Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Riya’ Yang Samar
    Riya’ Yang Samar ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 11 Dzulhijjah 1443 H / 11 Juli 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Riya’ Yang Samar
    Di antara talbis iblis terhadap ahli ibadah yang zuhud adalah riya’ yang samar. Riya’ ada yang nyata (terang-terangan), mudah untuk diketahui dan disadari oleh orang yang paham agama. Contohnya adalah memperlihatkan badan yang kurus, muka yang pucat, rambut acak-acakan. Sehingga dia ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa dia adalah orang yang zuhud. Begitu pula dengan melirihkan suara untuk menampakan kekhusukan hati, mengerjakan shalat karena ingin dilihat orang lain, memberikan sedekah dengan motif memperoleh sanjungan seseorang. Ini semua termasuk riya’ yang nyata.
    Ada pula riya’ yang samar. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang pentingnya niat:
    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى
    “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niat dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan kadar niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Lihat: Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat
    Tugas kita pertama adalah mengikhlaskan niat dan kadar kedua adalah terus meningkatkan kadar keikhlasan kita.
    Kita tahu bahwa saya salah satu di antara syarat diterimanya sebuah amal adalah keikhlasan, lawannya adalah riya’. Nabi pernah mengingatkan kepada kita bahwa: “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang aku lebih khawatirkan menimpa kalian melebihi Al-Masih Ad-Dajjal?”
    Abu Sa’id berkata, “Kami berkata, ‘Iya, tentu kami mau.'” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
    الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
    “Yaitu syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri untuk shalat, dia memperindah shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah)
    Misalnya seseorang memperlama shalatnya, dia tunjukkan seolah khusyuk karena tahu sedang dilihat. Sementara kalau tidak dilihat orang tidak sepanjang itu, tidak selama itu, dan tidak sekhusyuk itu. Maka ini adalah syirik yang tersembunyi.
    Maka niat merupakan salah satu perkara yang harus kita pastikan sebelum beramal. Jangan kita berikan tempat bagi selain Allah di dalam ibadah-ibadah yang kita kerjakan. Nabi mengingatkan kepada kita:
    مَن عَمِلَ عَمَلًا أشْرَكَ فيه مَعِي غيرِي، تَرَكْتُهُ وشِرْكَهُ
    “Barangsiapa yang mengerjakan sebuah amalan, dia sekutukan Aku dengan yang lain di dalam amalan itu, maka Aku tinggalkan dia dan amalan syiriknya.” (HR. Muslim)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberi balasan atas amal riya’nya itu. Maka salah satu tipu daya iblis terhadap orang-orang yang zuhud ini adalah niat di dalam ibadah. Iblis menyeret mereka kepada bentuk-bentuk riya’ yang samar.
    Saat seseorang mengerjakan suatu amalan yang bukan karena Allah, maka Allah perintahkan dia untuk mencari dan meminta balasan kepada orang yang karenanya dia beramal. Malik bin Dinar berkata: “Katakanlah kepada orang yang belum jujur terhadap niatnya: ‘Jangan pernah patah semangat untuk memperbaiki niat.'”
    Inilah yang paling susah untuk diperbaiki. Sebagaimana Sufyan berkata:
    ما عالجت شيئاً أشد عليَّ من نيّتي
    38 min
  • Iman Akan Kembali Ke Kota Madinah
    Iman Akan Kembali Ke Kota Madinah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 10 Dzulhijjah 1443 H / 10 Juli 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Mengingkari Kemungkaran Adalah Konsekuensi Iman

    Kajian Hadits Iman Akan Kembali Ke Kota Madinah
    Kita masuk ke bab  إن الإيمان ليأرِز إلى المدينة (sesungguhnya iman itu akan kembali ke kota Madinah).
    Hadits nomor 38:
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya iman itu akan kembali ke kota Madinah sebagaimana halnya ular yang kembali ke sarangnya.” (HR. Muslim)
    Hadits ini ada dua penafsiran. Penafsiran yang pertama yaitu bahwa Islam berasal dari kota Madinah. Dari kota Madinah lah Islam itu berkembang. Dizaman Abu Bakar, Islam menguasai banyak negeri-negeri. Dizaman Umar lebih luas lagi, di zaman Utsman, zaman Ali, masyaAllah kekuasaan Islam sangat luas sekali. Bahkan sampai Persia hancur. Dan terus kaum muslimin menguasai Negeri Romawi. Lalu kemudian akan terjadi kancuran Islam dimana-mana. Yang kemudian akhirnya iman itu hanya ada di kota Madinah seperti halnya di zaman dahulu. Ini pendapat sebagian ulama.
    Sebagian lagi berpendapat bahwa yang dimaksud hadits iman akan kembali ke kota Madinah artinya seperti yang kita lihat. Dimana kaum muslimin ketika mereka datang untuk umrah, mereka ke kota Mekah, ke kota Madinah, pulang lagi ke negaranya. Dan mereka ingin pergi lagi ke sana. Demikian seperti halnya ular yang keluar dari sarangnya kemudian kembali lagi ke sarangnya. Kemudian keluar lagi mencari makan, lalu kembali lagi. Dan –wallahu a’lam– ini yang lebih mendekati. Namun tidak tidak meniadakan bahwa yang pertama pun kemungkinan besar akan terjadi. Terlebih lagi dizaman Dajjal.
    Dajjal akan menyapu bumi ini dengan kesesatan. Tidak ada satupun tempat kecuali akan didatangi oleh Dajjal. Sampai akhirnya kemudian Dajjal pun mengepung kota Madinah. Dan Dajjal tidak bisa masuk ke Kota Madinah. Hal ini karena kota Madinah saat itu dijaga oleh para malaikat yang menghunuskan pedang-pedangnya. Yang kemudian Allah pun turunkan Nabi Isa Almasih di Damaskus. Yang kemudian Nabi Isa pun mengumkan jihad melawan Dajjal. Nabi Isa pun berhasil membunuh Dajjal di sebuah tempat yang bernama Babul Luth.
    Kita masuk ke bab  الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ (Iman itu Yaman dan hikmah itu Yamaniyyah).
    Hadits nomor 39:
    عن أبي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ سَمِعْتُ رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ جَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَضْعَفُ قُلُوبًا الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ السَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ قِبَلَ مَطْلِعِ الشَّمْسِ.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Telah datang penduduk Yaman. Mereka orang yang paling halus hatinya. Iman itu Yaman dan hikmah itu Yamaniyyah. Ketenangan itu adanya pada pemilik kambing, sedangkan kesombongan dan keangkuhan itu adanya para pemilik unta. Dan fitnah akan muncul dari sebelah timur.'” (HR. Muslim)
    48 min
  • Wasiat Nabi di Ghadir Khum
    Wasiat Nabi di Ghadir Khum adalah kajian tematik yang disampaikan oleh Ustadz Fariq Gasim Anuz Hafidzahullah pada Sabtu, 9 Dzulhijjah 1443 H / 9 Juli 2022 M.
    Wasiat Nabi di Ghadir Khum
    Ghadir Khum adalah nama suatu tempat (lembah yang datar) antara Mekah dan Madinah. Di sana banyak terdapat pepohonan dan juga ada mata air (sumur) di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada tahun ke-10 Hijriyah sepulang dari Haji Wada, beliau singgah dan beristirahat di Ghadir Khum kemudian juga beliau memberikan wasiat kepada para sahabat di sana.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunaikan ibadah haji ditahun ke-10 Hijriyah yang disebut dengan Haji Wada’. Dan itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan ibadah haji seumur hidupnya hanya satu kali.
    Sepulang dari Mekah sekitar tanggal 13/14 Dzulhijjah, beliau bertolak menuju Madinah untuk pulang bersama sebagian sahabat. Jarak antara Mekah dengan Ghadir Khum sekitar 159 Km. Ghadir Khum ini sekarang tidak dilalui oleh para jamaah haji atau umrah.
    Berikut ini khutbah dan wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Ghadir Khum yang dikisahkan oleh Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘Anhu:
    أَمَّا بَعْدُ، أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِىَ رَسُولُ رَبِّى فَأُجِيبَ، وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ، أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ، وَأَهْلُ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى.
    “Amma ba’du, ketahuilah wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku adalah manusia biasa, sudah dekat masanya untuk datang malaikat maut yang akan datang menjemputku dan aku akan menerimanya.
    Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang sangat berharga, yang pertama adalah kitabullah (Al-Qur’an), di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, ambillah (isi) kitabullah dan berpegang teguhlah dengannya.
    Yang kedua, aku tinggalkan kepada kalian Ahlu Baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian (agar bertakwa) kepada Allah dengan (memuliakan dan tidak mendzalimi) keluargakua! Aku ingatkan kalian (agar bertakwa) kepada Allah dengan (memuliakan dan tidak mendzalimi) keluargaku! Aku ingatkan kalian (agar bertakwa) kepada Allah dengan (memuliakan dan tidak mendzalimi) keluargaku!” (HR. Muslim no. 2408)
    Setelah selesai khutbah singkat tersebut, beliau bertanya kepada para sahabat, “Bukankah aku lebih utama bagi kaum mukminin melebihi diri mereka sendiri?”
    Ini adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena sudah tentu para Sahabat akan menjawab: “Tentu Ya Rasulullah.” Para Sahabat penasaran tentang apa yang akan disampaikan setelah itu.
    Lalu beliau menghampiri Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, mengangkatnya untuk berdiri bersama dan menggandeng tangannya lalu beliau bersabda:
    مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيّ مَوْلَاهُ، اللَّهُمّ وَالِ مَن وَالَاهُ وَعَادِمَنْ عَادَاهُ
    “Barangsiapa menjadikan aku sebagai walinya, maka jadikan Ali juga sebagai walinya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintai Ali. Ya Allah musuhilah orang yang memusuhi Ali.” (HR. Imam Ahmad)
    Hadits ini dipertentangkan oleh para ulama kita tentang keshahihannya.
    Ketika Ali menjabat sebagai khalifah, ia pernah mengumpulkan manusia di Rahbah (nama tempat di Iraq), kemudian berkata kepada mereka, “Aku bersumpah dengan nama Allah, setiap muslim yang mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda di Ghadir Khum hendaklah berdiri!” Maka berdirilah tiga puluh orang, mereka menjadi saksi ketika beliau memegang tangan Ali lalu beliau bersabda:
    مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَهَذَامَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَال مَنْ وَالَاهُ وَعَادِمَنْ عَادَاهُ
    “Barangsiapa menjadikanku sebagai walinya maka jadikanlah Ali...
    1 hr 16 min
  • Khutbah Jumat: Fenomena Tauhid Ketika Idul Adha
    Khutbah Jumat: Fenomena Tauhid Ketika Idul Adha ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 8 Dzulhijjah 1443 H / 8 Juli 2022 M.

    Khutbah Pertama Khutbah Jumat: Fenomena Tauhid Ketika Idul Adha
    Sesungguhnya di hari-hari ini adalah hari-hari tauhid. Hari di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala diesakan dan dibesarkan. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kita untuk mentauhidkanNya.
    Lihatlah fenomena tauhid di hari-hari ini. Dimana kita diperintahkan:
    1. Banyak bertakbir
    Yang pertama untuk banyak bertakbir (membesarkan Allah ‘Azza wa Jalla). Sebagaimana dahulu para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperbanyak takbir di 10 awal bulan Dzulhijjah. Demikian pula di hari-hari tasyriq.
    Yang hakikat takbir adalah membesarkan Allah. Dimana Allah yang paling besar, tidak ada yang lebih besar dari Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun selain Allah, maka ia kecil di hadapan Allah.
    Ketika seorang hamba membesarkan Allah, dia meyakini bahwa Allah-lah yang paling besar, maka konsekuensinya adalah dia hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, dan tidak memalingkan ibadah kepada selain Allah ‘Azza wa jalla.
    Ketika seseorang mengucapkan “Allahu akbar (Allah yang paling besar)” maka ia yakin bahwasanya selain Allah tidak berhak untuk disembah karena ia makhluk. Sehebat apapun makhluk, maka sesungguhnya ia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak berhak untuk diibadahi.
    2. Tawaf di Baitullah
    Di antara fenomena tauhid di hari-hari ini adalah kaum muslimin semuanya pergi ke Baitullah, mereka thawaf disana. Dan thawaf itu adalah ibadah agung yang hanya disyariatkan sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa jalla.
    Oleh karena itu para ulama mengatakan siapa yang tawaf di selain Ka’bah maka ia telah berbuat kesyirikan. Allah memerintahkan kita tawaf di Ka’bah bukan untuk menyembah Ka’bah, akan tetapi karena melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Allah yang memerintahkan demikian.
    …وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
    “Hendaklah mereka thawaf di baitul ‘atiq (yaitu Ka’bah).” (QS. Al-Hajj[22]: 29)
    Akan terlihatlah disitu Tauhidullah’ ‘Azza wa Jalla. Dimana mereka tidak mau mempersekutukan Allah dan hanya membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    3. Mengucapkan Talbiyah
    Di hari-hari Mina, kita lihat mereka melempar jumrah aqabah, mereka senantiasa mengucapkan talbiyah:
    لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك
    Ucapan yang dipenuhi dengan Tauhidullahi ‘Azza wa Jalla. Hanya mentauhidkan Allah, dan tidak mempersekutukan Allah, dan berlepas dari berbagai macam kesyirikan.
    4. Menyembelih
    Di antara fenomena-fenomena tauhid, di hari raya nahar, kita disyariatkan untuk menyembelih. Ini memberikan kepada kita sebuah pesan dan kesan bahwasannya sembelihan itu hanya untuk Allah saja.
    Kambing, demikian pula unta, demikian sapi, itu semua adalah ciptaan Allah yang hanya dipersembahkan untuk Allah saja dan tidak diperbolehkan dipersembahkan untuk selain Allah.
    Maka siapa yang menyembelih kambing untuk laut, atau untuk gunung, itu hakekatnya ia telah berbuat syirik kepada Allah ‘Azza wa Jalla, ia telah mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena sesungguhnya sembelihan itu ibadah yang hanya boleh untuk Allah saja.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    14 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 55 – Allah Sayang Kepada Nabi Isa
    Tafsir Ali Imran Ayat 55 – Allah Sayang Kepada Nabi Isa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 7 Dzulhijjah 1443 H / 7 Juli 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 55 – Allah Sayang Kepada Nabi Isa
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
    “Ingatlah ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku mewafatkanmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta mensucikan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kalian dikembalikan, dan Aku putuskan perkara yang kalian perselisihkan’.” (QS. Ali Imran[3]: 55)
    Syaikh Muhammad bin Shalih  Al-Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan tiga penafsiran dari penafsiran ulama tentang makna مُتَوَفِّيكَ.
    Pertama, artinya “Wahai Isa, sesungguhnya aku memegangmu.” Allah pegang dan Allah angkat ke langit sampai akhir zaman.
    Kedua, artinya menidurkanmu (menjadikan kamu tidur). Karena orang yang tidur itu disebut متوفى. Kalau kita lihat surah Az-Zumar ayat 42, demikian juga Al-An’am ayat 60, kita jumpai makna يتوفى artinya menidurkan.
    Ketiga, artinya wafat yang hakiki (betul-betul Allah wafatkan). Allah Subhanahu wa Ta’ala betul-betul mewafatkannya yang kemudian Allah akan menghidupkannya kembali di akhir zaman dan ia turun ke dunia.
    Dari tiga pendapat ini Syaikh berkata bahwa yang shahih adalah Allah menidurkan Isa. Allah ‘Azza wa Jalla ketika menginginkan mengangkat Isa ke langit, Allah tidurkan agar mudah untuk memindahkannya dari bumi ke langit. Memindahkan dari bumi ke langit bukan perkara yang ringan karena begitu jauh jaraknya dan akan menyaksikan perkara-perkara yang luar biasa antara langit dan bumi dan juga di langit. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menidurkan Isa kemudian mengangkatnya dalam keadaan tidur sehingga sampai ke langit.
    Pendapat yang kedua ini tidak bertentangan dengan pendapat yang pertama. Karena akhir dari dua pendapat ini sama. Adapun pendapat yang ketiga bahwasanya ia merupakan kematian yang hakiki adalah pendapat lemah yang dilemahkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَن يُؤْمِنُ بِاللَّ…
    “Ada dari kalangan ahli kitab dia sebelum matinya akan beriman kepada Allah…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 199)
    Maksudnya di ayat ini adalah Isa ‘Alaihis Salam. Ini menunjukkan bahwa Isa belum meninggal. Karena Allah Ta’ala tidak membangkitkan siapapun setelah kematian sehingga dia kekal sebagaimana tentang turunnya Isa ‘Alaihis Salam di akhir zaman.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Tafsir Ali Imran Ayat 55 – Allah Sayang Kepada Nabi Isa

    Radio Rodja 756AM ·
    31 min
  • 10 Hari Awal Dzulhijjah Paling Mulia Sepanjang Masa
    10 Hari Awal Dzulhijjah Paling Mulia Sepanjang Masa adalah ceramah agama dan kajian Islam oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 6 Dzulhijjah 1443 H / 6 Juli 2022 M.

    Kajian Tentang 10 Hari Awal Dzulhijjah Paling Mulia Sepanjang Masa
    Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah sepuluh hari yang agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah:
    وَالْفَجْرِ ‎﴿١﴾‏ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ‎﴿٢﴾
    “Demi waktu fajar, dan demi malam-malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr[89]: 1-2)
    Al-Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Ikrimah Rahimahullahu Ta’ala bahwa yang dimaksud dengan waktu fajar di dalam ayat ini adalah waktu subuh, dan malam-malam sepuluh maksudnya adalah sepuluh hari pertama dibulan Dzulhijjah yang terdapat hari raya Idul Adha.
    Dan orang Arab untuk menyebutkan dari awal sampai akhir biasa menyebutkan akhir saja. Jadi yang dimaksud “demi malam-malam yang sepuluh” adalah “demi siang dan malam yang berjumlah sepuluh hari.” Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً
    “Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim)
    Maksudnya empat puluh malam di sini adalah empat puluh hari siang dan malam.
    Kemudian juga Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanadnya kepada Imam Qatadah bin Di’amah As-Sadusi, “Kami (para tabi’in) sering meriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan ‘malam-malam yang sepuluh’ adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”
    Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Dhuha. Masruq Rahimahullah ditanya tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla والفجر وليال عشر (demi fajar dan demi sepuluh malam), Masruq Rahimahullah mengatakan: “Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah sepuluh hari paling afdhal selama setahun.”
    Dari ayat itu kita bisa ambil tentang keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Yaitu Allah bersumpah dengan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Sisi pendalilannya adalah bahwa Allah Yang Maha Agung tidak bersumpah kecuali dengan yang agung-agung.
    Ayat kedua yang menunjukkan agungnya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ…
    “Dan berdzikirlah kalian seluruhnya dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang berbilang…” (QS. Al-Baqarah[2]: 203)
    Bagaimana penjelasan lengkap ayat ini? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · 10 Hari Awal Dzulhijjah Paling Mulia Sepanjang Masa
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “10 Hari Awal Dzulhijjah Paling Mulia Sepanjang Masa” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya.
    1 hr 27 min
  • Koreksi Keikhlasanmu Dalam Mendidik Anak
    Koreksi Keikhlasanmu Dalam Mendidik Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 5 Dzulhijjah 1443 H / 5 Juli 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Empat Perkara Untuk Menjaga Kesehatan Hati
    Koreksi Keikhlasanmu Dalam Mendidik Anak
    Terkadang ketika kita sedang meluapkan emosi atau marah, tiba-tiba ada yang berkata: “Ikhlas atau tidak?” Seolah-olah disana ada korelasi yang erat antara menahan amarah dengan keikhlasan. Kalau ikhlas kita tidak marah-marah, begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan.
    Oleh karena itu perkara penting berikutnya untuk bisa mengendalikan emosi dalam kesempatan apapun (bukan hanya di dalam mendidik anak) adalah keikhlasan. Artinya di sini mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih ada keutamaan bagi orang-orang yang bisa mengendalikan amarahnya sementara dia mampu untuk melampiaskannya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ.
    “Barangsiapa yang menahan amarahnya sementara dia mampu untuk meluapkannya, maka dia akan dipanggil di hadapan para makhluk kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang diinginkannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
    Ini pahala akhirat tentunya. Maka orang yang ingin meluapkan amarahnya hendaknya mengingat hal ini. Itulah keikhlasan, mengharapkan pahala di sisi Allah, bukan kekuasaan.
    Terkadang seseorang meluapkan amarahnya untuk melampiaskan nafsunya. Dan tentunya kepuasan belum tentu membawa kebahagiaan. Banyak orang yang memuaskan nafsu makan ternyata ujung-ujungnya menyesal karena banyak penyakit. Demikian juga orang yang meluapkan amarah. Sepertinya dia merasa puas, tapi sejurus kemudian dia akan menyesal.
    Maka mengoreksi keikhlasan itu penting. Apalagi di dalam bab mendidik anak. Mendidik anak itu adalah ibadah yang perlu keikhlasan. Orang tua yang tidak mengharapkan wajah Allah akan mudah marah, kecewa, kesel, ataupun jengkel. Karena ibadah yang namanya mendidik anak itu tidak mudah.
    Keikhlasan itu akan membuat segala perkara menjadi ringan. Kalau kita mengerjakan ibadah puasa dengan ikhlas, maka puasa itu sangat ringan. Tapi kalau tidak ikhlas, maka rasanya sangat berat. Shalat malam juga berat. Tapi kalau kita lakukan dengan ikhlas maka akan menjadi ringan. Sedekah itu berat, apalagi tujuannya bukan lillah. Tapi ketika kita bersedekah dengan niat lillah, maka sedekah itu menjadi ringan. Karena keikhlasan itu akan meringankan perkara-perkara berat yang kita lakukan.
    Kita tahu mendidik anak adalah tugas yang berat, dengan ikhlas kita akan bisa memikulnya dengan baik.
    Maka coba tanyakan: “Mengapa saya harus marah? Apa yang saya inginkan dalam mendidik anak? Apa tujuan saya? Sudahkah saya ikhlas hanya mengharap pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala?”
    Dalam mendidik anak ini perlu ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memang capek, tapi ketika kita ingat pahala di sisi Allah, maka yang berat dan membuat capek itu akan menjadi ringan kita pikul.
    Bagaimana kiat-kiat agar bisa ikhlas? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    55 min
  • Hak Orang Tua Atas Anaknya
    Hak Orang Tua Atas Anaknya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin 4 Dzulhijjah 1443 H / 4 Juli 2022 M.
    Kajian sebelumnya: 10 Hak Anak Atas Ayahnya
    Hak Orang Tua Atas Anaknya
    Wajib bagi anak-anak takut kepada Allah dalam urusan orang tua. Karena orang tua memiliki hak-hak yang besar dan hak ini datang setelah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Perlu diketahui bahwa orang tua merupakan sebab yang pertama (setelah Allah tentunya) akan keberadaan kita di dunia ini. Oleh karena itu orang tua memiliki banyak hak yang wajib ditunaikan oleh anaknya.
    1. Pergauli orang tua dengan baik
    Pergauli orang tua di dunia ini dengan baik, mendoakan keduanya, semangat untuk memberikan petunjuk/hidayah kepada keduanya jika keduanya kafir. Ini diambil dari surah Luqman, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ ‎﴿١٤﴾‏ وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ‎﴿١٥﴾
    “Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah, bertambah lemah, kemudian menyapihnya dalam dua tahun. Hendaknya engkau bersyukur kepadaKu dan bersyukur kepada kedua orang tuamu, dan kepadaKu akan dikembalikan. Apabila keduanya memaksa engkau untuk menyekutukanKu dengan sesuatu yang kau tidak memiliki pengetahuan tentangnya, jangan menaati keduanya, dan tetap pergauli keduanya di dunia ini dengan baik, dan ikutilah jalannya orang yang kembali padaKu, kemudian kalian akan dikembalikan padaKu, dan Aku kabarkan kepada kalian tentang apa yang pernah dulu kalian perbuat.” (QS. Luqman[31]: 14-15)
    Contoh dalam hal ini adalah kisah Nabi Ibrahim dengan bapaknya yang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan hal tersebut di Surah Maryam, bisa kita lihat dari ayat 41-47. Bacalah kalimat-kalimat yang keluar dari lisan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, itu semua kalimat yang indah. Menunjukkan bagaimana Ibrahim memiliki adab yang tinggi kepada orang tuanya walaupun orang tuanya kafir. Tidak ada bentak-bentak kepada orang tua. Ini yang harus kita contoh.
    2. Berbakti kepada orang tua
    Menit ke- Berbaktinya anak kepada orang tuanya itu ketika masih hidup dan ketika setelah meninggal. Jadi bagi siapapun yang orang tuanya sudah meninggal, jangan berkecil hati, masih bisa berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ‎﴿٢٣﴾‏ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ‎﴿٢٤﴾‏
    “Rabbmu memerintahkan (mewajibkan) supaya janganlah kalian beriadah kecuali kepadaNya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua. Apabila salah satu dari keduanya atau kedua-duanya sampai lanjut usia berada dalam pemeliharaanmu, jangan sekali-kali mengatakan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepa...
    45 min
  • Hiburan Bagi Yang Tidak Dikaruniai Anak
    Hiburan Bagi Yang Tidak Dikaruniai Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin 4 Dzulhijjah 1443 H / 4 Juli 2022 M.

    Kajian Tentang Hiburan Bagi Yang Tidak Dikaruniai Anak
    Tidak bisa dipungkiri bahwa pasangan suami istri yang normal, tentu sangat menantikan kehadiran anak pasca menikah. Itu sudah merupakan tabiat manusia normal. Pria berharap ada anak yang melanjutkan nasabnya. Wanita berharap bisa menyalurkan naluri keibuannya. Menimang, menyusui, merawat dan mengungkapkan perasaan sayangnya kepada anak.
    Manusia boleh berkehendak. Namun pada akhirnya, kehendak Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Dalam firman-Nya dijelaskan,
    لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
    “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Asy-Syura[42]: 49-50)
    Realita yang termaktub pada ayat di atas bahkan juga dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Nabi Luth ‘Alaihis Salam semua anaknya perempuan, beliau tidak memiliki anak laki-laki. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam tidak memiliki anak perempuan, semua anaknya laki-laki. Nabi Adam ‘Alaihis Salam dan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan Nabi Yahya ‘Alaihis Salam tidak dikaruniai anak. Lihat: Tafsir al-Baghawiy (7/200) dan Tafsîr al-Qurthubiy (18/502).
    Jika para manusia istimewa tersebut di atas saja mengalami kondisi ini, apalagi manusia biasa.
    Ayat barusan ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alîm (Maha Mengetahui) dan Al-Qadîr (Maha Kuasa). Ini menarik untuk kita renungkan. Bahwa Allah menakdirkan beragam macam kondisi orang tua dipandang dari sisi karunia anak; sebab Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang berhak mendapat karunia tersebut dan siapa yang tidak. Selain itu Allah juga Maha Kuasa untuk menakdirkan kondisi yang berbeda-beda tersebut. Lihat: Tafsir Ibn Katsir (7/216).
    Keterangan di atas bukan untuk menghalangi manusia berikhtiar agar mempunyai anak. Selama ikhtiar itu dibenarkan agama. Namun untuk menjelaskan bahwa yang akan menentukan berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut adalah Allah ta’ala.
    Peluang Itu Tidak Punah
    Ternyata tidak memiliki anak di dunia, bukan berarti tidak bisa memilikinya di akhirat. Yang penting ia adalah mukmin dan menjadi ahli surga. Hadits berikut menjelaskan,
    المُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الوَلَدَ فِي الجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي
    “Seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak ia bisa mengandungnya, melahirkannya dan tumbuh besar dalam sesaat, sesuai dengan yang ia inginkan”. (HR. Tirmidziy dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy)
    Ini adalah satu bukti kebenaran firman Allah ta’ala,
    وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
    “Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan hati dan indah (dipandang) mata, serta kalian kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 71)
    Bagaimana pembahasan lengkapnya?
    45 min
  • Khutbah Jumat: Amalah Bulah Dzulhijjah
    Khutbah Jumat: Amalah Bulah Dzulhijjah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 01 Dzul Hijjah 1443 H / 1 Juli 2022 M.

    Khutbah Pertama Khutbah Jumat: Amalah Bulah Dzulhijjah
    Di antara rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya, dijadikannya musim-musim untuk ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dimana ia adalah merupakan kesempatan yang agung dan emas untuk senantiasa kita mendulang pahala yang besar di sisi Allah.
    Di antara musim-musim ibadah itu adalah hari-hari yang sedang kita berada diatasnya. Yaitu 10 awal bulan Dzulhijjah, yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    ما من أيَّامٍ العملُ الصَّالحُ فيهنَّ أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيَّامِ العشرِ
    “Tidak ada hari-hari yang amalan shalih sangat dicintai oleh Allah dari hari-hari 10 (awal bulan Dzulhijjah) ini.” (HR. Bukhari)
    Maka ini adalah merupakan hari-hari yang terbaik di dunia, bahkan lebih baik daripada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan 10 hari awal bulan Dzulhijjah ini. Allah berfirman:
    وَالْفَجْرِ ‎﴿١﴾‏ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ‎﴿٢﴾
    “Demi waktu fajar dan demi 10 malam.” (QS. Al-Fajr[89]: 1-2)
    Dan para ulama tafsir menyebutkan yang dimaksud dengan 10 malam di sini yaitu 10 awal bulan Dzulhijjah.
    Maka kita berusaha menggunakan hari-hari ini untuk memperbanyak ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan ibadah-ibadah ada yang sangat ditekankan sekali di hari-hari ini, di antaranya:
    Memperbanyak dzikir kepada Allah
    Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mengabarkan tentang kemuliaan hari-hari ini, beliau bersabda:
    فأكثِروا فيهنَّ مِن التَّهليلِ والتَّكبيرِ والتَّحميدِ
    “Perbanyaklah di hari-hari tersebut untuk bertahlil, bertakbir dan bertahmid.” (HR. Ahmad)
    Intinya adalah memperbanyak dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun demikian memerintahkan kita agar banyak berdzikir kepada Allah di hari-hari ini. Allah berfirman:
    لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ…
    “Agar mereka menyaksikan manfaat-manfaat dan agar mereka mengingat Allah di hari-hari yang telah diketahui…” (QS. Al-Hajj[22]: 28)
    Ibnu Abbas berkata yang dimaksud dengan “hari-hari yang diketahui” yaitu 10 awal bulan Dzulhijjah.
    Maka dari itulah saudaraku, para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika masuk di awal bulan Dzulhijjah mereka memperbanyak dzikir kepada Allah, terutama takbir. Imam Bukhari berkata: “Adalah Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah di hari-hari awal 10 Dzulhijjah, mereka pergi ke pasar dan bertakbir, sehingga orang-orang pun mengikuti takbir mereka berdua.”
    Saudaraku, inilah hari-hari yang sangat dianjurkan kita banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dzikir itu ibadah yang sangat ringan di lisan kita, akan tetapi pahalanya besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Maka banyak-banyaklah kita mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu akbar, dan dzikir-dzikir yang lainnya, memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim di hari-hari yang sangat mulia ini, sehingga kita bisa mendapatkan pahala yang sangat banyak di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Memperbanyak shalat
    Amalan yang kedua yaitu memperbanyak shalat, baik itu shalat sunnah rawatib ataupun shalat-shalat sunnah yang lainnya. Karena sesungguhnya ia adalah sebaik-baik amal.
    14 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah