Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Bahaya Was-Was

    Bahaya Was-Was adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin , 23 Rajab 1445 H / 04 Februari 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Bahaya Was-Was



    Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Datang beberapa orang dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mereka bertanya, ‘Kami mendapati pada diri kami sesuatu yang kami merasa sangat berat untuk mengucapkannya.’ Maka Nabi bertanya kepada mereka, ‘Kalian sudah merasakan hal tersebut?’ Para sahabat tersebut menjawab, ‘Iya,’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Itu adalah iman yang sesungguhnya.'” (HR. Muslim)



    Juga dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    لَنْ يَبْرَحَ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا هَذَا اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ.



    “Manusia akan terus bertanya-tanya sampai mereka mengatakan: ‘Ini adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah?'” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Juga dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



     يأتي الشيطان أحدكم فيقول من خلق كذا وكذا حتى يقول له من خلق ربك، فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته.



    “Setan akan datang kepada salah seorang di antara kalian dan bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’ Sampai setan membisikkan, ‘Siapa yang menciptakan Tuhan?’ Maka apabila sudah sampai ke situ, hendaklah dia meminta perlindungan dari Allah dan berhenti dari bisikan tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Juga dalam riwayat Muslim,



    لا يزالُ النَّاسُ يَتساءَلون حتى يُقال: هذا خَلَقَ اللهُ الخَلْقَ، فمَن خلَقَ اللهَ؟ فمَن وجَدَ من ذلك شيئًا، فلْيَقُلْ: آمَنتُ بالله



    “Manusia akan terus bertanya-tanya sampai dikatakan, ‘Ini yang Allah ciptakan, maka siapa yang menciptakan Allah?’ Maka barangsiapa yang menemukan bisikan seperti ini, maka hendaklah dia segera mengatakan, ‘Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,’ -dan ada tambahan, ‘dan juga beriman kepada RasulNya.'” (HR. Muslim)



    Juga dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkata, “Ada seorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapati ...
    40 min
  • Kesempurnaan Kekuasaan dan Kemampuan Allah – Tafsir Surah Ali Imran 27

    Kesempurnaan Kekuasaan dan Kemampuan Allah – Tafsir Surah Ali Imran 27 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 18 Rajab 1445 H / 30 Januari 2024 M.







    Download kajian sebelumnya: Batilnya Angan-angan – Tafsir Surah Ali Imran 24



    Kesempurnaan Kekuasaan dan Kemampuan Allah – Tafsir Surah Ali Imran 27



    Kita masuk ke Surah Ali Imran ayat 27. Allah Ta’ala berfirman:



    تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ



    “Engkaulah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau yang memberikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki dengan tanpa hitungan.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 27)



    Kita ambil faedah dari ayat ini, kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah:



    Kesempurnaan kekuasaan dan kemampuan Allah



    Ayat ini menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan dan kemampuan Allah. Karena Allah memasukkan siang ke malam dan memasukkan malam ke dalam siang, itu menunjukkan akan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Adanya siang dan malam merupakan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di malam hari kita bisa istirahat, di siang hari kita bisa mencari maisyah, dan bagaimana hubungan makhluk-makhluk dengan malam dan siang. Bahkan, organ tubuh kita pun juga sangat berhubungan dengan waktu malam dan siang. Ketika malam, jantung harus istirahat. Makanya orang yang kerjanya malam, siangnya tidur, kebalik, itu lama-lama pasti akan menimbulkan penyakit di tubuhnya. Karena dia melawan ketentuan yang telah Allah tentukan. Bahwa badan kita itu di waktu malam harus istirahat, di waktu siang baru kemudian mencari nafkah dan yang lainnya. Tapi ketika dibalik, pasti akan ada masalah pada badan, bahkan menimbulkan banyak penyakit.



    Inilah bagaimana Allah putarkan malam dan siang saling berhubungan dengan makhluk-makhluk yang ada di bumi. Apa yang terjadi pada pepohonan di saat malam dan siang, itu semua adalah hikmah-hikmah Allah dan kekuasaanNya yang luar biasa dahsyat.



    Adanya hikmah Allah



    Penetapan akan adanya hikmah Allah. Karena Allah memasukkan siang ke malam, malam ke siang, pasti karena ada di sana hikmah yang sangat besar. Yaitu untuk kemaslahatan makhluk-makhlukNya. Karena dengan adanya siang dan malam, maka akan ada musim. Ada musim dingin, semi, panas, gugur. Allah jadikan seperti itu karena sangat berpengaruh kepada pertumbuhan tubuh manusia, demikian pula pepohonan, binatang-binatang dan yang lainnya. Ada tumbuhan yang bisa hidupnya di musim dingin, ada lagi pohon-pohon di musim panas. Semua ada hikmah-hikmahnya.



    Manusia sangat lemah



    Seorang insan ketika melihat kekuasaan Allah yang tak terbatas dan sempurna, dengan seperti itu seorang insan bisa mengetahui bahwa dirinya lemah dan bahwa dirinya sangat membutuhkan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau datang musim dingin, manusia harus mencari sesuatu yang menghangatkan dirinya.
    49 min
  • Bab Melempar Kerikil

    Bab Melempar Kerikil adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 17 Rajab 1445 H / 29 Januari 2024 M.







    Kajian Islam Tentang Bab Melempar Kerikil



    Bab 404, yaitu bab melempar kerikil. Betapa sempurnanya agama Islam ini. Islam mengatur segala aktivitas manusia yang biasa mereka lakukan, permainan-permainan dan perkara-perkara yang biasa mereka kerjakan.



    Bab melempar dengan kerikil ini termasuk di dalamnya melempar dengan alat seperti ketapel. Subhanallah, apa hukumnya? Apakah masalah-masalah remeh seperti itu dibahas di dalam Islam? Jawabnya iya, karena Islam hadir untuk membenahi kehidupan manusia, untuk mengawal bagaimana manusia bisa sampai ke pintu surga.



    Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani, berkata:



      نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخذف وقال إنه لا يقتل الصيد ولا ينكى العدو وانه يفقأ العين ويكسر السن



    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang melempar-lempar kerikil, dan beliau bersabda, ‘Sesungguhnya melempar dengan kerikit tidak dapat membunuh binatang buruan dan tidak pula dapat melemahkan musuh, yang ada akan merusak mata atau memecahkan gigi.”‘ (HR. Bukhari)



    Kenapa dilarang melempar kerikil? Karena ini tidak membunuh buruan. Kalau burung mungkin bisa, tapi tidak menjadi halal. Karena jadinya binatang seperti binatang yang dipukul menggunakan pedang, tapi tidak terkena tajamnya. Begitu pula ketika digunakan kerikil, dia tidak tajam, sehingga tidak melukai, kerikil itu hanya memukul.



    Jadi, dari sisi manfaatnya dikatakan dia tidak bermanfaat. Tidak bisa mengalahkan apalagi membunuh musuh. Tapi kalau yang dilempar adalah batu besar, ini mungkin bisa.



    Di dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, bahwa Abdullah bin Mughaffal tetap bermain dengan melempar kerikil. Dia berkata: “Aku kabarkan kepadamu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang melempar-lempar dengan kerikil, lalu aku melihat engkau masih melakukan itu? Aku tidak akan berbicara denganmu sekian-sekian (dia menentukan waktunya) -dalam riwayat Muslim dia mengatakan selama-lamanya-.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Ini termasuk memboikot saudara karena Allah, bukan karena urusan dunia. Ketika seseorang diberitahu bahwa itu tidak bermanfaat, yang ada hanya mudharat dan keburukan, tapi tetap dikerjakan. Banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan perintah dan larangan Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam.



    Kalau kita membaca sejarah kekalahan yang dialami umat Islam pada perang Uhud, itu karena mereka meremehkan perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka melanggar larangan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal seharusnya seorang muslim ketika mendengar dan tahu bahwa perkara ini diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya atau dilarang, yang harus dia lakukan adalah sami’na wa atha’na.



    Al-Imam Nawawi, ketika mensyarah hadits ini dimana Abdullah bin Mughaffal tidak mau berbicara dengan orang tersebut, beliau mengatakan bahwa dapat disimpulkan dari hadits ini faedah disyariatkannya memboikot pelaku-pelaku kemaksiatan dosa besar dan mereka yang menentang sunnah setelah punya ilmu. Boleh untuk tidak bertegur sapa dengan orang seperti ini selama-lam...
    51 min
  • Mewujudkan Penghambaan Hanya Untuk Allah

    Mewujudkan Penghambaan Hanya Untuk Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 29 Januari 2024 M/ 17 Rajab 1445 H.



    Kajian sebelumnya: Senjata untuk Melindungi Diri dari Gangguan Setan







    Kajian Tentang Mewujudkan Penghambaan Hanya Untuk Allah



    Kajian kita masih membahas tentang wasilah-wasilah syari yang seyogyanya seorang Muslim mempersenjatai dan membentengi dirinya dari tipu daya setan yang terkutuk. Di sini disebutkan beberapa wasilah syariah, yaitu sarana yang datangnya dari Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Setan, bala tentara dari Iblis tidak bisa kita lihat. Dan peperangannya terus berlanjut. Kita tidak boleh lengah, karena setan adalah musuh, dan kita tidak mungkin terlindungi dari gangguan setan kecuali dengan kembali kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sarana-sarana syari yang hendaknya kita lakukan menghadapi musuh yang sangat-sangat luar biasa ini.



    Pada pertemuan yang lalu, kita membahas wasilah pertama yang harus kita lakukan, yaitu ikhlas.



    Mewujudkan Penghambaan Hanya Untuk Allah



    Yang kedua, mewujudkan penghambaan hanya untuk Allah. Kita betul-betul harus menjadikan diri kita sebagai hamba-hambaNya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menjadi hamba adalah derajat yang paling tinggi di sisi Allah. Allah berfirman dalam surah Al-Isra:



    إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا



    Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. “.



    “Sesungguhnya setan, engkau tidak bisa menguasai hamba-hambaKu. Dan cukuplah Rabbmu sebagai Penjaga.” (QS. Al-Isra'[17]: 65)



    Dalam ayat di atas, hamba-hamba Allah tidak bisa dikuasai oleh setan. Pertanyaannya adalah bagaimana menjadi hamba Allah yang sejati?



    Pengertian ibadah



    Ibadah adalah sebuah uangkapan yang mencakup semua hal yang Allah cintai dan ridhai dari seluruh perkataan yang dzahir atau batin. Ibadah ada ibadah hati, ucapan, badan, dan harta. Yang utama dari semuanya adalah ibadah hati. Karena Allah melihat hati. Semua dibangun di atas ibadah hati. Orang yang hatinya bagus, diangkat derajatnya oleh Allah setinggi-tingginya.



    Manusia yang paling tinggi derajatnya setalah Nabi dan Rasul adalah Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu ‘Anhu. Dalilnya adalah firman Allah:



    وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا



    “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa'[4]: 69)



    Kenapa Abu Bakar memiliki derajat yang tinggi setalah Nabi dan Rasul? Ini adalah karena keimanan yang ada di dalam hatinya. Oleh karena itu ulama Salaf pernah berkata: “Abu Ba...
    58 min
  • Dampak Buruk Dosa

    Dampak Buruk Dosa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 29 Januari 2024 M/ 17 Rajab 1445 H.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Dampak Buruk Dosa



    Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda:



    إنَّ العبدَ إذا أخطأَ خطيئةً نُكِتت في قلبِهِ نُكْتةٌ سوداءُ، فإذا هوَ نزعَ واستَغفرَ وتابَ سُقِلَ قلبُهُ، وإن عادَ زيدَ فيها حتَّى تعلوَ قلبَهُ، وَهوَ الرَّانُ الَّذي ذَكَرَ اللَّه كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ



    “Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan satu dosa, maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Dan jika dia meninggalkan dosa tersebut, meminta ampun dan bertaubat, maka hatinya akan bersih. Namun, jika dia terus bermaksiat, maka akan ditambahkan titik hitam sampai menutupi hatinya, dan itulah yang diistilahkan dengan ‘ron’, yaitu penutup yang Allah sebutkan dalam FirmanNya: ‘Sekali-kali tidak, akan tetapi penutup telah menutupi hatinya diakibatkan apa yang mereka kerjakan dari perbuatan dosa.'” (HR. At-Tirmidzi)



    Sesungguhnya, di antara hal yang sangat bermanfaat bagi seorang hamba untuk memperbaiki hatinya adalah dengan memperhatikan dan melihat akibat perbuatan dosa. Bahaya besar yang ditimbulkan oleh perbuatan dosa bagi kehidupan dunia dan akhirat pelaku dosa tersebut, terutama pengaruh dosa yang besar terhadap hati seseorang, karena perbuatan dosa dan maksiat mempunyai pengaruh yang berbahaya bagi hati yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.



    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya Ad-Da’ wa Ad-Dawa menyebutkan secara detail pengaruh-pengaruh yang bisa berakibat bagi orang yang melakukan dosa. Apa yang akan kita sebutkan ini adalah ringkasan dari apa yang beliau sebutkan dalam buku tersebut.



    Terhalang dari ilmu



    Di antara akibat dosa yang sangat berbahaya adalah terhalangnya seseorang dari ilmu yang bermanfaat, karena ilmu adalah cahaya yang Allah Subhanahu wa Ta’ala letakkan di hati seseorang, dan maksiat akan memadamkan cahaya ilmu tersebut.



    Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah pernah duduk di hadapan Imam Malik dan membacakan di hadapannya. Kemudian Imam Malik merasa takjub dengan kecerdasan, kepintaran, dan pemahaman Imam Asy-Syafi’i. Maka beliau memberi wasiat, “Sungguh aku melihat bahwa Allah telah meletakkan cahaya pada hatimu, maka janganlah engkau memadamkannya dengan kegelapan maksiat.”



    Juga, Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah pernah mengadu kepada gurunya tentang buruknya hafalannya. Maka Imam Waki’ memberi petunjuk agar meninggalkan maksiat, dan beliau berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya ilmu adalah karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”



    Kegelisahan



    Di antara pengaruh buruk maksiat adalah kegelisahan yang didapatkan pelaku maksiat pada hatinya. Kegelisahan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kelezatan maksiat yang ia lakukan. Meskipun dikumpulkan seluruh kenikmatan dunia, tidak akan menghilangkan kegelisahan tersebut.
    40 min
  • Menggali Potensi Anak

    Menggali Potensi Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin , 17 Rajab 1445 H / 29 Januari 2024 M.







    Kajian Tentang Menggali Potensi Anak



    Kita masih membahas fikih pendidikan anak, serial nomor 188 dengan judul “Menggali Potensi Anak.”



    Ketika mencermati kehidupan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kita akan menemukan bahwa mereka memiliki keunggulan yang beragam. Antara satu orang dengan orang lain, keunggulannya bisa berbeda-beda. Misalnya, ada yang menjadi pemimpin seperti empat Khulafaur Rasyidin, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Radhiyallahu ‘Anhum.



    Ada yang menjadi juru dakwah. Contohnya, Mus’ab bin Umair yang dikirim ke Madinah, sedangkan Mu’adz bin Jabal pernah dikirim ke Yaman oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Ada juga yang menjadi pedagang kaya raya, seperti Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘Anhu. Kepiawaian beliau dalam berbisnis membuatnya sangat diakui. Kata para ahli sejarah, jika Abdurrahman ini membuka batu, di bawahnya pasti ada “emas.” Ini hanyalah sebuah perumpamaan untuk menggambarkan keahlian beliau dalam berbisnis. Apa pun yang dikerjakannya, selalu menghasilkan, seolah-olah membuka batu di bawahnya selalu menemukan emas. Ini hanyalah kiasan untuk menyatakan betapa mahirnya beliau dalam memilih lahan bisnis.



    Selain itu, ada juga yang menjadi panglima perang yang sangat terkenal. Musuh begitu mendengar namanya saja sudah takut. Salah satu contohnya adalah Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘Anhu.



    Menariknya, masing-masing dari profesi tadi: pemimpin, da’i, saudagar, dan panglima perang, semuanya menonjol dalam menjalankan aktivitasnya. Ini patut kita cermati bagaimana Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghasilkan -dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla- manusia-manusia yang sangat ahli di bidang yang berbeda-beda.



    Semuanya dimulai dari kelahiran anak-anak kita. Perhatikanlah, setiap anak yang lahir memiliki potensi, minat, dan kecenderungan masing-masing. Seringkali, meskipun memiliki orang tua yang sama, namun anak-anak memiliki hobi, minat, dan kecenderungan yang berbeda-beda. Kesalahan sebagian orang tua adalah memaksakan anak untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan minatnya. Bahkan, ada yang mengharuskan anak mengikuti jejak pekerjaan orang tua. Misalnya, jika ayahnya dokter, anaknya diharapkan juga menjadi dokter; jika ayahnya pilot, anaknya diharapkan juga menjadi pilot, dan sebagainya.



    Langkah Praktis Menggali Potensi Anak



    Lalu, bagaimana kita menggali potensi mereka? Berikut beberapa langkah praktis yang bisa diambil.



    Langkah pertama, bangunlah pondasi yang kuat. Khalid bin Walid sebagai panglima, Abdurrahman bin Auf sebagai saudagar, dan Muadz sebagai dai, semuanya memiliki profesi berbeda, namun mereka memiliki kesamaan. Mereka semua memiliki keimanan yang kuat.



    Oleh karena itu, langkah pertama yang harus kita ambil untuk menemukan potensi anak kita adalah membangun aqidah yang kuat dalam diri mereka. Hal ini penting agar anak, apa pun profesi yang akan dijalani nantinya, tetap menjaga keimanannya. Entah ia menjadi polisi, insinyur, dokter, presiden, atau profesi lainnya, pondasinya harus kuat agar tidak mudah korupsi atau terpengaruh oleh lin...
    40 min
  • Melerai Pertikaian Antar Anak

    Melerai Pertikaian Antar Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin , 3 Rajab 1445 H / 15 Januari 2024 M.







    Kajian Tentang Melerai Pertikaian Antar Anak



    Kita akan melanjutkan pembahasan tentang fikih pendidikan anak. Kali ini, kita memasuki serial nomor 187 yang mengangkat tema “melerai pertikaian antar anak”.



    Bagi yang memiliki anak lebih dari satu, saya pikir pernah mengalami suasana di mana kakak-adik bertengkar, baik antar anak laki-laki dengan laki-laki, anak perempuan dengan perempuan, atau bahkan anak laki-laki dengan anak perempuan.



    Intensitas pertengkaran itu kadang-kadang sering. Bahkan, ada sebagian orang tua yang mengatakan, “Tiada hari tanpa pertengkaran.” Saking seringnya terjadi pertengkaran itu akhirnya ada sebagian orang tua yang menganggapnya wajar, dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Namun, masalahnya adalah ketika pertengkaran itu dibiarkan. Apakah membiarkan pertikaian ini dibenarkan dalam agama kita? Jawabannya tidak dibenarkan. Karena ketika kejadian seperti itu terjadi di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau ternyata melerainya.



    Kisah pertengkaran anak-anak dizaman nabi



    Kisah ini dituturkan oleh seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bernama Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau bercerita bahwa pada suatu hari, ada dua bocah bertengkar, Si A dari golongan Muhajirin dan Si B dari golongan Ansar.



    Si A berteriak, “Woi, orang-orang Muhajirin!” Dia ingin melibatkan golongannya untuk ikut dalam pertengkaran itu. Si B tidak mau kalah, maka dia pun juga berkata, ‘Woi, orang-orang Anshar!’ Dia juga ingin melibatkan golongannya. Berarti pertengkarannya bakal melebar. Awalnya hanya dua orang, ini akan melibatkan orang banyak. Dan ini bahaya. Harusnya masalah itu dipersempit, ternyata bocah ini ingin memperluas masalahnya.



    Begitu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat ada yang tidak wajar, masing-masing memprovokasi golongannya untuk ikut terlibat dalam pertengkaran ini, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar rumah, dan beliau bersabda: “Apa-apaan ini? Mengapa ada slogan-slogan jahiliyah yang kembali disuarakan?”



    Perhatikan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan itu “Slogan-slogan jahiliyah.” Karena kalimat tadi diucapkan dalam rangka untuk memprovokasi. Supaya terjadi pertengkaran antar dua golongan. Ini berbahaya.



    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berusaha sekuat tenaga agar terjadi kerukunan antar kaum muslimin. Sehingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mau tinggal diam. Padahal istilah “Muhajirin dan Anshar” merupakan istilah Syar’i. Tapi ketika istilah Syar’i ini disalahgunakan, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak tinggal diam. Apalagi kalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyaksikan apa yang terjadi di zaman ini. Dimana muslim dengan muslim bertengkar, bahkan saling membunuh gara-gara beda klub sepak bola atau gara-gara pilpres.



    Hadits itu lengkapnya sebagai berikut:



    “Dua bocah berkelahi. Bocah pertama dari golongan Muhajirin, dan yang kedua dari golongan Anshar. Akhirnya bocah pertama berteriak, “Wahai orang-orang Muhajirin!”.
    40 min
  • Bacaan di Belakang Imam

    Bacaan di Belakang Imam merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 16 Rajab 1445 H / 28 Januari 2024 M.







    Kajian Hadits Tentang Bacaan di Belakang Imam



    Kita sampai pada bab  القراءة خلف الإِمام (Bacaan di belakang Imam).



    Hadits 283:



    عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ ﵄ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاةَ الظُّهْرِ أَوْ الْعَصْرِ فَقَالَ أَيُّكُمْ قَرَأَ خَلْفِي بِـ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى) فَقَالَ رَجُلٌ أَنَا وَلَمْ أُرِدْ بِهَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ بَعْضَكُمْ خَالَجَنِيهَا. 



    Dari Imran bin Husain -semoga Allah meridhainya, Ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengimami kami shalat dzuhur atau ashar. Setelah shalat, beliau bertanya, ‘Siapa di antara kalian tadi yang di belakangku membaca (mengeraskan bacaan) Sabbihisma Rabbikal A’la?’ Maka ada seorang laki-laki berkata, ‘Aku, Hai Rasulullah, dan aku tidak menginginkan kecuali kebaikan.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Aku tahu bahwa sebagian kalian telah menggangguku dalam bacaan.'” (HR. Muslim)



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa terganggu dengan bacaan yang dikeraskan tersebut, padahal itu shalat dzuhur. Karena shalat dzuhur itu hendaknya disirrkan.



    Para ulama sepakat bahwa dalam bacaan shalat, wajib membaca Al-Fatihah bagi orang yang sendirian maupun yang menjadi imam. Adapun yang menjadi makmum, maka terjadi ikhtilaf para ulama. Apakah makmum wajib baca Al-Fatihah baik sirr maupun jahr, ataukah makmum tidak boleh membaca sama sekali baik sirr maupun jahr, ataukah makmum membaca saat sirr dan diam saat jahr? Ini, sebagaimana pernah saya sampaikan, dalam hal ini para ulama berbeda menjadi tiga pendapat.



    Pendapat pertama, mengatakan wajib membaca Al-Fatihah baik sirr maupun jahr, dan ini masyhur dalam Mazhab Syafi’i. Alasannya bahwa hadits tentang membaca al-fatihah itu sifatnya umum. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ



    “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Bukhari)



    Hadits ini bentuknya umum, masuk padanya imam maupun makmum, kata mereka. Mereka juga berhujah dengan hadits Ubadah bin Shamit. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat subuh, kemudian setelah selesai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



     لَعَلَّكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ قُلْنَا نَعَمْ هَذًّا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا



    “Sepengetahuanku, kalian membaca di belakang imam kalian.” Kata mereka: “Benar, hai Rasulullah.’ Kata Rasulullah, ‘Jangan kalian baca kecuali Al-Fatihah saja. Karena tidak sah shalat seseorang yang tidak membacanya.'” (HR. Abu Dawud)



    Kata mereka, ini nash yang sharih (tegas), yang menunjukkan bahwa Al-Fatihah wajib dibaca oleh makmum. Karena nabi mengatakan, ‘Jangan kamu baca kecuali Al-Fatihah.’



    Pendapat kedua, sebagian ulama mengatakan tidak disyariatkan sama sekali baik itu sirr maupun ketika jahr.
    58 min
  • Keistimewaan Kitab Shahih Al-Bukhari

    Keistimewaan Kitab Shahih Al-Bukhari merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 11 Rajab 1445 H / 23 Januari 2024 M.



    Sebelumnya: Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim







    Kajian Tentang Keistimewaan Kitab Shahih Al-Bukhari



    Seperti dalam pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, sebelum beliau menjawab pertanyaan tentang kitab terbaik dalam Islam yang bisa dipelajar, beliau menyebutkan beberapa kaidah penting bagi penuntut ilmu. Di antaranya, bahwa untuk menjawab pertanyaan ini, kita tidak bisa menemukan satu jawaban yang sama untuk semua orang. Jawabannya bisa berbeda dari orang ke orang, dari negeri ke negeri, dari satu tempat ke tempat yang lain. Kondisi umat Islam, para penuntut ilmu, dan santri tidak sama. Maka kita harus mempertimbangkan kondisi negara mereka, kondisi zaman mereka, kondisi tempat mereka belajar, sistem pelajaran, atau sistem menuntut ilmu yang ada di negeri mereka yang berbeda-beda.



    Kemudian, seorang penuntut ilmu hendaknya meminta tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat. Baik itu ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu ilmu agama, ataupun ilmu yang tidak diwariskan oleh Beliau. Namun, beliau menganjurkan umat Islam untuk belajar, yaitu ilmu duniawi yang bermanfaat, seperti teknik kedokteran, perkapalan, penerbangan, ekonomi, keperawatan, kebidanan, dan lain sebagainya.



    Juga, di antara hal pokok yang beliau jelaskan, poin yang ketiga adalah hendaknya seorang penuntut ilmu tidak hanya mempelajari hukum-hukum, tapi dia juga mempelajari Maqashid syariah, apa hikmah di balik syariat ini? Apa tujuan disyariatkannya hal ini dan hal itu? Dia hendaknya juga memiliki semangat untuk mempelajari hikmah dan Maqashid syariah ini.



    Kemudian, beliau menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu juga hendaknya berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam setiap permasalahan. Hendaknya dia punya dalil (landasan hukum) dalam setiap permasalahan yang diajarkan. Landasan hukum ini diambil dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Pertama, jika dia mendapati permasalahan yang disepakati sebagai ijma’ -dan ijma’ juga salah satu dalil- maka dia tidak boleh untuk menyelisihinya.



    Kedua, jika ada masalah ikhtilafiah, yaitu masalah yang diperselisihkan di antara para ulama, tapi ada nash dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam permasalahan itu, maka hendaknya dia mengambil pendapat yang didukung oleh nash atau dalil dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik berupa ayat Al-Qur’an maupun hadits yang shahih.



    Ketiga, permasalahan-permasalahan yang cukup pelik di antara para ulama, seperti permasalahan wajibkah orang yang makmum membaca di belakang imam yang shalat dengan dikeraskan. Kemudian apa kewajiban seorang yang hamil atau menyusui jika dia tidak berpuasa. Kemudian, permasalahan hukum menghirup air ke dalam hidung kemudian kita melepaskannya atau istinsyak. Ini adalah beberapa contoh yang terjadi perbedaan pendapat yang pelik dalam permasalahan itu dan barangkali tidak ada nash yang tegas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Untuk permasalahan-permasalahan seperti ini, beliau menyebutkan bahwa hendaknya seorang penuntut ilmu atau seorang alim memin...
    1 hr 11 min
  • Batilnya Angan-angan – Tafsir Surah Ali Imran 24

    Batilnya Angan-angan – Tafsir Surah Ali Imran 24 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 11 Rajab 1445 H / 23 Januari 2024 M.







    Download kajian sebelumnya: Kabar Gembira dengan Adzab yang Pedih – Tafsir Surah Ali Imran 21-22



    Batilnya Angan-angan – Tafsir Surah Ali Imran 24



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ



    “Yang demikian itu karena mereka berkata, ‘Kami tidak akan disentuh api neraka kecuali beberapa hari yang terhitung saja.’ Dan itu menipu mereka dalam agama mereka dengan apa yang mereka telah ada-adakan.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 24)



    Allah menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang tertipu dengan angan-angan. Syaikh Utsaimin Rahimahullah menjelaskan bahwa mereka tertipu dalam agama karena menyangka bahwa mereka berada di atas kebenaran, bahkan sebagian mereka sengaja menolak kebenaran padahal mereka tahu. Mereka berkata, “Kami tidak akan disentuh neraka kecuali beberapa hari saja.” Mereka ucapkan itu karena meremehkan neraka.



    Dari ayat ini, kita dapat mengambil faedah:



    Batilnya angan-angan



    Terkadang jiwa manusia memberikan angan-angan yang tidak mungkin terjadi. Orang-orang Yahudi itu berangan-angan bahwa mereka hanya akan masuk neraka untuk beberapa hari saja.



    Jangan bersandar kepada angan-angan



    Seorang insan jangan sampai dia bersandar kepada angan-angan. Perbuatan ini merupakan perbuatan orang Yahudi dan Nasrani. Banyak orang awam yang berbuat maksiat, lalu mereka berangan-angan, “Ah, gampang, nanti saya taubat. Allah Maha Pengampun kok.” Akhirnya mereka tertipu oleh pengampunan Allah. Mereka mengulur-ulur taubat, “Nanti aja, taubatnya kalau sudah tua. Mumpung masih muda.” Akhirnya, dengan angan-angan itu, mereka semakin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Sebagian dari mereka tertipu, katanya yang penting wafat di atas tauhid. Kalau wafat di atas tauhid, selama wafat tidak berbuat syirik, Allah akan mendatangkan ampunan sebesar dosa kita. Bukankah Allah berfirman dalam hadits Qudsi, “Hai anak Adam, kalau kamu datang kepadaKu membawa dosa sepenuh bumi, lalu kamu mati meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku, Aku akan datang kepada kamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi”? Orang ini tertipu. Dia berkata, “Kalau saya mati di atas tauhid, Allah akan datangkan kepada saya ampunan sebesar dosa saya.”



    Maka kita katakan, “Akhi, siapa yang menjamin bahwa kamu akan mati di atas tauhid? Siapa yang menjamin bahwa kamu akan mati di atas Laa ilaaha illallah?” Berapa banyak orang yang meremehkan maksiat malah diseret kepada kekufuran, akhirnya ia mati dalam keadaan su’ul khatimah. Bahkan, na’uzubillah, ia mati dalam keadaan kekafiran.



    Meremehkan maksiat itu bukan sifat orang yang beriman. Maksiat semakin diremehkan, semakin berat di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Yahudi beriman kepada hari kebangkitan



    47 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah