Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Doa Setelah Wudhu

    Doa Setelah Wudhu ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 7 Ramadhan 1445 H / 18 Maret 2024 M.







    Kajian Tentang Doa Setelah Wudhu



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ -أَوْ فَيُسْبِغُ- الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ



    “Siapapun di antara kalian yang berwudhu dengan sempurna, kemudian membaca doa أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ maka Allah akan membukakan untuknya delapan pintu surga dan dia boleh masuk lewat pintu manapun.” (HR. Muslim)



    Dalam riwayat At-Tirmidzi, disebutkan bahwa setelah membaca tadi, lalu membaca, اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ. Tapi menurut Ibnu Hajar riwayat ini dhaif, sedangkan menurut Syaikh Al-Albani shahih.



    Jadi doa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah wudhu adalah,



    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Doa Setelah Wudhu” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    47 min
  • Kapan Melakukan Sujud Sahwi?

    Kapan Melakukan Sujud Sahwi? ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 7 Ramadhan 1445 H / 18 Maret 2024 M.







    Download kajian sebelumnya: Sujud Sahwi



    Kajian Tentang Kapan Melakukan Sujud Sahwi?



    Kapan kita melakukan sujud sahwi? Apakah kita lakukan sebelum salam atau setelah salam? Dalam masalah ini, terdapat perbedaan pendapat yang sangat banyak, bahkan di dalam buku yang saya baca, “Shahih Fiqh Sunnah”, disebutkan ada 9 pendapat dalam masalah ini. Di kitab-kitab yang lain, ada yang menyebutkan lebih dari 9 pendapat. Intinya, terdapat banyak sekali pendapat dalam masalah ini. Apakah sujud sahwi dilakukan sebelum salam atau setelah salam.



    Yang penting untuk kita ketahui adalah bahwa para ulama telah sepakat bahwa apapun yang kita lakukan dari sujud sahwi, baik sebelum salam atau setelah salam, itu sah sebagai sujud sahwi. Apapun keadaannya, baik sebabnya karena tambahan, kekurangan, atau keraguan dalam shalat, jika kita lakukan sujud sahwi baik sebelum salam atau setelah salam, itu cukup dan sah sebagai sujud sahwi. Kita harus tahu bahwa para ulama telah sepakat dalam hal ini. Kesepakatan ini dinukil oleh Imam Al-Mawardi, seorang imam besar dalam Mazhab Syafi’i, dan juga dinukil oleh Imam An-Nawawi. Oleh karena itu, perselisihan pendapat dalam kapan kita melakukan sujud sahwi, apakah sebelum salam atau setelah salam, adalah perbedaan pendapat dalam masalah mana yang lebih afdhal.



    Saya melihat tidak pantas bagi kita untuk menjadikan masalah seperti ini sebagai sebab perpecahan atau kegaduhan. Permasalahannya hanya mana yang lebih afdhal.



    Ini seperti permasalahan mana yang kita dahulukan ketika kita turun ke sujud dari i’tidal, apakah lutut dahulu ataukah tangan dahulu. Ini masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Namun kita harus tahu perselisihannya hanya pada mana yang lebih afdhal, para ulama semuanya sepakat bahwa kalau ada orang yang turun ke sujud dengan tangan dahulu, shalatnya sah. Sebaliknya juga demikian, para ulama telah sepakat apabila ada orang turun ke sujud dari i’tidalnya mendahulukan lutut dahulu, maka shalatnya juga sah. Sehingga masalah-masalah yang perselisihannya adalah mana yang lebih afdhal, ini tidak penting untuk kita permasalahkan. Silakan setiap dari kita mengamalkan apa yang menurutnya lebih kuat, dan jangan sampai dia menjadikannya sebagai sebab perpecahan.



    Ana secara pribadi lebih condong ke pendapat yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin. Pendapat ini ana lihat lebih mengkompromikan hadits-hadits yang berkaitan dengan sujud sahwi secara sempurna. Pendapat itu mengatakan bahwa:




    * Apabila sujud sahwi itu sebabnya karena terjadinya tambahan di dalam shalat, maka lebih afdhalnya dilakukan setelah salam.



    * Apabila sujud sahwi tersebut dilakukan karena terjadinya kekurangan di dalam shalat, maka sujud sahwinya sebelum salam.



    * Apabila sujud sahwi disebabkan karena keragu-raguan yang seseorang tidak bisa menguatkan salah satu dari dua kemungkinan yang ada, maka akhirnya dia mengambil kemungkinan terkecil, sujudnya sebelum salam.



    * Apabila sujud sahwinya itu karena keragu-raguan tapi akhirnya orangnya bisa menguatkan salah satu dari dua kemungkinan dan ...
    1 hr 2 min
  • Bershalawat Atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Shalat

    Bershalawat Atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 5 Ramadhan 1445 H / 16 Maret 2024 M.







    Bershalawat Atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Shalat



    Kita masuk ke باب: الصلاة على النبي ﷺ (Bab bershalawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Maksud dari bab ini adalah bershalawat dalam shalat.



    Para ulama yang berbeda pendapat tentang hukum shalawat dalam tasyahud. Sebagian ulama dari pendapat jumhur mengatakan bahwa shalawat di dalam tasyahud hukumnya sunnah. Sementara pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahwa itu wajib.



    Al-Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dia berkata bahwasanya para ulama berbeda pendapat tentang wajibnya shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah tasyahud akhir dalam shalat. Abu Hanifah dan Imam Malik serta jumhur berpendapat bahwa itu hukumnya sunnah saja, dimana kalau ditinggalkan maka shalatnya sah. Sementara Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam sebuah riwayat mengatakan bahwa itu hukumnya wajib, kalau ditinggalkan maka shalatnya tidak sah. Dan itu yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab dan Abdullah bin Umar, dan itu adalah pendapat Imam Asy-Sya’bi.



    Imam An-Nawawi Rahimahullah melanjutkan bahwa memang pendalilan tentang wajibnya shalawat agak tersembunyi. Dan para ulama madzhab Syafi’i berhujjah dengan hadits Abu Mas’ud Al-Anshari bahwasannya para sahabat berkata kepada Rasulullah, “Bagaimana kami bershalawat kepadamu Hai Rasulullah,” Maka beliau bersabda, “Ucapkan, ‘Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad…sampai akhirnya.'” Di situ nabi mengatakan “ucapkan” dan ini perintah, sedangkan perintah pada asalnya hukumnya wajib. Namun kalau riwayat itu hanya sampai sini saja, tidak akan tampak jelas pendalilannya. Karena nabi hanya sebatas menjawab pertanyaan saja. Kecuali apabila ditambahkan riwayat yang lain,



    كيف نصلي عليك إذا نحن صلينا عليك في صلاتنا ؟ فقال – صلى الله عليه وسلم – : قولوا اللهم صل على محمد ، وعلى آل محمد إلى آخره.



    “Bagaimana kami bershalawat kepadamu Hai Rasulullah, apabila kami bershalawat kepadamu di dalam shalat-shalat kami?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ucapkanlah Allahumma Shalli ‘Ala muhammad wa ‘Ala Aali Muhammad…sampai akhirnya.”



    Tambahan ini adalah shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Hatim Ibnu Hibban dan Al-Hakim dalam shahih keduanya.



    Perkataan nabi “Ucapkan ini” menunjukkan perintah kata mereka, sedangkan perintah pada asalnya hukumnya wajib. Dan ditambah lagi sebuah riwayat yang lain, “Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seorang laki-laki shalat, ia tidak memuji Allah, tidak menyanjung Allah dan tidak bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka nabi bersabda, عجل هذا (orang ini tergesa-gesa). Kemudian dipanggil oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu Nabi bersabda,



    إذا صلى أحدكم فليبدأ بحمد ربه والثناء عليه ، وليصل على النبي – صلى الله عليه وسلم – ، وليدع ما شاء



    “Apabila salah seorang dari kalian shalat hendaklah memulai dengan memuji Allah dan menyanjungNya dan bershalaw...
    50 min
  • Rukun Islam Kedua: Shalat

    Rukun Islam Kedua: Shalat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A pada Rabu, 2 Ramadhan 1445 H / 13 Maret 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Tawadhunya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam







    Kajian Islam Tentang Rukun Islam Kedua: Shalat



    Shalat adalah rukun terpenting kedua, setelah syahadat Laa Ilaaha Illallah dan Muhammad Rasulullah. Telah kita terangkan pada pertemuan yang lalu bahwa dua kalimat syahadat ini adalah syarat diterimanya semua rukun-rukun yang lain, syarat diterimanya seluruh ibadah, karena ibadah tidak akan diterima kecuali jika dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk nabi ‘Alaihis Salam. Laa Ilaaha Illallah adalah keikhlasan, dan syahadat Anna Muhammadar Rasulullah adalah mengikuti petunjuk Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam.



    Rukun kedua yang paling penting setelah dua kalimat syahadat adalah menegakkan shalat. Bahkan Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengatakan, الصلاة عمود الإسلام (Shalat adalah tiangnya Islam). Tentu kita mengetahui bahwa tiang sesuatu apabila roboh, maka robohlah bangunan tersebut. Karena dalam hadits lain, Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengatakan, بني الإسلام على خمس (Islam dibangun di atas lima perkara). Maka Islam ini diibaratkan seperti sebuah bangunan yang mana tiangnya Islam adalah shalat. Tentunya, orang yang meninggalkan shalat berada dalam bahaya yang sangat besar. Banyak dari para ulama yang mengatakan bahwa orang yang tidak shalat telah keluar dari agama Islam.



    Maka, setelah tauhid, keikhlasan, dan ibadah kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang merupakan tujuan diciptakannya jin dan manusia, hal yang kedua yang harus kita perhatikan dan jaga adalah shalat lima waktu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada kita.



    Ibadah shalat, selain dia, adalah tiangnya agama, juga disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa shalat adalah perkara terakhir yang hilang dari agama ini. Jika seluruh kaum muslimin tidak ada lagi yang mengerjakan shalat, maka hilanglah agama ini, dan menunjukkan akan sangat dekatnya hari kiamat. Karena disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih, bahwa kiamat itu tidak akan terjadi sampai tidak disebut lagi nama Allah di muka bumi ini.



    Juga diterangkan dalam hadits yang shahih, bahwa yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ



    “Pada hari kiamat, pertama kali yang akan Allah hisab atas amalan seorang hamba adalah shalatnya, jika shalatnya baik maka ia akan beruntung dan selamat, jika shalatnya rusak maka ia akan celaka dan sengsara.” (HR. Tirmidzi)



    Ini menunjukkan pentingnya shalat, apabila shalat itu baik, maka baik pula amalan-amalan yang lain. Barangsiapa yang gagal ketika diperiksa shalatnya, sungguh dia telah celaka dan sengsara.



    Juga, nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengatakan bahwa shalat ini adalah pembeda antara Muslim dan non-Muslim.



    0 min
  • Bukti Seseorang Mencintai Allah – Tafsir Surah Ali Imran 31

    Bukti Seseorang Mencintai Allah – Tafsir Surah Ali Imran 31 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 1 Ramadhan 1445 H / 12 Maret 2024 M.







    Download kajian sebelumnya: Batilnya Angan-angan – Tafsir Surah Ali Imran 24



    Bukti Seseorang Mencintai Allah – Tafsir Surah Ali Imran 31



    Kita masuk ke Surah Ali Imran ayat 31. Allah Ta’ala berfirman:



    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ



    “Katakanlah: ‘Jika kalian memang mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 31)



    Ayat ini dinamai oleh Salafush Shalih dengan nama Ayatul Imtihan (ayat ujian). Karena ada suatu kaum yang mengaku-ngaku katanya mencintai Allah, maka Allah memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menantang mereka dengan timbangan ini. Allah katakan, “Katakan, ‘Jika kalian memang mencintai Allah (artinya jika kalian memang jujur dalam mencintai Allah), maka ikuti aku (yaitu Rasulullahi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)'”.



    Sehingga setiap orang yang mengaku-ngaku bahwa dia cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia butuh bukti. Kalau tidak ada buktinya maka percuma. Dan bukti mencintai Allah adalah ittiba’, yaitu mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Tentunya untuk ittiba’ itu tidak mudah. Kita harus mengenyampingkan hawa nafsu, harus mengalahkan syahawat, harus melemparkan untuk mendahulukan akal. Orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsu, maka dia sangat sulit untuk ittiba’. Hal ini karena perintah-perintah nabi kebanyakan tidak sesuai dengan hawa nafsu dan syahawat, larangan-larangan nabi kebanyakan sesuai dengan hawa nafsu dan syahawat.



    Orang yang sangat mengagungkan akal, seringkali dia menolak dalil. Karena banyak dalil-dalil yang tidak sesuai dengan akal. Dalam shalat, coba pikirkan dengan akal, kenapa shalat subuh dua rakaat, kenapa shalat dzuhur empat rakaat, kenapa tidak dibalik saja? Karena ini masalahnya bukan akal, tapi memang murni dari perintah Allah. Ketika mengusap khuf, yang kita usap bagian atasnya, bukan bagian bawah. Padahal yang yang menginjak najis dan kotoran adalah bagian bawah. Secara akal ini tidak masuk di akal. Dan banyak lagi perkara-perkara yang lain. Maka kalau semua dalil diminta untuk mengikuti akal akan hancurlah kebenaran.



    Balasan Ittiba’



    Di sini Allah memberikan dua balasan untuk orang yang ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yang pertama yaitu Allah akan mencintai kamu. Dicintai oleh Allah itu lebih penting daripada kita mencintai Allah. Walaupun dua-duanya penting, tapi kalau ditanya mana yang lebih penting, maka dicintai oleh Allah itu lebih agung.



    Berapa banyak orang yang mengaku-ngaku mencintai Allah, seperti orang Sufi, tapi perbuatan mereka dengan melakukan kebid’ahan dan tidak ittiba’, maka bagaimana Allah akan cinta kepada mereka? Maka tanda orang yang dicintai oleh Allah adalah d...
    0 min
  • Merasa Diawasi Allah

    Merasa Diawasi Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 30 Sya’ban 1445 H / 11 Maret 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Merasa Diawasi Allah



    Ibnu Hibban Rahimahullah meriwayatkan dalam shahihnya juga Adh Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Kitab Al-Mukhtarah, dari sahabat Usamah bin Syarik Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    مَا كَرِهَ اللَّهُ مِنْكَ شَيْئًا، فَلَا تَفْعَلْهُ إِذَا خَلَوْتَ



    “Apa yang Allah benci darimu, maka janganlah engkau lakukan ketika engkau sendirian.” (HR. Ibnu Hibban)



    Ini adalah peringatan bagi seorang hamba agar ia selalu memperbaiki apa yang ia sembunyikan dengan cara selalu bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengerjakan semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang, terutama yaitu meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah ‘Azza wa Jalla ketika ia sedang sendirian. Sebagaimana perkataan seorang penyair,



    إِذا ما خَلَوتَ الدَهرَ يَوماً فَلا تَقُل · خَلَوتُ وَلَكِن قُل عَلَيَّ رَقيبُ…



    “Jika engkau sedang berada dalam kesendirian pada suatu hari, janganlah engkau mengatakan, ‘Aku sedang sendirian,’ tapi katakanlah: ‘bahwasannya ada pengawas yang mengawasiku.’ Janganlah sekali-kali engkau menyangka bahwasannya Allah lalai sesaat pun dan bahwasannya apa yang engkau sembunyikan itu tidak dilihat olehNya.”



    Dan inilah pengingat terbesar bagi seorang hamba. Penghalang terbesar bagi seorang hamba yaitu pengetahuannya dan keyakinannya bahwa Allah selalu melihatnya, bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan, Allah selalu melihat apa yang ia lakukan.



    Maka apabila hatinya mengajaknya untuk satu dosa dan ia berada di kesendirian, tidak ada seorang pun dari manusia, ia mengingatkan dirinya, bahwa Tuhan manusia selalu melihatnya, dan tidak ada yang tersembunyi bagi Allah ‘Azza wa Jalla.



    Berkata Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah, para ulama bersepakat bahwa pengingat terbesar dan penghalang terbesar bagi seorang hamba yang turun dari langit ke bumi adalah pengetahuannya, bahwasanya Allah Maha Melihat. Dan para ulama menyebut satu permisalan, dan bagi Allah permisalan dan sifat yang paling tinggi, mereka mengatakan bahwa seandainya dikatakan bahwa tempat yang luas ini ada raja yang sangat kuat, perkasa, kejam, di sekitarnya ada tentara-tentaranya, dan di sekitar raja ini ada putri-putrinya, ada istri-istrinya, dan ada budak-budak wanitanya. Apakah terbetik di kepala seorang yang hadir di tempat itu untuk membuat pelanggaran kepada wanita-wanita yang ada di situ?



    Atau jika dikatakan bagi penduduk suatu Negeri, bahwasanya pemimpin Negeri tersebut mengetahui segala sesuatu yang mereka kerjakan di malam hari, maka pasti semuanya tidak akan berani melakukan apa-apa.



    Bandingkan dengan Pencipta langit dan bumi, Allah yang Maha Perkasa, yang mengabarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, yang hampir tidak kita dapati satu halaman pun dari halaman Al-Qur’anul Karim kecuali kita dapatkan pengingat dan penghalang terb...
    40 min
  • Sujud Sahwi

    Sujud Sahwi ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 30 Sya’ban 1445 H / 11 Maret 2024 M.







    Download kajian sebelumnya: Sujud Syukur



    Kajian Tentang Sujud Syukur



    Sujud sahwi adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat karena lupa. Lupa tersebut menjadikan shalat seseorang menjadi cacat, dan dengan sujud sahwi ini, kecacatan tersebut bisa dihilangkan atau ditutupi.



    Sujud sahwi merupakan permasalahan yang sangat penting untuk kita bahas, karena banyaknya permasalahan yang ada di dalamnya. Sampai ada beberapa ulama yang menulis kitab khusus yang membahas tentang sujud sahwi, di antaranya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah, dan ada juga ulama-ulama lain yang menulis kitab khusus tentang sujud sahwi. Hal ini karena banyaknya permasalahan yang ada dalamnya.



    Sebagai catatan, kitab yang terkenal yang dikarang oleh Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani, yaitu “Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,” tidak membahas tentang sujud sahwi, sehingga yang belajar shalat dari kitab atau buku tersebut masih harus menambah pengetahuannya tentang sujud sahwi dari kitab yang lain, karena tidak dibahas di sana.



    Kita sudah sampai pada pembahasan hadits-hadits inti yang menjelaskan tentang sujud sahwi, dan kita kemarin menyebutkan enam hadits yang berkaitan dengan hal tersebut. Pembahasan sekarang tentang apa saja yang menyebabkan sujud sahwi. Disebutkan di sini ada tiga, yaitu: kekurangan, tambahan, dan keraguan. Tiga sebab ini sebab utamanya adalah karena lupa.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Sujud Sahwi” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    59 min
  • Bab Doa dalam Shalat

    Bab Doa dalam Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 29 Sya’ban 1445 H / 10 Maret 2024 M.







    Mukaddimah: Bulan Ramadhan adalah Nikmat



    Semua orang yang beriman bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan yang mulia ini. Karena ia adalah pemberian dari Allah yang sangat Agung. Bulan Ramadhan itu hakikatnya nikmat, namun yang merasakannya hanyalah orang-orang yang beriman. Dari sisi apa nikmat?



    Pertama, karena di bulan Ramadhan kita mendapatkan janji ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    من صَام رمضان إيِمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِر له ما تَقدَّم من ذَنْبِه…



    “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan berharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang shalat malam di malam-malam bulan Ramadhan, karena iman dan berharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang qiyam di malam Lailatul Qadr karena iman dan berharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”



    MasyaAllah, ini kenikmatan dan kesempatan yang luar biasa, karena ampunan Allah tentunya segala-galanya. Ampunan Allah sangat kita butuhkan, apalagi nanti di hari kiamat. Kita berharap dengan datangnya bulan Ramadhan, kita mendapatkan ampunan dari Allah.



    Kedua, Di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk senantiasa diatas ketaatan. Kita dibiasakan dengan amalan shalih seperti puasa, tarawih, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah. Saat sahur dan berbuka puasa pun juga merupakan ibadah. Semua ini merupakan wasilah untuk membiasakan diri kita pada ketaatan dan kebaikan. Sehingga setelah Ramadhan pun kita tetap terbiasa diatas kebaikan-kebaikan.



    Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah mengatakan bahwa seseorang wafat di atas kebiasaannya. Maka, kalau kita terbiasa dengan kebaikan dan ketaatan, kita berharap mudah-mudahan kita wafatnya Husnul Khatimah. Di sinilah kesempatan kita untuk membiasakan diri di atas kebaikan dan ketaatan.



    Ketiga, karena pahala yang sangat besar yang Allah janjikan untuk kita. Di mana pahala puasa itu tak terhingga. Disebutkan dalam hadits yang dishahih Syaikh Albani Rahimahullah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ



    “Setiap amalan hamba itu dilipat gandakan 10 sampai 700 kali lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, karena ia adalah untukKu, dan Aku yang langsung memberikan balasan untuknya.'” (HR. Muslim)



    Ini memberikan pemahaman bahwa pahala puasa itu luar biasa besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,



    عليك بالصيام فإنه لا مثل له



    “Hendaklah kamu berpuasa karena puasa itu tidak ada yang sama dengannya.” (HR. Ahmad, An Nasa’i)



    Ini adalah saking besarnya pahala. Kenapa pahala puasa melebihi 700 kali lipat dan tak terbilang? Karena memang di situ mengantung kesabaran. Sedangkan pahala sabar itu tidak terhitung. Allah berfirman,



    55 min
  • Tawadhunya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Tawadhunya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A pada Rabu, 25 Sya’ban 1445 H / 6 Maret 2024 M.



    Kajian sebelumnya: Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin







    Kajian Islam Tentang Tawadhunya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam



    Setelah potongan pertama dari hadits ini tentang dua tabi’in yang datang bertanya kepada sahabat Abdullah bin Umar tentang orang-orang yang mengatakan bahwa tidak ada takdir dan segala sesuatu itu baru dimulai, maka sahabat Abdullah bin ‘Umar pun mengatakan bahwa: “Apabila engkau menemui mereka, katakanlah bahwa Abdullah bin ‘Umar berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dari Abdullah bin Umar, dan mereka tidak beriman sampai mereka beriman kepada takdir.”



    Kemudian sahabat Abdullah bin Umar meriwayatkan dari ayahnya Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, yang mana sahabat Umar Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, “Ketika kami duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat rapi dan sangat hitam. Tidak terlihat bahwa orang ini datang dari perjalanan yang jauh. Juga tidak ada seorang pun yang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengenal orang tersebut. Kemudian laki-laki tersebut mendekati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan duduk di depannya. Kemudian dia sandarkan dua lututnya ke lutut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan meletakkan dua tangannya di paha Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian orang tersebut bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang Islam, tentang iman, tentang ihsan, tentang hari kiamat, dan tanda-tanda hari kiamat. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setelah menjawab semua pertanyaan tadi, mengatakan bahwa sesungguhnya dia adalah Malaikat Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian agama kalian.”



    Itulah potongan pertama dari hadits Jibril ini yang tertera dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim. Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, disebutkan bahwasanya lafaznya berbeda,



    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ



    “Pada suatu hari, Nabi berada di tengah-tengah para sahabatnya.”



    Faidah yang bisa kita ambil dari perkataan sahabat Umar Radhiyallahu ‘Anhu, sebagaimana juga disebutkan oleh para ulama, bahwa Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam selalu bersama dengan para sahabatnya, selalu duduk-duduk dengan sahabat-sahabatnya, beliau tidak membatasi dirinya atau sulit ditemui; akan tetapi siapa saja dengan mudah bisa menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Adapun jika beliau berada di rumahnya, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu membantu pekerjaan keluarganya, membantu pekerjaan istrinya, sebagaimana disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika sebagian istri-istrinya ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam di rumahnya, mereka menjawab,



    كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ
    1 hr 19 min
  • Belajar Dialog dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

    Belajar Dialog dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 24 Sya’ban 1445 H / 5 Maret 2024 M.







    Kajian Tentang Belajar Dialog dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam



    Rasulullah adalah teladan bagi kita. Allah mengatakan,



    لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ…



    “Sungguh pada diri Nabi itu terdapat suri teladan yang baik bagi kamu.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang pembicara yang baik, namun beliau juga merupakan pendengar yang baik juga. Dari beliau, kita belajar tata cara berbicara, berkomunikasi, berdakwah, dan berinteraksi dengan manusia. Dari beliau pula kita belajar metode menyimak dan mendengarkan yang baik.



    Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencanangkan dakwah secara terbuka, kaum kafir Quraisy tidak senang. Mereka sangat geram dan marah, ingin membendung kegiatan dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan berbagai cara, salah satunya dengan berusaha bernegosiasi. Mereka mengutus Uthbah bin Rabiah sebagai negosiator untuk menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam upaya menyelesaikan masalah secara diplomatis.



    Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Uthbah duduk di sebelah Nabi dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau mengetahui dengan pasti kedudukanmu di tengah-tengah kaummu.” Nabi sebelum menyuarakan dakwah ke tengah-tengah masyarakat Mekah, sudah terhormat dari keluarga yang terpandang dan mulia. Orang Quraisy pernah menjadikan Nabi sebagai rujukan untuk memutuskan perkara terkait peletakan Hajar Aswad. Beliau juga dikenal dengan sebutan al-Amin (orang yang dapat dipercaya). Uthbah menyinggung kedudukan Nabi di tengah-tengah masyarakat Mekah, yang memiliki pengaruh besar. Orang-orang mendengarkan kata-katanya, suka dan percaya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun, Uthbah kemudian menyatakan bahwa Nabi telah memecah belah barisan mereka.



    Uthbah mengatakan, “Engkau mencaci-maki Tuhan-Tuhan mereka, engkau kafirkan nenek moyang mereka. Oleh karena itu, dengarkanlah kata-kataku. Aku akan menyampaikan beberapa tawaran. Mudah-mudahan engkau bersedia menerimanya.”



    Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum lalu berkata, “Wahai Uthbah, sebutkanlah tawaranmu itu. Aku akan mendengarkannya.” Jadi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyilakan Uthbah untuk bicara, dan beliau mendengar. Uthbah pun mengutarakan panjang lebar segala tawarannya.



    Ada beberapa tawaran di antaranya, “Wahai Muhammad, jika engkau ingin harta dari dakwahmu ini, kami akan kumpulkan semua harta orang-orang Quraisy dan akan kami serahkan kepadamu. Kalau kamu ingin dari dakwahmu ini adalah seorang wanita, maka kami akan nikahkan kamu dengan wanita yang paling cantik di tengah-tengah kaum kami. Kalau engkau ternyata terkena penyakit atau sihir, kami akan bawakan tabib yang handal kepadamu. Kalau kamu ingin kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai hakim. Kami tidak akan memutuskan perkara kecuali dengan keputusanmu. Dengan catatan, engkau berhenti menyampaikan Laa Ilaaha Illallah.”



    Nabi mendengarkan tawaran-tawaran yang disampaikan oleh Uthbah.
    47 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah