Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Allah Sangat Suka Pujian – Surah Al-Baqarah 243
    Allah Sangat Suka Pujian – Surah Al-Baqarah 243 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 19 Dzulhijjah 1443 H / 19 Juli 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Allah Menjelaskan Ayat-AyatNya – Surah Al-Baqarah 242
    Allah Sangat Suka Pujian – Surah Al-Baqarah 243
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
    “Tidakkah kamu melihat kepada orang-orang yang keluar dari negeri mereka dan mereka berjumlah ribuan karena takut kematian; maka Allah pun berfirman kepada mereka: ‘Matilah’, maka mereka pun mati, kemudian Allah pun menghidupkan mereka kembali. Sesungguhnya Allah pemilik keutamaan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 243)
    Ayat ini tentang kisah orang-orang yang ada di zaman Bani Israil dimana mereka lari dari wabah penyakit karena takut mati. Tapi apa yang terjadi, ternyata Allah malah matikan mereka semua yang kemudian setelah itu Allah hidupkan mereka kembali.
    Dari ayat ini kita ambil faedah:
    Allah Ta’ala berbicara dengan yang Allah inginkan
    Allah Ta’ala berfirman:
    …إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن …
    “Apabila Allah menginginkan sesuatu, maka Allah cukup mengatakan ‘kun (jadilah)'” 
    Artinya Allah Ta’ala berbicara dengan apa yang Allah inginkan, bukan sebatas kalimat ‘kun’ saja.
    Contoh ketika Allah menciptakan pena. Maka Allah berfirman kepada pena itu: “uktub (tulislah)”. Jadi kata-kata “kun” itu sifatnya umum, bukan artinya Allah tidak berbicara dengan kalimat yang lain.
    Balaghah bahasa Arab
    Bolehnya dalam bahasa Arab menghilangkan sesuatu yang sudah diketahui. Dimana Allah mengatakan: “‘Matilah kalian’, kemudian Allah hidupkan mereka.”
    Ada kalimat yang dihilangkan di sini, yaitu: “‘Matilah kalian’ maka mereka pun mati, kemudian Allah hidupkan mereka.” Ini termasuk balaghah.
    Allah sangat suka pujian
    Allah memuji diriNya terhadap nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya. Dimana Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah pemilik karunia kepada manusia.”
    Allah memuji diriNya bahwa Allah yang memberikan semua kenikmatan kepada manusia. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada siapapun yang paling menyukai pujian dari Allah ‘Azza wa Jalla.”
    Allah sangat suka pujian. Maka Allah cinta kepada hamba-hambaNya yang banyak memuji diriNya. Sedangkan manusia tidak boleh punya sifat suka pujian. Karena manusia itu memang tidak berhak dipuji. Semua karunia, semua kelebihan, semua kekayaan dan yang lainnya semua dari Allah.
    Allah pemiliknya, Allah yang memberi, seharusnya yang dipuji adalah Allah, bukan kita. Kalau kita punya sifat suka pujian, maka sifat ini tercela, yang berakibat akhirnya kemudian kita tidak bisa ikhlas.
    Kalau Allah memang terpuji. Kesempurnaan dan karunia semuanya milik Allah, maka Allah berhak untuk dipuji.
    Manusia takut mati
    Di antara tabiat manusia adalah lari dari kematian. Maka hendaknya kalau begitu kewajiban kita untuk siap-siap menuju kematian. Karena lari kemanapun tidak mungkin bisa lepas.
    47 min
  • Bersahabat dengan Orang-Orang Yang ikhlas
    Bersahabat dengan Orang-Orang Yang ikhlas merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 19 Dzulhijjah 1443 H / 19 Juli 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Cara Meraih Keikhlasan
    Bersahabat dengan Orang-Orang Yang ikhlas
    Di antara cara meraih keikhlasan adalah bersahabat dengan orang-orang yang ikhlas. Jadikanlah mereka sebagai sahabat dekat kita. Karena ini akan berpengaruh terhadap hati. Ketika kita menyaksikan ketulusan dan keikhlasan mereka, maka terdorong diri kita untuk meneladaninya. Karena tentunya meniru lebih mudah daripada melakukan sesuatu tanpa ada contoh. Demikian salah satu keuntungan kita bergaul dengan orang-orang yang ikhlas. Ditambah lagi dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    أولياء الله الذين إذا رؤوا ذكر الله
    “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang apabila kita melihat mereka maka akan mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ath-Thabrani dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)
    Ini salah satu keuntungan dan faedah kita bersahabat dengan orang-orang yang shalih, bertakwa dan ikhlas. Yaitu kita akan kecipratan kebaikannya. Karena sedikit banyak sifat-sifat yang ada pada teman akan menular ke kita. Maka dari itu Nabi perintahkan kita untuk menadzar siapa yang menjadi teman dekat kita. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
    “Seorang berada diatas kebiasaan/sifat/karakter sahabatnya, maka perhatikanlah dengan siapa dia bersahabat.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi)
    Maka kita perlu memilih teman baik yang bisa mendatangkan keuntungan bukan hanya dunia tapi juga akhirat.
    Ja’far bin Sulaiman mengatakan: “Jika aku mendapati hatiku sedang mengeras, aku akan segera pergi bertemu dengan Muhammad bin Wasi’. Karena wajahnya menggambarkan seolah-olah dia baru kehilangan anaknya.” Yaitu orang yang tunduk dan khusyuk.
    Fudhail bin Iyadh mengatakan: “Seorang mukmin bila melihat kearah mukmin yang lain maka ia akan mendapatkan pencerahan.” Yaitu ketika kita melihat orang baik maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah yang baik-baik dan mengingatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi kalau kita melihat orang jahat maka yang terlintas juga hal yang buruk-buruk.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا
    “Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Karena pertemanan dengan orang mukmin akan membawa manfaat. Sedangkan berteman dengan orang fasik justru akan membawa mudharat baik bagi dunia maupun akhirat kita.
    Abdullah bin Mubarak mengatakan: “Bila aku melihat wajah Fudhail bin Iyadh, maka kesedihan dihatiku akan hidup kembali, aku akan dapat melawan nafsu dan air mata pun menetes.”
    Demikianlah salah satu di antara cara untuk meraih keikhlasan. Yaitu dengan bersahabat dan dekat dengan orang-orang yang ikhlas sehingga kita bisa meneladaninya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    50 min
  • Kritik Terhadap Sebagian Orang Yang Mengaku-Ngaku Zuhud
    Kritik Terhadap Sebagian Orang Yang Mengaku-Ngaku Zuhud ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 18 Dzulhijjah 1443 H / 18 Juli 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Kritik Terhadap Sebagian Orang Yang Mengaku-Ngaku Zuhud
    Kita telah sampai pada pembahasan kritik terhadap sebagian orang yang mengaku-ngaku zuhud tapi melakukan sesuatu hal yang sebenarnya bertolak belakang dengan pengakuannya.
    Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata bahwa beberapa orang yang mengaku-ngaku zuhud biasa melakukan sesuatu seperti mendekam di masjid atau mengasingkan diri di pegunungan atau berkumpul bersama orang-orang yang sepaham dengannya dan dia merasa sampai pada satu level yang lebih tinggi daripada orang-orang lain yang mereka pandang awam. Dia pun merasa senang ketika orang-orang tahu bahwa dia mengasingkan diri, menjauh dari masyarakat, dan kadang-kadang dia berkata: “Aku khawatir melihat banyak kemungkaran jika keluar dari tempat ini.” Hal ini untuk menunjukkan bahwa dia adalah orang yang wara’, bertakwa dan zuhud dengan mengurung dan mengasingkan diri di sebuah tempat.
    Padahal sebenarnya dia melakukan tindakan menyendiri dilakukan dengan berbagai motif. Yang mana di antara motif itu ada tiga hal.

    * Karena untuk menunjukkan kesombongan diri dan sikap merendahkan orang lain. Bahwa mereka telah melakukan hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain.
    * Karena khawatir jika orang-orang tidak memberikan penghormatan kepadanya. Mereka mencari pandangan manusia kepada dirinya.
    * Karena menjaga kekuasaan ataupun kepemimpinannya atas beberapa orang. Yaitu untuk menunjukkan bahwa dia punya kepemimpinan atas komunitasnya. Mungkin juga dia bermaksud untuk menutupi aib dan kejahilan dirinya agar tidak diketahui oleh orang lain. Atau karena dia senang dikunjungi namun tidak mau berkunjung. Bisa jadi juga dia senang jika orang-orang berkumpul untuk menanti dan menunggu, mencium tangan dan menyambutnya.

    Mengasingkan diri seperti ini tentunya tidak dibenarkan secara syar’i. Karena tujuan mengasingkan diri bukan untuk meraih status di tengah-tengah manusia. Tujuan mengasingkan diri dalam Islam adalah untuk menyelamatkan agama jika kondisi menuntut untuk hal itu. Kalau tidak maka kita tidak perlu mengasingkan diri tanpa ada tujuan.
    Jadi dengan mengasingkan diri seperti ini dia ingin bisa dimaklumi keadaannya. Misalnya tidak menjenguk orang sakit, tidak shalat berjamaah di masjid, tidak mengurus jenazah dan lainnya yang merupakan amal-amal yang dikerjakan secara berjamaah dengan alasan dia sedang mengasingkan diri. Hingga murid-muridnya mengatakan “maafkanlah guru kami karena seperti itulah kebiasaannya.”
    Sebagian orang yang mengaku-ngaku zuhud melakukan hal seperti ini. Sebenernya tidak bisa dibenarkan, karena kebiasaan tersebut bertentangan dengan syariat.
    Orang-orang seperti ini biasanya ketika merasa lapar dan tidak ada seseorang yang dapat membelikan makanan, justru dia lebih memilih tetap kelaparan agar tidak keluar rumah untuk membeli sesuatu. Karena menurutnya itu akan menurunkan wibawanya karena berjalan pergi ke pasar dan berkumpul bersama orang-orang awan. Sehingga dia lebih memilih lapar daripada pergi keluar mencari makanan untuk mengganjal perutnya.
    Tentunya ini bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seperti yang kita ketahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga biasa berjalan di pasar membeli barang yang diperlukan,
    34 min
  • Membaca Surah Al-Ikhlas Sebelum Tidur
    Membaca Surah Al-Ikhlas Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 18 Dzulhijjah 1443 H / 18 Juli 2022 M.
    Lihat sebelumnya: Membaca Surah Al-Mulk Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Membaca Surah Al-Ikhlas Sebelum Tidur
    Pada kajian kali ini kita akan membahas surah pendek yang maknanya sangat agung. Surah ini juga dianjurkan untuk dibaca sebelum tidur. Surah tersebut adalah surah Al-Ikhlas.
    Dalil Landasan
    Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menyampaikan dalam sebuah hadits:
    “أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.
    “Setiap malam jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat akan tidur, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surah Al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surah Al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surah an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya semampunya (yang bisa dijangkau) ke seluruh bagian tubuh. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. (HR. Bukhari)
    Keuntungan membaca doa yang seperti ini adalah dia akan dilindungi dari mara bahaya apapun, bisa itu hewan berbisa maupun gangguan setan. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan, “Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. (HR. Bukhari)
    Renungan Kandungan
    Surah yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surah Al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surah ini sepadan dengan sepertiga Al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan Al-Qur’an. Secara garis besar, isi Al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surah Al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surah Al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga Al-Qur’an.
    Di awal surah ini Allah Ta’ala menegaskan keesaanNya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzatNya. Allah Maha Esa dalam keberhakanNya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhananNya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifatNya.
    Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkanNya. Mereka semua meminta padaNya dalam setiap kebutuhan dan memohon padaNya dalam setiap kepentingan.
    Lalu Allah menjelaskan bahwa diriNya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selainNya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.
    Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama s...
    52 min
  • Hukum Perbedaan Niat Shalat Imam dengan Makmumnya
    Hukum Perbedaan Niat Shalat Imam dengan Makmumnya ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 18 Dzulhijjah 1443 H / 18 Juli 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Masalah-Masalah Yang Berkaitan Dengan Niat Shalat
    Kajian Tentang Hukum Perbedaan Niat Shalat Imam dengan Makmumnya
    Bagaimana apabila ada perbedaan niat antara imam dengan makmum? Apakah ini dibolehkan? Bolehkah misalnya seorang makmum berniat shalat dzuhur di belakang seorang imam yang melakukan shalat ashar? Bolehkah seorang makmum yang melakukan shalat fardu di belakang imam yang melakukan shalat sunnah? Bolehkah seorang yang melakukan shalat sunnah di belakang orang yang melakukan shalat wajib?
    Masalah inti yang berkaitan dengan masalah ini adalah bolehkah antara imam dan makmum berbeda niat? Para ulama yang berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan tidak boleh. Alasannya adalah karena makmum itu diperintahkan untuk mengikuti imamnya, begitu pula dalam niatnya. Maka tidak boleh seorang makmum menyelisihi imamnya dalam niatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنما جُعِلَ الإمام ليِؤُتَمَّ به
    “Imam dijadikan sebagai imam adalah untuk diikuti.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Begitu pula dalam masalah niat, ketika imamnya shalat wajib maka makmumnya harus mengikuti niat imamnya shalat wajib. Jika imam shalat dzuhur, maka niat makmumnya harus sama shalat dzuhur. Ini pendapat sebagian kecil ulama. Di antara mereka adalah ulama-ulama dalam mazhab Hanafi.
    Sedangkan mayoritas ulama membolehkan perbedaan niat antara imam dengan makmumnya. Imam boleh berbeda niat dengan makmum, makmum boleh berbeda niat dengan imam. Dan pendapat yang kedua ini lebih kuat, berdasarkan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
    “Sesungguhnya semua amalan itu berdasarkan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan manfaat (pahala) dari apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ketika imamnya niat shalat wajib, maka yang dia dapatkan adalah shalat wajib dan pahalanya. Ketika makmum niatnya shalat sunnah, maka yang dia dapatkan adalah shalat sunnah dan pahalanya.
    Bagaimana menjawab hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dijadikan oleh sebagian ulama sebagai dalil tidak bolehnya ada perbedaan niat antara imam dengan makmum?
    Maka jawabannya adalah bahwa hadits ini menjelaskan tentang amalan-amalan yang dzahir. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah mengatakan “Imam dijadikan sebagai imam adalah untuk diikuti,” maka beliau mengatakan:
    وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا…
    “Apabila imam tersebut ruku’, maka ruku’lah kalian.”
    Kalau kita lihat konteks hadits ini, kita akan melihat bahwa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah gerakan-gerakan imam yang tampak. Maka sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa “imam dijadikan sebagai imam untuk diikuti” adalah pada hal-hal yang semisal dengan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelahnya, yaitu pada amalan-amalan yang tampak saja. Adapun amalan-amalan yang tidak tampak, maka tidak diperintahkan untuk kita ikuti apabila kita sebagai makmum. Karena kalau seorang makmum diperintahkan untuk mengikuti imam,
    52 min
  • Tidaklah Orang Yang Berzina Saat Dia Berzina Disebut Mukmin
    Tidaklah Orang Yang Berzina Saat Dia Berzina Disebut Mukmin merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 17 Dzulhijjah 1443 H / 17 Juli 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Iman Akan Kembali Ke Kota Madinah

    Kajian Hadits Tidaklah Orang Yang Berzina Saat Dia Berzina Disebut Mukmin
    Kita masuk ke bab لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ (tidaklah orang yang berzina saat dia berzina disebut mukmin).
    Hadits nomor 43:
     عن أَبي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – أنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ “لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ”. وَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يُلْحِقُ مَعَهُنَّ: “وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ”. وَفِي حَدِيثِ هَمَّامٍ: “يَرْفَعُ إِلَيْهِ الْمُؤْمِنُونَ أَعْيُنَهُمْ فِيهَا وَهُوَ حِينَ يَنْتَهِبُهَا مُؤْمِنٌ” وَزَادَ “وَلَا يَغُلُّ أَحَدُكُمْ حِينَ يَغُلُّ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَإِيَّاكُمْ إِيَّاكُمْ”.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah orang yang berzina saat ia berzina dalam keadaan ia mukmin, dan tidaklah orang yang mencuri saat dia mencuri dalam keadaan ia mukmin, dan tidaklah orang yang minum arak saat ia minum arak dalam keadaan ia mukmin.”
    Abu Hurairah menambahkan: “Dan tidaklah seseorang merampok orang yang memiliki kemuliaan dimana manusia memandang mereka dengan pandangan penghormatan ketika ia merampoknya dalam keadaan mukmin.”
    Dan dalam hadits Hammam: “Dan tidaklah seseorang merampok orang yang kaum mukminin memandangnya dengan pandangan penghormatan kepadanya ketika ia merampoknya dalam keadaan mukmin.” Dan ia menambahkan: “Dan tidaklah seseorang dari kalian melakukan ghulul (mengambil harta ghanimah yang belum dibagikan) ketika ia melakukannya dalam keadaan mukmin, maka jauhi oleh kalian.” (HR. Muslim)
    Hadits ini dijadikan dalil oleh orang Khawarij untuk mengkafirkan pelaku dosa besar. Orang-orang Khawarij berdalil dengan hadits ini atas pendapat-pendapatnya yang batil bahwa katanya pelaku dosa besar itu murtad dari agama Islam.
    Orang Khawarij mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan dalam hadits ini: “Tidaklah orang yang berzina saat ia berzina disebut mukmin.” Berarti kata mereka: “Kalau tidak disebut mukmin berarti kafir.” Ini adalah pendapat Khawarij yang menyesatkan, saudaraku.
    Adapun pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwa pelaku dosa besar selama dia tidak meyakini kehalalan dosa tersebut, dia tahu dan yakin bahwa itu haram tapi dia mengikuti hawa nafsu, maka dia fasik belum kafir. Dan dihari kiamat nanti dia dibawah kehendak Allah. Jika Allah kehendaki Allah akan maafkan dia, dan jika Allah kehendaki Allah akan adzab dia.
    Dalil Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang pertama adalah firman Allah:
    إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ…
    “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni yang lebih rendah dari syirik bagi siapa yang Allah kehendaki…” (QS. An-Nisa'[4]: 48)
    Di sini Allah mengatakan bahwa untuk dosa yang lebih rendah dari kesyirikan maka itu d...
    53 min
  • 10 Kunci Kebahagiaan
    10 Kunci Kebahagiaan adalah tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Ashim Al-Qaryuti Hafidzahullah pada Ahad, 17 Dzulhijjah 1443 H / 17 Juli 2022 M.
    Kajian Tentang 10 Kunci Kebahagiaan
    Ada sepuluh kunci di antara kunci-kunci kebahagiaan yang insyaAllah mendatangkan kebaikan yang sangat banyak untuk kita semuanya.
    1. Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar keimanan serta menghambakan diri beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah yang benar, yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena seorang mukmin akan mendapatkan kebahagiaan tatkala dia berusaha berjalan diatas jalan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Tatkala seorang mukmin diuji dengan musibah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia bersabar atas ujian tersebut. Dan dia mengimani kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang orang-orang yang sabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    … إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
    “Bahwasanya orang-orang yang bersabar akan diberikan balasan dengan tanpa hisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Az-Zumar[39]: 10)
    2. Senantiasa berusaha melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah dirinya
    Menit ke- Kita melihat kepada orang-orang di bawah kita baik dalam masalah rezeki, harta, kedudukan, fisik dan perkara-perkara dunia yang lain.
    Tatkala seseorang hanya melihat orang-orang yang dilebihkan dari perkara-perkara dunia, maka hal tersebut akan membawa seseorang kepada jalan sempitnya hati dan kehidupan. Namun tatkala seorang hamba berusaha memperhatikan dan melihat orang-orang yang di bawah tentang perkara-perkara dunia, barulah dia akan merasakan bahwasanya nikmat Allah kepada dirinya sangat besar. Hal ini akan membawa dia untuk mensyukuri nikmat dan tidak mengkufuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan cara itulah seorang hamba akan mampu mendapatkan kelapangan dan kebahagiaan hidup.
    Poin diatas telah diisyaratkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam sabda beliau:
    انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
    “Lihatlah orang yang berada di bawah kamu (dalam perkara dunia), dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu (dalam perkara dunia). Cara seperti itu akan membuat seorang hamba tidak mengecilkan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Maknanya bahwa seorang mukmin tidak boleh mengecilkan nikmat Allah yang Allah berikan kepada dirinya. Dan jangan sampai kita merasa bahwasanya apa yang Allah berikan kepada kita tidak ada nilainya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita kebaikan yang sangat banyak.
    Tatkala seseorang mampu mengamalkan hadits diatas, maka dia akan menjadi seorang hamba yang bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    3. Berbuat baik kepada makhluk
    Menit ke- Di antara kunci kebahagiaan adalah berbuat baik kepada makhluk, baik dengan lisan kita ataupun dengan amal perbuatan.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
    “Dan berinfaklah dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jangan kamu melemparkan dirimu kepada kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah[2]: 195)
    Makna perbuatan baik di sini mencakup hubungan antara seorang hamba dengan Allah Subhanah...
    2 hr 18 min
  • Tetapnya Ilmu Berarti Tetapnya Agama dan Urusan Dunia
    Tetapnya Ilmu Berarti Tetapnya Agama dan Urusan Dunia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis 14 Dzulhijjah 1443 H / 14 Juli 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Orang Berilmu adalah Orang Kepercayaan Allah
    Ceramah Agama Islam Tentang Tetapnya Ilmu Berarti Tetapnya Agama dan Urusan Dunia
    Kita telah sampai pada segi keutamaan dan kemuliaan ilmu yang ke-114. Yaitu tetapnya ilmu berarti tetapnya agama dan urusan dunia kita.
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan di segi keutamaan ilmu ini bahwa sesungguhnya menetapnya agama dan urusan dunia adalah dengan tetap adanya ilmu agama. Ketika ilmu agama hilang, maka dunia dan agama kita juga akan musnah. Karena tiang-tiang utama penopang agama dan urusan dunia kita adalah ilmu agama.
    Imam Abu Abdurrahman Al-Auza’i berkata: “Al-Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri Rahimahullah Ta’ala berkata:
    الاعتصام بالسنة نجاة، والعلم يقبض قبضاً سريعاً، فَنَعشُ العلم ثبات الدين والدنيا، وفي ذهاب العلم ذهابُ ذلك كله
    “Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan, dan ilmu agama akan dicabut dengan cepat pada diri manusia. Maka hidupnya ilmu berarti merupakan pertanda keteguhan agama dan urusan dunia kita. Sedangkan hilangnya ilmu berarti pertanda hilangnya semua hal tersebut (hilangnya dunia dan agama kita).”
    Ini menggambarkan kepada kita tentang bagaimana keutamaan dan kemuliaan ilmu. Bahwa inilah yang menentukan keteguhan agama dan urusan dunia kita bisa berjalan dengan.
    Dalam riwayat lain, dari Ibnu Syihab Az-Zuhri Rahimahullahu Ta’ala, dia berkata: “Sampai kepadaku dari seseorang bahwasannya para ulama dulunya mereka mengatakan ‘Berpegang teguh dengan sunnah itu adalah keselamatan, ilmu agama akan dihilangkan dari diri manusia dengan cepat. Maka hidupnya ilmu berarti keteguhan agama dan berjalannya urusan dunia. Tetapi hilangnya ilmu berarti hilangnya semua itu.”
    Yang jelas ini menunjukkan bahwa tegaknya ilmu merupakan sebab yang menegakkan semua urusan dunia, apalagi urusan agama kita. Jelas sekali ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan ilmu agama.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tetapnya Ilmu Berarti Tetapnya Agama dan Urusan Dunia
    Mari turut membagikan link download kajian “Tetapnya Ilmu Berarti Tetapnya Agama dan Urusan Dunia” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 6 min
  • Cara Meraih Keikhlasan
    Cara Meraih Keikhlasan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 12 Dzulhijjah 1443 H / 12 Juli 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Koreksi Keikhlasanmu Dalam Mendidik Anak
    Cara Meraih Keikhlasan
    Niat yang ikhlas akan memudahkan pekerjaan-pekerjaan ataupun amal-amal yang berat. Dengan ikhlas kita dapat melakukan tugas dan kewajiban dengan baik. Disamping itu ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal.
    Maka di sini kita akan membahas tentang bagaimana kita bisa meraih keikhlasan hingga kita menjadi orang yang mukhlish.
    1. Memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Ikhlas adalah amal hati, maka dari itu kita perlu memohon pertolongan kepada pemilik hati (yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membolak-balikkan hati) agar meluruskan dan meneguhkan hati kita di atas keikhlasan.
    Maka salah satu doa yang diajarkan Nabi adalah:
    يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
    “Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agamaMu (termasuk diatas keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (HR. Tirmidzi)
    Kita perlu minta hal ini kepada Allah. Hati kita berbolak-balik. Maka kita memohon kepada yang membolak-balikkan hati agar meneguhkan hati kita diatas keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    2. Mengetahui buah dari keikhlasan dan bahaya niat yang melenceng
    Menit ke- Ikhlas akan menghasilkan pahala, akan membuahkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan mendatangkan keridhaan dan kecintaan Allah kepada pelakunya. Sedangkan niat yang melenceng ataupun riya’ akan diancam adzab yang pedih.
    Tiga orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat itu berkaitan dengan niatnya yang riya’. Dengan merekalah neraka jahannam akan dinyalakan. Tiga orang itu adalah seorang yang berjihad, menuntut ilmu dan bersedekah. Ternyata mereka melakukan itu bukan karena Allah, tapi karena mengharapkan apresiasi/sebutan di tengah-tengah manusia. Supaya dikatakan pemberani, supaya dikatakan alim, dan supaya dikatakan dermawan. Maka Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.
    Dengan mengetahui buah keikhlasan dan bahaya dari riya’ mendorong kita untuk bersungguh-sungguh untuk memasang niat yang ikhlas dalam setiap amal yang kita lakukan.
    3. Takut terhadap murka Allah
    Menit ke- Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:
    ما خافه إلا مؤمن، ولا أمِنه إلا منافق
    “Tidak ada yang takut kepada Allah kecuali seorang mukmin, dan tidak ada yang merasa aman dariNya (dari siksa dan makar Allah) kecuali seorang munafik.”
    Maka takut terhadap Allah ini adalah sesuatu yang kita harus pelihara di dalam hati. Hendaknya kita menyadari bahwa mengejar pujian Allah itu jauh lebih utama daripada mengejar pujian manusia. Sebagaimana lari dan menghindar dari celaan Allah jauh lebih utama daripada lari dan menghindar dari celaan manusia.
    Pujian dan celaan manusia hanya bersifat sementara dan belum tentu benar. Sedangkan orang yang dicela Allah pasti tercela. Sebaliknya, orang yang mendapatkan pujian dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia pasti meraih keutamaan dan kemuliaan itu.
    Maka seorang mukmin akan berusaha untuk mempersembahkan amal terbaik yang dia lakukan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara hatinya selalu dipenuhi rasa takut dan kekhawatir amalnya itu tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini harus senantiasa kita jaga di dalam beramal supaya...
    47 min
  • Keutamaan Menyegerakan Berbuka
    Keutamaan Menyegerakan Berbuka adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 12 Dzulhijjah 1443 H / 12 Juli 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Hukum Berpuasa Sehari Sebelum Masuknya Bulan Ramadhan
    Keutamaan Menyegerakan Berbuka
    Kita sampai pada باب فضل تعجيل الفطر وما يفطر عليه وما يقوله بعد الإفطار (Bab tentang keutamaan untuk mempercepat berbuka tatkala sudah jelas masuk waktu magrib dan apa yang diucapkan ketika berbuka puasa). Ini semua bagian dari adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika seorang menjalankan puasa.
    عَنْ سَهْلِ بنِ سَعْدٍ، أَنَّ رسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: لاَ يَزالُ النَّاسُ بخَيْرٍ مَا عَجلوا الفِطْرَ متفقٌ عَلَيْهِ.
    Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Umat ini akan senantiasa tetap berada di dalam kebaikan selama mereka mempercepat berbuka (apabila telah masuk waktunya).” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ini adalah salah satu di antara adab-adab dan sunnah-sunnah di dalam berpuasa. Yaitu kita dianjurkan untuk benar-benar berbuka tepat pada waktu telah masuknya waktu maghrib.
    Ini adalah satu bentuk kasih sayang Allah Ta’ala dan RasulNya kepada umat ini. Begitu sudah masuk waktu, langsung berbuka, tidak menunggu-nunggu. Karena ada kelompok sesat yang mereka kalau berbuka menunggu sampai munculnya bintang-bintang. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidaklah demikian. Mereka mengikuti bimbingan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Di dalam hal ini kita melihat bahwa mereka para Sahabat dahulu Radhiyallahu ‘Anhum dan para Salafush Shalih betul-betul menjalankan sunnah-sunnah Nabi dengan sebaik-baiknya. Dan mereka tidak akan menyimpang dari sunnah Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam apabila mengerjakan.
    Jadi kalau umat ini betul-betul mengerjakan tuntunan dan ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka mereka tidak akan tersesat.
    Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لا تَزالُ أُمَّتي على سُنَّتي مالم تَنتظِرْ بفِطْرِها النُّجومَ
    “Umatku ini akan senantiasa berada pada tuntunanku selama mereka tatkala berbuka puasa tidak menunggu sampai munculnya bintang-bintang.” (HR. Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaiman, Al-Hakim)
    Ini berarti bahwa berbuka tepat pada waktunya adalah sunnah Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam.
    Hadits berikutnya:
    وعن أَبي عَطِيَّةَ قَالَ: دخَلتُ أَنَا ومسْرُوقٌ عَلَى عائشَةَ رَضِيَ اللَّه عَنْهَا فقَالَ لهَا مَسْرُوقٌ: رَجُلانِ منْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ كلاَهُمَا لا يَأْلُو عَنِ الخَيْرِ: أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ المغْربَ والإِفْطَارَ، والآخَرُ يُؤَخِّرُ المغْرِبَ والإِفْطَارَ؟ فَقَالَتْ: مَنْ يُعَجِّلُ المَغْربَ وَالإِفْطَارَ؟ قالَ: عَبْدُاللَّه يعني ابنَ مَسْعودٍ، فَقَالَتْ: هكَذَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يصْنَعُ. رواه مسلم.
    Dari Abu ‘Athiyah, dia berkata: “Aku dan Masruq pernah kami masuk menemui Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, maka Masruq berkata kepadanya: ‘Ada dua orang dari sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keduanya tetap dan tidak pernah meremehkan kebaikan, salah satunya mempercepat berbuka (ketika sudah masuk waktu Maghrib), sedangkan yang satu lagi mengakhirkan berbukanya.’
    1 hr 15 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah