Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Kunci Memperbaiki Amal Ibadah

    Kunci Memperbaiki Amal Ibadah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 2 Rabi’ul Akhir 1445 H / 17 Oktober 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Menjaga Lisan dan Kemaluan







    Kunci Memperbaiki Amal Ibadah



    Imam An-Nawawi membawakan hadits:



    وعن مُعَاذٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْني بِعَمَلٍ يُدْخِلُني الجَنَّةَ وَيُبَاعِدُني مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: «لَقَدْ سَألتَ عَنْ عَظيمٍ، وإنَّهُ لَيَسيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ: تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وتُؤتِي الزَّكَاةَ، وتَصُومُ رَمَضَانَ، وتَحُجُّ البَيْتَ» ثُمَّ قَالَ: «ألاَ أدُلُّكَ عَلَى أبْوابِ الخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيئَةَ كَما يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ» ثُمَّ تَلا: {تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ} حَتَّى بَلَغَ {يَعْمَلُونَ} ثُمَّ قَالَ: «ألا أُخْبِرُكَ بِرَأسِ الأَمْرِ، وَعَمُودِهِ، وَذِرْوَةِ سِنَامِهِ» قُلْتُ: بَلَى يَا رسولَ اللهِ، قَالَ: «رَأسُ الأمْر الإسْلامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةِ سِنَامِهِ الجِهادُ» ثُمَّ قَالَ: «ألاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ!» قُلْتُ: بلَى يَا رَسولَ اللهِ، فَأخَذَ بِلِسانِهِ وقال: «كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا» قُلْتُ: يَا رسولَ الله وإنَّا لَمُؤاخَذُونَ بما نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فقالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ! وَهَلْ يَكُبُّ الناسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟». رواه الترمذي، وقال: «حديث حسن صحيح»، وَقَدْ سبق شرحه في باب قبل هَذَا



    Dari Mu’adz Radhiyallahu ‘Anhu, katanya: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku dengan suatu amal yang dengan sebab amal tersebut aku masuk surga dan dijauhkan dari api neraka.’ Maka kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Sungguh kamu telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan sesungguhnya apa yang kamu tanyakan adalah sesuatu yang mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Yaitu kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun, kamu menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa dibulan Ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.’



    Kemudian beliau berkata: ‘Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah itu memadamkan dosa seorang hamba sebagaimana air memadamkan api dan shalatnya seseorang di tengah malam.’



    Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca:



    تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ‎﴿١٦﴾‏ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ‎﴿١٧﴾



    ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah[32]: 16-17)



    Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Maukah engkau saya beritahu tentang pangkal dari semua urusan, tiangnya dan puncak kemuliaannya?
    1 hr 24 min
  • Mengenal Allah

    Mengenal Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 8 Rabi’ul Akhir 1445 H / 23 Oktober 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Mengenal Allah



    Dari sahabat Imran bin Husain Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Pernah datang satu kaum dari penduduk Yaman kepada Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mereka berkata: ‘Kami mendatangimu wahai Rasulullah untuk mempelajari agama. Dan kami ingin bertanya, apa yang terjadi pertama kali di alam semesta ini?’ Jawab Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    كانَ اللَّهُ ولَمْ يَكُنْ شيءٌ قَبْلَهُ، وكانَ عَرْشُهُ علَى المَاءِ ثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ والأرْضَ، وكَتَبَ في الذِّكْرِ كُلَّ شيءٍ



    ‘Dahulu, sejak pertama kali Allah sudah ada, dan tidak ada sesuatu yang ada sebelumnya. Dan ‘Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas air, kemudian Allah menciptakan langit dan bumi, dan menuliskan di dalam sebuah kitab segala sesuatu.'” (HR. Bukhari)



    Ketahuilah bahwa sesungguhnya di antara fikih yang paling perlu untuk kita pelajari, dan paling penting untuk kita ketahui, adalah makrifatullah (mengenal Allah ‘Azza wa Jalla), mengetahui keagungan, kebesaran, kesempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla, mengetahui luasnya ilmu Allah ‘Azza wa Jalla, mengetahui bahwa apa yang Allah hendaki pasti terjadi, mempelajari dan mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna KekuasaanNya. Dan bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada pencipta selainNya, tidak ada raja yang sebanding dengan Allah. Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat yang mengatur alam semesta, yang memberi dan menahan, yang mengangkat dan menjatuhkan, yang menyempitkan dan meluaskan, yang memuliakan dan menghinakan, yang menghidupkan dan mematikan. Semua di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman:



    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا



    “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah turun di antara keduanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Talaq[65]: 12)



    Wajib bagi setiap muslim untuk mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, mengetahui keagungan, kemuliaan, kesempurnaan, kebesaran, dan keluasan ilmu Allah ‘Azza wa Jalla. Wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui luasnya kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Maha Sempurnanya kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, apa yang Allah tidak kehendaki tidak mungkin terjadi. Setiap muslim mesti mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatu apapun, meskipun sekecil anak semut di langit dan di bumi, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui dan menghendakinya. Tidak ada yang mampu menolak apa yang Allah inginkan, dan tidak ada yang bisa mengganggu keputusan Allah. Apa yang Allah kehendaki akan terjadi pada waktu dan bentu...
    52 min
  • Hakikat Yahudi

    Hakikat Yahudi adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 8 Rabi’ul Akhir 1445 H / 23 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Hakikat Yahudi



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى



    “Perumpamaan kaum Mukminin dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi, perumpamaannya adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lain ikut sakit dengan tidak bisa tidur, juga dengan demam.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)



    Kita semua, dengan adanya media sosial dan alat komunikasi yang canggih, di hari-hari ini, kita mendapat berita, mendengar, melihat, menyaksikan saudara kita di Palestina dibantai oleh kaum Yahudi dan banyak yang meninggal. Dan kita merasa sedih karena mereka kaum Muslimin. Dan kita juga orang Islam, ketika mereka sakit, maka terasa ikut sakit. Kita berdoa pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah menjaga saudara-saudara kita, kaum Muslimin di Palestina.



    Siapakah hakikat Yahudi?



    Yahudi, disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an sebagai الشياطين (setan-setan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ



    “Apabila mereka (orang-orang munafik) berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman’. Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanyalah mengolok-olok'” (QS. Al-Baqarah[2]: 14)



    Kebanyakan ulama tafsir menafsirkan “setan-setan mereka” dengan Yahudi. Di antaranya Ibnu Abbas, Qatadah, dan yang lainnya.



    Kemudian, kata ulama bahwa Yahudi adalah orang yang suka membuat kerusakan di tengah bumi. Allah Ta’ala berfirman di surah Al-Ma’idah ayat yang ke-64:



    …وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ



    “Mereka suka sekali melakukan kerusakan diatas mukabumi, dan Allah tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 64)



    Yahudi adalah pembunuh para nabi. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:



    فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ…



    “Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar…” (QS. An-Nisa'[4]: 155)



    Yahudi adalah gurunya orang yang suka berkhianat. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:



    فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً…



    “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu…” (QS. Al-Ma’idah[5]: 13)



    Yahudi adalah orang-orang yang suka mensifati Allah d...
    1 hr
  • Talbis Iblis atas Kaum Sufi ketika Datang dari Perjalanan

    Talbis Iblis atas Kaum Sufi ketika Datang dari Perjalanan ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 8 Rabi’ul Akhir 1445 H / 23 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Talbis Iblis atas Kaum Sufi ketika Datang dari Perjalanan



    Di antara talbis Iblis terhadap manusia, yaitu menggiring mereka kepada perkara yang diada-adakan dalam agama, atau dengan kata lain disebut bid’ah. Yang mana merubah-rubah syariat, menambah-nambahi, atau mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada, ini merupakan salah satu talbis iblis terhadap manusia dalam semua bab-bab agama. Karena agama tidak perlu ditambah-tambahi, dan tidak perlu juga diubah-ubah. Karena Allah telah menyempurnakan agama terakhir, yang tidak ada lagi petunjuk yang datang sesudahnya.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    …الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا…



    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 3)



    Seiring dengan turunnya ayat tersebut, maka Allah telah mengabarkan kepada manusia bahwa agama ini sudah sempurna. Maka Allah pun menyuruh kita untuk masuk ke dalam agama ini secara sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



     يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً…



    “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam agama ini secara sempurna (menyeluruh).” (QS. Al-Baqarah[2]: 208)



    Allah telah menjelaskan segala sesuatu di dalam kitabNya dan melalui sunnah nabiNya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka salah satu pokok-pokok kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ittiba’ kepada sunnah nabi dan menjauhi segala perkara-perkara yang diada-adakan (perkara-perkara bid’ah).



    Salah satu talbis iblis kepada manusia adalah menggambarkan seolah-olah perkara bid’ah ini adalah baik, berupa ketaatan. Karena sebagaimana definisi bid’ah, yaitu menyerupai syariat; serupa tapi tidak sama, mirip tapi bukan dia, seperti itulah bid’ah. Sehingga dengan mudah iblis bisa menyeret manusia kepada bid’ah. Tidak pandang bulu, orang yang tidak punya semangat agama sampai orang yang punya semangat agama, iblis menyeret mereka kepada perkara-perkara bid’ah.



    Bid’ah kaum sufi ketika safar



    Di sini masih berkaitan dengan pembicaraan tentang kaum Sufi, berkaitan dengan beberapa ajaran mereka di dalam safar. Ibnul Jauzi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan bahwa di antara paham yang dianut oleh kaum Sufi adalah ketika musafir datang dari satu tempat, dan dia masuk ke dalam ribat (tempat berkumpul yang di sana terdapat sejumlah jemaah), maka dia tidak boleh mengucapkan salam kepada mereka sebelum masuk ke tempat wudhu dan berwudu. Setelah berwudu, dia masuk, lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Setelah itu, barulah dia boleh mengucapkan salam kepada Syaikh atau kepada para jemaah.



    Tentunya, adab yang diajarkan nabi adalah ketika masuk ke sebuah majelis, kita mengucapkan salam kepada mereka. Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ini hal yang dibuat-buat oleh kaum Sufi yang datan...
    36 min
  • Shalat dengan Pakaian yang Bercorak

    Shalat dengan Pakaian yang Bercorak merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 7 Rabi’ul Akhir 1445 H / 22 Oktober 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Shalat dengan Pakaian yang Bercorak



    Kita sampai pada bab الصَّلَاة في الثَّوْبِ المعلم (Shalat di pakaian yang ada padanya hiasan corak berupa garis-garis ataupun yang lainnya).



    Hadits 232:



    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي في خَمِيصَةٍ ذَاتِ أَعْلَامٍ فَنَظَرَ إِلَى عَلَمِهَا فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالَ اذْهَبُوا بِهَذِهِ الْخَمِيصَةِ إِلَى أَبِي جَهْمِ بْنِ حُذَيْفَةَ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيِّهِ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا في صَلَاتِي. 



    Dari ‘Aisyah -semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri shalat memakai pakaian yang mempunyai garis-garis (hiasan), maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat kepada corak tersebut. Ketika Rasulullah telah selesai shalat, beliau bersabda: ‘Pergilah dengan membawa pakaian ini kepada Abu Jahm bin Hudzaifah dan suruh dia membawakan pakaian yang polos, karena coraknya tadi membuat aku lalai dalam shalatku.”” (HR. Muslim)



    Hadits ini menunjukkan bahwa dianjurkan kita untuk menghindar dari segala sesuatu yang bisa merusak kekhusyukan shalat, entah itu berupa gambar-gambar atau yang lainnya. Maka dari itu, kita berusaha untuk menghindari sajadah yang bergambar, misalnya. Karena hal itu bisa mengganggu kekhusyukan kita.



    Hadits ini juga menunjukkan bahwa kalau terganggu kekhusyukan shalat kita, sehingga pada waktu itu tidak bisa khusyuk, maka shalat kita sah. Ini menunjukkan bahwa khusyuk itu hukumnya tidak wajib. Sebab kalau khusyuk itu wajib, berarti orang yang tidak khusyuk berdosa. Akan tetapi, hilangnya kekhusyukan itu mengurangi pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Khusyuk itu ada pada badan dan juga pada hati. Khusyuk pada badan yaitu diam. Sedangkan khusyuk pada hati, yaitu fokus untuk memahami ayat-ayat Allah dan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau khusyuk pada badan, maka ini wajib, karena orang yang bergerak banyak (secara terus-menerus), maka batal shalatnya. Adapun gerakan yang sedikit saja, maka ini tidak membatalkan shalat.



    Adapun gerakan yang sifatnya banyak, kata Al-Hafidz Ibn Hajar, apabila itu terus-menerus, batal shalatnya. Kalau gerakan banyak, tapi ada jeda yang panjang dan terpisah-pisah, yang seperti ini tidak membatalkan shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat dalam keadaan menggendong Umamah. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap kali mau sujud, disimpannya Umamah, ketika beliau mau berdiri lagi disimpan lagi di pundaknya. Ketika mau sujud, disimpan lagi di tanah, demikian empat rakaat.



    Yang membatalkan shalat itu gerakan banyak yang terus-menerus. Karena dia telah kehilangan khusyuk yang sifatnya pada badan. Adapun khusyuk yang ada dalam hati, dimana kita fokus untuk mengingat Allah, memahami bacaannya, maka ini tidak wajib. Karena seringkali kekhusyukan itu mudah sekali untuk hilang.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian
    54 min
  • Khutbah Jumat: Kemarau Panjang

    Khutbah Jumat: Kemarau Panjang ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 5 Rabi’ul Akhir 1445 H / 20 Oktober 2023 M.







    Khutbah Jumat: Kemarau Panjang



    Sesungguhnya munculnya berbagai macam musibah adalah akibat dosa-dosa manusia. Allah Ta’ala berfirman:



    ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ…



    “Telah muncul kerusakan di daratan dan di lautan diakibatkan perbuatan-perbuatan manusia…” (QS. Ar-Rum[30]: 41)



    Ibnu Abbas berkata: “Disebabkan oleh dosa-dosa mereka.”



    Kita umat Islam meyakini bahwa musibah yang menimpa bukanlah sebatas fenomena alam, akan tetapi itu akibat dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah berfirman:



    وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ 



    “Tidaklah musibah yang menimpa kecuali semua itu akibat dosa-dosa kalian, dan Allah memaafkan banyak manusia.” (QS. Asy-Syura[42]: 30)



    Munculnya berbagai macam hal-hal yang kita tidak inginkan, entah itu gempa bumi, tsunami, kekeringan, atau musim kemarau yang sangat panjang, semuanya itu akibat dari dosa-dosa kita.



    Akan tetapi, saudaraku.. Saat kita ditimpa musibah malah kembali kepada Allah, itu adalah merupakan kebahagiaan untuk kita. Namun ketika Allah memberikan peringatan-peringatan, tapi kita tidak mau kembali kepada Allah, tidak mau kita menjadikan hal itu sebagai pelajaran untuk hidup kita dan untuk diri kita, maka Subhanallah, betapa kerasnya hati kita kalau begitu, saudaraku?



    Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemaaf; Allah tidak menjadikan setiap maksiat untuk kita langsung diberikan balasan di dunia, akan tetapi Allah masih memberikan kepada kita uluran demi uluran, waktu demi waktu, agar kita mau bertaubat kepada Allah. Terkadang Allah timpakan musibah agar menjadi pelajaran.



    …عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ…



    “Pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Yusuf[12]: 111)



    Pelajaran agar segera kembali kepada Allah. Akan tetapi kerasnya hati yang menjadikan kita tidak mau mengambil pelajaran, saudaraku.



    Maka kewajiban kita, saudaraku.. Kembalilah kepada Allah. Allah berfirman:



    وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ…



    “Kembalilah kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Az-Zumar[39]: 54)



    Maka sesungguhnya ketika kita kembali kepada Allah, kita mohon ampun kepada Allah, kita istighfar kepada Allah, saat itu Allah pasti bukakan kepada kita pintu-pintu keberkahan. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’anul Karim, ketika menyebutkan perkataan Nabi Nuh kepada kaumnya:



    فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ‎﴿١٠﴾‏ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ‎﴿١١﴾‏ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا ‎﴿١٢﴾



    “Aku berkata: ‘Wahai kaumku, minta ampunlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Niscaya Allah kirimkan kepada kalian hujan yang lebat. Allah akan memberikan kepada kalian harta dan anak-anak,
    13 min
  • Mengapa Generasi Muda Perlu Diperhatikan

    Mengapa Generasi Muda Perlu Diperhatikan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 2 Rabi’ul Akhir 1445 H / 17 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Mengapa Generasi Muda Perlu Diperhatikan



    Mengapa generasi muda perlu diperhatikan? Seberapa penting urusan generasi muda ini, terutama anak-anak remaja?



    Generasi muda adalah penopang masyarakat dan pondasi bangunan umat. Karena itulah, orang tua dan juga para Da’i harus memberikan perhatian lebih pada pendidikan dan dakwah bagi generasi muda, khususnya anak-anak dan remaja. Di samping orang tuanya perlu mengaji, menuntut ilmu, anak-anak juga harus diberi porsi yang cukup untuk menuntut ilmu, mengaji, taklim, dan dibiasakan dengan majelis ilmu, bukan hanya kelas di sekolah, tetapi majelis-majelis ilmu yang ada di luar sekolah. Misalnya, di masjid.



    Kadang-kadang majelis-majelis di luar sekolah itu hanya ditujukan kepada orang-orang tua, sehingga anak-anak muda kadang-kadang merasa itu bukan majelis mereka. Dan juga kadang-kadang materinya juga berkaitan dengan orang-orang tua, sehingga anak-anak dan remaja ini terabaikan.



    Maka kajian anak-anak dan remaja yang perlu untuk digalakkan. Karena untuk mengakrabkan mereka dengan Masjid dan majelis ilmu. Apalagi hari ini, kalau bukan Masjid tempat mereka, maka di mana lagi?



    Kita lihat anak-anak remaja hari ini lebih senang nongkrong di kafe-kafe atau di tempat-tempat berkumpul komunitas mereka. Majelis ilmu menjadi sesuatu yang mungkin asing bagi mereka. Kadang-kadang mereka mau ngaji pun diadakan di kafe. Sehingga ini membuat jarak antara mereka dan masjid. Padahal salah satu di antara orang yang dinaungi Allah itu adalah remaja yang hatinya terpaut dengan masjid, tumbuh besar di masjid. Tapi masjid bukan tempat yang ramah bagi anak-anak. Apalagi kalau urusannya dengan Marbot, ini seperti berseteru terus, tidak ada damainya. Sehingga anak-anak ini pun merasa mereka tidak diharapkan ada di dalam masjid. Maka perlu diadakan taklim ataupun acara-acara di masjid khusus untuk anak-anak dan remaja.



    Dahulu ada istilahnya “IRM (Ikatan Remaja Masjid).” Di setiap masjid ada remaja masjidnya, tapi sekarang tidak ada lagi ikatan remaja masjid seperti ini, yang ada remaja kafe. Remaja-remaja senangnya nongkrong di kafe. Ini perlu dihidupkan lagi. Dahulu, remaja masjid ini membuat acara untuk mereka dan memang untuk remaja.



    Maka perlu kita ketahui dan sadari bahwa memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dan remaja adalah perkara yang sangat penting hari ini, karena musuh-musuh Islam juga menyasar dan membidik mereka, seperti propaganda LGBT dan lain sebagainya, gerakan pemurtadan dan lain sebagainya, itu yang disasar adalah anak-anak dan remaja.



    Para orang tua, khususnya para Da’i dan guru, harus memberikan perhatian lebih kepada mereka. Maka kita mendorong agar menggalakkan kembali kegiatan-kegiatan anak-anak dan remaja di masjid, bukan hanya sekolah.



    Mereka memang bersekolah, tapi mereka juga harus diperkenalkan dengan majelis-majelis di luar sekolah yang berkaitan dengan menuntut ilmu. Karena asumsi banyak anak-anak dan remaja hari ini, mereka menganggap sudah cukup di sekolah, sehingga merasa tidak membutuhkan majelis-majelis itu di luar sekolah. Masalahnya adalah ketika tamat sekolah, mereka tidak akrab dengan majelis-majelis ini.



    51 min
  • Menjaga Lisan dan Kemaluan

    Menjaga Lisan dan Kemaluan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 2 Rabi’ul Akhir 1445 H / 17 Oktober 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Diharamkannya Ghibah dan Perintah untuk Menjaga Lisan







    Menjaga Lisan dan Kemaluan



    Imam An-Nawawi membawakan hadits:



    وعن سفيان بن عبد الله – رضي الله عنه – قَالَ: قُلْتُ: يَا رسولَ الله حدِّثني بأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ: «قلْ: رَبِّيَ اللهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ» قُلْتُ: يَا رسولَ اللهِ، مَا أخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ بِلِسانِ نَفْسِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذَا».



    Dari Sufyan bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu, katanya: “Saya berkata: ‘Ya Rasulullah, tolong sampaikanlah kepadaku suatu perkara yang aku bisa berpegang teguh kepada perkara tersebut.'” Kata nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam: “Katakankah: ‘Allah adalah Rabbku,’ dan istiqamahlah kamu.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah sesuatu yang paling engkau khawatirkan pada diriku.” Maka beliau kemudian memegang lisannya, kemudian berkata: “Ini.” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih)



    Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengingatkan kepada kita semuanya melalui sahabat Sufyan bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa sesuatu yang paling dikhawatirkan terhadap manusia adalah lisannya. Karena lisan ini memang benda yang tidak bertulang, tetapi sangat berbahaya. Terutama orang yang berilmu, para Dai, para Ustadz, ini tentu lebih utama untuk menjaga lisan-lisan mereka. Kalau saja orang-orang awam atau umat secara menyeluruh itu diperintahkan oleh Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar berkata yang baik, menjaga lisan, dan seterusnya, apalagi orang-orang yang berilmu. Mereka hendaknya tentu lebih utama untuk menjaga lisan.



    Kemudian, juga Ketika Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda: “Katakanlah: ‘Allah adalah Rabbku.’ kemudian istiqamahlah.” Ini tentu terambil dari firman Allah ‘Azza wa Jalla:



    إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ



    “Sesungguhnya orang-orang yang mereka mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka disaat mereka akan meninggal turunlah kepadanya para malaikat sembari mengatakan: ‘Janganlah kalian takut dan jangan pula bersedih hati; dan berita gimbira bagi kamu sekalian dengan surga yang dijanjikan oleh Allah kepada kalian.'” (QS. Fussilat[41]: 30)



    Kemudian, juga di dalam surah Al-Ahqaf, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ



    “Sesungguhnya orang-orang yang mereka mengucapkan: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka tiada rasa khawatir pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 13)



    Hadits berikutnya,
    1 hr 25 min
  • Baiknya Niat

    Baiknya Niat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 1 Rabi’ul Akhir 1445 H / 16 Oktober 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Baiknya Niat



    Imam Al-Bukhari Rahimahullahu Ta’ala meriwayatkan dalam kitabnya Sahih Bukhari, yang merupakan kitab yang paling sahih setelah Al-Qur’an, dari sahabat ‘Umar Ibn Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ



    “Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya untuk Allah dan RasulNya, maka pahala hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ia cari atau wanita yang ia ingin nikahi, maka hijrahnya untuk tujuan yang dia inginkan dari hijrah tersebut.” (HR. Bukhari)



    Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam beberapa bagian kitab tersebut dengan sanadnya sampai kepada Al-Qamah bin Waqqash Al-Laitsi. Dan di tempat yang pertama, berkata Alqamah Rahimahullah: “Aku mendengar sahabat ‘Umar bin Khattab berkhutbah di atas mimbar, dan mengatakan: ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ (Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.'”



    Kemudian, di tempat yang lain, Alqamah Rahimahullah mengatakan: “Aku mendengar sahabat ‘Umar bin Khattab berkhutbah, beliau mengatakan: ‘Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ..



    “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.”



    Dua riwayat dari hadits yang agung ini, yang dua-duanya terdapat dalam kitab Shahih Bukhari, menunjukkan bahwa hadits yang mulia ini disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di khutbah beliau yang umum di atas mimbar sebagai peringatan bagi seluruh umat agar mereka benar-benar memperhatikan tentang Islahul Qulub (memperbaiki hati/niat). Perkara ini diikuti oleh sahabat ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, beliau pun berkhutbah di atas mimbar memperingatkan manusia tentang pentingnya niat. Dan para Da’i (orang-orang yang menyeru dan menasihati manusia kepada kebaikan) juga berulang-ulang mengingatkan manusia di atas mimbar tentang pentingnya memperhatikan niat dan tingginya kedudukan niat. Dan bahwasanya pengaruh niat ini sangat besar dalam memperbaiki hati seseorang.



    Maka seluruh amalan akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tergantung niat orang yang melakukan amalan tersebut. Apabila niatnya ikhlas (murni untuk Allah ‘Azza wa Jalla), dia inginkan dengannya pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan menerima amalan tersebut. Namun sebaliknya, jika tidak diniatkan untuk mencari pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka amalan tersebut pasti tertolak,
    54 min
  • Tujuan Dakwah Nabi dan Rasul Sangat Jelas

    Tujuan Dakwah Nabi dan Rasul Sangat Jelas adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin,  1 Rabi’ul Akhir 1445 H / 16 Oktober 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Kelebihan-kelebihan dan Keistimewaannya Dakwah Para Rasul







    Kajian Tentang Tujuan Dakwah Nabi dan Rasul Sangat Jelas



    Ada beberapa yang sudah kita sebut dalam pertemuan yang lalu tentang keistimewaan-keistimewaan dakwah para nabi dan rasul. Yang pertama, dakwahnya bersifat Rabbaniyyah, yakni berdasarkan wahyu Allah, bukan hasil pemikiran manusia. Yang kedua, mereka tidak meminta upah atau balasan atas dakwah mereka. Kemudian yang ketiga, dakwah mereka disertai rahmat dan hikmah, artinya penuh kasih sayang dan hikmah.



    4. Sangat perhatian terhadap aqidah tauhid dan memperingatkan dari kesyirikan



    Allah Ta’ala berfirman di Surah Al-Anfal:



    وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ



    “Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada fitnah (kesyirikan) lagi. Dan agar agama semuanya milik Allah. Dan apabila mereka berhenti (dari kesyirikan), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui perbuatan mereka.” (QS. Al-Anfal[8]: 39)



    Di dalam Surah An-Nisa, Allah berfirman:



    إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا



    “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Allah mengampuni selain dari dosa syirik bagi siapa yang Allah kehendaki. Dan barangsiapa yang berbuat syirik, sesungguhnya dia telah melakukan dosa dengan dosa yang besar.” (QS. An-Nisa'[4]: 48)



    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:



    …إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ



    “Sesungguhnya siapa saja orangnya yang berbuat kesyirikan kepada Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, dan tidak ada penolong bagi orang-orang dzalim.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 72)



    Dalam hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman:



    يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فيك وَلا أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آَدَمَ لَو بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ و لا أبالي، يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لقِيْتَنِيْ لاَتُشْرِكُ بِيْ شَيْئَاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغفِرَةً



    “Wahai Bani Adam, sesungguhnya selagi engkau berdoa dan berharap kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam kalau seandainya dosa-dosamu sampai ke atas langit, kemudian engkau memohon ampun kepada Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam seandainya engkau datang kepadaKu dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa denganKu dalam keadaan tidak berbuat syir...
    55 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah