Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Jangan Tertipu dengan Amal Shalih
    Jangan Tertipu dengan Amal Shalih merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 28 Safar 1444 H / 25 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Islam dan Perangai-Perangainya

    Kajian Hadits Tentang Jangan Tertipu dengan Amal Shalih
    عَنْ ابْنِ شِمَاسَةَ الْمَهْرِيِّ قَالَ حَضَرْنَا عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ وَهُوَ فِي سِيَاقَةِ الْمَوْتِ فَبَكَى طَوِيلًا وَحَوَّلَ وَجْهَهُ إِلَى الْجِدَارِ فَجَعَلَ ابْنُهُ يَقُولُ يَا أَبَتَاهُ أَمَا بَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِكَذَا أَمَا بَشَّرَكَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِكَذَا قَالَ فَأَقْبَلَ بِوَجْهِهِ فَقَالَ إِنَّ أَفْضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ إِنِّي قد كُنْتُ عَلَى أَطْبَاقٍ ثَلَاثٍ لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَمَا أَحَدٌ أَشَدَّ بُغْضًا لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنِّي وَلَا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَكُونَ قَدْ اسْتَمْكَنْتُ مِنْهُ فَقَتَلْتُهُ فَلَوْ مُتُّ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ لَكُنْتُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الْإِسْلَامَ فِي قَلْبِي أَتَيْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقُلْتُ ابْسُطْ يَمِينَكَ فَلْأُبَايِعْكَ فَبَسَطَ يَمِينَهُ فَقَبَضْتُ يَدِي قَالَ مَا لَكَ يَا عَمْرُو قَالَ قُلْتُ أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ قَالَ تَشْتَرِطُ بِمَاذَا قُلْتُ أَنْ يُغْفَرَ لِي قَالَ أَمَا عَلِمْتَ يا عمرو أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلِهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَمَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَا أَجَلَّ فِي عَيْنِي مِنْهُ وَمَا كُنْتُ أُطِيقُ أَنْ أَمْلَأَ عَيْنَيَّ مِنْهُ إِجْلَالًا لَهُ وَلَوْ سُئِلْتُ أَنْ أَصِفَهُ مَا أَطَقْتُ لِأَنِّي لَمْ أَكُنْ أَمْلَأُ عَيْنَيَّ مِنْهُ وَلَوْ مُتُّ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ لَرَجَوْتُ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ثُمَّ وَلِينَا أَشْيَاءَ مَا أَدْرِي مَا حَالِي فِيهَا فَإِذَا أَنَا مُتُّ فَلَا تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلَا نَارٌ فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَسُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي.
    Dari Ibnu Syumasah Al-Mahri, ia barkata: “Kami menghadiri ‘Amr bin Al-Ash yang sedang menuju kematiannya. Maka beliau pun menangis dan menghadapkan wajahnya ke tembok. Maka anaknya berkata: ‘Hai ayahku, bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan kepadamu kabar gembira dengan ini, bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan kabar gembira dengan itu?’ Maka ia pun menghadapkan ke wajahnya dan berkata: ‘Sesungguhnya persiapan yang paling utama menuju kematian adalah syahadat Laa Ilaaha Illallah wa Anna Muhammadarrasulullah. Sesungguhnya aku telah melewati tiga fase;
    Fase pertama aku melihat diriku sendiri, dahulu aku sangat benci sekali kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak ada manusia yang paling aku benci dari Rasulullah, dan tidak pula ada orang yang paling aku sukai untuk aku bisa membunuhnya dari dia, kalaulah aku meninggal saat itu tentu pasti aku akan masuk neraka.
    Fase kedua ketika Allah memasukkan ke dalam hatiku Islam, aku aku pun mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu aku berkata: ‘Bentangkanlah tangan kananmu, aku akan membaiatmu.’ Maka beliaupun membentangkan telapak tangannya ‘Namun ak...
    47 min
  • Keutamaan Berinfak – Surah Al-Baqarah 254
    Keutamaan Berinfak – Surah Al-Baqarah 254 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 23 Safar 1444 H / 20 September 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Penetapan Adanya Malaikat – Surah Al-Baqarah 248
    Keutamaan Berinfak – Surah Al-Baqarah 254
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman berinfaklah dari sebagian rezeki yang Kami berikan kepada kalian, sebelum datangnya hari yang tidak ada padanya jual beli dan tidak pula bermanfaat kekasih dan tidak pula bermanfaat syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Baqarah[2]: 254)
    Syafaat yang ditiadakan di sini yaitu syafaat untuk orang-orang musyrik. Karena syarat untuk mendapatkan syafaat yaitu wafat di atas tauhid.
    Dari ayat ini kita ambil faedah, kata Syaikh Shalih Utsaimin Rahimahullah:
    Keutamaan berinfak
    Keutamaan berinfak dari sebagian apa yang Allah berikan kepada kita. Karena Allah memanggil dengan mengatakan “Hai orang-orang yang beriman…” berarti infak ini merupakan bagian dari keimanan. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ
    “Sedekah itu bukti.” (HR. Muslim)
    Yaitu bukti akan keimanan seorang hamba. Karena manusia pasti mencintai harta, itu tabiat manusia. Allah mengatakan:
    زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ …
    “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 14)
    Ketika dia menginfakkan apa yang ia cintai berupa harta, itu tanda keimanan dia kepada Allah. Sebab orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat tentu dia tidak akan mau berinfak. Tapi ketika dia mau memberikan cuma-cuma kepada fakir miskin, itu menunjukkan bukti bahwa dia beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat.
    Berinfak Konsekuensi Iman
    Berinfak ini adalah konsekuensi iman, sedangkan bakhil itu menunjukkan kekurangan iman. Makanya tidak pantas seorang mukmin menjadi bakhil. Mukmin itu pantasnya dermawan. Dermawan dengan badannya, misalnya membantu mengangkat misalnya. Dermawan dengan kedudukannya, misalnya menggunakan kedudukan itu untuk berbuat kebaikan, membela dakwah dan yang lainnya.
    Pemberian Allah
    Penjelasan tentang pemberian Allah kepada kita dimana Allah mengungkit kenikmatan itu kepada kita. Kalau Allah mengungkit dan mengingatkan kenikmatan kepada hamba-hambaNya tentang kenikmatan itu supaya mereka bersyukur, itu hak Allah ‘Azza wa Jalla.
    Allah mengatakan di situ: “Berinfaklah dari sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian.” Ini memberikan perintah agar kita berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah pun akan memberikan pahala besar bagi orang yang berinfak. Allah berfirman:
    مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ…
    “Perumpamaan orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah seperti orang yang menanam biji, lalu ia menumbuhkan tanaman yang mempunyai tujuh cabang,
    42 min
  • Memberikan Bingkisan dan Hadiah
    Memberikan Bingkisan dan Hadiah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 23 Safar 1444 H / 20 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Bermain dan Bercanda Bersama Anak-Anak
    Memberikan Bingkisan dan Hadiah
    Memberikan bingkisan dan hadiah untuk menarik hati dan melembutkan jiwa anak, serta untuk mendekatkan diri kita dengan anak. Ini yang merupakan salah satu bentuk kemurahan hati.
    Manusia bisa kita rebut hatinya dengan memberikan hadiah kepadanya. Nabi telah berkata di dalam hadits:
    تَهَادُوا تَحَابُّوا‏
    “Salinglah memberi hadiah niscaya kalian akan saling menyayangi.” (HR. Bukhari)
    Kasih sayang dan cinta itu muncul dari pemberian. Memberi hadiah merupakan satu bentuk penghormatan dan pemuliaan kita kepada seseorang. Demikian juga anak-anak yang menyukai hadiah. Jiwa mereka senang diberi.
    Maka orang tua hendaklah menyisihkan pendapatan mereka untuk memberikan hadiah kepada anak. Tidak harus mahal, tidak harus besar, bukan harus bernilai tinggi, tapi momen dan kesan yang ingin kita sampaikan kepada anak dari hadiah itu. Ada kadang-kadang hadiah itu tidak seberapa nilainya, tapi kesannya begitu mendalam. Sehingga dia mengenang hadiah itu, dia menyimpannya, dan dia begitu menyukainya.
    Apalagi khususnya di momen dimana anak itu melakukan apa yang kita perintahkan. Maka berilah apresiasi dengan hadiah. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala mendorong hamba-hambaNya untuk berbuat baik dengan pancingan hadiah berupa pahala? Bahkan pahala yang dilipatgandakan.
    Allah mendidik kita kepada kebaikan dengan hadiah berupa pahala atas ketaatan yang kita lakukan. Maka demikian pula pendekatan kita kepada anak-anak.
    Di sana ada orang tua yang memang pelit/kikir/bakhil. Tidak ada budget yang dia sisihkan untuk memberikan hadiah kepada anak. Maka tentunya di sini kita harus menyiapkan apa yang bisa kita berikan untuk anak.
    Di dalam hadits yang lain, riwayat Anas bin Malik disebutkan:
    يا بني! تبادلوا بينكم؛ فإنه أودّ لما بينكم
    “Hai anak-anakku, saling bertukar pemberianlah di antara kamu, niscaya akan mempererat kasih sayang di antara kamu.” (HR. Bukhari)
    Ini bersifat umum sebenarnya, bukan hanya kepada anak. Pemberian hadiah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap jiwa manusia, terutama kepada anak. Dan pengaruhnya terhadap jiwa anak akan jauh lebih besar. Ini merupakan pilar yang akan mengokohkan hubungan antara orang tua dan anak. Ini juga pilar yang kokoh di dalam membina perasaan anak, menggerakkan hatinya dan mengarahkan pandangannya dengan hadiah.
    Teladan Nabi dalam Memberi Hadiah kepada Anak
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan kepada kita contoh di dalam hal ini. Nabi suka memberi kepada anak-anak.
    Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika dianugerahi buah kurma hasil panen yang pertama kali matang. Setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan keberkahan pada hasil panen itu, Nabi memanggil seorang anak yang paling kecil lalu memberikan buah kurma tersebut kepadanya.
    ‘Aisyah juga menceritakan bahwa telah datang kiriman beberapa hadiah dari Raja Najasyi. Di antaranya ada selendang khas Habasyah. RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambilnya dengan jari beliau dan berpaling darinya (Nabi tidak menghendaki itu). Lalu beliau memanggil seorang anak perempuan bernama Umamah binti Abul Ash dan berkata: “Pakailah ini wahai putriku.”
    59 min
  • Keutamaan Berjihad dan Menangis Karena Allah
    Keutamaan Berjihad dan Menangis Karena Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 23 Safar 1444 H / 20 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Jihad Fi Sabilillah Lebih Utama dari Shalat Sunnah
    Keutamaan Berjihad dan Menangis Karena Allah
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وَعَنْ أبي هُرَيْرَةَ ، رضي اللَّه عنهُ ، قَالَ : قَال رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يلجُ النًَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيةِ اللَّهِ حتَّى يعُودَ اللَّبَن في الضَّرعِ ، وَلاَ يَجْتَمِعُ عَلَى عَبْدٍ غُبَارٌ في سبيل اللَّهِ ودخَان جهَنَّم » ، رواه الترمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Tidak akan masuk neraka seorang yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga susu bisa masuk ke dalam kantungnya. Dan tidak akan bertemu pada seorang hamba debu yang berterbangan di jalan Allah dan asap api neraka.'” (HR. Imam Tirmidzi dan beliau mengatakan hadits ini hadits hasan shahih)
    Hadits berikutnya:
    وعن ابن عبَّاسٍ ، رضي اللَّه عَنْهُمَا ، قَالَ : سمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ: «عيْنَانِ لا تَمسُّهُمَا النَّارُ : عيْنٌ بكَت مِنْ خَشْيةِ اللَّهِ ، وعيْنٌ باتَت تحْرُسُ في سبِيلِ اللَّهِ». رواه الترمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ .
    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Dua jenis mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang tidak tidur di malam hari karena berjaga di jalan Allah.'” (HR. Imam At-Tirmidzi dan beliau mengatakan hadits hasan)
    Dua hadits ini menjelaskan kepada kita tentang mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka. Yaitu mata yang menangis mengucurkan air mata karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Jadi menangis karena takut pada Allah Ta’ala adalah suatu amal yang mulia. Namun tangisan di sini bukan tangisan yang dibuat-buat, bukan tangisan yang didramatisirkan, tetapi tangisan yang betul-betul dari lubuk hati seorang hamba yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dia menangis dalam keadaan sendiri karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena orang yang takut kepada Allah Ta’ala akan menjaga dirinya, menjaga lisannya, menjaga pendengarannya, menjaga penglihatannya, dan menjaga seluruh anggota badannya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Kalaupun dia terjerumus ke dalam dosa, maka dia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia menyesali dan menangisi perbuatannya. Maka orang yang demikian keadaannya akan diselamatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dari adzab api neraka.
    Hadits berikutnya:
    وعن زَيدِ بنِ خَالدٍ ، رضِي اللَّه عَنْه ، أنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَال : « من جهَّزَ غَازِياً في سبيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا ، ومنْ خَلَفَ غَازياً في أَهْلِهِ بخَيْر فَقَدْ غزَا » . متفقٌ عليهِ .
    Dari Zaid bin Khalid Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyiapkan untuk seorang yang ikut berperang di jalan Allah, maka dia sama dengan orang yang telah berjihad di jalan Allah.
    1 hr 16 min
  • Bab Orang Yang Namanya Syihab
    Bab Orang Yang Namanya Syihab adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 22 Safar 1444 H / 19 September 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Bab Orang Yang Namanya Syihab
    Pembahasan kita masih berkaitan dengan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merubah nama-nama buruk yang dimiliki para sahabat. Karena kita tahu banyak di antara mereka adalah orang-orang yang hidup dimasa jahiliyah, dimana orang tua mereka juga belum kenal Islam, sehingga mereka memberikan nama sesuai dengan tadisi dan budaya yang ada pada waktu itu.
    Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus, maka beliau berusaha untuk memperbaiki yang buruk dan menyempurnakan yang kurang. Adapun kita yang sudah tumbuh besar dari keluarga muslim, maka jangan sembarangan memberikan nama, jangan mengulangi kesalahan yang dilakukannya orang-orang jahiliyah. Tapi banyak di antara kita yang memang tidak belajar dengan serius tentang urusan agama. Sampai urusan pemberian nama ini ada aturannya.
    Al-Imam Bukhari Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan باب شهاب (Bab orang yang namanya Syihab). Sampai hari ini ada orang yang memakai nama Syihab. Ternyata nama ini termasuk nama yang dirubah oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Syihab bisa berarti potongan bintang yang terpisahkan dari bintang aslinya, atau api. Ternyata nama ini nama yang tidak baik. Mungkin untuk sebagian orang mengatakan baik, tapi karena Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam merubahnya, maka berarti itu termasuk nama yang perlu dirubah. Walaupun kita tahu ada sebagian sahabat yang menolak ketika namanya dirubah.
    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ذُكِرَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رجلٌ يُقَالُ لَهُ: شِهَابٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “بَلْ أنت هشام”.
    “Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: ‘Disebutkan di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada satu orang yang namanya Syihab.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Akan tetapi engkau adalah Hisyam.'” (HR. Bukhari)
    Hisyam artinya yang menghancurkan roti. Ini adalah sebuah ungkapan untuk menyebutkan kedermawanan seorang. Dimana Hisyam adalah orang yang suka berbagi memberikan makanan kepada orang lain. Tentunya ini suatu nama yang indah yang menunjukkan kepada kemuliaan hati dan jiwa manusia sehingga dia suka berbagi dengan orang lain.
    Jangan pernah mengatakan “apa arti sebuah nama”, karena nama itu memiliki arti. Seseorang ingin dipanggil dengan nama-nama yang indah dan seseorang memberikan nama karena ingin sesuatu.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Bab Orang Yang Namanya Syihab
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Bab Orang Yang Namanya Syihab” yang penuh manfaat ...
    1 hr 25 min
  • Akibat Baik Untuk Orang-Orang Bertakwa
    Akibat Baik Untuk Orang-Orang Bertakwa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 22 Safar 1444 H / 19 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah Qarun
    Kisah Qarun
    Pada ayat yang ke-83 dan 84, Allah akhiri kisah Qarun dengan FirmanNya:
    تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ ‎﴿٨٣﴾‏ مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا ۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ‎﴿٨٤﴾‏
    “Itulah negeri akhirat, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian dan juga untuk orang-orang yang tidak melakukan kerusakan. Dan akibat yang baik itu untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qasas[28]: 83)
    Allah kabarkan dalam ayat ini bahwa surga diperuntukkan untuk orang-orang yang tawadhu’ (tidak sombong). Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan sikap tawadhu’ justru akan membuat orang diangkat derajatnya oleh Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ اللهُ
    “Siapa orang yang tawadhu’ karena Allah, Allah angkat derajatnya.” (HR. Ahmad)
    Ayat yang mulia ini menginginkan agar kita mensucikan hati dari kesombongan kalau ingin surga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kabarkan bahwa tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada sombong.
    لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
    “Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat sebesar biji dzarrah dari sifat kesombongan.” (HR. Muslim)
    Lihat juga: Hadits Ringkas dan Ringan Untuk Anak
    Kemudian di ayat ke-84, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا ۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
    “Barangsiapa yang mendatangkan kebaikan, maka baginya yang lebih baik dari itu; dan orang yang melakukan perbuatan buruk, maka tidak akan dibalas kecuali setimpal dengan perbuatannya.” (QS. Al-Qasas[28]: 84)
    Dari dua ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin membimbing pandangan, hati dan kehidupan kita ke negeri akhirat, mengajak untuk tidak cinta dunia dan menjadikan negeri akhirat sebesar-besar cita-cita.
    Dua ayat ini menjelaskan tentang sifat orang-orang yang menginginkan kehidupan akhirat. Mereka adalah orang-orang yang tidak sombong dan tidak melakukan kerusakan di muka bumi. Dan dari sifat ini kita mengetahui rahasianya kenapa Qarun dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Qarun menginginkan kehidupan dunia dan tidak menginginkan akhirat, karena Qarun sombong dan melakukan kerusakan di muka bumi.
    Siapa saja yang sombong dan melakukan kerusakan di atas muka bumi, maka orang ini akan mendapatkan dua kerugian; (1) rugi di dunia, dimana akhir dari orang yang sombong adalah berupa kebinasaan, (2) dan rugi di akhirat bahwa tempat orang yang sombong bukan di surga, tapi di neraka.
    Akibat yang baik untuk orang-orang yang bertakwa. Inilah rahasia orang diberikan kedudukan di atas muka bumi, diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan surga adalah karena takwa.
    51 min
  • Tipu Daya Iblis Untuk Memandang Rendah Harta
    Tipu Daya Iblis Untuk Memandang Rendah Harta ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 22 Safar 1444 H / 19 September 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Tipu Daya Iblis Untuk Memandang Rendah Harta
    Kita sampai pada talbis iblis terhadap kaum Sufi, di antaranya adalah sikap mereka yang meninggalkan harta dan menunjukkan seolah-olah mereka sampai kepada puncak kezuhudan dengan meninggalkan harta benda sama sekali, memandangnya rendah dan hina. Sehingga di antara mereka ada yang membuang-buang harta atau menyia-nyiakan harta.
    Ini adalah satu sikap yang salah tentunya. Karena harta itu juga perkara yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat kedudukan harta dan memerintahkan manusia agar menjaganya (tidak disia-siakan). Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan harta sebagai tonggak penyangga kehidupan manusia. Karena itu pulalah harta juga merupakan satu yang mulia.
    Salah satu perkara yang Allah benci adalah إضاعة المال (menyia-nyiakan harta). Dan memang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menanamkan kecintaan dan kesukaan manusia kepada harta, itu adalah suatu yang normal. Karena kita punya hawa nafsu, maka kita ada keinginan untuk memiliki harta. Terutama harta untuk menopang dan menyokong kehidupan manusia.
    Oleh karena itu harta pun juga suatu yang harus dimuliakan. Maka tidak boleh kita misalnya membakar uang, dengan alasan apapun. Misalnya dengan mengatakan: “Ini kan uang saya, saya mau bakar, saya mau koyak-koyak” itu tidak bisa diterima. Karena manusia akan menganggapnya itu salah. Bahkan di negara yang berdaulat tindakan seperti itu diancam hukum pidana. Karena harta adalah satu yang mulia. Apalagi dikatakan emas itu logam mulia. Karena dia memiliki nilai yang membuat orang yang memilikinya juga bisa menjadi mulia. Kita diperintahkan untuk menjaga dan tidak boleh menyia-nyiakannya.
    Sebagai bentuk untuk menjaga harta dan tidak menyia-nyiakannya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang menyerahkan harta kepada orang yang belum sempurna akalnya. Contohnya kita mengelola harta anak yatim, ini tidak boleh diserahkan kepada anak yatim itu sehingga dia sampai kepada usia rusyd dimana dia mampu dan cakap untuk mengelola harta itu dengan baik, hingga tidak tersia-siakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا…
    “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan…” (QS. An-Nisa'[4]: 5)
    Maka kita tidak boleh menyia-nyiakan harta, membuang-buang harta, atau menelantarkan harta, sehingga masuk ke dalam kategori perbuatan mubadzir yang disukai oleh setan dan dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tipu Daya Iblis Untuk Memandang Rendah Harta
    Mari turut membagikan link
    35 min
  • Islam dan Perangai-Perangainya
    Islam dan Perangai-Perangainya merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 21 Safar 1444 H / 18 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Orang Yang Berkata “Kita Dihujani Karena Bintang” Maka Dia Kafir

    Kajian Hadits Tentang Islam dan Perangai-Perangainya
    Kita masuk ke bab الإسلام ما هو؟ وبيان خصاله (apa itu Islam dan penjelasan tentang perangai-perangainya).
    عن طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ – رضي الله عنه – قال جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ وَلَا نَفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الزَّكَاةَ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ وفي رواية قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَفْلَحَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ.
    Dari Talhah bin Ubaidillah -semoga Allah meridhainya-, ia berkata: “Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari penduduk Najd, rambutnya acak-acakan. Kami mendengar dengungan suaranya tapi kami tidak memahami apa yang ia ucapkan, sehingga mendekatlah ia kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ternyata dia mau bertanya tentang Islam.
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Yaitu shalat lima waktu sehari semalam.’ Maka ia berkata: ‘Apakah ada kewajiban selain itu atasku wahai Rasulullah?’ Kata Rasulullah: ‘Tidak, kecuali kalau kamu mau shalat sunnah.’
    Kemudian Rasulullah menyebutkan: ‘Yaitu puasa bulan Ramadhan.’ Lalu ia bertanya lagi: ‘Apakah ada yang lain yang wajib atasku wahai Rasulullah?’ Kata Rasulullah: ‘Tidak ada, kecuali kalau kamu mau puasa sunnah.’
    Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan: ‘Dan zakat.’ Maka orang itu bertanya: ‘Apakah ada selain zakat yang wajib atasku wahai Rasulullah dari hartaku itu?’ Kata Rasulullah: ‘Tidak ada, kecuali kalau kamu mau melaksanakan infak tathawwu.’
    Lalu orang itu pun pergilah sambil berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan menambah lebih dari ini dan aku tidak akan mengurangi darinya.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Beruntung jika ia jujur.'” (HR. Muslim)
    Ini menunjukkan bolehnya seseorang mencukupkan diri dengan yang wajib-wajib. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Dia telah mendapatkan keberuntungan…” Tapi di sini tentunya bukan keberuntungan yang sama dengan keberuntungan orang yang melebihi itu. Artinya orang yang mencukupkan diri dengan yang wajib-wajib dia beruntung. Tapi kalau ia menambah dengan yang sunnah-sunnah (lebih dar...
    48 min
  • Khutbah Jumat: Lari dari Fitnah
    Khutbah Jumat: Lari dari Fitnah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 19 Safar 1444 H / 16 September 2022 M.

    Khutbah Pertama Khutbah Jumat: Lari dari Fitnah
    Sesungguhnya kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Fitnah berupa aqidah yang menyimpang, fitnah berupa syubuhat, fitnah berupa syahwat, dan berbagai macam penyimpangan-penyimpangan yang lainnya. Fitnah-fitnah tersebut menyebabkan cahaya iman semakin pudar di hati seorang hamba.
    Maka seorang mukmin agar selamat dari fitnah, ia diperintahkan oleh syariat kita untuk lari dari fitnah dan menjauhi darinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    يُوشَكُ أنْ يكونَ خيرَ مالِ المسلمِ غَنَمٌ يَتَّبعُ بها شَعَفَ الجبالِ، ومواقعَ القطرِ يَفِرُّ بدينِهِ من الفتنِ
    “Hampir hampir sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang ia pelihara di puncak-puncak gunung dan di lembah-lembah, ia lari membawa agamanya (berusaha untuk menyelamatkan dirinya) dari fitnah.” (HR. Bukhari)
    Adapun kemudian kita malah mendekati fitnah, mencampakkan diri kepada fitnah, dan membuka hati kita kepada setiap fitnah, demi Allah kita tidak akan selamat dari fitnah.
    Seorang mukmin sangat khawatir apabila agama dan hatinya terfitnah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ketika mengabarkan akan munculnya fitnah:
    تَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ مُهْلِكَتِي، ثُمَّ تَنْكَشِفُ
    “Datang fitnah, seorang mukmin berkata: ‘Ini yang akan membinasakanku.’ Lalu fitnah itu pergilah. Lalu datang lagi fitnah, seorang mukmin berkata lagi: ‘Ini yang akan membinasakanku.’ Lalu fitnah itu pergi…”
    فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
    “Siapa yang ingin diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah kematian mendatanginya dalam keadaan beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat.” (HR. Muslim)
    Lihatlah si Mukmin ini, ketika dia melihat fitnah ia sadar itu adalah perkara yang bisa membinasakan agama dan keimanannya. Dia berkata: “Ini yang akan membinasakanku.” Maka segera ia lari, saudaraku.
    Adapun kemudian kita mencampakkan diri kita kepada fitnah, lalu kita merasa bahwa iman kita tidak akan berkurang dan hati kita tidak akan tergoda, Subhanallah, ini adalah merupakan sikap orang-orang yang tidak menyadari tentang hakikat fitnah.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang lain:
    تُعْرَضُ الفِتَنُ علَى القُلُوبِ كالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا…
    “Fitnah itu dijalin dalam hati seperti dijalinnya tikar, seutas demi seutas. Hati mana saja yang mengingkari fitnah tersebut, akan diberikan goresan yang putih. Hati mana saja yang menerima fitnah, maka akan diberikan goresan hitam. Sehingga menjadi dua hati; (1) hati yang hitam dan kelam bagaikan cangkir yang dibalikkan, dia sudah tidak lagi mengenal yang ma’ruf dan tidak lagi mengingkari yang munkar. (2) hati yang putih bersih, tidak dibahayakan oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada.” (HR. Muslim)
    Itu hati orang-orang yang mengingkari fitnah, hati orang-orang yang lari dari fitnah, menyelamatkan hatinya, keimanannya dan agamanya. Karena modal kita menuju kuburan adalah hati, keselamatan kita pada hari kiamat adalah keselamatan hati kita. Allah berfirman:
    يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ‎﴿٨٨﴾‏ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ‎﴿٨٩﴾
    “Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak,
    15 min
  • Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Terluka
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Terluka adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 17 Safar 1444 H / 14 September 2022 M.

    Kajian Tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Terluka
    Dalam Kitab Ash-Shahih, dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, “Waktu peperangan Uhud Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terluka di bagian kepala dan gigi taringnya, maka beliau bersabda:
    كيف يفلح قوم شجوا نبيهم؟ فنزلت: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ}
    ‘Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka.’ Lalu turunlah ayat: ‘Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Imam Ibnu Ishaq meriwayatkan, telah meriwayatkan kepada kami Humaid Ath-Thawil, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:
    “Patah gigi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada peperangan uhud, dan wajah beliau terluka, dan darah mengalir di atas wajah beliau, dan beliau mengusap darah dalam keadaan berkata: ‘Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai wajah Nabi mereka sedangkan Nabi mereka mengajak kepada Rabb mereka.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat ini: ‘Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka.'”
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Terluka
    Abu As-Sa’adat berkata bahwa yang namanya الشجّ adalah luka pada bagian kepala saja, yaitu dipukul dengan sesuatu lalu akhirnya kepalanya terluka dan robek, kemudian setelah itu juga banyak dipakai dari bagian-bagian tubuh lainnya jika bagian tubuh lainnya itu terkena sesuatu lalu luka lebar.
    Disebutkan oleh Imam Ibnu Hisyam, dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Uthbah bin Abu Waqqash adalah orang yang mematahkan gigi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bawah dan melukai bibir beliau yang atas. Dan bahwasannya Abdullah bin Syihab Az-Zuhri adalah orang yang melukai wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan bahwa Abdullah bin Rabi’ah yang melukai di pipi bagian atas sampai masuk dua besi dari penutup kepala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di pipi beliau. Dan Malik bin Sinan yang mengusap darah dari wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menyapunya, maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Api neraka tidak akan mengenai engkau.”
    Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Terjadinya ujian dan rasa sakit yang diderita oleh para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam adalah agar para Nabi tersebut mendapatkan ganjaran yang agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan juga salah satunya agar umat-umat mengetahui apa yang mereka derita sehingga mereka memperjuangkan agama Islam ini mencontoh para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam.”
    Al-Qadhi berkata: “Agar diketahui bahwa para Nabi itu adalah manusia yang tertimpa ujian-ujian dunia, dan terjadi pada tubuh mereka apa yang terjadi pada tubuh manusia, agar diyakini bahwa mereka itu adalah hamba-hamba Allah, dan tidak terkecoh dengan apa yang nampak pada tangan-tangan mereka berupa mukjizat. Dan akhirnya nanti setan akan melakukan kelicikan apa yang telah ia lakukan terhadap kaum Nasrani dan selain mereka.”
    Artinya meskipun para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam dibekali dengan mukjizat, maka pada saat itu mereka tetap tidak berhak diibadahi.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    1 hr 13 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah