Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Memperhatikan Penampilan Anak
    Memperhatikan Penampilan Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 1 Safar 1444 H / 29 Agustus 2022 M.

    Kajian Tentang Memperhatikan Penampilan Anak
    Mungkin pertama kali membaca judul ini, ada sebagian dari jama’ah yang mengira bahwa kita akan banyak mengkaji tentang estetika/keindahan penampilan. Walaupun keindahan penampilan itu penting, tapi bukan itu yang akan kita bahas. Karena ada poin yang lebih penting tentang penampilan.
    Pertama, penampilan lahiriyah (yang tampak) dari seseorang adalah cermin dari pemahaman yang dianutnya. Sehingga ketika ada orang mempunyai penampilan yang dicat, tubuhnya penuh dengan tatto, hidungnya diberikan anting-anting, yang terbesit di benak kita bahwa dia adalah orang yang tidak baik.
    Ketika ada orang pakai kalung salib, maka dengan cepat kita bisa mengetahui bahwa dirinya adalah seorang yang beragama nasrani.
    Ketika ada wanita mengenakan jilbab, maka dengan cepat kita bisa menilai bahwa dia adalah muslimah.
    Jadi penampilan lahiriyah itu penting. Sehingga jangan sampai kita mengatakan “Apalah arti sebuah pakaian/penampilan”. Penampilan adalah potret dari keyakinan seseorang. Sehingga kita harus memperhatikan bagaimana supaya penampilan kita ini sesuai dengan ajaran agama kita. Sehingga orang lain tidak berburuk sangka kepada kita.
    Yang dilihat oleh orang lain adalah penampilan luar, adapun isi hati yang tahu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Karena penampilan adalah cermin dari keyakinan dan ideologi yang dianut seseorang, maka orang tua punya kewajiban sejak dini untuk memperhatikan penampilan putra-putrinya. Mulai dari gaya cukuran rambutnya, model pakaiannya, begitu pula tutur kata, prilaku dan gerak-geriknya.
    Walaupun masih kecil, itu bukan alasan untuk membiarkan anak melakukan perilaku negatif. Justru mumpung masih kecil maka kita biasakan memiliki penampilan yang baik. karena membiasakan sesuatu saat kecil lebih mudah daripada mengubah kebiasaan yang sudah terlanjur dilakukan bertahun-tahun.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat memperhatikan hal-hal yang sifatnya lahiriyah sejak anak masih kecil.
    Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma pernah menuturkan:
    أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضَهُ، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: «‌احْلِقُوهُ ‌كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»
    “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melihat seorang bayi yang sebagian sisi rambutnya dicukur habis, sedangkan sebagian yang lain dibiarkan. Maka beliaupun melarang hal tersebut, seraya bersabda, ‘Cukur habislah semua rambutnya, atau biarkan semua.'” (HR. Abu Dawud)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah melakukan sesuatu kecuali yang penting. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah mengisi waktunya untuk melakukan aktivitas yang remeh-temeh. Ketika sebuah prilaku ditegur oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berarti itu hal yang penting.
    Bahkan untuk memastikan model cukuran anak-anak, beliau sendiri mengawasi proses pencukuran mereka. Yakni saat beliau menjenguk putra-putra sepupu beliau; Ja’far bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu pasca wafatnya. Beliau bersabda:
    ادْعُوا إِلَيَّ الْحَلاقَ، فَجِيءَ بِالْحَلاقِ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا
    “Tolong panggilkan kemari tukang cukur. Setelah tiba, tukang cukur tersebut memangkas rambut kami (anak-anak Ja’far)”. (HR. Ahmad)
    Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua seharusnya peduli dengan penampilan rambut anak-anak...
    44 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 61 – Mubahalah
    Tafsir Ali Imran Ayat 61 – Mubahalah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 27 Muharram 1444 H / 25 Agustus 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 61 – Mubahalah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
    “Maka barangsiapa yang mendebatmu tentang Isa setelah datang ilmu kepada engkau, maka katakanlah (Wahai Muhammad): ‘Marilah kita panggil anak-anak laki-laki kita dan anak-anak laki-laki kalian, istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian kita lakukan mubahalah dan kita jadikan laknat Allah itu menimpa orang-orang yang berdusta.'” (QS. Ali ‘Imran[3]: 61)
    Yang dimaksud “Orang yang mendebatmu tentang Isa” adalah orang-orang Nashara. Karena ayat ini dan ayat-ayat yang sebelumnya semuanya turun tentang utusan dari orang-orang Nashara.
    Setelah engkau mengetahui ilmunya (perkaranya) dan telah yakin, maka ajaklah orang yang mendebatmu untuk bermubahalah. Mubahalah adalah sumpah yang dilakukan dari dua orang/kelompok yang berseteru dimana keduanya mengaku benar kemudian seling sumpah dan melaknat. Allah akan turunkan laknat kepada orang yang berbohong dari salah satu keduanya.
    Kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Ayat yang mulia ini menetapkan bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah haq. Karena Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk saling melaknat bersama orang-orang yang mendebat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang Isa.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmanNya menjelaskan tentang siapa Isa. Isa adalah Nabi dan bukan tuhan. Ketika orang-orang Najran mendebat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka diajaklah mubahalah.
    Mubahalah Ketika Yakin
    Tidak boleh melakukan mubahalah kecuali dengan dasar ilmu yang yakin. Adapun kalau seseorang itu ragu maka tidak boleh baginya untuk melakukan mubahalah. Ini didasari dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Setelah engkau memperoleh ilmu.”
    Meminta mubahalah
    Bolehnya meminta mubahalah ketika musuh yang berseteru ini membangkang. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan surah Ali Imran ayat ke-64:
    قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا…
    “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 64)
    Karena mereka membangkang maka boleh diajak untuk mubahalah.
    Adab Sumpah dalam Mubahalah
    Di antara adab saling melaknat dalam sumpah ini adalah menghadirkan istri atau anak wanita dan laki-laki. Karena wanita sangat takut dalam masalah mubahalah ini.
    Mendoakan Keburukan
    Bolehnya mendoakan keburukan kepada orang yang menyelisihi al-haq, tetapi dengan menyebutkan sifat tanpa menyebutkan nama. Seperti dalam ayat ini: “Kita jadikan laknat Allah atas orang yang berdusta.” Karena orang-orang yang berdusta merupakan sifat. Adapun perorangan tidak boleh didoakan keburukan atasnya walaupun kafir. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mendoakan keburukan untuk Abu Jahal dan yang lainnya dari pembesar Quraisy dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya?
    26 min
  • Jenis-Jenis Manusia dalam Menyambut Seruan Dakwah
    Jenis-Jenis Manusia dalam Menyambut Seruan Dakwah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 27 Muharram 1444 H / 25 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Pelajaran Bagi Yang Memiliki Hati
    Ceramah Agama Islam Tentang Jenis-Jenis Manusia dalam Menyambut Seruan Dakwah
    Terakhir kita membahas tentang jenis-jenis manusia dalam menyambut seruan dakwah. Ada dua golongan yang menerima seruan dakwah;

    * Orang-orang yang cukup disampaikan padanya dalil dan ajakan kepada kebenaran maka dia langsung mengikutinya.
    * Orang yang kelihatannya dia belum bisa menerima ketika kita dakwahi, tapi setelah disampaikan kepadanya petunjuk maka dia langsung memikirkannya, berusaha merenungkannya, kemudian dia menerimanya.

    Inilah dua golongan orang yang menerima kebenaran dan menerima seruan dakwah yang disampaikan kepada mereka.
    Setelah itu Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala melanjutkan penjelasannya bahwa orang-orang yang berpaling tapi dia mengaku mengikuti yang benar, ini juga ada dua jenisnya, yaitu:

    * Ada sebagian orang di antara mereka yang kita perlu mendakwahi dia melalui berdebat dengan cara yang baik. Hal ini supaya kita bisa mematahkan argumentasinya.
    * Golongan kedua ini harus dengan cara yang lebih keras. Bahkan mereka ini orang-orang yang diperintahkan untuk kita memerangi mereka di dalam Islam.

    Barangsiapa yang memperhatikan metode dakwah di dalam Al-Qur’an, dia akan mendapati bahwa seruan dakwah di dalam Al-Qur’an mencakup dan meliputi semua golongan manusia ini. Sebagaimana misalnya yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ…
    “Serulah manusia ke jalan Allah dengan cara hikmah atau dengan nasihat yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl[16]: 125)
    Adapun orang-orang yang perlu disikapi dengan keras, mereka ini adalah orang-orang yang Allah perintahkan untuk kita memerangi mereka supaya tidak terjadi lagi fitnah berupa kesyirikan. Dan supaya agama ini jadinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Seperti yang disebutkan di surah Al-Baqarah ayat 193 maupun di ayat yang lain.
    Kita diperintahkan untuk memerangi mereka karena mereka menolak. Sedangkan kita sudah berusaha untuk mematahkan argumentasinya ternyata juga masih menolak. Maka tidak ada cara lain mereka ini adalah orang-orang yang harus diperangi sebagaimana yang diperintahkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
    Ini semua kalau kita perhatikan berhubungan dengan ilmu. Tidak akan mungkin kita bisa mendakwahi manusia dengan tingkatan-tingkatan ini kecuali dengan ilmu. Kita akan bisa menilainya dengan ilmu.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    46 min
  • Nama Yang Paling Dicintai Allah
    Nama Yang Paling Dicintai Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 24 Muharram 1444 H / 22 Agustus 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Nama Yang Paling Dicintai Allah
    Imam Bukhari Rahimahullahu Ta’ala mengatakan باب أحب الأسماء إلى الله عز وجل (Bab tentang nama yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla).
    Berbincang tentang nama, ingat para orang tua bahwa anak kita punya hak. Salah satu hak mereka, selain pendidikan yang baik, nafkah yang halal, juga nama yang baik. Karena kita akan mendapati beberapa pembahasan kedepan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengganti nama para sahabat, walaupun itu nama pemberian ayah mereka. Karena nama yang baik akan berdampak baik kepada orang tersebut. Ini harapannya. Tapi nama yang buruk biasanya akan ada efek buruk terhadap anak tersebut.
    Maka orang tua ketika hendak memberikan nama kepada anaknya, tolong berikan nama yang terbaik. Dan kalau bicara nama, cukup satu suku kata untuk nama anak itu. Yang kedua adalah nama orang tuanya. Namun di negeri kita banyak yang namanya bukan satu suku kata, mungkin tiga atau empat suku kata. Kalau bicara hukumnya tentu boleh-boleh saja, tapi yang lebih baik ketika satu suku kata, yang kedua adalah nama ayahnya, yang ketiga adalah nama kakek atau nama sukunya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    تَسَمَّوْا بأسماءِ الأنبياءِ ، وأحبُّ الأسماءِ إلى اللهِ عبدُ اللهِ ،وعبدُ الرحمنِ ، وأصدُقُها حارثٌ، وهَمَّامٌ ، وأقبَحُها حَرْبٌ، ومُرَّةُ.
    “Berilah nama dengan nama para Nabi, nama yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla adalah Abdullah, kemudian Abdurrahman, dan nama yang paling baik adalah Harits dan Hammam, dan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.” (HR. Bukhari)
    Lafadz hadits “Berilah nama dengan nama para Nabi” ini dhaif. Akan tetapi secara makna tidak ada masalah. Karena nama para Nabi adalah nama yang baik. Ada nama-nama yang Allah sendiri memilihkan nama tersebut, seperti Adam, Yahya ‘Alaihimush Shalatu was Salam dan nama-nama yang lainnya adalah nama-nama yang indah. Mereka adalah manusia pilihan. Nama yang baik akan berdampak kepada tabiat dan pergaulan mereka. Maka tidak ada masalah memberi nama dengan nama para Nabi.
    Nabi kita Muhammad ‘Alaihish Shalatu was Salam lahir putra beliau di kota Madinah dari Maria Al-Qibtiyah, beliau mengatakan: “Aku berikan nama dengan nama bapakku (yaitu Ibrahim).”
    Adapun ucapan Nabi yang selanjutnya dalam hadits ini shahih.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Nama Yang Paling Dicintai Allah
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Nama Yang Paling Dicintai Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua.
    1 hr 29 min
  • Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kelembutan
    Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kelembutan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 25 Muharram 1444 H / 23 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Jadilah Ayah Bunda Yang Selalu Dirindukan
    Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kelembutan
    Jadilah ayah bunda yang penuh cinta dan kasih sayang. Karena  الجزاء من جنس العمل (balasan sesuai dengan amal perbuatan) dan كما تدين تدان (bagaimana kamu berbuat begitu kamu akan diperlakukan). Jika kita ingin disayang Allah, maka sayangilah hamba Allah.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّـمَـا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
    “Sesungguhnya hamba yang disayang Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah hamba yang memiliki sifat penyayang.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan yang lainnya)
    Nabi juga mengatakan dalam hadits yang lain:
    الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
    “Orang-orang yang penyayang pasti akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi niscaya kamu akan disayangi oleh apa yang langit.” (HR. Tirmidzi)
    Maka kasih sayang terhadap anak merupakan bagian dari sifat-sifat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam konteks mendidik kasih sayang ini mutlak diperlukan, bahkan menjadi suatu keniscayaan, tidak boleh hilang dari pendidikan. Antara kasih sayang dan pendidikan sangat berkaitan erat. Maka Nabi sebagai pendidik memiliki sifat kasih sayang ini.
    Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling penyayang kepada anak-anak dan keluarga beliau. Ini yang disaksikan oleh Anas bin Malik yang menjadi khadim Nabi selama puluhan tahun. Anas Radhiyallahu ‘Anhu melihat ini dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Di antara bentuk kasih sayang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada anak-anak seperti yang disebutkan di dalam hadits, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu:
    إنِّي لَأَدْخُلُ في الصَّلَاةِ وأَنَا أُرِيدُ إطَالَتَهَا، فأسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فأتَجَوَّزُ في صَلَاتي ممَّا أَعْلَمُ مِن شِدَّةِ وجْدِ أُمِّهِ مِن بُكَائِهِ
    “Aku masuk memulai mengerjakan shalat dan aku bermaksud memanjangkan shalat itu. Namun kemudian aku mendengar tangisan seorang bocah di belakang hingga aku pun mempersingkat shalat itu karena aku tahu bahwa ibunya pasti tidak tenang dengan tangisan anaknya.” (HR. Bukhari)
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perhatian terhadap kondisi anak ini yang mungkin mencari ibunya dan ibunya juga mungkin tidak tenang mendengar tangisan anaknya. Maka Nabi mengurungkan niat untuk memperpanjang shalat itu dan mempersingkatnya. Ini adalah bentuk nyata kasih sayang kepada manusia, terutama kepada anak-anak.
    Kasih Sayang Sebab Meraih Ridha Allah
    Kasih sayang juga merupakan sebab untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan surga. Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa ada seorang wanita yang mendatangi ‘Aisyah. Lalu ‘Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu memberi tiap-tiap anaknya satu butir kurma dan menyisakan satu butir untuk dirinya. Lalu kedua anak itu memakan kurma tersebut. Setelah habis kurma mereka, mereka melihat kurma yang ada pada ibunya. Si ibu ini mengerti bahwa kedua anaknya menginginkan kurma yang ada di tangannya. Maka ia pun rela membagi dua kurmanya itu dan memberikan kepada masing-masing anaknya.
    55 min
  • Amal Yang Ditanyakan Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Amal Yang Ditanyakan Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 25 Muharram 1444 H / 23 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Puasa Arafah
    Amal Yang Ditanyakan Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وَعنْهُ قال : سُئِلَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : أَيُّ العَمَلِ أَفضَلُ ؟ قال : « إيمانٌ بِاللَّهِ ورَسُولِهِ» قيل : ثُمَّ ماذَا ؟ قال : « الجِهَادُ في سَبِيلِ اللَّهِ » قيل : ثمَّ ماذَا ؟ قَال : « حَجٌ مَبرُورٌ » متفقٌ عليهِ .
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Pernah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya: ‘Amalan apakah yang paling afdhal?’ Maka dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Iman kepada Allah dan iman kepada RasulNya.’ Kemudian ditanyakan lagi: ‘Lalu amal apakah yang paling afdhal?’ Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Berjihad di jalan Allah.’ Kemudian ditanya lagi: ‘Lalu amal apa lagi yang paling afdhal?’ Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Haji yang mabrur.'” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Di dalam hadits ini kita melihat tentang semangat para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in dalam bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan sangat berarti. Dan pertanyaan-pertanyaan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum itu pada umumnya adalah untuk mereka mengamalkannya, bukan sekedar bertanya.
    Inilah kualitas pertanyaan para sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka ingin untuk meningkatkan amal-amal kebaikan mereka, bukan pertanyaan untuk menimbulkan fitnah, bukan pertanyaan untuk menguji seseorang. Tetapi pertanyaan untuk diamalkan.
    Barisan terdepan para Salaf adalah para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in. Kita mengenal mereka, semangat mereka untuk berilmu dan beramal. Mereka hadir di majelis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mendapatkan ilmu dan ilmu itu diamalkan. Ilmu tidak sekadar dibuat bahan untuk ceramah, tetapi lebih dari itu adalah untuk diamalkan. Dan itulah buah dari ilmu.
    Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan, ilmu yang memberikan perubahan pada pribadi seseorang kepada yang lebih baik. Makanya Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengajarkan kepada kita doa memohon perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.
    اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَيَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسِ لاَ تَـشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يَسْـتَجَابُ لَهَا
    “Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari hati yang tidak pernah khusyu’, dan dari nafsu yang tidak pernah kenyang dan dari do’a yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)
    Intinya bahwa para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in ketika bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka bertanya untuk diamalkan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio...
    1 hr 20 min
  • Sikap Ulama Salaf Terhadap Penyimpangan
    Sikap Ulama Salaf Terhadap Penyimpangan ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 24 Muharram 1444 H / 22 Agustus 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Sikap Ulama Salaf Terhadap Penyimpangan
    Sebelumnya kita sudah jelaskan bagaimana sikap para ulama-ulama salaf terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada seseorang walaupun kondisi orang itu terlihat baik. Namun ketika orang-orang yang terlihat baik ini menunjukkan pemikiran yang sebenarnya, maka para ulama-ulama salaf tersebut tidak segan-segan mengeluarkan pernyataan/tahdzir (peringatan) agar mewaspadai orang-orang seperti itu.
    Contohnya para pemalsu hadits atau orang-orang yang memanipulasi hadits. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari Yahya bin Sa’id, dia bercerita: “Aku bertanya kepada Syu’bah, Sufyan bin Sa’id, Sufyan bin Uyainah, dan Malik bin Anas tentang seseorang yang tidak hafal hadits atau diduga kuat melakukan manipulasi atau pemalsuan hadits?” Kaum ini sering menisbatkan sesuatu kepada Nabi tapi tidak jelas riwayatnya. Bahkan terkadang mengarang cerita dan dinisbatkan kepada Nabi. Kaum sufi ini termasuk kaum yang senang menggunakan riwayat-riwayat yang palsu atau hadits-hadits yang tidak jelas asal-usulnya.
    Maka para ulama itu menjawab: “Kondisinya harus diperjelas.” Yaitu harus dinyatakan keadaannya bahwa dia adalah seorang pemalsu hadits, atau orang yang mengarang tentang hadits, ataup orang yang mengada-ngada di dalam periwayatan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Walaupun secara lahir mungkin orang itu baik-baik saja. Artinya orang yang kelihatannya shalih, tapi ketika dia menunjukkan jati diri yang sebenarnya, maka para ulama tidak segan-segan mengeluarkan tahdzir mereka terhadap orang tersebut.
    Hal ini terjadi pada Imam Ahmad bin Hanbal, beliau pernah memuji seseorang. Tentunya Imam Ahmad tidak memuji seseorang kecuali orang itu baik secara lahir (sebelum Imam Ahmad tahu kekeliruannya). Lalu terkuaklah sedikit demi sedikit tentang kesalahan dan kekeliruannya. Maka Imam Ahmad mengatakan: “Si Fulan adalah orang baik, andai saja dia tidak melakukan kekeliruan.”
    Imam Ahmad juga pernah berkomentar tentang Sari As-Saqthi: “Dia adalah Syaikh yang dikenal baik.” Namun selanjutnya manakala disampaikan kepada beliau bahwa As-Saqthi ini pernah mengatakan: “Saat Allah menciptakan huruf-huruf maka bersujudlah huruf ba,” di sini sudah mulai nyeleneh pemikiran-pemikirannya. Maka Imam Ahmad pun berseru: “Jauhkanlah orang-orang darinya.”
    Demikian pandangan/sikap para ulama salaf terhadap orang-orang yang menunjukkan kesesatan ataupun penyimpangannya di dalam agama.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Sikap Ulama Salaf Terhadap Penyimpangan
    Mari turut membagikan link download kajian “Sikap Ulama Salaf Terhadap Penyimpangan” yang ...
    37 min
  • Membaca Surah An-Nas Sebelum Tidur
    Membaca Surah An-Nas Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 24 Muharram 1444 H / 22 Agustus 2022 M.
    Lihat sebelumnya: Membaca Surah Al-Falaq Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Membaca Surah An-Nas Sebelum Tidur
    Membaca surah An-Nas sebanyak tiga kali. Nomor urut surah ini dalam mushaf Al-Qur’an adalah nomor 114. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.
    Dalil Landasan
    Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menuturkan,
    “أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.
    Setiap malam jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat akan tidur, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surah Al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surah Al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surah An-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya semampunya (yang bisa dijangkau) ke seluruh bagian tubuh. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali.” (HR. Bukhari)
    Inilah salah satu surah yang dianjurkan untuk dibaca sebelum tidur. Dan dengan berakhirnya surah-surah ini, maka berakhir pula bacaan-bacaan yang dianjurkan untuk dibaca dari surah-surah Al-Qur’an sebelum tidur.
    Kandungan surah An-Nas ini sangat luar biasa. Sehingga sering disebut dengan istilah al-mu’awwidzataini (dua bacaan perlindungan). Karena memang surah ini kalau dibaca akan melindungi orang yang membacanya.
    Kalau kita perhatikan ayatnya:
    قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ‎﴿١﴾‏ مَلِكِ النَّاسِ ‎﴿٢﴾‏ إِلَٰهِ النَّاسِ ‎﴿٣﴾
    “Katakanlah: ‘Aku memohon perlindungan kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia'” (QS. An-Nas[114]: 1-3)
    Kita mengawali permintaan kepada Allah dengan menyebutkan tiga nama Allah ‘Azza wa Jalla. Sengaja disebutkan tiga nama sekaligus untuk menggambarkan kepada kita bahwa kejahatan yang akan disebutkan sesudah ini adalah kejahatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena kita meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyebutkan tiga namaNya sekaligus.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Fikih Doa dan Dzikir – Membaca Surah An-Nas Sebelum Tidur
    Mari turut membagikan link download kajian ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita se...
    47 min
  • Berdiri Dalam Shalat Wajib
    Berdiri Dalam Shalat Wajib ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 24 Muharram 1444 H / 22 Agustus 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Rukun-Rukun Shalat
    Kajian Tentang Berdiri Dalam Shalat Wajib
    Pada pertemuan sebelumnya telah disinggung bahwa berdiri di dalam shalat merupakan rukun di dalam shalat fardhu bagi mereka yang mampu melakukannya. Sehingga apabila didalam shalat fardhu ada orang yang mampu berdiri tapi sengaja duduk tanpa ada udzur (alasan yang dibenarkan oleh syariat), maka shalatnya dianggap tidak sah. Hal ini karena dia tidak memenuhi rukun shalat.
    Sebagaimana kita tahu bahwa dikatakan rukun shalat berarti dia adalah sesuatu yang membentuk shalat. Sehingga kalau sesuatu ini tidak ada maka shalatnya menjadi tidak ada. Ketika dikatakan bahwa berdiri merupakan rukun shalat fardhu bagi yang mampu, maka berdiri menjadi pembentuk shalat. Kalau tidak ada berdirinya maka shalatnya tidak ada. Para ulama telah bersepakat bahwa berdiri di dalam shalat fardhu bagi yang tidak ada udzur merupakan rukun shalat.
    Seringkali kita melihat ada orang yang datang ke masjid yang datangnya dengan berjalan, dia bisa berdiri. Kemudian dia mengambil kursi, bertakbir kemudian duduk di kursi tersebut. Padahal dia mampu berdiri, buktinya datang ke masjid dengan berjalan. Hal ini menjadikan shalatnya tidak sah.
    Ini banyak kita temui di masjid yang menyediakan kursi untuk mereka yang shalat. Maka kita harus mengetahui hal ini. Kalau shalatnya adalah shalat sunnah maka tidak ada masalah. Tapi kalau shalatnya adalah shalat fardhu, maka bagi yang masih mampu berdiri (tidak ada udzur baginya untuk tidak berdiri), maka dia wajib berdiri. Walaupun nantinya misalnya dia tidak bisa sujud, maka ketika akan sujud dia duduk. Kalau dia masih bisa sujud maka tidak boleh seperti, karena sujud juga rukun shalat.
    Para ulama mengatakan:
    الميسور لا يسقط بالمعسور
    “Sesuatu yang mudah dilakukan tidak gugur dengan sesuatu yang lain yang sulit dilakukan.”
    Misalnya sujudnya masih bisa dia lakukan, dia hanya tidak bisa duduk di antara dua sujud. Maka sujudnya tidak gugur, dia tetap berkewajiban untuk sujud. Yang gugur adalah kewajiban dia untuk duduk di antara dua sujud karena itu yang tidak dia mampui. Adapun yang dia mampui maka tetap wajib untuk dia lakukan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Berdiri Dalam Shalat Wajib
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Berdiri Dalam Shalat Wajib” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    59 min
  • Orang Yang Berkata “Kita Dihujani Karena Bintang” Maka Dia Kafir
    Orang Yang Berkata “Kita Dihujani Karena Bintang” Maka Dia Kafir merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 23 Muharram 1444 H / 21 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Dosa Apa Yang Paling Besar?

    Kajian Hadits Orang Yang Berkata “Kita Dihujani Karena Bintang” Maka Dia Kafir
    Kita masuk ke bab من قال مُطِرُنا بالأنواء فهو كافر (orang yang berkata: “kita dihujani karena bintang” maka dia kafir).
    Orang yang mengatakan bahwa “kita dihujani karena bintang” ini ada beberapa keadaan. Yaitu:

    * Meyakini bahwa yang menurunkan hujan itu bintang. Maka ini jelas kufur besar. Karena yang menurunkan hujan hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    * Meyakini bahwa Allah yang menurunkan hujan, namun bintang pun mempunyai pengaruh. Maka ini juga termasuk syirik besar. Karena bintang sama sekali tidak punya pengaruh apa-apa.
    * Meyakini bahwasanya Allah yang menurunkan hujan, namun bintang menjadi salah satu sebab turunnya hujan. Maka ini juga termasuk kufur karena telah menjadikan sesuatu sebab yang sama sekali tidak ditunjukkan oleh syariat. Kita tidak boleh meyakini sesuatu sebagai sebab tanpa ada dalil dari syariat.

    Tiga keadaan ini tidak dibenarkan. Karena bintang dalam Islam hanya mempunyai tiga fungsi saja. Yaitu:

    * Sebagai penghias langit.
    * Pelempar setan. Ini ditunjukkan oleh firman Allah: “Sungguh Kami telah menghiasi langit dengan bintang-bintang dan Kami jadikan ia sebagai pelempar setan.” (QS. Al-Mulk[67]: 5)
    * Sebagai penunjuk jalan. Ini ditunjukkan oleh surah Al-An’am. Allah berfirman: “Dialah yang telah menjadikan bintang itu sebagai penunjuk jalan di daratan dan di lautan.” (QS. Al-An’am[6]: 97)

    Hadits nomor 56:
    عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ – رضيَ اللهُ عنه – قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ فِي إِثْرِ سَّمَاءٍ كَانَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ.
    Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengimami shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah, setelah terjadi hujan semalam. Ketika telah selesai shalat, beliau pun menghadap kepada manusia seraya bersabda: ‘Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka berkata, ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu.’
    Maka kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Allah berfirman: ‘Masuk dipagi hari ini dari hamba-hambaKu, ada yang beriman kepadaku dan ada yang kafir. Adapun orang yang berkata ‘Kita dihujani dengan karunia Allah dan rahmatNya’, maka ia beriman kepadaKu dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun orang yang mengatakan, ‘Kita dihujani dengan bintang ini dan itu, maka ia kafir kepadaKu dan beriman kepada bintang-bintang.'” (HR. Muslim)
    Shalat Berjamaah Ketika Safar
    Hadits ini menunjukkan tetap disyariatkan shalat berjamaah walaupun ketika safar.
    48 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah