Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Tingginya Derajat Orang Yang Shalat – Surah Al-Baqarah 253
    Tingginya Derajat Orang Yang Shalat – Surah Al-Baqarah 253 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 16 Safar 1444 H / 13 September 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Penetapan Adanya Malaikat – Surah Al-Baqarah 248
    Tingginya Derajat Orang Yang Shalat – Surah Al-Baqarah 253
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِن بَعْدِهِم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُم مَّنْ آمَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
    “Itulah para Rasul, Kami utamakan sebagian mereka di atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang langsung Allah ajak bicara dan Allah mengangkat sebagian mereka beberapa derajat. Dan Kami memberikan kepada Isa bin Maryam mukjizat dan Kami kokohkan dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalaulah Allah berkehendak, niscaya tidak akan berperang orang-orang yang setelah mereka, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan. Akan tetapi mereka berselisih, di antara mereka ada yang beriman dan di antara mereka ada yang kafir. Dan kalaulah Allah berkehendak tentu mereka tidak akan berselisih. Akan tetapi Allah melakukan apa yang Allah inginkan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 253)
    Derajat orang yang diajak bicara oleh Allah
    Allah mengajak bicara seseorang, itu menunjukkan akan ketinggian derajat orang tersebut. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Itulah para Rasul, Kami utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” Di antara keutamaan-keutamaan itu adalah ada Rasul yang diajak bicara langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Nabi Musa ‘Alaihish Shalatu was Salam, demikian pula Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Ini menunjukkan akan ketinggian derajat mereka, sampai Allah berbicara langsung tanpa perantara Malaikat Jibril.
    Ketinggian derajat orang yang shalat
    Ini menunjukkan tingginya derajat orang yang shalat. Karena dia sedang bermunajat langsung dengan Allah. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ: حَمِدَنِي عَبْدِي
    Apabila orang yang shalat membaca “Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin”, maka Allah akan menjawab “HambaKu memujiKu.”
    Kalau dia mengatakan “Arrahmaanirrahiim” maka Allah menjawab “HambaKu menyanjungKu.”
    Kalau dia mengatakan “Maaliki yaumiddiin” maka Allah menjawab “HambaKu memuliakanKu…” (HR. Muslim)
    Orang yang shalat itu dia sedang bermunajat langsung dengan Allah. Maka itu menunjukkan akan ketinggian derajat orang yang suka shalat.
    Keutamaan itu bertingkat-tingkat
    Derajat manusia disisi Allah itu berbeda-beda. Karena Allah mengatakan disitu: “Dan Allah mengangkat sebagian mereka beberapa derajat,” Ini mencakup derajat yang bersifat hissiyah ataupun derajat yang bersifat maknawiyah.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam manusia yang paling tinggi derajatnya secara mutlak. Dimana beliau diberikan oleh Allah alwasilah, yaitu derajat yang paling tinggi di dalam surga yang hanya diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    45 min
  • Wasiat Takwa
    Wasiat Takwa merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 16 Safar 1444 H / 13 September 2022 M.
    Sebelumnya: Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah

    Kajian Tentang Wasiat Takwa
    Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwasannya wasiat terbaik adalah wasiat Allah dan RasulNya kepada umat ini. Yakni wasiat untuk bertakwa kepada Allah. Tapi dengan catatan, yaitu kalau kita memahami wasiat tersebut kemudian mengamalkannya. Ini adalah sebuah catatan sangat penting yang mengingatkan kita bahwasanya sebaik apapun wasiat kalau kita tidak paham atau kita paham tapi tidak mengamalkannya, maka sama saja dia tidak akan menjadi wasiat yang baik. Maka penting bagi kita untuk memahami dan mengamalkan wasiat takwa.
    Wasiat takwa juga merupakan wasiat yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu. Dimana Beliau mengatakan:
    اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
    “Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan akan menghapuskan keburukan, dan perlakukanlah manusia dengan perlakuan yang baik.” (HR. Tirmidzi)
    Lihat: Hadits Arbain ke 18 – Hadits Tentang Takwa
    Wasiat ini beliau sampaikan kepada seorang Mu’adz bin Jabal yang begitu dekat dengan beliau dan begitu bertakwa. Maka kita bisa simpulkan bahwasanya ini adalah sebuah wasiat yang sangat penting dan mencakup.
    Adapun penjelasan kenapa wasiat ini disebut sebagai wasiat yang mecakup adalah karena seorang hamba memiliki dua kewajiban, yaitu hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak hamba-hamba Allah.
    Kita mempunyai kewajiban kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala; misalnya kewajiban untuk beriman kepadaNya, menjalankan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, menunaikan zakat, menjalankan ibadah haji, ini semuanya adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kita.
    Kita juga memiliki kewajiban-kewajiban kepada Allah tapi yang sifatnya horizontal, yaitu terkait dengan hamba-hamba Allah. Baik itu adalah pasangan, anak, tetangga, ataupun kawan-kawan kita. Kita punya kewajiban untuk memberikan nafkah kepada keluarga, kewajiban mendidik dan menyelamatkan mereka dari api neraka. Juga kewajiban untuk menghormati tetangga, tamu, melunasi utang jika memiliki utang kepada orang lain. Ini adalah kewajiban yang berhubungan dengan hak sesama manusia.
    Dalam kewajiban-kewajiban ini kita terkadang teledor atau kurang dalam menjalankannya. Baik itu dengan meninggalkan kewajiban sesuatu yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau juga kadang-kadang dengan melanggar sesuatu yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada Mu’adz bin Jabal “Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada.” Ini adalah sebuah kalimat yang mencakup (maknanya luas).
    Hadits ini benar-benar berhubungan dengan semua aspek kehidupan kita. Sehingga kalau kita bisa mengamalkan hadits ini, maka kita untung besar, kita bisa memberikan sikap yang tepat dalam berbagai aspek kehidupan. “Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada.”
    Pada sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam “dimanapun engkau berada,” terdapat realisasi kebutuhan seorang hamba untuk bertakwa kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun dalam keadaan terbuka.
    1 hr
  • Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah
    Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 25 Muharram 1444 H / 23 Agustus 2022 M.

    Kajian Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah
    Kita akan membahas الوصية الصغرى (Wasiat Kecil) karya Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala.
    Kitab ini pada awalnya adalah permintaan wasiat yang disampaikan oleh Abul Qasim Al-Maghribi (salah satu murid Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala).
    Setelah memuji Ibnu Taimiyah dengan beberapa pujian, beliau mengatakan dalam permintaannya:
    يتفضل الشَّيْخ الامام بَقِيَّة السّلف وقدوة الْخلف أعلم من لقِيت بِبِلَاد الْمشرق وَالْمغْرب تَقِيّ الدّين أَبُو الْعَبَّاس أَحْمد بن تَيْمِية بِأَن يوصيني بِمَا يكون فِيهِ صَلَاح ديني…
    “Fadhilatush Syaikh, Imam, satu dari sedikit yang tersisa dari generasi Salaf, teladan untuk orang-orang kemudian, orang yang paling menguasai agama Islam yang pernah aku jumpai baik di negeri timur dan barat, Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah, aku berharap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkenan untuk memberikan kepada saya wasiat tentang:

    * hal yang didalamnya terdapat kebahagiaan saya di dunia dan di akhirat,
    * menunjukkan saya kepada kitab yang bisa saya jadikan pegangan dalam ilmu hadits, juga kitab-kitab lain dalam cabang-cabang ilmu agama yang lain,
    * mengingatkan saya pada amal shalih yang paling afdhal setelah amalan-amalan wajib,
    * apa profesi yang paling baik.

    Semua empat poin itu saya harapkan disampaikan secara isyarat dan ringkas. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga beliau. Dan salam yang mulia, rahmat Allah, dan barakah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga senantiasa terlimpah kepada beliau.”
    Ini adalah pesan pendek dari Abul Qasim Al-Maghribi Rahimahullahu Ta’ala, sebuah permintaan sederhana yang barangkali ada juga dalam benak kita.
    Terkadang kita bertanya-tanya tentang hal-hal seperti ini. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan sederhana yang kita semua membutuhkannya. Tapi Abul Qasim Al-Maghribi Rahimahullahu Ta’ala mendapat kesempatan untuk bisa menanyakannya kepada orang sekaliber Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala.
    Akhirnya pertanyaan sederhana ini menjadi sebab terluapnya ilmu yang luar biasa. Akhirnya kemudian tertulis, dibaca orang, diambil manfaatnya dari masa ke masa. Sehingga kita di abad ke-15 Hijriah ini juga bisa mengambil manfaat.
    Maka ini adalah barokah. Kadang-kadang ada hal yang sederhana, tapi karena niat yang ikhlas, karena kesungguhan orang yang melakukannya, maka Allah memberikan barokah pada amalan yang sederhana itu.
    Ibnu Taimiyah menjawab:
    Menit ke- Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Adapun wasiat, maka saya tidak mengetahui ada wasiat yang lebih bermanfaat daripada wasiat Allah dan RasulNya untuk orang-orang yang paham dan mengikutinya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ…
    “Dan telah Kami wasiatkan kepada orang-orang yang telah diberikan kitab sebelum kalian dan telah Kami wasiatkan pula kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allah…” (QS. An-Nisa'[4]: 131)
    Bertakwa kepada Allah adalah wasiat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk orang-orang terdahulu dan untuk orang-orang zaman sekarang.
    Orang-orang yang diberikan Al-Kitab sebelum kita dari umatnya Nabi Adam ‘Alaihis Salam sampai umatnya Nabi Isa ‘Alaihis Salam, mereka semuanya diberikan pesan oleh Allah Subhanahu wa TaR...
    1 hr 8 min
  • Bermain dan Bercanda Bersama Anak-Anak
    Bermain dan Bercanda Bersama Anak-Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 16 Safar 1444 H / 13 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Membelai dan Mencium Anak
    Bermain dan Bercanda Bersama Anak-Anak
    Salah satu cara yang sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan dengan anak adalah bermain dan bercanda bersama. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin antara anak dan orang tua.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam teladan kita di dalam mendidik juga melakukan hal itu. Beliau suka bercanda dan tertawa bersama anak-anak, terkadang berlari, menggendong, terkadang beliau menirukan kebiasaan ataupun perbuatan mereka. Demikian juga beliau berbaur bersama mereka. Demikianlah yang Nabi lakukan dalam mendekati mereka supaya tercipta kedekatan dan keakraban.
    Nabi juga menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak itu. Jauh dari sifat kering, kasar, keras, arogan dan mengabaikan hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.
    Ada perkataan sebagian orang tua “Jangan dilembuti nanti dia ngelunjak,” katanya. Sehingga ini menghalangi sebagian orang tua untuk bersikap lembut dan halus kepada anak-anak. Ini adalah asumsi yang salah dari sebagian orang tua. Kalaulah seperti itu Nabi tidak akan memperlakukan anak-anak dengan halus dan lembut. Terkadang karena kadangkalan ilmu kita menganggap itulah yang benar. Tapi sebenarnya tidak seperti itu.
    Kita akan dapat menumbuhkan empati dalam hatinya terhadap sesama dengan menanamkan kehalusan dan kelembutan dalam hatinya. Anak yang biasa diperlakukan kasar, dia akan menjadi orang yang kasar. Itu akan muncul nanti di kemudian hari. Itu akan menjadi tabiat dasarnya.
    Ibnul Qayyim berkata bahwa anak akan tumbuh dari kebiasaan yang diberikan oleh pendidiknya.
    Potret Nabi Bermain dan Bercanda Bersama Anak-Anak
    Jabir Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan: “Kami pernah berada bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Maka Rasulullah berlari dengan cepat mendekati Husain lalu berdiri di antara anak-anak tersebut. Tampak beliau merendahkan tangan dan punggungnya berlari ke sana kemari. Husain dan kawan-kawannya tertawa gembira melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau mengangkat Husain dan meletakkan tangannya pada dagunya dan tangan lainnya di antara telinga dan kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain dan menciumnya serai berkata: ‘Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintainya. Hasan dan Husain adalah cucuku.'”
    Demikian momen-momen dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbaur bersama anak-anak dan ikut dalam permainan dan kegembiraan mereka.
    Al-Bara’ bin Azib berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggendong Hasan pada bahunya, lalu berkata:
    اللهم إني أحبه فأحبه
    “Ya Allah aku mencintainya, maka cintailah dia.” (HR. Muslim)
    Anas bin Malik juga pernah bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang yang paling luhur akhlaknya. Ketika itu aku memiliki adik kecil yang baru berusia dua tahun, dipanggil Abu Umair. Setiap kali beliau datang kepada kami beliau bertanya sambil bercanda: ‘...
    51 min
  • Jihad Fi Sabilillah Lebih Utama dari Shalat Sunnah
    Jihad Fi Sabilillah Lebih Utama dari Shalat Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 16 Safar 1444 H / 13 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Ar-Ribath
    Jihad Fi Sabilillah Lebih Utama dari Shalat Sunnah
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    dalah hadits hasan shahih.
    وعنْ أبي هُريرةَ ، رضِي اللَّه عَنْهُ ، قال : مَرَّ رَجُلٌ مِنْ أصْحَاب رسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، بشِعْب فيهِ عُيَيْنَةٌ مِن ماءٍ عَذْبةٍ ، فأَعجبتهُ ، فَقَالَ : لَو اعتزَلتُ النَّاسَ فَأَقَمْتُ في هذا الشِّعْبِ ، ولَنْ أفعلِ حَتى أسْتأْذنَ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فذكر ذلكَ لرسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالَ : « لا تفعلْ ، فإنَّ مُقامَ أحدِكُمْ في سبيلِ اللَّهِ أفضَلُ مِنْ صلاتِهِ في بيتِهِ سبْعِينَ عاماً ، ألا تُحبُّونَ أنْ يَغْفِر اللَّه لَكُمْ ويُدْخِلكَمُ الجنَّةَ ؟ اغزُوا في سبيلِ اللَّهِ ، منْ قَاتَلَ في سَبيلِ اللَّهِ فُوَاقَ نَاقَة وَجَبتْ له الجَنَّةُ » . رواهُ الترمذيُّ وَقالَ : حديثٌ حَسَنٌ .
    Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Pernah suatu ketika ada salah seorang dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mana beliau melewati salah satu jalan di antara jalan-jalan yang ada di pegunungan. Ketika melewati jalan itu beliau melihat ada sebuah mata air. Maka dia pun kagum dengan mata air tersebut, lalu dia berkata: ‘Seandainya aku hidup menyendiri dekat dengan jalan yang di situ ada mata airnya. Dan aku tidak akan melakukannya sehingga aku minta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.’ Maka sahabat ini kemudian menyampaikan niatannya tadi kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Maka beliau menjawab: ‘Jangan kamu lakukan, karena sesungguhnya berdirinya seseorang di jalan Allah itu lebih afdhal daripada shalat di rumahnya selama 70 tahun. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga? Pergilah berperang dijalan Allah. Barangsiapa yang berjihad di jalan Allah pada masa diperahnya susu dua kali dari seekor unta, maka wajib baginya surga.'” (HR. Imam At-Tirmidzi, dan beliau mengatakan ini hadits shahih.
    Di dalam kisah ini ada sejumlah pelajaran yang bisa kita ambil, di antaranya:
    Pertama, yang namanya manusia ada ketertarikan kepada hal-hal yang menyenangkannya. Contohnya adalah mata air. Sebagaimana kita mengetahui di gurun pasir sana sulit mata air. Sehingga ketika seorang melihat ada mata air, maka ketertarikan pada hal seperti ini bersifat manusiawi.
    Manusia memiliki kecenderungan kepada dunia. Namun manusia berbeda-beda dalam hal menyikapi dunia ini. Ada orang yang tamak kepada dunia sehingga meninggalkan dan melalaikan akhiratnya hanya karena dunia. Tetapi ada juga di antara hamba-hamba Allah yang mengambil dari dunia ini secukupnya. Dan ada pula di antara hamba Allah yang memang tidak menginginkan dunia ini. Sehingga mereka hidup apa adanya, konsentrasi dalam hidupnya adalah hanya untuk mempersiapkan diri untuk di akhirat kelak, dan seterusnya.
    Kedua, kita melihat seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dikisahkan dalam hadits ini tidak melakukan sesuatu sebelum bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini menunjukkan bahwa seseorang jangan berbuat sesuatu tanpa ilmu. Jadi ilmu itu sebelum seorang berbicara dan bertindak.
    1 hr 8 min
  • Tipu Daya Iblis Untuk Meninggalkan Harta Benda
    Tipu Daya Iblis Untuk Meninggalkan Harta Benda ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 15 Safar 1444 H / 12 September 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Tipu Daya Iblis Untuk Meninggalkan Harta Benda
    Pada kesempatan ini kita akan bicarakan talbis iblis terhadap kaum sufi terkait sikap meninggalkan harta benda.
    Tentunya kita hidup di dunia dan memerlukan dunia itu untuk keberlangsungan hidup kita. Kita tidak bisa lepas dari kebutuhan-kebutuhan duniawi karena masih hidup di dunia. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata:
    أنتم أعلم بأمور دنياكم
    “Kamu lebih tahu urusan dunia kamu.” (HR. Muslim)
    Untuk urusan ini Nabi serahkan kepada kita semua untuk melihat mana yang maslahat untuk urusan dunia kita. Dan Nabi juga berkata:
    فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
    “Sesungguhnya jasmanimu juga punya hak untuk dipenuhi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Dan Nabi juga pernah berkata:
    حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ : النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ
    “Aku dibuat suka terhadap urusan dunia kamu dua hal; yaitu wanita dan parfum.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Al-Hakim, Al-Baihaqi)
    Dan banyak lagi hadits-hadits lain yang menunjukkan bahwa Nabi juga memperhatikan kebutuhan duniawi. Sebatas yang dapat menegakkan tulang punggung dan melanjutkan hidup. Tidak menunjukkan ketamakan, tapi tidak juga meninggalkannya sama sekali.
    Tentunya sebaik-baiknya urusan adalah yang tengah. Kita tidak mengabaikan dunia sehingga akan memudharatkan diri. Juga tidak menunjukkan ketamakan dan kerakusan terhadap dunia yang membuat kita binasa.
    Iblis melancarkan talbisnya kepada kaum sufi ini mulai dari generasi pertamanya sampai generasi-generasi selanjutnya. Pada awalnya mereka menunjukkan ketulusan menjalani kehidupan dengan zuhud. Yaitu dengan cara memperlihatkan aib harta/dunia dan menakut-nakuti terhadap keburukannya. Walhasil mereka meninggalkan seluruh harta benda dan lebih memilih hidup dalam kondisi fakir.
    Kondisi fakir adalah kondisi yang Nabi berlindung darinya. Bahkan itu termasuk salah satu doa pagi dan petang yang kita baca:
    اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ
    “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran.” (Lihat dzikir pagi petang)
    Kondisi fakir adalah kondisi melarat dimana seseorang terpaksa meminta-minta dan hina. Maka dari itu kita berusaha untuk keluar dari kondisi fakir agar tidak terhina hidupnya dengan berhutang dan meminta-minta. Tentunya itu semua tidaklah dibenarkan di dalam Islam.
    Seorang hamba berusaha untuk tidak terlepas dari kefakiran itu dengan berdoa memohon kepada Allah supaya tidak jatuh dalam kefakiran. Kita juga dituntut untuk bekerja mencari nafkah supaya terhindar dari kondisi fakir. Tapi orang-orang ini mereka ini justru memilih hidup fakir. Tentu ini kebalikan dari doa Nabi.
    Ada kekeliruan di sini antara miskin dan fakir. Benar ada hadits yang mana Nabi memohon kepada Allah agar dihidupkan miskin, diwafatkan juga dalam kondisi miskin, dan dikumpulkan bersama yang orang-orang misakin pada hari kiamat. Ini adalah salah satu doa shahih diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    اللَّهُمَّ أَحْيِني مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
    “Ya Allah hidupkan aku miskin, wafatkan aku dalam kondisi miskin juga,
    28 min
  • Doa Sebelum Tidur
    Doa Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 15 Safar 1444 H / 12 September 2022 M.
    Lihat sebelumnya: Membaca Surah An-Nas Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Doa Sebelum Tidur
    Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:
    كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا »
    “Biasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila hendak tidur, beliau membaca: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan menyebut namaMu Ya Allah aku mati dan aku hidup).” (HR. Bukhari)
    Doa ini memang kelihatan sangat simple. Hanya terdiri dari empat kata saja. Tapi masyaAllah kandungannya luas.
    Pertama kita mengucapkan “Bismika (dengan menyebut namaMu). Berarti kita mengawali doa ini dengan basmalah. Kita menyebut nama Allah sebelum tidur karena butuh pertolongan dan perlindungan dari Allah.
    Manusia tidak mungkin bisa melakukan aktivitas apapun kalau tidak ditolong Allah. Manusia tidak mungkin bisa melakukan perbuatan apapun kalau tidak dibantu oleh Allah, termasuk tidur. Bukankah sering kita mendengar ada orang sudah terlentang merebahkan dirinya tapi tidak bisa tidur? Padahal kasurnya sudah empuk, ruangannya sudah ber-AC, selimut dan bantalnya sudah enak, suasananya sudah hening, tapi tidak bisa tidur. Atau ada orang bisa tidur tapi tidak nyenyak. Ini menunjukkan bahwa kita tidak mungkin bisa tidur kalau tidak pakai pertolongan dari Allah. Makanya sebelum tidur baca bismillah supaya ditolong oleh Allah.
    Jadi ketika kita ucapkan Bismillah (Dengan menyebut namaMu Ya Allah) aku mohon tolong supaya bisa tidur dengan nyenyak, berkualitas dan bermanfaat. Maksud tidur yang berkualitas yaitu setelah bangun tidur tubuhnya merasa segar.
    Adapun maksud tidur yang bermanfaat yaitu setelah bangun tidur tubuhnya segar, bisa bermanfaat untuk beribadah sebaik mungkin kepada Allah. Jadi tidurnya orang yang beriman itu bukan sekedar untuk melepas lelah, tapi untuk mempersiapkan tubuh dan fisiknya agar bisa segar dalam beribadah.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.
    Download mp3 Kajian Dzikir Sebelum Tidur

    Radio Rodja 756AM · Fikih Doa dan Dzikir – Doa Sebelum Tidur
    Mari turut membagikan link download kajian “Doa Sebelum Tidur” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    48 min
  • Ilmu Merupakan Kemuliaan Bagi Orang Yang Mempelajarinya
    Ilmu Merupakan Kemuliaan Bagi Orang Yang Mempelajarinya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 11 Safar 1444 H / 8 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Jenis-Jenis Manusia dalam Menyambut Seruan Dakwah
    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Merupakan Kemuliaan Bagi Orang Yang Mempelajarinya
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa sesungguhnya seseorang hanya bisa mencapai kemuliaan dunia dan akhirat -setelah taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala- dengan sebab ilmu. Ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan ilmu. Dengan sebab ilmu ini seorang hamba bisa meraih kemuliaan dunia dan akhirat.
    Kisah Nabi Adam
    Perhatikan kejadian yang terjadi pada Nabi Adam ‘Alaihish Shalatu was Salam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakannya dibandingkan para malaikat dan pengakuan dari para malaikat sendiri bagi Nabi Adam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepadanya nama-nama semua makhluk-makhluk yang ada.
    Kemudian kejadian yang terjadi pada Nabi Adam ‘Alaihish Shalatu was Salam ketika ditimpa musibah, yaitu dikeluarkan dari surga yang kemudian Allah berikan ganti yang lebih baik dibandingkan musibah tersebut. Allah mengajarkan kepadanya kalimat-kalimat yang kemudian diterima oleh Adam dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ…
    “Maka Nabi Adam pun menerima kalimat-kalimat dari Allah kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatnya…” (QS. Al-Baqarah[2]: 37)
    Ini dicapai oleh Nabi Adam dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui sebab ilmu yang Allah ajarkan kepadanya.
    Kisah Nabi Yusuf
    Juga peristiwa yang terjadi pada Nabi Yusuf ‘Alaihish Shalatu was Salam yang dikisahkan dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan Dia memiliki kedudukan, keagungan dan kemuliaan (yakni dihormati manusia) ketika Allah mengajarkan kepadanya tentang pentakwilan mimpi.
    Kesudahan dari perkara ini membawanya kepada kemuliaan dan akibat yang baik, keadaan yang semakin sempurna, dia dapatkan semua itu dengan sebab ilmu yang Allah ajarkan kepadanya. Sebagaimana ini yang diisyaratkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya:
    …كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
    “Demikianlah Kami telah mengatur untuk Yusuf cara untuk melepaskan saudaranya itu. Tidak mungkin bagi Yusuf untuk menghukum saudaranya sendiri berdasarkan aturan dari Sang Raja kecuali kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendakinya. Kami mengangkat derajat-derajat orang-orang yang Kami kehendaki; dan diatas orang yang berilmu masih ada lagi yang berilmu.” (QS. Yusuf[12]: 76)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan disini bahwa Nabi Yusuf diangkat derajatnya karena ilmu.
    Disebutkan oleh sebagian ulama ahli tafsir tentang tafsir ayat ini bahwa arti ayat ini “Kami mengangkat beberapa derajat hamba-hamba yang Kami kehendaki dengan ilmu yang Kami ajarkan sebagaimana Kami angkat derajat Nabi Yusuf ‘Alaihish Shalatu was Salam diatas saudara-saudaranya dengan ilmu.”
    Bagaimana penjelasan lengkapnya?
    1 hr 3 min
  • Berdoa dengan Suara Lirih
    Berdoa dengan Suara Lirih adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 3 Safar 1444 H / 31 Agustus 2022.

    Kajian Tentang Berdoa dengan Suara Lirih
    Sebelumnya penulis telah menyebutkan bahwa kebanyakan doa yang dipakai dalam Al-Qur’an, Sunnah dan bahasa Arab adalah doa meminta. Adapun yang sudah berlalu dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan diikuti oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahumullahu Ta’ala bahwa doa itu ada dua macam: doa meminta dan doa ibadah. Juga sudah disebutkan pada pertemuan sebelumnya bahwa antara doa ibadah dengan doa meminta ini saling melazimi satu dengan yang lainnya dan saling mengandung satu dengan yang lain. Ini dilihat dari sisi orang yang berdzikir dan membaca Al-Qur’an saat shalat, orang yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengerjakan ibadah, juga selainnya yang meminta semakna dengannya. Maka dinamakan di dalam nama doa sesuai dengan batasan ini.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan di dalam shalat-shalat yang disyariatkan berupa doa permintaan yang tidak sah shalat kecuali dengannya. Sebagaimana di dalam membaca surah Al-Fatihah saat shalat, duduk di antara dua sujud,  dan juga di dalam tasyahud. Pada keadaan-keadaan ini ada doa meminta.
    Dan ada doa di dalam shalat yang merupakan doa ibadah. Seperti bacaan ruku’ dan sujud. Artinya dengan membaca itu kita beribadah kepada Allah dengan meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampun dan semisalnya. Maka perhatikanlah kedudukan ini. Akan jelas bagimu orang-orang yang tidak tahu tentang tauhid.
    Di antara yang menjelaskan dan menambah keterangan akan hal ini adalah ucapan Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullahu Ta’ala, yaitu ketika beliau mengomentari firman Allah:
    قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ…
    “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Berdoalah kalian kepada Allah atau berdoalah kalian kepada Ar-Rahman, yang mana saja kalian berdoa maka Allah memiliki nama-nama yang Husna…'” (QS. Al-Isra'[17]: 110) Kata Ibnul Qayyim: “Di dalam doa yang masyhur ini adalah doa meminta.”
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat berdoa kepada Rabbnya kadang-kadang mengatakan “Ya Allah” dan terkadang mengatakan “Ya Rahman”. Orang-orang musyrik mengira bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa kepada dua Tuhan, padahal Dia adalah satu Tuhan. Ketika orang-orang musyrik mengira seperti itu (mereka tidak percaya nama Ar-Rahman), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan surah Al-Isra ayat 110 ini. Ini disebutkan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhu.
    Kemudian Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Jika hal ini sudah dikenal, maka firman Allah:
    ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً…
    “Berdoalah kepada Rabb kalian dengan tunduk dan tersembunyi…” (QS. Al-A’raf[7]: 55)
    Maka ini mengandung dua macam doa tadi. Yaitu doa meminta dan doa ibadah. Artinya ketika kita berdoa meminta kepada Allah, maka mintalah dengan suara yang lirih, tidak keras-keras, tidak teriak-teriak. Dan juga saat berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdzikirlah dengan suara yang lirih. Hal ini karena dzikir termasuk dari doa, dan doanya adalah doa ibadah.
    Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Antara doa rahasia dengan doa yang terang-terangan pahalanya 70 kali lipat. Dan para sahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum dahulu senantiasa bersungguh-sungguh dalam berdo...
    1 hr 18 min
  • Setiap Yang Didoai Maka Menjadi Tuhan
    Setiap Yang Didoai Maka Menjadi Tuhan adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 26 Muharram 1444 H / 24 Agustus 2022 M.

    Kajian Tentang Setiap Yang Didoai Maka Menjadi Tuhan
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ
    “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus[10]: 106)
    Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah mengatakan:
    “Yang dimaksud ‘selain Allah’ di sini adalah tuhan-tuhan dan berhala-berhala selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan kamu beribadah kepada berhala-berhala tersebut dalam rangka berharap kebaikan dari tuhan-tuhan tersebut atau takut tertimpa kemudharatan dari tuhan-tuhan tersebut. Sesungguhnya tuhan-tuhan selain Allah tidak dapat memberikan manfaat dan tidak bisa memberikan mudharat.
    ‘Jika engkau melakukan hal itu lalu berdoa kepada selain Allah, maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang dzalim’. Yang dimaksud dzalim di sini adalah mensyirikkan Allah dengan berbuat dzalim kepada dirinya sendiri.”
    Banyak yang semisal dengan surah Yunus ayat 6 ini. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ
    “Janganlah kamu berdoa bersama Allah dengan berdoa kepada Tuhan selain Allah. Maka engkau akan termasuk orang-orang yang terkena siksa.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 213)
    Dan juga persis seperti firman Allah:
    وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ…
    “Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah dengan bersamaan berdoa kepada Allah. Tidak ada Dzat yang diibadahi dengan haq kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala…” (QS. Al-Qasas[28]: 88)
    Maka di dalam ayat-ayat ini terdapat penjelasan bahwa setiap yang didoai menjadi Tuhan. Ini yang patut diperhatikan. Karena ada orang mengatakan “Kami tetap meyakini Allah itu Maha Pencipta, Maha Pengatur, Maha Berkuasa, tetapi kami berdoa kepada orang yang sudah mati dari wali-wali Allah sebagai tawassul.” Maka kita katakan bahwa setiap yang kita berdoa kepadanya, itu berarti sudah menjadi Tuhan.
    Misalnya seseorang berdoa kepada wali yang sudah mati: “Ya Fulan, madad madad.” Ini berarti menjadikan wali yang sudah mati tadi sebagai tuhan.
    Doa (ibadah) adalah hak milik Allah, tidak cocok sesuatu apapun dari ibadah tersebut untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian tadi berfirman:
    لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
    “Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia…” (QS. Al-Qasas[28]: 88)
    Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
    “Yang demikian itu karena Allah adalah Tuhan yang haq dan bahwa apa saja yang didoai selainNya adalah Tuhan yang batil, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tinggi kagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj[22]: 62)
    Sekalilagi bahwa setiap yang didoai maka itu berarti menjadi Tuhan. Maka tidak boleh seseorang berdoa kepada makhluk meskipun atas nama tawassul. Karena berdoalah langsung kepada Allah.
    1 hr 22 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah