Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Penyucian Jiwa

    Penyucian Jiwa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin , 3 Rajab 1445 H / 15 Januari 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Penyucian Jiwa



    Dari sahabat Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Aku tidak akan menyampaikan kepada kalian kecuali apa yang dahulu diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terkadang berdoa:



    اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِنَ العَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ، وَعَذَابِ القَبْرِ، اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَن زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِن عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا.



    “Ya Allah, aku berlindung diri kepadaMu dari kelemahan, dari kemalasan, dari sifat penakut, sifat bakhil, dari masa tua yang buruk, dari azab kubur. Ya Allah, berikanlah jiwaku ketakwaannya, bersihkanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang membersihkannya, pelindung dan penolongnya. Ya Allah, aku berlindung diri kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusuk, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dan doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)



    Di dalam ini ada isyarat dan peringatan bahwasannya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui segala yang ghaib. Dan kunci penyucian jiwa yang terbesar adalah dengan berdoa, memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena perkara jiwa ini adalah perkara yang besar, urusan yang tidak kecil.



    Allah Ta’ala berfirman:



    وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ‎﴿١﴾‏ وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا ‎﴿٢﴾‏ وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا ‎﴿٣﴾‏ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا ‎﴿٤﴾‏ وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا ‎﴿٥﴾‏ وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا ‎﴿٦﴾‏ وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ‎﴿٧﴾‏ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ‎﴿٨﴾‏ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ‎﴿٩﴾‏ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ‎﴿١٠﴾



    “Demi matahari dan sinarnya di pagi hari, dan bulan yang mengiringinya, dan siang yang menampakkannya, dan malam apabila menutupnya dengan gelap gulitanya. Dan langit juga pembangunannya yang sangat indah, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya. Allah ‘Azza wa Jalla mengilhamkan ketakwaan dan kejahatannya sungguh beruntung orang yang mensucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams[91]: 1-10)



    Jiwa adalah tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat besar, yang sangat pantas untuk Allah bersumpah dengannya. Karena jiwa adalah sesuatu yang sangat lembut, sangat ringan, mudah berubah, mudah bergerak, mudah berganti, mudah terpengaruh dari keinginan, dari kecintaan, dari marah, dan sifat-sifat yang lainnya.



    Jika jiwa ini tidak ada, maka badan itu seperti patung yang tidak ada gunanya. Maka penciptaan jiwa ini adalah tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung.



    Firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sungguh beruntung orang yang mensucikannya,” asal kata الزّكاة adalah tambahan kebaikan.
    39 min
  • Penyalinan dan Penulisan Ilmu

    Penyalinan dan Penulisan Ilmu ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin , 3 Rajab 1445 H / 15 Januari 2024 M.







    Kajian tentang Penyalinan dan Penulisan Ilmu



    Kita sampai pada Talbis Iblis terhadap para sufi berkaitan dengan sikap mereka terhadap kitab, yaitu penyalinan dan penulisan ilmu. Ibnul Jauzi Rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat telah menulis sabda-sabda, tingkah laku, dan perbuatan-perbuatan, sifat-sifat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan syariat Islam itu dikumpulkan dari riwayat para sahabat satu dan yang lain.



    Nabi mengatakan dalam sebuah hadits yang shahih:



    نضَّر اللهُ امرأً سمِعَ مقالَتي فوَعاها فأدَّاها كما سمِعَها



    “Semoga Allah membuat berseri wajah seseorang yang mendengar perkataanku, kemudian dia memahaminya, dan dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar.” (HR. Ibnu Majah)



    Hadits ini menganjurkan kita untuk menyampaikan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa hadits-hadits beliau. Maka para sahabat menulis apa yang dikatakan nabi, mencatat apa yang disabdakan, bahkan mereka mencatat apa yang mereka saksikan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di samping itu juga merekam dengan hafalan apa yang mereka dengar dan saksikan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Menyampaikan hadits sesuai dengan apa yang didengar, hampir tidak bisa dilakukan kecuali dengan membaca dari tulisan, sebab menyampaikannya melalui hafalan terkadang lupa, karena tidak semua orang memiliki kekuatan hafalan yang sama. Maka, salah satu periwayatan hadits adalah periwayatan melalui tulisan, dan itu yang dilakukan oleh para ulama terdahulu. Mereka menyalin hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Ketika Ahmad bin Hambal Rahimahullah sedang menyampaikan hadits, seseorang meminta kepadanya: “Diktikanlah hadits itu untuk kami dari hafalanmu.” Imam Ahmad menjawab: “Tidak dari hafalanku, melainkan dari kitab (yaitu dari tulisan).” Jadi, beliau membacakan apa yang tertulis dari catatan-catatan hadits.



    Itu adalah Imam Ahmad yang kita kenal dengan kekuatan hafalannya. Disebutkan beliau menghafal 1 juta hadits. Tapi dalam periwayatan hadits kadang-kala juga bersandar dengan apa yang dicatat.



    Ali Ibnul Madini mengatakan: “Guruku Imam Ahmad bin Hambal, menyuruhku agar menyampaikan hadits melalui kitab (membacakannya dari tulisan).”



    Para sahabat Nabi telah meriwayatkan sunnah, lalu sunnah itu diterima oleh para tabi’in. Kemudian, para ahli hadits menempuh perjalanan jauh, ke timur maupun ke barat, untuk mendengarkan hadits dari berbagai sumber.



    Kemudian, mereka menshahihkan yang shahih dan mendhaifkan yang tidak shahih, yaitu memilah hadits, mengkritik, dan merekomendasikan para perawi-perawi hadits. Karena diriwayatkan dari orang ke orang, dari generasi ke generasi, maka perlu diketahui keadaan para perawi-perawi hadits ini. Itu yang dikenal dengan sebutan ilmu jarh wa ta’dil, ini salah satu cabang dari ilmu hadits, bahkan ini adalah ilmu yang sangat penting untuk menimbang dan menilai status sebuah hadits, shahih atau tidak shahih.



    Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga agama ini, sehingga terpelihara dari jamahan orang-orang yang...
    34 min
  • Bab Tidak Mengeraskan Bacaan Bismillahirrahmanirrahim

    Bab Tidak Mengeraskan Bacaan Bismillahirrahmanirrahim merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad , 2 Rajab 1445 H / 14 Januari 2024 M.







    Kajian Hadits Tentang Tidak Mengeraskan Bacaan Bismillahirrahmanirrahim



    Kita telah sampai pada باب: ترك الجهر ببسم الله الرحمن الرحيم (bab tidak mengeraskan bacaan bismillahirrahmanirrahim).



    Hadits 279:



    عَنْ أَنَسٍ ﵁ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ). 



    Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, demikian pula Abu Bakar, Umar, dan Utsman, aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca Bismillahirrahmanirrahim.” (HR. Muslim)



    Hadits ini dijadikan oleh jumhur sebagai dalil bahwa membaca Bismillahirrahmanirrahim itu tidak dikeraskan. Dan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dengan lafadz وكانوا يسرون (mereka mensirkan), yaitu tidak mengeraskan bacaan Bismillahirrahmanirrahim.



    Dalam hadits ini sangat jelas pernyataan dari Anas bin Malik bahwa Nabi, Abu Bakar, Umar, demikian pula Utsman, mereka tidak mengeraskan bacaan Bismillahirrahmanirrahim. Sedangkan mazhab Syafi’iyah berpendapat bahwa membaca Bismillahirrahmanirrahim itu hendaknya dijahrkan.



    Ketahuilah saudaraku sekalian tidak ada satupun hadits yang sharih yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika shalat mengeraskan bacaan “Bismillahirrahmanirrahim.” Hujah mereka yang paling kuat adalah hadits Nuaim bin Al-Mujammir, bahwa Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu mencontohkan shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu ia membaca “Bismillahirrahmanirrahim,” lalu membaca Al-Fatihah. Lalu kemudian Abu Hurairah mengatakan:



     إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ



    “Sesungguhnya aku yang paling menyerupai shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Hakim)



    Pada lafadz “Abu Hurairah membaca Bismillahirrahmanirrahim,” adalah riwayat yang terdapat padanya illat. Karena lafadz “membaca Bismillahirrahmanirrahim” bersendirian padanya seorang perawi, dimana diselisihi oleh 80 perawi yang mereka tidak menyebutkan lafadz “Bismillahirrahmanirrahim.” Sehingga pada waktu itu, penyebutan “Bismillahirrahmanirrahim” ini bisa dikategorikan sebagai riwayat yang syadz.



    Kalaupun misalnya kita katakan bahwa riwayat itu sahih, akan tetapi kita bisa katakan bahwa: Pertama, disitu Abu Hurairah hanya mengatakan “membaca Bismillahirrahmanirrahim,” dan tidak dikatakan di situ bahwa Abu Hurairah mengeraskannya. Yang kedua, atau bisa jadi sekali-kali beliau mengeraskan untuk mengajarkan bahwa “Bismillahirrahmanirrahim” termasuk yang dibaca, bukan secara terus-menerus membacanya.



    Oleh karena itu, pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur yang mengatakan bahwa “Bismillahirrahmanirrahim” tidak dikeraskan, tapi disirkan.



    Lalu apakah “Bismillahirrahmanirrahim” merupakan ayat tersendiri yang tidak masuk dalam surah manapun kecuali An-Naml,
    1 hr 1 min
  • Shalat Istisqa’

    Shalat Istisqa’ ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin , 3 Rajab 1445 H / 15 Januari 2024 M.







    Download kajian sebelumnya: Shalat Kusuf (Gerhana)



    Kajian Tentang Shalat Istisqa’



    Shalat istisqa’ adalah shalat yang dilakukan untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diturunkan hujan, karena tidak turunnya hujan dalam waktu yang lama, dan manusia merasakan kekeringan yang nyata. Inilah hakikat dari shalat istisqa’.



    Shalat istisqa’ adalah sunnah yang sangat agung. Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa shalat istisqa’ termasuk di antara dalil yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ada, dan ini bisa menjadi bukti yang sangat kuat serta jawaban yang sangat telak bagi mereka yang tidak mengakui adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Kenapa ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ada? karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan hujan dan yang mengatur alam semesta. Banyak sekali kejadian-kejadian baik di awal Islam maupun di zaman kita yang menunjukkan ketika seseorang melakukan shalat istisqa’, dia benar-benar menundukkan dirinya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta kepada Allah dengan menyebut namaNya agar Allah menurunkan hujan. Akhirnya, setelah itu turun hujan, yang tadinya dalam waktu yang lama tidak pernah turun hujan. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala dipanggil untuk menurunkan hujan, turunlah hujan. Ini bukti yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu benar-benar ada; Dialah yang menurunkan hujan, Dialah yang mengatur alam semesta ini.



    Ada perbedaan antara istisqa’ dengan shalat istisqa’. Istisqa’ adalah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan hujan, sedangkan shalat istisqa’ adalah shalat yang dilakukan untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah menurunkan hujan. Jadi, istisqa’ itu lebih luas maknanya daripada shalat istisqa’, karena istisqa’ tidak harus dengan shalat; bisa hanya dengan doa saja, sedangkan shalat istisqa’ harus ada shalatnya.



    Para ulama itu sepakat bahwa istisqa’ (meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah menurunkan hujan) itu disyariatkan. Adapun shalat istisqa’ diperselisihkan oleh para ulama tentang disyariatkannya. Imam Abu Hanifah Rahimahullah berpendapat bahwa shalat istisqa’ tidak disyariatkan, sedangkan tiga mazhab yang lain, yaitu mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali, mengatakan bahwa shalat istisqa’ itu disyariatkan. Dan tentunya yang lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama dari tiga mazhab. Begitu pula, sebagian ulama dalam mazhab Hanafi yang mengatakan bahwa shalat istisqa’ dianjurkan. Kenapa ini lebih kuat? Karena banyak dalil-dalil yang menunjukkan akan hal tersebut.



    Di antara yang menunjukkan bahwa shalat istisqa’ itu disyariatkan adalah hadits dari pamannya Abbad bin Tamim Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:



    خرج النبي صلى الله عليه وسلم إلى المصلى يستسقي، واستقبل القبلة فصلَّى ركعتين، وقَلَب رِدَاءه: جعل اليمن على الشمال



    1 hr 8 min
  • Pekerjaan yang Boleh Dilakukan oleh Seorang Wakil

    Pekerjaan yang Boleh Dilakukan oleh Seorang Wakil merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Syarah ‘Umdatul Fiqih. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 29 Jumadal Akhir 1445 H / 11 Januari 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Pekerjaan yang Boleh Dilakukan oleh Seorang Wakil



    Setelah menjelaskan maksud dari akad wakalah, status akad wakalah yang sifatnya jaiz (tidak mengikat), sekarang Mualif melanjutkan tentang apa yang boleh dilakukan oleh seorang wakil yang menerima hak kuasa dari muwakkil.



    Berkata penulis Rahimahullahu Ta’ala bahwa skop area dari pekerjaan yang boleh dilakukan oleh seorang wakil yang menerima kuasa hanya pada batasan yang diizinkan oleh muwakkil, baik dengan cara lafadz dengan ucapannya atau menjadi kebiasaan.



    Umpamanya seorang yang punya usaha atau punya toko, lalu dia mengatakan kepada adiknya: “Tolong lihatkan toko selama 2 jam, Abang ada keperluan keluar.” Maksud kata “lihatkan toko” di sini adalah kalau ada orang belanja dilayanin, dilakukan transaksi jual beli, jika datang supplier barang maka diterima barangnya dan dibayarkan imbalan dari barang tersebut. Itu secara urf.



    Kalau secara lafadznya, misalnya dia mengatakan: “Abang sedang ada keperluan selama 2 jam, ini datang orang belanja yang tunai jual.” Dari kalimat ini dipahami bahwa kalau belanjanya berhutang maka tidak boleh, karena itu tidak masuk dalam lafadznya.



    Misalnya juga dia berkata: “Jika ada orang yang datang masuk barang, kalau yang sudah biasa masuk, silakan kamu terima, ambil uang untuk pembayaran barang-barang yang sudah laku.” Dari sini dipahami bahwa pemasok barang yang baru maka jangan diterima. Dia hanya boleh melakukan sesuai yang dilafadzkan. Karena sahnya perbuatan wakil berdasarkan kuasa yang diberikan oleh muwakkil. Bila dia memberikan kuasa secara teks, berarti hanya itu. Bila tidak dengan teks atau ucapan, berarti kembali kepada urf. Ini yang dikatakan oleh para ulama:



     المعروف عرفاً كالمشروط شرطاً



    “Sesuatu yang menjadi kebiasaan, maka dia menjadi sebuah persyaratan.”



    Kemudian apa yang tidak boleh dilakukan oleh wakil? Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Pekerjaan yang Boleh Dilakukan oleh Seorang Wakil” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.


    1 hr 7 min
  • Kabar Gembira dengan Adzab yang Pedih – Tafsir Surah Ali Imran 21-22

    Kabar Gembira dengan Adzab yang Pedih – Tafsir Surah Ali Imran 21-22 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 27 Jumadal Akhir 1445 H / 09 Januari 2024 M.







    Download kajian sebelumnya: Agama Disisi Allah Hanya Islam – Tafsir Surah Ali Imran 19



    Kabar Gembira dengan Adzab yang Pedih – Tafsir Surah Ali Imran 21-22



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



     إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ 



    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi dengan tanpa haq dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka berikan kabar gembira untuk mereka dengan adzab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 21)



    أُولَٰئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ 



    “Mereka itu adalah orang-orang yang amalnya batal di dunia dan akhirat, dan mereka tidak akan mendapatkan penolong seorangpun juga.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 22)



    Di sini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang akhlak orang-orang Yahudi. Orang Yahudi itu suka membunuh para nabi. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah…” Ayat-ayat Allah itu terbagi menjadi dua: ayat-ayat yang bersifat kauniyah dan syariyyah.



    Ayat-ayat kauniyyah adalah yang kita saksikan di alam semesta ini, dimana manusia tidak mungkin bisa menciptakannya. Manusia tidak bisa menciptakan bumi, pepohonan, hewan-hewan. Jangankan hewan yang besar, seekor nyamuk pun manusia tidak mampu menciptakannya, seekor lalat pun manusia tidak bisa menciptakannya. Bagaimana dengan makhluk-makhluk yang lebih besar dari itu? Itu termasuk ayat yang menunjukkan tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuat manusia lemah tidak mampu.



    Adapun ayat syariyyah, yaitu ayat-ayat yang Allah turunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidak mungkin juga manusia untuk membuat yang sama dengannya. Allah menantang seluruh manusia, silakan membuat satu surah saja yang sama dengan Al-Qur’an. Sampai detik ini, tidak ada yang mampu. Walaupun surat yang paling pendek sekalipun. Allah juga berfirman:



     قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا



    “Katakanlah: ‘Kalaulah manusia dan jin bersatu padu untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya, walaupun mereka saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.'” (QS. Al-Isra'[17]: 88)



    Maka ini disebut “ayat” karena membuat manusia lemah. Dia tidak bisa melakukannya. Ini menunjukkan akan kebesaran dan kekuasaan Allah.



    Di ayat ini Allah mengatakan “Orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah…” Kafir kepada ayat-ayat Allah yang sifatnya kauniyyah yaitu dia mengingkari bahwa Allah yang menciptakan alam semesta,
    50 min
  • Anjuran Mengcross-Check Berita Sebelum Menyebarkan

    Anjuran Mengcross-Check Berita Sebelum Menyebarkan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 27 Jumadal Akhir 1445 H / 09 Januari 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Haramnya Mengarang Mimpi







    Kajian Tentang Anjuran Mengcross-Check Berita Sebelum Menyebarkan



    Kata Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala باب الحثّ عَلَى التثبت فيما يقوله ويحكيه (Bab anjuran agar seseorang mengcross-check berita atau perkataan yang diucapkannya atau yang diceritakan kepada orang lain).



    Seseorang wajib memeriksa apakah sebuah berita benar atau tidak. Misalnya, seseorang mendapat berita melalui medsos atau yang lainnya. Kemudian, berita itu tidak jelas akan kebenarannya. Kita diperintahkan oleh agama Allah untuk cross-check berita itu sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Ini sangat penting, apalagi kita hidup di era medsos yang mencakup hampir seluruh kalangan manusia. Medsos ini menyebabkan apa yang kita dengar terkadang ada yang benar, ada yang tidak benar. Dan terkadang hanya melalaikan kita dari mengingat Allah dan membuang-buang waktu dan umur.



    Oleh karena itu, sudah seyogianya kita lebih selektif dalam menerima informasi, karena di medsos itu kebanyakan orang-orang yang kita tidak kenal. Kita hanya mengetahui sebagian dari mereka. Demikian pula, (kita juga tidak mengetahui) apa motivasi mereka dalam mengirim berita. Oleh karena itu, mari kita betul-betul selektif, betul-betul kita cross-check apabila ada informasi atau berita yang kita ragu terhadap berita tersebut atau kita mendapatkan dari orang yang tidak kita kenal atau yang lainnya. Agama kita telah mengatur semuanya karena apa yang diucapkan dan disampaikan kepada orang lain akan menjadi pertanggungjawaban kita.



    Ini telah disebutkan oleh Al-Qur’anul Karim, di antaranya firman Allah dalam Surah Al-Isra’ ayat yang ke-36. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:



    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا



    “Dan jangan kamu berbicara sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati ini akan ditanya oleh Allah Taala.” (QS. Al-Isra'[17]: 36)



    Hendaknya kita berbicara apa yang kita ketahui, yang kita mempunyai ilmu tentangnya. Adapun yang kita tidak mempunyai ilmu tentangnya, jangan berbicara, karena semua akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat kelak. Itu latar belakangnya mengapa kita dilarang berbicara tanpa ilmu, dilarang menyampaikan informasi tanpa ada kepastian akan kebenaran informasi yang kita sampaikan kepada orang lain.



    Ini telah diingatkan oleh Al-Qur’anul Karim sebelum ada peringatan-peringatan tentang hoax, yang itu menjadi Peraturan Pemerintah. Makanya benar, Islam ini adalah agama untuk semua kalangan, siapapun manusia, dan dimanapun dia, serta kapanpun, Islam tetap relevan dengan zaman, karena Islam adalah agama terakhir yang Allah turunkan kepada RasulNya yang terakhir, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Kemudian, juga Allah Taala berfirman tentang pertanggungjawaban ini dalam Surah Qaf ayat ...
    1 hr 11 min
  • Mengasah Keterampilan Berdialog

    Mengasah Keterampilan Berdialog merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 27 Jumadal Akhir 1445 H / 09 Januari 2024 M.







    Kajian Tentang Mengasah Keterampilan Berdialog



    Berdialog adalah suatu keterampilan. Tidak semua orang punya keterampilan di dalam berdialog; ada yang memang bakat alami karena kemampuan verbalnya di atas rata-rata, ada yang perlu latihan dan belajar.



    Terutama ketika menjadi orang tua, kita perlu berdialog dengan anak-anak, terutama anak remaja. Dia sebentar lagi akan menjadi manusia dewasa, akalnya pun sudah semakin matang dan sempurna. Jadi, tidak bisa hanya dengan percakapan satu arah, tapi kita perlu berdialog dengan anak-anak remaja.



    Untuk mengasah keterampilan berdialog dengan anak remaja, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, di antaranya adalah:



    Pertama, selalu ingat bahwa celaan di tengah dialog akan membuat pihak lain seolah menjadi tertuduh dan terintimidasi. Akibatnya, dia terdorong untuk meninggalkan dialog atau melakukan perlawanan. Kemudian, kita pun bereaksi dengan tuduhan dia melawan, sehingga buntu percakapan dialog itu. Kadang-kadang, kita yang memulai perlawanan dengan melontarkan celaan atau kata-kata merendahkan. Ini perlu dihindari, karena seorang mukmin tidak suka mencela. Kewajiban kita adalah menutupi dan memperbaiki kekurangan manusia, bukan mencela.



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ



    “Seorang Mukmin bukanlah seorang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya.)



    Lihat juga: Menghindari Celaan dan Cacian kepada Anak



    Hindari kata-kata celaan atau yang merendahkan lawan bicara, walaupun dia adalah anak remaja kita.



    Sebagai orang tua, kita mungkin merasa ada di atas angin dan cenderung mengintimidasi lawan bicara yang merupakan anak kita. Siapapun tidak suka terintimidasi, maka berikanlah ruang dan jangan dipersempit dengan celaan. Hindari sifat suka mencela, karena secara umum itu tidak baik. Celaan-celaan di sela-sela dialog dapat mengakhiri dialog atau merusaknya. Oleh karena itu, jangan dilakukan celaan atau kata-kata yang merendahkan atau menghinakan dalam dialog.



    Kedua, “eye contact” maksudnya adalah menghadapi lawan bicara dengan menatapnya. Jadi, tidak melengos dengan bicara menghadap dinding, atau menghadap ke arah yang lain. Sehingga, kadang-kadang pesan itu tidak tersampaikan dengan baik. Oleh karena itu, di dalam khutbah Jumat, makmum tidak menghadap dinding atau menghadap ke arah yang lain. Mereka menghadap ke imam yang sedang berkhutbah dan menatapnya, sehingga lebih mudah memahami apa yang dikatakannya.



    Ketika berdialog, perlu saling menatap untuk menunjukkan keseriusan dalam pembicaraan dan keinginan menyampaikan sesuatu yang harus dipahami. Jika kita bicara sambil menghadap ke arah yang lain, itu bisa membuat dialog menjadi seperti semi monolog.



    Metode ini sesuatu yang dilakukan oleh Nabi. Nabi selalu menghadap lawan bicara sebagai etika dan adab berbicara. Ini perlu diterapkan juga ketika berdialog dengan anak-anak.
    48 min
  • Setan Menggangu Makanan dan Minuman Manusia

    Setan Menggangu Makanan dan Minuman Manusia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 26 Jumadal Akhir 1445 H / 08 Januari 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Cara Iblis Menggangu Manusia







    Kajian Tentang Setan Menggangu Makanan dan Minuman Manusia



    Dalam pertemuan yang lalu, ada empat hal yang sudah saya sampaikan dari kitab ini. Yaitu:




    * Gangguan setan terhadap manusia dari sisi aqidahnya. Ini adalah agar manusia menjadi kufur, ingkar, kafir, dan musyrik.



    * Jika tidak kafir dan tidak menjadi musyrik, gangguannya beralih ke ibadahnya. Ibadahnya diganggu, sehingga tidak tenang.



    * Mengganggu Manhaj. Iblis berusaha memalingkan manusia dari Manhaj yang lurus. Maka, jangan heran, jika Manhaj Salaf ini diperangi oleh setan dan keturunannya beserta bala tentaranya. Setan dari kalangan jin dan manusia menyerang Manhaj yang haq ini, terus mencela Manhaj ini dengan julukan-julukan yang membuat orang lari.



    * Setan dan bala tentaranya mengganggu manusia dari sisi badan atau jasmaninya.




    Inilah yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang keluar dari lisan Rasul, jika shahih, maka itu kebenaran.



    Oleh karena itu, ketika kita menguap, setan ingin masuk. Jika kita menguap, jangan membuka mulut, melainkan tutup. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:



    إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَضَعْ يَدَهُ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مَعَ التَّثَاؤُبِ



    “Apabila salah satu di antara kalian menguap, maka hendaklah menaruh tangannya di mulutnya karena setan akan masuk bersama uapannya.” (HR. Ahmad)



    Setan juga mencoba untuk mengganggu tubuh manusia dengan kesurupan. Seperti kisah yang telah kita baca tentang Utsman bin Abi Al-Ash yang dimasuki oleh setan. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan setan itu keluar dari tubuhnya, beliau bersabda:



    اخْرُجْ عَدُوَّ اللَّهِ



    “Keluarlah, wahai musuh Allah!”



    5. Menggangu makanan dan minuman manusia



    Setan ingin makan dan minum bersama manusia, jika manusia tidak menyebut nama Allah sebelum makan. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ حَتَّى يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمْ اللُّقْمَةُ فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ فَإِذَا فَرَغَ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ تَكُونُ الْبَرَكَةُ



    “Sesungguhnya setan hadir pada salah seorang di antara kalian dalam segala urusannya, termasuk ketika dia makan. Apabila jatuh satu suapan makanan salah seorang di antara kalian, ambillah lalu buang kotorannya dan makan bagian yang bersih. Jangan dibiarkan untuk setan, apabila telah selesai hendaklah dia jilati jari-jemarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa keberkahan.” (HR. Muslim)



    1 hr 1 min
  • Memperbaiki Hati dengan Tafakkur

    Memperbaiki Hati dengan Tafakkur adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 26 Jumadal Akhir 1445 H / 08 Januari 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Memperbaiki Hati dengan Tafakkur



    Dari sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    تَفَكَّرُوْا فِيْ أَلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِيْ اللهِ



    “Renungkanlah nikmat-nikmat Allah. Janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah.” (HR. Thabrani dan Al-Baihaqi)



    Bertafakkur, atau merenungi ciptaan-ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, nikmat-nikmat Allah ‘Azza wa Jalla adalah ibadah hati. Ibadah hati yang mempunyai manfaat dan pengaruh yang sangat baik, mempunyai buah-buah yang tidak terhitung banyaknya. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang menganjurkan dan memotivasi kita untuk selalu bertafakkur. Ayat-ayat tersebut menjelaskan besarnya kedudukan tafakkur, agungnya dan tingginya kedudukan ibadah tafakkurini. Serta besarnya manfaat yang didapatkan oleh orang yang selalu bertafakkur.



    Juga, ayat-ayat tersebut memuji tentang orang-orang yang selalu memikirkan tentang ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:



    …كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ



    “Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayatNya agar kalian memikirkan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 219)



    Juga, firman Allah:



    إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ



    “Pada hal itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah[45]: 13)



    Juga, firman Allah:



    أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنفُسِهِم…



    “Tidak kah mereka merenungi tentang diri mereka sendiri?” (QS. Ar-Rum[30]: 8)



    Juga, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:



    …كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ



    “Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat untuk kaum yang berpikir.” (QS. Yunus[10]: 24)



    Juga, firman Allah:



    …وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ



    “Demikianlah perumpamaan-perumpamaan yang Kami buat untuk manusia agar mereka berfikir.” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 21)



    Dan ayat-ayat yang semakna dengan ayat-ayat yang dibacakan tadi sangat banyak sekali.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, memuji para waliNya yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Ulul Albab (orang-orang yang selalu berpikir). Allah menjelaskan tingginya kedudukan mereka dan indahnya perbuatan mereka yang selalu bertafakkur, dengan FirmanNya:



    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ 



    “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi,
    42 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah