun seorang telah meninggal, maka pahalanya tetap mengalir.
    Kedua, ilmu yang diambil manfaatnya. Setiap ilmu yang memberikan manfaat pada orang lain (apalagi dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama seseorang, aqidah, ibadah, atau akhlak seseorang), maka ilmu yang diajarkan kepada manusia itu termasuk yang tidak terputus pahalanya meski dia telah meninggalkan dunia.
    Inilah pentingnya mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Namun bagaimana seorang mengajarkan ilmu yang bermanfaat kalau dia tidak belajar? Maka tentu anjuran untuk mengajarkan ilmu yang bermanfaat ini adalah juga termasuk mengandung perintah untuk belajar. Kemudian ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Selama orang itu mengamalkan ilmu yang diajarkan, maka yang mengajarkan itu mendapat pahala walaupun dia telah meninggal.
    Ketiga, anak shalih yang mendoakan orang tuanya. Di sini pentingnya mendidik anak supaya mereka menjadi anak-anak yang shalih. Karena anak itu tidak dengan serta-merta menjadi anak yang shalih tanpa ada pendidikan (baik dari orang tuanya maupun dari sekolah tempat dia belajar).
    Kemudian juga doa dari orang tuanya agar anaknya menjadi anak yang shalih. Karena doa ini sangat penting.
    1 hr 20 min
  • Makan dan Minum Tapi Jangan Berlebih
    Makan dan Minum Tapi Jangan Berlebih ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 2 Jumadil Akhir 1444 H / 26 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Makan dan Minum Tapi Jangan Berlebih
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan panduan secara umum tentang masalah makanan dan minuman. Allah berfirman:
    …كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا…
    “Makan dan minum tapi jangan berlebih.” (QS. Al-A’raf[7]: 31)
    Allah halalkan apa-apa yang ada di muka bumi ini untuk manusia, kecuali yang diharamkan. Makanan yang dihalalkan itu lebih banyak daripada yang diharamkan. Karena itu untuk keperluan dan kebutuhan manusia. Maka Allah perintahkan untuk makan dan minum.
    Demikianlah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau juga seperti halnya manusia lainnya. Beliau juga memakan makanan yang biasa dimakan oleh manusia. Beliau bukan malaikat, tapi beliau adalah manusia biasa yang diciptakan dari tanah dan perlu makan dan minum. Maka diriwayatkan bahwa Nabi menyukai beberapa jenis makanan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    نِعْمَ الإِدامُ الخَلُّ
    “Sebaik-baik lauk itu adalah cuka.” (HR. Muslim)
    Adapun kaum sufi membatasi diri dari hal-hal seperti ini. Sehingga cenderung mengharamkan atas diri mereka sesuatu yang dihalalkan Allah. Seperti pandangan sebagian kaum sufi yang menganggap buruk ataupun mencela orang-orang yang makan menggunakan lauk. Karena menurut mereka lauk itu adalah syahwat yang berlebih dari makanan. Sehingga menurut mereka tidak sepatutnya memakan lauk.
    Tentunya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat juga memakan lauk. Disebutkan dalam Kitab Shahihain bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam makan mentimun dan kurma muda. Ini adalah dua jenis makanan yang dimakan Nabi dalam waktu bersamaan. Sementara sebagian orang ada yang memakruhkan makan dengan dua jenis laut. Bahkan di kalangan yang lebih ekstrim lagi tidak boleh makan pakai lauk.
    Ini adalah sesuatu yang berat bagi manusia untuk bisa melaksanakan hal seperti itu. Karena biasanya makanan-makanan pokok ini ada pasangannya. Misalnya nasi dengan pasangannya, demikian juga gandum dengan pasangannya.
    Jadi sesuatu yang biasa mereka memakan lauk. Mereka tidak harus makan pakai lauk. Terkadang ada kondisi mereka tidak memiliki lauk. Mereka masih bisa makan tanpa lauk. Walaupun sebagian dari mereka menghindari diri dari memakan lauk yang terlalu banyak. Sehingga kebiasaan ini akan membebani fisik ataupun tubuhnya.
    Demikian juga mereka menjauhi makan-makanan yang menjadi pemicu rasa ngantuk. Sehingga tidak mengganggu aktivitas ibadah dan menuntut ilmu mereka.
    Demikianlah cara para Salaf menjauhi dan menghindari syahwat yang buruk. Bukan dengan menghindarinya sama sekali, tapi juga tidak larut dan tenggelam dalam syahwat itu dan melampiaskannya berlebihan. Jadi ada rem kendalinya.
    Maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    …كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا…
    “Makan dan minum tapi jangan berlebih.” (QS. Al-A’raf[7]: 31)
    Ketika seseorang makan roti gandum ataupun yang lainnya dengan lauknya, tentunya akan membuat tercukupi kebutuhan dirinya.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    41 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah