Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Larangan Mengkhususkan Ibadah di Kuburan Orang Shalih
    Larangan Mengkhususkan Ibadah di Kuburan Orang Shalih adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 20 Jumadil Awal 1444 H / 14 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Larangan Mengkhususkan Ibadah di Kuburan Orang Shalih
    Kita mengkaji bab tentang larangan keras terhadap orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di sisi pekuburan orang shalih. Maka bagaimana pula jika ia beribadah kepada orang shalih tersebut.
    Penulis Kitab Tauhid Al-Imam Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah membawakan dalil yang kedua di dalam bab ini.
    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak diambil nyawanya, beliau pun segera menutup kain di atas mukanya, lalu beliau membuka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan nafas. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah beliau bersabda:
    لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهًوْدِ وَالنّصَارَى، اتّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
    “Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Di sini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan agar kaum Yahudi dan Nasrani mendapat laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebabnya karena menjadikan kuburan orang-orang shalih dari mulai Nabi-Nabi sebagai tempat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kemudian di dalam hadits disebutkan bahwa beliau memperingatkan agar dijauhi perbuatan mereka. Dan seandainya bukan hal itu, niscaya kuburan beliau akan ditampakkan. Maksudnya adalah kalau seandainya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memperingatkan akan hal ini, maka niscaya kuburan beliau akan bisa terlihat oleh manusia. Alhamdulillah, kuburan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jauh dari hal-hal yang membuat kaum muslimin akhirnya menjadikan berhala terhadap kuburan tersebut.
    Kalimat “Memperingatkan apa yang telah diperbuat oleh Yahudi dan Nasrani” dari perkataan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha adalah karena ‘Aisyah memahami dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut adalah peringatan keras untuk umatnya dari perbuatan ini yang senantiasa dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani terhadap kuburan-kuburan Nabi-Nabi mereka. Karena hal tersebut termasuk sikap ghuluw (melampaui batas) terhadap para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam dan termasuk dari sarana paling besar menghantarkan kepada kesyirikan.
    Ingat, bahwa mengkhususkan ibadah di sisi pekuburan orang-orang shalih (seperti mengkhususkan shalat, mengkhususkan berdoa terasa lebih mustajab, mengkhususkan berdzikir terasa lebih khusyuk, mengkhususkan membaca Al-Qur’an dan seterusnya) bukan kesyirikan. Tetapi sarana yang paling besar menghantarkan kepada kesyirikan.
    Dan termasuk dari keasingan Islam adalah bahwa hal yang pelakunya telah dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai bentuk peringatan keras untuk umatnya agar mereka tidak mengerjakannya terhadap kuburan beliau dan juga terhadap kuburan orang-orang shalih dari umatnya, ternyata ini telah dilakukan kebanyakan dari generasi terakhir umat ini. Dan mereka menganggap ini adalah sebagai ibadah-ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal ia adalah kemungkaran yang paling agung. Mereka tidak mengira bahwa perbuatan mengkhususkan beribadah di sisi perkuburan orang-orang shalih ini adalah sebuah sikap penent...
    1 hr 20 min
  • Meminta Tambahan Keimanan – Tafsir Surah Al-Baqarah 260
    Meminta Tambahan Keimanan – Tafsir Surah Al-Baqarah 260 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 19 Jumadil Awal 1444 H / 13 Desember 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Penetapan Sifat Allah Berbicara – Surah Al-Baqarah 259
    Meminta Tambahan Keimanan – Tafsir Surah Al-Baqarah 260
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
    “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Rabb, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang telah mati.’ Allah berfirman: ‘Bukankah kamu sudah beriman?’ Ibrahim menjawab: ‘Iya, akan tetapi agar hatiku lebih tenang lagi.’ Maka Allah berfirman: ‘Ambillah empat burung, kemudian cincanglah semuanya olehmu. Kemudian jadikanlah pada setiap gunung itu dari bagian-bagian tubuh burung tersebut, kemudian panggillah mereka, maka ia pun datang kepadamu dengan segera.’ Dan ketahuilah bahwasannya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah[2]: 260)
    Dari ayat ini kita ambil faidah:
    Tawasul Melalui Rububiyah Allah
    Tawasul kepada Allah melalui Rububiyah Allah itu termasuk adab-adab berdoa. Dimana para Rasul bertawasul dengan Rububiyah Allah. Yaitu dari ucapan “Yaa Rabb.”
    Meminta Tambahan Keimanan
    Tidak mengapa seorang insan meminta kepada Allah sesuatu yang bisa lebih menambah keimanan dia. Karena Nabi Ibrahim di sini berkata: “Ya Allah, tolong perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang telah mati.” Namun apakah permintaan ini boleh untuk kita? Maka kita jawab bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah meminta itu. Demikian pula para sahabat pun tidak pernah meminta itu, tidak pula para Tabi’in memintanya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlihatkan kepada kita alam semesta ini dan menceritakan tentang kisah-kisah orang-orang terdahulu dalam Al-Qur’an itu sudah sangat cukup sekali bagi orang yang berfikir.
    Lalu apakah berarti Nabi Ibrahim kurang keimanannya? Jawabnya tidak. Nabi Ibrahim sudah sangat kuat keimanan beliau. Akan tetapi itu adalah merupakan meminta tambahan agar beliau semakin beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kalau kita minta kepada Allah: “Ya Allah tambahkan keyakinanku kepada Engkau Ya Allah, dengan Engkau perlihatkan sebagian kekuasaanMu kepadaku.” Maka ini boleh.
    Namun tentunya juga jangan sampai seperti permintaan orang-orang ahli kitab. Dimana ahli kitab minta supaya Allah memperlihatkan dirinya kepada mereka. Bahkan ahli kitab minta supaya Allah turunkan hidangan dari langit langsung.
    Kita meminta kepada Allah supaya ditambah keimanan kita dengan diperlihatkan sesuatu yang semakin menambah keyakinan, maka itu tidak masalah. Namun juga tentunya Al-Qur’an menyuruh kita untuk menambah keimanan dengan cara memperhatikan ayat-ayat Allah. Seperti Allah mengatakan:
    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal.
    50 min
  • Prinsip dan Kaidah dalam Memukul Anak
    Prinsip dan Kaidah dalam Memukul Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 19 Jumadil Awal 1444 H / 13 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Bolehkah Anak Dipukul?
    Prinsip dan Kaidah dalam Memukul Anak
    Berkaitan dengan izin atau pembolehan untuk memberikan hukuman berupa pukulan, perkara yang harus kita pahami dan ketahui adalah ada kaidah-kaidah yang mesti diperhatikan untuk melaksanakan hukuman ini dalam konteks mendidik.
    Tentunya pukulan itu dimaksudkan untuk mendidik/mentarbiyah itu hakikatnya bukan untuk menghukum seperti halnya hudud. Maka berbeda hukuman yang kita berikan dalam bentuk pukulan kepada anak dalam rangka tarbiyah dengan pukulan yang ditujukan kepada seseorang karena pelanggaran. Maka ada kaidah-kaidah yang mesti diperhatikan.
    Kita juga harus mengetahui bahwa kalau kita lihat bagaimana Nabi melakukan keringanan itu, Nabi tidak pernah melakukannya. Dan beliau adalah sebaik-baik contoh di dalam bab ini. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan kepada kita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, tidak pula memukul istri dan pembantunya. Beliau hanya memukul ketika berjihad di jalan Allah.
    Jadi walaupun ada izin memberikan hukuman berupa pukulan kepada istri ataupun anak, namun Nabi tidak pernah menggunakan tangan beliau untuk memukul wanita dan anak-anak.
    Sebagian suami ataupun orang tua memang nafsunya ingin memukul. Maka ada saja alasan yang mereka gunakan untuk memukul anak. Lalu mereka berdalih “Bukankah memukul dibolehkan?” Dia ingin segala sesuatu diselesaikan dengan hukuman berupa pukulan. Bahkan sebagian orang tua ada yang merasa bangga kalau sudah berani dan bisa memukul anak. Padahal tidak seperti itu.
    Kesalahan-kesalahan anak (walaupun anak buat salah demikian juga para istri) tidak harus kita langsung menjatuhkan hukuman berupa pukulan kepada mereka. Kepada istri pun kalau kita lihat maka ada tahapan-tahapannya. Pertama adalah nasihat, yang kedua pisah ranjang, baru yang ketiga adalah pukulan. Dan pukulan itu pun ada kaidahnya, bukan serampangan.
    Jadi tidak bermudah-bermudahan di dalam bab ini. Apalagi kepada anak. Walaupun ada pembolehan “Pukullah mereka di usia 10 tahun,” bukan berarti kita harus benar-benar memukul anak. Ini yang harus kita perhatikan. Karena sebagian orang tua menggunakan dalil-dalil seperti ini untuk memukul. Dan parahnya adalah pukulan mereka itu tanpa kaidah atau semaunya mengikuti hawa nafsu. Ini tentu lebih kepada pembantaian atau penyiksaan kepada anak. Tentu ini tidak dibenarkan sama sekali di dalam syariat. Bukan seperti itu kita menerapkan sabda Nabi “Pukullah mereka di usia 10 tahun karena tidak shalat.”
    Di antara kaidah yang perlu diperhatikan dalam memukul anak adalah:

    * Menit ke- Pukulan tidak dilakukan sebelum anak berusia 10 tahun.
    * Menit ke- Meminimalisir pukulan semampu mungkin.
    * Menit ke- Pukulan itu hanya boleh mengenai kulit luar saja, tidak boleh sampai ke daging. Yaitu tidak boleh menyebabkan luka.
    * Menit ke- Alat yang digunakan untuk memukul tidak boleh dari jenis yang keras ataupun tajam, ataupun dengan benda-benda yang menghinakan seperti sendal, sepatu, sapu dan sejenisnya.
    * Menit ke- Ketika memukul tidak boleh mengangkat tangan tinggi-tinggi, sehingga pukulan itu tidak melukainya.
    * Menit ke- Menghentikan pukulan apabila anak sudah memohon ampun/pertolongan kepada Allah.

    53 min
  • Keutamaan Ilmu dan Ulama
    Keutamaan Ilmu dan Ulama adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 19 Jumadil Awal 1444 H / 13 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Memberikan Kelonggaran Kepada Orang Yang Sulit Membayar Hutang
    Keutamaan Ilmu dan Ulama
    Kitab Al-Imu ini mengumpulkan sejumlah bab yang membahas seputar ilmu. Tentu yang dimaksud dengan ilmu dalam pembahasan ini adalah ilmu-ilmu syar’i.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ…
    “Katakanlah wahai Muhammad, apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar[39]: 9)
    Tentu jawabannya adalah jelas tidak sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Dan ini menunjukkan keutamaan orang yang berilmu. Maka dari itu agama Islam sangat memerintahkan kepada umatnya untuk belajar/berilmu/mengetahui. Apalagi masalah-masalah pokok yang menjadi fardhu ‘ain bagi setiap orang. Yaitu ilmu tentang aqidah, ibadah, akhlak, adab-adab Islam, dan yang lainnya.
    Kemudian juga telah disebutkan ayat yang lain sebagai dalil bagi pembahasan tentang ilmu ini. Imam An-Nawawi Rahimahullah membawakan firman Allah:
    …إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ…
    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah para ulama.” (QS. Fathir[35]: 28)
    Kemudian Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala membawakan hadits Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhuma. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ
    “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya Allah memberikan pemahaman kepadanya di dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang orang yang belajar yang memahami agama Allah. Ketika dia bersemangat untuk belajar atau ingin tahu dan memahami tentang agamanya, maka ini adalah pertanda kebaikan yang Allah menghendaki untuk orang itu.
    “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, Allah memberikan pemahaman kepadanya dalam agama Allah ini.” Bagaimana seorang memahami agama? Tentu dengan belajar.
    إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ
    “Sesungguhnya ilmu itu digapai/diperoleh dengan seorang menuntut ilmu (dengan belajar).” (HR. Ath-Thabrani)
    Oleh karena itu seorang yang diberikan hidayah oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian dia ingin belajar, ini adalah satu kebaikan/hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, orang yang tidak mau belajar dan tidak mau tahu tentang agamanya menunjukkan bahwa dia dihalangi untuk mendapatkan kebaikan.
    Maka bergembira orang-orang yang mau belajar, orang-orang yang ingin tahu tentang agama Allah, baik itu aqidah, ibadah, muamalah, akhlak, suluk, dan yang lainnya. Ini pertanda bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    1 hr 31 min
  • Bab Nama Aflah (Untung)
    Bab Nama Aflah (Untung) adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 18 Jumadil Awal 1444 H / 12 Desember 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Bab Nama Aflah (Untung)
    Kita sampai pada باب أفلح (Bab nama orang untung/keberuntungan). Bagaimana pandangan syariat tentang nama seperti ini?
    Sebagian kita tatkala memberikan nama kepada anak-anaknya, harapannya anak itu menjadi orang yang sukses, berbakti kepada kedua orang tuanya, bermanfaat buat agama, nusa dan bangsanya. Itu yang diinginkan orang tua. Sehingga sebagian orang tua kadangkala perlu capek dan lelah dalam rangka mencarikan nama buat anaknya. Karena boleh jadi nama yang salah berdampak kepada kehidupan anak itu. Oleh karena itu jangan sampai kita mengatakan “apa arti sebuah nama?” Karena nama punya arti. Nama adalah doa dan harapan.
    Di bab berkaitan dengan nama Aflah ini, Al-Imam Bukhari menyebutkan dua hadits. Yaitu:
    عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ عِشْتُ نَهَيْتُ أُمَّتِي_ إِنْ شَاءَ اللَّهُ- أَنْ يُسَمِّي أَحَدُهُمْ بَرَكَةَ، وَنَافِعًا، وَأَفْلَحَ، (وَلَا أَدْرِي قَالَ: “رافع” أم لا؟) يقال: هاهنا بَرَكَةُ؟ فَيُقَالُ: لَيْسَ هَا هُنَا ” فَقُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَنْهَ عَنْ ذَلِكَ.
    Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Apabila aku hidup niscaya aku akan melarang umatku -insyaAllah- memberikan nama dengan barakah, Nafi (manfaat), Aflah (untung), Rafi’ (tinggi). (Dan dia katakan: ‘Aku tidak tahu apakah beliau mengakan rafi’ atau tidak?). (Masalahnya ketika ditanyakan:) ‘Apakah di sini ada barakah?’ lalu dijawab: ‘Di sini sedang tidak ada barakah.’ Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal dan beliau tidak melarang hal itu.” (HR. Bukhari)
    Ketika dikatakan “di sini tidak ada barakah,” maka ini membuat orang merasa susah. Lalu ketika dikatakan “di sini tidak ada manfaat,” artinya tidak ada manfaat. Ketika dikatakan “di sini tidak ada Untung,” apakah berarti rugi?
    Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin melarang, dikarenakan nama-nama ini dapat mengantarkan kepada perasaan sial. Tapi kata Jabir bin Abdillah, beliau meninggal dunia dan belum melarang.
    Di hadits yang kedua dari bab ini, Imam Bukhari mengatakan:
    وعنه من طريق أخرى: أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْهَى أَنْ يُسَمَّى بِيَعْلَى، وَبِبَرَكَةَ، وَنَافِعٍ، وَيَسَارٍ، وَأَفْلَحَ، وَنَحْوَ ذَلِكَ، ثُمَّ سَكَتَ بعدُ عنها، فلم يقل شيئاً.
    “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkeinginan untuk melarang orang untuk memberi nama dengan  Ya’la (tinggi), Barakah, Nafi, Yasar (kemudahan), Aflah, atau nama-nama yang mirip dengan itu. Kemudian beliau diam, dan tidak mengatakan apapun.” (HR. Bukhari)
    Di sini disebutkan bahwa Jabir bin Abdillah meriwayatkan yang dia ketahui. Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal dunia dan beliau belum menyampaikan larangan itu, beliau hanya berkeinginan. Tapi ternyata di dalam Sunan Abi Dawud, ada riwayat dari Samurah bin Jundab, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لَا تُسَمِّيَنَّ غُلَامَكَ يَسَارًا وَلَا رَبَاحًا وَلَا نَجِيحًا وَلَا أَفْلَحَ فَإِنَّكَ تَقُولُ أَثَمَّ هُوَ فَيَقُولُ لَا إِنَّمَا هُنَّ أَرْبَعٌ فَلَا تَزِيدَنَّ عَلَيَّ
    “Jangan beri nama budakmu itu dengan nama Yas...
    1 hr 22 min
  • Ilmu Syar’i Mengangkat Derajat Pemiliknya
    Ilmu Syar’i Mengangkat Derajat Pemiliknya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 18 Jumadil Awal 1444 H / 12 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah Ulama Su’
    Ilmu Syar’i Mengangkat Derajat Pemiliknya
    Ilmu syar’i bisa mengangkat orang yang memiliki ilmu syar’i kepada kedudukan yang paling utama. Sedangkan kebodohan bisa menjatuhkan orang kepada kedudukan yang paling rendah.
    Kita ambil faedah ini dari kisah ulama su’ ini. Dimana orang alim yang telah Allah anugerahkan ayat-ayatNya itu turun derajat menjadi hina. Dia turun dari kedudukan ulama yang merupakan seutama-utama kedudukan kepada kedudukannya anjing yang itu merupakan kedudukan yang paling hina.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَو شِئنا لَرَفَعناهُ بِها وَلٰكِنَّهُ أَخلَدَ إِلَى الأَرضِ وَاتَّبَعَ هَواهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الكَلبِ إِن تَحمِل عَلَيهِ يَلهَث أَو تَترُكهُ يَلهَث ۚ ذٰلِكَ مَثَلُ القَومِ الَّذينَ كَذَّبوا بِآياتِنا ۚ فَاقصُصِ القَصَصَ لَعَلَّهُم يَتَفَكَّرونَ
    “Dan kalau Kami mau, niscaya Kami akan angkat (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, akan tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya. Yang demikian itu merupakan perumpamaan bagi kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka kisahkanlah kisah-kisah itu kepada mereka, mudah-mudahan mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf[7]: 176)
    Jadi ilmu syar’i itu bisa mengangkat derajat orang kepada derajat yang paling tinggi, sedangkan kejahilan bisa menurunkan derajat orang menjadi yang paling hina atau rendah.
    Ilmu itu bisa mengangkat derajat seseorang dalam keadaan dia miskin atau dalam keadaan dia kaya. Sedangkan kebodohan itu bisa menurunkan derajat orang kepada derajat yang paling hina baik dalam keadaan kaya atau miskin. Dari sini kita mengetahui akan pentingnya ilmu syar’i dan bersabar dalam memegang ilmu syar’i. Yaitu bersabar untuk tidak tergoda dengan dunia.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ…
    “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat di antara mereka.” (QS. Al-Mujadilah[58]: 11)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
    “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim atas kaumya. Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am[6]: 83)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
    “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat dengan kitab (Al-Qur’an) ini suatu kaum dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga merendahkan kaum-kaum yang lain dengan kitab ini.” (HR. Muslim)
    Yang membaca, mentadaburi, mengilmui dan mengamalkan Al-Qur’an maka Allah angkat derajatnya. Adapun yang jauh dan berpaling dari Al-Qur’anul karim, maka Allah hinakan derajatnya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh man...
    51 min
  • Talbis Iblis dalam Hal Makanan dan Minuman
    Talbis Iblis dalam Hal Makanan dan Minuman ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 18 Jumadil Awal 1444 H / 12 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Talbis Iblis dalam Hal Makanan dan Minuman
    Kita sampai pembicaraan berkaitan dengan sikap penganut ajaran tasawuf di dalam hal makanan dan minuman. Di antara mereka ada yang membatasi diri bahkan mengharamkan beberapa jenis makanan bagi dirinya. Hal ini dilakukan untuk mencapai satu tingkatan tertentu. Bagi mereka makanan dan minuman ini adalah salah satu penghambat perjalanan spiritual mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Tentunya Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an ataupun melalui NabiNya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menghalalkan apa-apa yang ada di bumi berupa makanan bagi orang-orang yang beriman.
    …كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ…
    “Makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami telah rezekikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 172)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    …كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا…
    “Makan dan minumlah kamu dan jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf[7]: 31)
    Kebutuhan dasar manusia adalah makan dan minum, dengan itu mereka bisa menyambung hidup. Maka Allah menghalalkan bagi orang-orang yang beriman berbagai jenis makanan. Dan hukum asal makanan adalah halal, kecuali datang nash dari Al-Qur’an maupun sunnah yang mengharamkannya. Maka kita tidak boleh mengharamkan yang halal sebagaimana menghalalkan yang haram. Termasuk juga di dalam bab makanan.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam makan dan minum sebagaimana halnya manusia lainnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencukupi kebutuhan diri beliau dengan makan dan minum. Bahkan disebutkan beliau menyukai makanan yang manis. Beliau mengatakan juga “Sebaik-baik hidangan adalah cuka.”
    Nabi menyukai susu, Nabi minum air dingin, dan Nabi makan daging. Nabi tidak mengharamkan atau menjauhi hal itu karena dapat menghambat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu artinya adalah bahwa perkara-perkara ini tidak menghambat ibadah seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Asalkan kaidahnya adalah “Jangan berlebih-lebihan.” Karena makan yang berlebih-lebihan itu juga akan membawa mudharat bagi diri kita. Begitulah kaidah di dalam hal makan dan minum.
    Tapi coba lihat apa yang dilakukan oleh setan kepada orang-orang sufi ini. Mereka mengharamkan atas diri mereka berbagai jenis makanan. Mereka bahkan sengaja melaparkan diri sampai berhari-hari. Ini tentunya tidak dibenarkan. Karena Nabi mengatakan:
    فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
    “Sesungguhnya jasadmu punya hak yang harus kamu penuhi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Dan salah satu bentuk sedekah yang dikeluarkan oleh seseorang adalah nafkah yang dia keluarkan untuk makan dan minumnya. Itu terhitung sedekah dari dirinya untuk dirinya. Maka kadang-kadang kita dengar riwayat-riwayat dari mereka yang tidak masuk akal. Ada yang mengatakan tidak makan berhari-hari, bahkan ada yang tidak makan sampai berbulan-bulan. Ini tentunya memudzaratkan diri sendiri.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    … وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ…
    “Janganlah kamu lemparkan dirimu kepada kebiasaan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 195)
    Nabi adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi Nabi juga makan dan minum.
    37 min
  • Sunnah-Sunnah Fi’liyah dalam Shalat
    Sunnah-Sunnah Fi’liyah dalam Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 18 Jumadil Awal 1444 H / 12 Desember 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Sunnah-Sunnah Shalat
    Kajian Tentang Sunnah-Sunnah Fi’liyah dalam Shalat
    Sunnah-sunnah fi’liyah dalam shalat maksudnya adalah perbuatan-perbuatan yang disunahkan untuk kita lakukan di dalam shalat.
    1. Sutrah
    Menjadikan sutrah ada di depan kita ketika shalat. Sutrah adalah pembatas yang diletakkan oleh seseorang di depannya ketika sedang shalat sebagai batas dari tempat sujudnya. Sutrah berada persis di depan kepala ketika seseorang sedang sujud.
    Sutrah bermanfaat bagi orang yang shalat, juga bagi orang yang tidak shalat. Dengan sutrah, seseorang yang shalat bisa menjaga kesempurnaan shalatnya. Karena disebutkan di dalam hadits, bahwa orang yang ketika shalat berjalan di depannya seorang wanita atau khimar atau anjing hitam, maka dikatakan shalatnya terputus. Beberapa penafsiran dari kalangan para ulama, ada yang mengatakan maksud terputus adalah shalatnya batal.
    Penafsiran kedua mengatakan bahwa yang dimaksud dengan terputus adalah terputus kekhusyukannya. Dan kalau terputus kekhusyukannya jelas akan berpengaruh pada kesempurnaan pahalanya.
    Ada juga penafsiran-penaksiran lain. Yang intinya ketika seseorang dia sudah meletakkan sutrah atau pembatas di depan dia ketika shalat, maka dia bisa menjaga kesempurnaan shalatnya.
    Sutrah ini sunnahnya adalah setinggi tempat duduk seseorang ketika sedang berada di atas tunggangan yang biasa digunakan oleh orang-orang di zaman dahulu. Orang-orang di zaman dahulu ketika mereka naik unta, ada tempat duduk yang ada sandarannya. Begitu pula ketika naik kuda, ada sandaran yang diletakkan di belakang. Sekitar mungkin 40-50 cm. Ini yang paling afdhal untuk sutrah. Tapi itu bukan berarti itu adalah batasan minimal. Yang penting dari sutrah ini adalah orang bisa melihat dan paham bahwa ada benda yang ditaruh di depannya sebagai batas antara dia dengan tempat sujudnya.
    Di antara hadits yang menunjukkan disunnahkannya hal ini adalah sahabat Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    إذا صَلَّى أحَدُكُم فَلْيُصَلّ إلى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْ سُتْرَتِهِ لا يَقْطَع الشّيطَانُ علَيهِ صَلاتَهُ
    “Apabila salah seorang dari kalian menjalankan shalat, maka hendaklah dia shalat ke sutrahnya, dan hendaklah dia mendekat ke sutrah itu. Jangan sampai setan memotong shalatnya.” (HR. Ahmad)
    2. Mengangkat Kedua Tangan Ketika Takbiratul Ihram
    Menit ke-
    Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram ini bisa sejajar dengan pundak, juga bisa sejajar dengan telinga. Ini disunnahkan, walaupun di takbiratul ihram. Jadi kalau misalnya ada orang di takbiratul ihram membaca “Allahu akbar” tanpa mengangkat tangan langsung bersedekap maka tidak ada masalah. Namun selama kita masih mampu melakukan yang disunnahkan, maka lakukanlah sebisa mungkin.
    Begitu pula mengangkat kedua tangan ketika akan rukuk dan menuju i’tidal. Dan termasuk di antara yang disunnahkan untuk mengangkat tangan adalah ketika bangkit dari tasyahud awal.
    Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa ketika beliau masuk di dalam shalat, beliau bertakbir (takbiratul ihram) dan beliau mengangkat kedua tangannya. Apabila rukuk beliau juga mengangkat kedua tangan beliau. Apabila beliau bangkit dari rukuknya dan mengucapkan “Sami’alla...
    1 hr 5 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 67 – Ibrahim Bukan Yahudi Ataupun Nasrani
    Tafsir Ali Imran Ayat 67 – Ibrahim Bukan Yahudi Ataupun Nasrani adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 14 Jumadil Awal 1444 H / 08 Desember 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 67 – Ibrahim Bukan Yahudi Ataupun Nasrani
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
    “Ibrahim bukan Yahudi dan bukan (pula) Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi berserah diri (kepada Allah), dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 67)
    Maksud dari ayat yang mulai ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa Ibrahim itu tidak berada di atas millah mereka.
    Pelajaran dari ayat yang mulia ini adalah:
    Ibrahim Bukan Yahudi Ataupun Nasrani
    Menit ke- Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Ibrahim tidak ada kaitannya dari agamanya orang-orang Yahudi dan agamanya orang-orang Nasrani, atau dari metode yang dipakai oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Dimana mereka mengklaim bahwa Ibrahim termasuk dari golongan mereka.
    Berlepas Diri
    Hendaknya bagi orang yang belum tersifati dengan sifat tertentu menjelaskan tentang berlepas dirinya dari hal tersebut. Walaupun secara asal sifat tersebut terpuji. Akan tetapi di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan Ibrahim dengan penafian yang sangat tegas bahwa Ibrahim bukan termasuk orang Yahudi atau Nasrani. Walaupun agama Yahudi setelah diutusnya Nabi Musa dan Nasrani setelah diutusnya Nabi Isa adalah agama yang benar. Tetapi ketika sudah dimansukh dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka sifatnya harus dipertegas.
    Pujian Kepada Nabi Ibrahim
    Ayat ini merupakan pujian kepada Nabi Ibrahim. Sisi pujiannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dengan sifat tauhid yang murni yang tidak tercampur dengan sifat kesyirikan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Tafsir Ali Imran Ayat 67 – Ibrahim Bukan Yahudi Ataupun Nasrani

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 67 – Ibrahim Bukan Yahudi Ataupun Nasrani
    Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Ali Imran Ayat 67 – Ibrahim Bukan Yahudi Ataupun Nasrani” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    51 min
  • Waspada Terhadap Pemikiran Khawarij
    Waspada Terhadap Pemikiran Khawarij merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 17 Jumadil Awal 1444 H / 11 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keluar dari Api Neraka

    Kajian Hadits Tentang Waspada Terhadap Pemikiran Khawarij
    Hadits 90:
    Dari Yazid Al-Faqir, dia berkata: “Dahulu aku merasa suka kepada pemikiran Khawarij, kemudian kami keluar bersama sekelompok orang untuk melaksanakan haji, setelah itu kami akan memerangi manusia. Ketika kami singgah di Madinah, ternyata ada Sahabat Jabir bin Abdillah sedang menyampaikan hadits kepada manusia sambil bersandar di sebuah tiang masjid.”
    Yazil Al-Faqir berkata: “Di dalam hadits itu disebutkan kisah Jahannamiyyin (orang-orang yang masuk neraka kemudian dimasukkan ke dalam surga.” Maka aku pun berkata: ‘Wahai Sahabat Rasulullah, hadits apa yang engkau sampaikan ini? Bukankah Allah Ta’ala berfirman: ‘(Sesungguhnya Engkau Ya Allah, siapapun yang Engkau masukkan ke dalam api neraka, sungguh engkau telah menghinakan dia)’ (QS. Ali ‘Imran[3]: 192), dan bukankah Allah telah berfirman: ‘(Setiap kali mereka ingin keluar dari api neraka, mereka pun dikembalikan ke dalamnya)’ (QS. As-Sajdah[32]: 20). Lalu apa yang kalian sampaikan ini (yang seakan-akan bertabrakan dengan ayat)?
    Jabir bin Abdillah berkata: ‘Apakah kamu hafal Al-Qur’an?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Jabir bertanya lagi: ‘Pernahkah kamu mendengar ayat yang menyebutkan tentang kedudukan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu ayat yang menyebutkan bahwa Allah akan membangkitkan Rasulullah di tempat yang terpuji?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Jabir berkata: ‘Yang dimaksud ayat itu adalah kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terpuji, dimana dengan beliaulah Allah akan mengeluarkan orang-orang yang telah masuk dalam api neraka.’ Yazid berkata: ‘Kemudian beliau pun menyebutkan tentang sifat Shirah dan bagaimana manusia melewati jembatan Shirat.’ Kata Yazid: ‘Dan aku khawatir aku tidak hafal itu. Akan tetapi ia menyebutkan bahwa nanti ada suatu kaum yang akan keluar dari api neraka setelah mereka masuk ke dalam api neraka.’
    Jabir berkata membawakan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Maka mereka pun keluar dari api neraka seakan-akan batang pohon samasim (pohon kecil yang ketika mati dia hitam kelam). Mereka pun dimasukkan ke dalam sungai dari sungai-sungai surga, mereka pun mandi di dalamnya, maka mereka keluar dari sungai bagaikan kertas putih.’
    Yazid berkata: ‘Maka kami pun rujuk.’ Kami berkata: ‘Apakah kalian mengira bahwa Syaikh ini (Jabir bin Abdillah) berani berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?’ Maka kami pun rujuk, demi Allah, tidak ada seorangpun dari kami yang berani lagi setelah itu keluar untuk memerangi manusia, kecuali satu orang saja yang tetap dengan pemikirannya tersebut atau seperti yang diucapkan oleh Abu Nu’aim.'” (HR. Muslim)
    Dari hadits ini kita ambil faedah:
    Keutamaan Majelis-Majelis Para Ulama
    Karena dengan duduknya kita di majelis ulama, itulah yang akan meluruskan pemahaman-pemahaman kita. Lihat bahwa Yazid Al-faqir mengatakan bahwa tadinya dia kagum dengan pemikiran Khawarij. Dan ternyata orang Khawarij itu punya dalil dari Al-Qur’an dan hadits. Seperti yang Rasulullah kabarkan dalam hadits:
    53 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah