Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Doa Keluar Toilet

    Doa Keluar Toilet ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 21 Jumadal Ula 1445 H / 4 Desember 2023 M.







    Kajian Tentang Doa Keluar Toilet



    Adapun doa keluar dari toilet hanya satu kata, yaitu doa yang berbunyi:



    غُفْرَانَكَ



    “Ya Allah, ampunilah aku.”



    Dalilnya adalah hadits yang dituturkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika keluar dari tempat buang hajat, mengucapkan غُفْرَانَكَ yang artinya “Ya Allah, ampunilah aku.” (HR. At-Tirmidzi dan beliau menyatakan bahwa hadits ini hasan gharib)



    Ulama lain seperti Imam Ibnu Hibban, Imam Al-Hakim, Imam Adz-Dzahabi, dan Syaikh Al-Albani, semuanya menyatakan bahwa hadits ini shahih.



    Kalimat ini sama seperti ucapan istighfar. Namun selama ini kita memahami bahwa kalimat istighfar itu diucapkan setelah melakukan dosa atau kesalahan, baik dosa besar maupun kecil. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa setelah buang hajat kita membaca beristighfar? Apakah buang hajat itu dosa, maksiat, atau kesalahan? Kenapa kita minta ampun?



    Ada beberapa jawaban dari para ulama. Salah satu jawabannya adalah karena kita tidak berdzikir di dalam kamar mandi, sehingga setelah keluar dari toilet segera beristigfar. Namun, jawaban ini kurang pas. Karena bukankah di kamar mandi kita tidak berdzikir karena dilarangan oleh Allah? Maka jawaban yang lebih pas adalah kita minta ampun kepada Allah karena kita belum maksimal dalam mensyukuri nikmatNya. Ini berkaitan dengan hubungan antara buang hajat dan mensyukuri nikmat Allah.



    Buang hajat adalah salah satu nikmat Allah. Jika ada orang yang tidak bisa buang hajat, dia akan merasa sangat tersiksa. Tidak bisa buang air besar atau buang air kecil adalah siksaan yang sangat menyiksa. Maka saat kita bisa buang hajat, sejatinya kita sedang mendapatkan nikmat dari Allah.



    Dan ingatlah, kita bisa buang hajat karena ada nikmat-nikmat sebelumnya, seperti makan dan minum. Kita bisa makan karena tersedia makanan, dan tersedianya makanan juga adalah nikmat. Buang hajat mengingatkan kita pada berbagai nikmat Allah yang begitu banyak. Hingga saat ini, kita belum maksimal dalam bersyukur. Oleh karena itu, setelah buang hajat, kita membaca istigfar sebagai tanda syukur kepada Allah.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Doa Keluar Toilet” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    42 min
  • Talbis Iblis Tentang Ilham kepada Kaum Sufi

    Talbis Iblis Tentang Ilham kepada Kaum Sufi ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 21 Jumadal Ula 1445 H / 4 Desember 2023 M.







    Talbis Iblis Tentang Ilham kepada Kaum Sufi



    Kita masih berbicara tentang klaim dari kaum Sufi bahwa mereka memiliki ilmu yang langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa perantara, seperti yang banyak diriwayatkan dari para tokoh-tokoh mereka.



    Diriwayatkan bahwa ada salah seorang dari penganut Sufi yang menghadiri majelis Abu Yazid, salah seorang tokoh dari mereka. Mereka ramai membicarakan; si fulan bertemu si fulan, berguru kepadanya, dan mencatat banyak ilmu darinya. Dan juga, si fulan lainnya bertemu dengan si fulan, lalu meriwayatkan darinya. Kemudian, Abu Yazid ini berkata: “Mereka adalah orang-orang malang yang mengambil ilmu dari orang yang sudah mati, sementara kami mengambil ilmu dari Yang Maha Hidup dan tidak akan mati.”



    Maksudnya, mereka mengambil ilmu ini langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan dari perantara fulan dan fulan yang sudah mati. Sementara kaum Sufi ini merasa tidak perlu kepada riwayat-riwayat itu, tapi mereka menerima ilmu langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Ini artinya, mereka menerima wahyu? Tapi mereka tidak mengklaim itu wahyu. Tapi mereka sebut itu ilham. Hal ini mereka angkat dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Kahfi, yaitu perkataan Nabi Khidir kepada Musa:



    … وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي…



    “Dan apa yang aku lakukan ini bukan menurut kemauanku sendiri (yaitu ini adalah ilham dari Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (QS. Al-Kahfi[18]: 82)



    Jadi, mereka mengklaim ilmu yang mereka dapatkan langsung dari Allah itu adalah ilham, bukan wahyu. Kalau mereka sebut wahyu, maka itu diberikan kepada para nabi, artinya mereka mengklaim bahwa diri mereka adalah nabi. Mereka mengatakan ini adalah ilham.



    Apa yang dipahami oleh Abu Yazid pada kisah ini menunjukkan bahwa dia tidak memahami ilmu, karena jika dia punya ilmu, tentunya dia tahu bahwa ilham tidak akan menafikan dan tidak akan bertentangan dengan ilmu atau wahyu yang memang sudah Allah turunkan kepada nabiNya.



    Memang dahulu Allah Subhanahu wa Ta’ala telah ilhamkan sesuatu terhadap seseorang, seperti ilham yang Allah berikan kepada ibunya Musa. Seperti juga sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    لَقَدْ كَانَ فِيْمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الأُمَمِ نَاسٌ مُحَدَّثُونَ، فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإنَّهُ عُمَرُ



    “Sungguh di antara umat terdahulu ada orang-orang yang mendapatkan ilham yang khusus (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala). Dan jika ada seseorang di antara umatku menjadi seperti itu, maka kriteria yang pantas mendapatkannya adalah Umar.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Nabi mengatakan: “Jika ada” dan tidak ada ilham yang Allah turunkan setelah menurunkan Al-Qur’an (wahyu terakhir) kepada nabi terakhir, yaitu nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.



    40 min
  • Pemindahan Kiblat dari Syam ke Ka’bah

    Pemindahan Kiblat dari Syam ke Ka’bah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 20 Jumadal Ula 1445 H / 3 Desember 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Pemindahan Kiblat dari Syam ke Ka’bah



    Kita sampai pada باب: في تحويل القبلة عن الشام إلى الكعبة (bab pemindahan kiblat dari Syam ke Ka’bah). Kiblat itu tadinya menghadap Ka’bah, kemudian Allah perintahkan untuk menghadap ke Syam, dan itu membuat orang-orang Yahudi senang. Lalu kemudian, Allah pindahkan lagi kiblatnya ke Ka’bah, sehingga dengan kejadian ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji sebagian kaum Muslimin. Siapa yang betul-betul beriman? Siapa yang keimanannya setengah-setengah?



    Dan kejadian itu berakibat pada orang-orang munafik yang memperolok. Katanya: “Ini bagaimana, kemarin ke Ka’bah, kemudian pindah lagi ke Syam, dari Syam pindah lagi ke Ka’bah?” Mereka menganggap bahwa seperti tidak punya pendirian. Akan tetapi, semua ini adalah ujian yang Allah ingin uji kaum Mukminin dengannya. Apakah mereka tetap beriman atau tidak? Ujian itu terkadang dengan perintah, dengan larangan, dan diuji dengan hal-hal seperti ini di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Hadits 262:



    عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ ﵁ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا حَتَّى نَزَلَتْ الْآيَةُ الَّتِي في الْبَقَرَةِ ﴿وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ﴾ فَنَزَلَتْ بَعْدَمَا صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَمَرَّ بِنَاسٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُمْ يُصَلُّونَ فَحَدَّثَهُمْ بالحديث فَوَلَّوْا وُجُوهَهُمْ قِبَلَ الْبَيْتِ.



    Dari Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Aku shalat bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadap Baitul Maqdis selama 16 bulan lamanya, sehingga Allah turunkan ayat yang ada dalam surah Al-Baqarah. Allah berfirman: “Dan di mana saja kalian berada, hendaklah kalian hadapkan wajah kalian ke Masjidil Haram (Ka’bah).”



    Maka ayat ini turun setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat. Lalu kemudian ada seorang laki-laki yang pergi dan melewati orang-orang dari Anshar yang sedang shalat (dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa itu shalat Ashar). Lalu kemudian lelaki ini menyampaikan kepada mereka bahwa kiblat telah dipindahkan lagi ke Ka’bah. Maka mereka yang sedang shalat tersebut langsung berputar menghadap ke Ka’bah.” (HR. Muslim)



    Hadits ini menunjukkan adanya nasikh dan mansukh yang merupakan ujian. Nasikh dan mansukh artinya adalah ada hukum yang sudah dihapus dengan hukum yang baru datang. Adapun orang-orang Muktazilah mengingkari nasikh dan mansukh. Sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa nasikh dan mansukh sangat bsia terjadi, karena banyak ayat-ayat yang dimansukh, Allah gantikan dengan hukum yang baru.



    Allah juga berfirman:



     مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا…



    “Tidaklah Kami menghapus suatu ayat pun kecuali Kami datangkan dengan hukum yang sama dengannya atau lebih berat dari itu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 106)



    Nasikh dan mansukh itu tidak menunjukkan bahwa Allah itu plinplan, sebagaimana seperti yang dikatakan oleh orang-orang Muktazilah.
    56 min
  • Penjelasan Doa Memohon Dihilangkan dari Kegundahan dan Kegelisahan

    Penjelasan Doa Memohon Dihilangkan dari Kegundahan dan Kegelisahan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 17 Jumadal Ula1445 H / 30 November 2023 M.







    Ceramah Agama Islam Tentang Penjelasan Doa Memohon Dihilangkan dari Kegundahan dan Kegelisahan



    Kita masih melanjutkan pembahasan tentang makna doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta kepada Allah menghilangkan segala kegundahan dan kegelisahan di hati agar berganti dengan kelapangan, ketenangan, dan kegembiraan.



    Di dalam doa ini terkandung makna penghambaan diri yang sangat dalam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita, untuk mengucapkan lafadz dalam doa ini yang kita praktikkan secara nyata dalam kehidupan dan kita hadirkan secara nyata di dalam hati agar benar-benar menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sejati. Dan itulah keberuntungan yang besar bagi seorang hamba dunia dan akhirat.



    Ketika menjelaskan tentang makna lafadz kalimat-kalimat dalam doa ini, Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Ketika kita mencermati makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam doa ini yang beliau ajarkan ini:



    اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ



    “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, putra dari hamba laki-lakiMu dan hamba perempuanMu.”



    Pada lafadz ini mengandung makna berkomitmen/berpegang teguh dalam menghambakan diri kepada Allah, dengan menunjukkan rasa hina di hadapaNya, ketundukan, selalu kembali kepadaNya, melaksanakan perintah dari Tuhan kita, terus-menerus menunjukkan rasa butuh kepadaNya, bersandar kepadaNya, memohon pertolongan kepadaNya, bertawakal, berserah diri kepadaNya, berlindung kepada Allah, selalu menyandarkan diri kepadaNya, dan tidak menggantungkan hati kita kepada selainNya, baik dalam mencintai, takut, dan berharap.



    Kalimat ini mengandung makna penghambaan diri yang sempurna. Dan kita tahu, seorang hamba jika semakin dia menyempurnakan sifat-sifat ini pada dirinya, maka semakin tinggi kedudukannya, semakin mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah jawaban kenapa di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika memuji Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan gelar yang tertinggi, Allah sebutkan beliau sebagai hamba Allah.



    وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا 



    “Dan bahwasanya, ketika hamba Allah (yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) berdiri untuk berdoa kepada Allah, hampir-hampir jin-jin itu berkerumun mengelilingi beliau, desak-desakan.” (QS. Al-Jinn[72]: 19)



    Disebut sebagai hamba Allah, artinya menyempurnakan penghambaan dirinya. Selalu tunduk, merendahkan diri, selalu merasa butuh kepada Allah, selalu bersandar, selalu bertawakal, tidak mengantungkan diri kepada selainNya. Semakin kita sempurnakan berarti hamba ini benar-benar menyempurnakan kedudukan yang tertinggi bagi sebagai seorang hamba di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    51 min
  • Bangga Sebagai Muslim – Tafsir Surah Ali Imran 16-17

    Bangga Sebagai Muslim – Tafsir Surah Ali Imran 16-17 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 15 Jumadal Ula1445 H / 28 November 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Yang Lebih Baik Daripada Kesenangan Dunia – Tafsir Surah Ali Imran 15



    Bangga Sebagai Muslim – Tafsir Surah Ali Imran 16-17



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ‎﴿١٦﴾‏ الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ ‎﴿١٧﴾



    “(Yaitu) orang-orang yang mengatakan: ‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari azab api neraka,’ (yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur, yang senantiasa taat, dan senantiasa berinfak dan memohon ampun di waktu sahur (di akhir malam).” (QS. Ali ‘Imran[3]: 16-17)



    Dari ayat ini, kita ambil faedah, kata Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah:



    Memperlihatkan jati diri sebagai seorang muslim



    Di antara sifat orang yang bertakwa adalah mereka memproklamirkan keimanannya kepada Allah, tidak menutup-nutupinya, tidak merasa malu kalau dia beriman kepada Allah. Tapi dia memperlihatkan keimanannya kepada manusia. Makanya, seorang mukmin harus bangga, yaitu senang dan gembira dengan atribut-atribut keislamannya.



    Seseorang memperlihatkan jati diri sebagai seorang muslim dalam pakaian, dengan memakai peci, misalnya, itu merupakan perkara yang termasuk keimanan. Karena itu sifat orang yang bertakwa. Mereka senantiasa memperlihatkan iman mereka kepada manusia, artinya memperlihatkan jati diri dia sebagai seorang muslim.



    Dan mereka mengakui bahwa mereka adalah hamba, ini berdasarkan firman Allah tadi: “Yaitu orang-orang yang berkata.” Berkata di sini adalah dengan lisan, dan tentunya diikuti dengan hati.



    Tidak berbangga dengan diri sendiri



    Di antara sifat orang yang bertakwa, dia tidak berbangga dengan dirinya sendiri; dengan keilmuannya, amal shalihnya, apalagi dengan dunia/harta, dan yang lainnya. Orang yang bertakwa selalu merasa dirinya melakukan kekurangan. Karena Allah berfirman: “Yaitu orang-orang yang berkata: ‘Wahai Rabb kami, ampuni dosa kami.'” Maka orang yang senantiasa meminta ampun kepada Allah, itu artinya dia selalu mengingat dosa-dosanya.



    Dan orang yang senantiasa mengingat dosanya, insyaAllah, akan selamat dari penyakit ‘ujub dan sombong. Berbeda dengan orang yang selalu mempelihatkan kelebihan dirinya saja, sehingga akhirnya dia lebih pandai melihat kesalahan orang lain daripada melihat kesalahan diri sendiri. Maka orang yang seperti ini biasanya pasti kena penyakit ‘ujub dan sombong. Dia akan merasa dirinya lebih baik dari orang lain dan menganggap remeh orang lain



    Orang yang bertakwa memiliki dosa



    Takwa tidak menjamin seorang untuk tidak berdosa. Tapi orang yang bertakwa memiliki dosa. Akan tetapi kehebatannya orang yang bertakwa adalah segera bertaubat, segera ia minta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    1 hr
  • Kebutuhan Psikologi Remaja

    Kebutuhan Psikologi Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 15 Jumadal Ula1445 H / 28 November 2023 M.







    Kajian Tentang Kebutuhan Psikologi Remaja



    Salah satu kebutuhan yang harus kita penuhi terhadap para remaja adalah kebutuhan psikologisnya. Karena kebanyakan konflik dengan remaja itu terjadi karena orang tua tidak memahami kebutuhan perkembangan mereka atau boleh jadi karena orang tua tidak punya kemauan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan bijaksana, terutama kebutuhan psikologis.



    Manusia bukan hanya perlu kebutuhan fisik, tapi juga ada di sana jiwa/ruh, yang merupakan bagian dari satu dimensi dari kehidupan manusia, yang pada akhirnya jika kebutuhan ini tidak terpenuhi dengan baik, maka anak remaja berusaha untuk memenuhi hal itu sendiri dengan berbagai cara. Cara-cara tersebut bisa jadi benar, namun bisa juga salah. Maka perlu diketahui bahwa kebutuhan psikologis adalah kebutuhan yang sangat penting bagi remaja.



    Mungkin banyak yang berasumsi bahwa kebutuhan terpenting itu adalah kebutuhan jasmani, seperti makan, berobat, dan bermain. Benar bahwa itu salah satu kebutuhan manusia juga. Namun, kebutuhan psikologis mutlak harus diperhatikan, terutama oleh para pendidiknya, yaitu yang pertama adalah orang tua, kemudian para guru, sebagaimana memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti makan, minum, berobat, dan lain sebagainya. Karena kebutuhan psikologis ini sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang dalam kehidupannya. Seseorang yang terganggu psikologisnya bisa merubah alur hidupnya, bahkan bisa merubah nasibnya, hal ini karena masalah yang terjadi pada kejiwaannya.



    Maka, setiap orang tua dan pendidik hendaknya menyadari bahwa remaja sangat membutuhkan:



    1. Pendidikan agama



    Remaja membutuhkan pendidikan agama, terutama penanaman aqidah, pembinaan akhlak, dan pelatihan ibadah. Karena itu tiga unsur penting dalam agama yang perlu diperhatikan, dicukupi dan harus diberikan secara berkala kepada anak-anak sesuai dengan perkembangan usianya.



    Aqidah perlu ditanamkan karena tempatnya adalah hati. Pelatihan ibadah berkaitan dengan amal jasmaninya, yaitu ibadah-ibadah keseharian seperti shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, dan ibadah-ibadah harian lainnya yang biasa kita lakukan sehari semalam. Juga tidak kalah pentingnya karena ini berkaitan dengan hati dan fisik, yaitu pendidikan akhlak.



    2. Ketenangan, kedamaian, dan kestabilan jiwa



    Hati perlu di-treatment, karena hati manusia terus bergejolak, tidak tetap pada satu keadaan. Seperti yang kita rasakan, naik turunnya iman. Hal ini karena ujian-ujian yang kita dapat di dunia ini.



    Maka salah satu doa yang sering dibaca oleh nabi dan diajarkan kepada para sahabat adalah:



    يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ



    “Wahai Dzat yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku  pada agamaMu.”



    Dan ini juga yang memang diperlukan oleh para remaja kita, yaitu ketenangan, kedamaian, dan kestabilan jiwanya. Apalagi remaja yang labil, dia masih mencari jati diri dan menemukan eksistensi dirinya, ini perlu ketenangan dan kedamaian yang harus dijaga. Karena karakter remaja yang meletup, dia punya gairah, dia punya power, dia punya kekuatan, tapi sayang akalnya belum matang.
    50 min
  • Bab Diharamkannya Berdusta

    Bab Diharamkannya Berdusta adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 15 Jumadal Ula1445 H / 28 November 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Namimah, Dosa Besar Yang Menimbulkan Azab Kubur







    Kajian Tentang Diharamkannya Berdusta



    Berdusta adalah perbuatan yang sangat tercela, ini salah satu sifat yang buruk. Makanya kita melihat dalam kehidupan sehari-hari, apabila ada orang yang sering berdusta, maka manusia takut jika orang itu datang dan dia mengingatkan temannya: “Hati-hati, orang yang datang ini banyak dustanya.”



    Kemudian, perbuatan dusta adalah sifat dari orang-orang munafik, sedangkan kejujuran adalah salah satu sifat yang paling tampak pada seorang mukmin. Itu di antara perbedaan yang sangat jelas antara seorang beriman dan munafik. Kalau orang beriman itu jujur, sedangkan orang munafik berdusta.



    Definisi dusta



    Para ulama menyebutkan definisi dari dusta, yaitu memberitahukan sesuatu tetapi tidak sesuai dengan realita. Seseorang memberitakan sesuatu, namun yang diberitakan itu tidak benar, tidak sesuai dengan realita yang ada. Dia dengan sengaja menyampaikan berita tersebut, padahal tahu bahwa berita itu tidak sesuai dengan realita.



    Dalam Al-Qur’anul Karim, ada sejumlah ayat yang menjelaskan tentang tercelanya perbuatan dusta atau yang semakna dengan hal-hal tersebut, salah di antaranya ayat yang dibawakan oleh Al Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala dalam bab tentang diharamkannya berdusta adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:



    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا



    “Dan janganlah kamu berbicara tentang sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati masing-masing akan ditanya di hari kiamat kelak.” (QS. Al-Isra'[17]: 36)



    Ini adalah di antara ayat-ayat yang menjelaskan tentang diharamkannya berdusta. Seorang berbicara tanpa ilmu, atau seorang mengingkari sebuah realita, ini juga termasuk orang yang dusta dan khianat.



    Kemudian Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala membawakan firman Allah ‘Azza wa Jalla:



    مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ



    “Tidaklah seorang manusia mengucapkan satu perkataan, melainkan padanya ada malaikat-malaikat yang mengawasinya.” (QS. Qaf[50]: 18)



    Ini juga sebagai satu peringatan agar seseorang berhati-hati dalam berbicara dan agar seseorang tidak berdusta. Karena dusta ini sesuatu yang sangat memalukan, suatu kepribadian yang cacat dan aib, apalagi apabila yang berdusta itu adalah orang yang berilmu. Na’udzubillah.



    Adapun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi Rahimahullah Ta’ala dalam bab ini, hadits yang pertama adalah hadits:



    Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    1 hr 13 min
  • Pelajaran-Pelajaran dari Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam

    Pelajaran-Pelajaran dari Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 14 Jumadal Ula1445 H / 27 November 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Cara-Cara Iblis Berhadapan dengan Manusia







    Kajian Tentang Pelajaran-Pelajaran dari Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam



    Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkisahkan Adam, Bapak kita, di Al-Qur’an, dan tidaklah Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda di beberapa hadits tentang beliau melainkan banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Allah ingin agar dari apa yang Allah kisahkan dalam Al-Qur’an, kita mengambil ibrahnya.



    Orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa



    Pelajaran pertama yang disebutkan di sini adalah bahwa orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Pelajaran ini diambil dari firman Allah Ta’ala dalam surah Ali Imran ayat 59, di mana Allah berfirman:



    إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ



    “Sesungguhnya perumpamaan Nabi Isa di sisi Allah seperti perumpamaan Nabi Adam. Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Kun, (jadilah),’ maka dia pun jadi.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 59)



    Kemudian, di Surah Ar-Rum ayat yang ke-20, Allah Taala berfirman:



    وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ



    “Dan di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah Allah menciptakan kalian bermula dari tanah, kemudian tiba-tiba kalian menjadi manusia yang berkembang biak.” (QS. Ar-Rum[30]: 20)



    Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Ya’la, nomor ke-6573:



     إن الله خلق آدم من تراب، ثم جعله طينًا



    “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari tanah. Kemudian Allah jadikan dia menjadi tanah liat.” (HR. Abu Ya’la)



    Pesannya di sini adalah bahwa Al-Qur’an dan hadits mengabarkan bahwa Adam diciptakan dari tanah. Dan kita semua manusia adalah anak cucu Adam. Ada pesan yang penting yang disebutkan oleh penulis Rahimahullahu Ta’ala. Beliau berkata bahwa Adam ‘Alaihis Salam adalah Abul Basyar (Bapak semua manusia), diciptakan dari tanah, dan pokok asal dari manusia semuanya adalah dari tanah. Maka tidak boleh bagi siapa pun menyombongkan diri dengan garis keturunannya. Karena tingkatan manusia, mana yang lebih utama, mana yang kurang dari itu, dan seterusnya antara anak cucu Adam, tidak terwujud kecuali dengan yang namanya ketakwaan.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 



    “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Hujurat[49]: 13)



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    1 hr 2 min
  • Siraman Hati

    Siraman Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 14 Jumadal Ula1445 H / 27 November 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Siraman Hati



    Dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:



    إِنَّ مَثَلَ ما بعثَنِي اللهُ به مِنَ الهدَى والعلمِ كمَثلِ غيثٍ أصابَ أرْضًا فكانت منها طائفةٌ طيِّبةٌ، قبِلتْ الماءَ فأنْبتَتْ الكَلأَ والعُشْبَ الكثيرَ، وكان منها أجادِبُ أمسَكتِ الماءَ، فنفَعَ اللهُ بها النَّاسَ فشَرِبوا منها وسَقَوا وزَرَعُوا. وأصَابَ طائِفة منَّا أخرَى، إنَّما هي قِيعانٌ لا تُمسِك ماءً ولا تُنبِتُ كلًا. فذلك مثل مَنْ فقِه في دينِ اللهِ، ونفَعه بما بعثني اللهُ به، فعَلِمَ وعَلَّم، ومثل مَنْ لم يَرفَعْ بذلك رأسًا، ولم يقبلْ هُدَى اللهِ الَّذي أُرْسِلتُ بِهِ



    “Sesungguhnya perumpamaan apa yang aku diutus oleh Allah dengannya dari petunjuk dan ilmu seperti hujan yang menimpa tanah, di antara tanah tersebut ada tanah yang baik yang dapat menyerap air dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan ada tanah yang disebut dengan ajadib, yaitu tanah yang bisa menampung air, sehingga manusia mengambil manfaat darinya. Mereka minum, menyiram tanaman-tanamannya, dan memberi minuman hewan-hewan mereka. Jenis tanah yang ketiga disebut qii’an, yaitu tidak menampung air dan tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Maka itulah perumpamaan orang yang paham agama Allah, dan bermanfaat untuk apa yang aku diutus oleh Allah dengannya, dia mengetahui dan mengajarkan. Dan perumpamaan orang yang tidak memperhatikan sama sekali wahyu yang diturunkan kepadaku, tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjelaskan bahwasanya perumpamaan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus dengannya nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam dari petunjuk dan ilmu itu seperti hujan yang diserap oleh bumi sehingga menumbuhkan berbagai macam tanaman, buah-buahan. Dan juga ada tanah yang menahan dan menampung air sehingga dimanfaatkan oleh manusia. Adapun jenis tanah yang ketiga maka tidak bermanfaat karena tidak menyerap air dan juga tidak bisa menahan air tersebut untuk dimanfaatkan oleh orang lain.



    Maka jelas bahwasanya hati itu meminum dan menyerap apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan dari keimanan dan Al-Qur’an. Dan itulah minuman hati sebagaimana air hujan adalah minuman untuk bumi. Sebagaimana bumi merasa kehausan dan butuh minuman, demikian pula hati merasa haus terhadap apa yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bisa kenyang dengannya.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan makanan dan minuman ke hati tersebut, sehingga hati menjadi hidup. Karena hati yang mendapatkan ilmu, seperti badan yang mendapatkan makanan. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan dan minuman, demikian pula hati membutuhkan apa yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari ilmu-ilmu yang bermanfaat. Ilmu itu merupakan makanan dan minumannya.



    Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan: “Sesungguhnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti air hujan.
    49 min
  • Talbis Iblis Tentang Ilmu Laduni Kaum Sufi

    Talbis Iblis Tentang Ilmu Laduni Kaum Sufi ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 14 Jumadal Ula1445 H / 27 November 2023 M.







    Talbis Iblis Tentang Ilmu Laduni Kaum Sufi



    Kita sampai pada pembahasan talbis iblis terhadap kaum Sufi, dan kepada manusia secara umum, untuk menjauhkan mereka dari ilmu. Iblis membuat sebagian besar kaum Sufi menilai bahwa ahli ilmu tidak mendapatkan ilmu batin. Mereka mengklaim memiliki ilmu batin, sedangkan ilmu yang dipelajari oleh para ulama umumnya adalah ilmu lahir. Makan mereka merasa tidak perlu belajar ilmu yang dimiliki oleh ulama pada umumnya. Bahkan, ada di antara mereka yang berandai-andai mendapatkan bisikan atau ilham. Lalu mereka mengatakan: “Hatiku bercerita kepadaku dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”



    Ini sesungguhnya yang halu. Seseorang mengklaim mendapatkan sesuatu secara langsung dari Allah tanpa perantara Rasul. Itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Karena salah satu hikmah Allah mengutus para rasul adalah untuk menyampaikan wahyu kepada manusia. Karena Allah tidak menurukan wahyu kepada semua manusia. Allah hanya memberikan wahyu kepada Nabi dan Rasul.



    Maka, orang yang mengatakan bahwa Allah telah langsung memberikan pelajaran atau ilmu kepadanya, itu tidak lepas dari dua orang saja; kalau tidak orang tersebut gila; dia adalah pembohong. Tidak mungkin lepas dari dua jenis manusia itu. Atau memang dia betul-betul seorang nabi yang dapat wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala? Barulah dia boleh berkata: “Allah telah menyampaikan kepadaku. Allah telah mewahyukan kepadaku. Telah bercerita kepadaku Rabbku.”



    Maka, siapa saja yang mengklaim punya sanad langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa dipastikan dia adalah pembohong. Dan juga bisa dipastikan bahwa ini adalah sanad yang terputus. Karena kita tidak mungkin punya akses langsung kepada Allah, kecuali melalui para nabi dan rasul, karena melalui mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan pesan-pesannya kepada manusia.



    Akan tetapi kaum Sufi ini mengklaim mereka punya ilmu yang tidak dimiliki oleh yang lain. Mereka menyebut ini ilmu batin, mereka menyebut ini ilmu laduni, ilmu yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.



    Tentunya ini akibat kejahilan mereka. Dan inilah salah satu talbis iblis terhadap mereka, sehingga mereka tidak mau menuntut ilmu Syari yang mereka klaim ilmu kulit, bukan inti. Menurut mereka inti ilmu adalah ilmu batin.



    Maka kaum Sufi mempunyai tafsir batin, yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan tafsiran batin. Ini agak terdengar aneh, karena kalau lah mereka dapat langsung dari Allah, kenapa mereka harus bersandar juga kepada al-Qur’an? Seharusnya mereka tidak perlu lagi al-Qur’an karena punya akses langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak perlu nabi dan rasul. Karena punya akses langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Jelas ini adalah salah satu talbis iblis terhadap mereka yang membuat merasa tidak perlu lagi untuk mendalami syariat. Menjalani syariat adalah jalan panjang dan berliku-liku. Simpelnya punya ilmu batin saja langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak perlu melalui nabi dan rasul, apalagi sahabat.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download
    31 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah