Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Jadilah Ayah Bunda Yang Selalu Dirindukan
    Jadilah Ayah Bunda Yang Selalu Dirindukan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 17 Muharram 1444 H / 16 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Tidak Ada Kesempurnaan di Dunia
    Jadilah Ayah Bunda Yang Selalu Dirindukan
    Sebelumnya kita telah bahas bahwa kadang-kadang kenyataan yang kita terima berbeda dari apa yang kita harapkan. Kita mungkin merasa sesak dengan kekurangan pada anak kita bandingkan dengan anak-anak yang lainnya. Terkadang ini mendorong orang tua untuk marah karena kekecewaan dari apa yang dia dapatkan dari anaknya. Tapi ingatlah disana banyak orang yang anaknya lebih parah daripada anak kita, lebih susah untuk dididik dan diarahkan.
    Bersyukurlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Ingat bahwa musibah apapun bisa saja menimpa, dan dunia jauh dari sempurna. Maka didalam bab dunia kita lihat orang yang di bawah, jangan lihat orang yang ada di atas.
    Rezeki manusia tidak sama, demikian juga tantangan dalam mendidik anak juga tidak sama. Anak telah membawa rezeki yang Allah tuliskan baginya. Dan rezeki manusia tentunya berbeda-beda. Maka jangan mengeluh dengan kekurangan-kekurangan yang ada pada anak. Kita bersyukur karena masih diberi anak keturunan. Disana banyak pasangan-pasangan yang sangat menginginkan anak keturunan tapi belum dianugerahi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Maka kita mendapat amanah yang agung itu embanlah dengan sebaik-baiknya, jangan suka mengeluh. Lakukanlah tugas dan tanggungjawab kita itu dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Kita berharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dari semua jerih payah yang sudah kita lakukan untuk mendidik.
    Memang mendidik itu tidak semudah yang diucapkan dan dibayangkan. Namun bersabarlah, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesuksesan setelah kesabaran.
    Itu poin yang kita bahas sebelumnya, supaya kita bisa lebih menerima ketetapan takdir yang Allah tuliskan. Kemudian berusahalah, mudah-mudahan Allah mudahkan kita kepada apa yang kita harapkan.
    Jadilah Ayah Bunda Yang Selalu Dirindukan
    Jadilah ayah bunda yang selalu dirindukan, jangan suka marah-marah. Karena anak tidak memerlukan marah kita. Dan mereka tidak mengharapkan kemarahan kita. Sangat buruk apabila anak justru berharap marah orang tuanya. Maka jadilah orang tua yang selalu dirindukan.
    Setiap anak sangat mendambakan ayah dan bunda yang memiliki sifat lemah-lembut lagi penyayang. Lemah-lembut dan penyayang adalah sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manusia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan dan siapa saja suka diperlakukan dengan lemah-lembut.
    Maka dari itu ketika Nabi perintahkan kepada para pemuda untuk mencari calon pendamping hidup, salah satu sifat yang disebutkan Nabi adalah al-wadud, yaitu seorang wanita yang lemah-lembut dan penyayang. Ini merupakan salah satu sifat yang dimiliki oleh wanita-wanita Quraisy.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ
    “Nikahilah wanita yang memiliki sifat penyayang.” (HR. Bukhari)
    Bukan berarti ayah tidak perlu memiliki sifat itu, tapi Nabi mengkhususkan ini untuk ibu karena ibu banyak berinteraksi dengan anak. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menekankan agar mencari calon ibu bagi anak-anak kita yang memiliki sifat penyayang. Sehingga dia menjadi ibu yang selalu dekat dan dirindukan oleh anak-anaknya.
    Lihat juga:
    43 min
  • Generasi Pertama Kaum Sufi
    Generasi Pertama Kaum Sufi ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 17 Muharram 1444 H / 15 Agustus 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Generasi Pertama Kaum Sufi
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa generasi pertama kaum sufi mengakui berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Setan hanya dapat mengelabui mereka melalui celah keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh para penganut paham ini. Iblis merusak kaum sufi dari pintu jauhnya mereka dari ilmu.
    Abu Sulaiman Ad-Dariny mengatakan: “Sesekali terlintas di dalam hatiku satu noktah dari sekian banyak noktah, namun aku tidak mau menerima lintasan itu tanpa merujuk dua saksi yang adil, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Ini generasi pertama dari kaum sufi yang mereka juga mengakui bahwa rujukan adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau masih menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan, walaupun bisikan-bisikan untuk mengucapkan sesuatu seperti yang diucapkan dan dilakukan kaum sufi itu ada dalam hatinya.
    Imam Syafi’i berkata bahwa jika ada orang yang melayang di udara dan berjalan di atas air, maka jangan percaya dia adalah wali Allah sebelum kamu cocokkan keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, apakah dia orang yang berjualan di atas Qur’an dan Sunnah? Itu yang menjadi acuan dan standarisasi di kalangan para ulama, yaitu apakah itu berada di atas Qur’an dan Sunnah atau tidak. Kalau tidak maka beliau menolaknya dan tidak mengikutinya.
    Diriwayatkan juga dari Abdul Hamid Al-Hubuli, dia mengatakan: “Aku mendengar Sarri berkata: ‘Siapa yang meyakini ilmu batin (hakikat) dengan menyalahi dzahir (syariat) maka dia telah keliru.'”
    Maka hukum dzahir (syariat) adalah landasan atau hukum dasar, yang mana apa yang terbangun di atasnya tidak boleh bertentangan dengannya. Makrifat harus berdasarkan syariat. Demikian juga yang mengungkap hakikat sesuatu, maka juga harus berlandaskan syariat.
    Diriwayatkan juga dari Al-Junaid, dia mengatakan: “Madzhab kami terikat dengan dua asas: Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
    Jadi kaum sufi generasi pertama mengambil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai asas, mereka berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak seperti generasi akhir dari kaum sufi ini yang justru bergelimbang di dalam bid’ah dan meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
    Hal ini sebabnya adalah ketika mereka mulai menjauh dari ilmu. Sehingga makin lama generasi-generasi yang datang kemudian dari kalangan kaum sufi ini pun menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahkan ada yang terang-terangan memusuhi Al-Qur’an dan Sunnah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya. Sementara di generasi awal mereka justru mengajak manusia untuk berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tentu ini adalah perkara yang sangat bertentangan.
    Al-Junaid juga berkata: “Ilmu kami bergantung pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Siapa yang tidak hafal Al-Qur’an, tidak menulis hadits dan tidak mendalami agama, ketahuilah bahwa dia tidak boleh diikuti.” Ini perkataan Al-Junaid salah seorang tokoh kaum sufi juga yang menjadi rujukan dan perkataannya menjadi sandaran bagi kaum sufi. Tapi apa yang terjadi? Justru tiga hal ini dilanggar oleh kaum sufi. Mereka berpaling dari Al-Qur’an dan lebih nyaman dengan syair-syair, mereka tidak meriwayatkan hadits bahkan mengingkari hadits, dan mereka tidak mendalami agama. Kaum sufi yang datang belakangan beranggapan bahwa menuntut ilmu itu adalah penghalang terbesar...
    28 min
  • Mengajarkan Iman Sebelum Al-Qur’an
    Mengajarkan Iman Sebelum Al-Qur’an ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 17 Muharram 1444 H / 15 Agustus 2022 M.

    Kajian Tentang Mengajarkan Iman Sebelum Al-Qur’an
    Apa maksud mengajarkan iman sebelum Al-Qur’an? Bukankah iman diambil dari Al-Qur’an? Bukankah Al-Qur’an itu mengandung pelajaran keimanan? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu bahwa mendidik anak membutuhkan tahapan. Karena shalih dan shalihahnya anak itu bukan sesuatu yang instan. Mendidik itu tidak mendadak.
    Tahapan-tahapan mendidik anak itu ada yang benar dan ada yang tidak benar. Tahapan yang benar adalah tahapan yang dipraktikkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam manakala beliau mendidik para sahabatnya. Tahapan yang sudah dipraktikkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itulah yang benar dan terbaik. Karena tahapan itu berlandaskan wahyu. Berarti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjalankan itu dengan bimbingan dan arahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka pasti itulah yang terbaik dan sudah terbukti keberhasilannya dalam mencetak generasi sahabat yang hebat.
    Maka dari itu sebenarnya aneh ketika ada muslim yang lebih suka menggunakan metode dari non muslim. Dimana metode dari negara barat itu tidak berdasarkan wahyu dan belum terbukti menghasilkan generasi hebat.
    Inilah metode terbaik dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sumbernya wahyu, sudah terbukti sukses, kok malah ditinggalkan? Tentu ini aneh.
    Seperti apa tahapan yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Jundub bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu memaparkan tahapan tersebut,
    «كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌وَنَحْنُ ‌فِتْيَانٌ ‌حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»
    “Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar Al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat.” (HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy)
    Yang dimaksud belajar iman adalah belajar nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an, itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca Al-Qur’an. Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca Al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.
    Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma menuturkan,
    «‌لَقَدْ ‌عِشْنَا ‌بُرْهَةً ‌مِنْ ‌دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»
    “Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur’an. Saat diturunkan surah Al-Qur’an kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca Al-Qur...
    49 min
  • Syirik Asghar Dalam Ucapan
    Syirik Asghar Dalam Ucapan adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang  disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. langsung dari Masjid Al-Barkah, Cileungsi. Pada Sabtu, 15 Muharram 1444 H / 13 Agustus 2022 M.

    Lihat kumpulan mp3 kajian menguak misteri kesyirikan.
    Kajian Tentang Syirik Asghar Dalam Ucapan
    Di antara syirik asghar yang berkaitan dengan ibadah-ibadah ucapan adalah:

    * الحلف بغير الله (bersumpah dengan nama selain Allah),
    * التشريك بين الله تعالى وبين أحد من خلقه (بالواو ) (Mensejajarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan seorang dari makhluknya dengan kata “dan”)
    * meminta hujan dengan nau’ (semacam bintang).

    Bersumpah dengan Nama Selain Allah
    Menit ke- Imam An-Nawawi Rahimahullah menyebutkan bahwa sumpah adalah menekankan sesuatu yang ia ucapkan dengan menyebut nama atau sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diawali dengan huruf-huruf sumpah seperti والله, atau بالله, atau تالله.
    Kebiasaan orang Arab jahiliyyah adalah bersumpah dengan nama-nama orang tua dan nenek moyang mereka. Juga dengan apa saja yang mereka agungkan dari berhala-berhala yang mereka ibadahi dimasa jahiliyah. Berarti apabila seseorang bersumpah maka sebenarnya dia sedang mengagungkan apa yang dia sebutkan dalam sumpahnya. Ketika dia mengucapkan wallahi atau billahi atau tallahi, maka sebenarnya dia sedang mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Oleh sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan di dalam Al-Qur’an  untuk bersumpah dengan nama Allah. Allah berfirman:
    …فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ …
    “Maka mereka berdua bersumpah dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala” (QS. Al-Ma’idah[5]: 106)
    Diharamkan untuk bersumpah dengan nama selain Allah karena hakikat dari pengagungan hanya khusus milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu apabila ada orang bersumpah dengan nama selain Allah, berarti dia menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara pengagungan. Sehingga tidak boleh seseorang bersumpah dengan nama selain Allah, baik itu Nabi atau wali atau itu ka’bah dan semisalnya.
    Maka siapa yang bersumpah dengan nama selain Allah, dia terperosok ke dalam dosa dari dosa besar dan dia melakukan perbuatan syirik.
    Mensejajarkan Allah dengan salah seorang dari makhlukNya dengan ucapan “dan”
    Menit ke- Ini termasuk daripada syirik asghar jika hanya dalam ucapan. Tapi apabila di dalam hati/keyakinan maka syirik akbar.
    Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau bercerita: “Ada seorang lelaki berkata kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Demi Allah dan demi engkau.’ Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam langsung mengatakan: ‘Apakah engkau ingin menjadikan aku sekutu bagi Allah? Tidak, tetapi semuanya sekehendak Allah semata.'” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
    Ini semua dilakukan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memutuskan setiap sarana yang menghantarkan kepada kesyirikan. Meskipun jauh sarana tersebut bisa menghantarkan kepada kesyirikan, maka tetap terlarang.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya?
    Simak dan Download mp3 Kajian Tentang Syirik Asghar Dalam Ucapan

    Radio Rodja 756AM · Syirik Asghar Dalam Ucapan
    51 min
  • Khutbah Jumat: Orang Yang Berbahagia
    Khutbah Jumat: Orang Yang Berbahagia ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 14 Muharram 1444 H / 12 Agustus 2022 M.

    Khutbah Pertama Khutbah Jumat: Orang Yang Berbahagia
    Sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki adalah ketika seseorang dijauhkan dari fitnah. Karena sesungguhnya fitnah yang bisa menghancurkan agama itu adalah merupakan hakikat musibah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنَّ السعيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَنَ ، إنَّ السعيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَنَ ، إنَّ السعيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَنَ ، ولَمَن ابتُلِيَ فصَبَر ؛ فَوَاهًا .
    “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, dan bagi orang yang diberikan ujian lalu ia bersabar, sungguh mengagumkan orang seperti ini.” (HR. Abu Dawud)
    Saudaraku sekalian..
    Sesungguhnya hidup di dunia penuh dengan ujian. Kita hidup di dunia dibekali oleh syahwat dan hawa nafsu, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada kita hidayah, Allah mengutus para Nabi dan Rasul, Allah turunkan kitab suci sebagai hidayah dan bimbingan untuk kita. Maka siapapun di antara kita yang ingin hidupnya bahagia di dunia dan akhirat, hendaklah ia ikuti bimbingan-bimbingan tersebut.
    Fitnah-fitnah dunia ini, saudaraku seiman.. Ini membuat kita buta hati, sehingga banyak di antara orang yang terfitnah oleh dunia. Mereka gelap mata, tidak peduli halal dan haram, tidak peduli apakah Allah ridha kepadanya atau tidak.
    Fitnah dunia menjadikan seseorang memiliki penyakit-penyakit di dalam hatinya berupa kesombongan, kedengkian dan yang lainnya. Bahkan fitnah dunia menjadikan seseorang tidak beriman kepada kehidupan akhirat. Seakan-akan ia akan hidup di dunia selama-lamanya, seakan-akan ia di dunia kekal. Padahal ia hanya sementara di dunia. Namun fitnah dunia itu sangat gemerlap membuat hati kita tertipu, saudaraku.
    Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an mengingatkan dalam ayat-ayat yang banyak. Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
    “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia menipu kalian dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fatir[35]: 5)
    Ketika seorang hamba sadar bahwa ia hidup di dunia untuk sementara, dan ia sadar bahwa dirinya hamba Allah yang akan kembali kepada Allah, hamba yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah, dia sadar bahwa akan meninggal dunia, maka ia akan berusaha untuk menjauhi berbagai macam fitnah yang bisa menghalangi perjalanannya menuju Allah ‘Azza wa Jalla.
    Kita lihat di zaman ini betapa banyaknya fitnah-fitnah tersebut. Fitnah yang ada di HP kita, fitnah yang ada di sekitar kita yang membuat lalai dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, yang membuat kita lebih asyik dengan syahwat, dengan tontonan-tontonan yang tidak bermanfaat, yang menyebabkan kita akhirnyanya lalai untuk mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga kita termasuk orang-orang yang terkena ghaflah (kelalaian) yang akhirnya setan pun mudah untuk menggoda kita. Karena memang demikian nasib orang-orang yang berpaling dari dzikir kepada Allah. Allah berfirman:
    وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
    “Siapa yang berpaling dari mengingat Ar-Rahman, maka Kami akan jadikan untuk dia setan yang akan menjadi temannya.
    14 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 60 -Kebenaran dari Allah
    Tafsir Ali Imran Ayat 60 -Kebenaran dari Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 13 Muharram 1444 H / 11 Agustus 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 60 -Kebenaran dari Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
    “Al-haq itu dari Rabbmu, maka jangan sekali-kali engkau termasuk menjadi orang yang ragu.” (QS. Ali Imran[3]: 60)
    Kebenaran dari Allah
    Allah Ta’ala tidaklah muncul dariNya melainkan kebenaran. Maksudnya bahwa kebenaran itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kebenaran.
    Keutamaan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Ayat yang mulia ini menunjukkan tentang keutamaan dari Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena penyandaran rububiyah kepada beliau, yaitu firman Allah “Rabbmu”. Rububiyah di sini adalah rububiyah yang bermakna khusus.
    Larangan Ragu Terhadap Al-Qur’an
    Larangan ragu dari apa yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh ragu dari firman Allah, tidak boleh ragu dari Al-Qur’anul Karim, tidak boleh ragu dari hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shahih. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.”
    Download MP3 Kajian Tafsir Ali Imran Ayat 59 – Perumpamaan Penciptaan Nabi Isa

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 60 – Kebenaran dari Allah
    Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Ali Imran Ayat 60 -Kebenaran dari Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    23 min
  • Pelajaran Bagi Yang Memiliki Hati
    Pelajaran Bagi Yang Memiliki Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 13 Muharram 1444 H / 11 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Merendahkan Diri Ketika Menuntut Ilmu
    Ceramah Agama Islam Tentang Pelajaran Bagi Yang Memiliki Hati
    Kita masih pada pembahasan tentang keutamaan bertanya dan mendengarkan ilmu. Di sini Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala membawakan ayat Al-Qur’an yang mengulas permasalahan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan/pelajaran bagi orang-orang yang memiliki hati atau yang mengkonsentrasikan pendengarannya dalam keadaan dia tidak lalai.” (QS. Qaf[50]: 37)
    Ini ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa agar kita bisa mengambil manfaat dari ilmu, maka ada hal-hal yang kita harus persiapkan.
    Perhatikanlah kandungan yang terdapat pada ayat ini berupa perbendaharaan ilmu dan bagaimana memperhatikan masalah ini akan membuka pintu-pintu sehingga bisa mengambil petunjuk dari ilmu dan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Sebaliknya pintu ilmu akan tertutup ketika seorang hamba melalaikan hal ini dan tidak memberikan perhatian kepadanya.
    Pada ayat ini yang pertama Allah menyebutkan tentang ayat-ayatNya. Ini akan bisa menjadi peringatan bagi orang yang punya hati. Artinya tidak semua orang bisa mengambil pelajaran darinya. Makanya tidak semua orang yang mendengarkan atau mengamati ayat Allah di alam semesta akan bisa menjadikannya sebagai peringatan atau pelajaran untuk menjadikan imannya semakin kuat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Sesungguhnya orang yang tidak memiliki hati maka tidak akan bermanfaat baginya semua ayat yang dilaluinya meskipun semua tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dilaluinya.
    Oleh karena itu hati jika telah tertutup, maka semua kebaikan-kebaikan tidak akan bisa menjadi pelajaran bagi orang yang seperti itu keadaannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an tentang orang-orang munafik yang hati mereka tertutup:
    أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
    “Apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an atau memang hati-hati mereka yang telah tertutup?” (QS. Muhammad[47]: 24)
    Ayat-ayat yang dilalui manusia (baik itu ayat-ayat Al-Qur’an ataupun tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semsta) ketika dilalui oleh seorang hamba, ini perumpamaannya seperti matahari atau rembulan ataupun bintang-bintang yang melewati orang yang tidak bisa melihat. Jika seorang hamba benar-benar punya hati yang hidup, ini seperti orang yang bisa melihat ketika lewat dihadapannya makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang besar tersebut, maka dia bisa menyaksikannya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    1 hr
  • Penetapan Adanya Malaikat – Surah Al-Baqarah 248
    Penetapan Adanya Malaikat – Surah Al-Baqarah 248 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 11 Muharram 1444 H / 9 Agustus 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Terkadang Pertanyaan Membawa Kebinasaan – Surah Al-Baqarah 246
    Penetapan Adanya Malaikat – Surah Al-Baqarah 248
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
    “Dan berkatalah Nabi mereka kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda kerajaan Thalut, yaitu datang kepada kalian peti yang isinya ketenangan dari Rabb kalian dan sisa-sisa dari apa yang ditinggalkan oleh keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah untuk kalian, jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah[2]: 248)
    Penetapan akan adanya malaikat
    Allah mengatakan: “dibawa oleh malaikat.” Dalam beriman kepada malaikat kita mengimani ada beberapa poin yang harus diimani, yaitu:
    Pertama, malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    خُلِقَتِ المَلائِكَةُ مِن نُورٍ، وخُلِقَ الجانُّ مِن مارِجٍ مِن نارٍ، وخُلِقَ آدَمُ ممَّا وُصِفَ لَكُمْ
    “Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.” (HR. Muslim)
    Kedua, mengimani bahwa para malaikat memiliki nama-nama. Adapun yang diberitahu oleh Allah nama-namanya hanya beberapa saja. Adapun yang lainnya tidak diberitahu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara adalah malaikat Jibril, Mikail, Israfil. Sebagaimana dalam doa istiftah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika shalat malam:
    اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ ، وَمِيكَائِيلَ ، وَإِسْرَافِيلَ…
    “Ya Allah Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil…”
    Demikian pula ada malaikat Mugkar dan Nakir. Demikian pula ada Malakul Maut. Adapun Izrail tidak ada dalilnya. Ada lagi malaikat Zabaniah, Harut, Marut, dan juga malaikat Malik.
    Ketiga, Tugas-tugas malaikat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan malaikat itu bermacam-macam. Jibril ditugaskan untuk menyampaikan wahyu, Mikail ditugaskan untuk mengatur rezeki manusia, menurunkan hujan dan yang lainnya. Israfil dikatakan oleh sebagian ulama sebagai peniup sangkakala. Namun Syaikh Utsaimin Rahimahullah tidak ada dalilnya.
    Malaikat Munkar dan Nakir yang akan bertanya nanti kepada mayat di dalam kubur.
    Ada juga malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk mendoakan orang-orang yang ada di masjid. Selama dia di dalam masjid maka malaikat itu terus mendoakan selama dia belum berhadas.
    Ada malaikat yang ditugaskan oleh Allah di kanan, di kiri, di depan dan di belakang anak Adam, dimana setiap manusia ada empat malaikat.
    Ada lagi malaikat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tugaskan untuk mencari majelis-majelis ilmu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنَّ لله ملائكةً سيَّاحين، يلتمسون مجالسَ الذكر
    “Allah memiliki malaikat-malaikat yang bertebaran di muka bumi mencari majelis-majelis dzikir.”
    Kata Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bahwa yang dimaksud majelis dzikir yaitu halaqah-halaqah fiqih ilmu.
    52 min
  • Dosa Apa Yang Paling Besar?
    Dosa Apa Yang Paling Besar? merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 9 Muharram 1444 H / 7 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Dosa Besar Yang Paling Besar Adalah Mempersekutukan Allah

    Kajian Hadits Dosa Apa Yang Paling Besar?
    Kita masuk ke bab أي الذنب أكبر (dosa apa yang paling besar).
    Hadits nomor 51:
    عن عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود – رضي الله عنه – قَالَ قال رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الذَّنْبِ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَدْعُوَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَصْدِيقَهَا {وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا}.
    Dari Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Ada seorang laki-laki berkata: ‘Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Kamu menyeru tandingan untuk Allah sementara Allah yang telah menciptakan kamu.’
    Ia berkata: ‘Kemudian apa?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.’
    Ia berkata: ‘Kemudian apa?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Kamu berzina dengan istri tetanggamu.’ Maka Allah turunkan ayatNya yang membenarkannya, Allah berfirman: ‘Dan orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah Ilah yang lain, dan mereka tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq, dan mereka tidak berzina. Dan barangsiapa yang melakukan perbuatan-perbuatan itu ia akan mendapatkan dosanya.’” (HR. Muslim)
    Kefaqihan Para Sahabatnya
    Hadits ini menunjukkan akan kefaqihan para sahabat. Dimana mereka bertanya tentang dosa yang paling besar. Pertanyaan seperti ini sangat bermanfaat sekali. Karena kita penting untuk mengetahui derajatnya sebuah dosa dan derajat sebuah amal. Sebagaimana amal shalih itu berderajat-derajat pahalanya, demikian pula dosapun berderajat-derajat siksanya.
    Di sini sahabat tersebut bertanya: “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar?” Beliau tidak berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu dosa-dosa besar?”. Hal ini penting karena ketika mengetahui derajat-derajatnya maka akan tampak kepada kita bahwa ada dosa yang paling besar dan ada yang dibawahnya, ada yang dibawahnya lagi, ada yang dibawahnya lagi.
    Disebutkan dalam kaidah ushul fiqih bahwa kalau kita dihadapkan pada dua dosa dimana harus mengambil salah satunya dan tidak mungkin kita menghindar, maka tentu jawabnya adalah mengambil dosa yang lebih ringan. Kalau kita bisa menghindarkan dua-duanya Alhamdulillah. Tapi kalau tidak mungkin menghindar dua-duanya, maka pada waktu itu disinilah sangat bermanfaat agar kita bisa memilih dosa yang lebih ringan dan meninggalkan dosa yang lebih besar.
    Tiga Pokok Dosa
    Hadits ini menunjukkan bahwa pokok dosa itu ada tiga. Yaitu:

    * mengagungkan selain Allah, yang ini akibatnya menimbulkan kesyirikan,
    * kemarahan yang tidak terkontrol, dimana puncak dari kemarahan adalah membunuh,
    * syahwat yang menyesatkan, dimana puncak daripada syahwat adalah zina.

    49 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 59 – Perumpamaan Penciptaan Nabi Isa
    Tafsir Ali Imran Ayat 59 – Perumpamaan Penciptaan Nabi Isa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 6 Muharram 1444 H / 4 Agustus 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 59 – Perumpamaan Penciptaan Nabi Isa
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
    “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah telah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah dia.” (QS. Ali Imran[3]: 59)
    Telah berlalu pembahasan bahwa ayat-ayat ini turun ketika datang utusan dari Najran yang mana mereka adalah orang-orang Nashara, mereka mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kedatangan mereka di tahun 9 Hijriyah. Dimana pada tahun itu banyak sekali orang-orang yang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Oleh karena itu di tahun ke-9 Hijriyah ini disebut dengan ‘ammul wufud atau sanatul wufud. Ini merupakan salah satu sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berhaji di tahun ke-9 Hijriyah. Padahal Mekah sudah dibuka dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah menguasai kota Mekah di tahun ke-8 Hijriyah. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru melaksanakan haji di tahun 10 Hijriyah.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam ayat ini “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam.” Adam  diciptakan oleh Allah tanpa ayah dan tanpa ibu, Allah menciptakannya dari tanah.
    Urusan Isa di sisi Allah seperti Nabi Adam, tidak berbeda. Sebagaimana kita sepakat bahwa Adam diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ayah ibu, dan orang-orang Nashara itu beriman tentang hal ini, maka bagaimana mereka berkata “Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Isa tanpa bapak, kalau begitu ia adalah anak dari Tuhan”, na’udzubillah.
    Orang-orang Nashara berkata: “Sesungguhnya Isa anak Allah, bagian dari Allah.” Dan mereka tidak mengatakan bahwa Adam anak Allah. Padahal seandainya ada di antara manusia yang mengklaim dia adalah anak Allah, maka tentunya yang lebih berhak adalah Adam. Karena dia diciptakan tanpa bapak ibu, adapun Isa punya ibu. Sedangkan ibu adalah satu dari dua orang tua.
    Download MP3 Kajian Tafsir Ali Imran Ayat 59 – Perumpamaan Penciptaan Nabi Isa

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 59 – Perumpamaan Penciptaan Nabi Isa
    Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Ali Imran Ayat 59 – Perumpamaan Penciptaan Nabi Isa” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    17 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah