Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Merendahkan Diri Ketika Menuntut Ilmu
    Merendahkan Diri Ketika Menuntut Ilmu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 6 Muharram 1444 H / 4 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Adalah Perbendaraan Yang Sangat Berharga
    Ceramah Agama Islam Tentang Merendahkan Diri Ketika Menuntut Ilmu
    Salah satu di antara keutamaan dan kemuliaan ilmu adalah justru dalam ilmu orang yang banyak bertanya dipuji dan ini termasuk sifat yang menjadikan orang semakin banyak mendapatkan ilmu.
    Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa banyak dari tingkah laku yang tidak terpuji pada diri seseorang bahkan dicela jika seorang memiliki akhlak ini, justru dalam menuntut ilmu akhlak ini dipuji bahkan termasuk yang diutamakan. Contohnya meminta dengan sangat, tidak merasa malu, merendahkan diri, dan berbolak-balik datang ke pintu para ulama untuk menimba ilmunya dan yang semisal itu.
    Sampai sebagian dari para ulama Salaf kita tahu ketika menunggu seorang ulama agar dia tidak mengganggu juga istirahatnya orang yang berilmu ini karena dia punya hajat menanyakan satu masalah agama, mereka datang ke pintunya dan tidur di depan pintunya sampai dia keluar kemudian dia tanyakan pertanyaan yang berhubungan dengan urusan agamanya. Tingkah laku ini dicela kalau untuk urusan dunia, tapi dalam ilmu ini malah dipuji.
    Ada nukilan riwayat dari salah seorang ulama Salaf yang mengatakan: “Tidaklah membujuk-bujuk itu termasuk akhlaknya orang yang beriman kecuali dalam menuntut ilmu.”
    Jika kita menuntut ilmu maka kita harus mendatangi orang yang berilmu dan bertanya. Kalau perlu kita desak dia untuk menyampaikan ilmu kepada kita. Hal ini untuk urusan dunia dicela, tapi untuk thalabul ilmi ini dipuji.
    Sahabat yang mulia Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata:
    ذللت طالبا فعززت مطلوبا
    “Aku merendahkan diri ketika menuntut ilmu, maka setelah itu aku menjadi mulia dan ilmu dituntut dariku.”
    Merendahkan diri ini adalah perkara yang mungkin dicela di kalangan sebagian manusia, tapi untuk menuntut ilmu ini dipuji, bahkan dengan sebab ini para ulama kemudian mendapatkan kemuliaan di kalangan manusia setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka dengan ilmu agama.
    Dalam riwayat lain sahabat yang mulia ini berkata: “Aku mendapati mayoritas ilmu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada pada orang-orang yang tinggal di perkampungan Anshar ini. Sungguh aku terkadang sampai beristirahat atau tidur siang di depan pintu salah seorang di antara mereka (untuk menunggu ketika dia keluar baru bertanya). Kalau saya inginkan mereka akan izinkan saya menemui mereka, akan tetapi saya menginginkan dengan perbuatanku ini supaya mereka tenang jiwanya.”
    Ini juga menunjukkan kepada kita bahwa perbuatan ini tetap merupakan perbuatan yang terpuji di kalangan penuntut ilmu ketika mereka bersungguh-sungguh sampai menunggu seorang yang berilmu dengan tidur di depan pintunya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    52 min
  • Kesendirian Allah dalam kekuasaanNya
    Kesendirian Allah dalam kekuasaanNya adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 5 Muharram 1444 H / 3 Agustus 2022 M.

    Kajian Tentang Kesendirian Allah dalam kekuasaanNya
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji kesendirianNya di dalam kekuasaanNya di dalam ayat-ayat yang banyak dari Al-Qur’an kitabNya yang mulia.
    Maksudnya adalah kalau kita baca Al-Qur’an maka kita akan dapati Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji diriNya bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang berkuasa. Seperti dalam surah Fathir ayat 3:
    هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ
    “Apakah ada pencipta selain Allah Subhanahu wa Ta’ala?” (QS. Fathir[35]: 3)
    Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    … وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ ‎﴿١٣﴾‏ إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ‎﴿١٤﴾
    “Dan orang-orang yang kalian berdoa kepada selain Allah tidak mempunyai apa-apa walau setipis kulit ari. Jika kalian berdoa kepada mereka, mereka tidak mendengar doa kalian. Dan kalau mereka mendengar mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan kalian dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir[35]: 13-14)
    Dalil ini dibawakan oleh penulis bahwa tidak ada yang mengatur/pencipta/berkuasa kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini adalah bantahan kepada yang berkeyakinan bahwa wali-wali Allah mempunyai kekuasaan di dalam kehidupan dan juga setelah kematian mereka dapat mengatur alam semesta.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Kesendirian Allah dalam kekuasaanNya
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Kesendirian Allah dalam kekuasaanNya” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 5 min
  • Terkadang Pertanyaan Membawa Kebinasaan – Surah Al-Baqarah 246
    Terkadang Pertanyaan Membawa Kebinasaan – Surah Al-Baqarah 246 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 4 Muharram 1444 H / 2 Agustus 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Luasnya Karunia dan Pemberian Allah – Surah Al-Baqarah 245
    Terkadang Pertanyaan Membawa Kebinasaan – Surah Al-Baqarah 246
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
    “Tidakkah kamu melihat kepada para pembesar dari Bani Israil setelah Musa, ingatlah ketika mereka berkata kepada Nabi mereka: ‘Utuslah untuk kami seorang raja untuk agar kami bisa berperang di jalan Allah’. Lalu Nabi itu berkata: ‘Barangkali apabila diwajibkan atas kalian berperang kalian malah tidak ikut berperang’. Maka mereka berkata: ‘Mengapa kami tidak ikut berperang di jalan Allah, sementara kami sudah dikeluarkan dari negeri-negeri kami dan anak-anak kami?’ Kemudian ketika telah diwajibkan atas mereka peperangan, merekapun berpaling kecuali sedikit saja dari mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Baqarah[2]: 246)
    Musibah diserahkan pada ucapan
    Terdapat peribahasanya orang-orang Arab dari semenjak zaman dahulu, dan memang ada atsar dari sebagian ulama yang mengatakan demikian, seperti Ibrahim An-Nakha’i yang mengatakan: “Aku ingin berbicara dengan suatu pembicaraan dan tidak ada yang mencegahku untuk berbicara kecuali karena aku khawatir ucapanku ini menjadi musibah.”
    Karena Nabi berkata kepada mereka: “Barangkali apabila diwajibkan kepada kalian peperangan kalian malah tidak ikut berperang.” Dan ternyata perkiraan Nabi ini benar, saat dimana mereka diwajibkan peperangan ternyata mereka malah tidak mau ikut berperang.
    Maka dari itu hati-hati dalam berbicara, jangan sampai kemudian pembicaraan kita malah menjadi musibah untuk kita.
    Terkadang pertanyaan membawa kebinasaan
    Sebagian pertanyaan terkadang menjadi akhir kebinasaan atas orang yang bertanya. Ini juga sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lain:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ…
    “Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu bertanya tentang sesuatu jika dijawab kepada kalian malah menyusahkan kalian…” (QS. Al-Ma’idah[5]: 101)
    Adapun dizaman sekarang dimana syariat sudah sempurna, maka tentu dizaman sekarang yang dilarang dari pertanyaan yaitu pertanyaan-pertanyaan yang tidak menimbulkan amal sama sekali, atau malah pertanyaan-pertanyaan yang isinya membuat kita ragu kepada Allah dan syariat, demikian pula pertanyaan tentang sesuatu yang jauh untuk terjadi.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    54 min
  • Tawakal Kepada Allah Ketika Mendidik Anak
    Tawakal Kepada Allah Ketika Mendidik Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 4 Muharram 1444 H / 2 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Sebatas Inilah Kadar Manusia
    Sebatas Inilah Kadar Manusia
    Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas “sebatas inilah kadar manusia”, yaitu kita perlu menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apapun yang kita inginkan, tetap yang terjadi adalah keinginan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apapun yang kita kehendaki tetap yang terjadi adalah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka setelah berikhtiar maksimal seorang muslim wajib bertawakal (menyerahkan urusannya) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ada beberapa buah dari tawakal, di antaranya:
    Allah mencintai orang-orang yang bertawakal
    Allah mengatakan:
    فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
    “Bertawakallah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 159)
    Demikian juga di dalam mengemban sebuah tugas yang berat (mendidik anak), kita perlu menyerahkan urusan kepada Allah. Jika kita telah bertekad untuk mendidik anak-anak dengan pendidikan yang terbaik, kita perlu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukipi hamba yang bertawakal
    Allah mengatakan dalam surah At-Talaq ayat 3:
    وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
    “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Talaq[65]: 3)
    Ketika hati kita sandarkan kepada Allah, maka hati akan kuat dan akan mampu mengemban tugas-tugas yang berat. Tapi jika hati tidak disandarkan kepada Allah maka hati akan lemah. Karena Allah akan menjauhkan orang yang bertawakal dari gangguan setan yang bisa melemahkan hatinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    ﺇِﺫَﺍ ﺧَﺮَﺝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻟَﺎ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻟَﺎ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻳُﻘَﺎﻝُ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ : ﻫُﺪِﻳﺖَ، ﻭَﻛُﻔِﻴﺖَ، ﻭَﻭُﻗِﻴﺖَ، ﻓَﺘَﺘَﻨَﺤَّﻰ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﺁﺧَﺮُ : ﻛَﻴْﻒَ ﻟَﻚَ ﺑِﺮَﺟُﻞٍ ﻗَﺪْ ﻫُﺪِﻱَ ﻭَﻛُﻔِﻲَ ﻭَﻭُﻗِﻲَ؟
    “Jika seseorang keluar dari rumahnya dan membaca doa: ‘Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah’, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Kamu telah diberikan petunjuk, kecukupan dan perlindungan.’ Maka setan-setan akan menyingkir darinya. Setan yang lain berkata: ‘Bagaimana kamu dapat mengganggu seorang hamba yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan perlindungan.’” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Shahih)
    Tawakal akan mendatangkan kelapangan rezeki
    Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan rezeki kepada orang-orang yang bertawakal. Tentunya keshalihan anak juga merupakan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ketika kita bertawakal -khususnya di dalam mendidik/membimbing mereka- maka Allah akan memberikan rezeki berupa keshalihan kepada anak-anak kita.
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ
    “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal,  niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melimpahkan rezeki kepada kamu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi,
    1 hr
  • Keutamaan Puasa Arafah
    Keutamaan Puasa Arafah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 4 Muharram 1444 H / 2 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Beberapa Masalah Berkaitan dengan Puasa
    Keutamaan Puasa Arafah
    Pembahasan kita saat ini adalah tentang باب فضل صوم يوم عرفة وعاشوراء وتاسوعاء (Bab tentang keutamaan berpuasa pada hari Arafah, Asyura dan Tasu’a).
    عنْ أَبي قتَادةَ رضِي اللَّه عَنْهُ ، قالَ : سئِل رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : عَنْ صَوْمِ يوْمِ عَرَفَةَ ؟ قال : « يكفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيةَ وَالبَاقِيَةَ » رواه مسلمٌ .
    Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari Arafah. Maka beliau bersabda: ‘Puasa dihari itu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.’” (Riwayat Muslim)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan dari ibadah puasa sunnah di hari Arafah. Tentu hari Arafah yang dimaksud adalah ketika kaum muslimin berada di padang Arafah. Apalagi dizaman yang kita sudah banyak mendapatkan informasi melalui media yang sangat cepat. Oleh karena itu tidak sulit lagi bagi kita untuk mengetahui kapan hari Arafah, kapan bulan Muharram, dan lain sebagainya.
    Puasa Arafah yaitu puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah ketika kaum muslimin sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Ketika itu kita dianjurkan untuk berpuasa.
    Di antara keutamaan berpuasa dihari Arafah adalah tidak sekedar menghapus dosa-dosa kecil, tetapi juga sebagian ulama menyebutkan menghapus dosa-dosa besar. Meskipun ada sebagian ulama yang menyebutkan bahwa menghapus dosa besar itu harus dengan bertaubat memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hadits yang berikutnya:
    وعنْ ابنِ عباسٍ رضيَ اللَّه عنهما ، أَنَّ رَسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم صَامَ يوْمَ عاشوراءَ ، وأَمَرَ بِصِيَامِهِ . متفقٌ عليه .
    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada hari Asyura (yaitu tanggal 10 bulan Muharram) dan beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari tersebut. (Muttafaqun ‘alaihi)
    Perintah ini sifatnya anjuran, sehingga kita dianjurkan untuk berpuasa di hari Asyura.
    Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah dari kota Mekah pindah ke kota Madinah, beliau mendengar bahwa orang-orang Yahudi ketika itu berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada para sahabat tentang penyebab orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Maka diberitahukanlah bahwa pada tanggal tersebut adalah tanggal kemenangan Nabi Musa atas Firaun. Sehingga didalam rangka mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Allah berikan kepada Nabi Musa, maka orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
    Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh para sahabat, maka beliau mengatakan:
    أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى
    “Kami kaum muslimin lebih utama dalam mensyukuri nikmat Allah Ta’ala atas kemenangan Musa terhadap Firaun.” (HR. Muslim)
    Maka kemudian beliau memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Dan pada awalnya puasa Asyura tanggal 10 Muharram ini wajib sebelum wajibnya puasa bulan Ramadhan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak
    1 hr 17 min
  • Ketakwaan Sebab Mendapatkan Kebahagiaan
    Ketakwaan Sebab Mendapatkan Kebahagiaan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 3 Muharram 1444 H / 1 Agustus 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah Dua Putra Anak Adam
    Ketakwaan Sebab Mendapatkan Kebahagiaan
    Ketakwaan kepada Allah merupakan sebab untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan yang hakiki itu tidak akan didapat kecuali oleh orang-orang yang bertakwa.
    Ini diambil dari surah Al-Ma’idah ayat 27, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
    “Bacakanlah kepada mereka tentang berita tentang dua anak Adam dengan haq, ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satu dari keduanya namun tidak diterima dari yang lain. Yang tidak diterima (Qabil) itu berkata: ‘Pasti aku akan membunuhmu.’ Berkata (Habil): ‘Sesungguhnya Allah menerima amalan hanya dari orang-orang yang bertakwa.'” (QS. Al-Ma’idah[5]: 27)
    Ada beberapa keutamaan takwa, yaitu:
    1. Ketakwaan menjadikan seseorang menjadi manusia yang paling mulia disisi Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ…
    “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antara kalian adalah orang yang bertakwa.” (QS. Al-Hujurat[49]: 13)
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya; ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?’.
    Beliau menjawab:
    أَتْقَاهُمْ
    ‘Orang yang paling bertakwa di antara mereka.'” (HR. Bukhari Muslim)
    2. Bertakwa kepada Allah merupakan sebab mendapatkan rezeki yang halal
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ‎﴿٢﴾‏ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ…
    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah berikan jalan keluar dari kesempitannya dan Allah berikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq[65]: 2-3)
    Tugas kita adalah bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan tunaikan janjiNya.
    Allah pun berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 96:
    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ…
    “Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan bukakan untuk mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf[7]: 96)
    3. Ketakwaan merupakan sebab urusan dimudahkan
    Kalau kita ingin urusan kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka jangan lari dari Allah. Tapi kita lari menuju Allah, kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita mengingat Allah, mengerjakan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan jadikan urusannya mudah.” (QS. At-Talaq[65]: 4)
    4. Bertakwa kepada Allah sebab dosa-dosa diampuni
    Kalau kita ingin dosa-dosa diampuni, maka kita bertaubat kepada Allah,
    51 min
  • Membawa Anak Kecil Ke Masjid
    Membawa Anak Kecil Ke Masjid ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 25 Dzulhijjah 1443 H / 25 Juli 2022 M.

    Kajian Tentang Membawa Anak Kecil Ke Masjid
    Membawa anak kecil ke masjid adalah salah satu masalah yang sering diperdebatkan tentang boleh atau tidaknya. Bagi yang mengatakan boleh beralasan bahwa kapan lagi kita mengenalkan anak dengan masjid. Kita perlu mengenalkan anak dengan masjid sejak dini, sehingga nanti mereka tidak asing dengan masjid.
    Ternyata selain yang pro ada yang kontra. Jangan membawa anak ke masjid karena menggangu sehingga tidak bisa khusyuk. Antara dua kubu ini mana yang benar? Sebelum membahas mana yang benar, perlu dijawab pertanyaan-pertanyaan ini:

    * Apakah dizaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam anak-anak kecil dibawa ke masjid atau tidak?
    * Apakah tingkah laku anak-anak dizaman Nabi itu sama atau tidak dengan anak-anak dizaman kita?

    Kalau kita bisa mengurai masalah itu, maka insyaAllah akan kita temukan jawabannya. Dizaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun juga ada anak kecil yang dibawa ke masjid. Tapi tidak cukup sampai disitu, kita perlu mengetahui cara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat dalam menyikapi anak-anak itu saat berada di masjid.
    Maka kita perlu berada di antara dua kubu yang ekstrim; kubu pertama melarang sama sekali, kubu kedua membebaskan sebebas-bebasnya. Seharusnya adalah sikap pertengahan di antara dua kubu tersebut. Yaitu boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.
    “Boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.”
    Tanggung jawab orang tua mulai dari menasihati anaknya, misalnya berkata: “Nak, kamu itu mau ke rumahnya Allah. Jadi di rumahnya Allah harus sopan. Di rumahnya manusia saja kita harus sopan, apalagi dirumahnya Allah. Kenapa harus sopan? Yaitu karena di sana banyak orang yang sedang menjalankan ibadah. Jangan sampai nanti keberadaanmu menggangu orang yang sedang beribadah.”
    Selain dinasihati juga perlu didampingi. Begitu orang tua sampai di masjid, maka anaknya jangan dilepas. Ajak anak shalat di samping orang tua.
    Syaddad Radhiyallahu ‘Anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,
    كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ
    “Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas.” (HR. An-Nasai dan dinilai sahih oleh al-Hakim)
    Ini adalah hadits yang menunjukkan bahwa ternyata anak kecil ada di masjid dizaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan beliau sendiri yang membawanya. Dan kemungkinan besar saat itu Hasan dan Husain belum baligh karena sampai naik ke pundak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    48 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 58 – Al-Qur’an Tanda Keberasaran Allah
    Tafsir Ali Imran Ayat 58 – Al-Qur’an Tanda Keberasaran Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 28 Dzulhijjah 1443 H / 28 Juli 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 58 – Al-Qur’an Tanda Keberasaran Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    ذَٰلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
    “Demikianlah Kami bacakan kepada engkau sebagian ayat-ayat Kami dan peringatan yang bijaksana.” (QS. Ali Imran[3]: 58)
    Ayat yang mulia ini mengandung beberapa pelajaran.
    Allah ‘Azza wa Jalla berbicara tentang Al-Qur’an, Allah berfirman: “Demikianlah Kami bacakan kepada engkau…” tilawah ini adalah tilawahnya Allah secara hakiki dan disampaikan oleh Jibril kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan ada kemungkinan bahwa tilawahnya ini tilawahnya Jibril, akan tetapi Jibril adalah utusan Allah. Tentunya perbuatannya disandarkan kepada Allah. Ini seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ ‎﴿١٦﴾‏ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ‎﴿١٧﴾‏ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ‎﴿١٨﴾
    “Janganlah engkau gerakkan lisanmu agar engkau segera untuk menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami Al-Qur’an itu Kami kumpulkan di dada engkau dan bacaannya. Apabila Kami membacanya, maka ikutilah bacaannya.” (QS. Al-Qiyamah[75]: 16)
    Di sini Allah berfirman “Apabila Kami membacanya,” dan sesuatu yang maklum yang membaca adalah Jibril ‘Alaihissalam.
    Al-Qur’an Tanda Keberasaran Allah
    Al-Qur’an Al-Karim merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ…
    “Ia merupakan ayat-ayat yang jelas yang ada di dada-dada orang yang berilmu…” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 49)
    Ia merupakan ayat-ayat yang agung. Ayat-ayatnya sangat banyak, bahkan setiap satu ayatnya yang mengandung beberapa ayat. Akan tetapi tidak ada yang bisa memahami ayat-ayat ini melainkan orang yang Allah buka hatinya dengan keimanan dan amal, dan ia meyakini bahwa Al-Qur’an ini merupakan firman Allah dan bahwasanya di dalam Al-Qur’an itu ada ayat-ayat yang jelas.
    Adapun yang hanya membacanya secara berlalu demikian saja, hatinya tidak tergerak untuk memperhatikan ayat-ayat ini, maka ia tidak akan bisa mengambil manfaat dari apa yang ada di dalam Al-Qur’an berupa ayat-ayat yang disebut.
    Wajib untuk engkau beriman bahwa di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat dan engkau berusaha untuk mengeluarkan ayat-ayat tersebut dengan tadabbur. Seseorang apabila mentadaburi Al-Qur’an ia akan mendapatkan padanya ayat-ayat yang agung yang tidak bisa dihitung oleh manusia.
    Al-Qur’an Merupakan Dzikir
    Allah berfirman di sini: “Demikianlah kami bacakan kepada engkau dari ayat-ayat dan dari peringatan yang bijaksana.”
    Akan tetapi pertanyaannya apakah dzikir ini dzikir yang dengannya seseorang mendekatkan dirinya kepada Allah atau dzikir disini yang dimaksud adalah dzikir agar manusia menjadi mendapat peringatan?
    Kami telah menyebutkan bahwa makna dzikir ini mencakup makna yang pertama dan yang kedua. Artinya dengan kita membaca Al-Qur’an, maka dengannya kita pula mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia merupakan dzikir yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.
    26 min
  • Ilmu Adalah Perbendaraan Yang Sangat Berharga
    Ilmu Adalah Perbendaraan Yang Sangat Berharga adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 28 Dzulhijjah 1443 H / 28 Juli 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Kebahagiaan Ketika Dipercaya Menyampaikan Agama Allah
    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Adalah Perbendaraan Yang Sangat Berharga
    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata bahwa setiap orang yang memiliki barang untuk diperjualbelikan selain ilmu, jika dia mengetahui bahwa ada barang lain yang lebih bagus dari barang yang dimilikinya, maka dia langsung tidak menginginkan lagi barang yang dimilikinya tersebut, justru dia menginginkan barang lain yang lebih bagus itu dan dia ingin kalau seandainya barang yang lain itu bisa menggantikan barang yang dimilikinya. Ini berlaku bagi semua orang yang memiliki barang dagangan kecuali orang yang memiliki ilmu agama. Orang yang memiliki ilmu agama tidak menginginkan sama sekali ada pengganti hal yang lain dari ilmu yang dimilikinya.
    Ini jelas merupakan keutamaan dan kemuliaan yang sangat tinggi. Bahwa kalau orang lain bisa berambisi untuk mendapatkan dari sesuatu yang dimilikinya digantikan dengan yang lain, maka orang yang memiliki ilmu tidak akan mau menggantikannya dengan selainnya. Yang dia inginkan hanya mempertahankan atau menambah dan meningkatkan ilmunya.
    Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi berkata: “Suatu hari aku sedang duduk bersama Ahmad Ibnu Abi Imran. Ketika itu tiba-tiba lewat orang kaya pengejar dunia. Maka akupun melihat kepada laki-laki itu sehingga melupakan pelajaran yang sedang aku lakukan sebelumnya. Maka Ahmad Ibnu Abi Imran berkata kepadaku: ‘Seolah-olah kamu sedang memikirkan untuk mendapatkan perhiasan dunia yang Allah berikan kepada orang tersebut.’ Aku jawab: ‘Memang iya.’
    Ahmad Ibnu Abi Imran berkata: ‘Apakah kamu mau aku tunjukkan tentang kebutuhan yang sesungguhnya? Apakah kamu mau kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepadamu harta yang ada pada orang ini kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada orang ini ilmu yang ada padamu sehingga kamu hidup kaya tapi jahil dan orang itu kemudian hidup dalam keadaan berilmu tapi dia miskin.’
    Maka aku katakan: ‘Aku tidak pernah memilih Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan ilmu yang ada padaku dengan harta yang ada pada orang tersebut. Karena ilmu itu adalah kekayaan tanpa harta, kemuliaan tanpa ada anggota keluarga, kekuasaan tanpa ada prajurit atau pengawal yang membantu.'”
    Ini pernyataan dari ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyebutkan tentang kemuliaan ilmu. Sehingga meskipun harta itu sesuatu yang dikejar oleh kebanyakan manusia, akan tetapi ilmu adalah kekayaan yang sesungguhnya dan kemuliaan yang sejati. Kekayaan tanpa harta adalah kemuliaan yang tidak membutuhkan bantuan dan pertolongan dari orang lain selain taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Makanya kita masih ingat pernyataan sebagian dari para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengatakan:
    لو علم الملوك وأبناء الملوك ما نحن فيه لجالدونا عليه بالسيوفهم
    “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui kenikmatan yang kami rasakan dengan menuntut ilmu dan mengamalkannya, maka pasti mereka akan berusaha memerangi kami untuk merebut kenikmatan tersebut dengan senjata mereka.”
    51 min
  • Doa Ibadah Melazimkan Doa Masalah
    Doa Ibadah Melazimkan Doa Masalah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 27 Dzulhijjah 1443 H / 27 Juli 2022 M.

    Kajian Tentang Doa Ibadah Melazimkan Doa Masalah
    Doa ada dua macam; doa ibadah dan doa masalah. Doa ibadah adalah doa yang kita mengerjakan sebuah ibadah dan berharap pahala di dalamnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti seorang membaca Al-Qur’an. Karena dia di dalamnya meminta pahala dari membaca Al-Qur’an tersebut. Atau berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ini disebut juga dengan doa ibadah. Karena berarti dia meminta pahala dari berdzikirnya kepada Allah.
    Sedangkan doa yang kedua adalah doa masalah. Yaitu doa meminta sesuatu yang bermanfaat bagi orang yang berdoa atau meminta dijauhkan dari yang buruk bagi orang yang berdoa.
    Maka jelas bahwa doa ibadah melazimkan doa masalah apabila seseorang berdzikir kepada Allah. Yang mana dzikir adalah doa ibadah maka pada saat yang bersamaan dia sebenarnya sedang meminta kepada Allah. Apabila orang membaca Al-Qur’an itu sebenarnya adalah doa masalah, maka sebenarnya dia sedang meminta kepada Allah pahala dari membaca Al-Qur’an tersebut.
    Inilah yang dimaksud dengan doa ibadah melazimkan doa masalah. Sebagaimana doa permintaan mengandung doa ibadah. Artinya apabila orang berdoa “Ya Allah berikanlah saya rezeki,” maka pada saat yang bersamaan itu disebut dengan doa ibadah karena dia sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا ‎﴿٤٨﴾‏ فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا ‎﴿٤٩﴾
    “‘Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku’. Maka ketika Ibrahim sesudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.” (QS. Maryam[19]: 48-49)
    Ini dalil menunjukkan bahwasanya doa permintaan mengandung doa ibadah. Maka akhirnya doa adalah termasuk dari macam-macam ibadah.
    Doa Nabi Ibrahim: “Aku berdoa kepada Rabbku, semoga aku tidak akan pernah merugi.” ini seperti firman Allah yang menceritakan tentang perkataan Nabi Zakaria:
    إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
    “Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau wahai Rabbku.” (QS. Maryam[19]: 4)
    Ini juga menunjukkan bahwa seseorang yang berdoa dengan doa permintaan berarti secara tidak langsung sudah mengandung doa ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Doa Ibadah Melazimkan Doa Masalah
    1 hr 11 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah