Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Golongan Yang Selamat Senantiasa Menghidupkan Sunnah
    Golongan Yang Selamat Senantiasa Menghidupkan Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 16 Jumadil Awal 1444 H / 10 Desember 2022 M 2022.
    Kajian sebelumnya: Ciri-Ciri Golongan Yang Selamat
    Golongan Yang Selamat Senantiasa Menghidupkan Sunnah
    Ciri-ciri olongan yang selamat adalah senantiasa menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dalam ibadah, tingkah laku, dan dalam semua kehidupan mereka. Hal ini karena sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah petunjuk yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang semakin semangat mengikutinya, maka semakin dekat untuk dia selalu menempuh jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan inilah sebab kita mencapai keridhaan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    “Sungguh-sungguh telah ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam contoh teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan balasan kebaikan di hari akhir, serta banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)
    Ayat ini menggambarkan bahwasanya teladan yang ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu adalah teladan kebaikan. Berarti jika semakin banyak kita mengikutinya, maka kita akan semakin dimudahkan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menempuh jalannya yang lurus.
    Dan di ayat ini Antum perhatikan, Allah menyebutkan: “Pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,” berarti bukan hanya masalah ibadah atau iman meskipun jelas ini yang paling penting. Tapi juga pada akhlak dan tingkah laku. Makanya dalam tafsir Ibnu Katsir Rahimahullah Ta’ala, beliau berkata:
    هذه الآية الكريمة أصل كبير في التأسى برسول الله صلّى الله عليه وسلّم في أقواله وأفعاله وأحواله
    “Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang paling kuat dan agung, yang menjadi dalil kepada kita untuk mengambil teladan dari petuntuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam ucapan, perbuatan, maupun keadan beliau.”
    Makanya mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari merupakan ciri dari orang-orang yang selalu berusaha untuk meniti jalan Allah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lurus.
    Sebagian dari para ulama, seperti Imam Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah bahkan pernah mengatakan:
    إن استطعت ألا تحك رأسك إلا بأثر فافعل!
    “Kalau kamu mampu untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali dengan mengikuti sunnah, maka lakukan.”
    Tentunya menggaruk kepala merupakan fitrah yang tidak perlu dengan mengikuti sunnah, ketika gatal spontan bergerak. Tetapi karena mulianya mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai dalam perkara yang seperti ini, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa menekankan bahwa seandainya kamu mengetahui ada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hal yang seperti ini maka lakukan sebagai bukti bahwa kita mencintai petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    1 hr 6 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 66 – Berdebat Tanpa Ilmu
    Tafsir Ali Imran Ayat 66 – Berdebat Tanpa Ilmu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis , 29 Rabi’ul Akhir 1444 H / 24 November 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 66 – Berdebat Tanpa Ilmu
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
    “Begitulah kalian, kalian berbantah-bantahan tentang apa yang kalian ketahui, maka kenapa kalian berbantah-bantahan tentang apa yang tidak kalian ketahui? Dan Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.“ (QS. Ali ‘Imran[3]: 66)
    Beberapa pelajaran dari ayat ini adalah:
    Celaan berbantah-bantahan tanpa ilmu
    Berbantah-bantahan tanpa ilmu adalah sesuatu yang tercela. Hal ini dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Kenapa kalian berbantah-bantahan tentang apa-apa yang kalian tidak punya ilmu tentangnya?”
    Betapa banyak kenyataan yang sangat pahit di zaman kita sekarang ini. Banyak manusia di hari ini berbantah-bantahan tanpa ilmu. Bahkan bantah-bantahannya itu hanya sekedar dengan dasar tuntutan dari akal mereka yang sangat pendek. Seperti ucapan sebagian mereka: “Kenapa jadi begini, kenapa jadi begitu, kenapa hal ini haram, kenapa yang ini halal, kenapa yang ini wajib, kenapa yang ini tidak wajib? dan yang semisalnya.” Mereka bertbantah-bantahan tentang hal yang mereka tidak punya ilmunya.
    Banyak dari orang awam yang ternyata mempunyai sedikit kelebihan pandai berbicara. Dan kita tahu bahwa di antara penjelasan bisa membuat orang terpukau. Orang-orang awam ini mendebat penuntut ilmu tentang perkara yang dia tidak tahu.
    Berdebat dengan ilmu
    Diakuinya seseorang kalau berhujjah dengan ilmu. Jadi, kalau ada orang berdebat dengan dasar ilmu maka diakui. Akan tetapi dengan syarat dia punya niat yang baik. Dimana niat berdebatnya adalah untuk memenangkan kebenaran dan membatalkan kebatilan.
    Adapun orang yang berdebat dengan maksud mengalahkan kebenaran dan memenangkan kebatilan (walaupun dengan ilmu), maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini tercela. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ
    “Dan orang-orang yang berbantah-bantahan tentang agama Allah setelah agama itu diterima, maka bantahan mereka itu tidak bermanfaat sama sekali di sisi Allah. Mereka mendapatkan kemurkaan Allah dan bagi mereka azab yang sangat keras.” (QS. Asy-Syura[42]: 16)
    Di ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita bahwa orang yang berbantah-bantahan tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah diterima, maka mereka yang niatnya buruk ini akan mendapatkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan mendapatkan azab yang keras.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Tafsir Ali Imran Ayat 66 – Berdebat Tanpa Ilmu

    Radio Rodja 756AM ·
    39 min
  • Hukum Beribadah di Kuburan Orang Shalih
    Hukum Beribadah di Kuburan Orang Shalih adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 13 Jumadil Awal 1444 H / 07 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Hukum Beribadah di Kuburan Orang Shalih
    Kita telah sampai pada bab tentang sikap tegas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap orang yang beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shalih. Maka bagaimanakah jika orang shalih itu disembah? Tentunya lebih keras dan tegas lagi sikap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Maksud dari bab ini adalah menjelaskan haramnya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di sisi kuburan orang-orang shalih. Ini adalah dan sikap tegas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar tidak beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agar tidak menjadikan orang-orang shalih sebagai Tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hubungan bab ini dengan perihal tauhid adalah menunjukkan bahwa beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang-orang shalih dapat menghantarkan kepada kesyirikan.
    Di dalam kitab Ash-Shahih, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang gereja dengan patung-patung di dalamnya yang dilihat oleh Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha ketika berada di negeri Habasyah. Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أُوْلَئِكَ إِذَا مَاتَ فِيْهِمُ الرّجُلُ الصّالِحُ، أَوْ العَبْدُ الصّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصّوَرَ، أُوْلَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللهِ
    “Mereka itu, apabila ada orang yang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal dunia, mereka membangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah, dan membuat di dalamnya tempat itu patung-patung, mereka itulah sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Mereka ini dihukumi sebagai sejelek-jelek makhluk karena melakukan dua kerusakan sekaligus. Yaitu: (1) kerusakan memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya, dan (2) kerusakan membuat patung-patung dan gambar-gambar makhluk hidup.
    Beribadah kepada orang shalih adalah syirik akbar. Dan beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shalih adalah sarana yang menghantarkan kepada beribadah kepada orang shalih tersebut. Dan sarana-sarana yang mengantarkan kepada kesyirikan adalah diharamkan. Karena sarana-sarana tersebut menghantarkan kepada syirik akbar. Dan syirik akbar adalah dosa paling besar.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hukum Beribadah di Kuburan Orang Shalih
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Hukum Beribadah di Kuburan Orang Shalih” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya.
    1 hr 10 min
  • Bolehkah Anak Dipukul?
    Bolehkah Anak Dipukul? merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 12 Jumadil Awal 1444 H / 06 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Melakukan Pendekatan Kepada Anak
    Bolehkah Anak Dipukul?
    Dalam hadits disebutkan dispensasi untuk memukul. Kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ
    “Pukullah mereka pada saat berusia 10 tahun.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Hakim, dan yang lainnya)
    Ini memberikan batasan usia anak boleh diberi hukuman, dan hukuman yang terberat yaitu pukulan di usia 10 tahun ke atas. Artinya bahwa 10 tahun ke bawah anak tidak perlu dihukum dengan pukulan.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru membolehkan memberikan hukuman berupa pukulan pada saat usia 10 tahun keatas. Itu adalah izin/dispensasi seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا
    “Jika kamu sudah tahallul maka berburulah.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 2)
    Ini bukan berarti berburu itu wajib setelah tahallul, tapi itu izin/pembolehan/dispensasi yang mana sebelumnya itu sesuatu yang tidak dibolehkan.
    Demikian juga dalam bab ini, dimana sebelumnya tidak dibolehkan memberikan pukulan kepada anak di bawah usia 10 tahun. Kemudian di atas usia itu ada izin untuk memukul, tapi bukan berarti harus memukul.
    Sebagian orang tua ada yang memang keinginan nafsunya adalah memukul anak, bahkan anak di bawah usia 10 tahun dipukul dengan pukulan sangat keras yang membuat dia menderita sakit ataupun kehilangan nyawa. Ini tentunya tidak dibenarkan dalam Islam. Maka Nabi tidak membolehkan hukuman berupa pukulan itu di bawah 10 tahun.
    Pada umur 10 tahun ke atas baru ada izin untuk memberikan pukulan. Sekali lagi bahwa izin di sini bukan berarti harus dipukul. Karena Nabi sendiri tidak pernah memukul anak.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Bolehkah Anak Dipukul?
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Bolehkah Anak Dipukul?” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    54 min
  • Memberikan Kelonggaran Kepada Orang Yang Sulit Membayar Hutang
    Memberikan Kelonggaran Kepada Orang Yang Sulit Membayar Hutang adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 12 Jumadil Awwal 1444 H / 06 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Budak Yang Menunaikan Kewajiban
    Memberikan Kelonggaran Kepada Orang Yang Sulit Membayar Hutang
    Keutamaan orang yang mempermudah dalam berjual beli, dia tidak menyulitkan para hamba Allah. Demikian juga dalam hutang-piutang dan yang lainnya. Maka dia akan diberikan balasan yang besar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hadits terakhir yang kita bahas adalah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    وعَنْ أبي قَتَادَةَ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قَالَ : سمِعْتُ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ : «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنَجِّيَهُ اللَّه مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ ، فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أوْ يَضَعْ عَنْهُ » رواهُ مسلمٌ .
    Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang dia senang agar dia diselamatkan oleh Allah dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat, maka hendaknya ia memberikan kelonggaran kepada orang yang dalam keadaan kesulitan (membayar hutang).’” (HR. Muslim)
    Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini menggambarkan kepada kita tentang keutamaan orang yang meluaskan seseorang yang dalam keadaan sulit ketika dia berhutang, sehingga dia tidak mampu membayarnya disaat dia harus membayarnya. Dia tidak mampu karena belum mendapatkan sesuatu yang dengannya dia membayar atau menebus hutangnya.
    Orang yang memberikan kelonggaran (perpanjangan waktu) kepada orang yang berhutang, maka dia akan diselamatkan oleh Allah dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat kelak. Atau pilihan kedua adalah membebaskan hutang tersebut.
    Hadits ini memberikan pelajaran kepada kita tentang Al-Qardhul Hasan (pinjaman yang baik). Pinjaman yang baik yang dimaksud adalah tidak ada bunganya. Jadi seseorang betul-betul dia meminjamkan kepada saudaranya yang membutuhkan pinjaman dan dia tidak mengambil riba dari pinjaman yang diberikan kepada saudaranya tersebut. Dia murni membantu orang yang membutuhkan pinjaman darinya.
    Kemudian di antara pelajaran yang diambil dari hadis ini yaitu dianjurkannya memberikan penangguhan waktu kepada orang yang tidak mampu membayar hutangnya disaat harus membayar hutangnya.
    Kita tahu bahwa hutang piutang itu ada perjanjiannya, ditulis jatuh temponya. Apabila datang saatnya yang dia harus membayar, tapi betul-betul dia belum mempunyai uang untuk membayar hutang tersebut, lalu ditangguhkan oleh orang yang memberikan pinjaman pada orang itu, maka dia akan diselamatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat kelak.
    Namun yang perlu dipahami dalam masalah ini bahwa orang yang berhutang itu betul-betul memang tidak mempunyai sesuatu untuk membayar hutang. Karena kita hidup di zaman yang terkadang seorang ketika dia berhutang sudah tertancap dalam niatnya tidak akan membayarnya. Na’udzubillah. Ini adalah sifat yang buruk, bukan sifat orang yang beriman.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    1 hr 26 min
  • Pakaian Untuk Mencari Sensasi
    Pakaian Untuk Mencari Sensasi ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 10 Jumadil Awwal 1444 H / 5 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Talbis Iblis Pakaian Untuk Mencari Sensasi
    Ibnul Jauzi membuat satu kaidah bahwa setiap pakaian yang mengandung unsur mencari popularitas diri, maka hukumnya dibenci ataupun makruh. Oleh karena itu beliau membawakan suatu riwayat dari Bisyr bin Al-Harits, ia mengatakan: “Ibnul Mubarak masuk ke masjid pada hari Jumat dengan mengenakan peci. Lalu dia melihat orang-orang tidak mengenakan peci seperti yang dia kenakan. Maka ia pun melepasnya lalu melipatnya ke dalam lengan bajunya.”
    Ibnul Mubarak melakukannya karena peci yang beliau kenakan itu tidak biasa dan tidak dikenal di tempat itu. Maka beliau melepasnya supaya tidak memancing perhatian manusia kepada dirinya. Karena setiap pakaian yang mengandung unsur mencari perhatian manusia atau bisa mengalihkan perhatian manusia kepada dirinya, maka sebaiknya itu ditinggalkan ataupun tidak dilakukan. Karena dikhawatirkan masuk dalam kategori pakaian syuhrah. Tentunya dengan catatan bahwa pakaian penduduk setempat itu tidak bertentangan dengan syariat.
    Misalnya di Indonesia ada beberapa jenis-jenis pakaian yang biasa dipakai di sini. Selama pakaian-pakaian itu tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah berpakaian dalam Islam, maka kita boleh mengenakannya. Bahkan itu lebih baik apabila pakaian yang berbeda dengan itu bisa dikhawatirkan masuk ke dalam pakaian syuhrah.
    Adapun gamis, maka gamis adalah sesuatu yang disukai Nabi. Hukumnya mustahab, tidak wajib. Tapi itu tidak populer ataupun tidak familiar di beberapa tempat, mereka mengenakan pakaian yang lain. Selama pakaian penduduk lokal itu tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah berpakaian dalam Islam, maka kita boleh mengenakannya. Bahkan lebih bagus mengenakan seperti yang dikenakan oleh kebanyakan manusia untuk menghindari jatuhnya kita ke dalam pakaian syuhrah. Maka menghindarinya jauh lebih baik. Karena menghindari satu yang makruh itu lebih didahulukan daripada mengerjakan sesuatu yang masih dalam kategori mustahab/dianjurkan/disukai.
    Ini kaidah yang dibuat oleh Ibnul Jauzi berkaitan dengan pakaian syuhrah yang dijadikan oleh iblis sebagai salah satu tipu dayanya terhadap kaum Sufi di dalam hal berpakaian. Maka beliau menyimpulkan bahwa setiap pakaian yang mengandung unsur mencari popularitas diri atau mencari perhatian manusia kepadanya, maka hukumnya dibenci.
    Lalu bagaimana tipu daya iblis terhadap kaum sufi dalam hal makanan dan minuman? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Pakaian Untuk Mencari Sensasi
    Mari turut membagikan link download kajian “Pakaian Untuk Mencari Sensasi” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    30 min
  • Zalim Tanpa Sadar
    Zalim Tanpa Sadar merupakan bagian dari kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 10 Jumadil Awwal 1444 H / 5 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Zalim Tanpa Sadar
    Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri, mau tidak mau kita akan berinteraksi dengan orang lain. Mulai dari orang-orang terdekat, ayah dan ibu, suami atau istri, kakak atau adik, anak-anak, dan orang-orang yang masih kerabat dengan kita. Mulai dari orang yang bertetangga, atau rekan kerja di kantor, atau yang kita temui di jalanan, di pasar, dan di tempat-tempat umum. Mau tidak mau kita harus berinteraksi dengan mereka.
    Islam mengajarkan bahwa seorang manusia ketika berinteraksi dengan orang lain, maka ada aturan yang harus diperhatikan. Ada hak-hak mereka yang harus ditunaikan, dan ada kewajiban yang harus kita jalankan.
    Tentunya hak satu orang dengan orang yang lain berbeda-beda. Kewajiban kepada orang yang kita kenal dengan yang tidak kita kenal, tentu tidak sama. Kewajiban kita kepada orang yang punya hubungan darah tidak sama dengan kewajiban terhadap orang yang tidak punya hubungan darah.
    Yang perlu dipahami bahwa semakin dekat hubungan seseorang dengan kita, maka hak dia atas kita semakin besar. Sehingga haknya bapak dan ibu lebih besar daripada haknya bos kita. Haknya suami/istri lebih besar daripada haknya teman arisan. Haknya anak lebih besar daripada haknya teman group WA.
    Hal ini harus kita pahami. Karena kenyataannya justru tidak sedikit orang-orang terdekat tadi yang malah sering mengalami perilaku tidak terpuji dari kita. Tidak jarang ayah dan ibu jadi korban dari perilaku buruk anaknya, padahal anak punya kewajiban yang sangat besar kepada orang tua. Betapa banyak anak yang jadi korban perilaku buruk bapak dan ibunya, padahal hak anak atas orang tuanya sangat besar. Betapa banyak suami yang jadi korban perilaku buruk istrinya, padahal kewajiban istri kepada suami sangat besar atau sebaliknya.
    Ketahuilah bahwa apa yang kita lakukan hari ini di dunia ada pertanggungjawabannya di akhirat. Jangan pernah berpikir bahwa perilaku kita di dunia itu tidak ada konsekuensinya di akhirat. Apalagi seandainya yang kita lakukan itu adalah perbuatan zalim. Dan itu sayangnya sering terjadi terhadap orang-orang yang sangat dekat dengan kita. Ketahuilah bahwa perbuatan zalim itu akibatnya mengerikan, baik di dunia atau di akhirat.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Zalim Tanpa Sadar
    Mari turut membagikan link download kajian “Zalim Tanpa Sadar” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    46 min
  • Keluar dari Api Neraka
    Keluar dari Api Neraka merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 9 Jumadil Awwal 1444 H / 4 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Melihat Malaikat Jibril

    Kajian Hadits Tentang Keluar dari Api Neraka
    Bab keluarnya orang-orang yang wafat di atas tauhid dari api neraka. Maksudnya bahwa beliau ingin menjelaskan tentang keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Bahwa di antara keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang melakukan dosa besar tidak kekal di neraka, selama ia wafat diatas tauhid. Ini berbeda dengan orang-orang Khawarij dan Mu’tazilah. Dimana mereka meyakini bahwa pelaku dosa besar kekal dalam api neraka.
    Hadits 87:
    عن أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ – رضي الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحْيَوْنَ وَلَكِنْ نَاسٌ منكم أَصَابَتْهُمْ النَّارُ بِذُنُوبِهِمْ أَوْ قَالَ بِخَطَايَاهُمْ فَأَمَاتَهُمْ اللهُ تعالى إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحْمًا أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ فَجِيءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ ضَبَائِرَفَبُثُّوا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ثُمَّ قِيلَ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيضُوا عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُونُ في حَمِيلِ السَّيْلِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ كَأَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كَانَ بِالْبَادِيَةِ.
    Dari Abu Sa’id Al-Khudri -semoga Allah meridhainya- Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Adapun penduduk neraka yang mereka akan kekal dalam api nereka, maka mereka tidak akan mati dan tidak pula hidup. Namun ada orang-orang dari kalian (kaum muslimin) yang mereka itu masuk neraka akibat dosa-dosa mereka. Maka Allah pun matikan mereka. Sehingga ketika mereka telah menjadi arang, diberikanlah izin untuk diberikan syafaat. Lalu didatangkanlah mereka sekelompok-sekelompok. Lalu mereka pun dicelupkan dalam sungai-sungai surga. Kemudian dikatakan: ‘Wahai penduduk surga, guyurkan air ke mereka.’ Lalu mereka pun tumbuhlah seperti tumbuhnya biji yang berada di pinggir aliran air.” Maka ada seorang laki-laki dari kaum itu berkata: “Seakan-akan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah tinggal di pedesaan.” (HR. Muslim)
    Hadits ini menunjukkan bahwa berbeda keadaan orang kafir dengan orang beriman yang masuk ke dalam api neraka. Adapun orang-orang kafir, mereka kekal selamanya, tidak akan pernah mereka keluar dari api neraka. Na’udzubillah, nas’alullah as-salamah wal ‘afiyah.
    Adapun orang beriman yang mereka mati membawa dosa dan tidak bertaubat kepada Allah dikarenakan kurang sempurna tauhid mereka -karena tauhid itu semakin sempurna maka menyebabkan seseorang semakin jauh dari dosa. Dan semakin kurang sempurna tauhidnya, semakin kurang dia untuk mencegah dari perbuatan maksiat. Orang-orang yang mentauhidkan Allah tapi membawa dosa ini mereka dilemparkan ke dalam api neraka sesuai dengan dosa-dosa mereka. Setelah mereka bersih dari dosa, mereka diwafatkan. Berbeda dengan orang kafir yang tidak hidup dan tidak mati, mereka terus diadzab tak pernah ada habis-habisnya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    52 min
  • Jangan Jadi Hamba Dunia
    Jangan Jadi Hamba Dunia adalah kajian tematik yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah pada Sabtu, 8 Jumadil Awwal 1444 H / 3 Desember 2022 M.
    Jangan Jadi Hamba Dunia
    Dunia banyak sekali banyak sekali telah menyeret kaki manusia ke murka dan neraka Allah. Kita sadar bahaya dan tipuan-tipuan dunia disaat diingatkan, namun setelah itu hilang lagi. Pada dunia itu terdapat di dalamnya tipuan-tipuan, sehingga banyak sekali langkah kita yang salah. Ini yang merupakan bentuk daripada pembuktian kebenaran firman Allah Tabaraka wa Ta’ala akan dunia yang sangat sarat dengan tipuan. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
    “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian kepada hari dimana seorang ayah tidak akan bisa memberikan manfaat apapun kepada anaknya, dimana seorang anak tidak bisa memberikan apapun kepada ayahnya. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka jangan sampai kehidupan dunia menipu kalian, dan jangan pula setan memperdayakan kamu dalam mentaati Allah.” ((QS. Luqman[31]: 33)
    Hari akhirat, dimana semua pertolongan hanya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua kebutuhan manusia yang diinginkan manusia tidak datang dari manusia, tapi datang dari Allah.
    “Jangan sampai kehidupan dunia menipu kalian.” Orang-orang yang hidup di permukaan bumi melihat dunia ini begitu indah. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi kita tercinta dalam hadits yang shahih riwayat Imam Muslim:
    إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ
    “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau.” (HR. Muslim)
    Manis artinya dinikmati oleh lisan, dan hijau artinya indah ketika dinikmati oleh mata. Ini penyebab dunia itu begitu banyak memfitnah manusia. Ini adalah tipuan dan godaan yang luar biasa, sehingga membuat kaki manusia banyak terjerumus dalam kehidupan dunia yang fana dan hancur dalam kehidupan akhirat.
    Oleh karena itu Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan kepada kita Al-Qur’an dan megutus Nabi kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Itu semua adalah untuk memberikan petunjuk kepada kita yang hidup di permukaan bumi tentang bagaimana berhadapan dengan dunia supaya tidak salah langkah.
    Allah Tabaraka wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an menerangkan kepada kita tentang dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits-hadits beliau menerangkan kepada kita akan hakikat dunia. Dan hendaklah kita memandang dunia sesuai dengan apa yang Allah ajarkan kepada kita di dalam Al-Qur’an dan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits-haditsnya. Agar kita mengerti apa itu dunia, sehingga tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia.
    Dunia itu sedikit
    Menit ke- Ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala berbicara kepada kita dan RasulNya berbicara kepada kita tentang dunia, Allah dan RasulNya mengatakan bahwa dunia itu sangatlah sedikit.
    Kita sering menatap dunia itu sesuatu yang banyak, besar dan mewah, padahal Allah Tabaraka wa Ta’ala menerangkan hakikat dunia itu adalah sedikit. Dan pandangan mata ini yang sering membuat kita tertipu, dimana kita memandang dunia dengan sesuatu yang besar dan banyak. Ini tipuan dunia.
    Ketika kita memandang bahwa orang yang memiliki harta itu telah mendapatkan sesuatu yang luar biasa, ini adalah tipuan dunia. Sampai hatimu melihat dunia beserta isinya itu kecil dan sedikit, saat itulah baru Anda adalah orang yang sesuai dengan apa yang Allah Tabaraka wa Ta’ala inginkan.
    1 hr 13 min
  • Karamah Para Wali
    Karamah Para Wali adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 27 Syawal 1443 H / 28 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Setia dan Cinta Kepada Ahlul Bait
    Karamah Para Wali
    Karamah para wali ini dibahas oleh para ulama dalam kitab-kitab aqidah. Hal ini karena ada sebagian dari kelompok sesat yang mengingkari tentang karamah para wali ini.
    Karamah artinya kemuliaan yang Allah berikan kepada para wali. Yang dikatakan wali adalah orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ‎﴿٦٢﴾‏ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ‎﴿٦٣﴾
    “Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” (QS. Yunus[10]: 62-63)
    Kemuliaan para wali ini dibahas dalam kitab-kitab aqidah untuk menjelaskan tentang kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Karamah adalah keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa. Tapi bukan berarti satu keharusan kalau orang yang beriman dan bertakwa pasti mempunyai karamah. Semua Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum adalah wali-wali Allah, tapi yang mendapatkan karamah hanya berapa orang saja.
    Keluarbiasaan yang Allah berikan untuk para Nabi dan Rasul namanya mukjizat, adapun untuk para wali namanya karamah. Ada juga keluarbiasaan dari tukang-tukang sihir atau dukun, tapi ini sesat dan menyesatkan karena dibantu oleh setan. Oleh karena itu mereka dikatakan sebagai wali setan.
    Karamah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang tertentu tanpa dipelajari, hanya terjadi saat itu dan tidak bisa diulang lagi. Adapun sihir bisa dipelajari.
    Ahlus Sunnah wal Jama’ah Mempercayai Karamah Para Wali
    Menit ke- Termasuk dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu membenarkan (mempercayai) karamah para wali dan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla tunjukkan melalui mereka dari hal-hal yang luar biasa.
    Tentang karamah para wali, telah dibahas oleh para ulama Ahlus Sunnah karena ada golongan yang mengingkari tentang adanya karamah para wali. Mereka adalah golongan Mu’tazilah, Jahmiyyah dan sebagian dari Asy’ariyyah. Ada juga golongan yang ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menetapkan karamah, mereka meyakini dan mengatakan bahwa setiap yang luar biasa adalah karamah, meskipun itu adalah sihir dan kedustaan. Mereka adalah golongan thariqat Shufiyyah dan penyembah kubur. Adapun Ahlus Sunnah menetapkan karamah para wali sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shahih.
    Yang dimaksud dengan karamah adalah apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan melalui tangan para waliNya yang mukmin berupa keluarbiasaan, seperti ilmu, kekuasaan dan lainnya. Misalnya makanan yang Allah berikan kepada Maryam binti ‘Imran, naungan yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada ‘Usaid bin Hudhair ketika membaca Al-Qur’an, serta berita-berita mengenai para pemuka dari ummat ini, yaitu para Sahabat, Tabi’in dan generasi berikutnya dari ummat Islam. Karamah tersebut akan tetap ada pada umat ini sampai datangnya hari Kiamat.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengisahkan Maryam binti ‘Imran:
    فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا ن...
    0 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah