Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Makan Bersama Anak

    Makan Bersama Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Jumadal Ula1445 H / 27 November 2023 M.







    Kajian Tentang Makan Bersama Anak



    Makan bersama anak itu adalah salah satu aktivitas yang banyak sekali manfaatnya. Namun, sayangnya, banyak di antara keluarga hari ini yang tidak melakukannya, ataupun kalau ada yang melakukannya, masing-masing sibuk dengan HP-nya. Sehingga, manfaat yang diharapkan akan bisa didapatkan dari makan bersama itu menjadi sedikit. Hal ini karena Bapaknya pegang HP, ibunnya pegang HP, anaknya juga sama, semuanya pegang HP. Sehingga, keakraban, keharmonisan, dan kehangatan yang diharapkan akan didapatkan, tidak jadi didapatkan.



    Maka, ayo kita berusaha menghidupkan kembali kebiasaan makan bersama antara bapak, ibu, dan anak. Syukur-syukur, kalau masih ada Mbah Kakung (Kakek), Mbah Putri (nenek), ajak sekalian bersama-sama satu keluarga besar.



    Jadikan kebiasaan makan bersama menjadi rutinitas harian. Apa manfaatnya ketika bisa makan bersama-sama dengan keluarga?



    Pertama, manfaatnya adalah akan mengakrabkan hubungan antara anggota keluarga, hubungan antara suami dengan istri, bapak dengan anak, dan ibu dengan anak. Kalau keakraban antar anggota keluarga ini terjalin dengan baik, maka InsyaAllah rumah tangga itu akan kuat. Rapuhnya rumah tangga, salah satu sebabnya adalah karena hubungan antar anggota itu tidak akrab. Sehingga kita sering mendengar istilah “broken home (suaminya punya WIL, istrinya punya PIL, anak-anaknya tidak tahu pada ke mana)” na’udubillahi min dzalik.



    Bisa jadi, adanya perselingkuhan dalam sebuah rumah tangga diawali dari ketidakharmonisan hubungan antara suami dengan istri. Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan mereka. Laki-laki yang mencari tempat curhat selain istri (wanita yang bukan sah), itu bisa jadi karena dia tidak mendapatkan istrinya sebagai tempat yang nyaman untuk curhat. Begitu pula sebaliknya, sebagian istri yang mencari tempat curhat berupa pria yang bukan apa-apanya. Yaitu bukan bapaknya, bukan suaminya, bukan kakaknya, bukan adiknya, tidak ada hubungan kekerabatan. Itu bisa jadi karena si istri tidak mendapatkan suaminya sebagai tempat yang nyaman untuk curhat.



    Begitu pula anak-anak yang suka keluyuran, nongkrong di pinggir jalan, di lampu merah, rambutnya dicat, tidurnya di pingir toko. Kemungkinan besar mereka masih punya bapak dan ibu. Akan tetapi bisa jadi mereka tidak mendapat kenyamanan, tidak ada tempat bagi mereka untuk berbagi canda, bercerita atau curhat. Padahal itu kebutuhan manusia. Manusia butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Ketika itu tidak mereka dapatkan, akhirnya mencari pelarian. Dan mirisnya pelarian itu ternyata adalah ada di tempat-tempat yang tidak kita harapkan.



    Maka, supaya kita bisa menghindarkan keluarga dari fenomena yang memprihatinkan tadi, salah satu caranya adalah harus sering bersama, ada aktivitas yang diikuti oleh seluruh keluarga. Aktivitas harian yang bisa kita lakukan bersama-sama yang mudah dilakukan adalah makan bersama. Ini tidak butuh biaya besar, hanya sekadar butuh biaya untuk masak, kemudian effort sedikit untuk mengajak.



    Jadi, salah satu momen yang sering diabaikan itu adalah momen makan bersama, apalagi di zaman ini yang masing-masing anggota keluarga super sibuk, bapak kerja, ibu pun kerja, anak bersekolah dan main. Kapan mereka akan bertemu?
    46 min
  • Shalat Istikharah

    Shalat Istikharah ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Jumadal Ula1445 H / 27 November 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Shalat Dhuha dan Hukum yang Berkaitan Dengannya



    Kajian Tentang Shalat Istikharah



    Shalat istikharah adalah shalat untuk meminta bimbingan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang langkah yang akan kita lakukan, tentang pilihan-pilihan yang ada di depan kita. Ketika di depan kita ada dua pilihan yang kelihatannya baik semua, sehingga kita bingung untuk menentukan pilihan, maka disyariatkan untuk melakukan shalat istikharah, meminta bimbingan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mana di antara dua pilihan ini yang sebaiknya kita ambil.



    Istikharah dalam bahasa Arab berarti  طلب الخيرة, yaitu kita meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar dibimbing untuk menentukan pilihan yang tepat dari beberapa pilihan yang ada di depan kita.



    Shalat istikharah dilakukan dengan seseorang melakukan shalat dua rakaat. Kemudian, setelah selesai shalat, meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa istikharah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Ada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma yang menjadi dasar atau landasan disyariatkannya shalat istikharah ini.



    Beliau sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma pernah mengatakan:



    كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلِّمنا الاستخارة في الأمور كلها، كما يعلمنا السورة من القرآن…



    “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita doa istikharah dalam semua perkara, seperti ketika beliau mengajarkan kepada kami surah dari Al-Qur’an.”



    Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam punya perhatian yang besar dalam mengajarkan doa istikharah kepada para sahabatnya. Kita pahami hal ini dari perkataan sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma: “sebagaimana beliau mengajarkan kami satu surah dari Al-Qur’an.” Ketika mengajarkan satu surah dari Al-Qur’an kepada para sahabat, beliau benar-benar mengajarkannya dengan baik sehingga para sahabat benar-benar menghafal surah dari Al-Qur’an tersebut.



    Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma melanjutkan: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: ‘Apabila salah seorang dari kalian menginginkan sesuatu, maka hendaklah dia shalat dua rakaat yang bukan shalat fardhu. Kemudian setelah itu bacalah:



    إذا هَمَّ أحدكم بالأمر، فليركع ركعتين من غير الفريضة، ثم ليقُلْ: «اللهم إني أستخيرك بعلمك، وأستقدرك بقُدرتك، وأسألك من فضلك العظيم، فإنك تقدر ولا أقدر، وتعلم ولا أعلم، وأنت علاَّم الغيوب، اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر [ويُسمِّي حاجته] خيرًا لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري (أو قال: عاجله وآجله) فاقدره لي ويسَّره لي، ثم بارك لي فيه. وإن كنت تعلم أن هذا الأمر شرٌّ لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري (أو قال: عاجله وآجله) فاصْرِفْهُ عنِّي واصرفني عنه، واقدر لي الخير حيث كان ثم ارضني به



    “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepadaMu dengan ilmuMu,
    1 hr 2 min
  • Bumi Sebagai Alat Bersuci dan Tempat Shalat

    Bumi Sebagai Alat Bersuci dan Tempat Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 13 Jumadal Ula1445 H / 26 November 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Bumi Sebagai Alat Bersuci dan Tempat Shalat



    Hadits 257:



    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﵁ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ.



    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku dilebihkan di atas para nabi dengan enam:




    * Aku diberikan oleh Allah jawami’ al-kalim (kalimat yang pendek namun maknanya sangat dalam dan luas sekali yang kemudian menjadi kaidah dalam agama).



    * Aku ditolong dengan rasa takut -dalam riwayat yang lain: perjalanan sebulan (artinya sebulan sebelum menyerang musuh, musuh sudah ketakutan duluan).



    * Dihalalkan untukku ghanimah (harta rampasan perang).



    * Dijadikan untukku bumi ini sebagai alat bersuci dan tempat shalat.



    * Aku diutus kepada seluruh manusia.



    * Aku adalah penutup para nabi.” (HR. Muslim)




    Hadits ini menunjukkan keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimana beliau diberikan oleh Allah banyak kelebihan di atas para nabi. Namun, dalam hadits ini, Rasulullah menyebutkan enam kelebihan tersebut. Hal ini bukanlah batasan, dan masih ada kelebihan-kelebihan lainnya seperti mukjizat para nabi yang berhenti, sedangkan mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu Al-Qur’an, kekal sampai hari kiamat.



    Jawami’ Al-Kalim



    Pertama, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diberikan oleh Allah jawami’ al-kalim, yaitu kalimat yang pendek tapi maknanya sangat luas sekali. Contoh, nabi bersabda:



    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ



    “Sesungguhnya amal itu dengan niat.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Lihat: Hadits Arbain Ke 1



    Subhanallah, kalimat ini pendek sekali, tapi kata Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah, ini masuk dalam 70 bab fikih.



    Contoh lain sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ



    “Tidak boleh melakukan mudarat dan tidak boleh menolak mudarat dengan mudarat.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain.)



    Subhanallah, ini menjadi sebuah kaidah yang luar biasa. Semua mudharat wajib ditinggalkan, dan kemudian di situ para ulama menyebutkan kaidah-kaidah cabang dari kaidah tersebut.



    Lihat juga: Khutbah Jumat: Tidak Boleh Memberikan Mudharat



    Contoh lagi, sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    1 hr 8 min
  • Khutbah Jumat: Perkara yang Harus Diperhatikan Setelah Beramal Shalih

    Khutbah Jumat: Perkara yang Harus Diperhatikan Setelah Beramal Shalih ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 11 Jumadal Ula 1445 H / 24 November 2023 M.







    Khutbah Jumat Pertama: Perkara yang Harus Diperhatikan Setelah Beramal Shalih



    Sesungguhnya, amalan shalih adalah merupakan bekal terbesar yang akan kita bawa menuju kehidupan akhirat. Sesungguhnya, amalan shalih adalah merupakan cahaya di hati kita, bahkan kekuatan hati kita untuk meniti jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, saudaraku, ada beberapa perkara yang harus kita perhatikan setelah beramal shalih.



    1. Jangan tertipu banyaknya amal



    Yang pertama, jangan sampai kita tertipu dengan banyaknya amal, karena kita tidak tahu mana amal yang telah diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan pernah kita merasa telah shalih dengan banyaknya amal shalih, karena sesungguhnya kita tidak tahu akan wafat di atas apa. Kewajiban kita adalah berharap kepada Allah agar Allah menerima amal kita, dan khawatir kalau amal kita belum diterima oleh Allah akibat dari kekurangan-kekurangan yang kita lakukan.



    Orang yang tertipu dengan banyaknya amal, seringkali menimbulkan penyakit-penyakit yang bisa membatalkan amal itu sendiri. Di antara penyakit itu adalah ‘ujub, merasa dia lebih di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula, ia pun menganggap remeh amalan manusia sehingga ia terkena kesombongan. Saudaraku, itu saja sudah cukup untuk membatalkan amalnya. Bayangkan, kalau ia merasa sombong dengan amalnya, lalu ia mati di atas kesombongannya. Itu berarti ia wafat di atas su’ul khatimah. Nas‘alullah as-salamah wal ‘afiyah.



    Nabi kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda:



     إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا



    “Sesungguhnya di antara kalian, ada yang selama hidupnya senantiasa beramal dengan amalan penduduk surga sehingga jaraknya dengan surga tinggal sejengkal lagi. Namun, kemudian ketentuan berkata lain. Ia pun, di akhir hayatnya, beramal dengan amalan penduduk neraka. Ia pun mati di atasnya, dan ia pun masuk ke dalam api neraka.” (Lihat Hadits Arbain Ke 4)



    Kita yakin Allah tidak mungkin menzalimi seorang pun. Akan tetapi, si hamba lah yang zalim. Al-Hafidz Ibnu Rajab, ketika menafsirkan hadits ini, membawakan riwayat yang lain, dalam Shahih Muslim Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ



    “Seseorang di antara kalian ada yang mengamalkan amalan penduduk surga sebatas yang tampak kepada manusia.” (HR. Muslim)



    Ia tampak di hadapan manusia beramal shalih, akan tetapi Allah mengetahui apa yang ada dalam hatinya. Mungkin hatinya tidak mengharapkan wajah Allah 100%, mungkin hatinya ditimpa ‘ujub dan sombong setelahnya. Mungkin ia tertipu dengan amal shalih tersebut, sehingga akhirnya di akhir hayatnya ia pun beramal amal keburukan, dan ia pun wafat di atasnya. Akibat dia tertipu dengan banyaknya amal, akhirnya ia wafat dalam keadaan su’ul khatimah. Na’uzubillah,
    13 min
  • Jangan Matikan Bakat Remaja Putri

    Jangan Matikan Bakat Remaja Putri merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 8 Jumadil Awal 1445 H / 21 November 2023 M.







    Kajian Tentang Jangan Matikan Bakat Remaja Putri



    Sebelumnya, sudah kita jelaskan keutamaan-keutamaan yang dimiliki Aisyah. Aisyah benar-benar memanfaatkan perjalanan beliau bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mulai dari beliau adalah seorang gadis kecil sampai beranjak menjadi seorang remaja. Setelah Nabi wafat, Aisyah juga aktif menyebarkan ilmu dan menyampaikan riwayat yang beliau dapatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai beliau wafat.



    Aisyah Radhiyallahu ‘Anha adalah salah satu potret remaja putri. Artinya, Nabi mempersiapkan Aisyah untuk itu dan membuka kesempatan kepada Aisyah untuk menjadi wanita yang terkemuka dalam ilmu.



    Oleh karena itu, para pendidik, khususnya yang memiliki anak perempuan remaja, hendaknya betul-betul membimbing dan mendidik mereka agar bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi umat.



    Buang jauh pemikiran bahwa yang namanya wanita hanya berada di sumur, dapur, kasur, di bawah pria, tidak ada kiprah apa-apa di tengah masyarakat, bahkan sangat-sangat dibatasi. Tentu ada batas-batasnya, tapi kita harus mengerti bahwa kaum wanita di masa Nabi, juga memiliki peran yang sangat penting di tengah-tengah kaum muslimin. Bahkan setelah masa Nabi, di antara mereka, ada yang memang betul-betul memiliki peran yang sentral di tengah-tengah umat.



    Kalaulah mereka memiliki kemampuan untuk itu, mengapa tidak? Ada seorang wanita yang memang bisa menjadi seorang mufti atau rujukan di dalam ilmu atau memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bisa saja demikian.



    Jangan matikan bakat mereka dengan alasan-alasan yang kuno. Seolah-olah begitulah nabi dan para sahabat. Kalau kita baca juga sirah ulama-ulama Salaf, mereka tidak memperlakukan seperti itu. Sehingga ada buku tentang peran wanita di dalam perkembangan ilmu hadits, itu luar biasa di masa para ulama dahulu. Terutama bagaimana peran mereka di dalam menyebarkan ilmu. Maka kita lihat di buku-buku biografi para perawi, banyak di antara mereka adalah kaum wanita.



    Memang, wanita tetap setengah akalnya dari pria, namun ini nisbi. Pertanyaannya pria yang mana ini? Sebagian wanita, ada yang setengah akalnya itu lebih unggul daripada akal pria. Artinya, jangan karena hadits itu kita menihilkan potensi yang ada pada wanita. Sebagaimana sikap sebagian orang hari ini terhadap kaum wanita. Seolah-olah Islam seperti itu, padahal tidak. Islam tidak seperti itu.



    Di sebagian lembaga-lembaga pendidikan tinggi atau universitas, banyak di antaranya kaum wanita lebih berprestasi di bidang akademik daripada kaum pria. Kita lihat juga di dalam deretan para ilmuwan, baik itu di bidang ilmu agama maupun ilmu dunia, banyak kaum wanita yang menonjol.



    Mungkin sebagian orang takut karena berpatokan dengan ayat الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ. Jawabannya adalah bahwa kita harus tempatkan ayat itu pada konteksnya, yaitu dalam konteks kepemimpinan di dalam rumah tangga. Artinya tetap, seberapa pintar pun wanita, mungkin lebih pintar dari suaminya, tapi di dalam rumah tangga, dia adalah wazir, pemimpinnya tetap pria. Karena pria yang diamanahi tanggung jawab itu. Jadi jangan dicampur adukkan, kemudian ayat itu dipakai untuk semua urusan.
    43 min
  • Namimah, Dosa Besar Yang Menimbulkan Azab Kubur

    Namimah, Dosa Besar Yang Menimbulkan Azab Kubur adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 8 Jumadil Awal 1445 H / 21 November 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Membongkar Kedustaan Seseorang dengan Bukti







    Namimah, Dosa Besar Yang Menimbulkan Azab Kubur



    Hadits terakhir yang kita bahas, yaitu hadits Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata:



    أنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – مرَّ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: «إنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ في كَبيرٍ! بَلَى إنَّهُ كَبِيرٌ: أمَّا أَحَدُهُمَا، فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ، وأمَّا الآخَرُ فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ».



    Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati dua kuburan, beliau bersabda: “Sesungguhnya dua orang penghuni kubur ini sedang disiksa dengan siksaan kubur. Mereka tidak diazab pada suatu hal yang besar, namun memang perbuatan itu perbuatan yang besar. Adapun salah satu di antara dua orang tersebut berjalan untuk mengadu domba di antara manusia (dengan menyampaikan perkataan dari satu orang ke orang yang lain untuk merusak hubungan di antara dua orang tersebut). Adapun satunya lagi yang diazab dalam kubur, dia adalah orang yang tidak membersihkan kencingnya.” (Muttafaqun alaih)



    Di dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika mengetahui dua orang ini diazab dalam kubur mereka, maka beliau mengambil sebuah pelepah kurma, kemudian membagi dua, dan menanam salah satu pelepah kurma itu di satu kuburan, sedangkan yang satunya lagi di kuburan yang sampingnya. Kemudian beliau mengatakan: “Aku berharap dengan syafaatku ini, selama pelepah kurma ini masih basah, semoga mereka dihentikan azab tersebut.”



    Yang diambil dari hadits ini bahwa Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam pada hakikatnya tidak mengetahui yang ghaib, karena mengetahui yang ghaib itu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengapa Nabi ‘Alaihi Shalatu Wasalam’Alaihish Shalatu was Salam mengetahui bahwa dua orang ini diazab dalam kubur mereka? Karena Allah yang memperdengarkan dan memberitahukan kepada beliau. Jadi bukan setiap beliau jalan di kuburan kemudian mengetahui bahwa ini diazab atau tidak diazab. Tapi Allah memberitahukan kepada beliau, dan tentu hikmahnya adalah apa yang beliau sampaikan.



    Salah satu orang tersebut karena melakukan namimah, yaitu menyampaikan perkataan kepada seseorang untuk menimbulkan permusuhan antara dua orang. Kemudian orang yang kedua diazab karena tidak bersuci ketika selesai buang air ini.



    Allah memberitahukan kepada Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam tentang sebab dua orang itu diazab adalah agar umat beliau berhati-hati. Jangan menjadi seorang pengadu domba yang kerjaannya hanya memindahkan perkataan dari seseorang ke yang lainnya. Ini adalah perbuatan dosa besar. Kemudian juga agar umat ini berhati-hati dan selalu memperhatikan masalah kebersihan.



    Pelajaran yang berikutnya adalah kita beriman akan adanya azab kubur. Maka hendaknya kita selalu memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari azab kubur.



    1 hr 18 min
  • Bab Arwah

    Bab Arwah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 7 Jumadil Awal 1445 H / 20 November 2023 M.







    Kajian Islam Tentang Bab Arwah



    Kita sampai ke bab 401, bab tentang arwah. Arwah adalah bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa Arab. Arwah adalah kata jamak untuk ruh atau roh. Biasanya orang menyebut roh, tetapi jamaknya arwah. Dan tidak ada arwah gentayangan. Yang gentayangan adalah jin yang hidup di tengah-tengah manusia.



    Kita tidak tahu banyak tentang roh atau arwah ini. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan di dalam Al-Qur’an:



    وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا



    “Mereka bertanya tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberikan ilmu tentang ruh kecuali sedikit.'” (QS. Al-Isra'[17]: 85)



    Salah satu ilmu tentang ruh yang akan kita baca di sini adalah di mana arwah itu bagaikan tentara-tentara yang dikelompokkan. Ketika kita bicara tentang tentara, mereka itu dikelompokkan; ada yang bagian penjalan kaki, mungkin ada yang bagian penembak, ada yang bagian pemanah, ada yang bagian pelari, dan ruh manusia seperti itu.



    Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    الأرواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف



    “Arwah itu ibarat tentara yang dikelompokkan, di antara ruh yang saling mengenal maka dia akan cocok, dan yang tidak saling mengenal maka dia akan berselisih.” (HR. Bukhari)



    Kalau kita lihat penjelasan ulama berkaitan dengan “ruh yang saling mengenal akan cocok, dan yang tidak saling mengenal, maka dia akan berselisih (tidak nyaman).” Disebutkan bahwa ini mengisyaratkan tentang kecocokan dalam kebaikan dan keburukan, dalam keshalihan dan kerusakan. Dimana orang yang baik akan terdorong untuk mencari dan berkumpul dengan orang yang baik pula, sedangkan orang yang jahat, maka kumpulannya denga orang jahat pula. Jadi, sesuai dengan kondisi roh itu.



    Bahkan dikatakan, orang kalau salah kumpul, dia tidak akan nyaman. Lama-kelamaan, dia akan meninggalkan tempat perkumpulannya itu.



    Kalau kita lihat, misalnya ada geng motor, mereka berkumpul karena ada kecocokan di antara mereka. Nanti kalau tidak sesuai, maka mereka akan saling berpisah. Tapi boleh jadi juga kecocokan itu dibentuk dengan lingkungan. Dimana ada sebagian orang, mungkin yang jahat, kemudian dikumpulkan dengan orang-orang baik, maka lama-kelamaan dia jadi baik, sehingga rohnya berubah. Ini di antara makna hadits yang baru saja kita baca.



    Pendapat yang kedua, hadits ini bercerita tentang awal penciptaan, dimana disebutkan bahwasanya arwah itu diciptakan sebelum jasad. Makanya nanti Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kepada malaikat untuk meniupkan ruh, ketika janin berumur 120 hari.



    Dan disebutkan bahwasanya roh ini, sebelum dimasukkan ke jasad, dia berkumpul dengan roh-roh yang lainnya, mereka saling berjumpa. Di alam arwah sana, yang cocok berkumpul. Kemudian ketika nanti dimasukkan ke dalam jasad, nanti roh ini bertemu dengan roh yang lain yang ada di jasad yang lainnya.
    59 min
  • Cara-Cara Iblis Berhadapan dengan Manusia

    Cara-Cara Iblis Berhadapan dengan Manusia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 7 Jumadil Awal 1445 H / 20 November 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Iblis Tidak Mau Sujud kepada Nabi Adam







    Kajian Tentang Cara-Cara Iblis Berhadapan dengan Manusia



    Perlu diingat bahwa kita berada dalam peperangan dengan Iblis dan bala tentaranya setiap waktu, siang dan malam. Iblis dan bala tentaranya berusaha menyesatkan anak cucu Adam dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tiga cara atau metode; Pertama dengan penyesatan, kedua dengan menjadikan maksiat atau kejahatan terasa indah di atas muka bumi, ketiga yaitu menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    1. Penyesatan



    Pada pertemuan yang lalu, kita telah membahas cara Iblis yang pertama, yaitu menyesatkan. Ada beberapa maratib atau tingkatan dalam penyesatan ini. Cara pertama adalah mengajak anak cucu Adam kepada kekafiran dan kesyirikan. Jika tidak berhasil, Iblis menggoda manusia dengan cara yang kedua, yaitu agar umat Islam membuat bid’ah. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat biasa.



    Kemudian martabat yang ketiga, jika tidak berhasil, Iblis mengajak manusia untuk berbuat dosa-dosa besar. Jika ini juga tidak berhasil, Iblis mengajak manusia pada tingkatan keempat, yaitu melakukan dosa-dosa kecil. Kalau tetap tidak berhasil, Iblis mengajak manusia untuk melakukan perkara-perkara yang mubah secara berlebihan.



    Inilah lima perangkap dan senjata setan mulai dari yang besar sampai yang kecil: Kekafiran, bid’ah, dosa besar, dosa kecil, dan berlebihan pada perkara-perkara yang mubah.



    2. Menjadikan kejahatan terasa indah di muka bumi



    Sesuatu perbuatan jahat, maksiat yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, terasa bagus di pandangan manusia. Allah Ta’ala berfirman, tentang perkataan Iblis:



    قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ



    “Iblis berkata: ‘Wahai Rabbku, sebab Engkau hukumi aku sesat, sungguh aku akan menjadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di atas muka bumi ini.'” (QS. Al-Hijr[15]: 39)



    Ini adalah sumpah Iblis sejak saat diturunkan dari surga. Dan setan telah berhasil menggunakan metode ini. Banyak manusia tergelincir kecuali siapa yang Allah rahmati.



    Allah Ta’ala dalam surah Al-Ankabut ayat 38:



    …وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ ..



    “Setan membuat kejahatan terasa indah di pandangan mereka.” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 38)



    Allah Ta’ala juga berfirman:



    …وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ



    “Setan membuat kejahatan terasa indah untuk mreka dan menghalangi dari jalan, dan mereka tidak mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Naml[27]: 24)



    Di antara contoh strategi Iblis adalah dengan memberi nama ...
    1 hr 6 min
  • Ketakwaan Hati

    Ketakwaan Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 7 Jumadil Awal 1445 H / 20 November 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Ketakwaan Hati



    Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    اَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.



    “Janganlah kalian saling iri, janganlah kalian saling berjual beli dengan cara najasy, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi. Janganlah sebagian kalian menjual barang yang ditawar oleh yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Ia tidak boleh mendzaliminya, tidak boleh membiarkannya, tidak boleh menghinanya. Dan ketakwaan itu ada di sini (beliau menunjuk ke dadanya tiga kali). Cukuplah seseorang disebut sebagai orang yang buruk jika ia menghina dan merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim yang lainnya maka haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)



    Hadits ini menunjukkan bahwa tempat ketakwaan dan sumber ketakwaan ada di hati. Maka ketika hati dipenuhi dengan ketakwaan, maka anggota badan yang lain akan tunduk dan mengikutinya. Karena anggota badan lainnya mengikuti hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyandarkan ketakwaan kepada hati, sebagaimana firman Allah:



    ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ



    “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj[22]: 32)



    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyandarkan ketakwaan kepada hati, karena hakikat ketakwaan itu adalah ketakwaan hati. Dan membatasi ketakwaan kepada hati mengisyaratkan bahwa ketakwaan terbagi dua:




    * Ketakwaan hati, yaitu ketakwaan yang sebenarnya, yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan jujur keimanannya.



    * Takwa anggota badan, yaitu takwa yang hanya penampilan luar saja, ketakwaan dusta yang dimiliki oleh orang munafik. Anggota badan mereka kebanyakan tidak khusyuk dan hati mereka lupa serta lalai.




    Allah Ta’ala berfirman:



    … فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ



    “Janganlah kalian menganggap bahwa diri kalian suci, karena sesungguhnya Dia-lah Allah yang mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm[53]: 32)



    Karena ketakwaan tempatnya adalah hati, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang bisa melihatnya, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa memberi balasan dari kebaikan ketakwaan.
    47 min
  • Bantahan Syubhat Inti Ilmu adalah Amal Sehingga Malas Menuntut Ilmu

    Bantahan Syubhat Inti Ilmu adalah Amal Sehingga Malas Menuntut Ilmu ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 7 Jumadil Awal 1445 H / 20 November 2023 M.







    Kajian Tentang Bantahan Syubhat Inti Ilmu adalah Amal Sehingga Malas Menuntut Ilmu



    Terakhir, kita membicarakan poin kedua, yaitu iblis membuat mereka merasa cukup dengan sedikit ilmu, sehingga mereka terluput dari banyak keutamaan karena minimnya ilmu. Ini merupakan salah satu penyakit penuntut ilmu, yaitu cepat merasa puas dan merasa sudah bisa meraup semua ilmu. Padahal Allah mengatakan:



    …وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا



    “Dan tidaklah kamu diberi ilmu itu selain sedikit.” (QS. Al-Isra'[17]: 85)



    Dan yang kita ketahui juga masih sedikit. Artinya, kita tidak boleh berpuas dengan sedikit ilmu. Oleh karena itu, menuntut ilmu adalah tugas yang tidak ada selesainya. Karena jika kita menuntut ilmu sepanjang hayat pun, maka tidak akan menuntaskan ilmu tersebut. Artinya masih banyak hal-hal yang terlupakan.



    Apalagi jika kita memang tidak mau menuntutnya atau membatasinya. Silakan batasi diri dari dunia, tapi jangan batasi diri dari ilmu. Silakan batasi diri dari materi (harta benda), tapi jangan batasi ilmu. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ilmu kepada siapa yang dikehendakiNya, menurut apa yang dikehendakiNya. Kadang-kadang, Allah memberikan suatu ilmu yang di luar perhitungan dan perkiraan manusia.



    Maka dari itu, motto seorang Muslim adalah belajar dan terus belajar. Tidak ada kata puas dalam menuntut ilmu, karena sepanjang hayat pun kita menuntut ilmu, itu juga tidak akan menuntaskan dahaga kita. Masih banyak ilmu-ilmu yang belum kita sentuh.



    Tapi, kaum Sufi ini dibuat puas dengan sedikit ilmu sehingga ilmu mereka pun sangat terbatas. Apalagi mereka membatasi ilmu syariat, karena mereka mengejar ilmu hakikat atau ilmu makrifat. Sehingga mengenal halal dan haram adalah sesuatu yang sangat langka dan berat di kalangan mereka. Maka, seruan mereka: “Jangan sibukkan dengan masalah-masalah.” Ini membuat sulit mereka untuk mendalami agama. Lalu, mereka menuding bahwa ilmu syariat itu masih kulit, belum masuk kepada inti.



    Inti ilmu adalah amal?



    Syubhat berikutnya yang dihembuskan setan kepada mereka dalam bab ini adalah setan menjadikan kelompok Sufi ini beranggapan bahwa inti ilmu adalah amal. Namun, mereka tidak sadar bahwa sibuk mempelajari ilmu serta mengamalkan ilmu itu termasuk amalan yang paling sempurna. Di sisi lain, meski perjalanan amal seorang alim singkat, namun dia berada di jalan yang lurus. Mungkin kita menuntut ilmu dalam waktu yang panjang, tapi beramal mungkin waktunya singkat, namun amal yang singkat ini dengan ilmu yang benar itu jauh lebih baik daripada amal yang panjang tapi dengan sedikit ilmu.



    Tentu yang terbaik adalah banyaknya ilmu dan banyaknya amal, itu yang paling sempurna. Akan tetapi, lebih baik juga, walaupun sedikit amalnya tapi banyak ilmunya. Artinya, semua amalnya itu dilandasi dengan ilmu, ini lebih selamat. Karena dia berada di jalan yang benar dengan ilmunya. Sehingga tidak ada amal (walaupun sedikit) yang tersia-siakan karena didasari ilmu. Sehingga amal itu, walaupun sedikit, tidak ada yang tersia-siakan.


    32 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah