Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Talbis Iblis Untuk Memakai Pakaian Lusuh
    Talbis Iblis Untuk Memakai Pakaian Lusuh ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 19 Rabi’ul Akhir 1444 H / 14 November 2022 M.

    Kajian Tentang Talbis Iblis Untuk Memakai Pakaian Lusuh
    Abu Ja’far Ath-Thabari mengatakan bahwa merupakan kekeliruan orang yang lebih memilih pakaian bulu atau wol daripada pakaian kapas dan katun. Pakaian bulu dan wol ini kasar, mungkin menunjukkan bahwa pemakainya ini orang yang jauh dari kemewahan. Sementara kapas dan katun adalah bahan yang bagus, enak dipakai, dan menunjukkan bahwa ini adalah pakaian orang-orang yang mungkin memiliki uang untuk membelinya. Padahal pakaian kapas dan katun itu halal.
    Orang tersebut mirip seperti orang yang lebih memilih makan sayuran dan adas daripada makan roti gandum. Dan mirip orang yang tidak mau makan daging karena khawatir syahwat terhadap wanita muncul di dalam dirinya dia.
    Tentunya ini bisa mengarah kepada pengharaman yang halal. Mereka menjauhi pakaian-pakaian yang terbuat dari kapas dan katun dan memilih pakaian wol yang kasar. Sehingga mungkin bisa pada akhirnya mengharamkan sesuatu yang halal. Seperti sebagian orang yang menghindari makan daging karena takut syahwatnya naik. Maka ini menyalahi apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi juga makan daging, Nabi juga memakai pakaian-pakaian yang bagus. Terutama ketika beliau hadir di tengah-tengah kaum muslimin. Misalnya di dalam mengerjakan shalat di masjid.
    Jadi pakaian-pakaian seperti itu justru memunculkan perasaan ‘ujub di dalam diri pemakainya dan dia merasa lebih dengan pakaian yang dikenakannya itu daripada orang lain.
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa para Salaf dahulu biasa mengenakan pakaian sederhana. Maksudnya adalah tidak mewah, namun juga tidak murahan. Yaitu pakaian yang bersahaja, tidak pakaian yang sangat memelas sehingga memancing rasa kasihan manusia kepadanya. Dan tidak juga pakaian terlalu mewah sehingga memberikan kesan bermegah-megahan. Dan mereka memilih pakaian yang terbaik, terutama untuk shalat Jumat, shalat dua hari raya, dan ketika menemui saudara-saudara mereka kaum muslimin. Pakaian yang bukan paling baik bagi mereka, namun bukanlah pakaian yang buruk. Yaitu yang pertengahan, tidak terlalu mewah/mahal sehingga mungkin ada kesan mubadzir, dan tidak terlalu lusuh atau murahan sehingga terkesan kita tidak memiliki harta untuk mencukupi kebutuhan kita sendiri.
    Begitulah penampilan para sahabat. Jadi kadang-kadang mereka mengenakan pakaian yang bagus, dan ada kalanya mereka menggunakan pakaian yang sangat sederhana. Jadi semua jenis pakaian itu dipakai oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Kadang-kadang orang lupa ketika mengekspos sahabat yang mengenakan pakaian bertambal. Seolah-olah setiap waktu dan keadaan mereka mengenakan pakaian seperti itu. Tentu ini anggapan yang keliru. Iya kadang kala mereka mengenakan pakaian yang bertambal, tapi di waktu yang lain mereka juga mengenakan pakaian-pakaian yang bagus. Karena Allah mengatakan:
    … خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ…
    “Pakailah perhiasan (bajumu yang terbaik) ketika kamu datang ke masjid.” (QS. Al-A’raf[7]: 31)
    Imam Muslim juga meriwayatkan dalam Shahihnya, dari hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Bahwasannya dia melihat pakaian siyara (ada bintik-bintiknya dan bercampur dengan bahan sutra) dijual di dekat pintu masjid. Kemudian Umar berkata kepada Rasulullah: “Alangkah baiknya jika engkau membelinya untuk shalat Jumat dan...
    39 min
  • Menanamkan Kejujuran Pada Anak
    Menanamkan Kejujuran Pada Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 19 Rabi’ul Akhir 1444 H / 14 November 2022 M.

    Kajian Tentang Menanamkan Kejujuran Pada Anak
    Mengapa kejujuran perlu ditanamkan dalam jiwa putra dan putri kita? Jawabannya karena kejujuran adalah sifat positif yang akan menyelamatkan orang yang memiliki sifat itu. Orang yang memiliki sifat kejujuran akan terselamatkan di dunia dan akhirat. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang shahih:
    “عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا. وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“.
    “Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke surga. Sesungguhnya seseorang berusaha untuk jujur dan berupaya terus-menerus membiasakan diri untuk jujur; maka orang ini akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah kebohongan, karena kebohongan itu akan membawa pada kekejian, dan kekejian akan membawa kepada neraka. Dan ketika seorang berdusta dan mengulang-ulangi dustanya; maka Allah akan tulis dia sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim)
    Lihatlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak langsung menyematkan label pembohong kepada seseorang. Tapi karena orang itu yang membiasakan dirinya untuk berbohong. Akhirnya sampai dicap oleh Allah sebagai pembohong. Kalau sudah dicap sebagai pembohong, tentunya tidak dipercaya lagi ketika berbicara.
    Karena kejujuran Itu adalah sebuah sifat positif, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menasehatkan kepada kita semua agar berupaya menanamkan kejujuran kepada putra dan putrinya sejak dini. Kewajiban orang tua bukan hanya sekedar memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal. Tapi kewajiban kita sebagai orang tua adalah mendidik sifat-sifat baik dalam diri anak kita. Salah satu sifat baik itu adalah kejujuran.
    Hal pertama dan paling utama yang perlu dilakukan oleh orang tua yang ingin menanamkan kejujuran kepada anaknya adalah memberi teladan kejujuran. Kalau anda ingin anak anda jujur, maka anda harus jujur. Mulai dari diri sendiri. Ini yang paling pokok.
    Jadi sebelum berbicara tentang teori-teori dan tips-tips membangun kejujuran, mulai saja dari diri kita.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Menanamkan Kejujuran Pada Anak
    Mari turut membagikan link download kajian “Menanamkan Kejujuran Pada Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    39 min
  • Dosa-Dosa Diampuni Karena Mati Syahid Kecuali Hutang
    Dosa-Dosa Diampuni Karena Mati Syahid Kecuali Hutang adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 22 Rabi’ul Awwal 1444 H / 18 Oktober 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Berjihad dan Menangis Karena Allah
    Dosa-Dosa Diampuni Karena Mati Syahid Kecuali Hutang
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وعَنْ أبي قتَادَةَ ، رضي اللَّه عَنْه ، أنَّ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَامَ فيهمْ فَذَكَرَ أنَّ الجِهادَ في سبِيلِ اللَّهِ ، وَالإيمانَ بِاللَّهِ ، أَفْضَلُ الأَعْمَال ، فَقَامَ رجُلٌ ، فَقَال : يا رَسُول اللَّهِ أَرأَيْتَ إنْ قُتِلْتُ في سبيلِ اللَّهِ أتُكَفَّرُ عنِّي خَطاياي ؟ فَقالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « نعمْ إنْ قُتِلت في سبيلِ اللَّهِ وَأَنْتَ صابِرٌ ، مُحْتسِبٌ مُقبلٌ غيْرُ مُدْبِرٍ » ثُمَّ قَال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «كَيْفَ قُلْتَ ؟ » قال : أَرأَيْتَ إنْ قُتِلْتُ في سبيل اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عنِّي خَطَايَايَ ؟ فَقَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « نَعمْ وأَنْتَ صابِرٌ مُحْتَسِبٌ ، مُقْبلٌ غَيْرُ مُدْبرٍ ، إلاَّ الدَّيْنَ ، فَإنَّ جِبْرِيلَ عليه السلامُ قال لي ذلكَ » . رواهُ مسلمٌ .
    Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di tengah-tengah para sahabat dan kemudian beliau menyebutkan tentang keutamaan berjihad di jalan Allah, dan keutamaan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu adalah amal yang paling afdhal.
    Kemudian ada seorang berdiri, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pandanganmu apabila aku terbunuh dalam peperangan di jalan Allah, apakah semua dosa-dosaku diampuni?”
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Iya, jika kamu terbunuh di jalan Allah dalam keadaan bersabar, kamu hanya mengharapkan pahala di sisi Allah, dan kamu dalam keadaan maju dalam peperangan dan tidak mundur.”
    Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda lagi: “Bagaimana ucapanmu tadi?”
    Orang itu mengulangi pertanyaannya: “Bagaimana pandanganmu jika kau terbunuh di jalan Allah, apakah diampuni semua dosa-dosaku?”
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Iya, jika kamu dalam keadaan bersabar, mengharapkan pahala dari Allah, kamu maju dan tidak mundur dari peperangan itu. Kecuali kalau engkau mempunyai hutang, sebab sesungguhnya Jibril ‘Alaihis Salam mengatakan hal itu kepadaku.” (HR. Muslim)
    Inti dari hadits ini adalah bahwa dalam hal berkaitan dengan keutamaan orang yang berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Misalnya dia terbunuh, dalam keadaan sabar mengharapkan pahala di sisi Allah, kemudian dia maju terus pantang mundur dalam peperangan itu, lalu dia terbunuh, maka diampuni semua dosa-dosanya. Kecuali satu hal, yaitu berkaitan dengan hutang. Karena hutang ini kaitannya adalah dengan hak manusia. Hutang tetap harus dibayar oleh orang yang berhutang. Adapun dosa antara seorang hamba dan Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah mengampuninya.
    Hadits ini juga tentu memberikan pelajaran kepada kita tentang keutamaan jihad di jalan Allah dan wafat dalam berjihad di jalan Allah.
    Orang yang berjihad di jalan Allah hendaknya dia bersabar. Tujuannya adalah untuk meninggikan/memuliakan agama Allah. Kemudian hendaknya dia juga hanya berharap apa yang dijanjikan oleh Allah.
    1 hr 15 min
  • Pelajaran dari Kisah Saba’
    Pelajaran dari Kisah Saba’ adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 21 Rabi’ul Awwal 1444 H / 17 Oktober 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Orang Beriman Selalu Menjadi Penasihat Yang Terpercaya
    Pelajaran dari Kisah Saba’
    Saba’ adalah nama salah satu kabilah bangsa Arab di Yaman. Mereka membentuk kerajaan, dan makmur. Mereka punya bendungan besar yang mampu mengairi ribuan lahan. Tapi sayangnya nikmat ini tidak mereka syukuri. Justru mereka berpaling dari agama Allah dan mereka melakukan maksiat dan kedzaliman. Sehingga nikmat yang besar ini Allah cabut.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
    “Sesungguhnya bagi penduduk Saba’ ada tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala pada tempat tinggal mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri mereka. “Makanlah dari rezeki Rabb kalian dan bersyukurlah kepadaNya. Negeri kalian adalah negeri yang baik, dan Rabb kalian adalah Rabb Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’[34]: 15)
    فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ
    “Mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti dua kebun mereka dengan dua kebun yang berisi pohon-pohon yang buahnya pahit, pohon Atsl (semacam pohon cemara), dan sedikit dari pohon Sidr (bidara).” (QS. Saba’[34]: 16)
    ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُم بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ
    “Yang demikian itu Kami balas mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak memberikan siksaan kecuali kepada orang-orang yang sangat ingkar.” (QS. Saba’[34]: 17)
    Di antara nikmat lain yang Allah sebutkan adalah:
    وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ ۖ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ
    “Dan Kami jadikan di antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi (negeri Syam), ada beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu jarak perjalanan. Berjalanlah di negeri-negeri tersebut pada malam dan siang hari dengan keadaan aman.” (QS. Saba’[34]: 18)
    Kenikmatan ini juga tidak mereka syukuri. Allah kabarkan dalam ayat selanjutnya, mereka berkata:
    فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    “Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, berikanlah perjalanan yang jauh antara safar kami’, dan mereka mendzalimi diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka sebagai bahan perbincangan manusia dan Kami betul-betul hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada tanda-tanda kebesaran Allah bagi seluruh orang yang sabar dan syukur.” (QS. Saba’[34]: 19)
    وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ
    “Dan sungguh iblis telah meyakinkan kepada mereka kebenaran sangkaannya, mereka pun mengikuti iblis, kecuali sekelompok dari orang-orang yang beriman.” (QS. Saba’[34]: 20)
    46 min
  • Tipu Daya Iblis Untuk Menerima Semua Harta
    Tipu Daya Iblis Untuk Menerima Semua Harta ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 21 Rabi’ul Awwal 1444 H / 17 Oktober 2022 M.

    Kajian Tentang Tipu Daya Iblis Untuk Menerima Semua Harta
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa kaum sufi generasi pertama yang memiliki pandangan ekstrim tentang harta, mereka melepaskan kepemilikan hartanya dan memandang itu sebuah kezuhudan. Kita juga sudah sebutkan bahwa mereka melakukan ini dengan niat dan tujuan yang baik, tapi dengan cara yang keliru karena berseberangan dengan kaidah-kaidah syariat, bahkan kaidah akal. Sikap mereka ini didorong karena ingin meraih tingkat kezuhudan yang tinggi, namun dengan cara yang keliru.
    Adapun generasi terakhir kaum sufi, mereka disini bermacam-macam. Di antara mereka ada yang lebih condong ke dunia dengan menumpuk-numpuk harta dengan cara apapun. Hal itu dilakukan demi hidup senang dan memenuhi syahwat. Maka mereka kadang-kadang mengeruk harta manusia dengan berbagai macam cara. Tentunya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat.
    Di antara mereka ada yang sebenarnya sanggup bekerja, mereka bukan orang cacat. Namun dia tidak mau bekerja dan berusaha. Dia memilih duduk-duduk di tempat ibadahnya atau di masjid. Kemudian dia mengandalkan sedekah atau pemberian orang lain. Sehingga hatinya selalu terpaut pada ketukan pintu orang yang datang untuk memberikan sedekah. Padahal seperti yang diketahui bahwa sedekah itu tidak halal bagi orang kaya, memiliki kekuatan dan sempurna anggota tubuhnya. Hal ini seperti yang diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Jadi kalau kita punya tubuh yang sehat tidak kurang satu apapun, punya kekuatan dan bisa bekerja, maka tidak halal bagi kita untuk meminta-minta dan menerima sedekah. Apalagi orang yang kaya lalu dia meminta sedekah kepada orang lain. Tidak halal bagi seseorang untuk memakan harta sedekah dengan cara seperti ini. Bahkan di antara mereka tidak mau peduli siapapun yang mengirimkan harta itu untuk mereka. Boleh jadi itu harta haram dari orang-orang dzalim.
    Jadi terkait dengan apa yang diberikan kepada mereka itu, mereka membuat kata-kata khusus. Di antaranya adalah mereka menyebut pemberian itu dengan istilah “futuh”, yaitu satu istilah bagi mereka yang maksudnya adalah anugerah atau rezeki. Dan slogan mereka mereka juga adalah: “Rezeki pasti sampai kepada kami,” tanpa peduli apakah itu pantas mereka terima atau tidak.
    Slogan mereka lainnya adalah: “Rezeki ini bersumber dari Allah, maka tidak boleh ditolak, dan kami bersyukur kepadaNya,” tanpa melihat apakah mereka layak untuk menerimanya atau tidak.
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa semua itu berseberangan dengan tuntunan syariat, bentuk ketidaktahuan/kejahilan terhadap syariat, serta kebalikan dari sikap para Salafush Shalih. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ
    “Yang halal itu jelas, yang haram juga jelas, lalu di antara keduanya ada hal-hal syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Maka, siapa saja yang menjaga diri dari hal-hal syubhat, berarti dia telah membebaskan agama dan kehormatannya.”
    Jadi seorang mukmin menjauhi bukan hanya yang haram, tapi juga yang syubhat. Abu Bakar Ash-Shiddiq tanpa ragu memuntahkan makanan syubhat (yang tidak jelas diperoleh dari yang halal atau yang haram) sete...
    28 min
  • Doa Syukur Sebelum Tidur
    Doa Syukur Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 21 Rabi’ul Awwal 1444 H / 17 Oktober 2022 M.
    Lihat sebelumnya: Memohon Perlindungan dan Dilunaskan Hutang Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Doa Syukur Sebelum Tidur
    Di antara doa yang diajarkan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kita baca sebelum tidur adalah sebuah doa. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bila akan tidur, beliau biasa membaca doa berikut ini:
    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا، وَسَقَانَا، وَكَفَانَا، وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ
    “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita makan dan minum, dan melindungi serta mencukupi, dan mengaruniakan kepada kita tempat tinggal. Betapa banyak orang-orang yang tidak berkecukupan, tidak memiliki perlindungan, dan tidak punya tempat tinggal.” (HR. Muslim)
    Nikmat makan dan minum
    Di antara nikmat dimalam hari yang semestinya kita fikirkan adalah makanan dan minuman. Coba kita perhatikan. Ternyata dalam sehari nikmat makan dan minum itu banyak kita rasakan. Supaya itu terasa nikmat, caranya coba kita berfikir dan melihat sekeliling yang ternyata ada orang yang tidak bisa makan tiga kali sehari. Tidak sedikit di antara mereka yang bahkan hanya bisa makan sekali. Bahkan ada di antara mereka yang harus puasa karena tidak ada makanan.
    Kalau kita mau membaca berita, coba baca tentang penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, di Suriyah, di Yaman, kita lihat orang-orang yang menjadi korban perang antara Rusia dan Ukraina. Lihat bagaimana penderitaan mereka kemudian kita bandingkan dengan kenikmatan yang kita rasakan hari ini. Jika demikian berarti kita mempunyai kenikmatan yang sangat banyak.
    Kecukupan
    Di antara nikmat yang mestinya di malam hari kita pikirkan adalah hidup berkecukupan. Ada sebagian orang ketika dinasehati untuk qana’ah (menerima karunia Allah), justru malah mengeluhkan kekurangannya.
    Banyak di antara kita mengeluhkan kekurangan hidupnya gara-gara tidak bisa memilah dan memilih mana kebutuhan dan mana keinginan. Atau dengan kata yang lain tidak bisa membedakan antara hidup dan gaya hidup.
    Jadi tidak setiap yang kita inginkan untuk kita miliki itu adalah kebutuhan. Bisa jadi itu sebenarnya bukan merupakan kebutuhan; boro-boro kebutuhan primer, kadang-kadang sekunder pun juga tidak.
    Perlindungan
    Sebelum tidur, hal yang semestinya kita renungkan adalah perlindungan. Kita lihat tangan, Alhamdulillah tangan saya masih untuh. Kemudian lihat telapak tangannya, Alhamdulillah jari-jarinya masih utuh. Kita lihat pasangan masih ada, anak masih ada, barang-barang juga tidak berkurang.
    Ketahuilah itu semua karena perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Betapa banyak orang yang kecelakaan dan setelah kecelakaan anggota tubuhnya berkurang.
    Tempat tinggal
    Rumah kita (walaupun ngontrak) adalah nikmat. Bukankah banyak orang sekedar untuk ngontrak saja tidak bisa. Ini adalah salah satu nikmat yang sering dilupakan. Karena kebanyakan kita fokus pada kekurangannya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.
    Download mp3 Kajian

    35 min
  • Ilmu Adalah Jalan Untuk Meraih Ketinggian
    Ilmu Adalah Jalan Untuk Meraih Ketinggian adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 17 Rabi’ul Awwal 1444 H / 13 Oktober 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Adalah Jalan Keberkahan
    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Adalah Jalan Untuk Meraih Ketinggian
    Disebutkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar, dari Abdullah bin Dawud Rahimahumullahu Ta’ala, beliau berkata: “Ketika nanti pada hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjauhkan para ulama dari hisab (perhitungan amal), dan Allah berfirman kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga dengan amal apapun yang pernah kalian lakukan. Karena sesungguhnya Aku tidak menganugerahkan ilmu kepada kalian kecuali untuk kebaikan yang Aku kehendaki agar dilimpahkan kepada kalian.'”
    Nukilan dari Imam Ibnu Abdil Bar ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan ilmu.
    Kalau ada yang bertanya tentang bagaimana kaidah-kaidah syariah yang menyebutkan bahwa orang jahil itu justru lebih dimaafkan dibandingkan orang-orang yang berilmu, orang-orang yang tidak tahu justru lebih diampuni dibandingkan orang-orang yang berilmu? Karena argumentasi Allah terhadap orang yang berilmu tentu lebih tegak dibandingkan orang yang tidak tahu. Pengetahuan orang yang berilmu tentang buruknya perbuatan maksiat, kebencian dan hukuman Allah bagi pelakunya tentu lebih besar dibandingkan orang yang tidak tahu. Kemudian nikmat yang Allah berikan kepada orang yang berilmu tentu lebih besar dibandingkan nikmat yang Allah berikan kepada orang yang jahil. Semua pertimbangan ini harusnya orang berilmu yang harusnya dihukum.
    Dalil-dalil menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan nikmat berupa dikhususkan dengan keutamaan dan kemuliaan kemudian dia menjerumuskan dirinya dengan mengikuti syahwatnya, memasukkan dirinya ke dalam tempat-tempat kebinasaan, dia lancang melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan dia meremehkan keburukan tersebut, dia akan mendapatkan balasan, siksaan dan celaan yang tentu itu berbeda dengan celaan yang didapati oleh orang yang tidak seperti nikmat yang didapatkannya. Ini juga alasan mereka bahwa harusnya orang yang berilmu justru mendapatkan siksa yang lebih keras. Tapi kenapa justru dijauhkan dari perhitungan amal?
    Berdasarkan inilah kenapa dalam Al-Qur’an disebutkan tentang istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tentu mereka mendapatkan nikmat dan ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَن يَأْتِ مِنكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا ‎
    “Wahai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antara kalian yang melakukan perbuatan keji yang nyata, maka akan dilipat gandakan baginya adzab dengan dua kali lipat dibandingkan perempuan yang lain. Dan itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab[33]: 30)
    Oleh karena itu batasan hukuman yang diberlakukan bagi seorang yang merdeka (bukan budak) itu dua kali lipat dibandingkan batasan hukuman yang diberlakukan bagi seorang budak, baik itu dalam dosa zina, menuduh orang tanpa alasan yang benar, atau minum khamr. Hal ini karena seorang yang merdeka tentu mendapatkan le
     
    bih banyak nikmat dibandingkan budak.
    Salah seorang ulama salaf berkata:
    يُغفَرُ لِلجاهِلِ سَبعونَ ذَنباً قَبلَ أن يُغفَرَ لِلعالِمِ ذَنبٌ
    52 min
  • Malaikat Pingsan Mendengar Firman Allah
    Malaikat Pingsan Mendengar Firman Allah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 16 Rabi’ul Awwal 1444 H / 12 Oktober 2022 M.

    Kajian Tentang Malaikat Pingsan Mendengar Firman Allah
    Dari Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu ‘Anhum, beliau menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila Allah hendak mewahyukan perintahNya, maka dia firmankan wahyu itu, dan langit-langit bergetar dengan keras karena takut kepada Allah. Lalu apabila para malaikat penghuni langit mendengar firman tersebut, pingsanlah mereka dan bersimpuh sujud kepada Allah Ta’ala. Maka malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, dan ketika itu Allah firmankan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari wahyuNya, kemudian Jibril melewati para malaikat. Setiap dia melalui satu langit, ditanya oleh malaikat penghuninya: ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kita wahai Jibril?’. Jibril menjawab: ‘Dia firmankan yang benar,’ dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan seluruh malaikat pun mengucapkan seperti yang diucapkan Jibril itu. Demikianlah, sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah Ta’ala kepadanya.”
    Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir Rahimahullah di dalam kitab tafsirnya.
    Di dalam hadits disebutkan: “Jika Allah menginginkan untuk memberikan wahyu… sampai terakhir di dalam hadits.”
    Di dalam hadits ini terdapat penegasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara dengan wahyu. Ini adalah dalil kuat yang dimiliki oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang membantah pendapat orang-orang yang meniadakan sifat kalam bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana perkataan para Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa Allah terus berbicara sesuai dengan kehendakNya.
    Di dalam hadits disebutkan: “Langit-langit bergetar.”
    Ini adalah dalil yang tegas bahwa langit mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah Rahimahullahu Ta’ala bahwa Allah mempunyai sifat berbicara, dan pembicaraan Allah didengar. Ikrimah berkata: “Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sebuah perkara, Allah berbicara, maka langit, bumi, dan gunung-gunung bergetar, dan para malaikat seluruhnya tertunduk sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
    Di dalam hadits disebutkan: “Para malaikat pingsan karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
    Di sini terlihat jelas bahwa langit-langit takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menjadikan pada langit-langit tersebut ada rasa dan mengenal siapa yang telah menciptakannya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa makhluk-makhluk yang besar-besar ini seluruhnya bertasbih memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Isra:
    تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
    “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra'[17]: 44)
    Allah juga berfirman:
    تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ ...
    1 hr 8 min
  • Ayat Kursi – Surah Al-Baqarah 255
    Ayat Kursi – Surah Al-Baqarah 255 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 15 Rabi’ul Awwal 1444 H / 11 Oktober 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Keutamaan Berinfak – Surah Al-Baqarah 254
    Ayat Kursi – Surah Al-Baqarah 255
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
    “Allah, yang tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha berdiri sendiri, Allah tidak ditimpa ngantuk tidak pula tidur. Milik Allah lah semua yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang bisa memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izinNya? Allah mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak bisa meliputi sedikitpun dari ilmu Allah kecuali dengan apa yang Allah kehendaki. Dan Kursi Allah meluasi langit dan bumi. Dan tidak membuat Allah lelah untuk menjaga keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)
    Dari ayat ini kita ambil faedah:
    Penetapan 5 nama Allah
    Dalam satu ayat Allah menyebutkan lima nama sekaligus, dimana ini merupakan nama-nama yang agung. Lima nama itu yaitu:

    * Allah. Ini merupakan nama yang paling agung, yang berasal dari kata Al-Ilah.
    * Al-Hayy (Yang Maha Hidup). Dan tentunya hidupnya Allah berkonsekuensi kepada seluruh sifat.
    * Al-Qayyum (Yang bersendirian dalam mengurus makhlukNya). Artinya Allah tidak membutuhkan bantuan siapapun.
    * Al-‘Aliy (Yang Maha Tinggi), baik tinggi Dzatnya ataupun tinggi kedudukannya.
    * Al-Adzim (Yang Maha Besar/Agung). Dimana Allah yang paling besar dari segala-galanya.

    Ini lima nama yang Allah sebutkan di dalam Ayat Kursi ini.
    Penetapan Allah bersendirian dalam uluhiyah
    Uluhiyah yaitu yang disembah/diibadahi, yang mempunyai makna bahwa semua ibadah hanya untuk Allah; berupa doa, tawakal, istighatsah, isti’anah, semua ibadah hanya untuk Allah. Itu ditunjukkan oleh firmanNya: “Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia saja.”
    Membatalkan tata cara kaum Musyrikin
    Ayat ini membatalkan tata cara kaum Musyrikin yang mempersekutukan Allah dan menjadikan bersama Allah tuhan-tuhan yang lain yang disembah. Padahal orang-orang Musyrikin meyakini bahwa yang menciptakan langit dan bumi Allah, yang memberikan rezeki Allah, yang memberikan manfaat dan mudharat hanya Allah, yang mengatur alam semesta hanya Allah. Tapi keyakinan mereka ini tidak ada manfaatnya ketika mereka memalingkan ibadah kepada selain Allah. Dimana mereka berdoa kepada Latta dan Uzza. Dan lucunya lagi orang-orang Musyrikin mengatakan:
    … مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ…
    “Kami tidak beribadah kepada Latta ‘Uzza, kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.” (QS. Az-Zumar[39]: 3)
    Jadi kalau mereka ditanya apakah Latta yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab tidak, yang menciptakan langit dan bumi itu Allah. Tapi kemudian mereka berdoa kepada Latta ‘Uzza.
    Menurut mereka selama yakin Allah yang menciptakan langit dan bumi it...
    45 min
  • Menjadi Teladan Terdepan
    Menjadi Teladan Terdepan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 15 Rabi’ul Awwal 1444 H / 11 Oktober 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Bimbingan Yang Menyenangkan
    Menjadi Teladan Terdepan
    Kewajiban orang tua adalah membimbing, mengarahkan dan mendidik. Dan nasihat/petuah/peringatan itu harus sampaikan dengan cara yang menyenangkan. Artinya menyenangkan di sini adalah tidak membuat orang lari. Nabi mengatakan:
    يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا
    “Semua yang bisa dibuat mudah, jangan dipersulit. Berikan kabar gembira jangan membuat orang lari.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Bukan apa yang kita sampaikan buruk, tapi mungkin cara yang kita gunakan tidak baik. Sehingga mungkin orang menjadi lari. Jangan dibuat ribet, apalagi di dalam menyampaikan ilmu/bimbingan dan nasihat.
    Menjadi Teladan Terdepan
    Kita ambil contoh pelajaran matematika yang sulit bagi anak-anak. Tapi kalau kita beri contoh di dalam pengajarannya maka mereka akan mudah menyerap pelajaran tersebut, dan matematika yang sulit itu menjadi terlihat lebih mudah. Artinya di sini adalah bahwa keteladanan itu akan mempermudah bimbingan yang kita berikan kepada anak. Maka sampaikanlah bimbingan itu melalui keteladanan.
    Sebelumnya kita juga sudah sampaikan bahwa pendidikan itu sama dengan keteladanan. Dengan adanya keteladanan maka anak akan belajar hal-hal yang kita sampaikan dengan lisan. Dan dia akan lebih mudah mencernanya.
    Misalnya kita memberikan teladan kepadanya dengan sifat-sifat terpuji seperti kejujuran. Anak yang melihat kejujuran akan mudah menjadi orang yang jujur. Karena dia melihat langsung teladannya. Tapi sebaliknya, ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan ini akan menjadi racun dalam pendidikan.
    Seorang anak yang melihat ayahnya berdusta, tidak akan dapat mempelajari kejujuran dan tidak akan mengerti jujur. Sebagaimana seorang anak perempuan yang melihat ibunya yang suka membantah suami, maka jangan harap anak ini akan tumbuh menjadi anak yang mudah diberi nasihat. Ada pepatah kita “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Artinya semua akan tumbuh dengan apa yang dibiasakan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa seorang anak itu tumbuh dengan apa yang dibiasakan, diperlihatkan dan diteladankan oleh pendidiknya.
    Maka Allah mencela para pendidik yang perbuatannya tidak sejalan dengan ucapannya.
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ‎﴿٢﴾‏ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ‎﴿٣﴾
    “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu lakukan.” (QS. As-Saff[61]: 2-3)
    Allah juga berfirman mencela orang-orang Yahudi:
    أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
    “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan sedangkan kamu melupakan diri kamu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab. Apakah kamu tidak berpikir?” (QS. Al-Baqarah[2]: 44)
    Artinya berpikirlah, bahwa cara itu justru akan meruntuhkan apa yang kita bangun. Demikian pula jiwa manusia sangat membenci sikap ini. Maka aturan Islam dalam mendidik anak sangat menekankan keteladanan. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan NabiNya sebagai teladan.
    لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ…
    1 hr 3 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah