Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Kejanggalan Kisah Abu Hamzah yang Masuk Sumur

    Kejanggalan Kisah Abu Hamzah yang Masuk Sumur ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin,  1 Rabi’ul Akhir 1445 H / 16 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Kejanggalan Kisah Abu Hamzah yang Masuk Sumur



    Kita masih berbicara talbiz iblis terhadap kaum sufi dalam masalah perjalanan dan pengembaraan yang menjadi ciri khas mereka, dan ini sudah berlalu beberapa bab berkaitan dengan masalah ini. Karena salah satu di antara amalan mereka adalah bersafar di muka bumi dengan tujuan pengembaraan.



    Salah satu kisah yang mereka angkat di dalam bab ini adalah kisah yang dinukil dari Abu Hamzah Al-Khurasani. Dia bercerita: “Pada suatu hari aku melakukan perjalanan untuk menunaikan Haji. Saat berada di tengah perjalanan, aku terjatuh dan terjerembab dalam sebuah sumur.”



    Dia melanjutkan kisahnya: “Jiwaku mendorong agar berteriak minta tolong, tapi aku meyakinkan diri dengan berkata: ‘Tidak, demi Allah, aku tidak akan minta tolong kepada siapapun.’ Saat pikiran itu berlalu, tiba-tiba dua orang melintas di pinggir sumur. Salah satunya berkata kepada temannya: ‘Mari kita tutup sumur yang terletak di tengah jalan ini.’ Tak lama kemudian, keduanya membawa kayu dan tikar. Maka aku berkomat-kamit, seraya bergumam: ‘Mohonlah pertolongan yang lebih dekat denganmu (maksudnya Allah), daripada kedua orang itu.’ Maka aku pun tetap diam hingga keduanya menutup sumur tersebut.”



    Jadi maksudnya di sini adalah dia tetap bertahan untuk tidak minta tolong kepada orang yang ada di atas sumur itu yang mungkin saja bisa menolongnya. Dia tetap kukuh untuk tidak minta tolong kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih dekat dengannya, katanya gitu.



    Kisah-kisah seperti ini tentunya sering diangkat oleh kaum Sufi untuk menjelaskan tentang kehebatan tawakal mereka, bergantungnya mereka kepada Allah, kepasrahan mereka, dan sejenisnya.



    Tapi ada sisi kekonyolan di sini. Tentu saja dalam kondisi seperti ini, naluri manusia pasti minta tolong untuk bisa selamat, apalagi dua orang yang ada di atas sumur itu mau menutup sumur tersebut. Tapi begitulah, kisah-kisah seperti ini makruf di kalangan mereka, dan mereka suka dengan kisah-kisah seperti ini.



    Dia melanjutkan kisahnya: “Tiba-tiba datang sesuatu membuka lubang sumur yang sudah ditutup itu dan menjulurkan kedua kakinya ke bawah. Dengan bahasanya, dia berseru: ‘Berpeganglah!’ Spontan aku berpegangan padanya sampai dia mengeluarkanku dari dalam sumur. Saat aku lihat, ternyata sesuatu itu adalah binatang buas.”



    Ini lebih konyol lagi, di sini dia minta bantuan kepada binatang buas, kalau dia minta tolong kepada Allah, tentunya dia tidak perlu menyambut kedua kaki binatang buas itu ketika terjulur ke bawah. Dia tetap saja minta tolong sama Allah. Tapi demikianlah kisah-kisah seperti ini kadang-kadang tidak masuk akal dan terlalu mengada-ngada.



    Dia melanjutkan ceritanya: “Kemudian seorang memanggilku ‘Wahai Abu Hamzah, bukankah itu baik adanya, kami menyelamatkanmu dari kebinasaan dengan kebinasaan.'”



    Setelah keluar dari sumur itu, Abu Hamzah bersyair: “Rasa maluku padamu mencegah diri ini untuk utarakan keinginanku, minta tolong kepada makhluk.
    36 min
  • Menunaikan Hak Anak

    Menunaikan Hak Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin,  1 Rabi’ul Akhir 1445 H / 16 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Menunaikan Hak Anak



    Tidak ada di antara orang tua yang mau dikatakan menelantarkan anaknya. Karena itu adalah sebuah aib, setiap orang malu kalau dikatakan telah menelantarkan anaknya. Tapi sayangnya kenyataan yang kita saksikan ternyata tidak sedikit orang tua yang telah menelantarkan anaknya. Yaitu ketika mereka tidak menunaikan hak-hak anaknya.



    Jadi, orang tua yang tidak menunaikan hak anak-anaknya, sejatinya mereka telah menelantarkan anaknya. Hal ini bisa terjadi karena dua kemungkinan; kemungkinan yang pertama dia tidak tahu bahwa anak itu punya hak. Atau kemungkinan yang kedua, dia tahu tapi tidak peduli.



    Sayangnya, banyak orang menjadi orang tua tanpa tahu kewajiban apa yang harus dia lakukan. Itu adalah realitas yang pahit, sehingga tidak sedikit anak-anak yang terlantar.



    Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau sudah mewanti-wanti para orang tua. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    وَإِنَّ ‌لِوَلَدِكَ ‌عَلَيْكَ ‌حَقًّا



    “Sesungguhnya anakmu punya hak yang harus engkau tunaikan.” (HR. Muslim)



    Hak itu, kalau tidak ditunaikan, maka buntutnya panjang, bukan hanya akan dituntut di dunia, tapi juga akan dituntut di akhirat.



    Banyak hak anak yang wajib ditunaikan orang tuanya. Antara lain:



    Pertama: Nafkah



    Nafkah tersebut berupa kebutuhan sandang dan pangan. Hak itu wajib ditunaikan hingga anak memiliki kemampuan untuk bekerja memenuhi kebutuhannya sendiri. Allah ta’ala berfirman:



    وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ ‌رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلا وُسْعَهَا



    “Kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian anak-anaknya dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani melebihi kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 233)



    Haram hukumnya mengabaikan hak di atas. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ



    “Seseorang sudah cukup dianggap berdosa, bila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” HR. Abu Dawud (no. 1692) dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Arna’uth.



    Kedua: Pendidikan



    Orang tua wajib mendidik anaknya agar berakidah benar, mengajarinya shalat dan ibadah lainnya, serta membiasakan adab dan akhlak mulia. Allah ta’ala berfirman,



    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا



    “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim[66]: 6)



    Teknis menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah dengan mendidik dan mengajari mereka. Begitu keterangan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu.



    Konsisten menunaikan hak-hak anak, bukan sekedar untuk menjalankan perintah agama saja, namun juga akan membuat anak merasa dihargai keberadaannya.
    47 min
  • Orang yang Tertidur atau Lupa dari Shalat

    Orang yang Tertidur atau Lupa dari Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 30 Rabi’ul Awal 1445 H / 15 Oktober 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Orang yang Tertidur atau Lupa dari Shalat



    Kita sampai pada bab من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها (Orang yang tertidur dari shalat atau lupa, maka hendaklah ia melakukan shalat tersebut ketika ingat).



    Hadits 229:



     عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقَالَ إِنَّكُمْ تَسِيرُونَ عَشِيَّتَكُمْ وَلَيْلَتَكُمْ وَتَأْتُونَ الْمَاءَ إِنْ شَاءَ اللهُ تعالى غَدًا فَانْطَلَقَ النَّاسُ لَا يَلْوِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ قَالَ أَبُو قَتَادَةَ فَبَيْنَمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَسِيرُ حَتَّى ابْهَارَّ اللَّيْلُ وَأَنَا إِلَى جَانبِهِ قَالَ فَنَعَسَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَمَالَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَأَتَيْتُهُ فَدَعَمْتُهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ أُوقِظَهُ حَتَّى اعْتَدَلَ عَلَى رَاحِلَتِهِ قَالَ ثُمَّ سَارَ حَتَّى تَهَوَّرَ اللَّيْلُ مَالَ عَنْ رَاحِلَتِهِ قَالَ فَدَعَمْتُهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ أُوقِظَهُ حَتَّى اعْتَدَلَ عَلَى رَاحِلَتِهِ قَالَ ثُمَّ سَارَ حَتَّى إِذَا كَانَ مِنْ آخِرِ السَّحَرِ مَالَ مَيْلَةً هِيَ أَشَدُّ مِنْ الْمَيْلَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ حَتَّى كَادَ يَنْجَفِلُ فَأَتَيْتُهُ فَدَعَمْتُهُ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ مَنْ هَذَا قُلْتُ أَبُو قَتَادَةَ قَالَ مَتَى كَانَ هَذَا مَسِيرَكَ مِنِّي قُلْتُ مَا زَالَ هَذَا مَسِيرِي مُنْذُ اللَّيْلَةِ قَالَ حَفِظَكَ اللهُ بِمَا حَفِظْتَ…



    Dari Abu Qatadah -semoga Allah meridhainya-, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah kepada kami, maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan terus berjalan di sore hari ini, demikian pula di malam hari ini. Dan kalian akan mendatangi air, insyaAllah, besok.’ Maka pergilah, tidak ada seorang pun yang menengok kepada yang lainnya.”



    Berkata Abu Qatadah: “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang berjalan di atas kendaraannya hingga pertengahan malam, sementara aku berada di samping beliau. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengantuk, sehingga beliau miring di atas kendaraannya. Lalu aku pun mendatanginya, maka aku pun menahan beliau tanpa membangunkannya, hingga beliau pun duduk lagi secara lurus di atas hewan tunggangannya tersebut.



    Kemudian beliau pun berjalan lagi hingga kebanyakan malam telah pergi, maka beliau kembali miring lagi dari hewan kendaraannya itu. Maka aku pun kembali menahan beliau tanpa membangunkan beliau, hingga beliau pun kembali duduk dengan lurus di atas hewan tunggangannya.



    Kemudian beliau pun berjalan terus sampai di akhir malam, maka beliau lebih condong lagi dibandingkan dari dua kali tadi sampai-sampai beliau hampir-hampir jatuh dari kendaraannya. Maka beliau pun mendatangi beliau, lalu menahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka beliau pun mengangkat kepalanya, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: ‘Siapa ini?’ Aku menjawab: ‘Aku Abu Qatadah.’ Beliau bertanya lagi: ‘Semenjak kapan engkau mendapingi terus dalam perjalananku ini?’ Aku menjawab: ‘Senantiasa ini perjalananku semenjak awal malam tadi Hai Rasulullah.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan: ‘Semoga Allah menjaga kamu sebagaimana kamu menjaga nabiNya.



    Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Menurutmu apak...
    0 min
  • Mengubah Cara Pandang yang Mungkin Salah

    Mengubah Cara Pandang yang Mungkin Salah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 25 Rabi’ul Awal 1445 H / 10 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Mengubah Cara Pandang yang Mungkin Salah



    Di antara perkara yang penting dalam membangun interaksi dengan para remaja adalah bagaimana orang tua ataupun para pendidik (para guru) mengubah cara berpikir mereka terhadap remaja. Sebab ketika cara berpikirnya berubah, maka berubah pula cara pandang dan cara berinteraksi dengan anak remaja ini. Ada persepsi bahwa usia remaja adalah usia yang penuh dengan masalah. Maka ketika melihat remaja, seolah-olah melihat masalah, sehingga para pendidik dan orang tua melakukan kegiatan pendidikan yang tidak efektif dari sudut pandang remaja. Ini tentunya akan mempengaruhi bagaimana orang tua dan guru untuk bisa melakukan pendekatan kepada para remaja. Cara yang salah membuat mereka merasa tidak nyaman dan justru semakin menjauh. Oleh karena itu, orang tua dan para guru harus memiliki cara pandang yang benar di dalam menghadapi mereka.



    Di antara persepsi atau cara pandang yang salah adalah anggapan bahwa masa remaja adalah masa keresahan dan keguncangan, yang menurut sebagian orang mencapai tingkatan hampir mirip dengan penyakit jiwa. Indikasinya seperti susah diatur dan suka memberontak. Fase ini, kata mereka, adalah fase yang pasti dilewati oleh anak-anak remaja. Sehingga mereka menganggap bahwa keguncangan ataupun keresahan yang ada pada remaja itu sesuatu yang normal. Ini cara pandang sebagian orang sehingga di luar sana mereka menyebut masa remaja itu dalam masa kegilaan. Banyak orang tua dan para guru menganggap biasa ataupun banyak mentolerir perkara-perkara yang sebenarnya itu tidak normal. Kita lihat fenomena-fenomena yang terjadi di kalangan remaja, misalnya budaya tawuran, bullying, dan lain-lain sebagainya.



    Jadi, dianggap bahwa masa remaja dalam masa yang penuh dengan keresahan dan keguncangan mental. Persepsi yang salah ini sering dijadikan sebagai dalih pembenaran oleh para orang tua dan para pendidik atas perilaku buruk anak remaja, dengan alasan mereka masih remaja, sehingga memberikan toleransi kepada mereka yang kadang-kadang kebablasan. Akhirnya, banyak pihak yang terkecoh karena pandang yang salah ini, hingga menilai remaja itu sama seperti orang yang sedang terguncang ataupun masih labil jiwanya, sehingga tidak bisa dikatakan salah.



    Lalu para remaja mendengarkan pembenaran tersebut dari mulut orang tua dan guru, sehingga secara tidak langsung mereka juga mempercayai hal itu, lalu membias pada perilaku mereka atau juga yang mereka dapati melalui tontonan-tontonan tentang masa remaja yang penuh dengan kegilaan ataupun hal-hal yang di luar nalar, kenekatan, dan lain sebagainya. Jadilah itu suatu hal yang lumrah bagi seorang remaja. Ini berangkat dari cara pandang yang salah. Akibatnya, masa remaja pun menjadi pemicu untuk berlaku keliru dan tidak peduli. Sehingga mereka pun terabaikan saat mencapai masa-masa awal remaja, dan ironisnya, keadaan ini bisa berlanjut seumur hidupnya.



    Maka kita katakan, sebagian orang tua, secara berlebihan menyebut remaja sebagai masa-masa susah diatur. Maka, ketika melihat anak remajanya susah diatur, dia pun mengabaikannya seolah berkata: “Ya sudah, namanya remaja.” Padahal tidak semestinya seperti itu. Bahkan dikalangan psikolog Barat, mereka menyebut fase remaja sebagai madness (fase gila). Artinya,
    49 min
  • Kelebihan-kelebihan dan Keistimewaannya Dakwah Para Rasul

    Kelebihan-kelebihan dan Keistimewaannya Dakwah Para Rasul adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 24 Rabi’ul Awal 1445 H / 9 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Kelebihan-kelebihan dan Keistimewaannya Dakwah Para Rasul



    Dengan membahas keutamaan dari dakwahnya para rasul, maka kita bisa mencontoh dakwahnya para rasul. Kemudian, juga ini sebagai tolak ukur atau barometer sebuah dakwah. Apakah dakwah itu lurus atau bengkok? Apakah dakwah itu berada diatas petunjuk atau menyimpang? Kita melihat dari dakwahnya para rasul ini.



    Ada 9 kelebihan dan keistimewaan dakwah para pasul



    1. Dakwah Rabbaniyah



    Dakwah rabbaniyah maksudnya adalah mereka mendakwahkan apa yang Allah wahyukan kepada mereka, bukan pemikiran manusia, bukan juga perkara dari diri mereka sendiri. Dan ini masuk dalam ideologi/aqidah/keyakinan. Adapun keyakinan siapapun selain dakwahnya para nabi dan rasul itu terpengaruh dengan lingkungan dan latar belakang. Apalagi filsafat yang dielu-elukan oleh sebagian manusia, itu pasti terpengaruh dari lingkungan tinggal sekitarnya, lahirnya di daerah mana, tumbuh, dan bergaulnya, dan seterusnya. Adapun wahyu tidak terpengaruh dengan itu semua, karena dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Makanya kalau kita melihat dakwahnya para nabi dan rasul, ini dakwah yang betul-betul murni didasari dengan wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا



    “Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Hai Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami menganugerahkan kepada Dawud Kitab Zabur.” (QS. An-Nisa'[4]: 163)



    Di sini Allah menghabarkan pada kita bahwa para nabi itu mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan hasil dari pemikiran dan eksperimen manusia.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:



    وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ



    “Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Aku, maka hendaknya kalian beribadah kepadaku.'” (QS. Al-Anbiya[21]: 25)



    2. Tidak Meminta Upah



    Menit ke- Mereka tidak minta balasan dunia kepada orang yang didakwahi. Para rasul semuanya adalah orang-orang yang paling zuhud, mereka tidak meminta upah dari manusia dari dakwah mereka. Mereka minta pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.



    Dalilnya banyak, setiap nabi berkata kepada kaumnya, seperti yang Allah firmankan:



    يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ <...
    53 min
  • Hidayah Hati adalah Murni Karunia Ilahi

    Hidayah Hati adalah Murni Karunia Ilahi adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 24 Rabi’ul Awal 1445 H / 9 Oktober 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Hidayah Hati adalah Murni Karunia Ilahi



    Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa berdoa dengan doa:



    رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الْهُدَى لِي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا، لَكَ ذَاكِرًا، لَكَ رَاهِبًا، لَكَ مِطْوَاعًا ، لَكَ مُخْبِتًا ، إِلَيْكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا ، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَاهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ صَدْرِي



    “Wahai Tuhanku, tolonglah aku, dan jangan tolong musuhku untuk mengalahkanku. Bantulah aku, dan jangan bantu musuhku untuk mengalahkanku. Berikanlah aku kekuasaan, dan jangan kuasakan musuhku atasku. Berikanlah aku petunjuk dan mudahkanlah aku untuk mendapatkan petunjuk. Bantulah aku atas orang-orang yang melampaui batas terhadapku. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang banyak bersyukur, banyak berdzikir, senantiasa takut kepadaMu, senantiasa taat kepadaMu, senantiasa kembali kepadaMu, jadikanlah aku hamba yang banyak bertaubat. Wahai Tuhanku, terimalah taubatku, bersihkanlah dosa-dosaku, kabulkanlah doaku, perkuat alasanku, luruskan lisanku, beri petunjuk kepada hatiku, dan bersihkanlah kotoran-kotoran dari hatiku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dishahihkan Al-Albani)



    Di dalam hadits ini dijelaskan bahwa hidayah hati atau petunjuk yang didapatkan oleh hati kita adalah murni karunia dan pemberian dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, kepada jalan yang lurus. Allah Ta’ala berfirman:



    …وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ‎﴿٧﴾‏ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ‎﴿٨﴾



    “Akan tetapi Allah yang membuat kalian cinta kepada keimana, Dia-lah yang menghiasi keimanan tersebut di hati-hati kalian. Dan Dia-lah yang menjadikan kalian membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Karunia dan nikmat dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat[49]: 7-8)



    Mari kita perhatikan ayat-ayat dari Surah Al-Hujurat tadi yang menjelaskan perkara hidayah. Dan bahwasannya hidayah itu di tangan Allah ‘Azza wa Jalla, Dia yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, Dia-lah yang menjadikan seseorang cinta kepada keimanan, Dia-lah yang menghiasi keimanan di hati-hati manusia. Allah yang menjadikan orang-orang yang Dia pilih benci kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Siapa yang mendapat karunia ini, dialah orang yang mendapat petunjuk.



    Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala: Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadikan hamba-hamba yang beriman cinta...
    57 min
  • Sebab-sebab yang Dapat Melemahkan Bahkan Menghilangkan Keimanan

    Sebab-sebab yang Dapat Melemahkan Bahkan Menghilangkan Keimanan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 17 Rabi’ul Awal 1445 H / 2 Oktober 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Sebab-sebab yang Dapat Melemahkan Bahkan Menghilangkan Keimanan



    Hari ini, kita akan membahas pembaharuan iman dalam hati. Ini adalah kelanjutan dari pembahasan sebelumnya. Terdapat hadits dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



     إنَّ الإيمانَ ليَخلَقُ في جوفِ أحدِكم كما يَخْلَقُ الثوبُ ، فاسأَلوا اللهَ أن يُجدِّدَ الإيمانَ في قلوبِكم



    “Sesungguhnya iman itu bisa menua di diri salah seorang di antara kalian sebagaimana tuanya pakaian. Maka mintalah agar Allah memperbaharui keimanan dalam hati-hati kalian.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani)



    Hadits ini memberikan kita faedah bahwa memperbaharui iman mengharuskan seseorang mengetahui sebab-sebab yang dapat menguatkan dan mengembangkan keimanan. Juga seseorang ditutntut untuk selalu menjauhi sebab-sebab yang bisa melemahkan imannya. Maka seseorang dituntut untuk bersungguh-sungguh menguatkan, memantapkan dan menyempurnakan keimanannya serta waspada dari segala hal yang bisa melemahkan atau mengurangi iman.



    Ketika seseorang mengetahui sebab-sebab ini, tentu dia akan mendapatkan faedah yang sangat besar dan manfaat yang sangat banyak. Bahkan, kita wajib mengetahui hal ini, karena iman adalah kesempurnaan seorang hamba, iman adalah jalan menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Dengan iman, derajat seseorang akan terangkat di dunia dan akhirat. Iman adalah sebab dan jalan menuju segala kebaikan di dunia dan akhirat. Dan tidak akan kuat keimanadan kecuali jika kita mengetahui jalan-jalan dan sebab-sebab yang dapat memperkuatnya.



    Maka, seyogianya, bagi setiap muslim yang ingin memperbaiki dirinya, yang ingin berusaha mencapai kebahagiaan yang hakiki, seorang muslim harus bersungguh-sungguh untuk mempelajari sebab-sebab yang bisa menguatkan dan melemahkan keimanan. Kemudian, setelah ia mempelajari sebab-sebab tersebut, ia menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari agar imannya terus bertambah dan keyakinannya terus menguat. Tentu saja, dia juga dituntut untuk menjauhkan dirinya dari sebab-sebab yang bisa melemahkan dan mengurangi keimanannya.



    Dia harus menjaga dan membentengi dirinya agar tidak terjatuh pada perkara-perkara yang bisa melemahkan keimanannya. Dan barangsiapa yang diberi taufik untuk melaksanakan hal tersebut, berarti dia telah dibimbing dan diberi taufik untuk segala kebaikan.



    Seperti yang dikatakan oleh Al-Allamah Syaikh Abdurrahman As’Sa’di Rahimahullah, bahwa seorang hamba yang beriman yang senantiasa dibimbing oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia terus mengusahakan dua perkara, yaitu:




    * Menyempurnakan pokok-pokok dan cabang-cabang keimanan, ia mempelajarinya dengan baik, lalu berusaha mengamalkannya.



    * Berusaha menjauhkan diri dari perkara-perkara yang bisa membatalkan atau melemahkan keimanannya, baik itu fitnah-fitnah yang tampak maupun yang tidak tampak.
    56 min
  • Talbis Iblis Untuk Bersafar Tanpa Bekal

    Talbis Iblis Untuk Bersafar Tanpa Bekal ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 24 Rabi’ul Awal 1445 H / 9 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Talbis Iblis Untuk Bersafar Tanpa Bekal



    Kaum Sufi yang bersikap tidak membawa bekal dalam perjalanan atau bersafar tanpa bekal justru bertentangan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an. Allah memerintahkan kita untuk membawa bekal saat berperjalanan. Maka siapa saja musafir yang tidak membawa bekal dalam perjalanan, berarti dia telah melanggar perintah Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:



    …وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ…



    “Dan berbekallah kamu, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)



    Perintah untuk membawa bekal ini mencakup semua perbekalan yang diperlukan dalam perjalanan, seperti pakaian, makanan, uang, dan segala sesuatu yang dibutuhkan. Sebagai contoh, saat melakukan perjalanan ke tempat yang dingin, seorang hendaknya membawa pakaian hangat seperti jaket. Misalnya lagi ketika ingin bersafar ke luar negeri seseorang membawa dokumen identitas seperti paspor, surat-surat, dan hal-hal lainnya harus dibawa sesuai kebutuhan.



    Namun, kaum Sufi menganggap ini adalah sesuatu yang bertentangan dengan sikap tawakal. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Hamzah, dia berkata: “Aku benar-benar merasa malu kepada Allah jika sampai mengarungi padang pasir dalam keadaan perut kenyang. Aku juga benar-benar bersikap tawakal kepada Allah agar rasa kenyangku tidak menjadi bekal yang akan aku bawa dalam mengarunginya.”



    Banyak cerita-cerita yang dinisbatkan kepada kaum sufi yang bertujuan untuk mendapatkan pujian atau sanjungan dari manusia, atau untuk menganggap diri mereka sampai pada derajat yang takwa dan tawakal yang tinggi.



    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa masalah ini sudah dibahas sebelumnya. Mereka mengira bahwa tawakal adalah meninggalkan segala sebab dan upaya. Andaikan ini benar, berarti tindakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang membawa bekal tatkala pergi ke gua telah keluar dari hakikat tawakal. Yaitu ketika Rasulullah hendak hijrah ke Madinah, Asma binti Abi Bakar membawa bekal untuk Rasulullah dan Abu Bakar. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah dan Abu Bakar memahami pentingnya membawa bekal dalam perjalanan.



    Lihat: Doa, Tawakal dan Ikhtiar



    Kalaulah perbuatan Nabi membawa bekal itu keluar dari hakikat tawakal, maka nabi tentunya tidak menyuruh para sahabat untuk menyiapkan bekal bagi beliau untuk keluar berhijrah dari Makkah ke Madinah yang jaraknya sangat jauh. Nabi menempuh lebih kurang 450 KM, bukan dengan kendaraan yang cepat, tapi dengan menunggang unta.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Talbis Iblis Untuk Bersafar Tanpa Bekal” yang penuh manfaat ini ke je...
    37 min
  • Adab-Adab Shalat Malam

    Adab-Adab Shalat Malam ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 24 Rabi’ul Awal 1445 H / 9 Oktober 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Shalat Malam



    Kajian Tentang Adab-Adab Shalat Malam



    Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang adab-adab yang berkaitan dengan qiyamul lail. Untuk mencapai qiyamul lail yang baik, kita perlu memperhatikan adab-adab yang berkaitan dengan pelaksanaannya. Terdapat banyak hal yang berkaitan dengan adab-adab qiyamul lail.



    Persiapan Qiyamul Lail



    Ketika ingin melaksanakan qiyamul lail, kita perlu persiapan dengan melakukan hal-hal yang memudahkan untuk melakukannya. Persiapan ini di antaranya:



    1. Tidur Qailulah



    Melakukan tidur qailulah di siang hari, jika ini mudah bagi kita. Tidur qailulah atau tidur sebentar di tengah siang, ini membantu mengurangi rasa kelelahan di malam hari. Ketika tidak terlalu lelah, maka untuk bangun di tengah malam menjadi lebih mudah. Berbeda kalau seseorang menggunakan waktu siangnya full untuk kegiatan, maka malamnya akan menjadi sangat lelah, akhirnya sulit untuk bangun di tengah atau akhir malam.



    Maka usahakanlah untuk tidur sebentar di tengah hari. Ini diperintahkan oleh nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perintah tersebut sifatnya anjuran.



    2. Tidur setelah shalat isya



    Setelah shalat Isya, segeralah tidur. Jangan mengakhirkan tidur di malam hari. Disamping ini tidak baik untuk kesehatan, ini juga tidak baik untuk shalat malam. Orang yang tidur terlalu larut malam, seperti jam 11.00 atau jam 12.00, maka akan merasa berat dan sulit untuk bangun shalat malam. Jika mereka memaksakan diri untuk shalat malam setelah tidur, maka kekhusyukan dalam shalatnya akan berkurang, hal ini karena tubuhnya belum cukup beristirahat.



    Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, disebutkan dalam hadits:



    كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا



    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu tidak suka tidur sebelum shalat isya, dan beliau tidak suka ngobrol setelah shalat Isya.” (HR. Bukhari)



    Kebiasaan beliau adalah beliau tidur tidak lama setelah shalat isya. Meskipun ada beberapa kesempatan dimana beliau tidak langsung tidur tapi ngobrol dengan istrinya, tentu di sini ada maslahat syar’i. Mungkin beliau membahas tentang masalah yang dihadapi oleh sebagian sahabatnya atau yang lainnya, tapi ini bukan kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka jika ada maslahat yang lebih besar, maka sesekali tidak ada masalah untuk mengakhirkan tidur. Tapi ini tetep akan berpengaruh kepada mudahnya kita shalat malam.



    3. Mengatur tempat tidur



    Selain itu, kita perlu mengatur tempat tidur kita agar tidak sulit untuk bangun di malam hari. Tempat tidur yang terlalu mewah, empuk, dengan bantal dan kasur yang nyaman, maka ini akan membuat kita terlalu nyaman tidur di sana, sehingga sulit untuk bangun malam.



    Lihatlah bagaimana keadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau tidur.
    1 hr 7 min
  • Larangan Mengakhir-Akhirkan Shalat dari Waktunya

    Larangan Mengakhir-Akhirkan Shalat dari Waktunya merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 23 Rabi’ul Awal 1445 H / 8 Oktober 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Larangan Mengakhir-Akhirkan Shalat dari Waktunya



    Kita sampai pada bab النهي عن تأخير الصلاة عن وقتها (Larangan Mengakhir-Akhirkan Shalat dari Waktunya).



    Hadits 226:



    عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا قَالَ قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي قَالَ صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ.



    Dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku: “Bagaimana sikapmu apabila ada pemimpin-pemimpinmu yang mengakhir-akhirkan shalat dari waktunya atau mematikan shalat dari waktunya?” Lalu aku bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepadaku, apabila aku mendapatkan pemimpin seperti itu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tetaplah kamu shalat di awal waktu sendirian di rumahmu, dan jika kamu mendapatkan mereka shalat setelah itu, tetaplah shalat bersama mereka, karena shalatmu bersama pemimpin (yang kedua) itu menjadi sunnah untukmu.” (HR. Muslim)



    Abu Dzar Jundub bin Junadah Al-Ghifari Radhiyallahu ‘Anhu adalah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat berpegang kepada sunnah, bahkan disebut bahwa beliau mirip dengan Umar bin Khattab dalam masalah ketegasan.



    Al-Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa makna “mematikan shalat dari waktunya” artinya mengakhirkannya, dan yang dimaksud “mengakhirkan shalat dari waktunya” adalah mengakhirkan shalat dari waktunya yang paling utama (yaitu awal waktu), bukan artinya mengakhirkan shalat sampai keluar waktunya. Karena yang dilakukan oleh para pemimpin yang dulu maupun yang sekarang adalah mengakhirkan shalat dari waktunya yang paling utama, bukan mengakhirkan sampai keluarnya waktu. Berarti wajib kita memahami hadits ini sesuai dengan kenyataan yang ada.



    Ini yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pemimpin-pemimpin tersebut mengakhirkan shalat dari waktunya artinya dari awal waktu atau waktu yang paling utama.



    Shalat diawal waktunya pada setiap keadaan



    Anjuran untuk tetap shalat diawal waktunya pada setiap keadaan, kecuali tentunya yang dikecualikan oleh dalil, seperti misalnya ketika shalat dzuhur saat sangat panas, maka Rasulullah menganjurkan kita untuk mengakhirkannya. Karena kata Rasulullah:



    إذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاةِ . فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ



    “Jika panas menyengat, maka akhirkanlah shalat sampai sedikit agak dingin. Karena panas yang sangat itu berasal dari hembusan api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Lihat juga: Syarat-Syarat Shalat Beserta Penjelasannya



    Yang kedua adalah shalat isya. Shalat Isya yang paling utama adalah di akhir waktunya, tapi ingat ini pun kalau berjamaah. Adapun shalat-shalat yang lainnya,
    54 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah