Khutbah Jumat: Jangan Senang Dipuji Manusia ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 3 Dzul Qa’dah 1443 H / 03 Juni 2022 M.
Khutbah Pertama Tentang Jangan Senang Dipuji Manusia
Semua kita adalah hamba Allah. Dan semua kita wajib untuk menghambakan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak diperkenankan seorang hamba untuk menyatakan bahwasanya dirinya adalah lebih baik daripada orang lain. Iblis yang pertama kali mengatakan:
اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ
“Aku lebih baik darinya.” (QS. Al-A’raf[7]: 12)
Karena ketika kita merasa lebih baik, kita seringkali memunculkan sifat kesombongan dihati.
Demikian pula kita pun dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mempunyai sifat suka dipuji oleh orang lain. Dalam hadits yang dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ
“Jauhi oleh kalian sifat merasa suka dipuji oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah)
Karena ketika kita merasa suka dipuji, itulah yang menjadi pintu untuk riya. Sehingga kita ingin supaya ibadah kita terlihat oleh orang lain, kita ingin kelebihan kita terlihat oleh orang lain, sehingga pada waktu itu kita mengharapkan pujian manusia. Padahal pujian manusia tidak ada manfaatnya untuk kita sama sekali.
Islam menyuruh kita untuk hanya mengharapkan pujian Allah semata. Islam menyuruh kita untuk mempunyai pandangan dan pikiran bahwasannya pujian Allah itu segala-galanya.
Maka dari itulah riya’ termasuk syirik. Karena seakan-akan ia menyamakan antara pujian Allah dengan pujian manusia, seakan-akan kita tidak merasa cukup dengan pujian Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga kita merasa butuh kepada pujian manusia. Padahal pujian manusia itu hakikatnya adalah:
الذَّبْحُ
“Sembelihan untuk kita.”
Ketika seseorang ada yang memuji temannya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan temannya ada di situ sedang shalat, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bersabda kepada dia:
قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ
“Kamu sudah memenggal leher saudaramu sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh apabila ada orang yang memuji-muji kita di hadapan kita, kata Rasulullah: “Maka taburkan ke wajahnya debu.”
Semua ini menunjukkan agar kita tidak menjadi hamba yang suka pujian manusia. Karena banyak orang demi untuk mendapatkan pujian manusia akhirnya tidak peduli dengan syariat Allah ‘Azza wa Jalla, dia tidak peduli apakah amalnya diterima atau tidak. Padahal riya’ (ingin dilihat manusia, ingin dipuji manusia) dosanya berat dimata Allah ‘Azza wa Jalla.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa ada tiga orang yang pertama kali diputuskan dan dilemparkan kedalam api neraka. Yang pertama kata Rasulullah adalah seorang yang alim dan qari’.
Lalu Allah bertanya kepadanya pada hari kiamat: “Apa amalmu waktu di dunia?” Dia berkata: “Dahulu di dunia aku mempelajari ilmu, aku mengajarkan ilmu karena Engkau, aku baca Qur’an pun karena engkau.”
Maka Allah berfirman: “Kamu dusta. Kamu dahulu menuntut ilmu hanya ingin disebut ulama. Kamu pun juga membaca Al-Qur’an hanya ingin disebut qari’. Dan kamu sudah mendapatkan sebutan itu.” Lalu kemudian ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka jahanam.
Saudaraku.. Pujian manusia tidak ada manfaatnya untuk kita. Bahkan Al-Imam Ibnul Jauzi mengatakan bahwa celaan manusia lebih bermanfaat buat k...