Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Haramnya Merusak Kehormatan Seorang Muslim

    Haramnya Merusak Kehormatan Seorang Muslim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 16 Rabi’ul Akhir 1445 H / 31 Oktober 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Kunci Memperbaiki Amal Ibadah







    Haramnya Merusak Kehormatan Seorang Muslim



    Hadits yang akan kita bahas adalah hadits Abu Bakrah yang sudah diterjemahkan dan dibaca pada pertemuan yang lalu, namun belum dibahas secara lebih luas akan kandungan dari hadits ini.



    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:



    وعن أَبي بَكْرة – رضي الله عنه: أنَّ رَسُولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ في خُطْبَتِهِ يَوْمَ النَّحْرِ بِمِنًى في حَجَّةِ الوَدَاعِ: «إنَّ دِماءكُمْ، وَأمْوَالَكُمْ، وأعْرَاضَكُمْ، حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، في شَهْرِكُمْ هَذَا، في بَلَدِكُمْ هَذَا، ألا هَلْ بَلَّغْتُ» متفق عَلَيْهِ.



    Dari Abu Bakrah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam khutbahnya pada hari Idul Adha di Mina pada saat melaksanakan Haji Wada’: “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan-kehormatan kalian, semua itu adalah haram atas kalian sebagaimana haramnya hari ini pada bulan ini dan di negeri kalian ini. Ketahuilah, apakah sudah akuu sampaikan kepada kalian?” (Muttafaq ‘alaih)



    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mana beliau adalah orang yang sangat mencintai umatnya. Oleh karena itu setiap ada kesempatan dan peluang untuk menasihati umat beliau, maka beliau selalu lakukan hal tersebut. Salah satu kesempatan dan peluang yang sangat besar adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan kepada kita dalam pidatonya pada tanggal 10 Dzulhijah. Tapi ini bukan Khutbah Idul Adha, karena bagi orang yang melaksanakan ibadah haji tidak melaksanakan shalat Ied.



    Sebagian kaum muslimin pada hari Idul Adha, ketika mereka melaksanakan ibadah haji, itu ada yang memang sengaja datangi Masjidil Haram pada tanggal 10 Dzulhijah untuk mengikuti shalat Ied. Hal ini sebetulnya tidak disunahkan bagi orang yang sedang mengerjakan Ibadah Haji, kereka mereka sedang mengerjakan manasik-manasik haji.



    Di tanggal 10 bulan Dzulhijah itu, bagi orang yang mengerjakan Ibadah Haji itu ada empat pekerjaan yang seyogianya dikerjakan pada hari itu, yaitu:




    * Melempar jumrah aqabah.



    * Menyembelih hewan hadyu bagi yang melaksanakan ibadah haji tamattu dan haji qiran. Bagi yang tidak mampu membeli seekor kambing untuk membayar hadyu, maka dia boleh menggantikannya dengan berpuasa 3 hari di tanah suci dan 7 hari sekembalinya di kampung halamannya.



    * Mencukur rambut kepala.



    * Mengerjakan tawaf wada’.




    Ini jika dilakukan secara berurutan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun, seorang boleh membolak-balik pekerjaan ini. Misalnya, dari Muzdalifah langsung ke Masjidil Haram untuk mengerjakan tawaf ifadhah. Boleh juga seorang melempar jumrah, kemudian menyembelih hewannya, kemudian baru mencukur,
    1 hr 16 min
  • Faedah Mempelajari Kisah Para Nabi dan Rasul

    Faedah Mempelajari Kisah Para Nabi dan Rasul adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 15 Rabi’ul Akhir 1445 H / 30 Oktober 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Tujuan Dakwah Nabi dan Rasul Sangat Jelas







    Kajian Tentang Faedah Mempelajari Kisah Para Nabi dan Rasul



    Mendengarkan, membaca dan mempelajari kisah para nabi dan rasul bisa menambahkan keimanan. Dan kita semua ingin memiliki iman yang bertambah. Salah satu cara untuk menambahkan iman adalah dengan mempelajari kisah para nabi dan rasul.



    Iman kepada para nabi dan rasul merupakan salah satu rukun iman. Rasul kita, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang shahih, ketika beliau ditanya tentang iman, beliau menjawab:



    أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ.



    “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan beriman kepada hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan buruk.” (HR. Muslim)



    Lihat: Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan



    Di antara hal yang bisa menambahkan keimanan adalah mendengar kisah para Nabi dan Rasul. Selain itu, mendengar kisah mereka bisa mendatangkan cinta kepada mereka. Rasul kita, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda dalam hadits yang shahih, riwayat Bukhari Muslim:



     ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.



    “Ada tiga perangai yang barangsiapa tiga perangai ini ada pada seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman; yaitu siapa yang Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari semua selain Allah dan RasulNya, dan tidaklah ia mencintai manusia kecuali karena Allah, dan ia membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan kedalam api neraka.” (HR. Muslim)



    Lihat: Cara Mendapatkan Manisnya Iman



    Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang mencintai suatu kaum tetapi tidak bersama dengan mereka?” Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab,:



    المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ



    “Seseorang bersama dengan orang yang dia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Apa lagi Faedah Mempelajari Kisah Para Nabi dan Rasul? Simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian











    Mari turut membagikan link
    1 hr
  • Kedudukan Iman kepada Takdir

    Kedudukan Iman kepada Takdir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 15 Rabi’ul Akhir 1445 H / 30 Oktober 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Kedudukan Iman kepada Takdir



    Imam Ahmad dan At-Tirmidzi Rahimahumullah meriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    لا يؤمنُ عبدٌ حتى يؤمنَ بالقدَرِ خيرِه و شرِّه ، حتى يعلمَ أنَّ ما أصابه لم يَكن لِيخطِئَه ، و أنَّ ما اخطأه لم يكن لِيُصيبَه



    “Tidak beriman seorang hamba sampai dia beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, sampai ia meyakini bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin meleset darinya, dan apa yang meleset darinya tidak mungkin ia dapatkan.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)



    Juga dari Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:



    إن أحدكم لن يخلص الإيمان إلى قلبه حتى يستيقن يقيناً غير شك أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وما أخطأه لم يكن ليصيبه ويقر بالقدر كله



    “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak akan sampai keimanan ke dalam hatinya, sampai dia benar-benar yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan mungkin meleset darinya, dan apa yang meleset darinya tidak mungkin menimpanya, dan menetapkan semua takdir Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi Rahimahullah)



    Iman kepada takdir adalah pokok dari pokok-pokok keimanan, dan termasuk rukun dari rukun-rukun iman yang penting. Yaitu seorang wajib beriman kepada takdir baik dan buruk. Dan tempat keyakinan ini ada di dalam hati, dan termasuk sebab tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kita yaitu agar kita beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan takdir buruk.



    Rukun iman ini terkumpul dalam hadits Jibril yang sangat terkenal. Ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang iman, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikatNya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, dan juga beriman kepada takdir baik dan takdir buruk.”



    Dan diterangkan tentang iman kepada takdir di banyak ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:



     وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَّقْدُورًا



    “Dan ketetapan Allah adalah suatu keputusan yang telah ditetapkan.” (QS. Al-Ahzab[33]: 38)



    Juga Firman Allah ‘Azza wa Jalla:



     إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ



    “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar[54]: 49)



    Juga Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:



    سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى ‎﴿١﴾‏ الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ ‎﴿٢﴾‏ وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ ‎﴿٣﴾



    “Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi,
    54 min
  • Tawakal: Bersandar kepada Allah Tanpa Menyerahkan Diri

    Tawakal: Bersandar kepada Allah Tanpa Menyerahkan Diri ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 15 Rabi’ul Akhir 1445 H / 30 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Tawakal: Bersandar kepada Allah Tanpa Menyerahkan Diri



    Ada kisah-kisah yang disebukan oleh kaum sufi, dicantumkan, dibacakan di dalam majelis mereka, dan ditulis dalam buku-buku mereka. Mereka ingin menceritakan kehebatan tokoh-tokoh mereka yang tidak melakukan ikhtiar dan menyandarkan keimanan mereka kepada Allah, yaitu tawakal.



    Mereka mengklaim bahwa telah bertawakal dan tidak perlu melakukan usaha, karena hati mereka bersandar kepada Allah. Ini adalah klaim mereka. Dan untuk menegaskan hal itu, mereka menceritakan beberapa kisah. Sebelumnya, kita sudah membahas kisah seorang yang jatuh ke dalam sumur, lalu ddia tidak meminta pertolongan kepada siapapun, bahkan ketika sumur itu ditutup.



    Lihat: Kejanggalan Kisah Abu Hamzah yang Masuk Sumur



    Kisah selanjutnya yang mereka bawakan adalah dari Muammal bin Al-Mughabi, dia bercerita: “Aku biasa mendampingi Muhammad bin Assamin. Pada suatu hari aku pergi di wilayah antara Tikrit dan Maushil, wilayah di Iraq. Saat berjalan di tengah gurun pasir, tiba-tiba ada binatang buas yang mengaum di dekat kami. Aku merasa takut, wajahku pucat, dan ketakutan itu jelas terlihat.”



    Tentunya takut melihat binatang buas mengaum adalah reaksi alamiah, seperti ketakutan kita jika berhadapan dengan binatang buas, misalnya harimau.



    “Aku pun berusaha untuk melarikan diri, tetapi Muhammad bin Assamin menahanku dan berkata dengan tegas, ‘Wahai Muammal, tawakal adalah hakikatnya sekarang, bukan di masjid.” Maksudnya adalah dia mengatakan jangan lari, tetap di sini. Kalau betul-betul ingin menunjukkan tawakal, lakukan itu di sini, bukan teori di masjid.



    Ini salah satu di antara banyak kisah yang menjelaskan bahwa mereka menolak untuk mengambil sebab dan berusaha, serta mengklaim bahwa usaha itu menafikan tawakal. Padahal siapa yang tidak takut pada binatang buas? Secara tabiat, manusia takut pada hal yang membahayakan dirinya dan berusaha untuk menghindarinya. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ



    “Menghindarlah dari orang yang terkena penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari seekor singa.” (HR. Bukhari)



    Artinya wajar kalau seseorang takut binatang buas dan lari. Tapi dalam kisah ini justru seorang tokoh sufi melarang teman perjalanannya untuk lari, jika benar-benar tawakal.



    Kisah-kisah seperti ini bisa mengelirukan orang yang jahil, lalu menirunya. Ketika dia berhadapan dengan binatang buas, dia mungkin mengatakan, ‘Wah, saya bertawakal.’ Lalu dia diterkam binatang buas itu, tentu saja ini merugikannya. Dia kehilangan nyawa karena mungkin terinspirasi dengan kisah-kisah seperti ini. Padahal, kisah seperti ini belum tentu jelas kebenarannya.



    Jadi, kisah-kisah seperti ini menafikan apa yang dilakukan oleh para Salaf. Nabi menghindari hal-hal yang membahayakan, bukan menantang bahaya.
    38 min
  • Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Shalat Malam

    Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Shalat Malam ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 15 Rabi’ul Akhir 1445 H / 30 Oktober 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Adab-Adab Shalat Malam



    Kajian Tentang Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Shalat Malam



    Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan shalat malam dan shalat tarawih. Pada pertemuan yang sebelumnya kita sudah membahas tentang adab-adab shalat malam.



    Shalat dalam keadaan genting



    Sangat dianjurkannya shalat malam ketika keadaan genting atau sangat membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika menghadapi masalah-masalah besar, maka sangat dianjurkan untuk menjalankan shalat malam dan berdoa di shalat malam tersebut, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong, memudahkan urusan, dan menyelamatkan kita dari bahaya yang mengancam.



    Hal ini juga dilakukan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, Beliau mengatakan:



    ما كان فينا فارس يوم بدر غير المقداد، ولقد رأيتنا وما فينا إلا نائم، إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم تحت شجرة يصلي ويبكي حتى أصبح



    “Di hari Perang Badar tidak ada dari kami yang membawa kuda kecuali Miqdad, dan aku melihat kami semuanya tidur kecuali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berada di bawah sebuah pohon untuk shalat dan menangis sampai pagi.” (HR. Ahmad)



    Mengapa beliau menangis hingga pagi? Karena beliau tahu kelemahan pasukan beliau, dan itu sangat mengancam keselamatan pasukan dan beliau sendiri. Maka beliau benar-benar bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdoa dengan doa yang sangat kuat agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong, menyelamatkan, dan memenangkan beliau dan pasukannya.



    Ada juga hadits lain di Perang Tabuk:



    أن رسول الله صلى الله عليه وسلم عام غزوة تبوك قام من الليل يصلي فاجتمع وراءه رجال من أصحابه يحرسونه حتى صلَّى وانصرف إليهم …



    “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika Perang Tabuk bangun dimalam hari dan shalat, maka di belakang beliau berkumpul banyak sahabat untuk menjaga beliau sampai beliau shalat malam, kemudian beliau menghampiri mereka…”



    Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di keadaan-keadaan yang sangat genting dan membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau melakukan shalat malam, karena memang shalat malam malam termasuk di antara waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.



    Maka ketika menghadapi masalah-masalah besar dalam kehidupan kita, jangan andalkan yang lain, tapi andalkanlah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan banyak mengeluh kepada manusia, jangan banyak mengeluh di media sosial, perbanyaklah mengeluh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yakinlah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan urusan kita. Yakinlah dengan seyakin-yakinnya bahwa sangat mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengubah kehidupan kita.



    ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ



    59 min
  • Pembangunan Masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Pembangunan Masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 14 Rabi’ul Akhir 1445 H / 29 Oktober 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Pembangunan Masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam



    عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ﵁ قال: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَنَزَلَ في عُلْوِ الْمَدِينَةِ في حَيٍّ يُقَالُ لَهُمْ بَنُو عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ فَأَقَامَ فِيهِمْ أَرْبَعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً ثُمَّ إِنَّهُ أَرْسَلَ إِلَى مَلَإِ بَنِي النَّجَّارِ فَجَاءُوا مُتَقَلِّدِينَ بِسُيُوفِهِمْ قَالَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَأَبُو بَكْرٍ رِدْفُهُ وَمَلَأُ بَنِي النَّجَّارِ حَوْلَهُ حَتَّى أَلْقَى بِفِنَاءِ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي حَيْثُ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ وَيُصَلِّي في مَرَابِضِ الْغَنَمِ ثُمَّ إِنَّهُ أَمَرَ بِالْمَسْجِدِ قَالَ فَأَرْسَلَ إِلَى مَلَإِ بَنِي النَّجَّارِ فَجَاءُوا فَقَالَ يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمْ هَذَا قَالُوا لَا وَاللهِ لَا نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ قَالَ أَنَسٌ فَكَانَ فِيهِ مَا أَقُولُ كَانَ فِيهِ نَخْلٌ وَقُبُورُ الْمُشْرِكِينَ وَخِرَبٌ فَأَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالنَّخْلِ فَقُطِعَ وَبِقُبُورِ الْمُشْرِكِينَ فَنُبِشَتْ وَبِالْخِرَبِ فَسُوِّيَتْ قَالَ فَصَفُّوا النَّخْلَ قِبْلَةً وجَعَلُوا عِضَادَتَيْهِ حِجَارَةً قَالَ فَكَانُوا يَرْتَجِزُونَ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ مَعَهُمْ وَهُمْ يَقُولُونَ اللهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُ الْآخِرَهْ فَانْصُرْ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ.



    Dari Anas bin Malik -semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Kota Madinah, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun singgah di dataran tinggi kota Madinah, di sebuah perkampungan yang bernama Banu ‘Amr bin ‘Auf (yang disebut dengan Quba’), lalu kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggal di situ selama 14 malam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus seseorang kepada pembesar Banu Najjar. Maka datatanglah mereka dalam keadaan menghunuskan pedang-pedang mereka.”



    Kata Anas: “Seakan aku melihat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di atas kendaraannya dan Abu Bakar memboncengnya di belakang, dan para pembesar Banu Najjar berada di sekitar beliau, hingga beliau pun berhentilah di halaman rumah Abu Ayub Al-Anshari.”



    Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kebiasaannya beliau yaitu shalat saat telah tiba waktu shalat. Dan beliau juga shalat di kandang-kandang kambing. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membangun masjid. Lalu nabi kembali mengirim seseorang kepada pembesar Banu Najjar. Datanglah mereka.



    Maka Rasulullah bersabda kepada Banu Najjar: “Wahai Banu Najjar, sebutkan berapa harga kebun kalian ini, aku ingin membelinya (untuk pembangunan masjid).” Maka mereka berkata: “Tidak demi Allah, kami tidak mau meminta harganya kecuali kepada Allah saja.”



    Berkata Anas: “Dan di kebun itu sebagaimana aku telah mengatakannya, di sana ada pohon-pohon kurma, ada kuburan orang-orang musyrikin dan ada reruntuhan-reruntuhan bangunan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh agar pohon-pohon kurma itu ditebang, dan agar kuburan orang-orang musyrikin ini digali dan dipindahkan, dan agar reruntuhan-reruntuhan bangunan itu diratakan,
    55 min
  • Khutbah Jumat: Indahnya Syariat Allah

    Khutbah Jumat: Indahnya Syariat Allah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 13 Rabi’ul Akhir 1445 H / 27 Oktober 2023 M.







    Khutbah Jumat Pertama: Indahnya Syariat Allah



    Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menciptakan manusia hidup di dunia ini sia-sia. Allah berfirman:



    أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى



    “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?” (QS. Al-Qiyamah[75]: 36)



    Imam Syafi’i berkata: “Artinya tidak diberikan perintah dan tidak diberikan larangan?” Itu tidak mungkin. Allah juga berfirman:



    أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ‎﴿١١٥﴾‏ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ…



    “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian ini sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha Tinggi Allah, Raja yang Haq.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 115-116)



    Semua ini Allah ingatkan kepada kita sebagai manusia, bahwa kita adalah hamba yang diciptakan oleh Allah. Kewajiban kita adalah untuk senantiasa mengingat Allah dan beribadah kepadaNya. Kita adalah hamba, kita hidup di dunia tidak seperti binatang ternak yang hanya makan, minum, dan kawin, karena tidak ada untuk mereka surga dan neraka. Sedangkan untuk manusia, Allah telah menyediakan surga dan neraka. Siapa yang menaati Allah, Allah akan memasukkannya ke dalam surgaNya, dan siapa yang memaksiatiNya, maka Allah akan menyiksanya dengan nerakaNya.



    Ketika seorang hamba menyadari tujuan hidupnya di dunia, dia akan berusaha untuk meniti jalan yang diridhai oleh Allah, Penciptanya. Dia akan paham kemana dia harus melangkahkan kakinya, dan hidupnya akan terbimbing, karena ia yakin akan adanya Hari Pembalasan, dimana manusia akan diberikan oleh Allah balasan.



    فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ‎﴿٧﴾‏ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ‎﴿٨﴾‏



    “Barangsiapa yang melakukan perbuaatan kebaikan walaupun sebesar biji sawi, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan walaupun sebesar biji sawi, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah[99]: 7-8)



    Seorang hamba yang yakin bahwa dirinya adalah hamba Allah akan berusaha menghambakan dirinya kepada Allah, bukan menghambakan dirinya kepada setan, hawa nafsunya, atau dunianya. Dia lebih ridha untuk menjadi hamba Allah, untuk senantiasa bertakarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dia senantiasa gembira untuk diatur oleh Rabbnya, karena dia yakin bahwa penciptanya pastilah Maha Kasih Sayang. Kasih sayang Allah kepada hambaNya melebihi kasih sayang orang tua kepada anaknya.



    Oleh karena itu, betapa bahagianya seorang hamba dan betapa indah hidupnya ketika dia mengenal Allah, penciptanya. Ketika dia berusaha untuk menaati Allah, walaupun perintah Allah tidak sesuai dengan keinginannya. Dan ketika dia berusaha untuk meninggalkan larangan Allah, walaupun larangan Allah sesuai dengan selera dan hawa nafsunya.



    Saudaraku.. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia di dunia ini, dan Allah memberikan kepada manusia ujian demi ujian yang menimpa kehidupannya. Ujian itu akan menyaring keimanannya. Siapapun yang berkata: “Kami beriman,” Allah pasti akan mengujinya.
    13 min
  • Prinsip-Prinsip dalam Pekerjaan

    Prinsip-Prinsip dalam Pekerjaan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 9 Rabi’ul Akhir 1445 H / 24 Oktober 2023 M.



    Sebelumnya: Pentingnya Berdoa Kepada Allah







    Kajian Tentang Prinsip-Prinsip dalam Pekerjaan



    Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala tidak langsung menjawab pertanyaan tentang pekerjaan dan profesi terbaik yang bisa dipilih oleh seorang muslim. Tapi beliau memulai dahulu dengan beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim ketika dia ingin memilih pekerjaan atau profesi.



    Beliau menyampaikan bahwa seorang muslim hendaknya berhusnudzan kepada Allah, yakin bahwa Dia bisa mencukupi kita, kemudian juga bertawakal kepada Allah dan banyak berdoa kepadaNya.



    Hendaknya seorang muslim yang memikirkan dan mencari pekerjaan meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara-perkara besar maupun perkara-perkara yang kecil. Meminta kepada Allah untuk bisa mendapatkan makanan, pakaian, bahkan meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara-perkara yang lebih kecil, seperti jika tali sepatunya putus, karena kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memudahkan baginya tali sepatu itu, maka dia tidak akan bisa mendapatkan kemudahan ini.



    Semua ini diperintahkan oleh Allah dalam hadits Qudsi, juga diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan dari beliau. Kemudian, masih dalam rangka penjelasan tentang pentingnya berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala melanjutkan: “Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk banyak berdoa, di antara perintah itu adalah firmanNya:



    …وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ…



    “Dan mintalah kepada Allah anugerah yang Dia miliki.” (QS. An-Nisa'[4]: 32)



    Rezeki adalah karunia dan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hendaknya kita tidak lupa memintanya kepada Allah, hanya Dia yang bisa memberikan rezeki, hanya Dia yang bisa memberikan anugerah ini. Maka hendaknya sebelum kita melangkah ke suatu profesi atau pekerjaan, kita meminta anugerah Allah dahulu.



    Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:



    فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ…



    “Maka jika shalat telah ditunaikan, maka menyebarlah di muka bumi; dan kejarlah anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala…” (QS. Al-Jumu’ah[62]: 10)



    Jadi dimulai dengan menunaikan kewajiban kita dahulu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kalau sudah ditunaikan baru kita menyebar mencari rezeki dan anugerah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Meskipun konteks ayat ini tentang shalat jum’at, tapi maknanya mencakup semua shalat. Jadi perintah mencari rezeki ini tidak hanya setelah kita selesai shalat jumat saja, tapi kapan pun kita sudah menyelesaikan ibadah kepada Allah, maka dianjurkan untuk menyebar ke berbagai penjuru bumi untuk mencari anugerah dan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Jadi jangan lupa untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar anugerahNya turun kepada kita, kemudian jangan lupa untuk ikhtiar (mengambil sebab)...
    1 hr 13 min
  • Pentingnya Berdoa Kepada Allah

    Pentingnya Berdoa Kepada Allah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 25 Rabi’ul Awal 1445 H / 10 Oktober 2023 M.



    Sebelumnya: Dzikir Mutlak







    Kajian Tentang Pentingnya Berdoa Kepada Allah



    Setelah kita berbicara tentang pentingnya istikharah dan agungnya doa istikharah, maka kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala mengatakan: “Dan hendaknya kita memperbanyak istikharah.”



    Perbanyaklah istikharah, libatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam urusan kita, terutama dalam perkara-perkara yang membuat kita bingung atau tidak yakin antara beberapa pilihan yang tersedia. Baik hal itu terkait pendidikan, kuliah, pekerjaan, usaha, atau bahkan perjodohan. Semua ini adalah perkara besar yang sebaiknya kita libatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meminta petunjukNya.



    Selain istikharah, kita juga harus memperbanyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena sesungguhnya doa adalah kunci semua kebaikan. Kalau seorang muslim banyak berdoa kepada Allah, maka dia berada diatas kebaikan. Terlepas dari doanya nanti dikabulkan atau tidak, maka berdoa adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan dia adalah ibadah yang sangat agung.



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ



    “Doa adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi)



    Ini menunjukkan pentingnya doa. Sehingga sebelum membahas apakah doa kita akan dikabulkan atau tidak, perlu diingat bahwa berdoa itu sendiri adalah ibadah dan bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Maka jangan bosa-bosan berdoa, perbanyak doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apalagi Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin akan menjawab doa-doa kita. Semakin banyak kita berdoa, semakin besar pahala yang kita peroleh di sisiNya.



    Syaikhul Islam kemudian mengingatkan: “Namun jangan terburu-buru dalam berdoa.” Jangan merasa bahwa doa kita tidak akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan cepat putus asa dengan mengatakan, “Aku telah berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang hal ini, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu:



    يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي



    “Akan diijabahi doa seorang di antara kalian selagi dia tidak terburu-buru, dengan mengatakan: ‘Aku telah berdoa, tapi doaku tidak mustajab.'” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabulkan doa-doa kita, selagi kita tidak terburu-buru dengan mengatakan bahwa doa kita tidak dikabulkan. Perlu kita pahami bahwa terkabutlnya doa itu tidak harus dikabulkan langsung. Pengabulan doa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa dalam salah satu dari tiga bentuk, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang shahih:



    مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْوَةٍ، لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِم، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا يُعَجِّلُ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ ...
    1 hr 8 min
  • Gambaran Remaja Islam Pada Masa Nabi

    Gambaran Remaja Islam Pada Masa Nabi merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 9 Rabi’ul Akhir 1445 H / 24 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Gambaran Remaja Islam Pada Masa Nabi



    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kepercayaan dan amanah kepada para remaja. Beliau memposisikan diri sebagai figur orang tua, pendidik, dan guru bagi para remaja tersebut. Begitulah seharusnya, para orang tua harus memahami bahwa masa remaja adalah masa dimana anak-anak akan segera menjadi manusia dewasa. Oleh karena itu, kedewasaan harus dilatih dengan memberikan tanggung jawab dan tugas-tugas kepada mereka, sekaligus kita harus mengevaluasi sejauh mana kadar tanggung jawab anak remaja tersebut.



    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan contoh melalui beberapa sosok remaja dimasa beliau. Salah satu contoh adalah Usamah bin Zaid. Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, usia Zaid lebih kurang 18 atau 20 tahun. Ayahnya, Zaid bin Haritsah, adalah seorang sahabat yang mulia dan budak pertama yang masuk Islam. Ibunya, Ummu Aiman, adalah pengasuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau masih kecil.



    Pada bulan Muharram tahun 11 Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim pasukan ke negeri Syam untuk menghadapi pasukan Romawi, yang saat itu merupakan salah satu kekuatan terbesar di dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjuk Usamah bin Zaid sebagai Panglima, yaitu yang memimpin seluruh pasukan. Beliau menginstruksikan pasukan untuk memasuki kawasan Balqa dan Darum (sekarang di Palestina).



    Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima perang, sebagian kaum munafik mencibir kepemimpinan ini. Mereka menganggap Usamah bin Zaid tidak layak untuk memimpin pasukan, dan ada yang mengatakan, “Rasulullah menunjuk anak ingusan sebagai komandan di tengah-tengah sebagian besar sahabat Muhajirin dan Anshar.” Kita tahu bahwa pasukan yang dikirim untuk perang menuju Syam, menghadapi pasukan Romawi, terdiri dari para sahabat Muhajirin dan Ansar. Di antara sahabat-sahabat ini, banyak yang jauh lebih tua daripada Usamah bin Zaid. Sebagai contoh, ada sahabat seperti Abu Bakar, Umar, dan lainnya.



    Maka Rasulullah membalas atau meluruskan komentar itu. Nabi membantah komentar tersebut dan mengatakan, “Jika kalian mencelaku, berarti kalian telah mencela. Jika kalian mencelanya karena aku menunjuknya, berarti kalian telah mencela kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Kalau kalian tidak puas dengan kepemimpinannya dan tidak bisa menerima aku menunjuknya sebagai panglima perang, maka kalian juga berarti telah tidak menerima kepemimpinan ayahnya sebelumnya.”



    Sungguh, Usamah pantas untuk memimpin pasukan, dan ayahnya juga pantas untuk itu. Maka, Usamah bin Zaid membawa pasukan yang terdiri dari kalangan Muhajirin dan Ansar, seperti Abu Bakar, Umar, dan petinggi suku Aus dan Khazraj. Semuanya dipimpin oleh seorang anak muda, seorang remaja. Coba lihat, bagaimana tanggung jawab besar yang diberikan Nabi kepada Usama ini. Memimpin pasukan tidak main-main, karena di tangannya berada nasib ribuan pasukan yang dikirim untuk menghadapi pasukan Romawi, salah satu kekuatan terbesar di dunia saat itu. Kita bisa melihat bahwa Nabi tidak lagi memposisikan diri sebagai teman bagi Usama, melainkan sebagai pemimpin yang mengambil keputusan yang bijak...
    48 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah