Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Kisah Ashabul Fiil
    Kisah Ashabul Fiil adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 2 Dzulqa’dah 1444 H / 22 Mei 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Hari Kiamat Pasti Datang

    Kajian Tentang Kisah Ashabul Fiil
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita di surah Al-Fil:
    أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ ‎﴿١﴾‏ أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ ‎﴿٢﴾‏ وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ ‎﴿٣﴾‏ تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ ‎﴿٤﴾‏ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ ‎﴿٥﴾‏
    “Tidakkah kau perhatikan bagaimana Rabbmu bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Allah telah menjadikan makar mereka dalam sia-sia? dan Allah utus kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang menghujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, dan Allah menjadikan mereka seperti daun yang dimakan oleh ulat.” (QS. Al-Fil[105]: 1-5)
    Kisah ini adalah kisah yang mutawatir (disaksikan oleh banyak orang). Pembahasan yang akan dibahas oleh penulis Rahimahullah ada 4 unsur:

    * Ka’bah adalah rumahnya Allah yang suci.
    * Ka’bah dimiliki oleh Rabb yang menjaganya.
    * Makar orang-orang kafir itu dalam kesia-siaan.
    * Allah yang memperkenankan doanya orang-orang yang susah apabila dia berdoa kepadaNya.

    Kisah ini terjadi pada tahun gajah. Dan di tahun ini pula, 50 hari setelahnya lahirlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu Ibnu Abbas berkata: “Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan di tahun gajah.”
    Ka’bah adalah rumahnya Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, berkata kepada Nabi Ibrahim:
    … وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
    “Sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang melakukan ketaatan dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (QS. Al-Hajj[22]: 26)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ…
    “Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Ka’bah ini rumah yang suci tempat manusia berkumpul…” (QS. Al-Ma’idah[5]: 97)
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Kisah Ashabul Fiil
    Mari turut membagikan link download kajian “Kisah Ashabul Fiil” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    48 min
  • Perintah Salaf untuk Bekerja Keras
    Perintah Salaf untuk Bekerja Keras ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 2 Dzulqa’dah 1444 H / 22 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Perintah Salaf untuk Bekerja Keras
    Sebelumnya, kami telah menyampaikan beberapa pandangan dari para Salaf yang mencari rezeki melalui berbagai jenis pekerjaan dan usaha, baik itu menjual jasa, berdagang, berkebun, menjadi tukang kayu, tukang kain, atau bahkan tukang bekam. Mereka memahami arti sebenarnya dari tawakal, bahwa tawakal tidak akan sempurna tanpa usaha. Para Salaf juga bekerja dalam berbagai profesi yang berbeda-beda untuk meraih suatu tujuan. Dalam meraih manfaat itu mereka menempuh sebabnya. Karena tidak ada akibat kalau tidak dijalani sebabnya.
    Sekarang, mari kita lanjutkan dengan apa yang ditulis oleh Ibnu Jauzi. Dalam tulisannya, Ibnu Jauzi mengutip perkataan Ibnu Aqil: “Berusaha tidak mengurangi nilai tawakal. Karena upaya untuk menggapai kedudukan para Nabi itu termasuk kekurangan dalam agama.” Perkataan ini harus digaris atasi. Bahwa bagaimanapun ibadah kita tidak mungkin bisa menyamai amal dan ibadah para Nabi. Karena mereka memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah. Mereka adalah hamba yang maksum, diberikan ilmu dan keistiqamahan, serta dijaga dari dosa dan keburukan.
    Oleh karena itu, mustahil bagi kita untuk melebihi atau menyamai kedudukan mereka. Jika ada orang yang berusaha mencapai kedudukan yang melebihi atau menyamai para Nabi, maka kata Ibnu Aqil itu adalah kekurangan dalam agama. Artinya, dia bukan orang yang baik agamanya, karena nyatanya ada juga orang yang berusaha menyaingi ibadah para Nabi.
    Sebagai contoh, ada tiga orang yang datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bertanya kepada Aisyah tentang amal yang dilakukan oleh Nabi. Mereka merasa amal mereka sedikit dan ingin menyamai amal Nabi. Salah satu dari mereka berkata bahwa dia akan terus-menerus melakukan shalat tidak tidur, yang lain berkata akan berpuasa terus-menerus tanpa berbuka, dan yang lainnya berkata tidak akan menikah sepanjang hidupnya. Mereka ingin mencapai kedudukan yang sama atau bahkan lebih tinggi daripada Nabi.
    Maka ketika Nabi mendengar perkataan itu, beliau berkata:
    أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ
    “Mengapa ada orang yang berkata begini dan begitu? Demi Allah! Sesungguhnya aku ini adalah orang yang paling takut kepada Allah dan yang paling takwa kepada Allah. Namun aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat (malam) tapi juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan yang lainnya)
    Selanjutnya, ketika ada seseorang yang mengatakan kepada Nabi Musa bahwa orang-orang sedang merencanakan untuk membunuhnya, Nabi Musa tidak hanya bergantung pada tawakal. Meskipun dia memiliki alasan kuat untuk tetap tinggal di Mesir, dia memutuskan untuk pergi meninggalkan negeri tersebut. Nabi Musa menyadari pentingnya melakukan ikhtiar (sebab) dan berusaha untuk menjaga keselamatannya. Bukan mengandalkan iman, kemudian tawakal, kemudian terjadi nanti apa yang tidak diinginkan.
    Lihatlah bahwa Nabi Musa saja mengambil sebab, tidak mengandalkan imannya. Pada saat beliau lapar dan perlu menjaga keselamatan diri setelah keluar dari Mesir,
    38 min
  • Kedekatan dan Momen yang Tepat dalam Menasihati
    Kedekatan dan Momen yang Tepat dalam Menasihati ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 2 Dzulqa’dah 1444 H / 22 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Kedekatan dan Momen yang Tepat dalam Menasehati
    Banyak orang tua mengeluh bahwa sulit menasihati anak mereka. Ada orang tua yang bahkan berbicara sampai berbusa-busa, tetapi sepertinya tidak ada perubahan sama sekali. Masalah semakin rumit jika melibatkan ponsel. Yaitu ketika anak lebih memilih bermain HP daripada belajar atau istirahat. Inilah fenomena yang perlu kita perhatikan dan introspeksi. Kita berusaha mengoreksi diri kita terlebih dahulu. Apa sebabnya anak tidak mau menerima nasihat?
    Pelu dipahami bahwa nasihat tidak bisa disampaikan secara sembarangan. Ada cara yang tepat untuk menyampaikan nasihat. Jika cara penyampaian diabaikan, maka nasihat akan ditolak. Misalnya, semakin dekat hubungan antara orang tua dan anak, maka semakin mudah nasihat diterima oleh anak. Begitu pula jika ada momen/waktu yang tepat dalam menyampaikan nasihat, maka nasihat akan lebih mudah diterima. Ini contoh memperhatikan cara.
    Membangun kedekatan
    Untuk membangun kedekatan dengan anak, kita harus memperhatikan contoh dari sejarah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kesehariannya. Beliau sering mengajak anak-anak seperti Anas bin Malik, Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah Ibnu Abbas, Hasan, dan Husein. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan anak-anak. Dan kedekatan hubungan itu betul-betul beliau manfaatkan untuk menularkan kebaikan kepada mereka.
    Salah satu contoh adalah kisahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma.
    كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ: «يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»
    Suatu hari aku pernah dibonceng Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menaiki tunggangannya. Saat itu beliau bersabda, “Nak, aku akan mengajarimu beberapa prinsip. Jagalah Allah; niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah; niscaya Engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Bila engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah bila seluruh manusia bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan mampu memberikannya, kecuali bila telah ditakdirkan Allah. Sebaliknya bila mereka semua bersatu padu untuk mencelakaimu, maka mereka tidak akan mampu melakukannya, kecuali bila telah ditakdirkan Allah. Pena takdir telah diangkat dan kitab takdir telah selesai dituliskan”. (HR. Tirmidzi dan beliau mengatakan hadits ini hasan sahih)
    Lihatlah, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah begitu dekatnya dengan Ibnu Abbas, maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanfaatkan kedekatan itu untuk menyampaikan nasihat. Dan itu momennya sangat pas. Karena suasana hati anak sedang nyaman. Jadi kalau ada orang tua memberikan nasihat kepada anak ternyata ditolak, maka ada beberapa kemungkinan. Mungkin karena hubungannya tidak terlalu dekat, atau momennya kurang pas.
    Pastikan anak konsentrasi
    50 min
  • Bab Berwudhu dari Sesuatu yang Disentuh oleh Api
    Bab Berwudhu dari Sesuatu yang Disentuh oleh Api merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 30 Syawal 1444 H / 21 Mei 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Ucapan Setelah Wudhu

    Kajian Hadits Tentang Berwudhu dari Sesuatu yang Disentuh oleh Api
    Hadits 147:
    عن عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ قَارِظٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ وَجَدَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ عَلَى الْمَسْجِدِ فَقَالَ إِنَّمَا أَتَوَضَّأُ مِنْ أَثْوَارِ أَقِطٍ أَكَلْتُهَا لِأَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتْ النَّارُ.
    Dari Umar bin Abdul Aziz, bahwasannya Abdullah bin Ibrahim bin Qaridz, mengabarkannya bahwa ia mendapatkan Abu Hurairah sedang berwudhu di atas masjid. Lalu Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya aku berwudhu karena makan sebagian susu yang dikeraskan. Karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Berwudhulah kalian dari memakan sesuatu yang disentuh oleh api.'” (HR. Muslim)
    Hadits ini menunjukkan perintah untuk berwudhu dari memakan sesuatu yang tersentuh oleh api. Baik itu daging atau makanan lainnya yang memasaknya dengan api.
    Namun, banyak ulama mengatakan bahwa hadits ini sudah mansukh (dihapus). Makanya bab selanjutnya adalah: نسخ الوضوء مما مست النار (wudhu dari memakan sesuatu yang disentuh oleh api itu sudah dihapus).
    Hadits 148:
    عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ أنه رأى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَزُّ مِنْ كَتِفِ شَاةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَدُعِيَ إِلَى الصَّلَاةِ فَقَامَ وَطَرَحَ السِّكِّينَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ
    Dari Ja’far bin Amr bin Umayyh Adh-Dhamri, dari ayahnya, bahwasannya ia melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memotong daging dengan pisau dari bagian pundak kambing. Lalu beliau pun memakan darinya, lalu dikumandangkanlah shalat. Maka beliau pun langsung berdiri dan membuang pisau, dan beliau pun shalat tanpa berwudhu lagi. (HR. Muslim)
    Di hadits ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakan daging kambing yang dibakar. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam langsung shalat tanpa berwudhu. Sehingga Imam Nawawi Rahimahullah dan banyak ulama beristinbat bahwasannya perintah untuk berwudhu dari memakan sesuatu yang disentuh oleh api itu sudah dimansukh.
    Sebetulnya ini adalah masalah khilaf para ulama. Apakah perintah untuk berwudhu ini dimansukh atau tidak? Sebagian ulama mengatakan dimansukh. Sebagian lagi seperti Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan tidak. Menurut beliau yang dimansukh adalah hukum wajibnya saja. Artinya yang tadinya hukumnya wajib berubah menjadi sunnah. Alasannya adalah kalau ada dua hadits yang saling bertabrakan, selalam masih bisa dikompromikan, maka lebih baik dikompromikan. Karena mengkompromikan dua hadits artinya mengamalkan dua-duanya.
    Kedua  hadits diatas masih bisa dikompromikan. Yaitu dengan membawa perintah untuk berwudhu tersebut kepada sunnah dan membawa perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tidak berwudhu kepada mubah (boleh). InsyaAllah pendapat inilah yang paling kuat.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    52 min
  • Khutbah Jumat: Menjaga Hati
    Khutbah Jumat: Menjaga Hati ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 9 Ramadhan 1444 H / 31 Maret 2023 M.

    Khutbah Jumat: Menjaga Hati
    Organ tubuh kita yang wajib kita jaga adalah hati kita, setiap mukmin wajib menjaga hatinya karena keselamatan ia di akhirat nanti tergantung kepada hatinya.
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ۞ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ
    “Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali orang yang datang kepada Allah membawa hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 88-89)
    Selamat dari syahawat, selamat dari syubuhat, penyakit-penyakit yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam api Neraka.
    Ummatal Islam.
    Menyelamatkan hati tiada lain adalah dengan cara menjauhi hal-hal yang bisa merusak hati, di antara perkara yang bisa merusak hati adalah mata kita yang kita lepas kepada sesuatu yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Mata adalah jendela hati kita.
    Allah Ta’ala menyuruh kita untuk menundukkan pandangan.
    Allah berfirman:
    قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ
    “Katakan kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur[24]: 30)
    Allah berfirman:
    وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ
    “Dan katakan kepada kaum mukminat, hendaklah mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka dan menjaga kemaluan-kemaluan mereka.” (QS. An-Nur[24]: 31)
    Karena ketika seseorang melepaskan pandangannya kepada sesuatu yang diharamkan oleh Allah, sungguh itu akan berpengaruh kepada hatinya, hatinya menjadi keruh bahkan kemudian menjadi hitam dan kelam.
    Ketika seseorang tidak peduli dengan apa yang ia lihat, bahkan ia mengikuti syahawat dan hawa nafsunya untuk melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka saat itu, Allah cabut cahaya di hatinya, sehingga kemudian ia pun tidak diberikan oleh Allah kemampuan untuk memahami Al-Qur’an dengan lurus, tidak pula ia memahami Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Sehingga ia pun dijadikan oleh Allah sulit untuk menghapal Al-Qur’an, menghapal Sunnah, menghapal Ilmu. Demikian pula untuk memahaminya, akibat daripada matanya yang tidak dijaga.
    Kalau pun ia hapal Al-Qur’an, Allah cabut kelezatan Al-Qur’an dari hatinya, kalau ia pun hapal Al-Qur’an, Allah jadikan ia pun tidak memahami dan tidak akan keinginan untuk memahaminya, karena hatinya telah kotor. Sedangkan Al-Qur’an cocok untuk hati yang bening dan bersih.
    Ummatal Islam.
    Menjaga mata adalah merupakan perkara penjagaan yang harus kita lakukan. Karena kata Ibnul Qayyim, ia merupakan jendela hati, dari mata itulah muncul pikiran. Ketika seseorang melihat sesuatu ia akan berpikir dan berpikir. Dan pikiran itulah yang akan menjadikan sesuatu itu berubah menjadi niat.
    Lihatlah! ketika kita melihat sesuatu yang menyebabkan kita ingat Allah.
    Kita akan muncul niat untuk bertaqarrub kepada Allah, tapi ketika kita melihat sesuatu yang memalingkan kita dari Allah, melihat yang diharamkan oleh Allah. Muncul niat-niat untuk berbuat keharaman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Sehingga, orang yang ingin memelihara hati dan niatnya, penting sekali dia untuk memelihara matanya, sehingga dengan memelihara mata Allah berikan kepada dia kebeningan hati.
    Kebeningan hati itulah yang menyebabkan hati kita, iman kita terjaga di hati kita.
    13 min
  • Bab Banyak Bicara
    Bab Banyak Bicara adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 2 Dzulqa’dah 1444 H / 22 Mei 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Bab Banyak Bicara
    Kita jangan meremehkan urusan omongan. Kalau sekarang, lisan diganti dengan tulisan. Di banyak aplikasi atau momentum kita tidak lagi berbicara dengan lisan, tapi kita berbicara dengan tulisan. Maka sama hukumnya antara tulisan dengan lisan. Terkadang ada orang yang suka banyak bicara. Bagaimana posisi banyak bicara ini?
    Sebelum kita membacakan hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari, kita baca hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
    “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai, yang paling dekat duduknya sama aku pada hari kiamat, yaitu orang yang paling baik prilakunya/karakternya/budipekertinya.” (HR. Tirmidzi)
    Kita tahu surga itu ada 100 derajat. Antara satu derajat dengan derajat selanjutnya seperti antara langit dan bumi. Kita di dunia melihat bagaimana adanya perbedaan derajat di antara manusia. Ada yang pejabat publik, ada yang jadi bupati, ada yang naik lagi menjadi gubernur, ada yang naik lagi menjadi presiden. Dari sisi harta kita melihat juga, ada orang yang lahir di bidan, lalu dibawa ke rumah yang sederhana sekali yang mungkin ubinnya belum terpasang, tidak ada AC, kasurnya sudah lama, pakaian yang dipakai pun bekas dari kakaknya. Tapi ada anak yang lahir langsung disambut oleh dokter-dokter spesialis, diletakkan di ranjang yang mahal, dibungkus dengan selimut yang lembut, diletakkan di ruangan AC dengan pakaian baru yang bermerek. Adapun di akhirat maka lebih banyak lagi tingkatan dan kemuliaannya.
    Kita tidak pernah melihat Nabi, tapi engkau bisa duduk di dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yaitu dengan cara menjadi orang yang paling baik prilakunya, paling bagus karakternya, paling mulia budipekertinya. Bukan yang paling cantik, bukan yang paling tampan, bukan yang paling kaya, bukan yang paling gagah, bukan yang paling banyak followernya, bukan yang paling tinggi jabatannya.
    Kemudian kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ
    “Sesungguhnya orang yang paling aku benci, yang paling jauh duduknya dariku pada hari kiamat, orang yang banyak ngomong, orang yang berlebih-lebihan dalam tata cara bicaranya (untuk menarik orang lain), orang yang sombong.” (HR. Tirmidzi)
    Maka kita melihat kita banyak bicara atau tidak? Apa yang kita bicarakan?
    Jadi banyak bicara itu menyebabkan hati menjadi keras. Abdullah bin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan sebuah hadits yang memang secara sanadnya mungkin dhaif, tapi maknanya shahih. Disebutkan di dalam hadits itu:
    لا تكثرِ الكلامَ بغير ذكرِ اللهِ فإن كثرةَ الكلامِ بغير ذكر اللهِ قسوةٌ للقلبِ
    “Jangan banyak-banyak bicara selain dzikrullah. Sesungguhnya banyak bicara selain mengingat Allah itu menyebabkan hati menjadi keras.”
    Kalau banyak dzikir tidak mengapa. Bahkan Allah mengatakan:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرً
    “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengna dzikir yang sebanyak-banyaknya.
    1 hr 26 min
  • Hati Yang Selamat
    Hati Yang Selamat merupakan bagian dari kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, MA Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 29 Syawal 1444 H / 20 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Hati Yang Selamat
    Mengapa kita harus memiliki perhatian yang besar terhadap hati? Yang pertama karena hati adalah sumber. Kalau dia baik, maka seluruh jasad kita akan baik. Dan kalau dia rusak, maka seluruh jasad kita akan rusak. Di dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ
    “Ketahuilah bahwasanya di dalam jasad kita ini ada segumpal daging, kalau dia baik maka akan baik seluruh jasad, dan kalau dia rusak maka akan rusak seluruh jasad. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging tersebut adalah jantung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Lihat: Hadits Arbain Ke 6 – Hadits Tentang Syubhat
    Maka kalau demikian keadaannya, berarti kita harus memiliki perhatian yang besar terhadap qalb (jantung) kita.
    Kemudian yang kedua, ternyata di akhirat kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan di dalam Al-Qur’an bahwa yang akan bermanfaat di akhirat kelak adalah qalbun salim (jantung/hati yang selamat). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
    “Hari dimana tidak akan bermanfaat saat itu harta dan juga anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah ‘Azza wa Jalla di hari kiamat dalam keadaan dia memiliki jantung yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 88)
    Berarti kita harus memperhatikan hal ini. Karena kehidupan kita di dunia tidak selamanya. Yang akan kekal adalah kehidupan di akhirat. Tentunya masing-masing ingin mendapatkan keselamatan dan kesuksesan di hari kiamat.
    Kemudian yang ketiga, qalbun salim itulah yang bermanfaat bagi seseorang juga di dunia. Karena ketenangan yang sebenarnya adalah ketenangan hati. Kalau jantung/hati kita tenang, maka anggota badan kita juga mengikuti yang demikian.
    Yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lihat dari diri kita adalah hati dan juga amalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat bentuk jasad kita. Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وأعمالكم
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat pada jasad-jasad kalian, dan juga tidak melihat pada bentuk kalian. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat pada hati kalian dan amalan kalian.” (HR. Muslim)
    Ini yang akan Allah lihat, yaitu apa yang ada di dalam hati seseorang berupa keimanan. Kalau misalnya seseorang datang di hari kiamat dalam keadaan dia membawa qalbun yang selamat, maka dia adalah orang sukses di akhirat kelak. Karena itulah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lihat. Allah tidak melihat pada harta dan juga bentuk badan kita.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hati Yang Selamat
    Mari turut membagikan link download kajian “Hati Yang Selamat” ini ke jejaring sosial Facebook,
    1 hr 2 min
  • Remaja Masa Kini Yang Penuh Dinamika
    Remaja Masa Kini Yang Penuh Dinamika merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 25 Syawal 1444 H / 16 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Remaja Masa Kini Yang Penuh Dinamika
    Kita masuk pada bahasan remaja masa kini yang penuh dinamika. Karena ketika kita berbicara remaja maksudnya adalah remaja hari ini.
    Tentunya tidak sedikit orang tua mungkin merasa heran dengan anak-anak remaja mereka yang mungkin dinilai sangat berbeda kondisinya dengan kondisi mereka semasa remaja dulu. Baik dalam hal kedewasaan, kemandirian, ketelitian, keuletan, kesungguhan, kepekaan sosial dan seterusnya. Dan yang paling menonjol adalah dalam hal manajemen emosi.
    Jawaban singkat kadang terlontar, yaitu “namanya juga beda zaman.” Barangkali jawaban itu ada benarnya juga. Memang beda zaman, beda tantangan, beda keadaan juga. Dulu tidak sama seperti sekarang. Tapi coba sejenak kita akan telusuri akar permasalahannya. Bukan hanya sekedar mengatakan “memang beda zaman.” Tapi coba kita telusuri sisi lain agar kita bisa menemukan akar masalah.
    Tentunya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan pada diri manusia dua unsur, yaitu jasmani dan rohani atau dalam bahasa lain fisik dan akal. Yang mana manusia terus tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Apa-apa yang kita temukan hari ini tidak ditemukan dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ilmu-ilmu yang mungkin dulu tidak diketahui dan dimiliki oleh orang-orang dahulu. Seiring dengan berkembangnya ilmu manusia ini, maka terjadilah perubahan-perubahan.
    Manusia adalah makhluk yang terus tumbuh dan berkembang. Mereka dianugerahi kehendak. Kehendak inilah yang terus berjalan dilandasi dengan ilmu yang Allah berikan kepada manusia. Bukan hanya ilmu, tapi kekuatan manusia juga pada kehendak yang ada pada diri mereka. Sehingga manusia terus berkembang. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ
    “Kamu akan melewati kehidupan ini fase demi fase.” (QS. Al-Insyiqaq[84]: 19)
    Orang tua kadang-kadang kurang mengerti bahwa anaknya bukan bocah lagi, padahal anaknya sudah remaja tapi masih diperlakukan ibarat bocah. Ada anak yang sudah dewasa tapi masih diperlakukan seperti remaja. Ini tentu tidak tepat. Orang tua tidak memperhatikan pertumbuhan fisik yang ada pada anaknya. Maka Allah berikan nampak jelas perubahan-perubahan, baik yang terlihat (fisik), maupun yang terdengar (pita suara).
    Ketika anak sudah beranjak remaja, dia tidak mau bahkan risih diperlakukan seperti bocah. Maka orang tua juga harus mengerti pertumbuhan fisik.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Remaja Masa Kini Yang Penuh Dinamika
    Mari turut membagikan link download kajian “Remaja Masa Kini Yang Penuh Dinamika” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    53 min
  • Pengertian Remaja
    Pengertian Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa ,11 Syawal 1444 H / 02 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Pengertian Remaja
    Ada istilah remaja disamping istilah-istilah lainnya seperti pemuda-pemudi, atau anak muda. Tentunya mereka bukan bocah, tapi belum juga bisa disebut orang dewasa. Maka muncullah istilah remaja.
    Remaja dalam bahasa Arab disebut المراهقة, berasal dari kata رهق yang artinya mendekati. Sehingga dari segi bahasa masa remaja itu berarti usia yang meninggalkan masa kanak-kanak mendekati masa dewasa. Dia belum dewasa tapi mendekati masa dewasa.
    Sedangkan menurut ilmu psikologi, remaja adalah munculnya kematangan fisik, intelektualitas, psikologis dan sosial seorang anak. Seorang anak mencapai kematangan yang sempurna di semua sisi biasanya pada usia 20 tahun. Maka biasanya usia remaja itu antara 10 sampai 20 tahun. Adapun 20 tahun keatas dia sudah masuk usia dewasa yang di dalam Islam boleh memegang dan mengelola hartanya sendiri.
    Remaja adalah fase antara usia kanak-kanak dan usia dewasa. Fase usia ini disebut juga fase transisi (peralihan) yang mengubah seorang anak yang belum matang baik secara fisik, intelektual, emosional maupun sosial menjadi seorang anak manusia yang berproses menjadi manusia yang sempurna kematangannya.
    Kematangan berpikir itu juga disertai dengan kematangan fisik. Dimana orang itu sudah masuk kepada usia baligh. Misalnya dengan mimpi basah pada anak laki-laki dan haid pada anak perempuan. Artinya dia sedang menuju kematangan. Masa ini ditandai dengan usaha seorang remaja untuk mendapatkan jati diri. Dia ingin menjawab pertanyaan siapa aku, bagaimana aku?
    Maka satu yang kadang-kadang harus dimaklumi juga bahwa tindakan-tindakan yang terkadang eksplosif dari anak remaja. Karena dia masih mengalami kelabilan berpikir.
    Itulah remaja. Maka memang perlu dikawal dari awal masa remaja hingga akhirnya dia sudah menjadi orang dewasa. Kalau dibiarkan maka ini sangat berisiko. Dimasa-masa inilah orang tua sebenarnya harus menempel ketat anak remajanya. Berapa banyak kita lihat anak-anak remaja yang kehilangan arah dan akhirnya menempuh jalan yang salah setelah dewasa karena masa remajanya dibiarkan bebas.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Pengertian Remaja
    Mari turut membagikan link download kajian “Ada Apa dengan Remaja” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    52 min
  • Anjuran Dzikir Pagi dan Petang
    Anjuran Dzikir Pagi dan Petang adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 20 Ramadhan 1444 H / 11 April 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Adab Duduk di Majelis Ilmu
    Anjuran Dzikir Pagi dan Petang
    Pembahasan kita insyaAllah masih akan melanjutkan tentang dzikir di pagi hari dan di petang hari. Ini menunjukkan bahwa seorang hamba hendaknya selalu berdzikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah bahwa Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyariatkan kepada kita macam-macam dzikir. Karena memang manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah/menyembah Aku.” (QS. Az-Zariyat[51]: 56)
    Dan di antara ibadah yang afdhal adalah berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla mensyariatkan kepada kita berbagai hal yang Allah wajibkan seperti shalat, puasa, haji dan yang lainnya, ini semua adalah dalam rangka berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    … وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
    “Dan tegakkanlah shalat untuk berdzikir (mengingat Aku).” (QS. Tha Ha[20]: 4)
    Maka dzikir adalah ibadah yang mulia, yang mengikat hubungan seorang hamba dengan penciptanya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Di antara dzikir-dzikir yang kita dianjurkan membacanya adalah dzikir dipagi hari dan dipetang hari. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan contoh kepada kita tentang dzikir pagi dan petang. Meskipun sebetulnya berdzikir kepada Allah itu setiap waktu. Dimanapun dan kapanpun seorang hamba berada, dia dianjurkan untuk selalu berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Lihat: Teks dan mp3 dzikir pagi dan dzikir petang
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Anjuran Dzikir Pagi dan Petang
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Anjuran Dzikir Pagi dan Petang” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah