Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Wakalah

    Wakalah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Syarah ‘Umdatul Fiqih. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 15 Jumadal Akhir 1445 H / 28 Desember 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Wakalah



    Wakalah diperbolehkan dalam setiap urusan yang diperbolehkan diwakilkan di dalamnya. Setiap perkara atau urusan yang diperbolehkan di dalam pelaksanaan untuk diwakilkan kepada selainnya maka diperbolehkan untuk diwakilkan kepadanya. Hal ini seperti mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji dari seseorang yang tidak memiliki kemampuan dari sisi jasmani atau badannya, dalam jual beli, sewa, dan pinjam, menyelesaikan persengketaan, akad nikah, talaq, khulu’, melepaskan sebagian hak, membebaskan budak, jaminan, perdamaian, atau yang semisalnya.



    Wakalah diperbolehkan sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    …فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ مِّنْهُ…



    “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu.” (QS. Al-Kahfi[18]: 19)



    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewakilkan pada sebagian ibadah seperti penyembelihan kurbannya, dan mewakilkan pada sebagian muamalat, sebagaimana perwakilan beliau kepada Urwah bin Jaad Al-Bariqi dalam jual beli.



    Tidak diperbolehkan memberikan perwakilan kepada perkara-perkara yang tidak diperbolehkan seseorang untuk mewakilkannya, seperti dalam sumpah, nadzar, li’an suami dan istri. Karena mewakilkan perkara ini merupakan perkara yang haram dan tidak sah.



    Allah memberikan kita keterbatasan dalam hidup. Sampai manusia terbaik yang pernah berjalan di muka bumi Allah ini pun tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan sendirinya. Dalam ibadah pernah beliau mewakilkan, dalam bermuamalat beliau pun mewakilkan. Apalagi kita.



    Maka ini kebutuhan manusia. Dan dalam agama kita ada ketentuannya. Apalagi hidup di akhir zaman seperti ini. Di mana perdagangan sangat mudah dilakukan. Maka mempelajari wakalah ini merupakan sangat penting agar mendapatkan harta dengan yang halal.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari Download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Wakalah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.


    1 hr 36 min
  • Kedudukan Ihsan

    Kedudukan Ihsan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 12 Jumadal Akhir 1445 H / 25 Desember 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Kedudukan Ihsan



    Pada pertemuan sebelumnya, kita telah membahas hadits Umar Bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang menceritakan datangnya Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bentuk manusia sempurna dan bertanya. Padahal, ketika itu Malaikat Jibril sebenarnya ingin mengajarkan para sahabat tentang perkara agama. Di antara pertanyaan-pertanyaan Malaikat Jibril, ia mengatakan: “Beritahukan kepadaku apa itu Ihsan?” Jawab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



     أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. 



    “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan jika tidak mampu, maka ketahuilah bahwa Allah melihatmu.”



    Tingkatan Ihsan adalah tingkatan yang paling tinggi dalam agama ini. Orang-orang yang mencapai tingkatan ini adalah mereka yang telah menyempurnakan tingkatan-tingkatan agama, orang-orang yang berlomba-lomba melakukan kebaikan, didekatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mencapai derajat yang sangat tinggi. Inilah inti dari keimanan. Ihsan adalah ruh dan kesempurnaan iman.



    Yang dimaksud dengan Ihsan artinya seseorang benar-benar memperbaiki dan menyempurnakan, yaitu melakukan ibadah dengan cara yang paling sempurna dan terbaik, lahir maupun batin, tersembunyi maupun terang-terangan.



    Maka orang-orang Muhsin dari hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah mereka yang menyempurnakan dan memantapkan ibadah mereka. Mereka melaksanakannya secara sempurna dari semua sisi, baik lahir maupun batin, tersembunyi maupun terang-terangan. Hal ini dikarenakan baiknya hati-hati mereka dan besarnya perasaan mereka yang merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika beribadah dan melakukan suatu amalan. Mereka beribadah seakan-akan mereka melihat Allah. Orang yang mencapai derajat tertinggi dalam murqabah, yaitu orang-orang yang hati-hati mereka selalu hadir dan jauh dari kelalaian.



    Telah disebutkan kata Ihsan dalam Al-Qur’an Karim di banyak ayat. Dalam Al-Qur’an, terkadang kata Ihsan ini dibarengi dengan kata Iman. Terkadang dengan kata takwa. Terkadang disebutkan secara bersamaan iman, takwa, dan Ihsan. Terkadang dikaitkan dengan jihad. Terkadang dibarengkan dengan berinfak di jalan Allah. Terkadang dibarengkan dengan Islam, terkadang dibarengkan dengan amal shalih.



    Secara umum, di antara ayat-ayat tersebut, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:



    لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوا وَّآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوا وَّآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوا وَّأَحْسَنُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ



    “Tidak ada dosa bagi orang-orang beriman dan beramal shalih dari apa yang mereka makan dahulu (yang dahulu dibolehkan, tapi kemudian diharamkan, seperti khamr), jika mereka bertakwa, beriman, beramal shalih,
    47 min
  • Berlaku Adil kepada Anak

    Berlaku Adil kepada Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 12 Jumadal Akhir 1445 H / 25 Desember 2023 M.







    Kajian Tentang Berlaku Adil kepada Anak



    Kembali kita membahas fikih pendidikan anak, kali ini masuk ke seri nomor 186 dengan tema “Berlaku Adil kepada Anak.”



    Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan, dalam segala hal. Baik dari rakyat kepada penguasa, penguasa kepada rakyat, suami kepada istri, istri kepada suami, atasan kepada bawahan, dan sebaliknya. Termasuk dalam hal ini, orang tua harus bersikap adil kepada anak-anaknya. Laki-laki atau perempuan, yang tampan atau tidak tampan, yang cantik atau tidak cantik, yang cerdas atau kurang cerdas, yang sempurna fisiknya ataupun yang kurang sempurna fisiknya, harus diperlakukan secara adil.



    Semua anak harus diperlakukan secara adil. Orang tua tidak boleh bersikap berat sebelah, misalnya ketika anak yang sukses dan berprestasi diakui dan dibanggakan, sedangkan anak yang miskin dan tidak berprestasi diabaikan. Hal ini termasuk tidak adil dalam Islam.



    Bersikap adil kepada anak-anak adalah kewajiban, bukan sekadar sunnah. Berarti orang tua yang tidak bersikap adil bisa berdosa, karena meninggalkan suatu amalan yang diwajibkan, sama halnya dengan meninggalkan kewajiban shalat.



    Adil itu wajib, bukan sekadar sunnah. Wajib karena jika orang tua bersikap tidak adil, berarti dia telah meninggalkan kewajiban dan berdosa. Adil dapat terwujud dalam berbagai hal, seperti dalam pemberian materi. Materi bisa berupa uang, mobil, baju, rumah, atau tanah, yang semuanya termasuk dalam kategori materi.



    Adil tidak hanya terkait dengan hal-hal materi, melainkan juga dalam hal-hal yang bersifat non-materi. Contoh materi telah diberikan sebelumnya, sedangkan non-materi dapat berupa ekspresi kasih sayang. Sebagai contoh, ungkapan kasih sayang dengan kata-kata, seperti mengatakan: “Aku sayang banget sama kamu,” adalah bentuk ekspresi kasih sayang.







    Namun, dalam hal ini, penting untuk bersikap adil. Jika kita menyatakan ekspresi kasih sayang kepada salah satu anak, sebaiknya kita juga menyatakan hal yang sama kepada anak-anak yang lain. Mengungkapkan kasih sayang secara adil kepada semua anak adalah suatu keharusan, agar tidak ada yang merasa dikesampingkan atau tidak diakui.



    An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma bercerita,



    سَأَلَتْ أُمِّي أَبِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِي مِنْ مَالِهِ، ثُمَّ بَدَا لَهُ فَوَهَبَهَا لِي، فَقَالَتْ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَ بِيَدِي وَأَنَا غُلَامٌ، فَأَتَى بِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنَّ أُمَّهُ بِنْتَ رَوَاحَةَ سَأَلَتْنِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِهَذَا، قَالَ: «أَلَكَ وَلَدٌ سِوَاهُ؟»، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأُرَاهُ، قَالَ: «لَا تُشْهِدْنِي عَلَى جَوْرٍ»



    Suatu hari ibuku meminta dari ayahku agar memberiku sebagian dari hartanya. Beliaupun mengabulkan permintaan tersebut. Ternyata ibuku berkata: “Aku tidak rela, hingga engkau menjadikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai saksi atas pemberian ini”. Maka ayahku menggandeng tanganku—saat itu aku masih kecil—hingga datang menghadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ayahku berkata: “Putri Rawahah; ibu anak ini meminta padaku agar memberi anaknya pemberian”.
    55 min
  • Makmum Mengikuti Imam

    Makmum Mengikuti Imam merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 11 Jumadal Akhir 1445 H / 24 Desember 2023 M.







    Kajiadan Hadits Tentang Makmum Mengikuti Imam



    Hadits 276:



     عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ﵁ قال: سَقَطَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ فَرَسٍ فَجُحِشَ شِقُّهُ الْأَيْمَنُ فَدَخَلْنَا عَلَيْهِ نَعُودُهُ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَصَلَّى بِنَا قَاعِدًا فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ قُعُودًا فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُينَ.



    Dari Anas bin Malik semoga Allah meridhainya, ia berkata: “Nabi ﷺ pernah terjatuh dari kuda sehingga kaki bagian kanannya terluka. Kami datang untuk mengunjunginya. Waktu shalat tiba, beliau melaksanakan shalat dalam keadaan duduk. Kami pun shalat di belakang beliau dalam keadaan duduk. Ketika telah selesai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Imam itu dijadikan untuk diikuti. Apabila ia telah bertakbir, maka bertakbirlah. Apabila ia telah sujud, maka sujudlah. Apabila dia telah bangkit, maka bangkitlah. Apabila imam mengucapkan, ‘Sami’allahu liman hamidah,’ ucapkanlah, ‘Rabbana wa lakal hamd.’ Apabila imam shalat dalam keadaan duduk, maka hendaklah kalian shalat juga dalam keadaan duduk.'” (HR. Muslim)



    Dari hadits ini, kita dapat mengambil beberapa faedah:



    Pertama, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suka dan menganjurkan untuk belajar berkuda.



    Kedua, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia biasa, menimpa beliau sebagaimana halnya manusia yang lainnya. Beliau jatuh dari kudanya dan terluka.



    Ketiga, bolehnya shalat dalam keadaan duduk bagi mereka yang tidak mampu berdiri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ



    “Shalatlah dalam keadaan berdiri, jika tidak mampu maka duduk, jika tidak mampu maka di atas rusuk yang kanan.” (HR. Bukhari)



    Keempat, hadits ini menunjukkan wajibnya makmum mengikuti imam. Dan disebut “mengikuti” apabila imam telah bertakbir, maka makmum langsung bertakbir. Apabila imam telah ruku, tunggu imam sampai ruku sempurna, baru kemudian makmum turun ruku. Apabila imam telah mengangkat, tunggu imam sampai berdiri dulu, baru kemudian kita berdiri. Ketika imam telah sujud, biarkan imam sampai sujud dulu kemudian baru kita kemudian turun sujud. Itulah yang disebut dengan mengikuti imam.



    Adapun kalau imam turun kemudian kita ikut turun, padahal imam belum sujud lalu kemudian kita ikut turun, maka ini terlarang. Karena ini namanya berbarengan dengan imam, bukan mengikuti imam. Yang diperintahkan adalah mengikuti.



    Makanya sudah pernah saya sampaikan bahwa ada tiga perkara yang tidak boleh, yaitu mendahului imam dimana ini jelas dosa besar, berbarengan dengan imam, dan terlambat dari imam. Tiga perkara ini terlarang. Karena tidak sesuai dengan makna mengikuti imam.



    Kelima,
    1 hr 6 min
  • Khutbah Jumat: Allah Tidak Pernah Melahirkan dan Tidak Pernah Dilahirkan

    Khutbah Jumat: Allah Tidak Pernah Melahirkan dan Tidak Pernah Dilahirkan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 9 Jumadal Akhir 1445 H / 22 Desember 2023.







    Khutbah Jumat Pertama: Allah Tidak Pernah Melahirkan dan Tidak Pernah Dilahirkan



    Ada sebuah surah; siapapun yang mencintainya, maka cintanya itu membuatnya masuk ke dalam surga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika bertanya kepada seorang sahabat yang senantiasa dalam shalatnya menutup dengan surah Al-Ikhlas setiap rakaatnya, maka beliau bersabda: “Kenapa kau lakukan itu?” Apa kata sahabat ini? “Aku mencintai surah ini, Hai Rasulullah.” Maka Rasulullah bersabda:



    حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ



    “Cintamu kepada surah ini membuat kamu masuk ke dalam surga.” (HR. Bukhari)



    Al-Ikhlas adalah surah yang sangat agung, surah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرآنِ



    “Sesungguhnya, ia sama dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)



    Ia merupakan surah yang memberitakan kepada kita tentang keesaan Allah. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tunggal, Allah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi. Allah berfirman:



    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ‎﴿١﴾‏



    “Katakanlah: ‘Allah Yang Tunggal (yang Esa).'” (QS. Al-Ikhlas[112]: 1)



    Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi, Dia satu-satunya Pencipta langit dan bumi, Dia satu-satunya pemberi rezeki kepada manusia, Dia satu-satunya yang memberikan kenikmatan, yang bisa memberikan manfaat dan menolak mudarat. Dia satu-satunya Dzat yang bisa mengijabah doa. Maka, Dia satu-satunya Dzat tempat kita berdoa, tempat kita bertawakal, tempat kita berkeluh kesah.



    Jadikanlah Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya Dzat yang kita benar-benar cintai, melebihi yang lainnya. Yang benar-benar kita takuti melebihi yang lainnya, karena Dia Ahad, Dia Tunggal. Tidak ada yang bersekutu dengan Allah dalam penciptaan langit dan bumi. Tidak ada sama sekali. Tidak ada yang bisa memberikan kepada manusia rezeki dan kenikmatan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    اللَّهُ الصَّمَدُ ‎﴿٢﴾‏



    “Allah adalah tempat bergantung seluruh makhluk.” (QS. Al-Ikhlas[112]: 2)



    Semua makhluk membutuhkan karunia Allah. Tidak ada satu pun di antara kita kecuali pasti membutuhkan karunia Allah. Siapakah di antara kita yang berani berkata: “Saya tidak butuh rahmat Allah, saya tidak butuh karunia Allah, saya tidak butuh rezeki dari Allah,” sementara setiap detiknya kita merasakan nikmat Allah.



    Lihatlah bagaimana kita bernafas, setiap detiknya. Lihatlah bagaimana kita melihat, setiap saatnya? Setiap darah yang mengalir itu nikmat dari Allah Rabbul ‘Alamin. Adakah makhluk yang tidak membutuhkan karunianya? Jawabnya tidak ada. Seluruhnya butuh kepada karunia Allah Rabbil ‘Alamin.



    Kemudian Allah berfirman:



    اللَّهُ الصَّمَدُ ‎﴿٢﴾‏



    “Allah tidak melahirkan dan Allah tidak dilahirkan” (QS. Al-Ikhlas[112]: 3)



    Karena Allah tidak membutuhkan anak, Allah tidak membutuhkan pasangan,
    12 min
  • Menghadapi Remaja Dengan Cara Berdialog

    Menghadapi Remaja Dengan Cara Berdialog merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 6 Jumadal Akhir 1445 H / 19 Desember 2023 M.







    Kajian Tentang Menghadapi Remaja Dengan Cara Berdialog



    Pada kajian kali ini dibahas tentang pentingnya dialog dengan remaja. Dialog menjadi kunci interaksi yang efektif. Dialog memungkinkan orang tua untuk memahami dan mendekati anak remaja serta membuka peluang untuk diskusi dua arah. Hal ini dapat mencegah kesalahpahaman dan salah penilaian terhadap remaja. Remaja perlu sosok yang memahami kondisi psikologisnya dan memenuhi kebutuhan perkembangannya. Waktu yang diberikan orang tua untuk berkomunikasi dengan remaja sangat penting, mengingat masa transisi remaja yang menentukan. Dialog membuka kesempatan untuk menjawab pertanyaan remaja dengan rasional dan masuk akal, seiring dengan mulai matangnya akal mereka.



    Penting memilih tema dialog yang relevan dengan kehidupan remaja. Tema yang menarik dan bermanfaat dapat membangun antusiasme mereka terhadap dialog. Orang tua perlu menyisihkan waktu dan mencari ide-ide kreatif untuk membangun dialog yang bermakna. Dalam dialog, juga penting untuk memberikan ruang kepada remaja untuk bertanya dan berpikir, sehingga mereka tidak merasa diabaikan atau diremehkan.



    Melalui dialog, orang tua dapat lebih mengenali kehidupan, bakat, minat, dan cita-cita anak remaja. Tema dialog yang mencakup aspek keuangan, kepemilikan harta, dan pengelolaan keuangan juga perlu dibahas. Mengajarkan remaja untuk bijaksana dalam mengelola harta merupakan bagian penting dari persiapan mereka sebagai individu dewasa. Dialog menjadi sarana untuk membimbing dan melatih remaja agar cakap dalam mengelola keuangan dan berpikiran bijaksana.



    Manfaat berdialog dengan remaja




    * Kedekatan dan Pengertian: Dialog dengan remaja penting untuk menjalin kedekatan hubungan, saling pengertian, dan membangun hati yang baik.



    * Menyamakan Persepsi: Dialog membantu menyamakan persepsi antara orang tua dan remaja, menghindari kesalahpahaman, dan meminimalkan otoritas yang terlalu dominan.



    * Menemukan Solusi: Berdialog membantu menemukan solusi yang tepat terhadap masalah-masalah yang dihadapi remaja, yang mungkin tidak diutarakan karena takut atau ketidakpahaman.



    * Menanamkan Nilai-nilai: Dialog digunakan untuk menanamkan nilai-nilai dalam diri remaja, memastikan pemahaman dan penerimaan terhadap nasehat yang diberikan.



    * Mematangkan Pikiran dan Pengetahuan: Dialog membantu mematangkan pikiran dan cara berpikir remaja, serta memperluas pengetahuannya terutama terkait pandangan terhadap manusia dan karakteristik berbagai kepribadian.



    * Koreksi Pemahaman yang Keliru: Berdialog membantu mengoreksi pemahaman yang keliru, meluruskan pandangan dan memastikan bahwa nasihat atau nilai yang diberikan dipahami dengan benar.



    * Menilai Perilaku Tertentu: Dialog membantu orang tua terlibat dalam menilai perilaku tertentu remaja, membantu mereka memahami dampak dan konsekuensi dari perilaku mereka.



    * Mengatasi Konflik Psikologis: Berdialog membantu mengatasi konflik psikologis yang mungkin dialami remaja, seperti masalah bullying, memberikan dukungan emosional, dan membuka ruang untuk menyelesaikan masalah.



    51 min
  • Cara Iblis Menggangu Manusia

    Cara Iblis Menggangu Manusia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 5 Jumadal Akhir 1445 H / 18 Desember 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Permusuhan Iblis Terhadap Nabi Adam ‘Alaihis Salam







    Kajian Tentang Cara Iblis Menggangu Manusia



    Dalam Surah Al-Kahfi ayat 50, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا



    “Apakah kalian menjadikan iblis dan keturunannya itu pemimin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuh yang nyata bagi kalian? Sangat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Kahfi[18]: 50)



    Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa iblis dan keturunannya tidak boleh dijadikan pemimpin atau teman selain Allah, karena iblis adalah musuh yang nyata. Iblis tidak memiliki belas kasihan terhadap manusia, dan iblis memimpin perang melawan anak cucu Adam. Perang ini terjadi dalam berbagai bentuk, baik fisik maupun pemikiran, antara dua kelompok besar, yaitu satu kelompok yang masuk surga dan kelompok yang masuk neraka.



    Allah Ta’ala berfirman:



     قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ‎﴿١٦﴾‏ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ ‎﴿١٧﴾



    “Iblis menjawab: ‘Dengan sebab Engkau telah hukumi aku sesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.'” (QS. Al-A’raf[7]: 16)



    Dari semua penjuru, iblis menggoda manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    قال إبليس: وعزتك لا أبرح أغوي عبادك ما دامت أرواحهم في أجسادهم. فقال: وعزتي وجلالي لا أزال أغفر لهم ما استغفروني.



    “Bahwa iblis bersumpah: ‘Demi keagunganMu, aku akan terus senantiasa menyesatkan hamba-hambaMu selama roh berada di jasad mereka.’ Allah Ta’ala menjawab: ‘Demi kemuliaanKu dan ketinggianKu, Aku akan terus mengampuni mereka selama mereka meminta ampun kepadaKu.'” (HR. Ahmad)



    Jadi kalau ada di antara kita terjerumus mengikuti langkah setan, segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berjanji untuk mengampuninya.



    Ada sembilan cara iblis mengganggu manusia. Bagaimana kisah lengkapnya? Simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Cara Iblis Menggangu Manusia” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita s...
    1 hr 4 min
  • Talbis Iblis Tentang Tingkatan Syariat dan Hakikat

    Talbis Iblis Tentang Tingkatan Syariat dan Hakikat ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 5 Jumadal Akhir 1445 H / 18 Desember 2023 M.







    Talbis Iblis Tentang Tingkatan Syariat dan Hakikat



    Kaum Sufi membedakan antara syariat dan hakikat. Ada yang mereka sebut sebagai ilmu syariat, ada juga yang mereka sebut sebagai ilmu hakikat. Tentunya hakikat ini derajatnya lebih tinggi daripada syariat dalam pandangan mereka.



    Ibnul Jauzi mengatakan: “Ini adalah satu kejahilan dari orang yang mengucapkannya, karena syariat itu sepenuhnya adalah hakikat.” Namun, yang dimaksud oleh kaum Sufi dengan syariat adalah ilmu zahir, yaitu sesuatu yang tertulis dan termaktub secara tekstual dalam Al-Qur’an dan Sunnah.



    Adapun hakikat adalah sesuatu yang tersembunyi, tidak tampak, dan tidak termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ini hanya bisa diketahui melalui proses-proses pensucian jiwa, karena mereka menganut paham bertakwa dulu baru berilmu. Mereka mengejar tingkat ketakwaan yang menurut mereka tingi lalu secara otomatis ilmu akan datang.



    Ini adalah sesuatu yang keliru. Karena syariat merupakan inti dari agama, bahkan itulah hakikat agama, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi bahwa syariat itu sepenuhnya hakikat.



    Abul Hasan bin Salim menjelaskan riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa para ulama, bahkan pendahulu kaum Sufi, mereka juga mengedepankan ilmu syariat. Mereka bahkan mengingkari kaum Sufi yang datang belakangan yang berpaling dari zahir, yaitu perkara lahiriyah atau ilmu syariat.



    Abul Hasan bin Salim mengatakan: “Seseorang menemui Sahl bin Abdillah dengan membawa tinta dan buku. Dia berkata: ‘Aku datang untuk mencatat ilmu. Semoga Allah memberiku manfaat melalui usaha ini.’ Maka Sahl bin Abdillah menjawab: ‘Tulislah, jika kamu bisa bertemu Allah dengan membawa tinta dan buku, lakukanlah.'”



    Abul Hasan bin Salim memerintahkan orang itu untuk menulis dan mencatat ilmu-ilmu syariat. Dia berpesan agar kalau bisa bertemu dengan Allah dalam keadaan masih tetap menuntut ilmu, maka lakukanlah. Artinya, tetaplah kamu menuntut ilmu sampai bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah, dalam pandangan ulama-ulama terdahulu, bahkan sampai ulama-ulama Sufi generasi pertama, mereka juga mengedepankan ilmu syariat sebagai sesuatu yang penting yang merupakan pondasi agama.



    Ada seseorang bertanya: “Wahai Abu Muhammad, ajarkan aku sesuatu yang bermanfaat.” Maka Sahl bin Abdillah menjawab: “Dunia itu seluruhnya kejahilan kecuali ilmu, dan ilmu itu seluruhnya hujjah (tuntutan) kecuali yang diamalkan. Amalan itu seluruhnya tertolak kecuali yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan Sunnah itu harus berdasarkan ketakwaan.”



    Jadi, semua urusan agama itu penting; tazkiyatun nufus penting, membersihkan diri supaya meraih derajat takwa itu penting. Menuntut ilmu juga penting. Maka tidak boleh kita meremehkan satu sisi, dan terfokus hanya pada satu sisi yang lainnya. Karena seluruh perkara agama itu saling terkait satu sama lain. Maka tidak ada hal yang tidak penting dalam agama. Ada perkara ushuluddin, ibadah, akhlak, dan semuanya penting. Setan memang menggelincirkan manusia dari sisi yang dia lemah.
    35 min
  • Hadits Tentang Gerakan Shalat

    Hadits Tentang Gerakan Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 4 Jumadal Akhir 1445 H / 17 Desember 2023 M.







    Kajiadan Hadits Tentang Gerakan Shalat



    Hadits 272:



    عن ابْنَ عُمَرَ ﵄ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا قَامَ لِلصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ وَإِذَا رَفَعَ مِنْ الرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا يَفْعَلُهُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ.



    Dari Ibnu ‘Umar semoga Allah meridhai keduanya, adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila telah berdiri untuk shalat, beliau mengangkat dua tangannya sehingga sejajar dengan dua bahunya, lalu beliau bertakbir. Ketika beliau ingin ruku, beliau melakukan hal yang sama (mengangkat dua tangannya sejajar dengan pundaknya). Ketika bangkit dari ruku, beliau juga melakukan hal yang sama seperti itu. Namun, beliau tidak melakukan itu ketika mengangkat kepalanya dari sujud.” (HR. Muslim)



    Tempat mengangkat tangan



    Hadits ini mengandung faedah pertama, yaitu disunahkan mengangkat tangan pada tiga tempat. Dan dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Umar menyebutkan empat tempat; takbiratul ihram, ketika hendak ruku, bangkit dari ruku, dan bangkit dari rakaat yang kedua. Ini adalah empat tempat yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendawamkannya.



    Ada satu riwayat lain yang menyebutkan bahwa Nabi pernah mengangkat dua tangannya ketika hendak sujud. Namun banyak ulama berpendapat bahwa hadits tersebut syad. Demikian pula disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya setiap kali mengangkat dan turun. Itupun banyak ulama mendhaifkannya. Maka yang paling shahih adalah riwayat Ibnu ‘Umar ini yang menyebutkan mengangkat tangan disunnahkan pada empat tempat tadi.



    Faedah yang kedua, hadits ini menunjukkan bahwa sunnahnya mengangkat tangan itu sejajar dengan pundak, dan nanti akan disebutkan bahwa terkadang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sejajar dengan telinga.



    Sebagian ulama mengatakan bahwa mengangkat tangan sejajar dengan pundak itu sejajar pada bagian mana? Apakah sejajar dengan telapak tangan atau sejajar dengan jari-jemari? Jika sejajar dengan telapak tangan, maka bagian jari-jarinya akan sejajar dengan telinga. Itu adalah pendapat yang dipilih oleh Imam Asy-Syafi’i. Sehingga pada waktu itu tergabung dua hadits; satu riwayat menyebutkan sejajar dengan pundak, dan satu riwayat menyebutkan sejajar dengan telinga. Oleh karena itu, ketika kita sejajarkan telapak tangan dengan pundak, sehingga jari-jarinya akan sejajar dengan telinga.



    Syaikh Albani Rahimahullah mengatakan bahwa ketika kita mengangkat tangan, keadaan jari-jemari tidak di lebarkan, tidak pula di tempelkan, tapi tengah-tengah di antara itu.



    Dari hadits ini kita mengambil faedah bahwa boleh mengangkat tangan terlebih dahulu, kemudian baru mengucapkan takbir. Karena disebutkan di sini: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila telah berdiri untuk shalat, beliau mengangkat dua tangannya sehingga sejajar dengan dua bahunya, kemudian beliau bertakbir.” Kata-kata ثُمَّ dalam bahasa Arab menunjukkan adanya jeda atau keterlambatan. Berarti jika kita mengamalkannya,
    58 min
  • Khutbah Jumat: Sifat Orang-Orang Yang Mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Khutbah Jumat: Sifat Orang-Orang Yang Mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 2 Jumadal Akhir 1445 H / 15 Desember 2023 M.







    Khutbah Jumat Pertama: Sifat Orang-Orang Yang Mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam



    Sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul untuk menjelaskan kepada kita tentang hakikat tujuan hidup manusia. Bahwasanya tujuannya adalah ibadah kepada Allah, Rabbul ‘Izzati wal Jalalah. Dan para rasul telah menjelaskan kepada kita, tentang hakikat ibadah kepada Allah, bagaimana tata caranya, sifat-sifatnya, demikian pula jumlahnya, dan aspek-aspek lainnya.



    Maka, kewajiban kita adalah ittiba’, yaitu mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam hidup. Allah berfirman:



    لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا



    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik, (yaitu) bagi yang menginginkan Allah dan kehidupan akhirat, dan dia banyak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)



    Di situ Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwasannya orang-orang yang bisa menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam hidup, mereka memiliki sifat-sifat berikut ini:



    Menginginkan Allah dan kehidupan akhirat



    Yang pertama, yaitu bagi orang yang menginginkan Allah serta kehidupan akhirat. Mereka meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada apa yang ada dalam kehidupan dunia. Allah berfirman:



    وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ



    “Dan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la[87]: 17)



    Kesenangan dunia hanyalah sesuatu yang sebentar. Kesenangan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesenangan kehidupan akhirat. Ketika seseorang yakin bahwa yang ada di sisi Allah lebih baik, maka itulah yang menyebabkan ia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Banyak mengingat Allah



    Kemudian, Allah menyebutkan sifat kedua. Yang dapat menjadikan rasul sebagai Uswatun Hasanah, yaitu banyak mengingat Allah. Banyak mengingat Allah merupakan kekuatan yang dahsyat untuk mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam ini sudah begitu banyak. Tolong berikan aku sebuah perintah yang jelas dan tegas yang dapat senantiasa aku pegang selalu.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:



     لا يزال لسانك رطباً من ذكر الله



    “Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan ingat kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)



    Bayangkan saudaraku, perhatikan hadits ini, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diadukan kepadanya oleh seorang laki-laki bahwa syariat Islam terlalu banyak sekali, dan ini memang benar. Kalau kita pelajari syariat Islam, sangat banyak sekali. Sahabat tersebut meminta amalan yang membuat dia mudah untuk menjalankan syariat Allah ‘Azza wa Jalla.



    Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “S...
    15 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah