Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Pentingnya Tulisan dan Kitab

    Pentingnya Tulisan dan Kitab ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 26 Jumadal Akhir 1445 H / 08 Januari 2024 M.







    Kajian tentang Pentingnya Tulisan dan Kitab



    Kita masih berbicara tentang talbis iblis terhadap kaum Sufi di dalam hal kitab, yaitu sikap mereka yang meremehkan kitab. Bahkan, mereka membenci buku ataupun kitab.



    Kita sampai pada poin bantahan Ibnul Jauzi terhadap sikap mereka ini. Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya. Dan iblis akan membuat manusia menilai baik segala perkara yang bisa memadamkan cahaya tersebut. Sehingga iblis benar-benar leluasa untuk menguasai manusia dalam kegelapan, tanpa cahaya ilmu. Dan tidak ada kegelapan seperti halnya kegelapan kebodohan ataupun kejahilan, yaitu ketiadaan ilmu. Karena khawatir, mereka terbiasa membaca buku-buku, hingga memungkinkan mereka untuk mengetahui tipu daya iblis melalui dalil-dalil yang mereka baca dari buku-buku tersebut, maka iblis mendorong mereka agar mengubur dan merusak kitab-kitab tersebut. Dan ini adalah perbuatan yang buruk dan dilarang. Ini juga mencerminkan kebodohan pelakunya, karena tentunya isi dari buku-buku itu adalah ilmu. Ketika mereka membakarnya, artinya membakar ilmu.



    Asas dari segala ilmu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu, ketika diketahui bahwa menjaga kedua asas ini sangatlah sulit, maka syariat pun memerintahkan agar menulis Mushaf dan juga menulis hadits. Adapun untuk Al-Qur’an, tiap kali Allah turunkan ayat, maka Rasulullah memanggil penulis-penulis wahyu untuk menulis firman-firman Allah pada pelepah kurma, bebatuan, atau tulang-tulang binatang. Baru setelah itu, Al-Qur’an disatukan dalam Mushaf oleh Abu Bakar As-Siddiq untuk menjaga keautentikannya. Selanjutnya, mushaf itu disatukan oleh Abu Bakar ini disalin kembali oleh Utsman bin Affan dan sejumlah sahabatnya yang kemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Utsmani. Beliau mengumpulkan apa yang telah disatukan oleh Abu Bakar, lalu disalin kembali menjadi sebuah mushaf yang kita pakai sampai hari ini. Basicnya itu adalah mushaf yang disusun atas perintah Usman Ibnu Affan, dan upaya ini bertujuan untuk menjaga Al-Qur’an dan untuk memastikan tidak ada satupun bagian yang hilang darinya.



    Jadi, ada dua hal dimana Allah menjaga Al-Qur’an ini. Yaitu apa yang tersimpan di dalam dada orang-orang yang beriman melalui hafalan. Kemudian diperkuat lagi apa yang ditulis oleh para penulis-penulis wahyu yang kemudian dikumpulkan oleh Utsman bin Affan pada masa kekhalifahannya. Dan tidak ada pertentangan antara apa yang mereka hafal dengan apa yang tertulis. Sampai hari ini, Al-Qur’an tetap terjaga keautentikannya, tidak ada penambahan maupun pengurangan. Ada usaha-usaha untuk menodainya dengan menambah ataupun mengurangi, tapi semua itu gagal. Karena tidak ada satu huruf pun yang bisa ditambah atau dikurangi dari Al-Qur’an. Apalagi satu kata, apalagi satu kalimat, apalagi satu ayat, apalagi satu halaman. Begitulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga Al-Qur’an.



    Sedangkan As-Sunnah (hadits), di awal-awal perkembangan Islam, nabi membatasi kaum muslimin supaya menulis Al-Qur’an saja agar tidak tercampur antara Al-Qur’an dan hadits, karena dua-duanya bahasa arab. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:



    لا تكتبوا عني سوى القرآن

    36 min
  • Persyaratan Wakalah

    Persyaratan Wakalah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Syarah ‘Umdatul Fiqih. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 22 Jumadal Akhir 1445 H / 04 Januari 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Persyaratan Wakalah



    Pada kajian kali ini dibahas tentang persyaratan orang yang boleh memberikan kuasa. Jika ada anak umur 7 tahun, lalu memberi kuasa kepada temannya umur 15 yang sudah baligh dengan mengatakan: “Tolong dong, ini ada uang 200.000, belikan saya ini.” Maka ini tidak sah, karena kalau anak (umur 7 tahun) ini bertransaksi langsung dengan 200.000 itu tidak sah. Apalagi sekarang dia yang mewakilkan, tentu wakalahnya tidak sah.



    Oleh karena itu para ulama membuat ketentuan bahwa syarat muwakkil adalah:




    * orang yang baligh,



    * berakal (bukan gila),



    * merdeka (bukan budak), karena budak tidak boleh melakukan transaksi kecuali dengan izin tuannya)



    * Walaupun baligh, walaupun berakal, walaupun merdeka, tapi terkadang tidak cakap mengelola harta, berbelanja terkadang tidak cakap, terlalu gampang untuk membeli, berapa saja dibilang orang langsung dia beli, padahal harganya kemungkinan jauh lebih tinggi daripada harga pasar. Ini tidak bisa menjadi muwakkil.




    Sebagaimana sebelumnya syarat muwakkil, begitu juga yang menerima akad wakalah. Jika orang tua memberikan uang 300.000 kepada anaknya yang umur 6 tahun dengan mengatakan: “Ini bayarkan ke bu guru uang SPP-mu.” Maka wakalah ini tidak sah. Tentu dalam hal ini guru akan menghubungi orang tua dan menanyakan hal tersebut. Kalau orang tuanya mengatakan iya, berarti akadnya dengan orang tua bukan dengan anak tersebut. Peran anak itu hanya sebagai pembawa uang.



    Inilah persyaratan akad wakalah. Yaitu antara wakil dan muwakkil harus baligh, berakal, cerdas, dan bukan budak. Hal ini berdasarkan firman Allah:



    وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ …



    “Jangan berikan harta kalian kepada orang-orang yang bodoh…” (QS. An-Nisa'[4]: 5)



    Orang yang bodoh ini adalah orang yang belum baligh, begitu juga orang yang tidak cerdas mengelola harta.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Persyaratan Wakalah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.


    1 hr 11 min
  • Pentingnya Keterampilan Berdialog dengan Remaja

    Pentingnya Keterampilan Berdialog dengan Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 20 Jumadal Akhir 1445 H / 02 Januari 2024 M.







    Kajian Tentang Pentingnya Keterampilan Berdialog dengan Remaja



    Dialog adalah pembicaraan dua arah, ada momen kita berbicara, ada momen kita mendengar. Sebagaimana halnya berkomunikasi dua arah, ada pihak yang bicara, ada pihak yang mendengarkannya. Maka kita di samping bisa berbicara, juga seharusnya bisa mendengar. Karena memahami manusia adalah dengan mendengarkannya. Kalau kita bicara sama manusia, kita belum tentu bisa memahami mereka hingga kita mendengarkan.



    Demikian pula, anak adalah manusia yang perlu kita pahami. Kita tidak akan mungkin memahami anak-anak remaja hingga kita mau mendengarkan mereka. Ada sebagian orang tua yang tidak bisa mendengar, hanya bisa berbicara. Jika ngomong tidak mau diinterupsi, tidak mau diputus, ngomong terus. Anak tidak dikasih kesempatan untuk bicara. Ada juga pandangan yang mengatakan bahwa anak tidak boleh bicara di depan orang tua, harus diam. Maka, orang tua ini ngomong terus dari A sampai Z, dan dia tidak mau mendengar. Lalu bagaimana dia bisa memahami manusia jika tidak mau mendengarkan?



    Apalagi yang di depan kita ini bukan bocah. Remaja adalah manusia yang menuju dewasa. Maka kita perlu mendengar apa yang ada pada diri mereka. Remaja sudah memiliki kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hati. Bahkan, mereka sudah mampu untuk menuangkan pikirannya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di dalam berbagai kesempatan, Beliau juga mendengar dan menyimak, bukan hanya berbicara.



    Maka, ini yang harus kita pahami, para orang tua, yaitu bagaimana keterampilan berdialog. Keterampilan berdialog ini bukan hanya keterampilan ngomong, tidak tapi juga tahu momen-momen di mana kita harus mendengar dan menyimak. Itu namanya dialog, pembicaraan dua arah. Ada momen kita bicara, ada momen kita mendengar, barulah dikatakan dialog. Kalau kita saja yang bicara, itu namanya monolog, bukan dialog. Kecenderungan orang tua melakukan monolog saja, dia tidak bisa berdialog, terutama dengan anak remajanya.



    Maka, dialog merupakan keterampilan yang penting dan seharusnya para orang tua menguasainya. Karena ini akan membantu untuk mempererat hubungan kita dengan siapapun, terutama dengan anak-anak remaja kita, dan berinteraksi positif menurut tingkatan usia mereka.



    Bagaimana agar dialog dengan anak remaja kita itu bisa berbuah positif? Tentunya, semuanya dengan ilmu. Maka, orang tua harus mempersiapkan diri ketika dia akan berdialog dengan anak remajanya. Kira-kira, apa yang akan dibicarakan, kira-kira tujuannya apa, dan berusaha untuk membuat materi pembicaraan itu sesimpel dan sesederhana mungkin. Tidak ngalor-ngidul tanpa ujung pangkalnya. Kadang-kadang, banyak orang berdialog itu tidak jelas arahnya ke mana. Nanti ke sini, kadang ke situ, akhirnya semua dibicarakan tidak fokus.



    Maka, orang tua harus mempersiapkan ketika akan berdialog dengan anak remaja. Dia mempersiapkan apa kira-kira tujuannya, apa targetnya, jadi perlu di disederhanakan. Jangan dibuat rumit, sehingga si remaja juga bingung. Tadi dia ngobrol sama orang tuanya tanpa ada kesimpulan juga.



    Di sini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan para orang tua untuk mengasah keterampilan berdialog dengan anak-anak remaja mereka.


    46 min
  • Adab Buang Hajat

    Adab Buang Hajat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 19 Jumadal Akhir 1445 H / 01 Januari 2024 M.







    Kajian Tentang Adab Buang Hajat



    Ajaran Islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah yang terbaik dan sudah sempurna. Menambahkan atau mengurangi label pada Islam tidak diperlukan, karena sesuatu yang sudah sempurna tidak perlu penambahan atau pengurangan. Contohnya adalah manusia yang memiliki dua mata dan satu hidung. Menambah atau mengurangi bagian tersebut tidak akan membuatnya lebih baik, melainkan justru bisa merusak keindahan dan kesempurnaannya. Begitu pula dengan Islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang tidak perlu tambahan atau pengurangan karena telah menjadi ajaran yang sempurna.



    Maka seharusnya umat Islam merasa bangga dan senang dengan agama Islam. Karena beragama Islam adalah karunia yang diberikan oleh Allah tidak kepada semua orang. Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih sebagian manusia untuk diberi karunia beragama Islam.



    Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah membawa Islam sebagai karunia khusus yang diberikan kepada manusia yang terpilih oleh Allah. Berarti kalau kita ditakdirkan oleh Allah beragama Islam, maka ini adalah nikmat.



    Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sadar dengan karunia ini, sehingga tidak mudah diprovokasi oleh pernyataan negatif terhadap Islam.



    Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu, salah satu sahabat Nabi, pernah diprovokasi oleh seorang Yahudi:



     قدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ كُلَّ شيءٍ حتَّى الخِراءَةَ 



    “(Hai umat Islam), Nabi kalian mengajarkan segala sesuatunya hingga masalah adab buang hajat.”



    Seolah-olah orang Yahudi ini mengatakan: “Hal yang remeh saja harus diajarkan?” Begitu diprovokasi seperti itu, justru Salman percaya diri. Jadi kalau kita dipojokkan dengan orang yang tidak mengerti Islam jangan minder. Tetapi kita harus bangga, senang dan bersyukur memiliki ajaran yang sempurna.



    Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan:



     أجَلْ لقَدْ نَهانا أنْ نَسْتَقْبِلَ القِبْلَةَ لِغائِطٍ، أوْ بَوْلٍ، أوْ أنْ نَسْتَنْجِيَ باليَمِينِ



    “Tentu, Nabi kami mengajarkan ketika buang air kecil maupun besar, kami dilarang untuk menghadap kiblat, dan kami juga diajarkan ketika membersihkan untuk tidak menggunakan tangan kanan.” (HR. Muslim)



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Adab Buang Hajat” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    42 min
  • Haramnya Mengarang Mimpi

    Haramnya Mengarang Mimpi adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 20 Jumadal Akhir 1445 H / 02 Januari 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Bab Diharamkannya Berdusta







    Kajian Tentang Haramnya Mengarang Mimpi



    Kita telah sampai pada hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, yaitu hadits dari Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam:



    أَفْرَى الفِرَى أن يُرِيَ الرجل عينيه ما لم تَرَيَا



    “Kedustaan yang paling dusta adalah seseorang yang menceritakan sesuatu yang tidak dilihatnya.” (HR. Bukhari)



    Artinya dia tidak bermimpi sesuatu, namun mengarang-ngarang bahwa bermimpi melihat ini dan itu. Ini termasuk kedustaan yang paling dusta. Seseorang menceritakan sesuatu dengan alasan bahwa dia bermimpi melihat sesuatu tersebut, padahal dia tidak melihatnya. Karena pada dasarnya mimpi adalah sesuatu yang rahasia, hanya diketahui oleh orang yang bermimpi. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh mengarang-ngarang mimpi dan menceritakannya kepada orang lain.



    Manusia kadang-kadang menggunakan tipu daya semacam ini untuk mencapai keinginan dunia, seperti harta, pengaruh, atau hal-hal dunia duniawi lainnya. Berbohong dengan mimpi ini termasuk perbuatan haram.



    Hadits berikutnya:



    وعن سَمُرَةَ بنِ جُنْدُبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: كَانَ رسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – مِمَّا يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لأَصْحَابِهِ: «هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا؟» فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُصَّ…



    Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘Anhu, Beliau berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering bertanya kepada para sahabat: “Apakah ada salah seorang di antara kalian yang melihat sesuatu dalam mimpinya?” Maka orang yang ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (kalau memang dia bermimpi) menceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam…”



    Menit ke- Yang diambil dari hadits ini bahwa kalau seseorang bermimpi, dan mimpi itu benar, maka waktu yang paling tepat, kalau memang harus diceritakan, adalah di pagi hari. Hal ini sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu bertanya pada para sahabat di pagi hari: “Siapa di antara kalian bermimpi di malam hari?”



    Beliau pun demikian, ketika beliau mimpi di malam hari, paginya langsung beliau ceritakan kepada para sahabat.



    Kemudian yang kedua, dianjurkannya seseorang bertanya tentang mimpi, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini pun hal yang boleh kita bertanya kepada keluarga, anak, atau murid. Apa ada di antara mereka yang bermimpi, kemudian dia menceritakan mimpinya.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian











    Mari turut membagikan link download
    1 hr 4 min
  • Mengucapkan Subhanallah Ketika Heran

    Mengucapkan Subhanallah Ketika Heran adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 19 Jumadal Akhir 1445 H / 01 Januari 2024 M.







    Kajian Islam Tentang Mengucapkan Subhanallah Ketika Heran



    Kita sampai pada باب قول الرجل عند التعجب : سبحان الله (Bab ucapan seseorang ketika takjub/kagum/heran dengan mengatakan Subhanallah).



    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Aku mendengar nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda:



    بينما راع في غنمه عدا عليه الذئب فأخذ منه شاة فطلبه الراعي فالتفت إليه الذئب فقال من لها يوم السبع ليس لها راع غيري فقال الناس سبحان الله فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فإني أؤمن بذلك أنا وأبو بكر وعمر



    “Ketika seorang penggembala sedang menggembala domba-dombanya, tiba-tiba datanglah serigala dan menerkam satu domba. Lalu penggembala itu mengejarnya sampai dombanya lepas dari serigala itu. Serigala itu menoleh seraya berkata: ‘Siapa nanti yang akan memelihara kambing-kambing itu dihari binatang buas? Tidak ada penggembalanya kecuali aku?’ Lalu orang-orang berkata: ‘Subhanallah!’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Saya, Abu Bakar, dan Umar mengimani hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Abu Hurairah meriwayatkan dengan riwayat yang lebih lengkap. Beliau mengatakan: “Rasulullah suatu hari mengimami kita dalam shalat. Setelah selesai shalat, Beliau menghadap kepada kita dengan wajahnya. Ketika ada seseorang yang sedang menggiring sapi betina, lalu sapi betina ini ditunggangi oleh orang yang menggiringnya. Tiba-tiba, sapi betina itu berkata kepada yang menungganginya: ‘Kami ini diciptakan bukan untuk ditunggangi, kami diciptakan untuk membajak sawah.’ Orang-orang mengatakan: ‘Subhanallah’, karena mereka takjub dengan apa yang diucapkan sapi betina itu. Mereka mengatakan: ‘Sapi bisa bicara!’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Aku beriman dengan cerita ini. Abu Bakar dan Umar juga beriman.’ Kata Abu Hurairah, saat itu tidak ada Abu Bakar dan tidak ada Umar di situ.'”



    Nabi menyandarkan kepada keyakinan yang menancap di dada Abu Bakar dan Umar. Mereka percaya bahwa Nabi tidak berbicara dari hawa nafsunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ‎﴿٣﴾‏ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ‎﴿٤﴾



    “Beliau tidak berbicara dari hawa nafsunya. Ini adalah wahyu yang disampaikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya.” (QS. An-Najm[53]: 3-4)



    Kalau menilik hadits-hadits Nabi, kita akan mendapatkan ucapan ketika mengagumi sesuatu ada dua, ada tasbih (Subhanallah), artinya menyucikan Allah. Yang kedua yaitu Allahu Akbar. Biasanya takbir itu untuk satu hal yang mengherankan tapi menyenangkan. Namun, kalau itu mengherankan tapi tidak disukai, biasanya pakai Subhanallah. Walaupun kadang-kala dua-duanya boleh dipakai. Terkadang Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggunakan Allahu Akbar terhadap hal yang tidak disukai dan Subhanallah terhadap hal yang disukai.



    Contohnya, ketika Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam bersama para sahabatnya, setelah penaklukan kota Makkah beliau menuju ke Hunain.
    55 min
  • Mencintai Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala

    Mencintai Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 19 Jumadal Akhir 1445 H / 01 Januari 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Mencintai Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala



    Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:



    إن لله تِسْعَةً، وتِسْعِينَ، اسْمًا، مِائَةً إلا واحدا مَنْ أَحْصَاهَا دخل الجنة



    “Sungguhnya Allah mempunyai 99 nama, 100 kurang satu. Barangsiapa yang menghafal dan menguasainya, dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Juga dari sahabat Abdullah bin Masud Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah seorang tertimpa kesedihan kemudian berdoa:



    اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِـيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِـيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِي، وَنُوْرَ صَدْرِي، وَجَلاَءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي



    “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, anak hamba perempuanMu. Ubun-ubunku berada di tanganMu, keputusanMu tetap berlaku kepadaku, adil semua takdirMu. Aku memohon dengan semua namaMu, nama yang Engkau berikan nama itu kepada diriMu, atau Engkau ajarkan salah seorang dari makhlukMu, atau Engkau turunkan di dalam kitabMu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib di sisiMu. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku.’ Barangsiapa yang membaca doa tadi, Allah akan menghilangkan kesedihan dan kegundahannya, dan Allah akan menggantikannya dengan kebahagiaan.”



    Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam ditanya: ‘Wahai Rasulullah, tidakkah kami mempelajarinya?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Seyogyanya bagi siapapun yang mendengarnya untuk menghafalnya dan mempelajarinya.'” (HR. Ahmad)



    Juga dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengutus seseorang di satu pasukan perang, dan orang tersebut selalu membaca di dalam shalatnya surah dan menutup dengan Al-Ikhlas. Ketika pasukan perang tersebut kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka melaporkan apa yang ia lakukan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tanya kenapa dia melakukan hal tersebut.” Orang-orang yang melaporkan tadi pun bertanya kepada orang tersebut, ia menjawab: “Karena Al-Ikhlas adalah sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Penyayang. Aku suka membaca surat tersebut.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:



     أخبِروه أنَّ اللهَ يُحِبُّه



    “Beritahukan kepadaNya sesungguhnya Allah juga menyukainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Dalam hadits lain, Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengata...
    40 min
  • Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang Tidak Menghargai Kitab

    Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang Tidak Menghargai Kitab ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 19 Jumadal Akhir 1445 H / 01 Januari 2024 M.







    Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang Tidak Menghargai Kitab



    Kitab adalah senjata penuntut ilmu. Seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad ketika ditanya: “Sampai kapan kamu menuntut ilmu?” Beliau menjawab: “Alat-alat tulis ini akan dibawa sampai ke pemakaman (sampai mati)” Artinya, itulah senjata para penuntut ilmu, mereka menuntut ilmu dengan bersenjatakan alat tulis (pena dan buku). Mereka mencatat ilmu.



    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:



    قيدوا العلم بالكتابة



    “Ikatlah ilmu itu dengan penulisan.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)



    Ini adalah tradisi turun-temurun dari para Salaf kepada kaum Khalaf. Mereka menulis, mencatat, dan mengumpulkan ilmu di dalam buku-buku mereka. Sehingga literasi Islam sangat komplit dari berbagai disiplin ilmu, membicarakan berbagai aspek kehidupan manusia, semuanya tertuang dalam catatan yang menjadi bukti sejarah bagi generasi-generasi yang akan datang.



    Iitulah ilmu yang diwariskan oleh para Salaf kepada kaum khalaf, dari generasi terdahulu kepada generasi yang akan datang. Itu adalah salah satu cara Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga ilmu. Selain menyimpan ilmu di dalam dada-dada manusia, Allah juga menjaga ilmu dengan penulisan.



    Al-Qur’an ditulis di pelepah-pelepah kurma dan kulit-kulit kambing, kemudian dikumpulkan menjadi satu mushaf pada masa Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu. Demikian pula hadits yang dikumpulkan penulisannya pada masa Umar bin Abdul Aziz. Sehingga itu semua menjadi sesuatu yang baku hari ini sebagai khazanah literasi Islam. Ini adalah kekayaan dan kebanggaan kaum Muslimin yang tidak dimiliki oleh agama lain.



    Oleh karena itu, para Salaf sangat memuliakan buku sebagai alat ilmu, sebagaimana mereka memuliakan ilmu dan ahli ilmu. Kitab yang paling agung dan sempurna adalah Kitabullah. Kemudian kitab-kitab hadits seperti Kitab Bukhari dan Muslim yang dikatakan kitab yang paling shahih setelah Kitabullah. Adapun Kitabullah, tentunya:



     لَّا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ



    “Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fussilat[41]: 42)



    Inilah tradisi kaum muslimin. Mereka menghargai kitab sebagaimana menghargai ilmu. Bahkan dahulu para Salaf seperti Ibnul Qayyim hanya mewariskan buku kepada keluarga yang ditinggalkannya.



    Jadi, ini adalah kekayaan kaum muslimin. Ketika kita masuk perpustakaan atau maktabah, itu dipenuhi dengan buku-buku, catatan-catatan sejarah tentang Islam, bagaimana nabi dan para sahabat mengamalkan Islam. Tidak menghargai kitab sama dengan tidak menghargai ilmu.



    Hari ini kita melihat kaum muslimin menyepelekan kitab, bahkan dianggap kurang penting daripada hal-hal lain. Manusia lebih fokus pada kesehatan jasmani daripada kesehatan rohani. Sehingga, urusan dengan kitab dianggap harus gratis, jangan beli,
    37 min
  • Shalat Kusuf (Gerhana)

    Shalat Kusuf (Gerhana) ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 19 Jumadal Akhir 1445 H / 01 Januari 2024 M.







    Download kajian sebelumnya: Shalat Tahiyatul Masjid



    Kajian Tentang Shalat Kusuf (Gerhana)



    Apa yang dimaksud dengan shalat Kusuf (صلاة الكسوف) ini? Kusuf dalam bahasa Arab berarti:



     ذهاب ضوء أحد النيِّرين (الشمس والقمر) أو بعضه



    “Hilangnya cahaya dari salah satu benda yang bersinar (matahari dan bulan), atau sebagian cahayanya.”



    Kusuf adalah ketika matahari atau bulan hilang seluruh cahayanya atau sebagian cahayanya. Kalau dikatakan shalat kusuf, maka berarti shalat yang disebabkan karena hilangnya semua cahaya atau sebagian dari cahaya yang datangnya dari matahari atau bulan.



    Ada istilah lain yang menurut sebagian ulama, sama maknanya dengan kusuf, yaitu khusuf (الخسوف). Sebagian ulama mengatakan bahwa kusuf dan khusuf itu sama maknanya. Sebagian ulama yang lain membedakan antara kusuf dengan khusuf; kusuf berkaitan dengan matahari, sedangkan khusuf itu berkaitan dengan bulan.



    Khusuf adalah hilangnya cahaya bulan, baik secara sempurna ataupun sebagian. Kusuf adalah hilangnya cahaya matahari, baik secara sempurna ataupun sebagian.



    Hukum shalat kusuf



    Pendapat mu’tamad dalam empat mazhab mengatakan bahwa shalat kusuf ini sunnah muakkadah, tidak sampai derajat wajib.



    Ada sebagian ulama yang mengatakan wajib, dan pendapat yang mengatakan wajib ini juga pendapat yang kuat, dikuatkan oleh Abu Awanah, salah satu riwayat dari Imam Abu Hanifah, dikuatkan oleh Asy-Syaukani, Shiddiq Hasan Khan, dan Al-Albani.



    Intinya, pendapat yang mengatakan bahwa shalat kusuf ini wajib adalah pendapat yang kuat. Namun, pendapat mu’tamad dalam empat mazhab mengatakan bahwa shalat kusuf itu sunnah muakkadah.



    Yang mengatakan hukumnya wajib, mereka berdalil dengan hadits Mughirah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:



     فإذا رأيتموها فادعوا الله، وصلوا حتى ينجلي



    “Apabila kalian melihatnya, maka berdoalah kalian kepada Allah dan shalatlah kalian sampai cahayanya tampak kembali.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Di sini disebutkan perintah untuk shalat, dan pada asalnya perintah menunjukkan hukum wajib. Apalagi dalam sebuah riwayat, ketika terjadi gerhana matahari di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu keadaannya tergopoh-gopoh, sampai beliau menyeret rida’ karena tergopoh-gopohnya sampai ke Masjid Nabawi, dan beliau mengajak manusia untuk shalat. Ini tidaklah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kecuali karena kemungkinan besarnya shalat gerhana itu wajib.



    Adapun mayoritas ulama yang mengatakan bahwa shalat gerhana itu sunnah muakkadah, mereka mengambil hadits ini juga. Tapi mereka mengatakan bahwa perintah ini tidak menunjukkan kewajiban.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya dari shalat dhuha ini? Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    59 min
  • Orang Yang Dicabut Darinya Hidayah

    Orang Yang Dicabut Darinya Hidayah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 15 Jumadal Akhir 1445 H / 28 Desember 2023 M.







    Ceramah Agama Islam Tentang Orang Yang Dicabut Darinya Hidayah



    Kajian kali ini membahasan lanjutan dari makna doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengusir atau menghilangkan kegundahan dan kegalauan. Kita masih membahas tentang makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam doa ini:



    ماضٍ فيَّ حُكمُك عَدْلٌ فيَّ قضاؤُك



    “Berlangsung kepadaku semua ketentuan hukumMu Ya Allah, dan selalu adil pada diriku segala ketentuan takdir yang Engkau berikan kepadaku.”



    Di bagian pembahasan yang lalu kita sudah sebutkan bahwa ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan bagi hamba-hambaNya jalan kebaikan, menjelaskan petunjuk para nabi dan para rasul, menurunkan kitab-kitab, memudahkan bagi hamba sebab-sebab hidayah, maka ini adalah keadilan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata dan sekaligus ini adalah karuniaNya. Sebagaimana ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan taufik dan memutus dari hamba ini karuniaNya, maka tetap Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan untuknya keadilanNya.



    Ketika menjelaskan masalah ini, Ibnul Qayyim berkata bahwa orang yang dicabut darinya hidayah ada dua macam. Yang pertama, terjadinya hal ini sebagai balasan dari Allah bagi hamba ini karena dia yang berpaling dari Allah, lebih mengutamakan mengikuti musuh Allah (yaitu iblis), dengan mentaati dan menyetujui panggilan iblis, serta melupakan berdzikir dan bersyukur kepada Allah. Maka orang yang seperti ini memang pantas untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala berpaling darinya dan meninggalkannya, tidak memberikan taufik kepadanya.



    Jadi hamba ini awalnya sudah mendapatkan hidayah, petunjuk, dan penjelasan, tapi kemudian dia berpaling, tidak mau mengikutinya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mudahkan dia sebab untuk bisa mendapatkan hidayah tersebut.



    Yang kedua, memang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki hidayah bagi hamba ini sejak semula. Kita harus ingat di sini, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki atau tidak menghendaki, itu sesuai dengan kesempurnaan hikmahNya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha berbuat apa yang dikehendakiNya. Di sini kita harus yakin bahwa ada yang tidak kita ketahui.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berkehendak agar hamba ini mendapatkan hidayah pada awal pertama kali, karena Allah Maha Mengetahui bahwa hamba ini tidak mensyukurinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak memuji Allah atas hidayah tersebut, dan memang tidak mencintainya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki hamba ini mendapatkan hidayah, karena memang hamba ini tidak pantas mendapatkan hidayah, karena tidak ada tempat yang pantas pada diri hamba ini untuk menerima hidayahNya. Dia yang menciptakan hambaNya, tentu Dia tahu siapa yang mendapatkan hidayah dan siapa yang tidak pantas mendapatkannya.



    Kita menyikapi hal yang seperti ini sebagai berita, maka kita benarkan. Jadi tidak perlu kita protes.
    49 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah