Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Memohon Perlindungan dan Dilunaskan Hutang Sebelum Tidur
    Memohon Perlindungan dan Dilunaskan Hutang Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 7 Rabi’ul Awwal 1444 H / 03 Oktober 2022 M.
    Lihat sebelumnya: Doa Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Memohon Perlindungan dan Dilunaskan Hutang Sebelum Tidur
    Hari ini kita akan mengkaji salah satu doa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kita baca sebelum tidur. Dan saya yakin doa ini banyak di antara kita yang belum tahu. Kalau belum tahu tentunya kemungkinan besar juga belum mengamalkan. Padahal doa ini ada dalam Shahih Muslim.
    Hal ini menunjukkan bahwa kita jangan pernah puas dengan ilmu yang telah kita ketahui. Karena ternyata masih banyak yang belum kita ketahui. Bahkan lebih banyak ilmu yang belum kita ketahui daripada yang sudah kita ketahui. Maka jangan berhenti ngaji. Ilmu yang belum kita ketahui masih sangat banyak sekali.
    Harapannya kalau ilmu bertambah maka bertambah pula amal kita. Kalau tambah amal mudah-mudahan bekalnya tambah banyak. Kalau bekalnya tambah banyak mudah-mudahan peluang masuk surganya tambah besar. Jadi jangan berhenti ngaji, jangan berhenti belajar agama, jangan merasa puas dengan ilmu yang sudah kita miliki. Teruslah belajar.
    Doa sebelum tidur
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau menuturkan: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami ketika akan tidur supaya tidur miring menghadap ke kanan. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan supaya membaca doa:
    اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ وَرَبَّ الأرْضِ وَرَبَّ العَرْشِ العَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ، أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْء، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
    “Ya Allah, Engkaulah penguasa langit dan bumi dan penguasanya ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabbnya segala sesuatu, Yang membelah benih dan biji kurma. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Ya Allah, aku mohon perlindungan kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang dikuasai oleh Allah.
    Ya Allah, sesungguhnya Engkau Yang Maha Awal maka tidak ada sesuatu pun yang ada sebelumMu. Dan Engkaulah Yang Maha Akhir maka tidak ada sesuatu pun yang setelahMu. Dan Engkaulah Yang Maha Tinggi maka tidak ada yang lebih tinggi di atasMu. Dan Engkaulah Yang Maha Dekat maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripadaMu. Ya Allah, lunaskanlah utang kami dan jadikanlah kami hidup berkecukupan sehingga kami tidak lagi fakir.” (HR. Muslim)
    Salah satu adab kalau kita mau minta (berdoa) kepada Allah adalah tidak tiba-tiba minta. Tapi sebelum minta itu kita memuja dan memuji Allah, itulah tawasul. Ini namanya berdoa dengan etika.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.
    Download mp3 Kajian Dzikir Memohon Perlindungan dan Dilunaskan Hutang Sebelum Tidur

    Radio Rodja 756AM ·
    53 min
  • Dosa-Dosa Sebelum Islam
    Dosa-Dosa Sebelum Islam merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 6 Rabi’ul Awwal 1444 H / 02 Oktober 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Islam dan Perangai-Perangainya

    Kajian Hadits Tentang Dosa-Dosa Sebelum Islam
    Kita sampai pada bab  مَنْ أَحْسَنَ فِي الْإِسْلَامِ لم يُؤَاخَذُ بِما عمل فِي الْجَاهِلِيَّةِ (orang yang berbuat kebaikan dalam Islam, maka tidak akan diberikan sanksi perbuatan dosa yang ia lakukan dimasa jahiliyah).
    Disebut masa jahiliyah yaitu masa sebelum Islam. Adapun setelah Islam maka tidak lagi disebut masa jahiliyah. Dan bisa jadi seorang muslim terkadang jatuh kepada perangai jahiliyah. Maka ini disebut oleh para ulama dengan jahiliyah muqayyadah (yang sifatnya terikat dengan perbuatan tertentu saja). Adapun dimutlakkan dengan mengatakan masa jahiliyah, maka ini khusus masa sebelum Islam.
    Hadits ke-65
    عن عبد الله بن مسعود – رضي الله عنه – قَالَ قَالَ أُنَاسٌ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنُؤَاخَذُ بِمَا عَمِلْنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ قَالَ أَمَّا مَنْ أَحْسَنَ مِنْكُمْ فِي الْإِسْلَامِ فَلَا يُؤَاخَذُ بِهَا وَمَنْ أَسَاءَ أُخِذَ بِعَمَلِهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَالْإِسْلَامِ.
    Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Ada beberapa orang berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Wahai Rasulullah, apakah amalan buruk dimasa jahiliyah dahulu itu tetap akan diberikan sanksi atas kami?’
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Adapun orang yang berbuat ihsan di antara kalian dalam Islam, maka tidak akan disanksi, dan siapa yang berbuat buruk didalam Islam, maka amalan buruk dia dimasa jahiliyah pun tetap akan diberikan sanksi.'” (HR. Muslim)
    Para ulama berbeda pendapat apa makna daripada hadits ini. Apakah maksudnya hadits ini artinya waktu dimasa jahiliyah misalnya dia tukang berzina, kemudian setelah masuk Islam dia tetap saja berzina dan tidak meninggalkan apa perizinahannya. Atau yang dimaksud dengan hadits ini adalah bahwa yang berhubungan dengan masalah keislaman. Artinya setelah dia masuk Islam ternyata Islamnya bagus (dia benar-benar dengan keimanannya, ia beriman kepada Allah dan RasulNya dengan penuh kejujuran, dia juga menjauhkan kesyirikan dan hal-hal yang bisa membatalkan keislaman).
    Kebanyakan para ulama seperti Al-Imam An-Nawawi, demikian pula pendapat Syaikh Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala, mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hadits ini adalah yaitu orang-orang yang ketika masuk Islam namun keislamannya tidak baik. Yaitu dia hanya memperlihatkan keislaman secara lahiriyah saja tapi menyembunyikan kekufuran kepada Islam di hatinya, seperti halnya orang-orang yang munafik. Maka orang yang seperti orang munafik ini sama sekali Islam tidak menggugurkan dosa-dosa sebelumnya.
    Bab hukum mencaci dan memerangi muslim
    Kita masuk ke bab سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ (mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan, dan memerangi muslim adalah kekafiran).
    Hadits ke-66
    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ.
    Dari Abdullah bin Ma’du Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Mencaci-maki seorang muslim itu kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran....
    48 min
  • Penjarakan Lisanmu
    Penjarakan Lisanmu adalah kajian tematik yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah pada Sabtu, 5 Rabi’ul Awwal 1444 H / 01 Oktober 2022 M.
    Penjarakan Lisanmu
    Sebuah pekerjaan yang sangat rumit, saking rumitnya Allah berjanji dengan janji yang luar biasa kepada orang yang bisa menguasai lisannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah kata-kata yang benar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70)
    Ketika berkata-kata dengan lisan, ucapkan yang benar, ucapkan yang Allah ridhai, ucapkan yang Allah suka, ucapkan yang Allah Tabaraka wa Ta’ala izinkan kita menggunakan lisan untuk mengucapkannya. Ini adalah perintah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Kalau itu kita lakukan, Allah berjanji dalam ayat setelahnya:
    يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ …
    “Allah akan perbaiki untuk kalian amalan-amalan kalian…” (QS. Al-Ahzab[33]: 71)
    Dengarkan baik-baik janji Allah manakala seorang muslim/muslimah menjalankan perintah Allah yang satu ini, menjaga lisannya dan tidak menggunakan lisan kecuali untuk hal yang dicintai Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka Allah akan perbaiki untuk kalian amal kalian.
    Saudaraku, mana yang lebih kita harapkan, kita berjuang memperbaiki amal kita atau Allah yang memperbaiki amal kita? Mana yang lebih hebat? Tentu yang kedua. Kalau Allah sudah memperbaiki amal kita, maka ini sebuah kemuliaan yang luar biasa, keagungan yang sangat hebat, dan ini janji Allah kepada orang yang menjaga lisannya.
    Ketika fadhilah dari sebuah amal itu sesuatu yang besar, itu menunjukkan amal itu bukan amal yang sepele/mudah. Dan semua kita tahu alangkah sulitnya menjaga lisan.
    Seorang ulama bernama Yunus bin Ubaid, dari beliau Imam Ahmad banyak belajar akhlak dan adab, seorang ahli ilmu. Yunus bin Ubaid Rahimahullah berkata: “Engkau bisa saja menyaksikan orang-orang yang rajin shalat di malam hari, namun siang harinya melakukan hal yang diharamkan Allah. Dan engkau bisa saja menyaksikan orang-orang yang puasa di siang hari, namun malam harinya melakukan yang dimurkai dan tidak diridhai Allah. Namun engkau tidak akan saksikan orang yang menjaga lisannya, lalu engkau temukan amalannya berbeda dengan lisannya yang dia jaga itu.”
    Artinya bahwa orang yang shalat malam tidak menjamin bahwa siangnya dia tidak melakukan yang diharamkan Allah. Orang yang puasa di siang hari tidak menjamin malam harinya dia melakukan hal yang dimurkai Allah Tabaraka wa Ta’ala. Namun orang yang sudah menjaga lisannya, engkau tidak akan temukan orang itu amalnya rusak. Ini adalah buah daripada Allah Tabaraka wa Ta’ala yang memperbaiki untuk seorang hamba amalnya, fadhilah daripada seseorang yang menjaga lisannya.
    Semua direkam
    Terlalu banyak manusia hidup di zaman kita sekarang ini ketika berbicara, dia anggap ungkapan pembicaraannya itu setelah dia ucapkan hilang begitu saja di udara. Dan bukan begitu sebenarnya. Allah mengatakan di dalam Al-Qur’an:
    مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
    “Tidak ada satu ucapan yang keluar dari lisan melainkan akan ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf[50]: 18)
    Kalau kita ingin mendapatkan kemuliaan yang tadi Allah katakan di dalam ayat yang tadi kita bacakan, hal yang harus kita lakukan adalah tidak pernah menganggap perkataan kita sesuatu yang akan hilang. Ini salah satu kaidah penting bagi orang yang serius ingin memperbaiki lisannya.
    Ini yang terjadi di zaman kita sekarang. Orang berbicara dan hatinya tidak pernah merasakan bahwa pembicaraan itu direkam, pembicaraannya itu tertulis dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sehingga akhirnya ketika sifat itu hilang,
    1 hr 48 min
  • Ilmu Jalan Untuk Meraih Kesempurnaan
    Ilmu Jalan Untuk Meraih Kesempurnaan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 3 Rabi’ul Awwal 1444 H / 29 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Merupakan Kemuliaan Bagi Orang Yang Mempelajarinya
    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Jalan Untuk Meraih Kesempurnaan
    Kita telah sampai pada segi ke-124: Ilmu adalah jalan untuk meraih kesempurnaan/kedudukan yang mulia disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan di sini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an memuji kekasihNya, Nabi Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam dalam firmanNya:
    إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ‎﴿١٢٠﴾‏ شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ‎﴿١٢١﴾
    “Sesungguhnya Nabi Ibrahim adalah seorang imam panutan yang selalu tunduk kepada Allah dan hanif (menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selainNya). Dan beliau tidak termasuk orang yang melakukan perbuatan syirik. Beliau selalu mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah berikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl[16]: 120-121)
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa di dalam ayat ini terdapat empat macam pujian yang Allah tunjukan kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam. Allah memulai memuji Nabi Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam dengan disebutkan dia sebagai ummat. Makna ummat adalah panutan/teladan yang sebagai orang yang selalu kita ikuti dalam kebaikan-kebaikannya.
    Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu menjelaskan bahwa “ummat” di sini maksudnya adalah orang yang mengajarkan kebaikan. Berarti dia harus punya ilmu. Seseorang tidak akan bisa mengajarkan kalau tidak punya sesuatu yang akan diajarkan.
    Inilah pujian yang menunjukkan tingginya kedudukan Nabi Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam. Bahwa sikap-sikap beliau selalu menjadi teladan kebaikan yang dicontoh oleh orang-orang yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menegakkan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Perbedaan antara “ummat” dan “imam” ada dua segi, yaitu:
    Pertama, kata-kata “imam” itu adalah semua yang diikuti, baik itu dengan kemauannya atau tidak. Dari sinilah “jalan” dalam bahasa Arab juga disebut imam. Karena jalan itu yang diikuti jalurnya. Hal ini di antaranya disebutkan dalam firman Allah:
    وَإِن كَانَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ لَظَالِمِينَ ‎﴿٧٨﴾‏ فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ ‎﴿٧٩﴾
    “Sesungguhnya adalah penduduk Aikah melakukan perbuatan dzalim, maka Kami berikan balasan bagi mereka. Dan sesungguhnya keduanya itu benar-benar mengikuti jalan yang terang.” (QS. Al-Hijr[15]: 78)
    “Imam” bisa disebutkan untuk sebuah jalan karena dia diikuti, tetapi “ummat” tidak akan disebut sebagai jalan.
    Kedua, bahwa yang namanya ummat itu ada tambahan makna padanya. Karena ketika orang disebut sebagai ummat, dia adalah orang yang mengumpulkan sifat-sifat kesempurnaan (yaitu ilmu dan amal), dimana dia sendiri yang memiliki sifat tersebut.
    35 min
  • Tebuslah Diri Kalian dari Siksa Allah dengan Bertauhid
    Tebuslah Diri Kalian dari Siksa Allah dengan Bertauhid adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 2 Rabi’ul Awwal 1444 H / 28 September 2022 M.

    Kajian Tentang Tebuslah Diri Kalian dari Siksa Allah dengan Bertauhid
    Diriwayatkan dalam Kitab Ash-Shahih, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Ketika diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ayat:
    وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
    “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 214)
    Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri dan bersabda: ‘Wahai segenap kaum Quraisy, tebuslah diri kalian dari siksa Allah dengan bertauhid kepadaNya, sedikitpun aku tidak berguna bagi diri kalian di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, sedikitpun aku tidak berguna bagi diri kalian di hadapan Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan wahai Fatimah putri Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mintalah kepadaku apa yang kamu inginkan dari hartaku, sedikitpun aku tak berguna bagi dirimu di hadapan Allah.'” (HR. Bukhari)
    Berdakwah kepada Kerabat
    Kerabat seseorang yang terdekat adalah anak-anak dari bapaknya atau kabilah seseorang. Karena mereka adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan kebaikan dan perbuatan ihsanmu, baik secara agama ataupun dunia. Sebagaimana firman Allah:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ…
    “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan bebatuan…” (QS. At-Tahrim[66]: 6)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memerintahkan untuk memberikan peringatan secara umum, seperti dalam surah Yasin ayat 6:
    لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ
    “Agar engkau memberikan peringatan kepada orang-orang sebagaimana engkau telah diberikan peringatan oleh nenek moyangmu, dan mereka orang-orang yang lalai.” (QS. Ya Sin[36]: 6)
    Begitu juga dengan surah Ibrahim ayat 44:
    وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ…
    “Ingatkanlah manusia pada hari datang siksa kepada mereka…” (QS. Ibrahim[14]: 44)
    Ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kepada kerabat yang terdekat dan juga kepada seluruh manusia.
    Tebuslah Diri Kalian dari Siksa Allah dengan Bertauhid
    Di dalam hadits di atas, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Belilah diri kalian.” Maksudnya yaitu bertauhidlah kalian dengan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah semata, tidak ada sekutu bagi Allah sama sekali, dan mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menjauhi apa saja yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena sesungguhnya hal tersebut menyelamatkan seseorang dari siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan bersandar kepada nasab keturunan ataupun kedudukan, karena itu semua tidak bermanfaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Kuasa atas segala makhluk.
    Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sedikitpun aku tidak berguna bagi diri kalian di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Di sini terdapat sanggahan atas siapa saja yang be...
    1 hr 12 min
  • Penggugur Dosa dan Kesalahan
    Penggugur Dosa dan Kesalahan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 1 Rabi’ul Awwal 1444 H / 27 September 2022 M.
    Sebelumnya: Wasiat Takwa

    Kajian Tentang Penggugur Dosa dan Kesalahan
    Pada halaqah yang sebelumnya telah kita kaji bersama sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan wasiat beliau untuk sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu ketika beliau akan berangkat ke negeri Yaman sebagai Dai dan perwakilan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di sana. Dimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada beliau:
    اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
    “Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan akan menghapuskan keburukan, dan perlakukanlah manusia dengan perlakuan yang baik.” (HR. Tirmidzi)
    Ini adalah wasiat yang agung dan sangat mencakup. Ini mengajarkan kepada kita bahwasannya seseorang muslim memiliki rencana A dan rencana B. Tidak hanya memikirkan rencana A, tapi juga tahu bagaimana harus bersikap ketika keadaannya tidak sesuai dengan harapan.
    Rencana A bagi seorang muslim adalah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan semampu dia, tidak jatuh dalam maksiat, bertakwa kepadaNya di manapun berada. Mengejar kesempurnaan adalah rencana A bagi seorang muslim.
    Namun kadang-kadang kita menghadapi kondisi tidak ideal. Kadang-kadang meskipun sudah berusaha semampu kita, kadang-kadang masih jatuh dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka di sinilah kita harus mengingat sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا
    Jika kita jatuh dalam maksiat dan dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, jangan tenggelam dan keasikan di sana, tapi segera ingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian lakukan amal-amal shalih yang akan menghapuskan dosa dan maksiat kita itu.
    Semakin baik dan besar amal shalih yang kita lakukan, maka dia akan semakin sempurna menghapuskan maksiat dan dosa yang sudah kita lakukan. Apalagi kalau kebaikan dan amal shalih ini sejenis dengan keburukan dan maksiat yang telah kita lakukan.
    Hal-hal yang menghapuskan dosa
    Ada beberapa hal yang bisa menghapuskan dosa kita.
    1. Taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Taubat ini merupakan penghapus dosa yang paling umum, paling mencakup dan yang paling besar. Yaitu dengan mengakui dosa kita, meninggalkan dosa kita, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi dengan ikhlas dan saat waktunya masih terbuka.
    Para ulama menjelaskan bahwasanya taubat itu definisinya bukan tidak mengulangi lagi, tapi bertekad untuk tidak mengulangi lagi. Berbeda antara “tidak mengulangi lagi” dengan “bertekad untuk tidak mengulangi lagi”.
    Yang disebutkan oleh para ulama saat menyebutkan syarat-syarat taubat adalah bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan dan dosa itu lagi. Dan bisa jadi setelah beberapa waktu hati kita kembali melemah kemudian jatuh pada kesalahan yang sama.
    Kalau seseorang sudah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia bertekad untuk tidak mengulangi, tapi kemudian seiring waktu dia jatuh lagi dalam kesalahan yang sama, di sini para ulama menyebutkan bahwasanya itu adalah dosa baru yang tidak menggugurkan taubat yang sudah dia lakukan.
    Itulah yang dimaksud oleh para ulama ketika mereka dengan detail menyebutkan bahwasanya taubat itu bukanlah tidak jat...
    1 hr 6 min
  • Jangan Menyalahkan Anak
    Jangan Menyalahkan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 1 Rabi’ul Awwal 1444 H / 27 September 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Memberikan Bingkisan dan Hadiah
    Jangan Menyalahkan Anak
    Anak-anak tidak bisa dilepaskan dari mainan dan permainan, karena itu dunia mereka. Itu usia dimana seorang anak cenderung kepada aktivitas tersebut. Jadi tidak bijak orang tua yang melarang anaknya memiliki mainan dan bermain-main, serta memaksanya untuk belajar dengan porsi yang sangat ketat, hingga tidak ada waktu bermain bagi anak.
    Anak berbeda dengan manusia yang sudah dewasa. Kadang-kadang anak disuruh belajar juga dia belum tahu dia belajar untuk apa. Maka supaya ada semangat untuk belajar juga, berikan porsi bermain untuk mereka. Terkadang ketika anak dicegah dari bermain -padahal fitrahnya bermain- dia tidak fokus pada pelajarannya. Hal ini karena kebutuhan mainnya tidak terpenuhi. Maka perlu kita beri hak mereka dalam di dalam bab ini.
    Demikian pula kita sudah jelaskan sebelumnya bahwa jangan suka mencela anak atas kesalahan yang mereka lakukan. Karena tugas kita bukan mencela, akan tetapi membimbing. Ada nasihat yang penuh hikmah dari Abu Hamid Al-Ghazali, ia mengatakan: “Jjangan sering mencela anak, karena ia akan menganggap remeh ketika mendengar celaan, dan dia tetap melakukan kesalahan. Dan nasihat itu tidak lagi menyentuh hatinya.”
    Celaan kita itu tidak menghentikannya dari berbuat salah. Karena anak itu memang identik dengan salah. Anak sama dengan salah. Karena kekurangan-kekurangan yang memang ada pada mereka. Kalau setiap kesalahan anak kita timpali dengan celaan, maka masalahnya tidak selesai, mereka tidak berhenti buat salah. Sementara mereka tidak lagi terpengaruh dengan celaan. Dan nasihat apapun tidak lagi menyentuh hatinya.
    Kita sering dengar orang tua yang mengeluh “anak saya makin dilarang makin menjadi, makin disuruh makin malas.” Maka dalam hal ini jangan tergesa-gesa nyalakan anak. Mungkin barangkali cara kita yang salah. Sebagian orang tua ada yang terlalu mengumbar perintah dan larangan kepada anaknya tanpa ada penjelasan mengapa ia diperintahkan dan dilarang. Ia berkata kepada anaknya: “Jangan begini, jangan begitu,” tanpa penjelasan.
    Hendaklah orang tua mendahulukan pendekatan yang lebih persuasif. Yaitu dengan menggunakan kata-kata yang bersifat informatif dan menghindari kata-kata yang bersifat instruktif. Tentu akan lebih membekas pada jiwa anak apabila kita mengatakan kepadanya kata-kata informatif (yang berisi ilmu). Intinya adalah sebuah instruksi, tanpa sadar anak akan mengerti dan segera melakukan apa yang kita kehendaki. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwa Al-Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhu mengambil sebiji kurma dari harta zakat dan memakannya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang mengeluarkan kurma itu dari mulutnya dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Kemudian Nabi berkata kepada Al-Hasan:
    أما شعَرْتَ أنَّا لا نأكُلُ الصدقةَ
    “Tidakkah kamu tahu bahwa kita (keluarga Muhammad) tidak boleh memakan harta zakat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Nabi menerima sedekah, tapi tidak menerima zakat. Maka Al-Hasan yang saat itu masih kecil mengerti mengapa perbuatannya salah. Yaitu karena kurma yang dimakannya itu kurma zakat, dan beliau termasuk ahli bait yang tidak boleh menerima harta zakat. Maka sabda Nabi tadi merupakan bentuk informas...
    56 min
  • Niat Ketika Seorang Muslim Mencari Harta
    Niat Ketika Seorang Muslim Mencari Harta ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 29 Safar 1444 H / 26 September 2022 M.

    Kajian Tentang Niat Ketika Seorang Muslim Mencari Harta
    Kita masih berbicara seputar kekeliruan sebagian orang dalam memandang harta. Ada yang berlebihan hingga menjadi budak harta, dan ada juga yang mengambil sikap yang ekstrem pula terhadap harta, yaitu merasa tidak memerlukan harta dan cenderung meninggalkannya sama sekali.
    Tentunya Ahlus Sunnah wal Jamaah ataupun salaf (sahabat dan para ulama-ulama yang datang sesudah mereka), mereka bersikap tengah didalam bab harta ini. Juga kita melihat dari sabda-sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berisi larangan untuk menyia-nyiakan. Seperti misalnya dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash, Nabi pernah berkata kepadanya:
    لأن تترك ورثتك أغنياء خير لك من أن تتركهم عالة يتكففون الناس
    “Sesungguhnya engkau meninggalkan keluargamu dalam kondisi berkecukupan lebih baik bagimu daripada meninggalkan mereka dalam kondisi fakir (kekurangan) sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada orang lain.”
    Artinya harta itu memang kita perlukan juga untuk menopang kehidupan kita, untuk menegakkan punggung kita, dan untuk mencegah kita dari bergantung/bersandar kepada orang lain hingga jatuh dalam kehinaan mengemis kepada manusia.
    Maka kita diperintahkan untuk mencari harta. Namun di dalam syariat kita diwajibkan untuk mencarinya dengan cara yang halal. Naluri mencari rezeki itu adalah naluri yang Allah tanamkan kepada semua makhluk hidup, sampai hewan sekalipun. Coba lihat hewan, tidak ada hewan yang meminta-minta kepada hewan lainnya. Mereka berusaha untuk mencari rezeki untuk diri mereka sendiri. Burung keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki, bukan minta rezeki kepada burung yang lainnya. Artinya naluri itu ada pada semua makhluk hidup, termasuk manusia.
    Maka kita pun mencari rezeki yang notabene itu adalah harta untuk kecukupan hidup kita. Maka Nabi mengatakan: “Kamu tinggalkan keluargamu dalam keadaan berkecukupan (bukan berlebihan), itu lebih baik daripada kamu tinggalkan mereka dalam kondisi fakir, kekurangan, dan terpaksa mengharap bantuan dan pertolongan orang lain.”
    Ini menunjukkan kepada kita bahwa Nabi melarang pekerjaan meminta-minta. Itu bukanlah pekerjaan yang dibenarkan, bahkan dilarang. Dan Nabi juga pernah berkata:
    ما نفَعني مالٌ كمالِ أبي بكرٍ
    “Tidak ada harta yang memberi manfaat bagiku seperti harta Abu Bakar.”
    Yaitu yang dikeluarkan Abu Bakar untuk membantu dakwah dan perjuangan Nabi di dalam menyiarkan agama. Itu adalah harta yang membawa manfaat bagi pemiliknya di dunia dan di akhirat. Dan juga bermanfaat bagi orang lain. Itulah sebaik-baik harta yang besar manfaatnya. Semakin besar manfaat sebuah harta maka semakin besar juga berkah/manfaatnya bagi pemiliknya.
    Diriwayatkan dari ‘Amr bin Al-Ash, ia bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim utusan kepadaku untuk menyampaikan pesan. Pesannya adalah:
    خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاحَكَ ثُمَّ ائْتِنِي
    “Ambillah pakaian dan senjatamu lalu datanglah padaku.”
    Maka aku pun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu beliau berkata:
    إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمُكَ اللَّهُ وَيُغْنِمُكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً
    “Aku ingin mengutusmu untuk bisa memimpin pasukan, hingga Allah memberikan kamu kemenangan,
    32 min
  • Mengungkapkan Kecintaan Kepada Anak
    Mengungkapkan Kecintaan Kepada Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 1 Safar 1444 H / 29 Agustus 2022 M.

    Kajian Tentang Mengungkapkan Kecintaan Kepada Anak
    Tema mengungkapkan kecintaan kepada anak ini perlu diangkat karena banyak orang tua yang mengeluhkan tentang sikap anaknya. Yaitu banyak anak yang lebih dekat kepada teman-temannya dibandingkan kepada orang tuanya. Buktinya adalah anak-anak itu lebih mendengar apa kata temannya dibanding apa kata orang tuanya. Padahal bisa jadi teman itu baru dikenal beberapa hari. Sedangkan orang tuanya sudah kenal bertahun-tahun.
    Kok bisa anak kita lebih mendengar omongan orang yang baru dikenal berapa hari dan tidak mendengarkan omongan orang yang sudah dikenalnya bertahun-tahun? Kenapa ini bisa terjadi?  Tidak cukup kita hanya sekedar marah, menggerutu dan protes. Tapi kita harus mencari tahu kira-kira sebabnya apa. Setelah kita temukan sebabnya apa maka kita carikan solusinya.
    Kemungkinan ada banyak faktor yang menyebabkan anak memiliki sikap seperti tadi. Dan salah satu faktor terbesarnya adalah karena anak ini kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Sehingga ketika dia ketemu teman yang pintar berbicara, mengungkapkan perasaan, membujuk, memenuhi keinginan anak kita, dia mendapatkan sesuatu yang selama ini tidak dia dapatkan.
    Jika pemicunya anak tidak merasakan kasih sayang dari orang tuanya, maka solusinya adalah bagaimana orang tua bisa mengirimkan pesan kepada anaknya bahwa ayah dan ibu sangat sayang kepada anak tersebut.
    Cinta itu aslinya di hati. Makanya ada orang yang mengaku dengan lisannya cinta padahal sebenarnya tidak cinta. Karena tempatnya di hati, tentu yang tahu hanya Allah. Karena Allah yang mengetahui isi hati kita. Kemudian yang mengetahui lagi adalah kita yang menyimpan perasaan tersebut.
    Anak yang tidak tahu isi hati kita itu perlu kita kasih tahu. Hal ini supaya anak tahu. Karena ketika cinta itu kita rahasiakan di dalam hati -padahal kita sangat sayang kepada anak- anak akan berfikir bahwa orang tuanya tidak menyayanginya.
    Bagaimana cara memberitahu cinta kita kepada anak? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Mengungkapkan Kecintaan Kepada Anak
    Mari turut membagikan link download kajian “Mengungkapkan Kecintaan Kepada Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    34 min
  • Posisi Tangan Ketika I’tidal
    Posisi Tangan Ketika I’tidal ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 29 Safar 1444 H / 26 September 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Masalah-Masalah Terkait Takbiratul Ihram
    Kajian Tentang Posisi Tangan Ketika I’tidal
    Permasalahan yang berkaitan dengan rukun i’tidal dan tuma’ninah di dalamnya adalah tentang apakah tangan ketika i’tidal itu disedekapkan ataukah dijulurkan? Pembahasan masalah ini sebenarnya adalah pembahasan yang berkaitan dengan sunnah dalam i’tidal. Dan para ulama sepakat bahwa i’tidal dengan kedua cara ini cukup untuk shalat seseorang. Maksudnya apabila seseorang i’tidal dengan menjulurkan tangannya, maka tidak ada seorang pun dari ulama yang mengatakan i’tidalnya tidak sah. Begitupula ketika seseorang menjadikan tangannya bersedekap ketika i’tidal, maka tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa shalatnya menjadi tidak sah.
    Para ulama berbeda pendapat apakah yang lebih baik i’tidal dengan menyedekapkan kedua tangan ataukah dengan menjulurkan kedua tangan? Ada yang mengatakan lebih afdhalnya menyedekapkan kedua tangan. Hal ini karena keumuman hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika berdiri beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini menjelaskan tentang berdiri. Dan i’tidal termasuk berdiri. Maka masuk dalam keumuman hadits ini.
    Pendapat yang kedua adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang lebih baik ketika i’tidal adalah menjulurkan tangan. Dalilnya adalah bahwa tidak ada satupun hadits khusus yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika i’tidal menyedekapkan tangannya. Yang ada ada adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika i’tidal -dan juga beliau memerintahkan hal ini- menjadikan semua dua tulang-tulang beliau kembali kepada posisinya masing-masing. Dan ketika i’tidal, kembalinya tulang-tulang tersebut ke posisinya masing-masing adalah dengan menjulurkan tangan, bukan dengan menyedekapkan tangan. Kalau menyedekapkan tangan berarti ada beberapa potongan tulang yang tidak pada posisi alaminya.
    Inilah dua pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengatakan lebih afdhalnya menyedekapkan tangan, ada yang mengatakan lebih afdhalnya menjulurkan tangan. Wallahu ta’ala a’lam, ana melihat yang lebih kuat adalah pendapat yang mengatakan menjulurkan tangan lebih afdal. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat beberapa kali dalam hidupnya. Dan shalat beliau dilihat oleh para sahabatnya. Dan tidak ada satupun riwayat yang shahih dari sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersedekap ketika i’tidal.
    Berbeda dengan ketika berdiri sebelum ruku’. Ada banyak sekali riwayat yang khusus menjelaskan tentang sedekapnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu. Riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang sifat shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak ada satu pun yang menjelaskan bahwa beliau pernah menyedekapkan tangannya ketika i’tidal. Di sisi lain banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa beliau menyedekapkan tangannya ketika berdiri sebelum ruku’. Makanya pendapat yang mengatakan bahwa lebih afdhalnya menjulurkan tangan ketika i’...
    1 hr 2 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah