Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Membelai dan Mencium Anak
    Membelai dan Mencium Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 9 Safar 1444 H / 6 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Pentingnya Menjaga Perasaan Anak
    Membelai dan Mencium Anak
    Ada beberapa cara untuk mengungkapkan kasih sayang. Salah satu di antaranya yaitu memberikan kecupan sayang atau mencium anak. Ini dilakukan oleh Nabi dan bukan perkara yang tabu.
    Maksud kecukupan disini adalah untuk melimpahkan dan menuangkan rasa kasih sayang kepada anak. Nabi mengatakan:
    مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
    “Barangsiapa yang tidak menyayangi dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencium cucu-cucu beliau dan anak-anak. Bahkan dalam satu hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Nabi Shalallahu mencium Hasan bin Ali (cucu beliau). Lalu Aqra’ berkata: “Aku punya anak 10 orang, namun aku tidak pernah mencium seorangpun dari mereka.” Maka Nabi berkata kepadanya:
    مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
    “Barangsiapa yang tidak menyayangi dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Memberikan kecupan kepada mereka adalah salah satu bentuk kita menuangkan rasa kasih sayang. Dan anak tentunya akan merasakan hal yang sama juga. Anak merasa disayangi, didekati dan dicintai, sehingga akan muncul rasa cinta itu di dalam hatinya. Perasaannya akan menjadi lembut, lunak dan mudah mengikuti kata-kata kita.
    Membelai Anak dengan Penuh Ketulusan
    Di antara bentuk cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang dan sangat penting untuk menjaga perasaan adalah membelai anak dengan penuh ketulusan.
    Disamping kecupan, belaian juga merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang kepada mereka. Saat kita berbincang atau bermain dengannya, maka kita membelai mereka.
    Mungkin kelihatannya hal itu sepertinya sepele. Namun apa yang dirasakan oleh anak ketika ia mendapatkan hal itu dari orangtuanya? Bisa jadi melebihi apa yang kita bayangkan. Berapa banyak anak yang tercukupi segala kebutuhan materinya, namun gersang jiwanya karena belaian orang tua tidak pernah dia rasakan. Walaupun dia mungkin mendapatkan kecukupan materi dan keperluan-keperluan duniawi lainnya.
    Sayangnya masih banyak orang tua yang kurang menyadari hal ini. Mereka enggan atau merasa tidak perlu melakukannya. Bahkan ada sebagian orang tua yang membiasakan anak itu kasar dan keras. Berbicara keras-keras, bersikap juga keras, lalu anak ini mau menjadi apa? Kalaulah dia tumbuh menjadi pribadi yang keras tanpa kasih sayang dan empati, jangan salahkan anak. Karena orang tua yang yang menanamkan itu kepada mereka.
    Jadi hati anak perlu dilembutkan dengan cara-cara seperti ini. Karena sebagian orang tua merasa tidak perlu melakukannya. Bahkan anak dibiasakan dengan kekerasan; dijitak kepalanya, dipukul badannya, ditendang tubuhnya. Ini tidak baik walaupun kepada seorang anak laki-laki.
    Nabi memperlakukan ini (membelai) kepada anak laki-laki. Adapun anak kepada anak perempuan tentunya lebih dituntut lagi untuk memberikan hal ini kepada mereka. Karena anak perasaan perempuan lebih lembut dan halus.
    Apa saja hal-hal yang perlu kita perhatikan untuk menjaga perasaan anak-anak? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM...
    44 min
  • Keutamaan Ar-Ribath
    Keutamaan Ar-Ribath adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 9 Safar 1444 H / 6 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Umrah Bulan Ramadhan
    Keutamaan Ar-Ribath
    Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Pernah ada seseorang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu orang itu bertanya: ‘Siapakah di antara manusia ini yang paling afdhal?’ Maka dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ ومالِهِ في سبِيلِ اللَّهِ
    “Orang yang paling utama adalah seorang mukmin yang dia berjihad di jalan Allah dengan jiwa raga dan hartanya.”
    Lalu orang itu bertanya: ‘Kemudian siapa sesudah itu?’ Maka dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مُؤْمِنٌ في شِعْبٍ مِنَ الشِّعابِ يعْبُدُ اللَّه ، ويَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ
    “Seorang mukmin yang pergi ke gunung menjauhi manusia, dia beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan manusia dari hal-hal buruk yang mungkin dia melakukannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Hadits berikutnya:
    وعنْ سهل بنِ سعْدٍ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قَالَ : « رِباطٌ يَوْمٍ في سَبيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيا وما عَلَيْها ، ومَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ مِنَ الجنَّةِ خَيْرٌ من الدُّنْيا وما عَلَيْها ، والرَّوْحةُ يرُوحُها العبْدُ في سَبيلِ اللَّهِ تَعالى ، أوِ الغَدْوَةُ ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْياَ وَما عَليْهَا » . متفقٌ عليه .
    Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang berjaga di daerah-daerah perbatasan kaum muslimin selama satu hari karena Allah adalah lebih baik baginya daripada dunia dan semua yang ada diatas dunia ini. Dan satu tempat untuk meletakkan cambuk dari salah seorang di antara kalian di surga itu lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya. Dan seorang yang keluar dari rumahnya dalam rangka untuk berjihad di jalan Allah, baik diwaktu pagi atau sore, adalah lebih baik daripada dunia dan apa yang ada diatasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tiga poin penting tentang keutamaan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tiga hal itu yaitu:
    Pertama, tentang ribat. Ribat yaitu seorang mukmin dengan sukarela menjaga di daerah-daerah perbatasan dari negeri-negeri muslim supaya tidak dimasuki dan diserang oleh musuh. Inilah yang dinamakan murabathah (مُرَابَطَة). Seorang yang menjaga satu hari di daerah perbatasan kaum muslimin itu dan dia berada di jalan Allah itu lebih baik daripada dunia dan apa yang ada diatas dunia ini.
    Kedua, satu tempat yang kecil di surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Bahkan disebutkan tentang sauth (satu alat yang dipakai untuk memukul kendaraan supaya dia bergerak dengan cepat) di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Ini menunjukkan keutamaan orang yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa, raga dan kendaraannya.
    Ketiga, orang yang pergi meninggalkan keluarga dan harta bendanya untuk berjihad di jalan Allah, itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    1 hr 12 min
  • Adab Memanggil Orang Lain
    Adab Memanggil Orang Lain adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 8 Safar 1444 H / 5 September 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Adab Memanggil Orang Lain
    Pembahasan kita masuk ke بَابُ يُدْعَى الرَّجُلُ بِأَحَبِّ الْأَسْمَاءِ إِلَيْهِ (Bab seseorang dipanggil dengan nama yang paling dia sukai).
    Kadangkala satu orang mempunyai banyak nama. Boleh jadi nama panggilan yang sudah tersebar di masyarakat. Dan di antara nama-nama itu ada nama yang paling dia sukai. Maka kita sebagai sesama muslim hendaklah menyematkan kepada dia nama yang paling dia sukai.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
    “Wahai orang-orang beriman, janganlah sebagian di antara laki-laki memperolok-olok laki-laki yang lainnya. Dan jangan pula perempuan-perempuan memperolok-olok wanita yang lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik…”
    Ini bicara bully membully dalam Islam, sejak 1400 tahun yang lalu sudah dilarang. Bahkan kata Allah:
    “Jangan kalian mencela diri kalian sendiri,” artinya dia itu saudara kalian. Engkau kalau memaki dan mencela dia, sejatinya engkau memakai dirimu sendiri.
    “Dan jangan saling melemparkan gelar-gelar, seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman” Engkau sudah beriman, sudah belajar, sudah mengerti. Itu adalah sebuah kefasikan ketika engkau memberikan gelar kepada seseorang yang dia tidak menyukainya.
    Seharusnya orang beriman itu berubah, tidak seperti yang dulu ketika kafir. Hal ini karena banyak dari para sahabat Nabi pada saat ini adalah orang-orang yang mempunyai masa jahiliyah. Mereka dahulunya orang-orang kafir.
    “dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat[49]: 11)
    Jadi ketika kita memanggil seseorang, panggil dengan nama yang paling dia sukai. Dan biasanya orang itu gembira ketika dipanggil dengan nama yang paling dia sukai. Itu menunjukkan bahwa orang ini menghargai atau kenal dengannya.
    Di sini Al-Imam Bukhari menyebutkan sebuah hadits yang secara sanadnya dhaif, tapi maknanya shahih.
    يُعْجِبُهُ أَنْ يُدْعَى الرَّجُلُ بِأَحَبِّ أَسْمَائِهِ إِلَيْهِ، وَأَحَبِّ كُنَاهُ
    “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suka ketika seseorang dipanggil dengan namanya yang paling dia sukai dan dengan kunyah yang paling dia sukai.”
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Adab Memanggil Orang Lain
    Mari turut membagikan link download
    1 hr 28 min
  • Kisah Qarun
    Kisah Qarun adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 8 Safar 1444 H / 5 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Rasa Takut Kepada Allah
    Kisah Qarun
    Pada kesempatan ini kita akan membaca ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berisi tentang kisah Qarun yang adalah pada surah Al-Qashash ayat 76-83. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
    “Sesungguhnya Qarun itu termasuk kaumnya Nabi Musa, tetapi Qarun berbuat dzalim kepada mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang mana kunci-kuncinya sangat berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Dan ingatlah ketika kaumnya berkata kepada Qarun: ‘Janganlah engkau berbangga-bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan dirinya'” (QS. Al-Qasas[28]: 76)
    وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
    “Dan carilah pahala negeri akhirat sesuai dengan apa yang Allah anugrahkan kepada engkau, dan janganlah engkau lupa bagianmu dari dunia dan berbuat baiklah kepada manusia sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada engkau, janganlah engkau membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas[28]: 77)
    الَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
    “Qarun berkata: ‘Sesungguhnya harta kekayaan ini dihasilkan karena ilmu yang ada padaku’. Tidakkah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang mana mereka itu lebih kuat dan lebih banyak mengumpulkan harta? Maka tentang orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa yang mereka miliki.” (QS. Al-Qasas[28]: 78)
    فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
    “Qarun keluar di tengah-tengah kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia: ‘Mudah-mudahan kita diberi harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya Qarun itu benar-benar mendapatkan keberuntungan yang besar.'” (QS. Al-Qasas[28]: 79)
    وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
    “Dan berkatalah orang-orang yang memiliki ilmu: ‘Celakalah kalian, pahala Allah itu lebih baik untuk orang yang beriman dan orang yang beramal shalih, dan pahala yang sangat besar itu tidaklah didapat kecuali bagi orang-orang yang sabar.'” (QS. Al-Qasas[28]: 80)
    فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنتَصِرِينَ
    “Maka Kami benamkan Qarun beserta istananya ke dalam bumi.
    49 min
  • Masalah-Masalah Terkait Takbiratul Ihram
    Masalah-Masalah Terkait Takbiratul Ihram ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 8 Safar 1444 H / 5 September 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Berdiri Dalam Shalat Wajib
    Kajian Tentang Masalah-Masalah Terkait Takbiratul Ihram
    Takbiratul ihram adalah rukun dalam shalat kita. Tanpa takbiratul ihram maka shalat kita tidak akan sah. Karena sebagaimana telah kita sampaikan sebelumnya bahwa rukun adalah sesuatu yang membentuk hakikat sesuatu. Shalat itu dibentuk oleh rukun-rukunnya. Tanpa rukun-rukunnya maka hakikat shalat tidak ada. Termasuk di antara rukun yang membentuk hakikat shalat adalah takbiratul ihram. Sehingga tanpa takbiratul ihram itu hakikat shalat tidak ada.
    Termasuk di antara masalah yang berkaitan dengan rukun ini adalah bahwa takbiratul ihram harus dengan bacaan “الله أكبر (Allahuakbar)”, tidak boleh menggunakan bacaan yang lainnya, tidak boleh juga dengan terjemahannya, harus dengan bahasa Arab. Ini pendapatnya mayoritas ulama; Mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali. Dan inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini.
    Memang ada pendapat yang mengatakan kalau diganti dengan الله الأعظم (Allah Yang Paling Agung) tidak masalah. Hal ini karena maknanya hampir sama. Namun pendapat mayoritas ulama dalam masalah ini lebih kuat. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu ketika shalat mencontohkannya demikian. Beliau tidak pernah mengganti takbiratul ihram dan takbir-takbir yang lainnya di dalam shalat dengan الله الأعظم. Seandainya itu dibolehkan, tentunya terkadang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca bacaan tersebut. Tapi ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah melakukan yang demikian. Padahal beliau mampu dan tidak ada halangan bagi beliau untuk melakukan hal itu. Oleh karenanya tidak boleh bagi kita untuk membaca selain Allahuakbar dalam takbiratul ihram.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga dahulu mengatakan:
    صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)
    Dan dahulu ketika takbiratul ihram yang dibaca Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Allahuakbar, bukan bacaan yang lainnya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Masalah-Masalah Terkait Takbiratul Ihram
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Masalah-Masalah Terkait Takbiratul Ihram” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 3 min
  • Problematika Rumah Tangga
    Problematika Rumah Tangga adalah kajian tematik yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah pada Sabtu, 6 Safar 1444 H / 3 September 2022 M.
    Problematika Rumah Tangga
    Pembahasan ini sangat penting dan dibutuhkan oleh kita semua, baik yang sudah menikah atau yang belum menikah. Betapa banyaknya orang yang masuk ke dalam dunia rumah tangga tanpa berilmu akhirnya bertemu jalan buntu. Karena mengikuti hawa nafsu didalam rumah tangga, mengikuti pola-pola orang di luar agama Islam dalam rumah tangga, mengikuti hanya kebiasaan masyarakat, sehingga bertemu dengan realita-realita pahit. Dan setelah bertemu realita pahit baru mencari Ustadz yang mengerti agama bagaimana solusinya. Ketika masalah itu sudah besar, tentu tidak mudah dalam menyelesaikannya.
    Siapapun di antara kita yang ingin menjadi manusia bahagia hidup di permukaan bumi, dia wajib paham dan mengerti bahwa kunci kebahagiaan itu di rumah tangga. Mustahil anda menjadi manusia bahagia kalau rumah tangga semrawut. Jika rumah tangga tidak memberikan kebahagiaan, harta sebanyak apapun tak ada artinya, pangkat setinggi apapun takkan menghantarkan manusia kepada kebahagiaan. Karena kunci kebahagiaan itu letaknya di rumah tangga.
    Maka siapapun yang benar ingin bahagia, dia berkewajiban untuk mengurus rumah tangganya sehingga menjadi rumah tangga yang nyaman dan dia idam-idamkan. Tentu sesuai dengan syariat. Karena Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengajarkan segala-galanya kepada manusia.
    Ayat yang paling sering dibacakan orang ketika menikah adalah surah Ar-Rum ayat 21.
    وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا …
    “Di antara tanda-tanda kebesaran Allah ketika Allah menciptakan untuk kalian dari jenis kalian sendiri pasangan-pasangan, agar kalian tenang dan tentram bersama pasangan itu…” (QS. Ar-Rum[30]: 21)
    Lihat baik-baik, dimana Allah letakkan ketenangan dan ketentraman. Jawabannya adalah pada pasangan, bukan di kedai kopi.
    Mari masing-masing kita yang sudah memiliki pasangan bertanya. Apakah benar hal yang paling nyaman dan tentram bagi kita adalah ketika sedang duduk bercengkrama bersama pasangan kita? Kalau iya, maka kita sudah mengamalkan ayat ini.
    Coba cari di dalam ayat Al-Qur’an atau di dalam hadits Nabi yang mengatakan jabatan atau popularitas memberikan kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman. Tentu tidak ada. Oleh karena itu sehebat apapun anda memegang sebuah jabatan, sebesar apapun perusahaanmu, sebanyak apapun karyawan anda, seterkenal apapun dirimu, kalau bersama pasangan tidak nyaman, maka selamat menderita.
    Di dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang amalan yang memasukkan seseorang ke dalam surga. Rasul menunjuk lisannya seraya berkata Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ
    “Tahan lisanmu ini, dan hendaklah rumahmu lapang (nyaman) bagimu.” (HR. Bukhari)
    Makna “lapang” di sini tentunya bukan dilapangkan dari sisi luas rumah. Tapi hendaknya rumah itu nyaman dan indah bagi kita. Rumah yang kalau kita sudah berada di dalamnya terasa tenang, tenteram dan bahagia ketika bersama istri dan anak-anak.
    Maka masing-masing kita jujur kepada diri sendiri walau tidak perlu dijawab. Majelis mana yang paling kita sukai? Kalau jawabannya belum bersama istri dan anak-anak, maka kita harus sadar bahwa kita belum menjadi manusia bahagia. Ini harus diperbaiki, karena berarti ada masalah dalam hubungan itu. Dan itu yang telah perlahan tapi pasti mengusir kita dari koridor kebahagiaan.
    Kalau seandainya jawaban duduk yang paling kita sukai adalah duduk bersama pasangan dan anak-anak, masyaAllah anda sudah dekat dengan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala.
    1 hr 54 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 62 – Kisah Al-Quran Adalah Kisah Yang Haq
    Tafsir Ali Imran Ayat 62 – Kisah Al-Quran Adalah Kisah Yang Haq adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 5 Shafar 1444 H / 1 September 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 62 – Kisah Al-Quran Adalah Kisah Yang Haq
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
    “Sesungguhnya ini adalah kisah yang haq, dan tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah. Dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 62)
    Kata “ini” yang dimaksud adalah apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dari kisah Nabi Isa bin Maryam ‘Alaihish Shalatu was Salam. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara tentang Isa bin Maryam di ayat-ayat yang banyak sekali.
    Menit ke- Di antara faedah dari ayat ini adalah:
    Kisah Al-Quran Adalah Kisah Yang Haq
    Kisah yang Allah kabarkan tentang Isa bin Maryam adalah benar adanya. Dari kaidah ini maka kita dapatkan bahwa setiap yang menyelisihi kisah dalam Al-Qur’an dari apa yang dikisahkan kaum Nashara tentang Isa, maka ini merupakan kedustaan dan kebatilan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran ayat 62 – Bab Kisah Al-Quran Adalah Kisah Yang Haq
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    27 min
  • Pentingnya Menjaga Perasaan Anak
    Pentingnya Menjaga Perasaan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 2 Safar 1444 H / 30 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kelembutan
    Pentingnya Menjaga Perasaan Anak
    Kadang kala amarah kita itu melukai perasaan anak. Karena ketika marah ada kata-kata yang tidak pantas terlontar, ada sikap yang tidak baik dilakukan, terkadang juga kita silap, saat marah kita memukul atau melakukan kekerasan fisik terhadap anak. Ini tentunya akan melukai perasaan.
    Hati yang terluka itu sebenarnya susah untuk disembuhkan. Maka sangat penting dan perlu kita menjaga perasaan anak. Karena yang kita hadapi adalah seorang insan yang memiliki hati dan perasaan, bukan benda mati. Dia juga sama seperti kita yang memiliki perasaan.
    Maka jangan suka marah. Jagalah perasaan anak sedemikian rupa. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap jiwa dan kepribadiannya. Apabila perasaan anak dijaga dan dibina secara baik, maka kelak ia akan menjadi anak yang lurus dimasa depannya maupun dalam kehidupannya secara utuh. Namun jika tidak maka akibatnya adalah akan terjadi sebaliknya. Yaitu anak tumbuh menjadi pribadi yang lemah tidak percaya diri, atau dia akan menjadi pribadi yang keras tanpa empati. Maka dari itu orang tua hendaknya betul-betul menjaga hal ini.
    Oleh karena itu pembinaan perasaan ini memiliki urgensi yang begitu besar dalam mengasah dan membentuk kepribadian anak. Jika perasaan anak baik, maka dia akan dapat melalui setiap tahapan perkembangan usia dengan tenang dan bahagia. Tapi jika tidak maka akan ada keguncangan-keguncangan dalam hidupnya. Tentu ini akan menyebabkan efek traumatis terhadap anak.
    Kita tahu anak-anak yang punya kebiasaan menyimpang dimasa dewasanya, itu karena ada kejadian-kejadian traumantis yang dia lewati dimasa kanak-kanak. Ini akan membayanginya sampai dia dewasa.
    Maka dari itu orang tua harus memainkan peran terbesar dalam membina perasaan ini. Karena orang tua adalah tempat bersandar. Kalau anak tidak lagi mendapati orang tuanya sebagai tempat bertumpu dan bersandar, maka dia akan kehilangan pegangan dan kehilangan arah. Dia akan cari orang-orang di luar sana yang bisa menjadi tempat sandaran dan tumpuannya. Tentu ini berbahaya. Di luar sana kita tidak tahu seberapa lurus dan tulus mereka berinteraksi dengan anak kita.
    Tidak ada orang yang lebih menyayangi seseorang selain orang tuanya. Ini adalah fitrah yang ada pada hewan sekalipun. Maka membuat mereka jauh dari kita karena perasaan mereka yang terluka, ini akan berbahaya sekali.
    Apa saja hal-hal yang perlu kita perhatikan untuk menjaga perasaan anak-anak? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Menjaga Perasaan Anak” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    48 min
  • Umrah Bulan Ramadhan
    Umrah Bulan Ramadhan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 2 Safar 1444 H / 30 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Amal Yang Ditanyakan Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Umrah Bulan Ramadhan
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وعنِ ابنِ عباسٍ ، رضي اللَّه عنهُما ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « عُمرَةٌ في رمَضَانَ تَعدِلُ عَمْرَةً أَوْ حَجَّةً مَعِي » متفقٌ عليهِ .
    Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mengerjakan umrah di bulan Ramadhan itu menyamai ibadah haji bersana aku.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
    Hadits ini tentu menunjukkan kepada kita tentang keutamaan orang yang melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan.
    Hadits berikutnya:
    وَعَنْهُ أنَّ امرَأَةً قالَتْ : يا رَسُولَ اللَّهِ ، إنَّ فَريضَةَ اللَّهِ على عِبَادِهِ في الحجِّ ، أَدْرَكتْ أبي شَيخاً كَبِيراً ، لا يَثبُتُ عَلى الرَّاحِلَةِ أَفَأْحُجُّ عَنهُ ؟ قال : « نعم » . متفقٌ عليهِ.
    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu pula bahwasanya ada seorang wanita berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada hamba-hambaNya untuk melaksanakan ibadah haji. Dan ketika kewajiban haji itu Allah wajibkan, ayahku dalam keadaan tua renta, dia tidak bisa duduk lama di atas kendaraan. Bolehkah aku melaksanakan ibadah haji untuk mewakili beliau?” Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Iya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
    Tentu hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keadaan seseorang yang tidak bisa lagi melaksanakan ibadah haji karena faktor usia yang sudah lanjut sehingga tidak mempunyai kekuatan untuk perjalanan jauh apalagi naik kendaraan dalam waktu yang cukup panjang.
    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang orang yang mampu secara finansial. Tetapi dia tidak mampu untuk mengerjakan ibadah haji karena faktor sakit yang tidak mungkin sembuh menurut prediksi dokter, atau telah menginjak usia lanjut. Maka dalam kondisi seperti ini dia boleh mewakilkan seseorang melaksanakan ibadah haji dengan niat untuk orang tersebut.
    Kita lihat di sini bahwa tentu yang lebih utama adalah dari kerabatnya (terutama anaknya). Sang anak menghajikan orang tua yang masih hidup tetapi sudah tidak mampu lagi untuk mengerjakan ibadah haji. Dengan catatan bahwa orang yang menggantikan ibadah haji seseorang harus sudah melaksanakan ibadah haji yang wajib untuk dirinya. Yang mana ibadah haji merupakan rukun Islam bagi dirinya. Adapun jika seseorang belum mengerjakan ibadah haji untuk dirinya, maka dia tidak bisa menggantikan orang lain.
    Kemudian juga ketika seseorang telah meninggal. Kemudian anaknya ingin menghajikan orang tuanya yang sudah meninggal. Maka syaratnya sama dengan catatan yang sebelumnya bahwa Anak harus lebih dahulu mengerjakan ibadah haji untuk dirinya. Setelah itu baru kemudian dia bisa mewakili orang tuanya.
    Hadits berikutnya:
    وعن لقًيطِ بنِ عامرٍ ، رضي اللَّه عنهُ ، أَنَّهُ أَتى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَال : إنَّ أبي شَيخٌ كَبيرٌ لا يستَطِيعٌ الحجَّ ، وَلا العُمرَةَ ، وَلا الظَعَنَ ، قال : « حُجَّ عَنْ أَبِيكَ واعْتمِرْ».
    رواهُ أَبو داودَ ، والترمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ صحيح .
    Dari Laqith bin ‘Amir Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya beliau mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
    1 hr 4 min
  • Rasa Takut Kepada Allah
    Rasa Takut Kepada Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 1 Safar 1444 H / 29 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ketakwaan Sebab Mendapatkan Kebahagiaan
    Rasa Takut Kepada Allah
    Rasa takut kepada Allah bisa mencegah orang dari semua keburukan dan bisa mendorong orang kepada semua kebaikan. Ini diambil dari kisah dua putra Adam. Yakni dari perbuatannya Habil yang tidak mau membalas kelakuan Qabil yang hendak membunuhnya.
    Allah berfirman tentang perkataan Qabil:
    …قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ…
    “Aku akan membunuhmu.” (QS. Al-Ma’idah[5]: )
    Kemudian Habil berkata:
    لَئِن بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ ‎﴿٢٨﴾‏ إِنِّي أُرِيدُ أَن تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ ‎﴿٢٩﴾‏
    “Seandainya kau gerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan pernah menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah Rabb Alam Semesta.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 28)
    Habil tidak mau membalas perbuatan Qabil karena rasa takutnya kepada Allah. Orang yang takut kepada Allah tidak mungkin berbuat semena-mena. Dia tahu kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai perbuatan dzalim dan pasti akan membalas. Habil ingin surga dan dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada orang yang baik. Oleh karena itu dia berkata:
    “Aku ingin engkau kembali dengan membawa dosa dengan membunuhku, selain itu kau juga bahwa dosa-dosamu, niscaya engkau termasuk penduduk api neraka, demikianlah balasan orang-orang yang berbuat dzalim.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 29)
    Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalangi orang dari semua keburukan dan mendorong untuk berbuat semua kebaikan.
    Demikian pula takut kepada Allah menghalangi seseorang dari berbuat zina. Kita lihat contohnya Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam ketika digoda oleh wanita bangsawan yang cantik, banyak pengawalnya, pintu-pintunya telah ditutup, Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam masih muda dan jauh dari kampungnya. Tentu ini semua menjadikannya sangat mudah untuk berbuat maksiat. Tapi karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dia tidak melakukannya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Rasa Takut Kepada Allah
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    47 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah