Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Bab Thiyarah

    Bab Thiyarah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 23 Sya’ban 1445 H / 4 Maret 2024 M.







    Kajian Islam Tentang Bab Thiyarah



    Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    الطيرة شرك وما منا ولكن الله يذهبه بالتوكل



    “Thiyarah adalah syirik, dan tidak ada dari kita kecuali diuji dengan ini, akan tetapi Allah menghilangkan perasaan itu dengan tawakal kepadaNya.” (HR. Bukhari)



    Thiyarah adalah perasaan sial dengan sesuatu yang dilihat atau yang didengar. Tathayyur sendiri sebenarnya dari asal kata الطَّيْرَ (burung). Di mana di antara tradisi jahiliyah dulu kalau mereka hendak pergi melakukan perjalanan atau punya hajat, mereka akan keluar rumah dan kalau melihat ada burung di sebuah pohon, maka mereka akan usir burung itu dan melihat terbangnya ke kanan atau ke kiri. Kalau terbangnya ke kiri, mereka akan beranggapan sial lalu mengurungkan niatnya. Kalau terbangnya ke kanan, mereka akan melanjutkan perjalanan atau hajatnya.



    Ini disebut tathayyur (dengan burung) padahal tidak harus dengan burung. Boleh jadi dengan binatang lainnya atau angka. Kita lihat di beberapa gedung tinggi yang mereka pakai lift, di lift itu tidak ada angka empat (4). Tathayyur juga beranggapan sial dengan angka tiga belas (13), atau beranggapan sial dengan suatu hari.



    Orang yang meyakini adanya kesialan di benda, angka, atau karena mendengar suara burung gagak, maka hidupnya akan terganggu, mentalnya akan rapuh dan menderita. Karena dia meyakini sesuatu yang sejatinya tidak ada apa-apa di sesuatu itu.



    Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan kalimat thiyarah ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,



    قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِندَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ



    “Mereka menjawab: ‘Kami menganggap engkau dan kaummu adalah pembawa sial.’ Shaleh berkata: ‘Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.'” (QS. An-Naml[27]: 47)



    Tidak ada manusia bisa memberikan kesialan, apalagi itu burung atau angka. Makanya akhirnya orang ini hidupnya menderita. Karena dengar suara burung takut.



    Thiyarah ini bisa menjadi syirik kecil atau bisa juga menjadi syirik besar. Syirik kecil tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, tapi ini menunjukkan lemahnya iman dan ada masalah di tauhid dia. Kalau syirik besar, boleh jadi mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menggugurkan semua amalan dia.



    Apabila seseorang tathayyur -misalnya dengan burung hantu- apabila dia tidak meyakini bahwa burung hantu itu dapat memberikan manfaat dan mudharat, tapi dia meyakini ini hanya sebab kesialan, maka ini syirik kecil. Karena Allah tidak menjadikan itu sebab kesialan. Kenapa engkau meyakini itu? Hal ini akan menjadi syirik besar kalau dia meyakini bahwa benda atau apa yang dia dengar itu dapat mendatangkan mudharat dan manfaat.



    Ingatlah bahwa tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan mudharat kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya?
    1 hr 3 min
  • Dakwah Nabi Hud kepada Tauhid

    Dakwah Nabi Hud kepada Tauhid adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 23 Sya’ban 1445 H / 4 Maret 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Kisah Nabi Hud ‘Alaihis Salam







    Kajian Tentang Dakwah Nabi Hud kepada Tauhid



    Pada kajian kali ini, dibahas tentang pelajaran-pelajaran dan nasihat-nasihat yang diambil dari kisah Nabi Hud.



    Ada beberapa pelajaran, yang pertama adalah pelajaran tauhid. Para nabi semuanya berdakwah dengan satu asas, yaitu tauhid dan memperingati manusia dari kesyirikan. Asas dakwahnya bukan mengajak orang menjadi penguasa, melainkan mengajak kepada tauhid dan memberikan peringatan kepada manusia dari kesyirikan.



    Dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semuanya berdakwah dengan dakwah tauhid dan memperingatkan manusia dari kesyirikan. Hal ini diambil dari kisah Nabi Hud, antara lain di surah Al-A’raf ayat 65, Allah Ta’ala berfirman,



    وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ



    “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah semata, kalian tidak memiliki sesembahan kecuali Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?'” (QS. Al-A’raf[7]: 65)



    Juga, di surah Hud ayat 50, Nabi Hud berkata,



    وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ



    “Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah saja, sekali-kali tidak ada sesembahan selain Allah untuk kalian. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.'” (QS. Hud[11]: 50)



    Ini adalah dakwah Nabi Hud. Semua nabi berdakwah dengan dakwah tauhid agar manusia mentauhidkan Allah.



    Kenapa perhatian para nabi dalam masalah dakwah adalah dakwah tauhid dan memperingatkan manusia dari kesyirikan? Ada beberapa alasan. Pertama, karena tauhid merupakan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam surah An-Nur ayat 55,



    وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ



    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa diatas muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Allah akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan pasti Allah akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman. Hendaknya mereka beribadah kepadaKu saja, tiada mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah itu,
    56 min
  • Pengaruh Al-Qur’an Bagi Hati

    Pengaruh Al-Qur’an Bagi Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 23 Sya’ban 1445 H / 4 Maret 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Pengaruh Al-Qur’an Bagi Hati



    Dari Jubair bin Muth’im Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca di dalam shalat Magrib dengan surah At-Tur, dan itulah saat pertama kali iman itu menancap dalam hatiku.” (HR. Bukhari)



    Dalam riwayat lain, sahabat Jubair bin Muth’im berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca surah At-Tur ketika shalat Magrib, dan ketika sampai pada ayat ‘Ataukah mereka diciptakan tanpa asal-usul atau mereka menciptakan diri mereka sendiri? Apakah mereka menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak yakin apa yang mereka katakan. Ataukah mereka mempunyai perbendaharaan Tuhanmu? Ataukah mereka menguasai?’ Ketika aku mendengar ayat-ayat tersebut, hatiku hampir terbang.”



    Juga dari sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata, “Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam duduk di teras rumahnya di Kota Mekah, tiba-tiba lewat Utsman bin Maz’un, maka beliau tersenyum kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, ‘Mari duduk bersamaku.’ Maka beliau pun duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Rasulullah menghadap kepadanya. Ketika Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam sedang berbicara dengan Utsman bin Maz’udan, tiba-tiba beliau ‘Alaihish Shalatu was Salam melihat ke langit dan kemudian beliau meletakkan penglihatannya ke bawah (yaitu ke sebelah kanannya) dan memalingkan dirinya dari teman duduknya (yaitu Utsman) dan berbicara bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya meminta untuk memahami apa yang dikatakan kepadanya. Sedangkan Ibnu Maz’un melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan hal tersebut. Setelah selesai dan Rasulullah memahami apa yang dikatakan kepadanya, beliau kembali melihat ke langit sampai tertutup apa yang ia lihat.



    Maka beliau pun kembali menghadap kepada Utsman dan Utsman berkata, ‘Ya Muhammad, selama aku duduk bersamamu aku tidak pernah melihat seperti apa yang kau lakukan pada pagi ini.’ Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam bertanya, ‘Apa yang engkau lihat aku kerjakan?’ Utsman berkata, ‘Aku melihat engkau melihat ke langit dan kemudian engkau menurunkan pandanganmu ke sebelah kananmu dan engkau berpaling dariku dan meninggalkanku. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalamu seakan-akan engkau berusaha memahami apa yang dikatakan kepadamu.’



    Kata Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam, ‘Dan engkau melihat hal tersebut?’ Berkata Utsman, ‘Iya’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, ‘Sesungguhnya utusan Allah mendatangiku dan ia duduk dan berkata.’ Apa yang dikatakan utusan Allah kepadamu?’ Beliau mengatakan,



    إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّ...
    1 min
  • Penyimpangan Kaum Sufi Terhadap Doa

    Penyimpangan Kaum Sufi Terhadap Doa ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 23 Sya’ban 1445 H / 4 Maret 2024 M.







    Kajian tentang Penyimpangan Kaum Sufi Terhadap Doa



    Di antara pandangan kaum sufi yang menyimpang dari kaidah-kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah menggolongkan doa sebagai sesuatu yang menentang takdir. Mereka berpendapat bahwa bagi seseorang yang telah mencapai tingkatan makrifat, tidak perlu lagi berdoa; mereka hanya pasrah kepada takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa meminta lagi kepadaNya. Sikap ini bertentangan dengan ajaran Allah yang menyeru hamba-Nya untuk berdoa, sebagaimana firmanNya,



    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ…



    “Dan Rabbmu berkata: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan untukmu.'” (QS. Ghafir[40]: 60)



    Kita sebagai makhluk perlu bedoa kepada Allah. Dan Allah adalah Rabb tempat memohon segalanya. Maka kita minta kepada Allah karena kita fakir dan Allah Yang Maha kaya.



    Sebagian kaum sufi memandang bahwa doa itu bisa diidentikkan dengan sikap menentang keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menganggap tidak perlu berdoa, terserah Allah. Ini tentunya bertentangan dengan kaedah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.



    Kita tahu bahwa doa adalah ibadah. yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menekankan pentingnya berdoa kepada Allah dan mengatakan bahwa Allah marah kepada hamba yang tidak meminta kepadaNya. Maka kita mengangkat tangan meminta kepada Allah, walalupun kita tahu bahwa Allah telah menuliskan segalanya. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan,



     لا يردُّ القضاءَ إلَّا الدُّعاءُ



    “Tidak ada yang dapat merubah takdir kecuali doa.” (HR. Tirmidzi)



    Artinya doa salah satu faktor perubah takdir yang terbesar. Bahwa Allah menetapkan satu takdir atas seorang hamba itu karena doanya. Maka banyak-banyaklah kamu berdoa. Karena tidak ada satu dao pun yang dipanjatkan oleh seorang hamba kecuali Allah akan mengabulkannya, atau Allah akan menghindarkannya dari keburukan yang setara dengan doanya, atau Allah jadikan doanya itu sebagai tabungan pahala baginya di akhirat nanti, yaitu selama dia tidak berdoa untuk sesuatu yang mengandung dosa atau mengandung unsur memutus tali silaturahim.



    Jadi, tidak ada di masa nabi, tidak pernah diajarkan nabi, dan tidak pernah dipahami oleh para sahabat bahwa doa tergolong sebagai tindakan yang menentang takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah pendapat yang sangat aneh dan menyimpang dari kaidah agama. Kita tahu bahwa dalam Islam, doa merupakan perkara penting, bahkan aktivitas seorang muslim dipenuhi dengan doa. Ada yang disebut doa mutlak, ada juga doa muqayyad.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Penyimpangan Kaum Sufi Terhadap Doa” yang ...
    34 min
  • Melindungi Anak dari Kejahatan Setan

    Melindungi Anak dari Kejahatan Setan ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 23 Sya’ban 1445 H / 4 Maret 2024 M.







    Kajian Tentang Melindungi Anak dari Kejahatan Setan



    Setan jahat karena dia berupaya untuk menyesatkan manusia. Permusuhan setan kepada manusia sudah lama, sejak zamannya Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Nenek moyangnya setan, yang namanya Iblis sudah mengobarkan permusuhan kepada kita.



    قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ



    “Iblis berkata: ‘Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.'” (QS. Al-Hijr[15]: 39)



    Jadi, demi menyukseskan proyek tersebut, Iblis minta untuk diberi umur sampai hari kiamat, untuk menyesatkan manusia. Setan yang merupakan keturunannya Iblis tidak peduli apakah manusianya laki-laki atau perempuan, orang kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, tua atau muda, bahkan anak kecil pun berusaha untuk diganggu oleh setan.



    Bayi yang baru lahir menangis itu karena ditusuk oleh setan, seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Itulah permusuhan setan pertama kali kepada manusia, sejak lahir sudah disakiti oleh setan.



    Kita tidak boleh pasrah dan diam saja, kita harus melawannya. Cara melawannya harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ada tiga poin cara melakukan upaya perlindungan buat anak dari kejahatan setan.



    Pertama, membacakan dzikir untuk anak



    Membacakan dzikir untuk anak, kita bacakan untuk anak, terutama anak-anak yang belum masuk usia tamyiz. Tamyiz yaitu usia di mana mereka bisa membedakan mana api dan mana air.



    Dzikirnya adalah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa membacakan dzikir berikut ini untuk kedua cucunya (Hasan dan Husain).



     أعيذُكُما بِكلماتِ اللَّهِ التَّامَّةِ ، مِن كلِّ شيطانٍ وَهامَّةٍ ومن كلِّ عينٍ لامَّةٍ



    “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala jenis setan, binatang yang berbisa, dan dari pandangan mata yang jahat.” (HR. Bukhari)



    Jika anaknya satu laki-laki, maka awal doanya dirubah menjadi أُعِيْذُكَ. Jika anaknya adalah satu perempuan, maka menggunakan أُعِيْذُكِ. Jika anaknya tiga, maka menggunakan أُعِيْذُكُمْ.



    Bagaimana langkah-langkah selanjutnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Melindungi Anak dari Kejahatan Setan” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    47 min
  • Sujud Syukur

    Sujud Syukur ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 23 Sya’ban 1445 H / 4 Maret 2024 M.







    Download kajian sebelumnya: Sujud Tilawah



    Kajian Tentang Sujud Syukur



    Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan oleh seseorang sebagai bentuk syukurnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat yang besar yang datang kepadanya. Nikmat tersebut bisa berupa kebaikan yang benar-benar datang kepada dia, entah itu berupa harta, kedudukan, atau kemudahan dalam urusan dia, atau nikmat ini berupa keberhasilan dia, atau berupa selamatnya dia dari musibah besar.



    Sujud syukur ini disyariatkan karena banyaknya hadits yang menjelaskan tentang sujud syukur. Di antaranya hadits dari sahabat Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Yaitu ketika datang kabar bahwa taubatnya sahabat ini diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sampai diturunkan ayat yang menjelaskan tentang diterimanya taubatnya, maka beliau langsung sujud sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Ada juga hadits dari sahabat Abu Bakrah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan kabar gembira atau mendapatkan sesuatu yang membahagiakan beliau, maka beliau langsung sujud sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan disyariatkannya sujud syukur ini dipilih oleh mayoritas ulama.



    Cara melakukan sujud syukur adalah seperti kita melakukan sujud dalam shalat. Yaitu telapak tangan diletakkan semuanya, lutut diletakkan semuanya, jari-jemarinya diletakkan semuanya, dahi dan hidung diletakkan ke tanah. Ini sebagaimana cara sujud di dalam shalat.



    Yang menjadi pertanyaan, kalau sujud syukur itu seperti sujud dalam shalat, apakah dia harus dalam keadaan suci, sebagaimana shalat harus dalam keadaan suci? Apakah dia harus ada takbirnya dulu? Apakah dia harus ada salamnya juga? Apakah dia harus menghadap ke kiblat, sebagaimana dalam shalat?



    Ini adalah masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para ulama dalam masalah sujud syukur. Wallahu ta’ala a’lam, pendapat yang lebih kuat adalah yang mengatakan bahwa sujud syukur itu bukanlah shalat. Sebagaimana sujud tilawah yang kita bahas kemarin, dia hanya sujud saja. Jadi tidak bisa disebut sebagai shalat. Sehingga sujud syukur tidak disyaratkan padanya bersuci. Jadi, kita boleh sujud syukur dalam keadaan tidak suci. Kemudian, juga tidak disyaratkan dalam sujud syukur takbir, karena sujud syukur bukanlah shalat.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Sujud Syukur” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    1 hr
  • Bab Tasyahud dalam Shalat

    Bab Tasyahud dalam Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 22 Sya’ban 1445 H / 3 Maret 2024 M.







    Kajian Hadits Tentang Bab Tasyahud dalam Shalat



    Kita lanjutkan pada باب: التشهد في الصلاة (Bab tasyahud dalam shalat).



    Hadits 304:



    عَنْ حِطَّانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الرَّقَاشِيِّ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَبِي مُوسَى ﵁ صَلَاةً فَلَمَّا كَانَ عِنْدَ الْقَعْدَةِ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أُقِرَّتْ الصَّلَاةُ بِالْبِرِّ وَالزَّكَاةِ قَالَ فَلَمَّا قَضَى أَبُو مُوسَى الصَّلَاةَ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ فَقَالَ أَيُّكُمْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَأَرَمَّ الْقَوْمُ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا فَأَرَمَّ الْقَوْمُ فَقَالَ لَعَلَّكَ يَا حِطَّانُ قُلْتَهَا قَالَ مَا قُلْتُهَا وَلَقَدْ رَهِبْتُ أَنْ تَبْكَعَنِي بِهَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَنَا قُلْتُهَا وَلَمْ أُرِدْ بِهَا إِلَّا الْخَيْرَ فَقَالَ أَبُو مُوسَى أَمَا تَعْلَمُونَ كَيْفَ تَقُولُونَ في صَلَاتِكُمْ إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خَطَبَنَا فَبَيَّنَ لَنَا سُنَّتَنَا وَعَلَّمَنَا صَلَاتَنَا فَقَالَ إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذْ قَالَ (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) فَقُولُوا آمِينَ يُجِبْكُمْ اللهُ فَإِذَا كَبَّرَ وَرَكَعَ فَكَبِّرُوا وَارْكَعُوا فَإِنَّ الْإِمَامَ يَرْكَعُ قَبْلَكُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَتِلْكَ بِتِلْكَ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ يَسْمَعُ اللهُ لَكُمْ فَإِنَّ اللهَ ﵎ قَالَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ ﷺ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَإِذَا كَبَّرَ وَسَجَدَ فَكَبِّرُوا وَاسْجُدُوا فَإِنَّ الْإِمَامَ يَسْجُدُ قَبْلَكُمْ وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَتِلْكَ بِتِلْكَ وَإِذَا كَانَ عِنْدَ الْقَعْدَةِ فَلْيَكُنْ مِنْ أَوَّلِ قَوْلِ أَحَدِكُمْ التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.



    Dari Hittan bin Abdullah al-Raqaashi, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Abu Musa sebuah shalat. Ketika duduk dalam shalat di antara dua sujud, seorang dari makmum berkata, ‘Shalat ditetapkan disertai dengan kebaikan dan zakat.’ Ketika Abu Musa menyelesaikan shalat dan mengucapkan salam, ia menghadap ke makmum lalu berkata, ‘Siapa di antara kalian yang mengucapkan kata-kata tadi?’ Maka orang-orang pun diam. Kemudian Abu Musa kembali bertanya, ‘Siapa yang mengucapkan kata-kata tadi?’ Maka orang-orang pun diam kembali. Abu Musa berkata, ‘Sepertinya kamu yang mengucapkannya, wahai Hittan.’ Aku berkata, ‘Aku tidak mengucapkannya, dan aku takut engkau akan mencelaku karenya.’ Lalu ada seorang laki-laki dari makmum berkata, ‘Aku yang mengucapkannya tadi, dan tidak ada keinginanku kecuali kebaikan saja.’ Abu Musa berkata, ‘Apa kalian tidak mengetahui cara kalian membaca dalam shalat? Sesungguhnya dahulu Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada kami, menjelaskan sunnah dan mengajarkan tata cara shalat kami. Beliau bersabda, “Apabila kalian shalat, luruskanlah shaf-shaf kalian. Kemudian, hendaklah salah seorang di antara kalian mengimami, apabila imam bertakbir, maka bertakbirlah kalian, dan imam mengucapkan Ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhallin, maka ucapkan oleh kalian Aamiin, niscaya Allah akan ijabah doa kalian.
    55 min
  • Tafsir Ayat-Ayat Puasa

    Tafsir Ayat-Ayat Puasa adalah kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada Ahad, 22 Sya’ban 1445 H / 3 Maret 2024 M.



    Kajian Tentang Tafsir Ayat-Ayat Puasa



    Allah Ta’ala berfirman,



    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ



    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa…”



    Semua ayat yang yang dimulai dengan ucapan ini, selalu isinya kalau tidak perintah maka larangan. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kalau kamu mendengar Allah mengatakan ‘Hai orang-orang yang beriman,’ maka siapkan telingamu untuk mendengarkannya.”



    Allah memanggil orang yang beriman. Karena iman itu hakikatnya adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Konsekuensi iman adalah kita senantiasa tunduk dan patuh. Makanya yang tunduk dan patuh kepada Allah hanyalah orang-orang yang beriman. Kalau ada orang yang tidak tunduk, berarti itu menunjukkan keimanannya kurang. Semakin iman seseorang sempurna, biasanya semakin ketundukannya pun kepada Allah sempurna.



    Semua kita Alhamdulillah beriman. Berarti kita semua dipanggil. Semua yang merasa dirinya beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat dipanggil oleh Allah. Kalau antum dipanggil sama presiden, maka siap langsung datang. Ini yang memanggil adalah pencipta presiden, bahkan pencipta alam semesta. Mana yang lebih layak untuk kita tunduk dan patuhi? Tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Ketika Allah mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman,” maka kita bersiap untuk mengatakan sami’na wa atha’na.



    “Diwajibkan atas kalian berpuasa.” Shiyam berasal dari kata shaum, yang secara bahasa artinya menahan diri. Adapun secara istilah adalah menahan diri dari semua yang membatalkan puasa dimulai dari semenjak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari disertai dengan niat.



    Atas dasar definisi ini, rukun puasa itu ada dua. Yang pertama adalah niat. Dan niat tempatnya di hati, bukan di lisan. Tidak perlu kita mengucapkan niat, karena Nabi tidak pernah mengajarkan demikian. Niat puasa itu harus dari semenjak malam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ



    “Siapa yang tidak meniatkan puasa dari malam sebelum fajar terbit, maka puasanya tidak sah.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan yang lainnya)



    Maka ketika kita sahur, disitu otomatis pasti mengandung niat untuk puasa.



    Rukun yang kedua yaitu meninggalkan semua yang membatalkan puasa. Yaitu makan dan minum dengan sengaja, kalau lupa maka tidak batal. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ



    “Siapa yang makan karena lupa saat ia sedang berpuasa, hendaklah ia melanjutkan puasanya, karena saat itu Allah sedang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Dengarkan dan Download Kajian Tafsir Ayat-Ayat Puasa











    Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link kajian “Tafsir Ayat-Ayat...
    2 hr 15 min
  • Dosa Tidak Diampuni Akibat Permusuhan

    Dosa Tidak Diampuni Akibat Permusuhan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 17 Sya’ban 1445 H / 27 Februari 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Larangan Saling Benci Satu dengan yang Lainnya dan Larangan Saling Memutus Hubungan







    Kajian Tentang Dosa Tidak Diampuni Akibat Permusuhan



    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    تُفْتَحُ أبْوابُ الجَنَّةِ يَوْمَ الإثْنَيْنِ ويَوْمَ الخَمْيِسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلاَّ رَجُلًا كَانَتْ بينهُ وَبَيْنَ أخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ: أنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا! أَنْظِرُوا هَذَينِ حَتَّى يَصْطَلِحَا!



    “Pintu-pintu surga itu dibuka pada setiap Senin dan Kamis, maka setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, dia diampuni, kecuali seseorang yang antara dirinya dengan saudaranya terjadi permusuhan, maka dikatakan -kepada malaikatnya-: ‘Tangguhkanlah dari dua orang ini (dari ampunan) hingga mereka berdamai.'” (HR. Muslim)



    Dalam redaksi lain riwayat Imam Muslim,



    تُعْرَضُ الأعْمالُ في كُلِّ يَوْمِ خَمِيسٍ وإثْنَيْن



    “Amal manusia ditunjukkan pada setiap hari kamis dan senin.” (HR. Muslim)



    Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu ini merupakan salah satu hadits yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang sesuatu yang ghaib, yaitu tentang dibukanya pintu-pintu surga di hari Senin dan Kamis. Kita tidak mengetahuinya kecuali setelah diberitahukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Kemudian Allah mengampuni orang-orang berdosa selama dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu. Yang ditangguhkan ampunannya hanya dua orang muslim yang berselisih, sampai mereka memperbaiki hubungan.



    Hadits ini mengandung pelajaran tentang kemuliaan hari Senin dan Kamis. Pada dua hari ini amal-amal manusia ditunjukkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang mana pada hakikatnya tidak ada yang tersembunyi bagi Allah Ta’ala, karena Allah Maha mengetahui. Tentu ada hikmah penyebutan “Dipaparkannya amal shalih.”



    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang permusuhan antara sesama kaum muslimin adalah sesuatu yang sangat dilarang, apalagi dalam masalah duniawi, masalah sepiring nasi dan seteguk air. Adapun kalau seorang membenci saudaranya karena perbuatan syirik atau bid’ah yang dilakukan oleh saudaranya, atau dia seorang pelaku maksiat, maka kita boleh membenci.



    Islam adalah agama yang berupaya untuk menjaga hubungan sesama kaum muslimin. Sehingga kemudian tidak saling memutus hubungan.



    Hadits ini juga menjelaskan tentang keutamaan memperbaiki dua orang yang berselisih. Termasuk dalam hal ini kita menolong orang yang teraniaya dan berupaya untuk mencegah orang yang dzalim dari kedzalimannya.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    1 hr 22 min
  • Kisah Nabi Hud ‘Alaihis Salam

    Kisah Nabi Hud ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 16 Sya’ban 1445 H / 26 Februari 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Melawan Setan dengan Berdzikir kepada Allah







    Kajian Tentang Kisah Nabi Hud ‘Alaihis Salam



    Sesungguhnya Nabi Hud ‘Alaihis Salam adalah seorang rasul yang Allah utus ke kabilah ‘Aad (عاد). Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman di Surah Asy-Syu’ara,



     كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ ‎﴿١٢٣﴾‏ إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ ‎﴿١٢٤﴾‏ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ ‎﴿١٢٥﴾‏ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ ‎﴿١٢٦﴾



    “Kaum ‘Aad telah mendustakan para rasul. Ingatlah ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: ‘Tidakkah kalian takut kepada Allah? Sesungguhnya aku adalah rasul untuk kalian yang terpercaya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kalian kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 123-126)



    Kenapa Kaum ‘Aad mendustakan para rasul? Padahal yang didustakan hanya satu rasul saja. Jawabannya adalah karena ketika mendustakan satu rasul, berarti mendustakan semua rasul. Hal ini ditegaskan dalam surat Al-Mu’minun,



     ثُمَّ أَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ ‎﴿٣١﴾‏ فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ ‎﴿٣٢﴾



    “Kemudian Kami tumbuhkan setelah mereka (kaum Nuh), kaum yang lain (kaum ‘Aad). Dan Kami utus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka (Hud), (dengan membawa pesan), ‘Hendaknya kalian menyembah Allah semata, kalian tidak memiliki sesembahan kecuali Dia. Tidakkah kalian bertaqwa?'” (QS. Al-Mu’minun[23]: 31-32)



    Ini merupakan beberapa dalil yang menjelaskan bahwa Nabi Hud adalah rasul yang Allah utus.



    Kaum ‘Aad diberikan kelebihan berupa kekuatan badan yang kuat dan besar oleh Allah. Hal ini disebutkan dalam Surat Al-A’raf ayat 69,



    …وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً…



    “Dan ingatlah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian khalifah-khalifah setelah kaumnya Nuh, dan Allah telah melebihkan kekuatan badan dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu).” (QS. Al-A’raf[7]: 69)



    Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,



    فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً…



    “Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih kuat dari kami?’…” (QS. Fussilat[41]: 15)



    Mereka saat itu menyangka tidak akan diadzab oleh Allah, mereka menyangka akan hidup selama-lamanya di atas muka bumi ini. Tapi ternyata Allah habisi mereka. Oleh karena itu apalah artinya jasmani yang kuat kalau jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?

    2 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah