Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Bukan Pilah-Pilih Semaunya
    Bukan Pilah-Pilih Semaunya merupakan bagian dari kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 2 Jumadil Akhir 1444 H / 26 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Bukan Pilah-Pilih Semaunya
    Salah satu keindahan ajaran Islam adalah sangat bervariasinya amalan yang diajarkan di dalam Islam. Amalan yang diajarkan dalam Islam itu bermacam-macam, sangat beragam. Saking banyaknya, ada seorang ulama besar yang bernama Imam Al-Baihaqi Rahimahullahu Ta’ala, beliau berupaya untuk mengumpulkan amalan-amalan itu dalam sebuah buku. Buku itu beliau beri judul Al-Jami’ Li Syu’abil Iman (himpunan cabang-cabang keimanan). Buku itu tebalnya adalah dari ujung tangan kanan sampai ujung tangan kiri.
    Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Islam memberikan alternatif amalan yang sangat banyak kepada kita? Jawabannya adalah karena potensi satu manusia dengan manusia yang lain berbeda-beda. Ada yang punya potensi harta (yaitu orang-orang kaya), ada yang potensinya pada tenaga (miskin tapi kuat fisiknya), ada yang potensinya ilmu (uang tidak punya, tenaga biasa saja, tapi punya ilmu yang banyak), ada juga yang potensinya jabatan (misalnya sekali tanda tangan maka diskotik ditutup).
    Karena potensi satu orang dengan orang yang lainnya berbeda-beda, maka di dalam agama kita diberikan alternatif amalan yang sangat banyak. Bagi yang hartanya melimpah, selain zakat yang memang sifatnya wajib, dia masih bisa menggunakan hartanya untuk beramal dengan amalan-amalan yang modalnya harta seperti sedekah, qurban, umrah, haji, dll.
    Jadi kenapa Islam memberikan alternatif amalan yang sangat banyak? Karena potensi satu orang dengan orang yang lain itu berbeda-beda. Semuanya bisa masuk surga menggunakan potensi yang dimilikinya masing-masing.
    Tapi amalan-amalan yang sebanyak itu tadi tidak satu level. Justru bertingkat-tingkat levelnya. Jika boleh diumpamakan, Islam ibarat sebuah bangunan. Ada bagian-bagian pokok yang mutlak harus ada dalam sebuah bangunan, tanpa keberadaannya, bangunan tidak bisa berdiri, semisal pondasi dan tiang. Ada pula bagian yang harus ada, namun bila tidak terpenuhi, bangunan itu tetap bisa berdiri, contohnya tembok dan atap. Serta ada elemen penyempurna yang ‘sekedar’ membuat bangunan itu semakin indah dan nyaman, semisal ventilasi udara dan keramik lantai.
    Bagian ajaran Islam yang paling tinggi adalah Rukun Iman dan Rukun Islam. Selanjutnya adalah amalan yang hukumnya fardhu ‘ain (wajib atas masing-masing dari kita), semisal birrul walidain dan belajar ilmu agama. Lalu amalan yang hukumnya fardhu kifayah, seperti berdakwah. Kemudian amalan yang hukumnya sunnah, semisal membaca shalawat di luar shalat dan puasa Senin-Kamis.
    Islam adalah agama yang rapi, teratur dan tidak asal-asalan. Islam mengajarkan pada kita untuk senantiasa memperhatikan skala prioritas dalam beramal. Diumpamakan seperti membangun rumah, maka yang akan digarap pertama kali adalah pondasi, bukan atap, apalagi ventilasi udara.
    Muslim yang cerdas akan memprioritaskan perbaikan akidah terlebih dahulu, sebab itu adalah pondasi dalam beragama. Dia mempelajari Rukun Iman dengan benar. Lalu berikutnya ia mengamalkan Rukun Islam. Selanjutnya ia menjalankan amalan-amalan wajib lainnya. Baru kemudian ia menambahkan amalan yang sunnah.
    Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,
    وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
    “Taqarrub yang paling Aku cintai dari hamba-Ku adalah yang Aku wajibkan atasnya. Selanjutnya ia menambahkan yang sunnah, hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
    Tidak Boleh Semaunya
    Jadi dalam beramal, kita tidak boleh pilah-pilih semaunya.
    49 min
  • Syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 1 Jumadil Akhir 1444 H / 25 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Waspada Terhadap Pemikiran Khawarij

    Kajian Hadits Tentang Syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Hadits 93:
    عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – قَالَ قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوَّلُ شَفِيعٍ في الْجَنَّةِ لَمْ يُصَدَّقْ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ مَا صُدِّقْتُ وَإِنَّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيًّا مَا يُصَدِّقُهُ مِنْ أُمَّتِهِ إِلَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ.
    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku adalah yang pertama kali memberi syafa’at di surga. Tidak ada seorang Nabi pun yang dibenarkan seperti halnya diriku. Dan sesungguhnya di antara para Nabi ada yang tidak dibenarkan oleh umatnya sama sekali, kecuali hanya orang-orang seorang laki-laki.” (HR. Muslim)
    Disebutkan dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku akan mendatangi pintu surga…” Kemudian malaikat penjaga pintu berkata: “Kamu siapa?” Kata Rasulullah: “Aku Muhammad.” Malaikat itu berkata: “Aku diperintahkan tidak boleh membuka pintu surga untuk selain engkau.”
    Ini menunjukkan akan keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ternyata pintu surga tidak akan dibuka kecuali kalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang minta.
    Sebagian ulama berkata bahwa yang dimaksud أَنَا أَوَّلُ شَفِيعٍ artinya memberi syafaat agar orang-orang yang ada di dalam surga dinaikkan derajatnya.
    Hadits ini juga menunjukkan tentang penetapan akan adanya syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana telah kita sebutkan pada pertemuan kemarin, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diberikan oleh Allah syafaat.
    Tentunya untuk mendapatkan syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam syaratnya satu, yaitu wafat diatas tauhid. Sebagaimana dalam hadits:
    أَتَانِى آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّى فَخَيَّرَنِى بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِى الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِىَ لِمَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا
    “Telah datang kepadaku malaikat dari sisi Rabbku, lalu memberikan pilihan kepadaku: antara separuh umatku akan dimasukkan surga atau syafaat. Maka saya memilih syafaat, dan syafaatku itu hanyalah untuk orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah sedikitpun juga.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban)
    Subhanallah, inilah syaratnya. Maka dari itu orang yang berbuat syirik tidak mendapat syafaat. Orang yang meminta syafaat kepada mayat (bahkan kepada Rasulullah sekalipun) adalah termasuk kesyirikan. Karena pada dasarnya syafaat itu milik Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak bisa memberikan syafaat kecuali dengan izin Allah.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا
    “Katakan: ‘Syafaat itu hanyalah milik Allah seluruhnya.'” (QS. Az-Zumar[39]: 44)
    Para Nabi dan malaikat memberikan syafaat setelah mendapatkan izin dan ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِ...
    52 min
  • Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid
    Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 27 Jumadil Awal 1444 H / 21 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid
    Menit ke- Demi Allah, dari pintu inilah (terlalu berlebihan terhadap orang-orang shalih, terutama menjadikan kuburan orang-orang shalih sebagai masjid) masuk syaitan kepada para penyembah Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Dan juga dari pintu inilah masuk syaitan kepada para penyembah berhala dari mereka mengerjakan itu sampai hari kiamat. Maka sebenarnya orang-orang musyrik mengumpulkan antara sikap terlalu berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih dan mencela metode orang-orang shalih.
    Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada ahli tauhid (orang-orang yang beribadah ikhlas hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk meniti jalan para Nabi beserta orang-orang shalih. Dan mendudukkan para Nabi dan orang-orang shalih pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka (berupa kehambaan). Dan menanggalkan kekhususan peribadatan dari orang-orang shalih tersebut.
    Syaikhul Islam Ibnu Tahimiyyah Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa sesungguhnya para sahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum tidak membangun di sekitar kuburan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai masjid. Yaitu ketika mereka mengetahui kerasnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hal itu dan pelaknatan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap orang yang mengerjakannya.
    Dan disebutkan dalam perkataan, bahwa setiap tempat yang dimaksudkan shalat di dalamnya maka sudah menjadikan tempat tersebut sebagai masjid. Maksudnya adalah meskipun tidak dibangun bangunan seperti masjid. Akan tetapi setiap tempat yang digunakan untuk shalat maka dinamakan sebagai masjid. Sebagaimana jika ada orang datang lalu bagi siapa yang ingin shalat dia meletakkan shalat di tempat tersebut tanpa bermaksud menjadikan kekhususan tempat tersebut. Maka dengan mengerjakan shalat tersebut, itu sudah disebut sebagai masjid.
    Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    جُعِلَتْ لي الأرْضُ مَسْجِدًا وطَهُورً
    “Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan suci.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Dinamakan tanah sebagai masjid, diperbolehkan shalat di setiap bagian dari tanah tersebut. Kecuali yang dikecualikan dari tempat-tempat yang tidak diperbolehkan untuk shalat di dalam, seperti kuburan dan yang semisalnya.
    Imam Al-Baghawi Rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Syarh As-Sunnah, “Ahlul kitab tidak dibolehkan bagi mereka untuk shalat kecuali di tempat jual-beli dan gereja-gereja mereka. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan untuk umat ini shalat dimanapun berada sebagai keringanan dan kemudahan. Kemudian Allah mengkhususkan dari seluruh tempat-tempat (yang tidak diperbolehkan untuk shalat) adalah kamar mandi, kuburan dan tempat-tempat yang najis.”
    Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu secara marfu’:
    إِنّ مِنْ شِرَارِ النّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُمُ السّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ، وَالّذِيْنَ يَتّخِذُوْنَ الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ
    “Sesungguhnya, termasuk manusia yang paling buruk adalah orang yang masih hidup saat hari kiamat tiba, dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.” (HR. Abu Hatim dalam kitab shahihnya).
    Telah lewat di dalam hadits-hadis yang shahih bahwa perbuatan ini adalah perbuatan kaum Yahudi dan Nasrani.
    59 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 68 – Orang-Orang Yang Dekat dengan Nabi Ibrahim
    Tafsir Ali Imran Ayat 68 – Orang-Orang Yang Dekat dengan Nabi Ibrahim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 21 Jumadil Awal 1444 H / 15 Desember 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 68 – Orang-Orang Yang Dekat dengan Nabi Ibrahim
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ ‎
    “Sesungguhnya manusia yang paling dekat dengan Nabi Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman (kepada Nabi Muhammad).” (QS. Ali ‘Imran[3]: 68)
    Ayat yang mulia ini merupakan pemutus antara tiga agama (yakni Yahudi, Nasrani dan Islam). Mereka inilah yang paling dekat dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dan yang paling berhak mengaku sebagai orang yang mengikuti beliau.
    Derajat Kedekatan
    Menit ke- Di ayat ini ada dalil bahwa keutamaan-keutamaan kedekatan itu berbeda. Maksudnya bahwa manusia itu berbeda dari sisi keutamaan dan kedekatannya. Di ayat ini disebutkan bahwa ada yang utama dan ada yang lebih utama lagi.
    Manusia yang paling dekat dengan Ibrahim adalah yang mengikuti Nabi Ibrahim di masanya. Maksudnya adalah kaum yang mengikuti dalam pokok dan cabang-cabang agama. Oleh karena itu Allah dahulukan di ayat yang mulia ini dengan firmanNya: “Sebelum Nabi dan orang-orang yang beriman.”
    Kemudian Allah menyebutkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman, setelah Allah menyebutkan pengikut Nabi Ibrahim. Hal ini karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman tidak mengikuti Ibrahim dari sisi cabang syariat, adapun dari ushulnya mengikuti. Allah berfirman dalam surah Al-Maidah:
    …لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا…
    “Setiap mereka Kami jadikan di antara kalian syariat dan manhaj tersendiri.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 48)
    Tetapi mereka mengikuti pada pokok agama dan dari sisi penyerahan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
    Padahal kita tahu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentunya lebih utama dari para pengikut Nabi Ibrahim, bahkan pengikut Nabi Muhammad juga lebih utama dari pengikut Nabi Ibrahim.
    Kemuliaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya
    Ayat ini menjelaskan kemuliaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang beriman bersama beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena mereka adalah manusia yang paling dekat dengan Ibrahim. Dimana para umat itu mengklaim bahwa mereka yang paling dekat dengan Ibrahim.
    Subhanallah.. Orang Islam meskipun tidak mengaku-ngaku, mereka disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling dekat dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    52 min
  • Jangan Memukul Wajah
    Jangan Memukul Wajah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 26 Jumadil Awal 1444 H / 20 Desember 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Prinsip dan Kaidah dalam Memukul Anak
    Jangan Memukul Wajah
    Pada kajian sebelumnya kita sudah membahas 6 poin prinsip dan kaidah dalam memukul anak. Poin selanjutnya adalah:
    7. Menit ke- Tidak boleh memukul bagian-bagian tubuh yang vital. Contohnya wajah, kepala, leher, dada (apalagi dada sebelah kiri), perut, atau kemaluan.
    Maka ini adalah bagian-bagian yang tidak boleh dipukul. Hindari memukul bagian-bagian tubuh tersebut.
    Kita lihat sebagian orang tua atau guru menampar anak murid pada bagian wajah. Ini tidak dibenarkan, apapun kesalahan anak itu, bagaimanapun kita marah ataupun jengkel. Karena terhadap musuh saja kita tidak boleh memukul wajah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarangnya.
    لا تضرب الوجه فإن الله خلق آدم على صورته
    “Janganlah kamu pukul wajah, karena Allah menciptakan Adam dengan bentuknya.” (HR. Muslim)
    Wajah itu suatu yang mulia, maka jangan dirusak. Tidak boleh kita pukul, hingga musuh sekalipun. Dan juga berbahaya memukul bagian wajah. Berapa banyak orang tua yang terlanjur melakukannya lalu ia sangat menyesal setelah kemarahannya mereda. Maka dalam hal ini Nabi berkata:
    إذا ضرب أحدكم فليتق الوجه
    “Apabila salah seorang dari kamu memukul (yaitu mau menegakkan hukum dengan memukul), maka janganlah memukul wajah.” (HR. Abu Dawud)
    Jangan memukul wajah, itu bagian yang dihormati pada manusia. Wajah yang rusak akan menyebabkan suatu mudharat yang besar. Adapun bagian tubuh lain masih bisa disembunyikan, tapi wajah bagaimana seseorang bisa menyembunyikannya?
    Apalagi pada wajah terletak otak bagian depan. Kalau terjadi kerusakan pada bagian otak depan ini maka orang itu bisa kehilangan hidupnya (walaupun dia hidup). Karena dia tidak bisa menggunakan otak bagian depan yang itu berfungsi untuk menimbang, rasa malu, kemauan dan bagian-bagian penting lainnya dari fungsi otak.
    Pernah didatangkan seseorang yang mabuk kepada Ali bin Abi Thalib. Maka beliau berkata: “Pukullah orang ini, dan berikan setiap anggota badan haknya.” Artinya pukul dia, tapi jangan memukul wajah dan kemaluan. Padahal ini hukum hudud, tidak boleh juga kita memukul wajah atau bagian-bagian tubuhnya yang penting. Lihatlah bahwa hukum hudud itu bukan untuk merusak orang itu.
    Jangan memukul ketika marah
    8. Menit ke- Sebagai orang tua yang ingin memberikan peringatan kepada anak, kalau pada waktu itu kita marah, maka jangan melakukan pukulan dulu. Ini berlaku kepada anak dan juga istri.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Jangan Memukul Wajah
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Jangan Memukul Wajah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    48 min
  • Bab Nama Hazn (Keras)
    Bab Nama Hazn (Keras) adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 25 Jumadil Awal 1444 H / 19 Desember 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Bab Nama Hazn (Keras)
    Kita sampai pada باب حزن (keras/sulit/susah). Bangsa Arab dahulu memberikan nama kepada putra-putra mereka adalah untuk menghadapi musuh-musuh. Sehingga orang kalau dengar namanya saja sudah takut.
    Ada yang berkata “apa arti sebuah nama?” Padahal nama akan berdampak kepada kehidupan seseorang. Di sini Al-Imam Bukhari menyebutkan hadits:
    حَدَّثَنَا عَلِيٌّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ: أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَا اسْمُكَ؟» قَالَ: حَزْنٌ، قَالَ: «أَنْتَ سَهْلٌ» ، قَالَ: لَا أُغَيِّرُ اسْمًا سَمَّانِيهِ أَبِي.
    قَالَ ابْنُ الْمُسَيِّبِ: فَمَا زَالَتِ الْحُزُونَةُ فِينَا بَعْدُ
    Dalam hadits ini disebutkan bahwa Sa’id Ibnul Musayyib (tokoh dari kalangan tabi’in), dia meriwayatkan dari bapaknya (Musayyib), dia meriwayatkan dari kakeknya. Bahwasannya kakeknya mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu Nabi berkata kepada kakeknya: “Siapa namamu?” Kata kakeknya: “Namaku Hazn.” Nabi merubah namanya dengan berkata: “Engkau Sahl (mudah).” Kakeknya berkata: “Aku tidak akan merubah nama pemberian bapakku.”
    Hadits ini menunjukkan bahwasanya di dalam agama, boleh seorang anak merubah nama pemberian bapaknya dan tidak perlu mengadakan sebuah ritual selamatan. Kalau namanya memang buruk dan seharusnya diganti maka diganti saja. Nabi merubah secara langsung.
    Tapi orang ini tidak mau diganti? Dia sudah mendapat bagian dari namanya. Orang ini susah diberi tahu, nasihat dan pencerahan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengganti namanya. Dan tentunya tidak ada nama yang lebih baik daripada pemberian Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibanding dengan nama pemberian orang tua.
    Maka Sa’id bin Al-Musayyib berkata bahwa karakter keras ada di keluarganya, sejak nama kakeknya tidak mau di rubah. Sehingga nama itu berdampak kepada anak dan cucunya.
    Berkaitan dengan Sa’id, dia adalah sosok ulama yang berkompeten dalam keilmuannya, dan dia juga sosok ulama yang ahli ibadah. Diriwayatkan bahwa Sa’id pernah berkata:
    مَا فَاتَتْنِي الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ مُنْذُ أَرْبَعِينَ سَنَةً
    “Aku tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah sejak 40 tahun.”
    Bagaimana kajian lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Bab Nama Hazn
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Bab Nama Hazn (Keras)” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 21 min
  • Kekeliruan Kaum Sufi dalam Hal Makanan dan Minuman
    Kekeliruan Kaum Sufi dalam Hal Makanan dan Minuman ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 25 Jumadil Awal 1444 H / 19 Desember 2022 M.

    Kajian Tentang Kekeliruan Kaum Sufi dalam Hal Makanan dan Minuman
    Pada kajian sebelumnya kita sudah sampaikan penukilan dari beberapa tokoh-tokoh sufi bagaimana mereka membatasi diri dari makanan. Ada yang tidak makan kecuali makanan yang kasar-kasar, ada yang tidak minum selama beberapa waktu, ada yang tidak minum air dingin, ada yang tidak memakan daging dan banyak lagi penukilan-penukilan lainnya dari yang ringan sampai yang ekstrem seperti tidak makan dan minum berhari-hari.
    Ibnu Al-Jauzi memberikan penjelasan tentang kekeliruan kaum sufi di dalam masalah tersebut. Bahwa perilaku yang dinukil dari kaum sufi tersebut tidak boleh dilakukan. Itu tidak benar dan tidak sesuai dengan syariat. Karena akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Di sisi lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan manusia dengan menganugerahkan makanan. Allah tumbuhkan makan-makanan di muka bumi ini untuk manusia.
    هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا …
    “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu…” (QS. Al-Baqarah[2]: 29)
    Allah menumbuhkan gandum dan beras itu untuk diri mereka, sedangkan kulitnya untuk makanan ternak, bukan sebaliknya. Adapun mereka kaum sufi ini memakan yang kasar dan menghindari gandumnya. Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan gandum itu untuk manusia, sementara kulitnya untuk makanan hewan ternak. Maka tidak sepatutnya manusia menyaingi hewan ternak dengan misalnya memakan jerami atau kulit gandum yang kasar.
    Lagi pula, gizi apa yang terdapat pada kulit gandum itu? Tentunya tidak ada kandungan gizinya. Ini tentunya akan memudharatkan tubuh mereka. Jadi untuk mencapai tingkat kezuhudan bukan dengan cara menyiksa diri seperti itu.
    Sikap-sikap seperti ini tidak boleh dilakukan oleh seorang manusia. Terlebih lagi muslim. Dan hal-hal semacam ini terlalu mudah untuk dibantah. Apalagi yang ekstrem, seperti misalnya tidak makan dan minum selama berhari-hari. Secara akal sehat saja tidak mungkin manusia bisa bertahan hidup berhari-hari tanpa minum.
    Abu Hamid Al-Ghazali menuturkan dari kaum sufi, bahwa shalat yang dilakukan sambil duduk karena tidak mampu berdiri akibat lapar lebih utama daripada shalat yang dilakukan sambil berdiri saat mampu karena sudah makan. Lihat bagaimana statement mereka. Padahal salah satu rukun shalat adalah berdiri. Dan seorang mencukupi kebutuhan dirinya supaya dia bisa mengerjakan ibadah dengan sempurna, yaitu dia shalat berdiri. Sementara dia mampu untuk mencukupi kebutuhan dirinya hingga dia mampu berdiri. Sementara kaum sufi ini sengaja melaparkan diri sehingga mereka tidak mampu berdiri hingga shalat sambil duduk.
    Tentunya berbeda kalau kita tidak mampu berdiri lalu shalat duduk dengan sengaja menyiksa diri sehingga tidak mampu berdiri hingga memilih untuk duduk.
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ini adalah sebuah kekeliruan. Yang benar adalah saat seseorang makan dan minum demi menguatkan tubuh agar mampu berdiri saat ibadah, maka hukum makannya adalah ibadah/ketaatan. Karena dia lakukan itu agar dia bisa mengerjakan kewajiban. Makannya terhitung ibadah sebab makan itu telah membantunya dalam melaksanakan ibadah dengan sempurna.
    Ada aktivitas-aktivitas duniawi yang apabila kita lakukan justru mendapat pahala. Salah satu contohnya disebutkan Nabi adalah jima’...
    33 min
  • Doa Saat Terjaga Ditengah Malam
    Doa Saat Terjaga Ditengah Malam merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 25 Jumadil Awal 1444 H / 19 Desember 2022 M.
    Lihat sebelumnya: Doa Memasrahkan Diri Kepada Allah Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Doa Saat Terjaga Ditengah Malam
    Salah satu bukti kesempurnaan ajaran agama Islam adalah panduan hidup yang sangat lengkap. Selama ini banyak di antara kita tahunya doa sebelum dan bangun tidur. Banyak di antara kita belum tahu bahwa nglilir (terjaga) pun ada doanya. Ini menunjukkan betapa sempurnanya ajaran Islam.
    Rata-rata dari kita begitu terbangun, maka tidur lagi setelah menyelesaikan hajatnya. Sangat jarang di antara kita begitu terjaga di malam hari membaca doa yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini. Padahal doa ini memiliki keistimewaan yang luar biasa.
    Doa Saat Terjaga Ditengah Malam
    لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
    “Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah satu-satuNya, tidak ada sekutu bagiNya. MilikNya lah kekuasaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah. Maha suci Allah. Tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah. Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.”
    Dalil yang menjadi landasan doa ini adalah sebuah hadits dari seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bernama Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    “مَنْ تَعَارَّ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ: “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“ ثُمَّ قَالَ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي“ أَوْ دَعَا؛ اسْتُجِيبَ لَهُ، فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى؛ قُبِلَتْ صَلَاتُهُ“.
    “Barang siapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca Lâ ilâha illallôh wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alâ kulli syai’in qodîr. Alhamdulillâh, wa subhânallôh, wa lâ ilâha illallôh, wallôhu akbar, wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh. Lalu dia berkata, “Ya Allah ampuni aku” atau membaca doa yang lainnya; maka doanya akan dikabulkan. Dan apabila kemudian dia berwudhu lalu shalat, maka shalatnya akan diterima.” (HR. Bukhari)
    Ini adalah keistimewaan luar biasa yang dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi orang yang mengamalkan doa tersebut.
    Bagaimana kandungan dan makna dari doa ini? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Fikih Doa dan Dzikir – Doa Saat Terjaga Dite...
    50 min
  • Karamah Wali Disebabkan Iman dan Takwa
    Karamah Wali Disebabkan Iman dan Takwa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 4 Dzulqa’idah 1443 H / 04 Juni 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Karamah Para Wali
    Karamah Wali Disebabkan Iman dan Takwa
    Pada kajian sebelumnya telah kita sebutkan bahwa syarat wali adalah iman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melaksanakan yang wajib-wajib dan yang sunnah-sunnah. Hal ini sesuai dengan hadits wali:
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ. وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sungguh Allah berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku umumkan perang kepadanya. Dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan atas dia. Dan hambaKu masih terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya. Dan kalau Aku sudah mencintainya, maka pendengarannya yang dengannya dia mendengar sesuai dengan keinginanKu, matanya yang dengannya dia melihat juga sesuai dengan keinginanKu, tangannya yang dengannya dia memegang dengan kuat juga berjalan sesuai dengan keinginanKu, dan kakinya yang dengannya dia berjalan itu juga sesuai dengan keinginanKu. Dan kalau seandainya dia meminta, niscaya Aku akan beri. Dan kalau seandainya dia meminta perlindungan maka Aku akan berikan perlindungan.’” (HR. Bukhari)

    Lihat: Hadits Arbain Ke 38 – Wali Allah Adalah Orang-Orang Yang Beriman dan Bertakwa
    Tidak disyaratkan bagi seorang wali ‘ishmah (kemakshuman). Artinya seorang wali tidak makshum. Karena yang makshum para Nabi dan Rasul. Dan seorang Nabi lebih mulia dari seluruh wali yang ada. Kitsoua tidak boleh mengutamakan wali atas Nabi.
    Disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, bahwa karamahnya para wali Allah diperoleh dengan sebab barakah dia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ketika seseorang mendapatkan karamah, maka itu sebagai cobaan/ujian untuknya. Apakah dia istiqamah atau tidak? Bukan kemudian dia ujub dengan karamah itu.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata bahwa sesungguhnya puncaknya karamah adalah dengan tetap istiqamah dalam iman dan ketaatan kepada Allah. Artinya kalau dia pernah mendapatkan demikian, maka dilihat sesudahnya. Apakah tetap dia taat kepada Allah atau tidak? Kalau dia ujub, maka itu membinasakan dia.
    Bagaimana karamah para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Mari download dan simak
    3 min
  • Khutbah Jumat: Memperhatikan Niat
    Khutbah Jumat: Memperhatikan Niat ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 22 Jumadil Awal 1444 H / 16 Desember 2022 M.

    Khutbah Pertama: Memperhatikan Niat
    Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan niat perkara yang agung di sisiNya. Niat sangatlah urgent dan sangat terpenting sekali untuk kita perhatikan. Karena dengan niat kita bisa mendapatkan pahala besar, dan dengan niat pula kita bisa mendapatkan pahala yang kecil. Sebagian ulama berkata:
    رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
    “Berapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya. Dan berapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niatnya.”
    Bahkan sebagian ulama mengatakan:
    نِيَّةُ المُؤمنِ خَيرٌ مِن عَمَلِهِ
    “Niat seorang mukmin itu lebih baik daripada amalnya.”
    Karena ketika niat itu betul-betul kita luruskan karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka itu sangat berpengaruh untuk amal shalih kita. Tapi ketika kita tidak mengikhlaskan niat, niat kita bengkok tidak mengharapkan wajah Allah, niat kita mengharapkan dunia, maka itu menjadi malapetaka untuk hidup kita.
    Allah Ta’ala berfirman dalam surah Hud ayat 15-16:
    مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ‎﴿١٥﴾‏ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ‎﴿١٦﴾
    “Barangsiapa yang menginginkan dunia dan perhiasannya, Kami akan berikan apa yang ia inginkan dari amalnya tersebut tanpa dikurangi. Dan mereka nanti di akhirat tidak mendapatkan apapun kecuali api neraka, batal amalnya dan sia-sia usahanya.” (QS. Hud[11]: 15-16)
    Subhanallah.. Ada orang yang beramal tujuannya hanya ingin mendapatkan dan meraih dunia, ternyata di akhirat dia tidak mendapatkan apapun kecuali api neraka saja. Allah batalkan amalnya, Allah tidak terima ia, Allah tidak ridha amal shalih yang sangat agung dimana balasan yang pantas adalah dengan surga, ternyata ia harapkan dunia yang sangat hina. Karena dunia di mata Allah sangat hina sekali, sudaraku.
    Lihatlah, saudaraku.. Amalan-amalan yang agung menjadi sesuatu yang membinasakan pelakunya, menjadi amalan yang sangat rendah dan hina di mata Allah.
    Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ada tiga orang yang pertama kali dibakar dengan api neraka.” Tiga orang ini pertama kali dilemparkan ke dalam api neraka. Siapa dia?
    Yang pertama orang yang alim dan Qari. Lalu kemudian Allah memanggil dia dan Allah bertanya: “Apa amalmu?” Dia berkata: “Ya Rabb, dahulu di dunia aku belajar ilmu, aku ajarkan ilmu kepada manusia, dan aku membaca Qur’an karena Engkau Ya Allah.” Allah berfirman: “Kamu dusta, kamu dahulu menuntut ilmu hanya ingin disebut ulama. Kamu dahulu membaca Al-Qur’an hanya ingin disebut Qari. Dan kamu sudah mendapatkan predikat itu.” Lalu ia pun diseret dan dilemparkan ke dalam neraka jahanam.
    Yang kedua kata Rasulullah: “Orang yang mati syahid lalu dipanggil oleh Allah: “Apa amalmu?” Dia berkata: “Ya Rabb, aku berperang di jalanMu sampai aku terbunuh karena Engkau.” Allah berfirman: “Kamu dusta. Kamu dahulu berperang hanya ingin disebut pahlawan dan pemberani. Dan kamu sudah mendapatkan sebutan tersebut.” Lalu ia pun diseret dan dilemparkan ke dalam neraka jahanam.
    Lalu di datangkan yang ketiga, yaitu orang yang selalu berinfak.
    14 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah