Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Doa Masuk Toilet

    Doa Masuk Toilet ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 7 Jumadil Awal 1445 H / 20 November 2023 M.







    Kajian Tentang Doa Masuk Toilet



    Kenapa sampai masuk toilet saja diatur di dalam agama kita? Karena ajaran Islam adalah ajaran yang sempurna. Berhubung Islam itu ajaran yang sempurna, maka semua hal ada aturannya di dalam Islam, bahkan sampai hal-hal yang dianggap remeh, yaitu buang hajat.



    Buang hajat adalah sesuatu yang dianggap remeh, padahal ini bukan hal yang remeh. Buktinya, kalau seseorang tidak bisa buang air besar atau kecil, maka seseorang akan sangat repot.



    Makanya di dalam agama kita, sampai hal yang kelihatannya remeh (menurut pandangan banyak orang) pun diatur, karena sejatinya ini bukan hal remeh. Bisa buang air adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau seandainya kotoran itu tidak bisa dikeluarkan, maka akibatnya tubuh kita akan terkena racun.



    Maka setiap muslim dan muslimah harus PD (percaya diri). Kita senang dan bahagia karena beragama Islam. Anehnya, ada sebagian orang Islam yang tidak PD dengan keislamannya. Dia malu kelihatan identitas keislamannya. Padahal malu itu kalau kita punya aib dan cela. Adapun karena ajaran Islam itu ajaran yang paling sempurna, maka kita jangan malu. Kita harus bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bahagia dan senang.



    Lafadz Doa Masuk Toilet



    بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك من الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ



    Dalil landasannya adalah hadits:



    سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِيْ آدَمَ إِذَا وَضَعَ أَحَدُهُمْ ثَوْبَهُ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللَّهِ.



    “Penutup yang akan menghalangi pandangan Jin dari auratnya Bani Adam adalah bacaan bismillah ketika dia masuk ke WC.” (HR. Ibnu Majah, dinilai Shahih Lighairihi oleh Syaikh Al-Albani)



    Adapun dalil dari “اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك من الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ” adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dan dituturkan oleh seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bernama Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkat:



    كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ ‏ “‏ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ ‏”‏‏.‏



    “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila masuk ke tempat buang hajat, maka beliau membaca doa: ‘Allahumma inni a`udhu bika min al-khubuthi wal khaba’ith (Ya Allah, esungguhnya aku mohon perlindungan kepadaMu dari setan-setan laki-laki dan setan-setan perempuan.)'” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Ketika masuk kamar mandi (WC), kita minta perlindungan kepada Allah dari godaan dua makhluk ini, setan laki-laki maupun setan perempuan.



    Hadits ini menjelaskan bahwa kamar mandi atau WC adalah tempat yang disukai sama setan. Buktinya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits, beliau bersabda:



    إنَّ هذه الحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ



    “Sesungguhnya tempat buang hajat ini dihadiri setan.” (HR. Imam Al-Laitsi dan hadits ini dinyatakan Shahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ibnu Hibban, Imam Al-Hakim dan Syaikh Al-Albani)



    Jadi,
    39 min
  • Shalat Dhuha dan Hukum yang Berkaitan Dengannya

    Shalat Dhuha dan Hukum yang Berkaitan Dengannya ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 7 Jumadil Awal 1445 H / 20 November 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Shalat Tarawih



    Kajian Tentang Shalat Dhuha dan Hukum yang Berkaitan Dengannya



    Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang shalat dhuha dan hukum yang berkaitan dengannya.



    Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dilakukan di waktu dhuha. Waktu dhuha, menurut para ahli fikih adalah antara meningginya matahari setelah terbit hingga sebelum tergelincirnya matahari dari tengah langit. Untuk mempermudahnya, waktu dhuha adalah sekitar 1/4 jam setelah matahari terbit hingga sebelum waktu Zuhur.



    Ada shalat sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan di waktu dhuha ini, yang dinamakan shalat dhuha. Banyak hadits yang menunjukkan keutamaan shalat dhuha, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:



    يُصبح على كلِّ سُلامى من أحدكم صدقة، فكل تسبيحة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وكل تهليلة صدقة، وكل تكبيرة صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهى عن المنكر صدقة، ويجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى



    “Setiap masuk waktu pagi, setiap sendi-sendi yang ada pada jasad manusia ada kewajiban untuk bersedekah. Setiap tasbih (ucapan Subhanallah) berpahala sedekah, setiap tahmid (ucapan Alhamdulillah) juga bernilai sedekah, setiap tahlil (ucapan Laa ilaaha illallah) juga bernilai sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu Akbar) juga bernilai sedekah. Mengajak kepada kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan dua rakaat (shalat) dhuha yang dikerjakan dapat mencukupi kewajiban sedekah semua persendian dalam jasad manusia.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)



    Dengan shalat dhuha saja, kita sudah menutup kewajiban kita untuk mensedekahi semua sendi dalam badan kita ini. Hal ini menunjukkan keutamaan shalat Dhuha.



    Hadits lain yang sejalan dengan makna ini adalah hadits dari sahabat Buraidah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    في الإنسان ستون وثلاثمائة مفصل، عليه أن يتصدق عن كل مفصل منها صدقة



    “Di dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi, dan seseorang diwajibkan untuk mensedekahi semua sendinya tersebut.”



    Ketika mendengar penjelasan ini, para sahabat merasa keberatan, mereka mengatakan: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kalau kenyataannya memang seperti itu, siapa yang mampu mensedekahi 360 sendi dalam badannya?”



    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:



    النخامة في المسجد يدفنها، أو الشيء ينحيه عن الطريق، فإن لم يقدر فركعتا الضحى تجزئ عنه



    “Sedekah itu bisa berupa amalan menguburkan nakhamah (ludah yang ada campuran ingus), menjauhkan gangguan dari jalan juga merupakan sedekah. Kalau seseorang tidak mampu melakukan amalan-amalan yang semisal itu, maka silakan dia melakukan dua rakaat shalat dhuha yang bisa menutup kewajiban dia untuk mensedekahi semua sendi dalam tubuhnya (yang berjumlah 360).” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

    53 min
  • Khutbah Jumat: Penyakit-Penyakit yang Menyebabkan Amal Ditolak

    Khutbah Jumat: Penyakit-Penyakit yang Menyebabkan Amal Ditolak ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 4 Jumadil Awal 1445 H / 17 November 2023 M.







    Khutbah Jumat Pertama: Penyakit-Penyakit yang Menyebabkan Amal Ditolak



    Kita hidup di dunia mempunyai tujuan yang agung, yaitu untuk beribadah kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah. Kita hidup di dunia ini tidak akan selamanya, setiap manusia pasti akan merasakan kematian. Allah berfirman:



    كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ…



    “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)



    Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk beramal shalih sebagai bekal menuju kematian. Karena itu seagung-agungnya perbekalan menuju kematian. Allah berfirman:



     وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ



    “Berbekallah, karena sesungguhnya perbekalan menuju kematian itu adalah ketakwaan kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)



    Dan hakikat takwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan seseorang ke dalam surga karena amalnya. Allah berfirman:



    …ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ



    “Masuklah kalian ke dalam surga disebabkan oleh amalan kalian.” (QS. An-Nahl[16]: 32)



    Namun amal shalih bukanlah satu-satunya sebab masuk surga, akan tetapi yang terbesar adalah rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.



    Oleh karena itu, setiap kita harus senantiasa semangat dalam beramal shalih, karena amal shalih memiliki berkah dan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan. Amal shalih bagaikan nutrisi untuk hati dan keimanan kita. Siapa pun yang ingin berjalan di atas jalan yang lurus, di atas jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hendaklah ia beramal shalih. Siapa pun yang ingin mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, hendaklah ia beramal shalih. Siapa pun yang ingin dibukakan pintu-pintu rezeki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat, hendaklah ia beramal shalih. Maka siapa pun, yang menginginkan kemuliaan, tiada lain adalah dengan beramal shalih.



    Namun, di sana, amal shalih memiliki penyakit-penyakit yang menyebabkan amal tersebut ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara penyakit beramal shalih yang paling besar adalah:



    1. Beramal tanpa ilmu



    Seseorang beramal tanpa mengetahui dalil dari Allah dan RasulNya, beramal hanya sebatas perkiraan semata bahwa itu sebuah kebaikan, tanpa ada keterangan dari Allah dan RasulNya. Orang seperti ini adalah orang yang merugi. Allah berfirman:



    قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ‎﴿١٠٣﴾‏ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ‎﴿١٠٤﴾



    “Katakanlah: ‘Maukah aku beritahu kepada kalian tentang orang yang paling merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang tersesat jalannya dalam kehidupan dunia ini, sementara ia mengira ia telah berbuat kebaikan sebaik-baiknya.'” (QS. Al-Kahfi[18]: 103-104)



    Karena ia hanya berdasarkan perkiraan saja, hanya sebatas menduga-duga saja. Dia kira itu adalah amal yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah, ternyata malah menjauhkan ia dari Allah Subhana...
    16 min
  • Makruhnya Makan Bawang Ketika Hendak Ke Masjid

    Makruhnya Makan Bawang Ketika Hendak Ke Masjid merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 6 Jumadil Awal 1445 H / 19 November 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Makruhnya Makan Bawang Ketika Hendak Ke Masjid



    Kita sampai pada باب: اعتزال المسجد من أكل البصل والكراث والثوم. Bahwa orang yang makan bawang putih, bawang merah, lobak (diqiyaskan kepadanya semua yang sifatnya membuat mulut bau) hendaknya meninggalkan masjid



    Hadits 252:



     عن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ﵄ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ في بَيْتِهِ وَأنَّهُ أُتِيَ بِقِدْرٍ فِيهِ خَضِرَاتٌ مِنْ بُقُولٍ فَوَجَدَ لَهَا رِيحًا فَسَأَلَ فَأُخْبِرَ بِمَا فِيهَا مِنْ الْبُقُولِ فَقَالَ قَرِّبُوهَا إِلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ فَلَمَّا رَآهُ كَرِهَ أَكْلَهَا قَالَ كُلْ فَإِنِّي أُنَاجِي مَنْ لَا تُنَاجِي.



    Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang makan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah ia menjauhi kami atau menjauhi masjid kami, dan hendaklah ia duduk di rumahnya.” Sesungguhnya beliau dibawakan sebuah bejana yang berisi sayur-mayur dari kacang-kacangan. Beliau mencium bau yang tidak enak, lalu beliau bertanya dan diberitahu bahwa di dalamnya terdapat bawang. Beliau bersabda: “Dekatkanlah makanan itu kepada sebagian sahabat-sahabat,” namun setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat melihat bahwa di situ ada makan-makan yang membuat bau mulu, maka beliau tidak suka untuk memakannya, kemudian beliau bersabda: “Kalian saja yang makan, karena aku berkomunikasi dengan yang kalian tidak berkomunikasi dengannya (yaitu dengan malaikat Jibril ‘Alaihis Salam). (HR. Muslim)



    Makruhnya makan bawang



    Makruhnya makan bawang, baik bawang merah maupun bawang putih, demikian pula semua yang baunya tidak enak. Kalau di Indonesia, seperti jengkol, pete, dan semua yang membuat bau mulut. Maka, itu sama hukumnya, karena larangannya harus kita pahami illatnya. Kita jangan hanya terpaku “Oh, yang tidak boleh itu makan bawang merah dan putih, karena haditsnya hanya itu.” Tapi kita harus paham illat (alasan) dari larangan itu. Ternyata alasannya karena bisa menimbulkan bau busuk. Berarti diqiyaskan dengan bawang merah dan bawang putih, semua yang menimbulkan bau busuk di mulut.



    Uzur untuk tidak pergi ke masjid



    Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang makan bawang merah atau bawang putih sehingga menimbulkan bau busuk itu termasuk uzur untuk tidak pergi ke masjid. Tapi ini bukan bagi orang yang sengaja makan bawang supaya tidak ke masjid. Kalau niatnya seperti ini, maka berdosa. Niatnya ini yang akan dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai niat yang buruk.



    Larangan ini ketika mau ke masjid saja



    Larangan makan bawang putih, bawang merah, dan sejenisnya itu berlaku ketika kita mau ke masjid saja. Adapun kalau kita tidak pergi ke masjid, maka boleh. Dalilnya adalah hadits ini, dimana didekatkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sayur-mayur. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh untuk mendekatkannya kepada sebagian sahabat. Akan tetapi, Nabi tidak mau makan. Kenapa? Karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu menunggu wahyu.
    1 hr 8 min
  • Yang Lebih Baik Daripada Kesenangan Dunia – Tafsir Surah Ali Imran 15

    Yang Lebih Baik Daripada Kesenangan Dunia – Tafsir Surah Ali Imran 15 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 1 Jumadil Awal 1445 H / 14 November 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Orang Kafir Pasti Kalah – Tafsir Surah Ali Imran 12



    Yang Lebih Baik Daripada Kesenangan Dunia – Tafsir Surah Ali Imran 15



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ



    “Katakanlah (Wahai Rasulullah): ‘Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua?’ Untuk orang-orang yang bertakwa di sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan isteri-isteri yang disucikan, dan keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 15)



    Di sini Allah menyebutkan bahwa yang lebih baik dari kesenangan dunia adalah ketakwaan. Dan hakikat takwa adalah kamu beramal untuk menaati Allah sesuai cahaya dari Allah (ilmu), kamu mengharapkan pahala dari Allah, kamu tinggalkan larangan-larangan Allah sesuai dengan cahaya dari Allah karena kamu takut dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Orang yang bertakwa disediakan surga di akhirat nanti. Tentunya sesuatu yang ada di surga adalah sesuatu yang paling baik untuk kaum mukminin. Kesenangan di surga adalah kesenangan yang tidak ada habis-habisnya. Berbeda dengan kesenangan di dunia, dimana kesenangannya diawali dengan kelelahan dan diakhiri dengan penyesalah, halalnya akan dihisab dan haramnya mendatangkan adzab.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan mengingatkan kita, bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih baik. Maka kewajiban kita tentu lebih mengharapkan akhirat daripada dunia.



    Dari ayat ini, kita ambil faedah, kata Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah:



    Berita yang sangat penting



    Allah mengatakan di situ, “Katakan (Wahai Rasulullah): ‘Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua?'” Allah ingin memberitahukan kepada kita sebuah berita yang sangat penting sekali, bahkan ini lebih penting dari semua perkara yang penting dalam masalah dunia.



    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba



    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba. Beliau diberikan perintah dan diberikan larangan. Karena Allah mengatakan: “Katakan” Di sini yang disuruh untuk mengatakan yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak punya hak Rububiyah dan tidak boleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disifati dengan salah satu sifat Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak bisa menghidupkan, tidak bisa mematikan, tidak bisa memberi rezeki, tidak bisa menolak mudarat dari dirinya sendiri, demikian pula dari orang lain. Allah berfirman:



    قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ…



    58 min
  • Potret Remaja Putri di Zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Potret Remaja Putri di Zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 1 Jumadil Awal 1445 H / 14 November 2023 M.







    Kajian Tentang Potret Remaja Putri di Zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam



    Contoh yang terdepan dalam bab ini adalah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Ummul Mukminin. Tentunya, kita tahu bagaimana keutamaan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Di samping beliau sebagai istri Nabi, bahkan istri Nabi yang paling dicintai, beliau juga memiliki banyak prestasi dan kelebihan.



    Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, selain sebagai istri Nabi, juga merupakan wanita yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi. Kebersamaannya dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam betul-betul dimanfaatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘Anha untuk merekam banyak potret kehidupan Nabi, bahkan yang tidak diketahui oleh orang lain. Beliau menjadi rujukan bagi para kaum laki-laki dalam hal hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Banyak sahabat yang datang kepada Aisyah untuk bertanya perihal kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aisyah memiliki kecerdasan dan kecakapan luar biasa, berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Hal ini karena beliau sudah diasah sejak kecil oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita tahu usia beliau masih sangat muda saat membina rumah tangga dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yaitu lebih kurang delapan tahun lima bulan.



    Dibawah bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Aisyah tampil sebagai seorang penuntut ilmu yang tidak pernah berhenti belajar di dalam madrasah nubuwwah. Beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya, menjadikannya sebagai perawi yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu, seperti ilmu fikih, kesehatan, bahkan syair Arab. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha tercatat sebagai perawi yang meriwayatkan lebih dari 1.200 hadits yang telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim, 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Bukhari, dan 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga, ketika para sahabat, terutama yang senior, menghadapi permasalahan dalam hal agama, mereka tidak segan untuk datang dan merujuk kepada pendapat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.



    Aisyah memiliki pandangan fikih yang independen, tidak mengikuti pendapat orang lain. Beliau juga memiliki kemampuan untuk istinbath al-ahkam (mengambil kesimpulan hukum) dari hadits-hadits yang beliau riwayatkan sendiri. Sesuai dengan kaidah “Seorang rawi (perawi) lebih tahu apa yang dia riwayatkan.” Ada orang yang meriwayatkan hadits, tapi tidak mengerti apa hadits yang dia hafal. Adapun Aisyah, beliau adalah seorang sahabiah yang faqih, memiliki pemahaman yang mendalam terhadap ilmu-ilmu syar’i.



    Kelebihan lainnya adalah kemampuannya menyampaikan ilmu kepada orang lain. Semua kelebihan ini menunjukkan bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, sebagai seorang remaja putri pada saat itu, sangat memiliki bakat yang luar biasa



    Kita tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat pada saat Aisyah masih berada di puncak usia remaja. Artinya, beliau sudah mampu memikul banyak tanggung jawab, tugas, dan pekerjaan yang sebenarnya merupakan tugas orang dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa Aisyah memiliki kematangan pikiran di atas usianya. Meskipun masih remaja,
    48 min
  • Membongkar Kedustaan Seseorang dengan Bukti

    Membongkar Kedustaan Seseorang dengan Bukti adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 1 Jumadil Awal 1445 H / 14 November 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Haramnya Merusak Kehormatan Seorang Muslim







    Membongkar Kedustaan Seseorang dengan Bukti



    Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    مَا أظُنُّ فُلانًا وفُلانًا يَعْرِفانِ مِنْ دِينِنَا شَيْئًا



    “Aku tidak mengira bahwa Fulan dan Fulan, kedua orang ini mengerti tentang agama kami sedikitpun.” (HR. Bukhari)



    Kata Imam An-Nawawi, bahwa Allaits bin Sa’ad, salah seorang yang meriwayatkan hadits ini berkata: “Kedua orang yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini adalah dua orang dari golongan kaum munafik.”



    Kita melihat di sini bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan: “Aku tidak mengira bahwa si Fulan dan si Fulan, dua orang ini mengerti sedikitpun dari agama kami.” Jadi, beliau membicarakan dan mengingatkan kepada umat tentang dua orang dari golongan munafik tersebut. Ini menunjukkan bahwa ada hal-hal yang memang dibolehkan untuk seorang menyebutkannya, termasuk orang yang pendusta seperti dalam periwayatan hadits. Termasuk di zaman sekarang, kalau ada pendusta yang berbohong untuk membela dirinya, ini pun harus dijelaskan kepada umat, terutama kepada mereka yang dirugikan. Ini satu contoh di antara hal-hal yang dibolehkan berkaitan dengan ghibah.



    Dari hadits ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran. Bahwa tidak semua orang munafik yang ada di kota Madinah diketahui oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena beliau menyebutkan dalam hadits ini dengan dzon (dugaan). Jadi, beliau menegaskan, namun dengan cara dzon.



    Kemudian juga hadits ini menjelaskan bahwa ada sebagian dzon yang dibolehkan. Memang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga dalam Al-Qur’anul Karim tentang larangan kita berprasangka buruk. Karena sebagian prasangka itu adalah tidak benar. Ini menunjukkan bahwa sebagian prasangka itu ada yang yang benar. Sehingga ini menjelaskan bahwa apabila seorang berprasangka kepada orang lain adalah hal yang yang dibolehkan. Apalagi ada gejala-gejala, fenomena-fenomena, dan isyarat-isyarat ke sana.



    Kita boleh berprasangka kepada seseorang, walaupun tidak memastikan. Nanti realita yang akan memastikannya.



    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menyebutkan hadits ini, beliau dalam rangka mengingatkan kaum muslimin dari bahaya dua orang ini.



    Hadits ini juga menjelaskan dibolehkannya seorang membuka tentang keadaan orang yang diketahui bahwa orang ini munafik dan pendusta. Hal itu dibolehkan, apalagi jika kita memiliki bukti-bukti bahwa orang ini pendusta. Maka dibolehkan kita mengingatkan manusia dari bahaya orang munafik tersebut. Tetapi ini bukan bicara seenaknya dan omong kosong, harus dengan data dan bukti.



    Adapun yang dilarang adalah berprasangka buruk kepada seseorang tanpa data/bukti.
    1 hr 9 min
  • Iblis Tidak Mau Sujud kepada Nabi Adam

    Iblis Tidak Mau Sujud kepada Nabi Adam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 29 Rabi’ul Akhir 1445 H / 13 November 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam







    Kajian Tentang Iblis Tidak Mau Sujud kepada Nabi Adam



    Pada pertemuan yang lalu, kita telah membahas bahwa Allah menciptakan Adam dengan tanganNya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala meniupkan roh kepada Adam. Kemudian, Allah juga memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam, dalam rangka memuliakan Nabi Adam. Ternyata, malaikat semuanya sujud, kecuali Iblis. Iblis tidak mau sujud. Dari sini kita akan tahu bagaimana permusuhan Iblis dengan manusia dan cara yang dilakukan oleh Iblis untuk menggelincirkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Dari kisah orang tua kita, nenek moyang kita, Adam ‘Alaihis Salam, kita mendapatkan banyak pelajaran tentang bagaimana Iblis siang malam berusaha untuk menyesatkan manusia.



    Mengapa Iblis Tidak Mau Sujud kepada Nabi Adam



    Dalam Surah Shad ayat 75, Allah Ta’ala berfirman:



    قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ



    “Allah berfirman: ‘Wahai iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang Adam yang telah Aku ciptakan dengan kedua tanganKu. Apakah engkau menyombongkan diri ataukah kamu termasuk orang-orang yang merasa tinggi?'” (QS. Shad[38]: 75)



    قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ 



    “Iblis menjawab: ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau telah ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah.'” (QS. Shad[38]: 76)



    Jadi, Iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam, yang ini merupakan perintah Allah, karena Iblis memiliki sifat sombong. Iblis menolak perintah Allah karena kekafiran, kesombongan, hasad, dan membangkang. Karena itulah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengusir Iblis dari surga, menjauhkannya dari rahmat Allah, dan melaknatnya sampai hari kiamat.



    Allah Taala berfirman dalam Shad ayat 78:



    قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ ‎﴿٧٧﴾‏ وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ ‎﴿٧٨﴾



    “Allah berfirman: ‘Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, dan laknatKu tetep atasmu sampai hari pembalasan.'” (QS. Shad[38]: 77-78)



    Di Surah Al-A’raf ayat 18, Allah Taala berfirman:



    قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَّدْحُورًا ۖ لَّمَن تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمْ أَجْمَعِينَ



    “Allah berfirman: ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan penuhi neraka Jahannam dengan kamu semuanya'” (QS. Al-A’raf[7]: 18)



    Ayat-ayat ini menjelaskan bagaimana Allah murka kepada Iblis, mengeluarkannya dari surga, dan melaknatnya sampai Hari Kiamat.
    59 min
  • Sebab-sebab yang Dapat Melapangkan Dada

    Sebab-sebab yang Dapat Melapangkan Dada adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 29 Rabi’ul Akhir 1445 H / 13 November 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Sebab-sebab yang Dapat Melapangkan Dada



    Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada seorang pun yang merasakan kesedihan, dan mengalami kegalauan, kemudian ia mengatakan:



    اللَّهُمَّ إنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِن خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ القُرآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي



    Ya Allah, sesungguhnya aku ini hamba-Mu, putra hamba-Mu, putra hamba wanita-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, dan keputusan-Mu berlaku atasku. Keputusan-Mu selalu adil, takdir-Mu adil bagiku. Aku memohon dengan setiap nama yang Engkau berikan nama itu kepada diri-Mu sendiri, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghapus kegalauanku.



    Kecuali Allah menggantikan kegelisahannya dengan kebahagiaan, dan menggantikan kedukacitaannya dengan sukacita.”



    Kemudian ada yang berkata: “Wahai Rasulullah, tidak haruskah kami mempelajarinya?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    بَلَى يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهَا أَنْ يَتَعَلَّمَهَا



    “Tentu, seyogyanya bagi yang mendengarkannya untuk mempelajarinya dan menghafalkannya.” (HR. Ahmad)



    Sesungguhnya, kelapangan hati dan keselamatan dari kesedihan dan gundah gulana adalah tujuan setiap manusia, harapan yang ingin dicapai semua orang. Dan itu adalah karunia Allah yang sangat besar. Dadan yang dimaksud dengan انشراح الصدر yaitu ketenangannya, ketentramannya, dan hilangnya segala kesedihan dan gangguan-gangguan darinya. Kemudian, hati itu selalu bahagia dan berada di atas kehidupan yang bahagia, dan kehidupan yang mulia.



    Dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia kepada hamba-Nya, Allah melapangkan dadanya, Allah mudahkan urusannya, dan Allah hilangkan darinya kesedihan, maka dia akan mendapatkan kebaikan-kebaikan agama dan kebaikan-kebaikan dunia. Dia akan mendapatkan apa yang dia harapkan, apa yang ia cita-citakan, dan akan mudah baginya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan ringan baginya melaksanakan ketaatan-ketaatan, dan ia pun akan mudah melaksanakan apa yang dia inginkan. Sebaliknya, jika seseorang banyak mengalami kesedihan, banyak kegalauan, maka banyak urusannya akan terbengkalai. Tidak ada kemampuan dia untuk bekerja, tidak ada semangat untuk memasuki pintu-pintu kebaikan, dan dia akan berpindah dari satu kesedihan kepada kesedihan yang lain. Maka,
    46 min
  • Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi Hingga Malas Menekuni Ilmu Syariat

    Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi Hingga Malas Menekuni Ilmu Syariat ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 29 Rabi’ul Akhir 1445 H / 13 November 2023 M.







    Kajian Tentang Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi Hingga Malas Menekuni Ilmu Syariat



    Talbis Iblis terhadap kaum Sufi hingga malas menekuni ilmu agama adalah salah satu tipu daya Iblis terhadap anak Adam secara umum, terlebih lagi di sini terhadap kaum Sufi.



    Ada kata-kata Ibnul Jauzi di sini yang merupakan inti dari buku Talbis Iblis ini. Perkataan beliau: “Ketahuilah, tipu daya Iblis yang pertama terhadap anak Adam secara keseluruhan (bukan hanya terhadap kaum Sufi) adalah menghalangi mereka dari mendalami ilmu agama.” Karena agama perlu didalami dan dipahami dengan benar. Kalau tidak, maka akan terjadi kesalahpahaman terhadap agama, dan terjadilah penyimpangan-penyimpangan yang di atas namakan agama, dianggap benar padahal tidak benar.



    Maka Iblis menghalangi manusia dari menekuni dan mendalami ilmu agama. Sebab ilmu adalah cahaya. Ketika cahaya ilmu berhasil dipadamkan oleh Iblis, maka dia akan leluasa untuk menyesatkan manusia dalam kesesatan apapun yang diinginkannya. Maka manusia dijauhkan dari tafaqquh fiddin. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:



    مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ



    “Barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan membukakan hatinya dan memberinya anugerah untuk dapat mendalami agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Lihat juga: Hadits Tentang Menuntut Ilmu dan Keutamaan Para Ulama



    Sehingga dia benar-benar mengetahui dan memahami agamanya dengan baik, hingga tidak terjadi ketidaktahuan, kejahilan, ataupun kesalahpahaman. Karena kesalahpahaman dalam memahami agama ini juga berakibat fatal, manusia mengira itu adalah bagian dari agama, padahal bukan.



    Itulah yang dilakukan oleh iblis. Yaitu bagaimana manusia itu jauh dari tafaqquh fiddin. Dan dalam hal ini Iblis merasuki kaum Sufi hingga mereka meninggalkan tafaqquh fiddin.



    Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi Hingga Malas Menekuni Ilmu Syariat



    Ada beberapa tipu daya iblis terhadap kaum Sufi dalam bab ini, di antaranya:



    Iblis menghalangi mayoritas kaum Sufi ini dari ilmu. Iblis membuat mereka merasa bahwa mempelajari atau mengamalkan ilmu memerlukan jerih payah, susah dan berliku-liku. Karena untuk mendalami agama itu perlu usaha yang keras dan waktu yang panjang. Tentu bukan sekadar tahu, melainkan benar-benar mendalami agama. Dan itu memerlukan jerih payah yang sangat meletihkan.



    Iblis juga menjadikan mereka lebih menyukai perkara yang simpel, sederhana, atau suka sesuatu yang santai. Hingga akhirnya, mereka lebih memilih untuk bermalas-malasan, terutama malas dalam menekuni agama yang itu susah dan membutuhkan konsentrasi serta kerja keras otak untuk bisa memahami agama dengan baik.



    Ini sangat berat bagi mereka. Karena untuk mencapai tingkatan yang tinggi dalam agama, perlu banyak sekali alat-alat yang mesti dia sempurnakan, seperti ilmu bahasa Arab,
    36 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah