Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Kewajiban Menjaga Kehormatan Seorang Muslim

    Kewajiban Menjaga Kehormatan Seorang Muslim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 3 Sya’ban 1445 H / 13 Februari 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Diharamkannya Memfitnah Seorang Muslim







    Kajian Tentang Kewajiban Menjaga Kehormatan Seorang Muslim



    Pembahasan kita yang terakhir masih pada bab larangan memfitnah atau menuduh seorang Muslim tanpa hak. Hadits terakhir yang kita bahas adalah:



    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, “Didatangkan seorang yang minum khamar, maka kata beliau, “اضربوهُ (pukullah).” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Maka di antara kami ada yang memukul orang itu dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya, dan ada yang memukul dengan ujung pakaiannya.” Ketika orang itu pergi setelah dipukul oleh beberapa sahabat, maka ada di antara mereka yang mengatakan kepada orang itu, “Semoga Allah menghinakanmu.” Mendengar ucapan orang ini kepada saudaranya, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,



    لا تَقُولُوا هَذَا، لا تُعِينُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَان



    “Jangan kamu mengatakan demikian, kamu membuka peluang untuk setan dalam yakni mencelakakan orang ini.” (HR. Bukhari)



    Jadi Rasul ‘Alaihis Shalatu was Salam melarang seseorang mengucapkan kepada saudaranya أخْزَاكَ اللهُ meskipun orang itu berbuat hal-hal yang betul menghinakan dirinya. Namun tidak selayaknya seorang mukmin mengatakan pada saudaranya, “Semoga Allah menghinakanmu.”



    Maka marilah untuk benar-benar menjaga lisan-lisan kita. Jangan dengan mudah mengata-ngatai seseorang, yang mana bisa jadi ucapan kita itu menolong setan untuk mencelakakan orang yang kita katakan dan perkataan tersebut.



    Kemudian hadits terakhir dalam bab ini, juga hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    مَنْ قَذَفَ مَمْلُوكَهُ بِالزِّنَى يُقَامُ عَلَيْهِ الحَدُّ يَومَ القِيَامَةِ، إِلاَّ أَنْ يَكُونَ كَمَا قَالَ



    “Barangsiapa menuduh hamba sahayanya dengan tuduhan berzina, maka pada hari kiamat akan ditegakkan hukum Allah kepada orang yang menuduh tersebut, kecuali kalau benar-benar budak itu berzina.” (Muttafaqun ‘alaih)



    Kalau itu hanya tuduhan, maka di akhirat kelak akan diberikan hukuman oleh Allah Taala kepada tuan dari budak tersebut yang telah menuduh budaknya dengan tuduhan berzina.



    Kalau seorang Muslim yang merdeka, bukan seorang budak, menuduh berzina Muslim yang lain atau Muslimah yang lainnya yang juga orang merdeka, maka itu akan dikenakan sanksi dengan dicambuk, sebanyak delapan puluh kali.



    Begitulah memang seorang Muslim, Muslimah, Mukmin, Mukminah, baik itu orang merdeka maupun budak, tetap harus dijaga kehormatan mereka. Ini adalah prinsip dasar dalam Islam.



    Apa yang kita dengar tadi dari hadits ini menjelaskan kepada tentang hukuman-hukuman yang ditetapkan oleh Allah dan rasulNya secara syar’i terhadap suatu pelanggaran.
    0 min
  • Hati adalah Wadah

    Hati adalah Wadah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 2 Sya’ban 1445 H / 12 Februari 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Hati adalah Wadah



    Dari sahabat Abu Inabah Al-Khaulani Radhiyallahu ‘Anhu yang sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:



    إِنَّ لِلَّهِ آنِيَةً مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ ، وَآنِيَةُ رَبِّكُمْ قُلُوبُ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ , وَأَحَبُّهَا إِلَيْهِ أَلْيَنُهَا وَأَرَقُّهَا



    “Sesungguhnya Allah mempunyai bejana-bejana di atas muka bumi, dan bejana-bejana Tuhan kalian adalah hati-hati hamba-hambaNya yang shalih, dan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling halus dan yang paling lembut.” (HR. At-Thabrani)



    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi perumpamaan hati-hati manusia dengan bejana-bejana. Dan kondisi setiap bejana adalah sesuai apa yang dijadikan di dalamnya dari kebaikan atau keburukan. Sebagaimana dikatakan كل إناء بالذي فيه ينضح (semua bejana akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya). Maka hati-hati orang yang beriman penuh dengan pikiran kebaikan dan ketaatan. Adapun hati-hati orang yang fasik penuh dengan pikiran dosa dan maksiat.



    Berkata Malik bin Dinar Rahimahullahu Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang beriman hatinya penuh dengan kebaikan dan ketaatan. Adapun orang-orang fasik maka hatinya penuh dengan amalan-amalan dosa. Sesungguhnya Allah melihat pikiran-pikiran kaalian, maka perhatikanlah apa yang kalian pikirkan. Semoga Allah merahmati kalian.



    Berkata Abdullah bin Malik Rahimahullahu Ta’ala: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai bejana-bejana di bumi yang Allah tidak menerima kecuali yang kuat, lembut, dan murni. Kuat dalam ketaatan kepada Allah, lembut ketika berdzikir kepada Allah, murni dan bersih dari kotoran-kotoran.”



    Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam “Yang paling dicintai Allah adalah yang paling lembut yang paling halus,” yaitu hati yang lembut seperti cermin dan kaca yang bersih, menerima dan memahami kebaikan karena penuh kebersihan. Berbeda dengan hati-hati yang kotor yang tidak menerima kebaikan dan tidak masuk kepadanya kebaikan.



    Kemudian gerakan lisan akan menunjukkan apa yang ada di dalam hati dari kebaikan atau keburukan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:



    …وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ…



    “Sungguh kalian akan mengetahui mereka dari nada bicaranya.” (QS. Muhammad[47]: 30)



    Yaitu maksudnya adalah mesti nampak apa yang ada dalam hati-hati mereka dari gerakan-gerakan lisan mereka. Karena lisan adalah alat yang dapat menampakkan apa yang tersembunyi dalam hati, apakah itu kebaikan atau keburukan. Berkata Yahya Bin Mu’adz Rahimahullah:



     القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ، ومغارفها ألسنتها…



    “Hati-hati itu seperti bejana-bejana yang akan mendidih apa yang ada di dalamnya, sedangkan sendoknya adalah lisan-lisan. Maka tunggulah seseorang sampai dia berbicara, karena lisannya akan akan mengeluarkan untukmu apa yang ada di...
    40 min
  • Penyimpangan Kaum Sufi dalam Menafsirkan Al-Qur’an

    Penyimpangan Kaum Sufi dalam Menafsirkan Al-Qur’an ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 2 sya’ban 1445 H / 12 Februari 2024 M.







    Kajian tentang Penyimpangan Kaum Sufi dalam Menafsirkan Al-Qur’an



    Kita sampai pada pembahasan penyimpangan kaum Sufi di dalam menafsirkan Al-Qur’an. Di antaranya mereka menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, فَلِلَّهِ الْمَكْرُ جَمِيعًا (Tetapi semua tipu daya itu dalam kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan penafsiran, “Tidak ada tipu daya yang lebih jelas melebihi tipu daya Allah terhadap hamba-hambaNya. Karena Allah menjadikan mereka merasa memiliki jalan untuk menuju kepadaNya.” Artinya, mereka menganggap orang-orang kafir itu terkena tipu daya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena mereka merasa berada di jalan yang benar tapi ternyata tidak. Mereka merasa berada di atas hidayah tapi ternyata tidak.



    Tentunya ini tidak berkaitan dengan tipu daya, tapi itu berkaitan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibnul Jauzi mengatakan pada bantahan beliau terhadap tafsiran dari Al-Husain ini bahwa siapa saja yang merenungi tafsiran Al-Husain tadi, niscaya dia mengetahui bahwa tafsiran itu bisa berkonotasi kufur. Karena dia mengisyaratkan bahwa tafsiran itu adalah suatu penghinaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Al-Husain yang dimaksud di sini adalah Al-Hallaj. Sehingga tafsiran itu tentu saja tidak aneh keluar darinya. Karena dia adalah seorang penganut wihdatul wujud.



    Ini salah satu contoh tafsiran-tafsiran yang tanpa dasar dan tanpa ilmu mengacu kepada apa yang mereka jalani atau apa yang mereka yakini.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Penyimpangan Kaum Sufi dalam Menafsirkan Al-Qur’an” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    36 min
  • Bertawasul dengan Nama-nama Allah

    Bertawasul dengan Nama-nama Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024 M.







    Ceramah Agama Islam Tentang Bertawasul dengan Nama-nama Allah



    Kita masih melanjutkan pembahasan yang berkenaan dengan masalah tauhid, kelanjutan dari doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menghilangkan kesedihan, kegundahan dan kegalauan. Kita sampai di pertengahan doa.



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai doa ini dengan menyebutkan penghambaan diri yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai meminta kepada Allah dengan bertawasul menyebutkan nama-nama dan sifat-sifatNya, bahkan semua nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Indah.



    أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ



    “Aku memohon kepadaMu Ya Allah dengan semua nama-nama yang Mahaindah yang Engkau miliki yang Engkau namakan diriMu Yang Mahamulia dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hambaMu, atau nama yang Engkau khususkan pada ilmu ghaib yang ada di sisiMu.”



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan salah satu bentuk tawasul yang terbaik, sebab yang memudahkan doa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an,



    وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا…



    “Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama yang Mahaindah, maka berdoalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-namaNya yang Mahaindah.” (QS. Al-A’raf[7]: 180)



    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala dalam pembahasan ini menjelaskan bahwa sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di doa ini sampai di akhirnya merupakan tawasul kepada Allah sebab untuk memudahkan doa dikabulkan oleh Allah dengan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala semuanya yang diketahui oleh seorang hamba maupun tidak diketahuinya. Ini merupakan sarana yang paling dicintai oleh Allah.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita ketika beribadah itu mencari sarana yang disyariatkan sehingga ibadah lebih mudah dekat dengan pengabulan dan penerimaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan di dalam surah Al-Maidah:



    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ



    “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan carilah wasilah (sebab) untuk semakin dekat kepadaNya, dan berjihadlah di jalan Allah, agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 35)



    Di dalam tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini beliau menukil pernyataan salah seorang ulama Tabi’in,
    44 min
  • Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin

    Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A pada Rabu, 26 Rajab 1445 H / 7 Februari 2024 M.







    Kajian Islam Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin



    Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan tentang hadits Jibril: “Ketahuilah bahwa hadits Jibril ini mengandung berbagai macam ilmu, pengetahuan, adab-adab, dan petikan-petikan hikmah. Bahkan, hadits ini adalah pokok agama Islam, sebagaimana yang telah kami nukil dari Al-Qadhi ‘Iyad.



    Imam Al-Qurtubi Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Hadits Jibril ini pantas untuk diberi julukan “Ummu Sunnah (induk sunnah)” karena mengandung secara global apa yang dikandung dalam sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”



    Imam Ibnu Rajab Rahimahullah menyebutkan: “Hadits Jibril ini adalah hadits agung yang mengandung penjelasan agama secara umum. Makanya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhir hadits ini mengatakan: ‘Ini adalah malaikat Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian agama kalian.'”



    Maka kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga kita semua bisa benar-benar mempelajari, memahami dan mengamalkan kandungan hadits ini.



    Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala meriwayatkan dalam Kitab Shahihnya dengan sanadnya dari Yahya bin Ya’mur, dia berkata, “Orang pertama yang mengadakan penyimpangan bahwasannya tidak ada takdir adalah Ma’bad al-Juhani di Bashrah, Irak. Aku dan Humaid bin Abdurrahman al-Humairi pernah pergi untuk berangkat haji atau umroh, kami berkata, ‘Kalau kita bertemu dengan salah satu dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kita perlu bertanya kepada mereka tentang takdir.’ Kami beruntung bertemu dengan Abdullah bin Umar bin al-Khaththab yang sedang masuk ke masjid. Kami mendekatinya, saya di sebelah kanan dan sahabat saya di sebelah kiri. Aku menyangka temanku mempersilahkan aku untuk berbicara, maka aku berkata, ‘Wahai Abu Abdurrahman, sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang membaca Al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama, akan tetapi mereka mengatakan bahwa tidak ada takdir, dan bahwa segala sesuatu itu baru terjadi (tidak dikehendaki dan tidak diciptakan).’



    Maka Abdullah bin ‘Umar menjawab, ‘Jika engkau kembali dan bertemu dengan mereka, maka sampaikanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dariku. Demi Allah yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah, seandainya mereka mempunyai emas sebanyak gunung Uhud dan menginfakkan semuanya di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya sampai beriman kepada takdir.'”



    Lalu Abdullah bin ‘Umar melanjutkan, “Ayahku Umar bin al-Khaththab menceritakan kepadaku, ‘Ketika kami berada di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suatu hari, tiba-tiba muncul seorang yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya, tidak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Sampai dia mendekat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di paha. Dia bertanya, ‘Wahai Muhammad,
    1 hr 3 min
  • Doa Sebelum Wudhu

    Doa Sebelum Wudhu ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 25 Rajab 1445 H / 5 Februari 2024 M.







    Kajian Tentang Membersihkan Kemaluan Setelah Buang Hajat



    Wudhu adalah salah satu ibadah rutin yang dilakukan oleh setiap muslim. Yaitu ketika hendak shalat, ketika mau tidur, ketika mau membaca Al-Qur’an, ketika mau tawaf, dan juga dianjurkan untuk menjaga kesucian tubuh sepanjang waktu. Sehingga kalau batal dianjurkan wudhu.



    Wudhu adalah ibadah. Sebagaimana umumnya ibadah, pasti ada aturannya. Aturan tersebut telah dibahas di dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satu aturan berwudhu adalah membaca doa sebelum berwudhu. Salah satu aturannya membaca doa sebelum berwudhu. Doa sebelum berwudhu adalah membaca: “Bismillah.”



    Dalil yang melandasi doa ini adalah sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan hadits ini dinilai Hasan oleh Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, bahwa Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



     لا صلاةَ لمَن لا وضوءَ لَهُ ، ولا وضوءَ لمَن لَم يذكرِ اسمَ اللَّهِ عليهِ



    “Tidak sah shalatnya orang yang tidak wudhu. Dan tidak sempurna wudhunya orang yang tidak membaca basmalah.” (HR. Abu Dawud)



    Jadi sebelum berwudhu, kita disyariatkan untuk membaca bismillah. Hal ini karena kita butuh bantuan dari Allah supaya bisa berwudhu.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Membersihkan Kemaluan Setelah Buang Hajat” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    40 min
  • Diharamkannya Memfitnah Seorang Muslim

    Diharamkannya Memfitnah Seorang Muslim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 25 Rajab 1445 H / 6 Februari 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Laknat Bisa Kembali kepada Orang yang Mengucapkannya







    Kajian Tentang Diharamkannya Memfitnah Seorang Muslim



    Kita sampai pada باب تحريم سب المسلم بغير حق (Bab diharamkannya memfitnah seorang muslim tanpa hak).



    Dalil yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala, di antaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:



    والَّذِينَ يُؤْذُونَ المُؤْمِنِينَ والْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا، فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتانًا وإثْمًا مُبِينًا



    “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab[33]: 58)



    Seorang muslim memiliki kehormatan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ



    “Setiap muslim itu haram atas muslim yang lain, yaitu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)



    Lihat juga: Hadits Arbain Ke 35 – Semua Muslim Bersaudara



    Oleh karena itu jaga darah seorang muslim. Artinya tidak boleh membunuh seorang muslim. Ini akan dituntut di akhirat kelak kalau tidak dijalankan qishah di bumi ini. Termasuk menyakiti fisiknya, ini semua hal-hal yang diharamkan.



    Seorang muslim haram atas muslim yang lainnya berkaitan dengan hartanya. Maka tidak boleh seorang muslim mengambil harta saudaranya tanpa hak. Dilarang mencuri dan hutang harus dibayar. Karena kalau orang yang memberi hutang itu tidak memaafkan, maka di akhirat akan ditagih. Demikian pula Allah mengharamkan riba. Karena riba itu mengambil harta orang lain, jerih payah dan keringatnya.



    Intinya seorang muslim harus menghormati harta saudaranya. Termasuk dalam hal berkaitan dengan warisan. Tidak boleh ada di antara saudara-saudara ahli waris yang menahan warisan itu lalu tidak diberikan kepada yang berhak untuk menerima warisan. Ketika orang tua meninggal, secepat mungkin bagikan warisan itu. Sebelum terjadi pertikaian. Sebelum berlarut-larut. Ya, terkadang sampai kepada cucu. Sang anak tidak mau membagi harta warisan orang tuanya, sebelum terjadi pertikaian dan sebelum berlarut-larut.



    Kemudian yang ketiga adalah kehormatan seorang muslim. Haram seorang merusak kehormatan saudaranya. Apalagi dengan memfitnah atau menuduh sesuatu yang tidak ada pada orang itu.



    Seorang muslim, bagaimanapun dia mempunyai kehormatan yang tidak boleh dirusak. Tidak boleh menuduh, persaksian palsu, memfitnah, menggunjing, ghibah, dan yang lainnya.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian




    1 hr 15 min
  • Meminta Pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla

    Meminta Pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 25 Rajab 1445 H / 5 Februari 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Mewujudkan Penghambaan Hanya Untuk Allah







    Kajian Tentang Mewujudkan Penghambaan Hanya Untuk Allah



    Kita sudah diajarkan oleh Allah dalam kitabNya, bagaimana kita bermuamalah menghadapi musuh dari kalangan manusia dan setan. Dalam menghadapi musuh dari kalangan manusia, caranya dengan sabar dan berbuat baik kepadanya. Kita menghadapi keburukannya dengan kebaikan. Hal ini supaya dia tidak jadi memusuhi, bahkan bisa jadi teman yang baik. Adapun musuh dari setan, tidak ada cara kecuali meminta perlindungan kepada Allah.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan hal tersebut dalam tiga tempat. Pertama di surah Al-A’raf ayat 199-200:



    خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ‎﴿١٩٩﴾‏ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ‎﴿٢٠٠﴾‏



    “Jadilah engkau pemaaf dan perintahkanlah untuk berbuat baik, serta berpalinglah dari orang-orang bodoh. Dan apabila setan datang menggoda, maka mintalah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf[7]: 199-200)



    Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:



    ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ ‎﴿٩٦﴾‏ وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ ‎﴿٩٧﴾‏ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ ‎﴿٩٨﴾



    “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan cara yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: ‘Wahai Rabbku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau wahai Rabbku, agar mereka tidak mendekatiku.'” (QS. Al-Mu’minun[23]: 96-98)



    Lihatlah, ketika musuhnya adalah manusia, kita diperintahkan untuk menolak perbuatan mereka dengan cara yang lebih baik. Tetapi ketika musuhnya setan, kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah.



    Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:



    وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ ‎﴿٣٤﴾‏ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ ‎﴿٣٥﴾‏ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ‎﴿٣٦﴾‏ 



    “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antaramu dan dia menjadi seperti teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan keculai kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika setan datang menggodamu, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fussilat[41]: 34-36)



    1 hr 1 min
  • Penafsiran Kaum Sufi yang Tidak Berdasar

    Penafsiran Kaum Sufi yang Tidak Berdasar ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 25 Rajab 1445 H / 5 Februari 2024 M.







    Kajian tentang Penafsiran Kaum Sufi yang Tidak Berdasar



    Sudah kita bahas pada pertemuan yang lalu bagaimana sikap dan pandangan kaum sufi terhadap ilmu dan para penuntut ilmu. Dalam pandangan mereka, menuntut ilmu adalah kesibukan yang sia-sia, karena tujuannya bukanlah ilmu tapi amal. Maka menyibukkan diri dengan ilmu bagi mereka bisa mengalihkan dari amal. Ini adalah satu hal yang sangat kontradiktif. Karena amal tanpa ilmu tidak akan tegak. Namun bagi mereka amal tidak perlu didasari ilmu. Mereka menakwil beberapa ayat, dimana mereka menafsirkan dengan tafsiran-tafsiran yang keliru. Misalnya menafsirkan perintah untuk belajar dengan perintah untuk beramal.



    Sebagian tokoh-tokoh sufi menafsirkan ayat-ayat yang menyuruh kita menuntut ilmu kepada makna beramal. Ibnul Jauzi mengatakan bahwa setelah kaum sufi meninggalkan ilmu dan hanya melakukan mengolah jiwa yang tidak sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi menurut asumsi pribadi mereka masing-masing. Mereka tidak tahan dari membicarakan tentang berbagai disiplin ilmu. Karena ilmu perlu kesabaran dan ketabahan dalam mengikuti setiap disiplin-disiplin ilmu. Tapi disebabkan mereka berbicara berdasarkan pengalaman yang mereka alami, maka terjadilah berbagai kekeliruan yang datang dari pendapat hasil pemahaman mereka sendiri. Kadang-kadang kaum sufi ini membicarakan mengenai tafsir Al-Qur’an, hadits, fikih, dan berbagai disiplin ilmu lainnya dengan penafsiran-penafsiran yang tidak berdasar, atau mereka cocokkan dengan kondisi mereka. Mereka menyampaikan berbagai disiplin ilmu syar’i tadi sesuai dengan konsekuensi keilmuan mereka yang tentunya sangat dangkal. Karena mereka tidak menuntut ilmu.



    Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah mengosongkan suatu masa dari orang-orang yang meluruskan syariatNya untuk membantah orang-orang yang melakukan penafsiran-penafsiran yang keliru dan menyimpang dari ajaran para Nabi dan Rasul. Merekalah para ulama-ulama sunnah yang membantah kekeliruan pemahaman-pemahaman manusia di dalam memahami Al-Qur’an dan sunnah. Terkhusus di sini berkaitan dengan perintah menuntut ilmu yang mereka takwil kepada makna keutamaan beramal untuk menghindari belajar.



    Ja’far bin Muhammad Al-Khuldi berkata: “Aku hadir saat guru kami Al-Junaid ditanya oleh Kaisan tentang firman Subhanahu wa Ta’ala, ‘Kami akan bacakan Al-Qur’an kepadamu wahai Muhammad sehingga engkau tidak akan lupa.’ Al-Junaid mengatakan bahwa makna ‘jangan lupa’ yaitu jangan lupa mengamalkannya.”



    Ini tafsir yang tidak sejalan dengan konteks ayat tersebut. Konteks ayat tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh para malaikat untuk membacakan Al-Qur’an kepada Nabi hingga Nabi tidak lupa apa yang dibaca. Maknanya yaitu menghafal ilmu. Tapi itu dibawakan kepada makna jangan lupa mengamalkannya. Tentu ini jauh sekali dari apa yang dimaksud di dalam ayat ini.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian





    34 min
  • Haramnya Mendahului Imam

    Haramnya Mendahului Imam merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 16 Rajab 1445 H / 28 Januari 2024 M.







    Kajian Hadits Tentang Haramnya Mendahului Imam



    Kita sampai pada bab النهي عن سبق الإِمام بالركوع والسجود (Larangan untuk mendahului imam dengan rukuk dan sujud).



    Hadits 290:



    عَنْ أَنَسٍ ﵁ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي إِمَامُكُمْ فَلَا تَسْبِقُونِي بِالرُّكُوعِ وَلَا بِالسُّجُودِ وَلَا بِالْقِيَامِ وَلَا بِالِانْصِرَافِ فَإِنِّي أَرَاكُمْ من أَمَامِي وَمِنْ خَلْفِي ثُمَّ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالُوا وَمَا رَأَيْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ.



    Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat mengimami kami suatu hari. Ketika telah selesai shalat, beliau pun menghadapkan wajahnya kepada kami. Lalu Beliau bersabda, ‘Wahai Manusia, sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka jangan dahului aku dengan rukuk dan tidak pula dengan sujud, tidak pula dengan berdiri, tidak pula dengan inshiraf (selesai dari shalat). Sesungguhnya aku melihat kalian dari depan dan belakangku.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Demi Dzat yang diri Muhammad berada di tanganNya, jika kalian melihat apa yang aku lihat, tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’ Mereka bertanya, ‘Apa yang kau lihat Wahai Rasulullah?’ Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Aku melihat surga dan neraka.'” (HR. Muslim)



    Imam menghadap ke makmum setelah selesai shalat



    Disyariatkan untuk imam ketika selesai shalat, hendaklah ia menghadapkan wajahnya ke makmum. Setelah selesai shalat, imam itu sunnahnya menghadap ke makmum. Sebatas dia mengucapkan:



    أَسْـتَغْفِرُ الله (ثَلاثاً) اللّهُـمَّ أَنْـتَ السَّلامُ وَمِـنْكَ السَّلام تَبارَكْتَ يا ذا الجَـلالِ وَالإِكْـرام



    Setelah itu dia kemudian mengadakan dirinya ke makmum. Begitu sunnahnya sebagaimana disebutkan dalam hadits ini. Karena dalam hadits di atas disebutkan, “Setelah selesai shalat, beliau kemudian menghadapkan wajahnya kepada kami.”



    Memberikan nasihat setelah shalat



    Seorang imam setelah shalat boleh memberikan nasihat. Di sini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah selesai shalat, beliau menghadap ke makmum. Kemudian Beliau berkata, “Wahai Manusia, sesungguhnya aku adalah imam kalian…” dan sampai akhirnya.



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bisa melihat dari belakang



    Di antara keistimewaan yang Allah berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mukjizat beliau bisa melihat dari belakangnya sebagaimana beliau melihat dari depan. Disebutkan dalam hadits ini, “Karena aku bisa melihat kalian dari depan dan dari belakangku.”



    Haramnya mendahului imam



    Hadits ini menunjukkan haramnya mendahului imam dengan kesepakatan seluruh ulama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan kalian dahului aku, baik dengan rukuk, atau dengan sujud,
    1 hr 1 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah