Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Kisah Ulama Su’
    Kisah Ulama Su’ adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin , 3 Jumadil Awwal 1444 H / 28 November 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Makar Yang Buruk Kembali Kepada Pembuatnya
    Kisah Ulama Su’
    Pada kajian kali ini dibahas tentang kisah tentang ulama su’ yang cenderung ke dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Ini Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di surah Al-A’raf dari ayat 175-177. Allah Ta’ala berfirman:
    وَاتلُ عَلَيهِم نَبَأَ الَّذي آتَيناهُ آياتِنا فَانسَلَخَ مِنها فَأَتبَعَهُ الشَّيطانُ فَكانَ مِنَ الغاوينَ
    “Bacakanlah (Wahai Muhammad) kepada mereka berita seorang yang Kami beri kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat tersebut. Lalu dia pun diikuti oleh setan, maka dia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-A’raf[7]: 175)
    وَلَو شِئنا لَرَفَعناهُ بِها وَلٰكِنَّهُ أَخلَدَ إِلَى الأَرضِ وَاتَّبَعَ هَواهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الكَلبِ إِن تَحمِل عَلَيهِ يَلهَث أَو تَترُكهُ يَلهَث ۚ ذٰلِكَ مَثَلُ القَومِ الَّذينَ كَذَّبوا بِآياتِنا ۚ فَاقصُصِ القَصَصَ لَعَلَّهُم يَتَفَكَّرونَ
    “Dan kalau Kami mau, niscaya Kami akan angkat (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, akan tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya. Yang demikian itu merupakan perumpamaan bagi kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka kisahkanlah kisah-kisah itu kepada mereka, mudah-mudahan mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf[7]: 176)
    سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ
    “Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka mendzalimi diri mereka sendiri.” (QS. Al-A’raf[7]: 177)
    Ayat-ayat yang mulia ini menjelaskan tentang ulama yang su’. Yaitu orang alim yang sudah Allah beri ilmu kemudian melepaskan diri dari ilmu. Dia alim dari satu sisi, tapi dari sisi yang lain dia jahil.
    Ulama ini cenderung kepada dunia. Ia menjual agamanya dengan dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Kedudukan dia awalnya tinggi, tapi karena melepaskan dirinya dari ilmu, maka derajatnya pun jatuh, bahkan derajatnya seperti anjing dan keledai.
    Disebutkan ada lima sifat ulama su’. Yaitu:

    * Apabila memerintahkan orang untuk berbuat baik, dia lupakan dirinya sendiri.
    * Perbuatannya menyelisihi ucapannya.
    * Tidaklah menginginkan melainkan dunia yang fana ini dan mencari ridha manusia, dia tidak mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    * Para penyeru yang mengajak manusia ke pintu-pintu neraka Jahannam.
    * Melepaskan dirinya dari ilmu dan mengikuti hawa nafsunya.

    Apa pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari kisah ulama su’ ini? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Kisah Ulama Su’
    Mari turut membagikan link download
    46 min
  • Keteladanan dan Doa
    Keteladanan dan Doa ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin , 3 Jumadil Awwal 1444 H / 28 November 2022 M.

    Kajian Tentang Keteladanan dan Doa
    Sudah tidak terhitung banyaknya orang tua yang mengeluh kepada kami, tentang betapa beratnya mendidik anak di zaman ini. Karena godaan, rintangan, halangan, ujian, itu sangat banyak. Mulai dari kecanduan gadget (apalagi saat pandemi dimana segala sesuatu serba online), pergaulan dan pertemanan yang susah dikontrol, dan banyak faktor-faktor lain yang membuat sebagian orang tua pusing tujuh keliling. Bahkan tidak sedikit di antara orang tua yang pasrah, menyerah dan berubah menjadi tidak peduli dengan perkembangan perilaku anaknya, dan membiarkan anaknya berkembang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
    Padahal, seorang mukmin itu seharusnya punya sifat dasar pantang menyerah, tidak mudah untuk putus asa. Hal ini karena dia yakin bahwa ujian yang Allah berikan itu tidak akan melebihi kemampuannya. Jadi ketika Allah memberikan ujian untuk kita di zaman ini berupa adanya gadget yang masuk hampir semua rumah, Allah mengetahui bahwa kita mampu untuk menghadapinya. Keyakinan inilah yang membuat seorang mukmin tetap optimis menghadapi ujian berat ini.
    Hal kedua yang membuat seorang mukmin itu pantang menyerah adalah dia yakin punya Allah Yang Maha Kuat, Allah Yang Maha Kuasa, Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Itulah yang kita miliki. Allah mampu, mau dan akan berkenan untuk menolong hamba-hambaNya yang beriman.
    Dua hal ini, (1) keyakinan bahwa ujian Allah tidak akan melebihi kemampuan, (2) keyakinan bahwa kita punya Allah yang akan berkenan membantu kita, keyakinan itulah yang membuat seorang mukmin punya karakter pantang menyerah.
    Seorang ulama besar Arab Saudi yang hidup di abad ini, Asy-Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan Rahimahullahu Ta’ala. Beliau pernah ditanya oleh salah satu putrinya yang telah menjadi ibu tetang cara mendidik anak di zaman ini. Jawaban dari beliau sederhana, yaitu: “Modal mendidik anak di zaman berat seperti ini adalah keteladanan dan doa.” Jawaban beliau ini adalah inti pendidikan anak yang ideal.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Keteladanan dan Doa
    Mari turut membagikan link download kajian “Menanamkan Kejujuran Pada Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    43 min
  • Setia dan Cinta Kepada Ahlul Bait
    Setia dan Cinta Kepada Ahlul Bait adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 23 Sya’ban 1443 H / 26 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Berpegang Teguh kepada Sunnah
    Setia dan Cinta Kepada Ahlul Bait
    Ahlus Sunnah senantiasa setia dan cinta kepada Ahlul Bait. Sesuai wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sabdanya:
    أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِيْ، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِيْ، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ.
    “Sesungguhnya aku mengingatkan kalian terhadap Ahlul Baitku (keluargaku), sesungguhnya aku mengingatkan kalian terhadap Ahlul Baitku (keluargaku), sesungguhnya aku mengingatkan kalian terhadap Ahlul Baitku (keluargaku).” (HR. Muslim dan yang lainnya)
    Lanjutan dari riwayat ini, Husain bertanya kepada Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘Anhu: “Wahai Zaid, siapakah sebenarnya Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukankah istri-istri beliau termasuk Ahlul Baitnya?” Zaid bin Arqam berkata: “Istri-istri beliau adalah Ahlul Baitnya. Tetapi Ahlul Bait yang dimaksud adalah orang yang diharamkan menerima sedekah sepeninggal beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
    Husain bertanya lagi: “Siapakah mereka?” Zaid bin Arqam menjawab: “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas.” Husai bertanya: “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima sedekah?” Jawab Zaid: “Iya.”
    Jadi, yang termasuk Ahlul Bait (keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) adalah isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa allam, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
    “Wahai para isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk (merendahkan suara) ketika berbicara sehingga berkeinginan (buruk)lah orang berpenyakit di dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 32-33)
    Karena mereka adalah Ummahaatul Mu’-miniin (ibu-ibu kaum Mukminin), serta meyakini bahwasanya mereka adalah isteri-isteri beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhirat nanti.
    Menit ke- Pertanyaan pada pekan yang lalu, hadits:
    يا أيُّها النَّاسُ ! إنِّي قد تركتُ فيكم ما إن أخذتم به لن تضِلُّوا ، كتابَ اللهِ وعترتي أهلَ بيتي.
    “Wahai manusia, aku tinggalkan kepada kalian selama kalian berpegang dengannya kalian tidak akan sesat, Kitabullah dan keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabrani. Imam At-Tirmidzi mengatakan hadits ini Hasan Gharib)
    Dikatakan oleh Imam Abu Hatim bahwa ada rawi yang munkar, yaitu Zaid bin Hasan.
    0 min
  • Ahlus Sunnah Memuliakan Para Sahabat
    Ahlus Sunnah Memuliakan Para Sahabat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 16 Sya’ban 1443 H / 19 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Berpegang Teguh kepada Sunnah
    Ahlus Sunnah Memuliakan Para Sahabat
    Pada kajian kali ini kita akan membahas tentang keutamaan para Sahabat Rahimahullahu ‘Anhum Ajma’in, satu generasi yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tampilkan di tengah-tengah manusia yang merupakan generasi yang terbaik. Tidak pernah ada sebelum zamannya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak akan pernah ada lagi.
    Menit ke- Termasuk dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu menjaga hati dan lisan mereka terhadap para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mereka menerima apa yang datang dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ tentang keutamaan-keutamaan dan kedudukan mereka. Ahlus Sunnah juga mengakui keutamaan seluruh Sahabat, karena mereka (para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum) adalah ummat yang paling tinggi akhlak dan perangainya. Meskipun demikian Ahlus Sunnah tidak melewati batas terhadap para Sahabat, dan mereka tidak mempunyai keyakinan tentang kema’shuman para Sahabat, bahkan mereka melaksanakan hak-hak para Sahabat dan mencintainya, karena mereka mempunyai hak yang besar atas seluruh ummat ini, kita dianjurkan untuk mendo’akan mereka.
    Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:
    وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
    “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdo’a: ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang lebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Rabb kami, sesungguhnya Engkau Mahapenyantun lagi Mahapenyayang.’” (QS. Al-Hasyr[59]: 10)
    Do’a ini adalah do’anya orang-orang yang mengikuti kaum Muhajirin dan Anshar dengan kebaikan, yang menunjukkan atas kesempurnaan cinta mereka kepada para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga sanjungan mereka terhadapnya. Sesungguhnya orang yang pertama kali masuk dalam do’a ini adalah para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum, merekalah yang terlebih dahulu beriman, dan mereka pula yang telah mewujudkan keimanan tersebut.
    Ayat tersebut menafikan (meniadakan) kedengkian (kebencian) dari semua segi. Hal ini menunjukkan tentang kesempurnaan cinta mereka kepada Sahabat.
    Ahlus Sunnah mencintai para Sahabat karena Allah dan RasulNya memerintahkan untuk mencintai mereka yang lebih dahulu beriman, dan mendapat kehormatan menemani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga karena mereka telah berbuat baik kepada seluruh ummat dan karena merekalah yang menyampaikan semua yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apa saja yang sampai kepada kaum Muslimin, apakah ilmu atau kebaikan, itu hanya dengan perantaraan mereka.
    Menit ke- Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang keras ummat Islam mencaci maki para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum, sebagaimana sabda beliau:
    لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ.
    1 min
  • Berpegang Teguh kepada Sunnah
    Berpegang Teguh kepada Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 25 Rajab 1443 H / 26 Februari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Berpegang Teguh kepada Sunnah
    Kita masih membahas poin ke-48, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara lahir dan batin.
    Pada pekan yang lalu kita membahas hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
    “Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku, keduanya tidak akan berpisah, sehingga keduanya datang kepadaku di Telaga (al-Haudh).” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
    Orang yang berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para Sahabat tidak akan sesat dan tidak akan celaka selama-lamanya. Hal ini dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    …فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
    “Dan apabila datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barangsiapa yang mengikut petunjukKu, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka selama-lamanya.” (QS. Tha Ha[20]: 123)
    Dari Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasihat dengan nasihat yang menjadikan air mata kami berlinang dan hati kami bergetar. Maka seorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasihat ini seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kepada kami wasiat!’
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
    ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Al-Hakim dan lainnya)
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download Mp3 Kajian

    R...
    1 hr 11 min
  • Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 18 Rajab 1443 H / 19 Februari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Menegakkan Syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Menit ke- Termasuk jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara lahir dan batin dan mengikuti jalannya orang-orang yang terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah[9]: 100)
    Ayat tersebut sebagai hujjah bahwa manhaj para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum adalah benar. Orang yang mengikuti mereka akan mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan disediakan bagi mereka Surga. Mengikuti manhaj mereka adalah wajib atas setiap Mukmin. Kalau mereka tidak mau mengikuti maka mereka akan mendapatkan hukuman dan tidak mendapatkan keridhaan Allah Azza wa Jalla. Hal ini harus diperhatikan.
    Menit ke- Mereka mendahulukan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dari semua perkataan manusia yang ada. Mendahulukan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari petunjuk semua orang. Maka yang demikian inilah, mereka disebut atau dikatakan Ahlul Qur’an dan Sunnah. Mereka juga dikatakan Ahlus Sunnah wal Jama’ah karena mengikuti Sunnah dan para Sahabat.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-Hujurat[49]: 1)
    Artinya di sini kita tidak boleh mendahului Allah dan RasulNya, baik dalam bentuk perkataan atau perbuatan. Kata Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata:
    لا تقولوا خلاف الكتاب والسنة
    “Jangan kalian berkata yang menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah.”
    Jadi, apa yang dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kita kerjakan, yang tidak dikerjakan jangan kita lakukan. Kalau kita ingin dicintai Allah dan RasulNya, maka ikuti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
    “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 31)
    1 hr 10 min
  • Khutbah Jumat Singkat Tentang Gempa
    Khutbah Jumat Singkat Tentang Gempa ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 1 Jumadil Awwal 1444 H / 25 November 2022 M.

    Khutbah Pertama: Khutbah Jumat Singkat Tentang Gempa
    Sesungguhnya musibah dan bencana, semua akibat daripada dosa-dosa manusia. Tidak ada satupun musibah yang terjadi kecuali semua itu akibat perbuatan-perbuatan kita. Allah berfirman:
    وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
    “Tidak ada satupun musibah yang menimpa kalian kecuali akibat daripada dosa-dosa kalian juga.” (QS. Asy-Syura[42]: 30)
    Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan dalam Al-Qur’an bagaimana Allah menimpakan adzabNya kepada kaum-kaum yang mereka mengingkari Allah, mereka mempersembahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana Allah timpakan kepada kaumnya Nabi Nuh, Allah timpakan kepada ‘Ad kaumnya Nabi Hud. Demikian pula kaum-kaum setelahnya, akibat mereka mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Maka saudaraku.. Ini sebagai sebuah peringatan kepada kita. Ketika kita merasakan kemarin bagaimana dahsyatnya gempa yang menimpa kita. Saudara-saudara kita di Cianjur sana sekarang sedang menderita, itu semuanya bukan karena Allah dzalim, dan Allah tidak pernah mendzalimi hambaNya. Allah berfirman:
    وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
    “Rabbmu tidak pernah mendzalimi siapapun.” (QS. Al-Kahfi[18]: 49)
    Akan tetapi kita yang dzalim, kita yang pastinya berbuat banyak dosa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka Allah peringatkan kita agar kembali kepada Allah, agar kita senantiasa mentauhidkan Allah, agar kita senantiasa sadar bahwa kita adalah hamba Allah yang lemah, yang fakir dan membutuhkan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Agar hilang kesombongan di hati-hati kita. Sehebat apapun kita, sekaya apapun kita, setinggi apapun derajat dan kedudukan kita, kita kecil di mata Allah ‘Azza wa Jalla.
    Subhanallah.. Dengan adanya bencana ini, saudaraku.. Ini merupakan peringatan untuk kita agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau kita tidak kembali dengan peringatan ini, lalu dengan apalagi kita akan kembali? Belum kah saatnya kita kembali kepada Allah?
    Jangan sampai kita seperti orang-orang ahli kitab sebelum kita. Panjang waktu kepada mereka, namun semakin keras hati mereka. Peringatan-peringatan Allah lagi mempan di hati mereka. Kita tidak ingin seperti itu.
    Subhanallah, saudaraku.. Gempa yang kemarin terjadi menjadikan hati-hati orang yang beriman takut kepada Allah. Dan itu mengingatkan bahwasanya betapa kerasnya adzab Allah apabila kita tidak mau menaatiNya, apabila kita tidak mau meninggalkan maksiat-maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Saudaraku.. Bagi mereka yang hatinya keras, mereka menganggap gempa itu hanyalah fenomena alam. Mereka tak pernah menghubungkan dengan Allah pencipta langit dan bumi. Seakan-akan bumi ini berguncang tanpa izin Allah. Mereka menganggap ini hanya fenomena alam. Tidak, demi Allah.. Sesungguhnya tidak mungkin terjadi gempa kecuali dengan perintah dan izin dari Allah ‘Azza wa Jalla. Semua atas perintah dan izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak mungkin yang ada di bumi dan di langit bisa melakukan sesuatu tanpa izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Namun tentunya, saudaraku.. Allah tidak pernah dzalim kepada orang-orang yang beriman. Musibah-musibah dan bencana-bencana yang menimpa itu bagi orang yang beriman dan beramal shalih itu adalah penghapus dosa-dosa mereka.
    13 min
  • Berpikir Untuk Memahami Ilmu
    Berpikir Untuk Memahami Ilmu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis , 29 Rabi’ul Akhir 1444 H / 24 November 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu adalah Jalan Untuk Meraih Kebahagiaan Dunia Akhirat
    Ceramah Agama Islam Tentang Berpikir Untuk Memahami Ilmu
    Salah satu di antara segi yang menunjukkan keutamaan dan kemuliaan ilmu adalah pernyataan dari sebagian ulama salaf yang menyebutkan bahwa berpikir untuk memahami ilmu -misalnya merenungkan tentang ayat-ayat Al-Qur’an, merenungkan tentang makna hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- ini keutamaan dan kemuliaannya sangat besar dibandingkan ibadah-ibadah yang lain.
    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala mengatakan sebuah pernyataan yang diriwayatkan dengan shahih dari sebagian ulama salaf yang mengatakan: “Merenungkan makna dan kandungan ilmu sesaat lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun.” Hal ini karena orang yang memahami/merenungkan makna ilmu akan membenarkan ibadahnya, sekaligus membenarkan syarat diterimanya ibadahnya. Yaitu membenarkan ikhlasnya, khusyuknya, bagaimana amalan-amalan hatinya, sehingga menjadikan ibadah itu lebih bernilai tinggi.
    Ada seorang yang pernah bertanya kepada Ummu Darda tentang sahabat Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu setelah beliau wafat tentang bagaimana ibadah Abu Darda. Maka Ummu Darda Radhiyallahu ‘Anha berkata: “Beliau menghabiskan waktu siangnya semua untuk menunaikan tafakkur (memahami Allah Subhanahu wa Ta’ala).” Abu Darda adalah seorang sahabat mulia yang mengetahui keutamaan memahami agama. Maka dia menggunakan waktu siangnya semua untuk menunaikan tafkakur.
    Imam Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    تَفَكُّر ساعة خير من قيام ليلة
    “Berpikir sesaat lebih baik daripada melaksanakan shalat semalam suntuk.”
    Karena “berpikir sesaat” itu berhubungan dengan ilmu. Sudah kita bahas kemarin yang semakna dengan ilmu tentang “Menunut ilmu itu lebih utama dibandingkan ibadah-ibadah yang sunnah.” Adapun ibadah-ibadah wajib merupakan amal yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita tahu sendiri pengamalan amal yang wajib tidak akan sempurna tanpa memikirkan ilmu tentang ibadah-ibadah tersebut untuk kemudian kita semakin mengamalkannya dengan benar, dengan dalil yang kuat, iman dan keikhlasan. Maka benar sekali pernyataan di sini yang menyatakan “Berpikir sesaat lebih baik daripada melaksanakan shalat semalam suntuk.”
    Imam Fudhail bin Iyyadh Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Tafakkur (berfikir) merupakan cermin yang memperlihatkan kepadamu kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukanmu.” Kadang-kadang kita melakukan tafakkur untuk merenungkan dosa-dosa dan introspeksi diri, ini sangat besar manfaatnya. Yaitu supaya bisa memperbaiki diri, mengatasi kekurangan kekurangan kita dan memperbanyak kebaikan-kebaikan kita. Karena dengan kita menimbang-nimbang diri, kita mengetahui kekurangan-kekurangan untuk segera kita memperbaikinya.
    Sahabat ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah berkata:
    حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
    45 min
  • Melakukan Pendekatan Kepada Anak
    Melakukan Pendekatan Kepada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 27 Rabi’ul Akhir 1444 H / 22 November 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Hadiah Yang Terbaik Untuk Anak
    Melakukan Pendekatan Kepada Anak
    Setiap orang tua pasti mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin membentuk kepribadian yang baik pada anak dan menghilangkan perilaku buruknya. Untuk itu orang tua melakukan pendekatan-pendekatan kepada anaknya. Dalam mewujudkan tujuan ini, para orang tua memiliki cara yang berbeda-beda.
    Ada yang menempuh jalan dengan memberikan pendekatan negatif. Maksudnya adalah orang tua cenderung memiliki perhatian negatif pada anak. Orang tua memfokuskan perhatiannya pada kesalahan-kesalahan anaknya, dan dia langsung memberikan nasihat dan teguran agar anak tidak mengulangi kesalahannya.
    Orang tua seperti ini mungkin lebih cenderung mencari-cari kesalahan dan kekurangan yang dimiliki oleh anak. Selanjutnya terus-menerus berkonsentrasi mencari upaya merubah perilaku buruk tersebut agar bisa berubah menjadi baik. Sebaliknya, perbuatan baik yang dilakukan oleh anak dibiarkan begitu saja, tidak diperhatikan, tidak diberikan perhatian positif, tidak dipuji, apalagi diberi hadiah. Dengan anggapan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang sudah semestinya dilakukan oleh seorang anak dan sudah semestinya seorang anak berperilaku baik.
    Sementara orang tua yang lainnya memilih pendekatan lain. Yaitu orang tua cenderung melihat sisi positif pada anaknya. Ia lebih memfokuskan perhatian kepada kebaikan-kebaikan yang dimiliki anak tersebut. Sekecil apapun itu orang tua berusaha menangkap basah kebaikan anak sebanyak mungkin. Ia mencari dan terus mencari kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh si anak, ia mencatatnya dengan baik, mengingat-ingatnya dan terus-menerus memberikan perhatian positif terhadap perilaku baik ini. Dengan cara ini orang tua memiliki banyak kesempatan untuk membicarakan kelebihan-kelebihan tersebut di hadapan si anak. Sehingga anak memahami dan bangga akan kelebihan yang ia miliki, sehingga tumbuh citra positif dalam dirinya, dan selanjutnya akan menumbuhkan rasa percaya diri.
    Jadi, memfokuskan perhatian pada kelebihan yang dimiliki anak bukan berarti melupakan dan membiarkan kekurangan-kekurangannya. Sisi negatif yang ada pada anak tetap harus dipantau dan dicatat rapi oleh orang tua, akan tetapi itu tidak untuk dibicarakan terus-menerus sehingga tidak ada pembicaraan dengan anak kecuali hal tersebut. Tanpa disadari, orang tua seperti ini tertutup dari pandangan mereka sisi lebih yang dimiliki oleh anak. Karena kalau kita cari sisi buruk manusia maka tidak ada habis-habisnya. Itu akan terus ada dan muncul dalam pandangan kita. Tanpa kita sadari, segala perhatian kita hanya tertuju pada hal-hal negatif itu saja.
    Kalau kita menyoroti kekurangan manusia (apalagi anak-anak yang identik dengan salah), pasti banyak sekali kekurangan-kekurangannya. Maklumlah anak-anak. Itu adalah suatu yang wajar pada seorang anak. Kalau kita terus menyoroti sisi ini, maka tidak ada habisnya. Mungkin tiap hari kita membicarakan itu saja. Maka akhirnya si anak pun merasa dia bukanlah orang yang baik. Sehingga mungkin dia akan putus asa jadi orang baik. Karena dia lihat sepertinya dirinya tidak ada sisi baiknya. Ini akan muncul di dalam pikirannya. Akan muncul rasa minder, kurang percaya diri, dan dia akan putus asa. Hal ini berbahaya bagi siapapun (apalagi anak).
    Maka harus kita perhatikan bagaimana melakukan pendekatan kepada anak.
    47 min
  • Keutamaan Budak Yang Menunaikan Kewajiban
    Keutamaan Budak Yang Menunaikan Kewajiban adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 27 Rabi’ul Akhir 1444 H / 22 November 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Mati Syahid Namun Bukan dalam Peperangan
    Keutamaan Budak Yang Menunaikan Kewajiban
    Sebagaimana sudah dijelaskan bahwa dahulu ada perbudakan yang mana perbudakan itu adalah warisan dari zaman sebelum datangnya Islam. Maka Islam ketika datang mengatur tentang perbudakan itu. Hal ini supaya para budak tidak teraniaya dan terdzalimi. Sehingga Islam mengatur hak-hak budak.
    Budak mempunyai dua kewajiban. Yang pertama yaitu kewajiban sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga dia memiliki kewajiban untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian yang kedua bahwa dia adalah milik tuannya. Maka dia juga mempunyai kewajiban kepada tuannya.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam -dalam hadits-hadits yang kita baca- menjelaskan tentang keutamaan budak yang mengerjakan dua kewajibannya tersebut. Dia mengerjakan kewajibannya kepada Allah sebagai hamba Allah, dan dia mengerjakan kewajiban kepada tuannya sebagai bentuk loyalitasnya kepada tuannya.
    Adapun hadits yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala dalam bab ini:
    عَن ابن عُمَرَ ، رضي اللَّه عَنْهُما ، أَنَّ رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : إنَّ العَبْد إذا نَصحَ لِسيِّدِهِ ، وَأَحْسَنَ عِبادةَ اللَّهِ ، فَلَهُ أَجْرُهُ مرَّتيْنِ » متفقٌ عليه .
    Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang budak apabila menasihati bagi tuannya, memperbaiki ibadahnya kepada Allah, maka baginya pahala dua kali lipat.” (Muttafaq ‘alaih)
    Yang dimaksud dengan “keikhlasan seorang budak kepada tuannya” yaitu dengan dia melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kewajiban baginya dalam berkhidmah kepada tuannya, tatkala tuannya memerintahkan kepada kebaikan dan juga ketika dia menjaga/memelihara harta tuannya. Karena salah satu tugas budak adalah menjaga/memelihara harta benda tuannya.
    Maka dari itu hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan budak yang demikian keadaannya. Dia taat, baik, melaksanakan kewajiban kepada Allah dan kewajiban kepada tuannya.
    Kemudian hadits ini juga menjelaskan tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya, Maka Pengasih dan Penyayang. Dia memberikan hamba-hambaNya yang beriman dan berbuat baik. Allah memberikan pahala sesuai yang Allah kehendaki. Contohnya dalam hadits ini, Allah memberikan dua pahala/ganjaran bagi seorang hamba yang taat dan mengerjakan ibadah kepada Allah Ta’ala dan seorang hamba yang taat kepada tuannya.
    Hadits berikutnya:
    وعَنْ أبي هُريرَةَ ، رضي اللَّه عنهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « للعبدِ الممْلُوكِ المُصْلحِ أَجْرَانِ » ، والَّذِي نَفسُ أبي هُرَيرَة بيَدِهِ لَوْلا الجهَادُ في سَبِيلِ اللَّهِ ، والحَجُّ، وبِرُّ أُمِّي ، لأحْببتُ أنْ أمُوتَ وأنَا ممْلوكٌ . متفقٌ عليهِ .
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Seorang budak yang selalu menjaga kewajiban-kewajiban kepada tuannya, maka dia memiliki dua pahala.’ Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah berada di tanganNya, seandainya bukan karena berjihad di jalan Allah, haji dan berbakti kepada ibuku,
    1 hr 30 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah