Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Keterampilan Mendengar dan Menyimak

    Keterampilan Mendengar dan Menyimak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Senin , 11 Rajab 1445 H / 23 Januari 2024 M.







    Kajian Tentang Keterampilan Mendengar dan Menyimak



    Kita sampai pada bab keterampilan mendengar dan menyimak. Ini adalah lanjutan dari bab tentang pentingnya dialog dengan remaja. Tentunya kita sudah jelaskan, dialog itu adalah percakapan dua arah; ada momen kita bicara, ada momen kita mendengar. Karena yang satu bicara, tentunya yang satu mendengar. Kalau dua-duanya bicara, siapa yang mendengar? Kalau tidak ada yang bicara, itu bukan dialog. Maka, ada momen kita harus mendengar.



    Mendengar sama pentingnya dengan berbicara. Sebab, mendengar adalah hal utama yang menjadi dasar dari komunikasi yang positif dengan remaja. Perhatikanlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga. Tujuannya adalah agar manusia lebih banyak mendengar daripada bicara. Jika kita ingin menjadi pembicara yang baik, jadilah pendengar yang baik pula. Banyak manfaat yang akan kita dapatkan jika kita mampu menjadi pendengar yang baik.



    Tidak semua orang bisa menyimak, meski semua orang bisa bicara. Artinya, tidak semua orang bisa memahami perkataan yang ditujukan kepadanya. Ada orang yang saat berdialog tidak nyambung karena tidak mau menyimak kata-kata kita. Ada orang yang ketika berdialog fokusnya hanya pada apa yang akan dia katakan, tanpa peduli pada apa yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Dia tidak akan bisa memahami lawan dialognya. Ini akan menjadi masalah karena akan terjadi miskomunikasi. Itu juga bisa terjadi antara kita dan anak. Jika kita hanya mau bicara saja dan tidak mau mendengarkan. Anak juga perlu bicara dan mendengar, agar kita bisa memahaminya dan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Komunikasi yang salah itu biasanya kalau komunikasi hanya satu arah.



    Menjadi pendengar yang baik adalah bentuk penghargaan dan penghormatan kepada lawan bicara. Ada beberapa hal positif jika kita mampu menjadi pendengar yang baik, meski mendengar itu lebih berat daripada bicara.



    Jika memiliki keterampilan mendengarkan yang baik, maka kita akan mendapatkan banyak kejutan. Ternyata, banyak orang mungkin menyukai dan suka duduk dengan kita karena kita memberikan perhatian dan atensi kepada mereka. Orang akan merasa dihargai ketika kita mendengarkan percakapannya. Kadang-kadang kita merasa kesal saat berbicara dengan seseorang yang tidak mendengarkan. Tentunya, kita mungkin tidak mau lagi berbicara atau berdialog dengan orang seperti itu. Misalnya, dia sibuk memainkan HP atau bahkan menoleh kesana kemari. Itu bentuk merendahkan lawan bicara.



    Orang akan senang saat mereka bicara dan kita mau menyimak dan mendengarkan perkataan mereka. Dalam benak mereka, mereka akan merasa dihargai. Namun, mendengarkan bukan berarti kita setuju dengan semua yang kita dengar. Tapi kita dapat menilai mana perkataan yang bisa diambil, mana yang perlu dikoreksi, dan mana yang harus ditolak.



    Mendengarkan dengan baik juga akan membantu kita memahami anak remaja. Kita bisa memahami apa yang ada di dalam pikirannya, bahkan jika dia tidak menyampaikannya dengan jelas. Kadang-kadang, anak tidak mau berbicara secara terang-terangan kepada orang tua. Dia mungkin menggunakan isyarat atau kiasan. Jika kita tidak mendengarkan dengan baik, kita mungkin salah memahaminya.



    Tentu saja,
    45 min
  • Laknat Bisa Kembali kepada Orang yang Mengucapkannya

    Laknat Bisa Kembali kepada Orang yang Mengucapkannya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 11 Rajab 1445 H / 23 Januari 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Larangan Melaknat Orang Tertentu Yang Masih Hidup







    Kajian Tentang Laknat Bisa Kembali kepada Orang yang Mengucapkannya



    Kita masih pada bab tentang diharamkannya melaknat seseorang secara personal. Ini termasuk hal yang tidak dibenarkan.



    Hadits yang kita bahas adalah:



    وعن ابن مسعود – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم: «لَيْسَ المُؤْمِنُ بالطَّعَّانِ ، وَلاَ اللَّعَّانِ، وَلاَ الفَاحِشِ، وَلاَ البَذِيِّ ». رواه الترمذي، وقال: «حديث حسن».



    Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Bukanlah sifat seorang mukmin yang suka menikam kehormatan orang lain, bukan pula yang banyak melaknat, dan juga bukan yang mulutnya keji/kotor.'” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadis hasan)



    Hadits yang berikutnya, An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:



    وعن أَبي الدرداء – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم: «إنَّ العَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا، صَعدَتِ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّماءِ، فَتُغْلَقُ أبْوابُ السَّمَاءِ دُونَهَا، ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الأرْضِ، فَتُغْلَقُ أبْوابُهَا دُونَها، ثُمَّ تَأخُذُ يَمينًا وَشِمالًا، فَإذا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ، فإنْ كَانَ أهْلًا لِذلِكَ، وإلاَّ رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا». رواه أَبُو داود.



    Dari Abuddarda’ Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Sesungguhnya seorang hamba itu jika melaknat sesuatu, maka laknat itu naik ke langit, lalu ditutuplah pintu-pintu langit agar tidak masuk ke dalamnya, maka laknat itu turun ke bumi lalu ditutuplah pintu-pintu bumi agar tidak dapat masuk ke dalamnya, kemudian laknat itu ke kanan dan ke kiri. Kalau dia tidak mendapatkan jalan kepada seseorang, maka dia kembali kepada yang dilaknat, kalau yang dilaknat memang pantas mendapat laknat, maka laknat itu turun kepada orang tersebut. Tetapi jika laknat itu tidak sesuai dengan orang yang dilaknat, maka laknat itu kembali kepada orang yang mengucapkannya’.” (Riwayat Abu Dawud)



    Ini adalah hadits yang memberikan pelajaran tentang suatu hal ghaib yang wajib kita beriman kepadanya. Ketika seseorang mengucapkan laknat, maka laknat itu naik ke langit, dan kita sebagai mukmin harus beriman kepada hal ini. Oleh karena itu, hadits ini memperingatkan tentang besarnya perkara yang berkaitan dengan laknat. Jangan mudah-mudah melaknat orang lain.



    Kemudian hadits ini menjelaskan dan memberikan pelajaran kepada kita bahwa suatu laknat yang ditujukan pada seseorang, jika memang orang itu berhak mendapat laknat, maka suatu saat laknat itu akan mengenai orang tersebut, cepat atau lambat. Tetapi, jika tidak sesuai, tidak pantas, bukan tempatnya orang ini dilaknat, maka laknat itu kembali kepada orang yang melaknat. Jadi, terkadang laknat seorang pada orang lain tidak akan sampai kepada orang tersebut.
    58 min
  • Senjata untuk Melindungi Diri dari Gangguan Setan

    Senjata untuk Melindungi Diri dari Gangguan Setan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 22 Januari 2024 M / 10 Rajab 1445 H.



    Kajian sebelumnya: Setan Menggangu Makanan dan Minuman Manusia







    Kajian Tentang Senjata untuk Melindungi Diri dari Gangguan Setan



    Kajian kita telah sampai pada pembahasan tentang senjata-senjata yang harus dimiliki oleh seorang muslim untuk melindungi diri dari gangguan setan.



    Para setan dipimpin oleh Iblis langsung melakukan peperangan dengan manusia sejak zaman Nabi Adam Alaihis Salam. Ini adalah musuh yang tidak kita lihat dan penuh dengan tipu muslihat. Oleh karena itu, peperangannya luar biasa; para setan berusaha terus untuk menjatuhkan, menyesatkan, membinasakan, menyempitkan, dan menyengsarakan umat manusia, terutama kaum muslimin, anak cucu Adam.



    Kita harus tahu senjata dan sarana apa saja yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan untuk hambaNya menghadapi perang ini. Kita hendaknya sadar bahwa setan tidak senang jika kita berada dalam ketaatan, kebaikan, kenikmatan, kenyamanan, persaudaraan, dan keimanan Islam dan sunnah. Setan ingin menjauhkan kita dari semua itu.



    Iblis adalah musuh yang nyata, kita sudah tahu dari kisah-kisah sebelumnya, di mana ia iri, dengki, dan berusaha membinasakan Nabi Adam sampai keluar dari surga. Iblis berjanji untuk menyesatkan manusia dengan menggunakan segala cara, termasuk penyesatan, mempercantik yang buruk, dan membuat yang buruk dipandang baik.



    Ikhlas



    Untuk menghadapi setan adalah mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah. Ikhlas dalam setiap amalan adalah benteng yang kokoh. Apabila seorang muslim membentengi dirinya dengan keikhlasan, setan tidak mungkin sampai kepada hamba yang ikhlas itu selamanya.



    Sebagian ulama mengatakan definis ikhlas, yaitu:



    من يكتم حسناته كما يكتم سيئاته



    “Orang yang sanggup menyembunyikan kebaikan-kebaikannya seperti dia sanggup menyembunyikan keburukan-keburukannya.”



    Juga orang yang ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Oleh karena itu, orang yang merasa ikhlas, walaupun tidak diucapkan, maka ikhlasnya butuh kepada keikhlasan lagi.



    Orang yang ikhlas itu dicela tidak bergeming, dipuji tidak terbang. Celaan dan pujian menurut dia biasa saja, dianggap angin lalu saja.



    Senjata menghadapi Iblis dan bala tentaranya adalah dengan cara ikhlas. Setan mengakui hal itu, bahwa dia tidak mungkin bisa menggangu orang yang ikhlas.



    قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ‎﴿٨٢﴾‏ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ‎﴿٨٣﴾



    “Setan berkata, “Demi kemuliaanMu, sungguh aku akan sesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas.” (QS. Shad[38]: 82-83)



    Allah berfirman dalam surah Al-Hijr menceritakan perkataan setan:



    قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ‎﴿٣٩﴾‏ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ‎﴿٤٠﴾



    “Iblis berkata: ‘Wahai Rabbku,
    1 hr 1 min
  • Membersihkan Kemaluan Setelah Buang Hajat

    Membersihkan Kemaluan Setelah Buang Hajat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 22 Januari 2024 M / 10 Rajab 1445 H.







    Kajian Tentang Membersihkan Kemaluan Setelah Buang Hajat



    Pada kajian sebelumnya, kita sudah membahas beberapa adab. Yang pertama, baca doa ketika masuk dan keluar. Yang kedua, dahulukan kaki kiri ketika masuk dan kaki kanan ketika keluar. Yang ketiga, tidak boleh menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat ketika di dalam atau di luar ruangan.



    Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang adab buang hajat. Adab yang keempat adalah membersihkan kemaluan setelah buang air besar atau kecil. Dalam bahasa fikih, hal ini disebut istinja’. Dalam bahasa Indonesia, istinja’ dapat diartikan sebagai membersihkan kemaluan setelah buang air besar.



    Ini perlu dilakukan untuk menghilangkan najis dan agar najis tidak menempel di pakaian. Pembersihan yang paling afdhal adalah menggunakan air, karena lebih bersih dibandingkan cara lainnya.



    Dalil Istinja’



    Dalilnya adalah apa yang dituturkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau mengatakan:







    Kalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam buang hajat, saya, Anas, dan pembantu nabi yang lainnya datang membawa wadah berisi air. Tujuannya adalah untuk digunakan dalam beristinja. Hal ini ditegaskan dalam hadits:



    أجِيءُ أنَا وغُلَامٌ، معنَا إدَاوَةٌ مِن مَاءٍ، يَعْنِي يَسْتَنْجِي بهِ.



    “Kalau Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam buang hajat, maka saya dan pembantu Nabi yang lainnya datang membawa wadah yang isinya air, untuk digunakan untuk beristinja’.” (HR. Al-Bukhari)



    Perhatikan juga ketika kita buang air, terutama buang air besar, kita harus membersihkan tubuh dan juga tempat buang hajat. Jangan terbiasa meninggalkan jejak yang tidak pantas ditinggalkan. Kamar mandi harus selalu bersih karena itu merupakan bagian dari iman. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan:



    لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه



    “Seseorang tidak dianggap beriman sampai dia menyukai kebaikan untuk orang lain sebagaimana dia menyukai kebaikan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Lihat juga: Hadits Arbain Ke 13 – Hadits Tentang Cinta Dan Kesempurnaan Iman



    Kita suka kamar mandi yang kita masuki bersih. Maka siapkan itu untuk orang lain sebagaimana kita suka kamar mandi yang kita masuki dalam keadaan bersih. Hendaklah kita berusaha untuk melakukan hal tersebut untuk orang lain. Ini merupakan tanda keimanan. Bahkan, bukan hanya masalah itu saja. Anda suka masuk kamar mandi dalam keadaan baknya ada airnya atau kosong? Tapi ada sebagian orang begitu keluar kamar mandi, baknya kosong. Ini adalah bentuk tidak bertanggung jawab.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download
    36 min
  • Bahaya Setan Terhadap Hati Seorang Muslim

    Bahaya Setan Terhadap Hati Seorang Muslim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 22 Januari 2024 M / 10 Rajab 1445 H.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Bahaya Setan Terhadap Hati Seorang Muslim



    Dari Sabrah bin Abi Fakih Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    إنَّ الشَّيطانَ قعدَ لابنِ آدمَ بأطرُقِهِ…



    “Sesungguhnya setan selalu duduk di jalan-jalan yang dilewati oleh anak Adam. Setan itu duduk di jalan Islam dan berkata, ‘Apakah engkau akan Islam dan meninggalkan agamamu dan agama nenek moyangmu?’ Maka anak Adam mendurhakai setan dan masuk Islam. Kemudian setan duduk di jalan hijrah yang akan dilewati anak Adam, berkata, ‘Apakah engkau akan berhijrah dan meninggalkan tanahmu dan langit-langitmu? Sesungguhnya perumpamaan orang yang berhijrah seperti kuda yang diikat.’ Ia kembali mendurhakai setan dan berhijrah. Kemudian, setan duduk di jalan jihad, yaitu jihad dengan jiwa dan harta. Ia berkata, ‘Apakah engkau akan berjihad sehingga dibunuh, istrimu dinikahi, dan hartamu dibagi-bagikan?’ Ia kembali mendurhakai setan dan ia tetap berjihad.



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka sungguh berhak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, barangsiapa yang terbunuh di medan jihad, maka berhak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga. Jika ia tenggelam, maka berhak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, atau jika ia tertendang binatang yang ia tunggangi, maka berhak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.'” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)



    Dalam hadits yang kita bacakan tadi, ada penjelasan mengenai bahaya setan terhadap hati seorang muslim. Setan selalu berusaha menghalangi seseorang dari kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk menghalanginya dari segala kebaikan yang akan dilakukannya. Semakin baik atau bermanfaat suatu pekerjaan atau ibadah yang akan dilakukan oleh seorang hamba, maka setan akan semakin bersemangat untuk menghalanginya. Permusuhan setan terhadap anak Adam ini telah terjadi sejak dahulu. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, iblis mengatakan bahwa ia lebih baik daripada Adam. Maka Allah mengeluarkannya dari surga. Iblis meminta untuk ditangguhkan dan dipanjangkan umurnya oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Iblis mengatakan:



    قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ‎﴿١٦﴾‏ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ ‎﴿١٧﴾



    “Setan mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkanku, maka sungguh aku akan menghalangi anak Adam dari jalanMu yang lurus. Sungguh aku akan mendatangi dan menggoda mereka dari depan, belakang, kanan, kiri, dan engkau tidak akan mendapatkan kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf[7]: 16-17)



    Ayat ini dan semisal dengan ini menjelaskan tipu daya godaan setan yang selalu menggoda anak Adam untuk menghalanginya dari kebaikan dan menjatuhkannya kepada keb...
    42 min
  • Talbis Iblis Terhadap Orang-orang yang Meremehkan Buku

    Talbis Iblis Terhadap Orang-orang yang Meremehkan Buku ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 22 Januari 2024 M / 10 Rajab 1445 H.







    Kajian tentang Talbis Iblis Terhadap Orang-orang yang Meremehkan Buku



    Kita sampai pada tipu daya Iblis terhadap orang-orang yang memandang rendah dan meremehkan buku, bahkan berusaha untuk melenyapkan dan menghilangkannya. Kita tahu bahwa buku-buku agama, yaitu buku-buku yang berisi ilmu-ilmu syar’i merupakan penjaga agama sekaligus harta kekayaan bagi kaum Muslimin. Sekarang, banyak manuskrip-manuskrip kuno tersebar justru di daratan benua Eropa karena mereka menilai ini sebagai salah satu warisan yang sangat berharga, menceritakan tentang agama yang Allah turunkan kepada nabi terakhir, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka kewajiban kita adalah menjaga kekayaan tersebut, tapi justru sebagian dari kaum Muslimin malah ingin melenyapkan, mengubur, dan memendam buku-buku tersebut.



    Salah satu alasan mereka berusaha untuk melenyapkan dan meminggirkan buku-buku ini adalah, menurut mereka, buku-buku ini menyibukkan mereka dari ibadah, ada yang mengatakan, “Kitab-kitab ini menyibukkanku sehingga tidak fokus dalam beribadah,” maka Ibnul Jauzi memberikan tiga tanggapan terhadap perkataan itu.



    Pertama, jika orang tersebut mengerti, bahwa menyibukkan diri dengan ilmu adalah bagian dari ibadah, karena menuntut ilmu itu juga ibadah, bahkan ibadah yang utama. Karena dia menjadi dasar bagi ibadah-ibadah yang lainnya. Maka tidak mungkin buku-buku ini justru menghalangi kita dari ibadah, karena buku-buku ini yang mengantarkan kita kepada ilmu, dan buku adalah alat yang tidak bisa dipisahkan dari menuntut ilmu. Pernyataan tersebut sepertinya kontradiktif, yaitu pernyataan “buku-buku menyibukkannya dari ibadah” dengan “menuntut ilmu itu sendiri merupakan ibadah.” Kecuali mereka beranggapan bahwa menuntut ilmu itu bukan ibadah, tentunya tidak ada yang mengatakan seperti itu.



    Menuntut ilmu itu diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang memerintahkan kita:



    طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.



    “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)



    Dan banyak lagi ayat maupun hadits yang memerintahkan kita untuk menuntut ilmu.



    Lihat: Islam Agama Ilmu



    Dan salah satu doa Nabi adalah رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu), yaitu doa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.



    Demikian juga Nabi pernah mendoakan seorang sahabat, yaitu Abdullah bin Abbas, اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ (Ya Allah berikanlah dia pemahaman dalam agama). Artinya, itu merupakan suatu yang diperintahkan dan itu termasuk ibadah, bahkan ibadah yang agung dan mulia.



    Kedua, kesadaran serta hafalan yang dimiliki saat ini tidak akan berlangsung lama. Karena kita akan khilaf dan lupa. Maka perlu sesuatu catatan hitam di atas putih. Maka buku-buku ini akan menjaga agama ini, dan salah satu perwujudan dari apa yang Allah katakan:



    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ



    35 min
  • Pentingnya Aqidah Yang Benar dalam Meraih Kemenangan

    Pentingnya Aqidah Yang Benar dalam Meraih Kemenangan adalah tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili Hafidzahullah pada Ahad, 21 Januari 2024 M / 9 Rajab 1445 H.



    Tabligh Akbar Tentang Pentingnya Aqidah Yang Benar dalam Meraih Kemenangan



    Pada kajian ini dibahas tentang tiga poin penting, yaitu:




    * Definisi aqidah shahih, apa saja referensi-referensinya dan apa saja pondasi-pondasi aqidah yang penting?



    * Dalil-dalil tentang akan ditolongnya umat Islam ini oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala apabila mereka berpegang teguh dengan menggenggam aqidah yang shahih.



    * Apa sebenarnya pertolongan dari Allah tersebut dan apa saja cabang-cabangnya?




    Definisi aqidah yang shahih



    Aqidah secara makna bahasa berasal dari kalimat mengikat hati atas perkara-perkara yang sangat penting. Aqidah dinamakan demikian karena diambil dari kata “ikatan” yang merupakan sesuatu yang dikuatkan dengan perjanjian. Oleh karena itu akad-akad dinamakan akad karena merupakan suatu yang dikuatkan dengan perjanjian.



    Aqidah shahihah adalah aqidah yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disampaikan kepada umatnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberitahu bahwa umat ini akan terpecah belah menjadi 73 kelompok, semuanya di neraka kecuali satu. Ketika beliau ditanya tentang yang satu tersebut, beliau menjawab:



    ما كان على مثل ما أنا عليه اليوم و أصحابي



    Mereka adalah orang yang seperti aku dan para sahabatku hari ini berpegang teguh padanya.” (HR. Tirmidzi, Hakim, dan lain-lain.)



    Maka aqidah yang shahihah adalah aqidah yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, sedangkan yang menyelisihinya adalah bid’ah-bid’ah yang dibuat oleh mereka yang melaksanakan aqidah baru tersebut, mereka pun terpecah menjadi 72 kelompok yang semuanya adalah kelompok bid’ah dan sesat.



    Aqidah yang shahihah adalah aqidah yang ditinggalkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk umatnya, dan di atasnya adalah para sahabat, imam-imam ahlus sunnah dari zaman dahulu hingga sekarang.



    Aqidah shahihah memiliki referensi dari Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan ijma’. Tiga referensi ini adalah dasar aqidah yang benar dan tidak mungkin salah.



    Aqidah yang benar berdiri di atas tiga pondasi penting: pertama, selamatnya aqidah shahihah dalam keyakinan tentang Allah Tabaraka wa Ta’ala; kedua, selamatnya aqidah dalam memahami agama Islam; dan ketiga, selamatnya aqidah dalam menerapkan hukum-hukum syar’i kepada hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Dalil-dalil Umat Islam Pasti Ditolong



    Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menurunkan pertolonganNya kepada umat ini, dan sesungguhnya ini adalah sesuatu yang nyata yang telah disebutkan di dalam dalil-dalil baik di dalam al-Qur’an dan di dalam sunnah Rasulillahi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:



    إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ



    “Sesungguhnya Kami pasti akan menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari di mana semua saksi menyampaikan saksinya.” (QS. Ghafir[40]: 51)



    Ini adalah firman dari Rabbul ‘Alamin, Allah Tabaraka wa Ta’ala,
    2 hr 36 min
  • Wajibnya Membaca Al-Fatihah

    Wajibnya Membaca Al-Fatihah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 21 Januari 2024 M / 9 Rajab 1445 H.







    Kajian Hadits Tentang Wajibnya Membaca Al-Fatihah



    Kita telah sampai pada باب: وجوب القراءة بأم القرآن في الصلاة, wajibnya membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalam shalat. Ini merupakan masalah khilafiyah, di mana jumhur berpendapat bahwa membaca Al-Fatihah hukumnya adalah wajib atau bahkan rukun. Orang yang shalat tanpa membaca Al-Fatihah maka tidak sah shalatnya, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



     لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ



    “Tidak ada shalat (maksudnya tidak sah shalat) bagi mereka yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Bukhari)



    Lihat juga: Rukun-Rukun Shalat Beserta Penjelasannya



    Sementara itu, Abu Hanifah berpendapat bahwa membaca Al-Fatihah tidak wajib. Dasarnya adalah ayat Allah yang berfirman:



    …فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ…



    “Bacalah yang mudah dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil[73]: 20)



    Ayat ini tidak menyebutkan bacaan apa yang harus dibaca. Begitu juga hadits yang akan disebutkan selanjutnya, di mana Nabi bersabda:



    ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن



    “Kemudian bacalah yang mudah bagi kamu dari Al-Qur’an.”



    Akan tetapi pendapat jumhur lebih kuat. Hal ini disebabkan karena ayat dan hadits itu sifatnya umum. Sedangkan hadits-hadits yang memerintahkan membaca Al-Fatihah bersifat khusus. Tentunya menurut kaidah, jika umum bertemu dengan khusus, maka yang umum itu dikhususkan.



    Hadits 281:



     عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﵁ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا في نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ قَالَ اللهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) قَالَ اللهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) قَالَ اللهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) قَالَ الله مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي) وإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ وإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. 



    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Siapa yang shalat tanpa membaca di dalamnya Ummul Qur’an, maka shalatnya itu tidak sempurna 3x. Lalu Abu Hurairah ditanya, ‘Kami berada di belakang imam sebagai makmum (apakah harus tetap membaca Al-Fatihah)?.’ Maka Abu Hurairah berkata, ‘Bacalah pada dirimu sendiri, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman,
    54 min
  • Syirkah

    Syirkah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Syarah ‘Umdatul Fiqih. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 7 Rajab 1445 H / 18 Januari 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Syirkah



    Syirkah berarti menggabungkan harta dan kerja, kemudian hasilnya yang tergabung dibagi sesuai dengan kesepakatan, dan kerugian ditanggung oleh masing-masing pihak sesuai dengan porsi modal. Bila modal berupa uang dan harta hanya dari salah satu pihak, dalam contoh syirkah mudarabah, yang menanggung kerugian hanya pihak yang modalnya berbentuk harta. Adapun yang mengelola menanggung kerugian dalam bentuk jasa mengelolanya selama ini tidak mendapatkan imbalan harta apapun juga. Itu yang dinamakan dengan syirkah.



    Ada aturan dalam agama Allah ‘Azza wa Jalla tentang syirkah ini. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersyirkah sebelum beliau diangkat menjadi nabi dengan bentuk mudarabah. Di mana ini sudah ada dalam kehidupan orang-orang Quraisy, mereka berdagang membawa harta modal dari pihak kedua. Seperti Rasulullah membawa harta Khadijah Radhiyallahu ‘Anha untuk dibeli barang di Makah, kemudian dijual di kota lain seperti Yaman pada musim panas, dan pada musim dingin mereka menjualnya ke Syam.



    Setelah terjual, dapat untung, dibeli lagi barang di tempat negeri tersebut, dibawa ke Makah, dan dijual lagi di Makah. Setelah cair dan mendapatkan keuntungan dibagi antara yang mengelola, yaitu yang pergi membawa harta dagang, dengan pemilik hartanya. Dibagi sesuai dengan kesepakatan dari awal bila ada keuntungan.



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:



     كُنْتَ شَرِيكِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَكُنْتَ خَيْرَ شَرِيكٍ لَا تُدَارِينِي وَلَا تُمَارِينِي



    “Engkau adalah teman kerjasama dalam usaha di masa jahiliyyah, dan engkau adalah sebaik-baik teman yang tidak memperdayaiku dan mendebatku.” (HR. Muslim)



    Setelah Islam datang, diperbaiki beberapa bentuk kekeliruan yang ada dalam transaksi-transaksi tersebut dan dijelaskan oleh para ulama. Maka itu yang dimaksud dengan syirkah, atau bahasa Indonesianya adalah kerjasama, atau sudah dikenal dengan Serikat Dagang.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Syirkah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.


    1 hr 44 min
  • Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja

    Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Senin , 5 Rajab 1445 H / 16 Januari 2024 M.







    Kajian Tentang Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja



    Ada hal-hal yang harus kita hindari ketika berdialog, karena ini bisa mengganggu atau bahkan merusak suasana dialog dengan anak-anak remaja. Di antaranya adalah:



    Yang pertama, berbicara dengan gaya bahasa yang terkesan menggurui dan ingin terus menceramahi. Memang tujuan kita adalah memberi nasihat, ceramah, atau peringatan kepada anak. Kita adalah guru dan mentornya. Namun, gaya bahasa yang harus kita perhatikan. Karena menceramahi tidak harus dengan gaya bahasa ceramah. Menggurui tidak harus dengan kata-kata yang terkesan menggurui. Memberikan pelajaran tidak harus dengan cara seperti itu.



    Hindari gaya bahasa yang terkesan ingin menceramahi dan menggurui, seolah-olah dia tidak tahu apa-apa, sedangkan kita yang maha tahu segalanya. Ini yang kadang-kadang membuat lawan dialog kita cenderung mengabaikan.



    Maka, pilihlah kata-kata yang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangannya. Kita mengajak dia untuk berpikir ikut terlibat dalam dialog tersebut. Gaya bahasa yang menggurui itu cenderung monolog. Sehingga kita yang terus mengambil alih pembicaraan itu, seperti orang ceramah, dan tidak ada peluang bagi mereka untuk mencerna apa yang kita sampaikan.



    Maka kadang-kadang diselingi dengan kalimat-kalimat yang bernada pertanyaan untuk memancing perhatiannya. Jadi tidak monoton dan membosankan seperti kita mendengarkan ceramah.



    Makanya nabi, beliau adalah guru yang terbaik. Kadang kala beliau melontarkan pertanyaan untuk menarik perhatian dari pendengar. Nabi sering menggunakan metode itu, yaitu dengan melontarkan pertanyaan, supaya yang mendengar juga ikut terlibat di dalam pembicaraan. Tidak cenderung satu arah seperti orang menggurui itu.



    Kadangkala beliau memancing sahabat dengan pertanyaan: “Tahukah kalian hari apa ini?” atau “Di mana ini?” Beliau tahu sedang di tanah haram dan di bulan haram. Tapi nabi bertanya, sehinga mereka mengira jawabannya yang lain. Ternyata nabi ingin menjelaskan tentang haramnya kehormatan muslim.



    Yang kedua, hindari redaksi perkataan yang cenderung menyudutkan dan menyalahkan. Ini adalah tindakan yang seolah-olah kita berdiri di hadapannya sebagai hakim dan dia sebagai terdakwa di ruang persidangan. Ini akan mematikan kemampuan berpikirnya.



    Orang yang duduk di kursi terdakwah itu tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali membela diri. Maka kalau kita memposisikan diri sebagai hakim, maka yang dilakukan oleh si anak adalah membela diri dengan apapun. Bahkan terkadang dengan berbohong.



    Ini dialami oleh banyak anak. Ketika orang tuanya berdiri di depannya sebagai hakim, maka dia cenderung ingin menghindar dan mencari celah bagaimana untuk mengakhiri pembicaraan. Kita ingin memperbaiki, bukan menghakimi. Kita ingin memberikan kebaikan, bukan menjatuhkan vonis hukum.



    Yang ketiga, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu banyak dan berkali-kali. Yang pertanyaan itu terkadang sudah dijawabnya tapi ditanya lagi. Seolah-olah orang tua tidak percaya kepada jawabannya. Ini seperti orang tua yang kekurangan bahan dalam berdialog dengan anak-anaknya. Anak akan merasa seperti duduk di depan investigat...
    51 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah