Jadilah Pejuang di Jalan Allah adalah kajian tematik yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah pada Sabtu, 3 Rajab 1443 H / 5 Februari 2022 M.
Jadilah Pejuang di Jalan Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, jikalau kalian menolong Allah niscaya Allah Tabaraka wa Ta’ala pasti akan menolong kalian dan akan mengokohkan kaki-kaki kalian.” (QS. Muhammad[47]: 7)
Maksud “mengokohkan kaki” adalah agar tetap berada di atas kebenaran di dunia, alam barzakh, dan akhirat.
Di dalam ayat yang mulia ini Allah Tabaraka wa Ta’ala menyuruh manusia untuk menolong Allah. Dan kalimat “menolong Allah” langsung bisa dipahami maksudnya adalah berjuang untuk menegakkan agama Allah. Bukan menolong Allah seperti menolong makhluk. Karena sesuatu yang sangat difahami bahwa Allah tak butuh pertolongan siapapun.
Yang sering ditanyakan kepada kita adalah bagaimana praktek menolong agama Allah? Maka jawabnya adalah kembalikan kepada kaum yang sudah direkomendasi menolong agama Allah, yaitu Muhajirin dan Anshar. Kalau ingin tahu bagaimana menolong agama Allah adalah bagaimana para sahabat Muhajirin dan Anshar menolong agama Allah, seperti itulah menolong agama Allah yang benar.
Para sahabat yang jelas-jelas menolong agama Allah mulai dari awal kota Mekkah dan Madinah, sampai Rasul kita tercinta Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan umatnya untuk menghadap Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dan bersama merekalah Rasul kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegakkan agama Allah di permukaan bumi ini.
Awal daripada sifat sang penolong agama Allah dan para pejuang-pejuang Allah adalah jujur.
1. Jujur
Jujur adalah sifat pertama kalau Anda ingin menjadi pejuang agama Allah. Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di hadapan mereka ada dua pilihan, yaitu mengucapkan syahadat dengan penuh kejujuran dan berjalan di atas konsekuensi syahadat atau tidak mengucapkan kalimat itu dan memendamnya di dalam hati dan tetap berada diatas agama nenek moyang. Dan inilah kondisi fase Mekkah.
Oleh karena itu divase Mekkah hanya ada dua kelompok manusia, yaitu mukminun dan kafirun, tidak ada munafiqun di tengah-tengah mereka. Yang berani mengucapkan syahadat adalah orang-orang jujur, yang ketika berani mengucapkannya berani menanggung resiko dan konsekuensi pahit dari berani mengucapkan syahadat.
Maka para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam para pejuang agama Allah, semua mereka orang yang jujur, orang yang tidak pernah berdusta. Sebanyak itu para sahabat Nabi, sebanyak itu para pejuang Islam bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak ditemukan mereka sengaja satu kali berdusta.
Maka kalau ingin berjuang untuk agama Allah, masing-masing kita introspeksi diri dengan kejujuran kita. Para pendusta jangan pernah mengira dirinya pejuang agama Allah.
Ketika kita berjuang ingin menegakkan agama Allah, jadilah orang yang jujur. Dan Allah menyuruh kita untuk menjadi orang yang jujur. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan jadilah kalian orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah[9]: 119)
2. Berkorban dan Berjuang
Sifat sahabat yang sangat dominan berikutnya adalah berkorban dan berjuang. Allah Tabaraka wa Ta’ala abadikan di dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr:
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ ﴿٨﴾ وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ ه...