Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Takdir Allah Selalu Adil

    Takdir Allah Selalu Adil adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Rabu, 1 Jumadal Akhir 1445 H / 14 Desember 2023 M.







    Ceramah Agama Islam Tentang Takdir Allah Selalu Adil



    Kita masih melanjutkan pembahasan di pertemuan yang lalu tentang sebuah doa yang agung yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam sebuah hadits yang shahih. Doa ini untuk menghilangkan kesedihan, kegundahan, dan kegelisahan. Ini termasuk doa yang sangat agung kandungannya yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimulai dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, merendahkan diri, dan mengakui penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata, tidak ada sekutu bagiNya.



    Di pertemuan kita yang lalu, terakhir kita membahas tentang makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di awal-awal doa: “Berlaku dan berlangsung pada diriku hukum-hukumMu Ya Allah, dan selalu adil ketentuan takdir yang Engkau tentukan bagiku.” Maka semua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan bagi hambaNya adalah dengan keadilanNya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat adil. Yakni, Dia berbuat menempatkan segala sesuatu selalu tepat pada tempatnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hikmah yang sempurna. Di antara namanya yang Maha Indah adalah Al-Hakim, yaitu selalu menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya.



    Disela-sela pembahasan ini, Ibnul Qayyim Rahimahullah ingin mengingatkan tentang keagungan dan kemuliaan kebenaran aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam memahami takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengkompromikan hal-hal yang ditunjukkan di dalam dalil-dalil yang shahih dari Al-Qur’an maupun hadits-hadits yang shahih. Beliau memberikan pernyataan dari kelompok-kelompok yang menyimpang dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ketika mereka membahas tentang takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Kalau ada yang bertanya: Perbuatan maksiat menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah terjadi dengan takdir dan ketentuan Allah, maka bagaimana sudut pandang keadilan dalam masalah ketentuan Allah menakdirkan terjadinya perbuatan maksiat ini? Karena sesungguhnya keadilan dalam hal Allah memberikan adzab bagi pelaku maksiat ini tidak terlihat.



    Kita ketahui, Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan segala sesuatu yang terjadi, termasuk perbuatan hamba mengamalkan ketaatan atau tidak, itu semua dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kehendakNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ ‎﴿٢٨﴾‏ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ‎﴿٢٩﴾



    “Bagi siapa saja di antara kamu yang ingin istiqamah menempuh jalan yang lurus, dan tidaklah kamu menghendaki sesuatu kecuali sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. At-Takwir[81]: 28-29)



    Dan banyak dalil-dalil yang menyebutkan masalah ini, termasuk apa yang diperbuat oleh hamba. Namun, kita yakini di sini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika menaqdirkan segala sesuatu, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan ke...
    57 min
  • Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim

    Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Jumadal Ula 1445 H / 12 Desember 2023 M.



    Sebelumnya: Prinsip-Prinsip dalam Pekerjaan







    Kajian Tentang Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim



    Syaikhul Islam ditanya tentang kitab terbaik yang bisa diambil oleh seorang Muslim untuk menjadi buku agama pertama yang dia pelajari setelah Al-Qur’an. Maka, menjawab pertanyaan ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan bahwa kitab yang bisa dijadikan sandaran dalam menuntut ilmu adalah bab yang luas. Jawabannya juga bisa berbeda dari satu orang ke orang yang lain, tergantung pada perbedaan negara tempat mereka tumbuh. Karena di sebagian negara, orang bisa dengan mudah mendapatkan salah satu ilmu, tapi tidak mudah mendapatkan ilmu yang lain. Atau juga karena ada perbedaan metode mencari ilmu dari satu negara ke negara yang lain. Kemudian, juga ada perbedaan madzhab yang umum dipakai di suatu negara, dimana tidak umum dipakai di negara lain. Jadi, ini semuanya berpengaruh kepada jawaban untuk kitab apa yang bisa dijadikan pegangan bagi seorang Muslim.



    Kenapa beliau mengatakan bahwa jawabannya bisa berbeda dari perbedaan negara tempat seseorang tumbuh? Karena ada ilmu yang berkembang di suatu negara, dibandingkan dengan negara yang lain. Misalnya pada masa lalu, negeri Hijaz (Mekah dan Madinah) dikenal sangat kuat dalam tradisi ilmu hadits. Maka, hadits-hadits mudah dijumpai, banyak diriwayatkan di kota-kota dan desa di Hijaz, yakni di seputar Laut Merah. Ini merupakan potongan Jazirah Arab yang paling dekat dengan Kota Mekah dan Madinah, dimana wahyu paling banyak turun di antara keduanya.



    Sementara di Irak, hadits dan ilmu hadits relatif lebih sulit untuk dicari. Maka di sana, para ulamanya lebih kuat dari sisi logika atau qiyas. Hal ini karena dahulu mereka tidak mudah mendapatkan hadits-hadits. Maka dalam sebagian pembahasan fikih, mereka terpaksa memakai qiyas atau logika, karena tidak menemui hadits dengan mudah di sana.



    Demikian juga dengan perbedaan cara untuk bisa mendapatkan ilmu atau perbedaan metode yang biasa dipakai oleh umat Islam dalam menuntut ilmu. Misalnya, di negeri kita sekarang dengan mudah mendapatkan pondok pesantren. Sementara model pondok pesantren bukanlah model yang populer dan umum di negara seperti Saudi Arabia. Di sana, para penuntut ilmu biasanya mencukupkan diri dengan sekolah. Kemudian, di sore atau malam hari, ditambah dengan halaqoh tahfidzul qur’an di masjid-masjid yang menjamur di seluruh penjuru negeri. Maka, jarang sekali ada orang yang tinggal di sekolah berasrama. Kecuali kalau sudah menginjak level perguruan tinggi, baru mereka biasa safar untuk menuntut ilmu dengan ngekos (berasrama) di kota-kota besar dimana banyak kampus-kampus yang menyediakan pendidikan yang lebih tinggi. Tapi di level SMP atau SMA sangat jarang ditemui ada pondok pesantren di sana. Ini juga bisa berpengaruh kepada kitab apa yang dianjurkan untuk dipelajari.



    Kemudian, juga di negeri kita, Alhamdulillah ada kemudahan-kemudahan mendapatkan tempat untuk belajar. Sementara di sebagian negeri umat Islam kita juga mengenal ada perbedaan. Misalnya, di negeri kita, umat Islam banyak belajar membaca Al-Qur’an dengan metode yang ditemukan oleh para ulama.



    Di Indonesia, misalnya,
    1 hr 18 min
  • Pentingnya Bergerak Bagi Remaja

    Pentingnya Bergerak Bagi Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Jumadal Ula 1445 H / 12 Desember 2023 M.







    Kajian Tentang Pentingnya Bergerak Bagi Remaja



    Sikap kurang peduli orang tua hingga membiarkan anak remaja mencari dan memenuhi kebutuhan psikologinya sendiri, itu berkontribusi besar terhadap krisis yang dialami oleh para remaja. Maka, di sini orang tua harus memberikan perhatian dan kepedulian terhadap anak-anak remaja.



    Kebanyakan orang tua lengah karena mereka sibuk dengan anak-anak yang lebih kecil. Sementara anak remaja mereka biarkan, karena dianggap sudah besar dan bisa sendiri, padahal sebenarnya tidak. Anak remaja belum bisa sendiri, walaupun terlihat mandiri. Di fase itulah remaja perlu banyak bimbingan, terutama dari orang-orang yang dia percayai, mengarahkan dan juga menuntun mereka ke masa depan.



    Tanpa bimbingan orang tua, guru, atau pembimbing, akan sulit bagi mereka. Kecenderungan anak remaja yang ditelantarkan oleh kedua orang tuanya atau pendidiknya, maka dia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu sendiri. Ini memberikan suatu krisis mental di tengah-tengah anak remaja, khususnya hari ini. Mereka tidak memiliki kepercayaan diri, cenderung mudah menyerah, dan pada akhirnya yang repot adalah kembali lagi-lagi orang tua. Maka dari itu, kita harus juga memberikan kepedulian kepada anak-anak remaja. Walaupun kita mungkin sudah disibukkan dengan anak-anak yang lebih kecil darinya.



    Sebagian orang tua menangani banyak anak dari berbagai fase usia, ada yang masih bayi, satu lagi masih bocah, ada yang pra remaja, ada yang sudah remaja, bahkan ada yang pra dewasa, komplit semuanya. Semua itu dia tangani, dan ini tidak mudah.



    Maka, perhatian ini harus tetap kita berikan. Kita, orang tua, harus tetap peduli terhadap masalah-masalah anak remaja. Bahkan boleh saya katakan bahwa masalah remaja sebenarnya lebih banyak daripada masalah anak-anak. Tapi tentunya, orang tua lebih condong kepada bocah-bocah karena lucu dan juga sudah bosan dengan anak remajanya.



    Jangan biarkan anak remaja dan cenderung melepas anak remaja. Sehinga seolah-olah orang tua berkata: “Pergi sana, cari kehidupan sendiri, kamu bebas.” Itu kata-kata yang sebenarnya tidak tertulis, tapi dari sikap orang tua mengatakan seperti itu. Maka dia akan artikan kebebasan ini dengan melakukan hal-hal yang menurut dia baik, tapi belum tentu baik dalam pandangan orang tua. Di sinilah rentan terjadi konflik orang tua dan remaja.



    Maka untuk menghindari atau mengurangi peristiwa yang rentan menyebabkan konflik dengan para remaja, hendaknya orang tua dan juga para guru pembimbingnya mampu menjaga karakteristik perkembangan remaja, memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis mereka, terutama kebutuhan psikologis, bukan hanya kebutuhan jasmani.



    Oleh karena itu libatkanlah anak remaja dalam hal-hal yang dia sukai, selama dalam koridor syariat. Yakinkan dia sebelum terlibat. Artinya memang manusia itu perlu aktivitas, kesibukan, bergerak dan berputar. Demikian sebagaimana alam semesta ini, semuanya bergerak.



    وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ



    “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS. Az-Zariyat[51]: 47)



    48 min
  • Permusuhan Iblis Terhadap Nabi Adam ‘Alaihis Salam

    Permusuhan Iblis Terhadap Nabi Adam ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 28 Jumadal Ula 1445 H / 11 Desember 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Lari Menuju Allah dengan Bertaubat







    Kajian Tentang Pelajaran-Pelajaran dari Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam



    Pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari permusuhan iblis terhadap Nabi Adam ‘Alaihis Salam berikut anak cucunya keturunannya.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemuliaan kepada Nabi Adam dengan menciptakan Nabi Adam langsung dengan dua tanganNya. Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta’ala langsung meniupkan ruh kepada Nabi Adam, mengajarkan nama segala sesuatu, yang dengannya Allah angkat derajat Nabi Adam di atas malaikat dan iblis. Walaupun malaikat diciptakan oleh Allah dengan cahaya, dimana cahaya lebih mulia daripada tanah. Dari sini, kita mengetahui bahwa dengan ilmu itu Allah angkat hambaNya. Maka kita penting untuk belajar ilmu agama.



     ‏‏يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ



    “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah[58]: 11)



    Tidak peduli dari mana asalnya atau dari mana sumbernya atau dari materi apa diciptakan. Namun, ketika Allah memberikan ilmu, maka Allah angkat derajat orang tersebut.



    Allah juga memberikan karunia kepada Nabi Adam dengan memerintahkan malaikat dan iblis untuk sujud. Mereka semua sujud, kecuali iblis karena sombong.



    Jika engkau perhatikan tentang kisah permusuhan iblis terhadap Adam dan keturunannya, engkau tahu bahwa hasad dan kesombongan adalah dua sebab kebinasaan iblis. Keduanya (sombong dan hasad) merupakan penyakit yang mengerikan. Apabila penyakit ini menjangkiti seseorang, maka dia masuk ke dalam perangkap setan, dan dia akan binasa.



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan keterangan kepada kita tentang definisi kesombongan. Ini adalah agar kita berhati-hati dari sifat sombong. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim:



    لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ



    “Tidak akan masuk surga, orang yang ada di dalam hatinya terdapat seberat biji dzarrah dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya: “Sesungguhnya ada seseorang menyukai pakaian dan sandal yang bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah menyukai yang keindahan, kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)



    Di dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewanti-wanti umatnya, bahwa sombong itu sangat berbahaya. Kesombongan, kalau ada dalam hati seseorang, walaupun seberat biji dzarah (sesuatu yang sangat kecil) maka dia tidak akan masuk.
    1 hr 4 min
  • Penjelasan Rukun Iman Sebagai Pondasi-Pondasi Keimanan

    Penjelasan Rukun Iman Sebagai Pondasi-Pondasi Keimanan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 28 Jumadal Ula 1445 H / 11 Desember 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Penjelasan Rukun Iman Sebagai Pondasi-Pondasi Keimanan



    Telah berlalu pada pertemuan sebelumnya pembahasan hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, yaitu tentang kisah datangnya Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bertanya beberapa hal kepada Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam untuk mengajari para sahabat perkara agama mereka.



    Di antara pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam: “Ajarkan kepadaku apa itu iman?” Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada rasul-rasulNya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir baik dan takdir buruk.”



    Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjadikan iman dibangun di atas pokok-pokok yang enam yang agung ini yang tempatnya di hati dan merupakan asas-asas yang kuat. Dengan pokok-pokok ini, iman itu menjadi baik. Bahkan, hati tidak akan mungkin menjadi baik kecuali dengan menegakkan pokok-pokok ini.



    Iman kepada Allah



    Pokok yang paling penting dari pokok-pokok ini adalah iman kepada keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada rububiyah, pada nama-nama dan sifat-sifatNya, juga pada uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu seorang hamba beriman dengan rububiyah Allah ‘Azza wa Jalla dan meyakini bahwa tidak ada yang menciptakan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh ada keraguan sedikit pun bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan, yang memberi rezeki, yang memberi nikmat, yang mengatur alam semesta, yang mengatur urusan seluruh makhlukNya.



    Dan beriman dengan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengatakan: “Aku beriman kepada Allah dan yang datang dari Allah ‘Azza wa Jalla, sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Dan kami beriman dengan Rasulullah dan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sesuai dengan maksud Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Tidak mencari pemimpin selain Al-Qur’an dan Sunnah, tidak melangkahi keduanya kepada selainnya, tidak melenceng dari apa yang tertera pada Al-Kitab dan As-Sunnah. Berbicara dengan apa yang dibicarakan oleh kitab dan sunnah, dan diam dari apa yang tidak disebutkan dalam kitab dan sunnah.



    Sebagaimana perkataan Imam Ahmad Rahimahullah: “Kami sifati Allah dengan apa yang Allah sifatkan diriNya, dan kami sifatkan Allah dengan sifat yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kami tidak melangkahi Al-Qur’an dan Sunnah.”



    Juga berkata Imam Al-Zuhri Rahimahullah: “Dari Allah risalah, dan bagi Rasul menyampaikan. Dan kewajiban kita adalah menerima.” Maka apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang diriNya, tentang satu nama atau sifat atau perbuatan atau selainnya, maka kita wajib beriman dan membenarkannya tanp...
    45 min
  • Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi dalam Masalah Ilmu

    Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi dalam Masalah Ilmu ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 28 Jumadal Ula 1445 H / 11 Desember 2023 M.







    Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi dalam Masalah Ilmu



    Pembahasan kita masih berkaitan dengan talbis iblis terhadap kaum Sufi dalam masalah ilmu. Ada dua pendekatan yang berbeda: kaum Sufi melakukan pendekatan dengan mendahulukan tazkiyatun nufus. Dengan pendekatan ini, mereka mengklaim bahwa ilmu akan datang belakangan. Sementara itu, para ulama Ahlus Sunnah mendahulukan menuntut ilmu kemudian melakukan proses tazkiyatun nufus secara bersamaan. Ini adalah dua pendekatan yang berbeda.



    Ibnul Jauzi Rahimahullah mengatakan bahwa beliau melihat beberapa orang mulia dari kalangan ulama-ulama sunnah di berbagai negeri tidak menempuh kaum Sufi ini. Mereka justru menyibukkan diri dengan mencari ilmu terlebih dahulu, kemudian proses tazkiyatun nufus itu berjalan beriringan dengan proses menuntut ilmu. Sementara pendekatan kaum Sufi mendahulukan tazkiyatun nufus dan meninggalkan ilmu. Menurut mereka, ilmu akan datang setelah proses ini sempurna.



    Jika mengacu pada kaidah mereka ini, seperti yang dikatakan oleh Abu Hamid Al-Ghazali sebelumnya, maka jiwa akan fokus sepenuhnya dengan segala was-was dan asumsi-asumsi. Tidak ada ilmu di dalamnya yang mampu untuk menangkal was-was dan persangkaan itu. Akibatnya adalah, Iblis benar-benar mampu mempermainkan jiwa mereka sesukanya. Mereka mengira bahwa proses tazkiyatun nufus adalah jalan menuju ilmu. Ini adalah suatu hal yang agak sulit. Karena bagaimana seseorang dapat melakukan proses tazkiyatun nufus tanpa ilmu? Sementara para ulama, seperti yang kita sebutkan sebelumnya, mereka mendahulukan menuntut ilmu. Kemudian, mereka menjalankan proses tazkiyatun nufus seiring dengan proses menuntut ilmu.



    Tazkiyatun nufus itu harus dilakukan dan tidak bisa dilakukan dengan serta-merta. Artinya, kita langsung bisa menyucikan jiwa dalam waktu setahun, dua tahun, atau beberapa tahun? Ini adalah proses sepanjang hidup, seiring dengan kadar iman yang naik turun.



    Sementara itu, ilmu adalah sesuatu yang mutlak kita perlukan untuk bisa membedakan mana was-was setan, dan mana wahyu, dan mana asumsi? Tanpa ilmu, kita tidak mampu menangkal, membedakan, dan mengidentifikasi ini hak atau batil. Bahkan, kita bisa menelan bulat-bulat syubhat yang dilontarkan oleh Iblis. Sampai-sampai Iblis bisa memperlihatkan was-was kepada kita sebagai suatu ilmu yang ilmiyyah.



    Mereka yang melakukan tazkiyatun nufus (tanpa belajar) menganggap mendapatkan ilmu, padahal yang ia dapat adalah syubhat. Karena dia tidak punya sensor lagi untuk membedakan mana yang syubhat dan mana ilmu.



    Memang tidak dipungkiri bahwa, manakala hati kita bersih, maka cahaya-cahaya ilmu akan tertuang di dalamnya. Artinya bahwa menuntut ilmu perlu modal berupa hati yang bersih. Namun, hati yang bersih semata-mata itu tidak akan bisa mendatangkan ilmu jika tidak belajar. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:



    إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ



    “Sesungguhnya ilmu itu hanya dapat diraih dengan belajar, sedangkan hilm (kesabaran dan ketenangan) hanya didapatkan dengan melatih diri.
    33 min
  • Hadits Tentang Meluruskan Shaf

    Hadits Tentang Meluruskan Shaf merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 27 Jumadal Ula 1445 H / 10 Desember 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Meluruskan Shaf



    Kita masih pada باب: في تسوية الصفوف (bab tentang meluruskan shaf).



    Hadits 267:



    عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ ﵁ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا في الصَّلَاةِ وَيَقُولُ اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ أَبُو مَسْعُودٍ فَأَنْتُمْ الْيَوْمَ أَشَدُّ اخْتِلَافًا.



    Dari Abu Mas’ud semoga Allah meridhainya, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengusap pundak-pundak kami dalam shalat dan beliau bersabda: ‘Luruskan, dan jangan berselisih, niscaya hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang berada di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal di antara kalian, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya -dan dalam Shahih Muslim ada tambahan: وإيَّاكُم وَهَيشاتِ الأسواقِ (dan jauhi oleh kalian suara-suara gaduh dalam masjid seperti di pasar).'” Berkata Abu Mas’ud: “Maka kalian di hari ini lebih besar lagi perselisihannya.” (HR. Muslim)



    Dari hadits ini kita ambil faedah:



    Meluruskan Shaf



    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu sangat memperhatikan tentang meluruskan shaf, sampai-sampai di dalam hadits ini disebutkan “nabi mengusap pundak-pundak kami”. Dalam satu riwayat yang lain disebutkan:



     حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ



    “Sampai-sampai beliau meluruskan itu seperti meluruskan anak panah.” (HR. Muslim)



    Dan kita pernah sebutkan kemarin terjadi ikhtilaf para ulama tentang apakah meluruskan shaf itu wajib atau sunnah? Jumhur ulama pendapatnya bahwa meluruskan shaf itu hukumnya sunnah muakadah saja. Dalilnya sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



     فإِنَّ تَسوِيَة الصُّفُوف من تَمَام الصَّلاَة



    “Karena meluruskan shaf itu termasuk kesempurnaan shalat.” (Muttafaqun ‘alaih)



    Kata mereka, selama itu termasuk kesempurnaan, berarti itu menujukan tidak wajib. Akan tetapi itu hanya menunjukkan kesempurnaan saja.



    Sementara Ibnu Hazm berpendapat bahwa meluruskan shaf itu wajib. Dan ini yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Imam Asy-Syaukani dan dirajihkan oleh Syaikh Utsimin Rahimahullah. Dalilnya adalah salah satu lafadz:



     فإنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِن إقَامَةِ الصَّلَاةِ



    “Karena meluruskan shaf itu termasuk menegakkan shalat.” (HR. Bukhari)



    Kata Ibnu Hazm bahwa apabila itu termasuk menegakkan shalat, maka itu hukumnya wajib. Karena menegakkan shalat hukumnya wajib. Allah berfirman:



     وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ 



    “Dan tegakkan shalat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 43)



    Demikian pula mereka berhujah dengan hadits ini:



     لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ



    “Hendaklah kalian benar-benar meneruskan shaf kalian atau Allah akan jadikan hati kalian itu berseli...
    1 hr 6 min
  • Kebutuhan Psikologi Remaja Yang Harus Dipenuhi

    Kebutuhan Psikologi Remaja Yang Harus Dipenuhi merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 22 Jumadal Ula 1445 H / 5 Desember 2023 M.







    Kajian Tentang Kebutuhan Psikologi Remaja Yang Harus Dipenuhi



    Ada beberapa hal yang diperlukan oleh para remaja yang sangat berpengaruh terhadap perilaku dan perkembangan mereka. Antara lain, pendidikan agama (terutama aqidah dan akhlak), ketenangan, kedamaian, dan kestabilan jiwa, ini juga merupakan hal yang diperlukan oleh para remaja. Mereka perlu kenangan, kedamaian, serta kestabilan jiwa karena remaja cenderung labil.



    Remaja juga membutuhkan kesempatan berekspresi dan mengembangkan potensi diri. Hal ini untuk mengoptimalkan kekuatan yang tersimpan pada remaja.



    Selain itu, mereka juga membutuhkan cinta dan kasih sayang. Termasuk kekeliruan para orang tua adalah sebagian anak disayang ketika kecil, lalu ketika tumbuh remaja, dia dibiarkan dan diacuhkan. Kita perlu menyadari bahwa remaja juga membutuhkan cinta dan kasih sayang. Tentunya berbeda bentuk cinta dan kasih sayang yang kita berikan kepada seorang bocah dengan yang kita berikan kepada remaja. Cinta dan kasih sayang yang diberikan kepada remaja haruslah keluar dari hati, karena mereka sudah bisa merasakannya dan membedakan antara yang tulus dan mana yang pura-pura.



    Kadang-kadang, orang tua cenderung memperlakukan anak atau bocah seperti mainan yang menggemaskan dan lucu. Kita pun merasa sayang dan mencintai bocah tersebut. Namun, terhadap remaja, kadang-kadang muncul perilaku yang membuat orang tua jengkel, sebel, dan marah. Sehingga untuk mencurahkan cinta dan kasih sayang, menjadi berkurang. Padahal, mungkin remaja tersebut membuat kita jengkel karena kurang memberikan cinta dan kasih sayang kepadanya. Oleh karena itu, jika semakin tidak diberikan cinta dan kasih sayang kepadanya, maka semakin menjengkelkan nantinya. Remaja bisa menyampaikan protes kepada orang tuanya bahwa mereka merasa ditelantarkan dan tidak dipedulikan lagi, karena orang tua lebih fokus pada ‘mainan’ barunya, yaitu anak-anak yang lebih kecil.



    Selain itu, remaja juga membutuhkan pujian, motivasi, apresiasi, dan penghargaan yang tinggi. Kadang-kadang, hal ini luput dari perhatian orang tua. Remaja berusaha menunjukkan prestasinya, namun orang tua kadang merasa kurang berkenan. Apalagi orang tua yang suka membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Ini biasanya pelit memberikan apresiasi, apalagi pujian. Padahal, remaja perlu pujian dan motivasi, serta apresiasi dari orang-orang dekatnya, terutama orang tua.



    Di sinilah peran orang tua untuk memberikan motivasi. Hal ini agar mereka lebih bersemangat dan memiliki motivasi tinggi untuk meraih cita-cita. Remaja itu sudah di jalan menuju cita-citanya. Jika orang tua tidak menjadi sandaran bagi para remaja, mungkin dia merasa berjuang sendirian.



    Maka jangan pelit memberikan pujian kepada remaja, dan juga jangan pelit memberikan apresiasi. Apresiasi bukan harus dalam bentuk materi, tapi bisa dalam bentuk verbal atau perhatian-perhatian yang ringan, ini untuk menunjukkan apresiasi kita kepadanya.



    Remaja juga perlu dikenal oleh orang-orang di sekitarnya, perlu penerimaan, dan penghargaan dari mereka. Seringkali, ketika kumpul keluarga, merasa merasa disisihkan dengan tidak menjadi bahan pembicaraan, tidak dilibatkan, dibiarkan begitu saja.



    53 min
  • Lari Menuju Allah dengan Bertaubat

    Lari Menuju Allah dengan Bertaubat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 21 Jumadal Ula 1445 H / 4 Desember 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Pelajaran-Pelajaran dari Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam







    Kajian Tentang Pelajaran-Pelajaran dari Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam



    Pada kajian sebelumnya telah kita bahas tentang faedah dari kisah Adam, yaitu:




    * Nilai kemuliaan di sisi Allah terkait dengan tingkat ketakwaan. Semakin bertakwa, semakin mulia di sisi Allah.



    * Allah mengangkat derajat manusia di dunia dan akhirat terkait dengan ilmu. Derajat seseorang naik berdasarkan ilmu yang dimilikinya, bukan karena asal-usul penciptaannya.



    * Pentingnya lari menuju Allah dengan bertaubat.




    Untuk poin yang ketiga, diambil dari kisah Nabi Adam dan Hawa, ketika melakukan kesalahan dengan memakan buah terlarang yang disebut setan sebagai buah khuldi. Akibatnya, Allah murka dan mengeluarkan Adam dari surga. Namun, yang patut dicontoh dari Nabi Adam adalah bertaubat dengan taubatan nasuha, seperti yang tergambar dalam doanya:



    رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ



    “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf[7]: 23)



    Nenek moyang kita, Adam, memberikan contoh bertaubat ketika melakukan dosa. Adapun nenek moyang setan, yaitu iblis, dia tidak bertaubat.



    Bertaubat dan beristigfar adalah kebiasaan para nabi. Sebelumnya, kita telah menyebutkan Nabi Yunus dalam surah Al-Anbiya ayat 87-88, di mana ia berdoa dengan istigfar saat berada di dalam perut ikan. Nabi Yunus beristigfar dengan doa yang berisi tiga hal: tauhid, tasbih, dan istigfar. Doa ini:



    لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Bahwa tidak ada Rabb selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Anbiya[21]: 87)



    Kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam masalah apapu, malainkan Allah kabulkan.” Oleh karena itu kita hendaknya memperbanyak doa ini.



    Kemudian, penulis menyebutkan beberapa contoh dari sunnah Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang taubatnya para sahabat Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagai contoh: Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan hamil akibat berzina. Wanita tersebut berkata: “Wahai Nabi Allah, aku telah melakukan perbuatan zina, maka tegakkanlah hukuman had atasku.”



    Wanita itu berkata menginginkan hukuman yang telah ditetapkan Allah untuk pelaku zina, yaitu dirajam sampai meninggal bagi yang sudah pernah menikah atau dicambuk bagi yang belum menikah.



    57 min
  • Pondasi-Pondasi Keimanan

    Pondasi-Pondasi Keimanan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 21 Jumadal Ula 1445 H / 4 Desember 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Pondasi-Pondasi Keimanan



    Dari sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang laki-laki. Bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, dan tidak terlihat bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian ia duduk mendekat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menyandarkan dua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan dua tangannya di atas kedua pahanya.



    Kemudian ia berkata: ‘Ya Muhammad, beritahukan kepadaku apa itu Islam?’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwasannya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukan perjalanan ke sana.’ Ia mengatakan: ‘Engkau benar.’



    Kata sahabat Umar: ‘Kami heran, dia bertanya dan dia membenarkan.’ Lalu orang itu bertanya lagi: ‘Kabarkan kepadaku apa itu iman?’



    Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengatakan: “Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada rasul-rasulNya, kepada hari akhir, dan kepada takdir baik dan takdir buruk.’ Ia mengatakan: ‘Engkau benar.’



    Ia bertanya lagi: ‘Kabarkan kepadaku apa itu ihsan.’ Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjawab: ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, dan jika tidak mampu maka yakinlah bahwasannya Ia melihatmu.’



    Ia bertanya lagi: ‘Beritahukan kepadaku kapan hari kiamata?’ Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjawaba: ‘Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada yang bertanya.’



    Ia bertanya lagi: ‘Kalau begitu kabarkan kepadaku apa tanda-tanda kiamat tersebut?’ Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjawab: ‘Budak wanita akan melahirkan tuannya. Engkau akan melihat orang yang dahulunya tidak memiliki sendal, tidak memiliki pakaian, miskin, penggembala kambing, mereka sudah saling meninggikan bangunan-bangunan.’



    Kemudian orang itu pergi dan kami pun diam beberapa waktu. Kemudian, Nabi bertanya: ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya?’ Umar menjawab: ‘Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.’ Nabi bersabda: Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan kalian agama kalian.'” (HR. Muslim)



    Hadits ini sangat agung karena mencakup perkara-perkara pokok dalam agama, kaidah-kaidah yang penting, dan masuk juga dalam hadits ini perkara aqidah, amalan yang nampak dan tidak nampak. Maka semua ilmu syariat kembali kepada hadits ini. Mulai dari pokok-pokok keimanan, keyakinan, syariat-syariat Islam yang berkaitan dengan hati dan anggota badan.



    45 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah