Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Bab Nama Zahm
    Bab Nama Zahm adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 14 Rabi’ul Awwal 1444 H / 10 Oktober 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Bab Nama Zahm
    Kita sampai pada باب زحم (Bab nama Zahm [crowded/padat/macet/sempit]). Basyir datang menjumpai Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam, Nabi bertanya: “Siapa namamu?”
    Ini termasuk adab ketika kita berjumpa dengan orang yang mungkin kita tidak kenal sama namanya. Tak kenal maka tak sayang. Maka Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam memulai dengan bertanya: “Siapa namamu?”
    Subhanallah, seringkali kita datang kajian, duduk di masjid menunggu Ustadz datang, kita duduk cukup lama bersamaan di kanan, kiri, depan dan belakang kita. Terkadang sebagian orang sejak awal datang sampai pulang tidak kenal dan tidak mau kenal.
    Seharusnya engkau bertanya, menambah saudara, misalnya katakan:
    السلآم عليكم، أهلا وسهلا، كيف حالك، مرحبا بك
    Misalnya tanya: “Dari mana? Siapa namanya?”, maka tambah saudara satu di kanan. Ke kiri juga seperti itu. Mungkin yang di depannya kalau tidak merepotkan kita tanya juga. Atau yang di belakang kita. Allah itu cinta dengan orang beriman yang humble, yang sahl, hayyin, layyin. 
    Maka tatkala engkau tahu bahwa tabiatmu kaku, sulit bergaul, cenderung menjauh dari orang, itu engkau rubah. Minta sama Allah. Salah satu caranya adalah ketika berjumpa dengan orang maka sapa dia lebih dahulu, tebarkan senyum.
    Lihatlah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada orang ini tentang namnya. Orang itu menjawab: “Namaku Zahm.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    بَلْ أَنْتَ بَشِيرٌ
    “Akan tetapi namamu Basyir.”
    Basyir ini artinya yang berseri-seri, yang membawa kabar gembira. Makanya dikatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu بَشِيرًا وَنَذِيرًا (Beliau pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan).
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Bab Nama Zahm
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Bab Nama Zahm” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 28 min
  • Orang Beriman Selalu Menjadi Penasihat Yang Terpercaya
    Orang Beriman Selalu Menjadi Penasihat Yang Terpercaya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 14 Rabi’ul Awwal 1444 H / 10 Oktober 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Akibat Baik Untuk Orang-Orang Bertakwa
    Orang Beriman Selalu Menjadi Penasihat Yang Terpercaya
    Faedah ketiga dari kisah Qarun adalah orang yang beriman selalu menjadi penasihat yang terpercaya. Ini diambil dari surah Al-Qasas ayat 76. Ketika Qarun menyimpang dan sombong karena hartanya, dia membuat kerusakan di muka bumi, maka kaum mukminun menasihati Qarun. Mereka berkata kepada Qarun:
    إِِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
    “Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang membangga-banggakan diri.” (QS. Al-Qasas[28]: 76)
    Memberikan nasihat merupakan amalnya para Nabi, Rasul dan orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan tentang Nabi Nuh ‘Alaihis Salam:
    قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ‎﴿٦١﴾‏ أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ‎﴿٦٢﴾
    “Nuh berkata: ‘Wahai kaumku, aku tidak sesat. Akan tetapi aku adalah seorang utusan Rabbul ‘Alamin. Aku sampaikan kepada kalian risalah-risalah Rabbku, dan aku menasihati kalian, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.'” (QS. Al-A’raf[7]: 61-62)
    Begitu juga Nabi Hud ‘Alaihis Salam, Allah firmankan tentangnya:
    قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ‎﴿٦٧﴾‏أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ ‎﴿٦٨﴾‏
    “Hud berkata: ‘Wahai kaumku, aku bukannya orang yang tidak waras, akan tetapi aku adalah seorang Rasul yang diutus oleh Rabbul ‘Alamin. Aku sampaikan kepada kalian risalah-risalah Rabbku, dan aku adalah pemberi nasihat yang terpercaya.'” (QS. Al-A’raf[7]: 67-68)
    Demikian juga Nabi Shalih, Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentangnya:
    …يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ
    “Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian risalah Rabbku, dan aku telah menasihati kalian, akan tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. Al-A’raf[7]: 79)
    Nabi Syu’aib Allah firmankan tentangnya:
    …يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ ۖ فَكَيْفَ آسَىٰ عَلَىٰ قَوْمٍ كَافِرِينَ
    “Wahai kaumku, aku telah menyampaikan kepada kalian risalah-risalah Rabbku dan aku telah menasihati kalian. Maka bagaimana aku bisa bersedih atas kaum yang kafir.” (QS. Al-A’raf[7]: 93)
    Jelaskan sekali para Nabi adalah pemberi nasihat. Sampai Nabi kita yang kita cintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    الدِّينُ النَّصِيحَةُ
    “Agama itu nasihat.” Para sahabat bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
    لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
    “Nasihat untuk Allah, kitab Allah, bagi Rasul Allah, para imam umat Islam dan orang awam dari kalangan mereka.” (HR. Muslim)
    Hasan Al-Bashri Rahimahullah pernah berkata: “Sebagian sahabat Nabi berkata:
    44 min
  • Apakah Menyimpan Harta Berarti Tidak Bertawakal?
    Apakah Menyimpan Harta Berarti Tidak Bertawakal? ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 14 Rabi’ul Awwal 1444 H / 10 Oktober 2022 M.

    Kajian Tentang Apakah Menyimpan Harta Berarti Tidak Bertawakal?
    Ada satu prinsip yang dipegang oleh kaum sufi, yaitu menyimpan harta ini bertentangan dengan sifat tawakal. Bahwa harta hari ini tidak diperkenankan disimpan untuk esok hari.
    Sebelumnya kita telah sampaikan pernyataan Ibnu Jarir Ath-Thabari yang menjelaskan hadits Umar bin Khattab, ia berkata bahwa “Rasulullah mendorong kami agar bersedekah, lalu aku datang dengan membawa separuh harta milikku. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Umar menjawab: ‘Sebesar apa yang aku sedekahkan ini.’ Dan Nabi tidak mengingkarinya.”
    Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan batilnya pendapat kaum sufi bahwa siapapun tidak diperkenankan menyimpan harta hari ini untuk esok hari. Maka yang berbuat demikian berarti ia telah berburuk sangka kepada Allah dan tidak tawakal kepadaNya dengan sebenar-benarnya tawakal.
    Ibnu Jarir mengatakan, begitupula halnya sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Milikilah kambing, karena kambing itu berkah.” Sabda Nabi ini menunjukkan kekeliruan kaum sufi yang berpendapat tidak sah tawakal seorang hamba kepada Allah kecuali dia mendapati pagi hari tanpa memiliki barang apapun, lalu memasuki sore hari dalam kondisi yang sama. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyimpan bahan makanan selama satu tahun sebagai persediaan makanan istri-istri beliau? Ini menunjukkan bahwa Nabi menyimpan harta untuk esok hari. Dan itu tidak menafikan sifat tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ibnul Jauzi memberikan kritik atas kaum sufi ini terkait konsep tawakal, khususnya berkaitan dengan harta. Sejumlah orang melepaskan harta mereka yang halal kemudian mereka kembali berusaha mendapatkan serta mencari harta yang kotor. Ini terjadi sebab manusia selalu membutuhkan harta. Dan orang yang waras tentu akan mempersiapkan masa depannya dengan baik, tidak mungkin dihabiskan semua hartanya.
    Sebagian orang salah memahami sedekah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan seluruh hartanya. Ini adalah ungkapan yang menunjukkan banyak, bukan semua hingga ludes tidak tersisa apapun. Tentu tidaklah habis sama sekali hingga tidak tersisa untuk diri dan keluarga beliau. Ini disalahpahami oleh sebagian orang bahwa betul-betul semuanya hingga tidak tersisa satu sen pun. Lalu mendasari itu sebagai sikap tawakal yang benar. Diluar itu berarti dinamakan belum bertawakal sebenar-benarnya. Ini keliru. Karena ketika Umar datang membawa sedekah dengan jumlah yang banyak, Nabi bertanya kepada kepada Umar: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Artinya harus ada sesuatu yang kita simpan untuk keluarga kita.
    Pada awalnya hewan kurban tidak boleh disimpan, kemudian ini dimansukhkan sehingga hukum terakhir yang berlaku adalah boleh menyimpan daging hewan kurban.
    Jadi menyimpan harta (apalagi itu tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan hidup kita dan keluarga), itu tidak menafikan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ibnul Jauzi mengatakan mengatakan bahwa hal itu wajar terjadi pada dari seseorang. Orang yang waras akan mempersiapkan masa depannya dengan baik. Dia punya tabungan/simpanan untuk kebutuhan dan kecukupan kehidupannya dimasa depan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya?
    37 min
  • Bercengkerama Dengan Anak
    Bercengkerama Dengan Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Rabi’ul Awwal 1444 H / 10 Oktober 2022 M.

    Kajian Tentang Bercengkerama Dengan Anak
    Bagaimana caranya orang tua bisa dekat dengan anaknya? Inilah salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh para orang tua, kenapa anak lebih dekat dengan temannya? Kenapa kalau anak bertemu dengan saya seakan-akan ada jarak yang memisahkan? Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul. Sehingga membutuhkan jawaban.
    Ketahuilah para jamaah yang kami hormati, bahwa salah satu kunci sukses berinteraksi dengan orang lain (termasuk didalamnya interaksi orang tua dengan anak) adalah memahami tabiat. Orang tua agar sukses berinteraksi dengan anaknya, maka dia perlu mengerti apa tabiat dasar seorang anak. Ketika kita telah mengerti tabiat-tabianya, maka kita berusaha menyesuaikan pola dan cara kita ketika berinteraksi dengan mereka. Dan salah satu tabiat anak kecil adalah suka bermain.
    Bisa jadi bermain itu adalah salah satu kebutuhan primer anak. Ketika orang tua tidak mengerti hal itu, bahwa memang umurnya adalah umur bermain, ini bisa berakibat fatal. Karena orang tua kemudian menghalangi anak dari kebutuhan gara-gara orang tua tidak mengerti tabiat tersebut. Akibatnya anak menjadi jenuh, bosan, mogok, dan bahkan malas belajar. Ini semua gara-gara kebutuhannya tidak terpenuhi.
    Sebagian orang tua khawatir anaknya terpengaruh hal negatif ketika bermain dengan anak tetangga. Karena mungkin anak-anak tetangga kurang dididik dengan baik oleh orang tua mereka, berbicaranya kasar dan kemana-mana pegang HP. Maka jawabannya adalah bahwa saya tadi mengatakan “bermain”, saya tidak menyampaikan bermain dengan anak tetangga. Artinya yang namanya bermain itu tidak harus sama anak tetangga. Tapi bisa bermain dengan orang tuanya.
    Apakah orang tua bermain dengan anak-anak itu melanggar aturan agama? Jawabnya tidak melanggar, bahkan itu tuntunan agama. Jadi yang saya maksud “bermain” di sini adalah orang tua yang melayani anaknya bermain. Entah itu dengan ayahnya, ibunya, kakaknya atau adiknya.
    Manfaat orang tua bermain dengan anak
    Selain menjalankan dan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang juga kerap bermain dengan anak-anak, manfaat yang lain adalah akan terjalin kedekatan dan keakraban antara anak dengan orang tuanya. Inilah modal yang luar biasa untuk memudahkan masuknya nasihat/arahan/wejangan yang disampaikan oleh ayah dan ibu kepada sang anak.
    Di antara cara agar kita dekat dengan anak adalah bermain. Kalau orang tua sudah bermain dengan anaknya, maka anak akan merasa dekat dengan orang tuanya. Kalau anak merasa dekat dengan orang tuanya, insyaAllah dia akan mau mendengar nasihat-nasihat orang tuanya, kemudian dia mau mengikuti nasihat tersebut dengan senang hati, bukan dengan keterpaksaan dan ketakutan.
    Dalil landasan
    Bermain dengan anak adalah aturan agama. Dalilnya adalah praktik panutan kita semua, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keseharian beliau. Haditsnya banyak. Di antaranya adalah hadits yang dituturkan oleh sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bernama Ya’la bin Murrah Radhiyallahu ‘Anhu.
    خرَجْنا مع النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – ودُعِينا إلى طعام ، فإذا حُسَين يلعب في الطريق، فأسرع النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – أمام القوم ثم بسط يديه ، فجعل الغلام يفرُّ ههنا وههنا ، ويُضاحكه النبي – صلى الله عليه وسلم – حتى أخذه ، فجعل إحدى يديه في ذقنه ، والأخرى في رأسه ، ثم اعتنقه ، ثم قال النبي – صلى الله ...
    47 min
  • Wajib-Wajib Shalat
    Wajib-Wajib Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Rabi’ul Awwal 1444 H / 10 Oktober 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Posisi Tangan Ketika I’tidal
    Kajian Tentang Wajib-Wajib Shalat
    Kita membahas tentang wajib-wajib shalat. Apa beda rukun dengan wajib, padahal dua-duanya adalah sesuatu yang harus dilakukan di dalam shalat?
    Sebagian ulama mengatakan bahwa rukun itu harus dilakukan, apabila lupa maka harus diganti (tidak boleh dengan sujud sahwi). Misalnya ada orang lupa ruku’, sedangkan ruku’ itu adalah rukun. Setelah berdiri langsung sujud, kemudian duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali, kemudian berdiri. Setelah itu dia ingat bahwa dirakaat pertama tadi belum ruku’. Apabila keadaannya demikian, dia harus menganggap rakaat pertama hilang dan rakaat kedua menjadi rakaat pertama. Karena waktu untuk mengganti ruku’nya sudah lewat, dan ruku’ harus diganti dengan ruku’. Ruku’ adalah rukun, tidak boleh diganti dengan sujud sahwi.
    Berbeda dengan wajib-wajib shalat. Wajib-wajib shalat itu harus dilakukan. Kalau ditinggalkan dengan sengaja, maka shalatnya tidak sah. Tapi kalau ditinggalkan karena lupa, maka bisa diganti dengan sujud sahwi. Inilah perbedaan antara rukun shalat dengan wajib shalat.
    Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak ada wajib shalat, tapi yang ada adalah fardhu shalat. Mereka menyamakan antara rukun dan wajib shalat. Sebagian ulama seperti di dalam Mazhab Syafi’i dan Maliki tidak membahas tentang wajib-wajib shalat. Yang mereka bahas adalah rukun-rukun shalat atau yang mereka sebut sebagai fardhu shalat. Kemudian setelah itu mereka langsung membahas tentang sunnah-sunnah shalat. Dan banyak yang dikatakan oleh para ulama yang membahas tentang wajib-wajib shalat itu dimasukkan oleh para ulama yang lain kedalam sunnah-sunnah shalat. Seperti misalnya tasyahud awal yang dimasukkan oleh sebagian ulama kedalam sunnah-snunah shalat. Seperti takbiratul intiqal (takbir selain takbiratul ihram), sebagian ulama memasukkannya kedalam sunnah-sunnah shalat. Begitu pula bacaan dalam rukun shalat selain Al-Fatihah dan tasyahud, banyak dari ulama yang memasukkannya kedalam sunnah-sunnah shalat.
    Di sini kita memilih jalannya para ulama yang menganggap bahwa ada wajib-wajib shalat. Karena saya secara pribadi melihat dalil mereka lebih kuat.
    Wajib-Wajib Shalat
    Wajib-wajib shalat adalah amalan-amalan di dalam shalat yang wajib untuk kita lakukan. Kalau kita tinggalkan secara sengaja, maka shalat kita batal. Kalau kita tinggalkan secara tidak sengaja (misalnya karena lupa), maka boleh diganti dengan sujud sahwi.
    Takbiratul Intiqal
    Takbiratul intiqal adalah takbir perpindahan dari satu rukun ke rukun yang lain. Seperti misalnya dari rukun berdiri ke ruku’, dari i’tidal ke sujud, dari sujud ke duduk di antara dua sujud, dari duduk di antara dua sujud ke sujud, dari sujud ke berdiri lagi. Begitupula tasmi’ (sami’allahu liman hamidah), ini dari ruku’ ke i’tidal. Kemudian bacaan “Rabbana walakal hamdu” (bacaan ketika i’tidal), ini diwajibkan.
    Apa yang menjadi dalil bahwa ini merupakan suatu kewajiban? Di antara dalilnya adalah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا
    “Apabila imam bertakbir, maka bertakbirlah kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    1 hr 1 min
  • Khutbah Jumat: Kehidupan Hati Lebih Penting daripada Kehidupan Jasmani
    Khutbah Jumat: Kehidupan Hati Lebih Penting daripada Kehidupan Jasmani ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 11 Rabi’ul Awwal 1444 H / 07 Oktober 2022 M.

    Khutbah Pertama Tentang Khutbah Jumat: Kehidupan Hati Lebih Penting daripada Kehidupan Jasmani
    Pertama kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita. Tidak bisa kita hitung dan kita hingga nikmat Allah, sebagaimana firmanNya:
    وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا…
    “Jika kamu mencoba menghitung nikmat Allah, maka kamu tidak akan mampu menghitungnya…” (QS. An-Nahl[16]: 18)
    Kewajiban kita semua adalah menjadi hamba yang bersyukur. Mensyukuri nikmat-nikmat Allah adalah salah satu cara untuk menambah nikmat tersebut.
    لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
    “Jika kamu bersyukur, maka Aku akan tambah nikmatKu untukmu.” (QS. Ibrahim[14]: 7)
    Shalawat dan salam tidak lupa kita limpahkan untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga beliau, sahabat beliau, dan siapa saja yang mengikuti sunnah beliau sampai hari kemudian.
    Jamaah yang dimuliakan Allah.. Di dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan kepada kita tentang hati. Nabi bersabda:
    مثل القلب كمثل ريشة بأرض فلاة تقلبها الرياح
    “Perumpamaan hati ibarat sehelai bulu yang diletakkan di padang pasir yang luas lalu diterbangkan dibolak-balikkan angin.”
    Hadits ini menjelaskan kepada kita bagaimana kondisi hati manusia. Ibarat sebuah bulu yang ada di tengah padang pasir yang luas. Kita tahu bersama bahwa padang pasir yang luas itu sangat kencang anginnya. Saking kencangnya angin di padang pasir ini, bahkan dia bisa memindahkan bukit pasir. Begitu kencang dan kuatnya angin di padang pasir itu.
    Kalaulah sebuah bukit pasir saja bisa pindah tempat karena hembusan anginnya, bagaimana nasib sehelai bulu? Tentu dia akan terus bergerak tidak bisa diam, berbolak-balik. Begitulah kondisi hati manusia, terus berbolak-balik. Maka dari itu orang arab mengungkapkan hati itu dengan qalb karena dia يتقلب (selalu berbolak-balik).
    Dan kalau kita lihat sebuah bulu di padang pasir itu, kalau kita tidak tangkap dan pegang, maka dia akan mengikuti kemanapun angin berhembus, dia tidak akan istiqamah di satu tempat, dia akan melayang pergi entah kemana, bahkan kita tidak akan bisa mengikutinya. Itulah hati yang tidak dipegang.
    Bagaimana seandainya bulu yang berada di tengah padang pasir ini kita pegang? Apa yang kita lihat pada bulu ini? Dia tidak terbang kemana-mana tapi dia tidak bisa berhenti diam, dia terus bergerak karena angin terus berhembus.
    Begitulah kondisi hati manusia. Walaupun kita menggenggamnya, kita mengendalikannya, kita menjaganya, namun hati itu tidak pernah diam. Karena musuh kita (iblis dan bala tentaranya) tidak pernah membiarkan hati kita kosong, tenang, dan diam. Dia terus bergerak. Begitulah kondisi hati manusia.
    Bagaimana pula jika hati ini tidak dijaga? Hati ini kita lepas seperti sebuah bulu yang kita lepas di padang pasir? Dia akan hilang dari pandangan. Seperti itulah kondisi hati yang dilepas oleh pemiliknya. Dia akan tersesat pergi entah kemana, hilang dari pandangan. Kalaupun kita pegang hati itu dia terus bergerak tidak bisa diam. Inilah permisalan yang Nabi buat tentang hati.
    Oleh karena itu perhatian terhadap kehidupan hati itu jauh lebih penting daripada perhatian terhadap kehidupan jasmani. Ada beberapa alasan kenapa kehidupan hati itu lebih penting untuk kita perhatikan.
    Ini adalah masalah penting dan lebih penting.
    20 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 63 – Orang Yang Berpaling Dari Agama Allah
    Tafsir Ali Imran Ayat 63 – Orang Yang Berpaling Dari Agama Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 10 Rabi’ul Awwal 1444 H / 06 Oktober 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 63 – Orang Yang Berpaling Dari Agama Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِالْمُفْسِدِينَ
    “Maka apabila mereka berpaling, sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 63)
    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Apabila mereka berpaling”
    Kata ganti “mereka” itu kembalinya kepada orang-orang Nasrani yang Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajak kepada mereka untuk bermubahalah, sebagaimana ayatnya sudah kita baca di surat Ali Imran ayat yang ke-61.
    Sudah lalu penjelasannya bahwa mereka tidak mau bermubahalah. Kenapa mereka yakin seandainya mau bermubahalah, niscaya mereka akan ditimpa adzab. Ini menunjukkan kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika diajak bermubahalah mereka takut ditimpa adzab. Karena seandainya betul mereka bermubahalah bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentu doa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan dikabul dan laknat Allah akan menimpa mereka. Maka mereka tidak mau. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu haq dan mereka semua di atas kebatilan.
    Allah berfirman: “Apabila mereka berpaling”
    Maksudnya yaitu berpaling dari mubahalah dan dari mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka mereka itu adalah orang-orang yang membuat kerusakan.
    Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang membuat kerusakan.”
    Dalam ilmu ushul tafsir, ini adalah masuk dalam kaidah الإظهار في موضع الإضمار (menyebutkan isim dhahir pada tempat isim dhamir). Allah tidak berkata: “Sesungguhnya Allah mengetahui mereka (Nashara).”
    Kaidah “menyatakan isim dhahir pada tempat isim dhamir” ini memiliki banyak faedah.
    Apa saja faedah tersebut? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran ayat 63 – Orang Yang Berpaling Dari Agama Allah
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    47 min
  • Ilmu Adalah Jalan Keberkahan
    Ilmu Adalah Jalan Keberkahan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 10 Rabi’ul Awwal 1444 H / 06 Oktober 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Jalan Untuk Meraih Kesempurnaan
    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Adalah Jalan Keberkahan
    Barangsiapa yang menginginkan hidupnya senantiasa diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hendaknya dia selalu menjadikan ilmu sebagai kegiatan yang banyak mengisi hidupnya sehari-hari.
    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan Nabi Isa Al-Masih ‘Alaihish Shalatu was Salam ketika Nabi Isa berkata:
    إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ‎﴿٣٠﴾‏ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ…
    “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Allah menurunkan kepadaku kitab Injil dari sisiNya, dan Allah menjadikan aku seorang Nabi. Dan Allah menjadikan aku selalu diberkahi dimanapun aku berada…” (QS. Maryam[19]: 30-31)
    Imam Sufyan Ibnu Uyainah Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa makna ayat “Allah menjadikan aku diberkahi dimanapun aku berada…” adalah sebagai orang yang menyebarkan ilmu dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Nabi Isa tentu dimana pun berada selalu menyampaikan petunjuk Allah untuk berpegang teguh dengan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ini menunjukkan bahwa seseorang yang selalu menyebarkan kebaikan dari petunjuk Allah kepada manusia inilah yang merupakan keberkahan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada orang tersebut.
    Berarti ilmu adalah sebab meraih berkah, dengan kita pelajari dan mengajarkannya kepada manusia. Ini akan menjadikan hidup dipenuhi berkah dimanapun kita berada.
    Sesungguhnya keberkahan itu adalah mendapatkan kebaikan, kemudian semakin tumbuhnya kebaikan tersebut supaya sempurna, serta langgengnya kebaikan tersebut pada diri seorang hamba.
    Hal ini pada hakikatnya tidak akan bisa didapatkan kecuali pada ilmu yang diwariskan oleh para Nabi ‘Alaihis Salam, kemudian mengajarkan ilmu itu kepada manusia.
    Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan Al-Qur’an sebagai kitab yang mubarak (yang penuh berkah). Kenapa jelas Al-Qur’an adalah sumber ilmu, petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah sumber ilmu yang bermanfaat, maka pantas dinamakan sebagai kitab yang penuh berkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُّبَارَكٌ أَنزَلْنَاهُ ۚ…
    “Dan Kitab Al-Qur’an ini merupakan peringatan yang penuh berkah yang Kami turunkan kepada manusia…” (QS. Al-Anbiya[21]: 50)
    Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
    “Kitab Al-Qur’an yang Kami turunkan kepadamu wahai Rasulullah adalah kitab yang penuh berkah…” (QS. Shad[38]: 29)
    Maka keberkahan Al-Qur’an dan keberkahan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam inilah yang merupakan sebab yang bersumber dari petunjuk Allah dan ketika kita mendakwahkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia.
    Jadi kesimpulannya jelas kali bahwa mempelajari ilmu...
    57 min
  • Malaikat Tidak Berhak Diibadahi
    Malaikat Tidak Berhak Diibadahi adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 9 Rabi’ul Awwal 1444 H / 05 Oktober 2022 M.

    Kajian Tentang Malaikat Tidak Berhak Diibadahi
    Di dalam surah Saba’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    … حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
    “Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Perkataan yang benar’, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Saba’[34]: 23)
    Mereka dalam ayat ini maksudnya adalah para malaikat. Yang mengatakan ini adalah Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, Abu Abdurrahman As-Sulami, Asy-Sya’bi, Al-Hasan Al-Bashri dan selain mereka.
    Ibnu Jarir berkata, para ulama mengatakan: “Mereka dihilangkan rasa takut itu akibat para malaikat takut saat mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian akhirnya mereka pingsan.”
    Para malaikat yang besar saja takut terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ibnu Athiyah berkata: “Di dalam perkataan ini terdapat hal yang disembunyikan atasnya secara lahiriyahnya. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Dan para malaikat tidak bisa memberikan syafaat sebagaimana yang kalian anggap. Bahkan mereka adalah hamba-hamba Allah yang berserah diri kepada Allah selamanya.’”
    Ibnu Katsir berkata: “Inilah yang benar (bahwa yang takut tersebut adalah para malaikat), tidak ada keraguan di dalamnya, karena berdasarkan hadits-hadits dan juga riwayat-riwayat di dalam permasalahan ini.”
    Abu Hayyan berkata: “Telah nampak hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa yang dimaksud dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘Sehingga jika diangkat rasa takut dari hati-hati mereka,’ itu maksudnya adalah para malaikat ketika para malaikat mendengar wahyu yang disampaikan kepada Jibril. Wahyu tersebut seperti gesekan rantai-rantai besi di atas bebatuan. Maka pada saat itu para malaikat takut hatinya karena mengagungkan dan memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan makna inilah dari penyebutan para malaikat pada awal ayat, maka akan bersambung ayat ini dengan yang sebelumnya. Dan barangsiapa yang tidak paham bahwa para malaikat yang diisyaratkan dalam ayat ini dari awal firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ayat ini tidak akan tersambung dengan ayat yang sebelumnya.”
    Di dalam ayat tadi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apa yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
    Para malaikat tidak mengucapkan: “Apa yang telah diciptakan oleh Rabb kita.” Kalau seandainya firman Allah itu adalah makhluk, maka niscara mereka akan mengucapkan: “Apa yang telah diciptakan.” Ini menunjukkan bahwa firman Allah adalah sifat Allah bukan makhluk.
    Semisal dengan firman Allah ini seperti dalam hadits: “Wahai Jibril, apa yang dikatakan oleh Rabb kita?” dan yang semisal seperti ini di dalam Al-Qur’an dan hadits sangatlah banyak.
    Di dalam ayat disebutkan bahwa para malaikat menjawab: “Perkataan yang benar.”
    Para malaikat menjawab: “Yang diucapkan oleh Allah adalah Al-Haq.” Yang demikian itu karena para malaikat jika mendengar firman Allah maka mereka pingsan. Kemudian jika mereka sudah sadar maka mulai bertanya: ̶...
    1 hr 9 min
  • Bimbingan Yang Menyenangkan
    Bimbingan Yang Menyenangkan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 8 Rabi’ul Awwal 1444 H / 04 Oktober 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Jangan Menyalahkan Anak
    Bimbingan Yang Menyenangkan
    Pendidikan berkaitan erat juga dengan suasana yang kita ciptakan untuk pendidikan itu. Situasi dan kondisi juga harus mendukung ketika kita ingin menyampaikan sebuah ilmu dan bimbingna. Hal itu akan mempermudah anak untuk menerima pelajaran-pelajaran yang kita sampaikan.
    Kalau kita mengacu kepada apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai guru dan teladan kita di dalam mendidik, Nabi selalu menggunakan momen-momen yang kadang-kadang momen itu bukan momen untuk menyampaikan ilmu. Misalnya Nabi sedang berboncengan dengan sahabat di atas kendaraan Nabi menyampaikan bimbingan. Terkadang di waktu-waktu yang santai dan longgar Nabi gunakan untuk menyampaikan nasihat dan bimbingan.
    Para pendidik (guru maupun orang tua) harus memperhatikan situasi dan kondisi yang ada, dimana dan sedang apa. Itu sangat penting. Sebagai contoh jangan menyampaikan nasihat pada saat kondisi tidak sedang kondusif. Misalnya sedang marah, atau sedang amat bersedih atau amat terpukul karena musibah yang menimpa kita. Momen-momen tersebut mungkin tidak tepat untuk menyampaikan bimbingan dan pelajaran. Maka kita harus menciptakan suasana untuk menyampaikan bimbingan dan pendidikan itu.
    Seorang pendidik harus bisa menciptakan suasana yang menyenangkan. Jadikan setiap detik kebersamaan dengan anak-anak kita sebagai pembelajaran yang menyenangkan bagi kita dan juga bagi mereka.
    Biasanya ketika di hadapan hidangan, di atas kendaraan, terkadang Nabi menyampaikan pelajaran-pelajaran kepada para sahabat. Ciptakan suasana yang hangat namun kita isi dengan berbagai manfaat dan faedah. Karena tiap-tiap tempat itu berbeda. Pembelajaran anak di rumah berbeda dengan pembelajaran anak di sekolah. Pembelajaran di sekolah selalu terikat dengan tempat, waktu, jadwal, kurikulum dan seterusnya. Karena yang belajar di situ bukan satu orang tapi banyak anak.
    Adapun pembelajaran anak di rumah itu berlangsung setiap saat. Setiap momen bisa digunakan untuk menyampaikan pembelajaran kepada anak. Sangat banyak peristiwa-peristiwa keseharian yang bisa menjadi pintu masuk seluruh unsur-unsur pendidikan yang ingin kita berikan kepada anak-anak kita. Oleh karena itu kita harus berusaha agar semua tidak terlewatkan begitu saja. Kalau ada momen yang tepat untuk menyampaikan suatu nasihat atau pengarahan atau ilmu, maka kita gunakan itu. Kita perlu mengarahkan segenap upaya dan usaha untuk menerapkan berbagai macam cara sehingga setiap detik kebersamaan dengan anak bisa berubah menjadi sebuah pembelajaran yang berharga.
    Belajar dari pengalaman adalah merupakan salah satu metodologi yang dipakai oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Bukan hanya kisah Nabi-Nabi terdulu, tapi juga apa yang baru mereka alami kemarin. Tentu para sahabat tidak melihat Ashabul Kahfi, tapi mereka mendapatkan kisah itu di dalam Al-Qur’an. Mereka juga tidak bertemu dengan para Nabi dan Rasul sebelumnya, mereka tidak bertemu dengan Lukman atau orang-orang yang diceritakan kisahnya di dalam Al-Qur’an. Tapi mereka mendapatkan faedah dari kisah-kisah tersebut meskipun mereka tidak hidup semasa dengan mereka. Itu salah satu metodologi Al-Qur’an, yaitu menyampaikan pendidikan dan bimbingan melalui kisah-kisah.
    Namun bukan hanya kisah-kisah terdahulu.
    50 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah