Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Usaha Tidak Menafikan Tawakal
    Usaha Tidak Menafikan Tawakal ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin ,10 Syawal 1444 H / 01 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Usaha Tidak Menafikan Tawakal
    Pada hari ini mungkin tidak ada orang yang tidak menyimpan dan menabung hartanya untuk mengantisipasi kebutuhan-kebutuhannya ke depan. Ini juga dilakukan Nabi. Nabi pernah menggadaikan baju perang beliau untuk makanan pokok keluarga selama satu tahun ke depan. Artinya Nabi juga mencadangkan harta untuk persiapan menghadapi kebutuhan-kebutuhan di masa depan. Dan itu tidak menafikan tawakal sebenarnya. Tapi klaim orang-orang sufi mengatakan itu menafikan tawakal. Mereka berkata bahwa belum dikatakan tawakal kalau masih menyimpan atau menabung harta.
    Ibnul Jauzi Rahimahullah mengatakan bahwa minimnya ilmu agama menimbulkan kerancuan berpikir seperti ini.
    Dulu mungkin bisa (tidak menyimpan uang), dimana tuntutan hidup belum sekompleks hari ini yang segala sesuatunya harus bayar. Kalau tidak berjaga-jaga dengan menabung harta, mungkin kita akan mengabaikan kewajiban-kewajiban.
    Kebutuhan dimasa dulu mungkin untuk makan saja. Tapi sekarang tidak seperti dulu. Ada beberapa dana yang harus kita siapkan untuk penunjang-penunjang kehidupan lainnya selain makan.
    Di antara kerancuan berpikir adalah menyamakan kondisi dulu dengan sekarang. Tentunya tidak sama. Jangankan zaman dahulu, 30 atau 40 tahun yang lalu mungkin tuntutan kehidupan tidak seperti hari ini. Apalagi 14 abad yang lalu. Tentu tidak bisa disamakan dengan zaman ini, lalu melakukan satu tindakan yang sama.
    Andai mereka mengetahui hakikat tawakal, tentulah mereka akan menyadari bahwa tidak ada pertentangan antara tawakal dan usaha. Menabung termasuk salah satu jenis usaha, dan ini tidak menafikan tawakal. Tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah.
    Kita tidak tahu ujian-ujian yang akan Allah berikan. Banyak orang-orang yang terkuras tabungannya karena musibah yang menimpanya. Padahal dia sudah ikhtiar dengan menabung. Maka hati tetap perlu bersandar kepada Allah. Bahwa apapun yang kita lakukan, ketetapan akhirnya tetap ada di tangan Allah. Disitulah seorang muslim perlu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala usaha yang sudah dilakukannya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا…
    “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya harta mereka yang ada dalam kuasamu yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan…” (QS. An-Nisa'[4]: 5)
    Jangan diserahkan karena anak ini belum mampu mengelola harta. Bisa jadi harta itu habis, sementara dia masih punya tuntutan pokok-pokok kehidupan yang harus dia penuhi. Ketika dia tidak mampu mengelola harta dengan baik, mungkin kalau diserahkan kepadanya akan habis. Jadi perlu melakukan tindakan antisipatif dengan tidak menyerahkan harta itu kecuali mereka sudah mencapai usia rusyd.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di sini harta sebagai pokok kehidupan. Jadi tidak mungkin kita katakan “Dalam hidup ini saya tidak perlu harta.”
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    نِعمَ المالُ الصَّالحُ للرَّجلِ الصَّالحِ
    “Sebaik-baik harta yang baik adalah yang dimiliki oleh orang yang shalih.” (HR. Ahmad)
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    41 min
  • Ada Apa dengan Remaja
    Ada Apa dengan Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 20 Ramadhan 1444 H / 11 April 2023 M.

    Kajian Tentang Ada Apa dengan Remaja
    Pada kajian kali ini kita akan membahas sebuah buku yang masih berkaitan dengan pendidikan anak. Yaitu buku yang berjudul “Ada Apa dengan Remaja?” Sub judulnya adalah “Membangun interaksi positif dengan remaja.” Jadi objek bahasan kita pada kali ini adalah anak remaja.
    Terkadang waktu berjalan sangat cepat. Tiba-tiba saja anak kita sudah remaja. Tentunya memperlakukan mereka berbeda dengan memperlakukan anak kecil. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwasanya anaknya bukan anak-anak lagi. Tapi dia masih memperlakukannya seperti kanak-kanak. Ini tentunya keliru.
    Maka orang tua juga harus mengetahui perkembangan anak. Karena manusia itu tumbuh besar. Secara fisik, mental dan cara berpikir pun berubah. Tidak bisa disamakan antara anak-anak dengan remaja.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengklasifikasikan usia anak. Nabi menyebutkan angka. Seperti hadits “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat di usia 7, pukul mereka kalau tidak mengerjakannya di usia 10 tahun.”
    Pemberian hukuman kepada anak baru layak diberikan di usia 10 tahun. Ada apa dengan usia 10 tahun ini? Di usia 10 tahun itu anak sudah mulai nampak kematangan akalnya. Seiring dengan usia baligh yang dia akan alami. Terjadi perubahan-perubahan pada dirinya. Ini adalah masa awal remaja.
    Artinya adalah orang tua harus tahu dan mengerti bagaimana menghadapi anak remaja.
    Kita semua menghadapi masalah yang sama. Yaitu masalah anak yang tidak ada habisnya. Tapi banyak dari kita kadang-kadang berusaha untuk menghindari dan mengabaikannya seolah-olah tidak ada masalah.
    Maka solusinya adalah kita harus belajar. Karena segala sesuatu harus didasari dengan ilmu, bukan asal-asalan lalu melakukan sesuatu tanpa pedoman ilmu.
    Banyak remaja tidak konek lagi dengan orang tuanya. Mungkin orang tuanya juga tidak mengerti bagaimana melakukan pendekatan kepada anak remaja. Atau orang tua merasa anaknya sudah besar sehingga dibiarkan saja? Atau menganggap anak remaja gemar menyulut pertengkaran dan keributan?
    Disinilah orang tua sebenarnya harus hadir di samping mereka dan bisa menempatkan diri sebagai orang tua. Karena anak remaja perlu sosok orang tua.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Mukaddimah Kajian Ada Apa dengan Remaja
    Mari turut membagikan link download kajian “Ada Apa dengan Remaja” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    52 min
  • Adab Duduk di Majelis Ilmu
    Adab Duduk di Majelis Ilmu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 20 Ramadhan 1444 H / 11 April 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Memperbanyak Dzikir Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah
    Adab Duduk di Majelis Ilmu
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وعن أَبي واقدٍ الحارث بن عوف – رضي الله عنه: أنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ في المَسْجِدِ، والنَّاسُ مَعَهُ، إذْ أَقْبَلَ ثَلاثَةُ نَفَرٍ، فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رسُولِ اللهِ
    Dari Abu Waqid Al-Harits bin ‘Auf Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika sedang duduk di masjid bersama para sahabat, tiba-tiba mucul tiga orang. Maka dua orang menuju kepada majelis Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sedang yang satu pergi. Dua orang itu berdiri di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun yang satu melihat ada tempat kosong di mejelis itu, lalu dia langsung duduk di situ, adapun yang satunya lagi duduk di belakang majelis ilmu itu, sedangkan orang yang ketiga langsung pergi meninggalkan majelis.
    Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan pelajarannya, maka beliau berkata: “Maukah kalian aku beritahukan tentang tiga orang ini? Adapun salah seorang (yang sungguh-sungguh menempati tempat yang kosong), ia menempatkan dirinya kepada Allah, maka Allah memberikan tempat padanya. Adapun yang satunya (yang duduk di belakang majelis), ia adalah orang yang malu, maka Allah pun malu terhadap orang ini. Sedangkan yang seorang yang ketiga (yang meninggalkan majelis), dia adalah orang yang berpaling, maka Allah pun juga berpaling darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang bagaimana sifat orang-orang yang datang di majelis ilmu. Yang mana majelis ilmu itu adalah majelis yang mulia. Kita melihat dalam hadits ini beliau selalu memberikan pelajaran kepada para sahabat di masjid. Ini menunjukkan pentingnya kita memiliki sarana untuk mengajarkan ilmu. Apalagi masjid. Karena memang semenjak zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai hari ini kita melihat bahwa masjid-masjid kaum muslimin adalah tempatnya ilmu. Jadi menuntut ilmu di masjid bersama para ulama adalah suatu hal yang telah ada semenjak zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan seterusnya sampai hari ini.
    Yang perlu diambil dari hadits ini adalah tentang ilmu. Bahwa ilmu akan hidup kalau diajarkan dan kalau terus ada kegiatan belajar mengajar. Makanya dengan keberadaan para ulama dan keberadaan orang-orang yang menuntut ilmu, ini menjadikan ilmu Islam terus hidup.
    Hadits ini jug menjelaskan tentang dianjurkannya untuk selalu menghadiri majelis-majelis ilmu yang kita belajar di majelis itu. Namun yang perlu diingatkan dalam masalah ini adalah tentang keikhlasan dalam menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu adalah ibadah. Oleh karena itu niat seorang yang akan menuntut ilmu harus betul-betul ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena kepentingan-kepentingan duniawi.
    Seorang yang ikhlas dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu, maka insyaAllah ilmunya akan diberkahi oleh Allah Ta’ala. Tetapi kalau seseorang belajar atau mengajarkan ilmu bukan karena Allah, tetapi karena niat-niat yang selainnya, maka ilmunya tidak akan ada berkahnya.
    1 hr 19 min
  • Tawakal Namun Tidak Mau Berusaha
    Tawakal Namun Tidak Mau Berusaha ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 19 Ramadhan 1444 H / 10 April 2023 M.

    Kajian Tentang Tawakal Namun Tidak Mau Berusaha
    Kajian kali ini membahas tentang talbis iblis terhadap kaum sufi terkait klaim tawakal namun tidak mau berusaha dan tidak siap-siaga dalam persoalan harta.
    Diriwayatkan dari Dzun Nun Al-Mishri, dia bercerita: “Aku sudah berkelana bertahun-tahun. Selama itu aku tidak pernah benar-benar bertawakal kepada Allah kecuali sekali saja. Suatu ketika aku mengarungi lautan dengan menumpang sebuah perahu. Tiba-tiba perahu yang aku tumpangi itu pecah dan aku pun berpegangan pada kayu dari pecahan perahu itu. Aku bergumam dalam hati: ‘Jika Allah tetapkan engkau akan tenggelam, kayu ini tidak akan berguna untukmu.’ Maka aku melepaskan kayu tersebut dan berenang di air hingga tiba di tepi pantai.”
    Diriwayatkan juga dari Muhammad, dia berkata: “Aku bertanya kepada Abu Ya’qub Az-Zayyat tentang hakikat tawakal. Az-Zayyat mengeluarkan uang dirham miliknya, baru menjawab pertanyaanku. Dia memberikan tawakal itu haknya, sesuai perkataannya: ‘Aku malu menjawab pertanyaanmu sedang aku masih menyimpan sesuatu.'”
    Ini dianggap sebagai hakikat tawakal oleh kaum sufi. Yaitu meninggalkan asbab. Mereka menganggap bahwa asbab tidak pengaruh dalam bab tawakal, tawakal boleh tanpa asbab.
    Ibnul Jauzi mengatakan: Minimnya ilmu agama menimbulkan kerancuan seperti ini. Andai mereka tahu hakikat tawakal, tentulah mereka akan menyadari bahwa tidak ada pertentangan antara tawakal dan usaha/ikhtiar. Tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan ini tidak bertentangan dengan pergerakan raga ataupun badan dalam rangka berusaha ataupun melakukan antisipasi.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman”
    وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا…
    “Janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kuasamu), yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupannya…” (QS. An-Nisa'[4]: 5)
    Maksudnya adalah dijadikan sebagai penopang raga kalian. Maka ini adalah usaha supaya tidak habis harta itu sehingga tidak ada sesuatu untuk menghidupi raganya ataupun jasmaninya. Artinya kita juga harus melakukan tindakan antisipasi supaya bisa melanjutkan hidup.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri pernah menggadaikan baju perang beliau untuk kebutuhan makanan pokok keluarga beliau selama satu tahun. Apakah itu bertentangan dengan tawakal? Nabi mengajarkan kepada kita harus ada usaha/ikhtiar yang konkret untuk bisa menyambung hidup. Bukan hanya bersandar kepada Allah lalu tidak mau berusaha, itu bukan tawakal.
    Maka nabi bersabda:
    نعم المال الصالح مع الرجل الصالح
    “Sebaik-baik harta yang baik adalah harta yang dimiliki orang yang shalih.” (HR. Ahmad)
    Orang yang shalih mengerti bagaimana dia menggunakan harta itu dengan baik, dan itu sebaik-baik harta. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berkata:
    إنك أن تدع ورثتك أغنياء خير من أن تدعهم عالة يتكففون الناس
    “Sungguh lebih baik kamu meninggalkan ahli warismu dalam kondisi berkecukupan daripada kamu meninggalkan mereka dalam kondisi fakir sehingga harus meminta-minta kepada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Maka harus ada tindakan antisipasi untuk menjamin nafkah jasmani kita. Jadi bukan kita melepas semua harta,
    43 min
  • Tidak Mengajarkan Keburukan Kepada Anak
    Tidak Mengajarkan Keburukan Kepada Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 19 Ramadhan 1444 H / 10 April 2023 M.

    Kajian Tentang Tidak Mengajarkan Keburukan Kepada Anak
    Sebelum kita memasuki tema kajian ini, ada satu hal penting yang perlu kita pahami. Bahwa rahmat (ksaih sayang) Allah kepada manusia amat banyak sekali. Salah satu dari bentuk rahmat tersebut adalah anak-anak yang belum baligh. Yaitu anak yang belum mendapatkan kewajiban menjalankan perintah agama dan belum mendapatkan kewajiban untuk meninggalkan larangan agama.
    Hal ini karena akalnya belum sempurna. Sedangkan salah satu syarat wajib menjalankan perintah agama atau wajib meninggalkan larangan agama adalah akalnya harus sempurna. Sempurnanya akal ditandai dengan baligh.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    «رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ؛ عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ»
    “Pena tidak mencatat perbuatan tiga jenis manusia; (1) Orang gila yang hilang akal, selama ia belum sembuh. (2) Orang tidur, selama ia belum bangun. (3) Anak kecil, selama ia belum baligh.” (HR. Abu Dawud)
    Sehingga selama dia belum baligh, maka belum ditulis perbuatannya oleh malaikat. Ini adalah rahmat dari Allah.
    Namun walaupun perbuatannya belum tertulis di buku catatan amal, bukan berarti anak kecil boleh diajari keburukan. Sebab orang yang mengajarinya itu akan terkena imbas dosa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    «وَمَنْ سَقَاهُ صَغِيرًا لَا يَعْرِفُ حَلَالَهُ مِنْ حَرَامِهِ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ»
    “Barangsiapa memberikan minuman keras kepada anak kecil yang belum mengetahui halal-haram, maka kelak ia akan diberi minum nanah penghuni neraka.” (HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan dinilai sahih oleh Ibn al-Qatthan serta al-Albaniy)
    Jangan Mencontohkan Keburukan
    Itulah bahaya mengajarkan secara langsung keburukan pada anak. Selain itu masih ada perilaku yang tidak kalah berbahayanya, yaitu mencontohkan keburukan. Yakni manakala para orang tua melakukan berbagai perbuatan buruk, lalu dicontoh oleh putra-putrinya.
    Misalnya dalam hal akidah: sebagian orang tua masih percaya jimat dan ramalan, suka pergi ke dukun, sering ngalap berkah dari kuburan, dan yang semisal ini. Lalu ditiru oleh anaknya.
    Dalam hal ibadah: sebagian orang tua sering telat menunaikan shalat lima waktu, bahkan kerap meninggalkan shalat. Di bulan Ramadhan terang-terangan tidak berpuasa, padahal ia mampu untuk menjalankannya. Sehingga anaknya pun mencontoh perilaku buruk itu.
    Dalam hal akhlak: sebagian orang tua masih terbiasa ngomong kotor, sering menggunjing orang lain, memutus silaturahim, gemar merokok, suka menghabiskan waktu nonton sinetron dan kecanduan gadget. Akibatnya anak ikut-ikutan melakukan hal-hal negatif tadi.
    Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan,
    «مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»
    “Barangsiapa dalam Islam mencontohkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala setiap orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka.
    51 min
  • Puasa Yang Hanya Mendapatkan Lapar dan Haus
    Puasa Yang Hanya Mendapatkan Lapar dan Haus adalah ceramah agama dan kajian Islam oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 14 Ramadhan 1444 H / 5 April 2023 M.

    Kajian Tentang Puasa Yang Hanya Mendapatkan Lapar dan Haus
    Di pertengahan bulan Ramadhan, biasanya sebagian orang yang berpuasa ada yang sudah mulai menganggap biasa puasanya dan akhirnya mulai bermaksiat di dalam bulan Ramadhan, mulai tidak fokus lagi untuk beribadah di dalam bulan Ramadhan. Oleh karenanya pada kesempatan kali ini kita mengangkat tema “Puasa yang hanya dapat lapar dan haus.”
    Tema ini adalah sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ
    “Berapa banyak orang yang berpuasa hanya dapat lapar dan haus (berarti tidak ada pahala), dan berapa banyak orang yang shalat tarawih pahala dari shalat tarawihnya hanya begadang.” (HR. Ahmad)
    Ini menunjukkan bagaimana ada orang yang berpuasa tapi pahala puasanya hanya dapat lapar dan haus.
    Hadits lain yang menunjukkan akan hal ini, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
    “Berapa banyak orang yang berpuasa, bagian dari puasanya hanya dapat lapar dan haus.” (HR. Imam Ibnu Khuzaiman dan yang lainnya)
    Bagaimana praktik Salafush Shalih dalam mengagungkan dalil? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Puasa Yang Hanya Mendapatkan Lapar dan Haus
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Puasa Yang Hanya Mendapatkan Lapar dan Haus” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 18 min
  • Melatih Diri Menahan Amarah
    Melatih Diri Menahan Amarah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 13 Ramadhan 1444 H / 4 April 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Terlalu Banyak Memberikan Perintah
    Melatih Diri Menahan Amarah
    Bulan Ramadhan merupakan salah satu momen bagi kita untuk melatih diri di dalam hal menahan amarah. Karena bulan Ramadhan juga dikenal sebagai bulan sabar, bulan mengasah dan melatih kesabaran. Lebih terkhusus di dalam mendidik anak-anak dan istri.
    Kita harus memahami dan sadar bahwa ada 1001 alasan bagi kita untuk marah. Bahkan tidak ada alasan pun dicari-cari alasan untuk marah. Tapi agak susah untuk mencari alasan untuk tidak marah. Maka Nabi memberikan tips kepada kita:
    فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ
    “Jika ada yang mencacimu atau berbuat kejelekan kepadamu, maka katakanlah: ‘Aku adalah orang yang puasa. Aku adalah orang yang puasa.'” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim)
    Itulah latihan yang kita dapatkan dari ibadah puasa yang kita kerjakan selama Ramadhan. Lebih bagus lagi kalau ditambah dengan puasa-puasa sunnah nanti setelah Ramadhan. Sehingga sifat khusus yang ada pada orang yang rajin puasa adalah dia menjadi orang yang santun, sabar, tidak mudah marah, bisa mengendalikan emosi. Itulah yang kita harapkan dari ibadah puasa yang kita kerjakan. Apalagi di dalam bab mendidik anak seperti yang kita tuliskan di dalam buku ini.
    Kalau kita ingin mewujudkan hadits Nabi “Rumahku adalah surgaku,” maka singkirkan amarah dari rumah kita. Karena di surga tidak ada marah-marah. Yang ada amarah dan angkara murka itu di neraka.
    Tentunya Nabi tidak menafikan marah. Marah itu ada pada diri manusia, mustahil orang tidak punya marah selama dia normal. Sehingga poin pentingnya adalah bagaimana kita mengendalikan marah. Maka konsepnya dalam Islam adalah: “Orang yang bisa menahan emosinya.” Ada dorongan untuk marah tapi bisa mengendalikan dan menahan amarahnya. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
    “Orang kuat itu bukanlah orang yang kuat bergulat, tapi orang kuat itu adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.”
    Inilah orang yang kuat. Dan ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang kuat. Karena ini berat maka perlu latihan. Dan ibadah puasa salah satu cara kita melatih diri untuk bisa menjadi orang yang santun, yang mampu mengendalikan emosinya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Melatih Diri Menahan Amarah
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Melatih Diri Menahan Amarah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    58 min
  • Memperbanyak Dzikir Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah
    Memperbanyak Dzikir Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 13 Ramadhan 1444 H / 4 April 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Membaca Doa Ketika Sujud
    Memperbanyak Dzikir Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    وعن أَبي موسى – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ لي رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم: «ألا أدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ؟» فقلت: بلى يَا رسولَ الله قَالَ: «لا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باللهِ» متفق عَلَيْهِ.
    Dan dari Abu Musa Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Pernah aku dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Maukah engkau aku tunjukkan padamu salah satu dari simpanan-simpanan surga?’ Aku menjawab: ‘Iya Wahai Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).'” (Muttafaqun ‘alaih)
    Hadits ini menggambarkan kepada kita bagaimana sikap dan perilaku Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap para sahabat. Yang mana beliau sangat menginginkan kebaikan bagi mereka. Oleh karena itu setiap kesempatan yang ada beliau selalu memberikan manfaat dari ilmu yang Allah berikan kepada beliau.
    Di dalam hadits ini Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan kepada Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu tentang salah satu dari satu dari harta-harta simpanan surga. Yaitu mengucapkan kalimat لا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باللهِ. Kalimat ini salah satu dari simpanan-simpanan surga yang sangat berharga. Artinya kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca لا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باللهِ.
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang guru yang luar biasa dalam perhatiannya kepada para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Sehingga dalam kesempatan-kesempatan yang baik beliau selalu memberikan tambahan ilmu dan kebaikan kepada para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum.
    Kalimat لا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باللهِ sebetulnya sebuah pesan yang memesankan kepada kita sebagai umat agar tidak bergantung kepada selain Allah. Semua kekuatan itu sumbernya dari Allah. Maka tiada kekuatan kecuali kekuatan dari Allah Allah, Allah yang menganugerahkan kekuatan itu. Maka di sini kita dilarang bergantung kepada selain Allah, menyandarkan kekuatan kepada selain Allah, ini adalah hal yang tidak dibenarkan.
    Maka seorang muslim wajib bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala kondisi dan keadaan.
    Seseorang kalau bersandar kepada kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia tidak akan gelisah dalam kehidupan ini. Karena dia bersandar kepada Dzat Yang Maha Kuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari itu jangan bergantung kepada selain Allah. Mintalah nikmat berupa kekuatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    1 hr 20 min
  • Membersihkan Kerikil Yang Ada Di Tempat Sujud
    Membersihkan Kerikil Yang Ada Di Tempat Sujud ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 12 Ramadhan 1444 H / 3 April 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Meludah Ketika Shalat
    Kajian Tentang Membersihkan Kerikil Yang Ada Di Tempat Sujud
    Pada kajian sebelumnya kita membahas sujudnya orang yang sakit di atas sesuatu yang tinggi. Misalnya ketika seseorang yang sakit tidak mampu untuk sujud dengan menempelkan dahinya di tanah, maka akhirnya dia letakkan balok kayu di depannya sehingga dia bisa sujud di atas balok kayu tersebut. Atau misalnya meletakkan bantal di depannya sehingga dia bisa menempelkan dahinya dibantal tersebut. Ini ada larangan dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka hendaknya kita menjauhi.
    Membersihkan kerikil yang ada di tempat sujud dan mempermainkannya
    Membersihkan kerikil yang ada di tempat sujud dan mempermainkannya adalah sesuatu yang dilarang apabila hal tersebut tidak dibutuhkan. Apabila dibutuhkan, boleh melakukannya sekali tapi kalau ditinggalkan tetap lebih baik. Ini dengan catatan apabila adanya kerikil di tempat sujud itu tidak mengurangi kekhusyukan kita. Kalau adanya kerikil di tempat sujud ini mengurangi kekhusyukan tentu kita lebih mengedepankan kekhusyukan. Kita bisa hilangkan dan kalau bisa sekali saja ketika menghilangkannya.
    Hal ini berdasarkan hadits, dari Mu’aiqib Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengatakan kepada orang yang membersihkan debu yang ada di tempat sujudnya:
    إِنْ كُنْت فاعِلا فَوَاحِدة
    “Apabila engkau memang terpaksa melakukannya, maka lakukan hanya sekali saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ini menunjukkan bahwa sebaiknya seseorang tidak membersihkan tempat sujudnya dari debu ataupun kerikil yang ada di tempat tersebut. Apalagi kalau misalnya tempatnya sebenarnya sudah bersih. Misalnya di masjid ada debu di tempat sujud, sebaiknya tidak dibersihkan/diusap kalau memang sedang berada di dalam shalat. Kecuali kalau itu bisa mengganggu kekhusyukan, maka sebaiknya kekhusyukan lebih didahulukan. Karena kekhusyukan itu rohnya shalat kita. Dan menghilangkan kerikil atau debu dari tempat sujud ini kalau sekali dibolehkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Hadits dari Mu’aiqib Radhiyallahu ‘Anhu ini dalam riwayat lain disebutkan:
    لا تمسح وأنت تصلي، وإن كنت لابد فاعلاً فواحدةٍ لتسوية الحصى
    “Jangan engkau mengusapnya ketika sedang shalat. Tapi apabila engkau terpaksa harus melakukannya, maka lakukan sekali saja untuk meratakan kerikil ini.” (HR. Abu Dawud)
    Ini menunjukkan bahwa pada asalnya lebih baik tidak kita bersihkan dan bersujud dengan apa adanya. Dan ini termasuk di antara bentuk merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meletakkan dahi kita di tempat yang ada debu/kerikilnya.
    Begitu pula ketika ada sesuatu yang menempel di dahi kita. Misalnya kita sujud di tempat yang berdebu, sebaiknya kita tidak membersihkan yang menempel di dahi kita. Sebaiknya biarkan seperti itu.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah dilihat oleh sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
    رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يسجد في الماء والطين حتى رأيت أثر الطين في جبهته
    “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sujud di tanah yang basah,
    1 hr
  • Khutbah Jumat: Menjaga Amalan Shalih
    Khutbah Jumat: Menjaga Amalan Shalih ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 9 Ramadhan 1444 H / 31 Maret 2023 M.

    Khutbah Jumat: Menjaga Amalan Shalih
    Di antara nikmat besar yang Allah berikan kepada kita adalah diberikan kekuatan untuk senantiasa beramal shalih, menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Ini merupakan nikmat yang amat besar kepada seorang hamba, melebihi nikmat kehidupan dunia, melebihi nikmat makanan dan minuman.
    Di bulan Ramadhan yang mulia ini, Alhamdulillah Allah berikan kepada kita kesehatan, diberikan kepada kita kekuatan untuk bisa menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita melaksanakan shalat tarawih, melaksanakan sahur, melaksanakan puasa Ramadhan dan amalan-amalan shalih yang lainnya. Demi Allah ini adalah pemberian Allah yang sangat luar biasa kepada kita. Maka kewajiban kita dengan amalan-amalan seperti ini yaitu menjaga amalan shalih.
    Menjaga amalan shalih yang pertama yaitu jangan sampai amalan tersebut dibatalkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla akibat perbuatan-perbuatan kita.
    1. Ujub
    Di antara hal yang membuat amal kita dibatalkan oleh Allah yaitu kita merasa ujub dan bangga diri dengan amalan shalih, kita merasa seakan-akan lebih baik daripada orang lain karena kita banyak membaca Al-Qur’an, karena kita banyak shalat tahajud, karena banyak bersedekah dan berinfak, sehingga kemudian hati kita terkena penyakit sombong dan ujub. Sehingga dengan seperti itu Allah batalkan amalan kita.
    Oleh karena itu Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan: Ujub dengan amal adalah ujub yang paling buruk, lebih buruk dibandingkan ujub dengan harta dan kedudukan.
    Seorang mukmin ingat bahwasanya amalan shalihnya adalah bantuan dari Allah. Allah yang membantu dia, Allah yang memberikan kepada dia kekuatan. Ketika ia ingat bahwasanya Allah yang membantunya, maka ia tidak akan ujub, biidznillah.
    Oleh karena itulah Allah mengatakan:
    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    “Hanya kepada Engkau Ya Allah kami beribadah (maka ini menghilangkan kesyirikan) dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan dan bantuan (maka ini menghilangkan rasa ujub).” (QS. Al-Fatihah[1]: 5)
    2. Mengharapkan kehidupan dunia
    Yang kedua yang membuat amal kita dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu kita tidak ikhlas di dalam amalan kita, mengharapkan kehidupan dunia. Kita beramal shalih mengharapkan harta, mengharapkan kedudukan dan yang lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam surat Hud ayat 15 dan 16, Allah berfirman:
    مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ‎﴿١٥﴾‏ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ‎﴿١٦﴾‏
    “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan berikan apa yang ia inginkan tersebut dari amalannya tanpa dikurangi sedikitpun. Mereka itu di akhirat tidak akan mendapat apapun kecuali api neraka, batal amalannya dan sia-sia usahanya.” (QS. Hud[11]: 15-16)
    Jangan sampai saudaraku, ketika berpuasa Ramadhan niat kita adalah dunia, ketika shalat tarawih niat kita adalah meraih kehidupan dunia. Demi Allah saudaraku, amalan shalih terlalu mulia untuk diharapkan padanya dunia. Karena dunia sesuatu yang remeh di mata Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan amalan shalih suatu yang sangat mulia, makanya balasannya adalah surga.
    Saudaraku, kita jaga amal shalih jangan sampai dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    3.
    13 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah