Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Makar Yang Buruk Kembali Kepada Pembuatnya
    Makar Yang Buruk Kembali Kepada Pembuatnya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 26 Rabi’ul Akhir 1444 H / 21 November 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keuntungan Menunaikan Zakat
    Makar Yang Buruk Kembali Kepada Pembuatnya
    Pada kesempatan ini kita akan membahas pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Ashabul Jannah. Di antaranya:
    Pertama, makar atau tipu daya yang buruk tidak akan kembali kecuali kepada orang yang membuat makar itu. Ini sebuah kaidah yang pasti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ…
    “Makar yang buruk itu tidak akan kembali melainkan kepada orang yang membuat makar tersebut.” (QS. Fathir[35]: 43)
    Ini diambil dari kisah Ashabul Jannah, ketika mereka bersepakat membuat makar di malam hari. Mereka ingin panen di pagi-pagi hari yang mana orang-orang miskin tidak mendapatkan sedekahnya. Hal ini dikarenakan kebakhilan mereka sehingga mengharamkan orang miskin untuk mendapatkan haknya. Dan justru makar itu kembali kepada mereka.
    Di surah An-Naml, Allah berfirman:
    وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ ‎﴿٥٠﴾‏ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ ‎﴿٥١﴾
    “Mereka membuat makar (tipu daya) dan Kami juga membuat makar membalas makar mereka, sedang mereka tidak mengetahuinya. Maka lihatlah bagaimana akhir dari makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.” (QS. An-Naml[27]: 50-51)
    Makar mereka membuat mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kita bisa lihat surah Al-Qalam di ayat yang ke-17, mereka bersumpah: “Kami akan panen dipagi-pagi hari.” Kemudian di ayat yang ke-19, Allah berfirman:
    فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ ‎﴿١٩﴾‏ فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ ‎﴿٢٠﴾
    “Lalu kebun itu ditimpa bencana yang datang dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.” (QS. Al-Qalam[68]: 19-20)
    Di sini makarnya kembali kepada mereka.
    Banyak contoh makar yang buruk itu selalu tidak akan kembali kecuali kepada orang yang membuat makar itu.
    Apa saja contoh-contoh yang disebutkan dalam Al-Qur’an? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Makar Yang Buruk Kembali Kepada Pembuatnya
    Mari turut membagikan link download kajian “Makar Yang Buruk Kembali Kepada Pembuatnya” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    49 min
  • Talbis Iblis Dalam Hal Memperindah Pakaian
    Talbis Iblis Dalam Hal Memperindah Pakaian ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 26 Rabi’ul Akhir 1444 H / 21 November 2022 M.

    Kajian Tentang Talbis Iblis Dalam Hal Memperindah Pakaian
    Memperindah pakaian tentunya tidak berarti kesombongan, dan tidak pula berarti ketidakzuhud. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan ketika seseorang berkata: “Sesungguhnya seseorang senang apabila pakaiannya bagus/indah, sandalnya juga bagus.” Maka Nabi tidak menafikan/menolak ucapan itu, dan Nabi berkata:
    إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
    “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)
    Lihat juga: Mengajarkan Seni dan Keindahan Kepada Anak
    Memperindah pakaian itu tidak identik dengan kesombongan. Ketika Nabi berkata: “Tidak akan masuk surga orang yang ada di dalam hatinya sebesar biji sawi kesombongan,” lalu laki-laki itu mengira bahwa berpakaian yang bagus adalah bentuk kesombongan.
    Ini yang kadangkala disalah pahami oleh sebagian orang. Lalu dia menunjukkan kezuhudan itu dengan berpakaian yang lusuh, sengaja memotong-motong pakaiannya. Ibnul Jauzi mengatakan ini satu kebodohan, kecerobohan dan sikap jauh dari ilmu. Bahkan terdapat riwayat dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menegaskan bahwa kita dilarang membuang-buang dan menyia-nyiakan harta. Maka tindakan sebagian dari mereka yang merobek-robek pakaiannya supaya nampak terlihat seperti orang zuhud adalah termasuk membuang-buang harta.
    Salah satu talbis iblis terhadap mereka juga adalah memotong pakaian secara berlebihan. Ibnul Jauzi mengatakan bahwa di kalangan sufi ada orang yang memendekkan pakaiannya secara berlebihan, sehingga pakaian itu digolongkan sebagai pakaian syuhrah (pakaian untuk mencari sensasi).
    Diriwayatkan dari Abu Sa’id, tatkala ditanya tentang sarung, ia menjawab: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إزار المسلم إلى إنصاف الساقين لا جناح أو لا حرج عليه ما بينه وبين الكعبين ما كان أسفل من ذلك فهو النار
    “Kain sarung seorang muslim itu hingga pertengahan betis. Tidak ada halangan atasnya untuk mengenakan sarung hingga batas antara pertengahan betis dan kedua mata kakinya. Dan yang mengenakan kain sarungnya di bawah mata kaki itu tempatnya di neraka.”
    Di sini Nabi menjelaskan tentang batas maksimal seorang memotong celana atau sarungnya. Yaitu sampai pertengahan kedua betisnya. Maka jangan dia mengangkat lebih dari pertengahan betis, dan tidak boleh pula dia menurunkan lebih dari mata kaki. Begitulah penampilan kain sarung/celana seorang mukmin.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Talbis Iblis Dalam Hal Memperindah Pakaian
    Mari turut membagikan link download
    31 min
  • Menegakkan Syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Menegakkan Syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 11 Rajab 1443 H / 12 Februari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Berhukum dengan Apa Yang Diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Menegakkan Syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala
    6. Usaha untuk menegakkan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala di negeri yang syari’at itu tidak diterapkan dan upaya untuk memulai kembali kehidupan secara Islami diatas manhaj Nubuwwah yang dapat mempersatukan kaum muslimin dan mempertautkan kalimat mereka adalah kewajiban syar’i yang terkandung dalam manhaj taghyir Rabbani (metode merubah keadaan masyarakat menurut syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala).
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
    “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 11)
    Asalkan usaha itu tidak dilakukan dengan cara hizbiyyah (kelompok/golongan yang mempunyai prinsip dan tujuan tertentu) yang rusak, atau ashabiyyah (fanatisme kelompok) yang merugikan!
    Usaha menegakkan syari’at Islam harus dilakukan dengan dakwah yang aman dan benar, dengan ilmu yang bermanfaat, dengan keyakinan dan kesabaran, serta tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.
    Di samping itu, dibutuhkan kerjasama dalam kebaikan dan taqwa, saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran dengan membersihkan noda-noda yang mengotori aqidah kaum Muslimin, serta mendidik mereka di atas manhaj yang haq (benar).
    Setiap muslim selalu mendambakan tegaknya syariat Islam. Dan menegakkan syariat Islam harus dimulai dari setiap pribadi muslim, memperbaiki diri dan keluarga dengan menuntut ilmu syar’i, melaksanakan amal-amal shalih, menegakkan tauhid, menjauhkan syirik, melaksanakan sunnah, menjauhkan bid’ah dan lainnya.
    Menegakkan syariat Islam harus dimulai dengan menegakkan tauhid agar manusia beribadah hanya kepada Allah saja dan tidak berbuat syirik. Allah Subhanahu ta’ala berfirman:
    … إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ…
    “Hukum itu hanyalah milik Allah, Allah telah memerintahkan agar kalian tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah saja.” (QS. Yusuf[12]: 45)
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download Mp3 Menegakkan Syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala

    Radio Rodja 756AM · Menegakkan Syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Jangan lupa untuk membagikan link download kajian tentang “Menegakkan Syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala” ini melalui Facebook, Twitter atau yang lainnya. Jazakumullahu khoiron.
    16 min
  • Berhukum dengan Apa Yang Diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Berhukum dengan Apa Yang Diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 4 Rajab 1443 H / 05 Februari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Jangan Memastikan Adzab Bagi Seseorang
    Berhukum dengan Apa Yang Diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Ahlus Sunnah adalah orang yang sangat mendambakan terlaksananya hukum Islam, sebagaimana dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Khulafa-ur Rasyidin Radhiyallahu anhum. Prinsip Ahlus Sunnah tentang penegakan syari’at Islam di muka bumi dan berhukum dengan apa yang diturunkan Allah sebagai berikut:
    1. Berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan pemahaman yang luas) adalah kewajiban ummat Islam, baik secara individu atau pun kelompok, baik ia seorang penguasa maupun rakyat jelata. Karena setiap mereka adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pimpin. Adapun pelaksanaan hak-hak Syar’i (yang berkaitan dengan had, qishas, dera dan lainnya) yang berhak melaksanakannya adalah Ulil Amri (pemerintah).
    2. Berhukum dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala hal dengan sempurna. Termasuk di dalamnya masalah-masalah ummat secara keseluruhan; dalam bidang ‘aqidah, dakwah, pendidikan, moral, ekonomi, politik, hubungan sosial, dan sebagainya.
    3. Meninggalkan pelaksanaan hukum Allah ‘Azza wa Jalla adalah fitnah yang besar, penyebab datangnya cobaan (bencana), perpecahan, kehinaan dan kerendahan yang menimpa seluruh ummat ini secara bersama-sama maupun sendirian. Oleh karena itu tidak boleh menganggap remeh, sepele tentang masalah ini.
    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
    Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadap kepada kami lalu beliau bersabda: ‘Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh kedalamnya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menjumpainya;

    * Tidaklah dilakukan perbuatan zina di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi-generasi sebelumnya.
    * Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpa dengan paceklik (susahnya penghidupan) dan akan ditimpa kedzaliman penguasa atas mereka.
    * Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari...
    3 min
  • Jangan Memastikan Adzab Bagi Seseorang
    Jangan Memastikan Adzab Bagi Seseorang adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada 13 Jumadal Awal 1443 H / 11 Desember 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Masuk Surga dengan Sebab Rahmat Allah
    Jangan Memastikan Adzab Bagi Seseorang
    7. Menit ke- Ahlus Sunnah tidak memastikan adzab bagi setiap orang yang diancam dengan siksaan (kecuali bagi orang yang mengerjakan kekufuran). Karena bisa jadi Allah mengampuni dengan sebab ketaatannya, taubatnya, musibah-musibah yang dialaminya dan sakit yang dapat menghapuskan dosa-dosanya dan yang lainnya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
    “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.’” (QS. Az-Zumar[39]: 53)
    8. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa setiap makhluk mempunyai ajal kematian. Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Apabila telah datang ajalnya, maka tidak dapat ditangguhkan dan disegerakan sesaat pun juga. Maka sesungguhnya kematiannya akan datang pada waktu yang telah ditentukan.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا
    “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya….” (QS. Ali ‘Imran[3]: 145)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
    “Katakanlah (Muhammad): ‘Aku tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.’ Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun juga.” (QS. Yunus[10]: 49)
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download Mp3 Kajian Masuk Surga dengan Sebab Rahmat Allah

    Radio Rodja 756AM · Jangan Memastikan Adzab Bagi Seseorang
    Jangan lupa untuk membagikan link download kajian tentang “Jangan Memastikan Adzab Bagi Seseorang” ini melalui Facebook, Twitter atau yang lainnya. Jazakumullahu khoiron.
    8 min
  • Bahaya Mengagungkan Kuburan Orang Shalih
    Bahaya Mengagungkan Kuburan Orang Shalih adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 21 Rabi’ul Akhir 1444 H / 16 November 2022 M.

    Kajian Tentang Bahaya Mengagungkan Kuburan Orang Shalih
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Dan masih saja setan membisikkan kepada para penyembah-penyembah kubur dan memberikan ke dalam diri mereka bahwa membangun dan beri’tikaf di sekitar kuburan adalah termasuk daripada mencintai penghuni kubur dari para Nabi ataupun orang-orang shalih, bahwa doa di sisi kuburan orang-orang shalih dikabulkan.
    Kemudian setan memindahkan dari tingkatan itu untuk berdoa dengan menjadikan orang-orang yang sudah dikubur sebagai perantara, bersumpah atas Allah dengan orang-orang yang sudah dikubur tersebut. Padahal sesungguhnya kedudukan Allah lebih agung sehingga tidak patut diucapkan sumpah dengan menyebut nama orang-orang shalih tersebut di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atau daripada Allah dimintai dengan menyebutkan orang-orang dari makhluk-makhlukNya.
    Kalau sudah tetap hal itu pada diri mereka, maka mereka berpindah dari keadaan seperti itu kepada berdoa dan beribadah kepada penghuni kubur, dan meminta syafaat kepada selain Allah, menjadikan kuburan orang shalih tersebut sebagai berhala yang digantungi kain dan botol-botol, terkadang thawaf di sekelilingnya, diusap dan dicium, bahkan diniati untuk menunaikan ibadah haji kepada kuburan tersebut, terkadang menyembelih di sisi kuburan tersebut.
    Kalau itu sudah dilakukan, maka berpindah dari mengajak manusia untuk beribadah kepada orang yang sudah dikubur tadi, dan akhirnya menjadikan kubur tersebut sebagai tempat yang diziarahi berulang-ulang, dan sebagai tempat ibadah. Mereka menganggap bahwa perbuatan demikian lebih bermanfaat bagi mereka dalam urusan dunia dan akhirat mereka.
    Semua ini sudah diketahui secara pengetahuan yang sangat mendasar dari ajaran Islam bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan risalah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berupa mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Setelah itu, maka berpindah lagi kepada yang lebih parah. Yaitu siapa yang melarang perbuatan tadi, maka sungguh dia telah meremahkan orang-orang yang memiliki martabat yang tinggi, dan menurunkan dari kedudukan mereka. Ia mengira bahwa tidak ada kehormatan dan kedudukan bagi mereka, maka orang-orang musyrik pun marah dan gusar hati-hati mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
    “Jika disebut nama Allah semata, maka murka hati-hati orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan jika disebutkan orang-orang yang disembah selain Allah, maka mereka gembira.” (QS. Az-Zumar[39]: 45)
    Hal ini berlaku pada kebanyakan orang-orang yang tidak mengerti dan orang-orang yang rendah ilmunya, bahkan kebanyakan dari orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dan agama, sampai mereka memusuhi orang-orang yang berusaha mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan yang keji, dan menjauhkan manusia dari mereka, dan mereka loyal kepada orang-orang musyrik, dan sangat mengagungkan orang-orang musyrik. Mereka menganggap bahwa mereka adalah wali-wali Allah, penolong agama dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
    1 hr 16 min
  • Hadiah Yang Terbaik Untuk Anak
    Hadiah Yang Terbaik Untuk Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 20 Rabi’ul Akhir 1444 H / 15 November 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Hukuman Yang Mendidik
    Hadiah Yang Terbaik Untuk Anak
    Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam mendidik manusia lebih mengutamakan pemberian pahala, maka kita pun harus mengutamakan pemberian penghargaan/apresiasi dan hadiah untuk anak. Sementara pemberian dosa Allah batasi, tidak seperti pemberian pahala. Satu kebaikan 10 pahala, satu dosa tetap satu dosa. Hal ini ini menginspirasi kita untuk meminimalkan pemberian hukuman.
    Oleh karena itu pemberian hadiah itu didahulukan dan diutamakan, sementara pemberian hukuman diakhirkan dan diminimalkan. Terutama didalam hak pendidikan, apalagi terhadap anak-anak (terutama anak-anak dibawah 10 tahun) yang mana pemberian hukuman di situ memang kalau bisa ditiadakan.
    Jadi kesetimbangan ini yang harus selalu kita jaga. Sehingga mudah-mudahan kita akan mencapai tujuan yang diharapkan.
    Pemberian Hadiah Untuk Anak
    Mungkin dalam benak banyak orang tua dan pendidik, bahwa hadiah itu harus materi. Sebenarnya tidak. Hadiah terbaik itu sebenarnya bukan materi (barang atau uang dan sejenisnya).
    Pemberian hadiah berupa materi itu sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan anak terhadap hadiah tersebut. Anak tidak akan melakukan kebaikan kecuali setelah menerima hadiah. Selanjutnya, anak akan meminta yang lebih dan lebih. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat pemberian yang harus diperhatikan. Sekaya apapun kita bisa-bisa harta yang ada tidak mencukupi jika harus memenuhi semua tuntutan anak. Tentunya ini adalah berangkat dari pemahaman yang mungkin kurang tepat tentang pemberian hadiah.
    Jadi, pemberian hadiah itu tidak identik dengan pemberian materi. Tidak harus hadiah itu dalam bentuk materi. Ada alternatif bentuk hadiah terbaik yang selain materi. Yaitu berupa perhatian verbal dan juga perhatian yang kita tunjukan dalam bentuk perbuatan.
    Perhatian verbal bisa berupa komentar-komentar dan pujian pujian yang baik. Seperti mengucapkan Subhanallah, alhamdulillah, atau kata-kata yang menunjukkan apresiasi kita kepadanya. Contohnya: “Ayah dan Ibu sayang kepadamu,” dan memuji karyanya: “Indah sekali gambarmu.”
    Dan juga bisa berupa hadiah berupa perhatian fisik. Misalnya pelukan, alusan di kepala, acungan jempol, atau sekedar menunjukkan ekspresi kagum. Ini adalah hadiah dalam bentuk perhatian fisik.
    Bentuk hadiah seperti ini kelihatannya sepele. Namun pengaruhnya bagi jiwa anak itu sangat mendalam. Dan ini tentunya tidak perlu modal besar untuk melakukannya. Dan ternyata hadiah dan apresiasi yang kita berikan dalam bentuk seperti ini justru pengaruhnya lebih lama dan berkesan di hatinya. Karena rasa senang menerima hadiah berupa barang atau uang hanya bertahan sebentar saja. Mungkin anak segera bosan atau melupakannya. Jika tidak percaya, maka coba ketika seorang anak berpisah orang tuanya. Mana yang lebih dia rindukan, hadiah berupa barang atau dekapan/pelukan dan belaian kasih sayang?
    Tentu yang diharapkan adalah kehadiran orang tuanya, ditambah dengan perhatian verbal dan fisik tadi. Itu yang dirindukannya, bukan hadiah materi.
    Oleh karena itu biasakan anak dengan hadiah seperti ini. Jangan melulu memberikan hadiah berupa materi. Karena akan terjadi ketergantungan terhadap hadiah itu. Maka segera berikan respon positif ketika anak berbuat kebaikan, sekecil apapun kebaikan itu.
    50 min
  • Penetapan Sifat Allah Berbicara – Surah Al-Baqarah 259
    Penetapan Sifat Allah Berbicara – Surah Al-Baqarah 259 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 20 Rabi’ul Akhir 1444 H / 15 November 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Allah adalah Walinya Orang-Orang Beriman – Surah Al-Baqarah 257
    Penetapan Sifat Allah Berbicara – Surah Al-Baqarah 259
    Kita sampai pada Al-Baqarah ayat yang ke-239, sekarang kita masuk ke ayat al-faidah yang ke-8. Selanjutnya:
    Penetapan Sifat Allah Berbicara
    Penetapan sifat Allah berbicara dan bahwasanya Allah berbicara dengan huruf dan suara yang terdengar. Karena Allah mengatakan dalam ayat itu: كَمْ لَبِثْتَ (Berapa lama kamu ?)
    Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semua Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah berbicara dengan suara yang terdengar, dengan huruf. Dan bahwasanya Allah berbicara sesuai dengan kehendakNya, kapan dan dengan siapa Allah berbicara itu terserah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
    Menguji Untuk Mengetahui Pengetahuan
    Bolehnya menguji seorang hamba untuk mengetahui pengetahuannya. Karena Allah mengatakan: كَمْ لَبِثْتَ (Berapa lama kamu tinggal?). Dia berkata: “Aku tinggal sehari atau setengah hari saja.” Maka sebatas kita menguji untuk mengetahui tingkat pengetahuannya tidak masalah.
    Bantahan Terhadap Orang-Orang Asy’ariyyah
    Bantahan terhadap orang-orang Asy’ariyyah (pengikut Abul Hasan Al-Asy’ari). Dimana Abul Hasan Al-Asy’ari diawalnya adalah Mu’tazilah. Kemudian dia tinggalkan Mu’tazilah dan pindah ke aqidah Kullabiyyah. Di antara keyakinan kaum Asya’irah adalah bahwa Allah berbicara, tapi bicaranya Allah dengan tanpa suara. Mereka menyebutnya dengan istilah “Kalamun Nafsi”.
    Jadi mereka mengatakan Allah berbicara, tapi Allah berbicara dengan tanpa apa suara. Lalu bagaimana malaikat Jibril bisa mengetahui firman Allah? Kata mereka, yaitu Allah menciptakan pemahaman kepada malaikat Jibril. Ini jelas batil, saudaraku. Karena bertabrakan dengan dalil-dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa Allah berbicara dengan suara yang terdengar. Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits:
    يَسْمَعُه مَن بَعُدَ كما يسمعه مَن قَرُبَ
    “Terdengar oleh yang jauh sebagaimana mendengarnya yang dekat.” (HR. Ahmad)
    Dan hakikatnya sebetulnya mereka ingin mengatakan Al-Qur’an itu makhluk. Namun mereka malu-malu untuk mengatakan bahwa Allah berbicara dengan suara. Tapi mereka mengatakan “Allah berbicara dengan tanpa suara”, ini batil.
    Penjelasan Tentang Hikmah Allah
    Dimana Allah mematikan orang ini selama 100 tahun. Kemudian Allah bangkitkan lagi, agar jelas kepada dia bagaimana kemampuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. MasyaAllah ini sesuatu yang besar.
    Mengabarkan Berdasarkan Dugaan Kuat
    Bolehnya seseorang mengabarkan sesuatu berdasarkan dugaan kuatnya. Karena dugaan kuat itu termasuk perkara yang boleh diterima dengan ijma’ seluruh ulama.
    Dugaan kuat yaitu dugaan yang diatas keraguan. Contohnya antum melihat seseorang dari kejauhan, lalu antum menyangka “Kayaknya Si Fulan”, tapi sangkanya masih lemah. Semakin dekat antum mulai “Kayaknya bener deh”, ini adalah antara iya dan tidak. Semakin dekat lagi, bentuk tubuh, gaya jalannya dan yang lainnya sudah mulai jelas, tapi wajahnya kurang jelas, ini namanya dugaan yang kuat. Adapun ketika dia berada di depan kita,
    46 min
  • Mati Syahid Namun Bukan dalam Peperangan
    Mati Syahid Namun Bukan dalam Peperangan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 20 Rabi’ul Akhir 1444 H / 15 November 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Jihad Dijalan Allah adalah Siyahah (Pariwisata)
    Mati Syahid Namun Bukan dalam Peperangan
    Pada pertemuan yang terakhir kita telah menyebutkan beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai orang-orang yang mati syahid namun mereka bukan dalam peperangan. Seperti orang yang meninggal karena tenggelam, orang yang tertimpa bangunan sehingga kemudian dia meninggal, demikian pula orang yang terkena serangan penyakit pada perutnya. Bahkan ada juga hadits yang menyebutkan tentang tha’un (wabah) yang menimpa seorang dan dia sabar dalam menerima cobaan tersebut dan dia tetap berharap dari Allah ‘Azza wa Jalla sesuatu. Maka ini semua di antara yang disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mati syahid meskipun pelaksanaan jenazahnya tidak sama dengan orang yang gugur dalam medan peperangan.
    Hadits terakhir yang kita bahas adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:
    وعنْ أبي هُريرة ، رضي اللَّه عنْهُ ، قالَ : جاء رجُلٌ إلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقَال: يا رسول اللَّه أَرأَيت إنْ جاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مالي ؟ قال : « فَلا تُعْطِهِ مالكَ » قال : أَرأَيْتَ إنْ قَاتلني ؟ قال : « قَاتِلْهُ » قال : أَرأَيت إن قَتلَني ؟ قال : « فَأنْت شَهيدٌ » قال : أَرأَيْتَ إنْ قَتَلْتُهُ ؟ قال : « هُوَ في النَّارِ » رواهُ مسلمٌ
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, katanya: “Pernah ada seorang yang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, orang itu berkata: ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepada aku, jika ada seseorang yang datang ingin mengambil hartaku?'” Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Jangan kamu memberikannya.” Orang itu bertanya: “Bagaimanakah pendapatmu Ya Rasulullah, seandainya dia berupaya untuk membunuhku?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Lawan dia!” Ia bertanya lagi: “Bagaimanakah pendapatmu Ya Rasulullah, kalau dia berhasil membunuhku?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Engkau mati syahid.” Ia bertanya lagi: “Bagaimanakah pendapatmu Ya Rasulullah, jikalau aku yang membunuhnya?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Ia tempatnya dalam neraka.” (Riwayat Muslim)
    Jadi, membela harta, keluarga, dan kehormatan seorang adalah bagian dari syahid. Orang yang berusaha ketika diserang, diminta, atau dirusak kehormatannya, sampai bunuh-bunuhan, maka yang di neraka adalah orang yang mengambil harta dengan paksa. Dan orang yang membela diri, kehormatan dan hartanya, kalaupun dia wafat maka insyaAllah dia adalah orang yang mati syahid.
    Di antara pelajaran lain dari hadits ini adalah tentang ilmu. Jadi, perbuatan itu dilakukan sesudah mendapat ilmu. Dengan bahasa yang lain “Ilmu hendaknya dituntut sebelum seorang mengucapkan dan berbuat sesuatu.” Lihatlah bahwa sahabat ini datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian bertanya tentang yang dia tanyakan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    1 hr 29 min
  • Keuntungan Menunaikan Zakat
    Keuntungan Menunaikan Zakat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 19 Rabi’ul Akhir 1444 H / 14 November 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah Ashabul Jannah
    Keuntungan Menunaikan Zakat
    Orang yang bakhil mengira bahwa kebakhilannya itu akan mendatangkan kebaikan. Tetapi yang sebenarnya kebalikan dari hal tersebut.
    Orang yang mengeluarkan hak hartanya kepada orang-orang fakir dan orang-orang miskin, kemudian dia tidak bakhil, maka dia akan mendapatkan beberapa hal:
    Pertama, dia telah mensucikan diri dan hartanya. Allah berfirman dalam surah At-Taubah ayat 103:
    خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ…
    “Ambillah dari harta mereka sedekah yang membersihkan dan mensucikan mereka…” (QS. At-Taubah[9]: 103)
    Jadi sedekah atau zakat itu bisa mensucikan diri dan harta. Tapi kalau seseorang belum mengeluarkan hak hartanya yang wajib ditunaikan (yakni zakatnya), berarti orang tersebut belum mensucikan diri dan hartanya.
    Kedua, orang yang mengeluarkan sedekah mendapatkan kemenangan di dunia dan akhirat. Dalilnya kita bisa baca dalam surah Al-Mu’minun, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita:
    قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ‎﴿١﴾
    “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang orang-orang yang sukses/menang.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 1)
    Di antara sifat orang yang beriman itu di ayat yang keempatnya Allah berfirman:
    وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ‎﴿٤﴾‏
    “Mereka orang-orang yang menunaikan zakat mereka.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 4)
    Ketiga, Allah akan merahmati mereka di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
    “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebahagian mereka sebagai penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka memerintahkan berbuat perbuatan baik, melarang dari yang munkar, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan RasulNya. Mereka adalah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah[9]: 71)
    Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa sifat orang-orang yang akan mendapatkan rahmat Allah adalah orang-orang yang menunaikan zakatnya.
    Keempat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga hartanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ
    “Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu.”
    Lihat: Hadits Arbain ke 19 – Jagalah Allah Niscaya Allah Menjagamu
    Dan kita telah membaca hadits shahih riwayat Imam Muslim, dimana ada seseorang yang mendengar ada suara di awan. Kemudian terjadi hujan di sebuah tempat, lalu airnya mengalir ke tempat seseorang yang disebutkan. Di awan itu ada suara: اسْقِ حَدِيقَةَ فُلاَنٍ (airilah kebunnya si fulan). Singkatnya dia ikuti air tersebut, ternyata ada orang yang sedang mengalirkan air ke ladangnya. Ketika ditanya namanya ternyata sama seperti yang disebutkan di aw...
    53 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah