Kelembutan dan Panggilan Kasih Sayang Kepada Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 16 Dzulqa’dah 1444 H / 05 Juni 2023 M.
Kajian Tentang Kelembutan dan Panggilan Kasih Sayang Kepada Anak
Belakangan ini, kita banyak menyaksikan tindakan kekerasan dan sikap kasar yang mengkhawatirkan. Yang lebih menyedihkan, pelakunya seringkali adalah anak-anak di bawah umur. Dulu, kekerasan dan kejahatan dilakukan oleh penjahat atau pembunuh berdarah dingin, namun sekarang anak-anaklah yang melakukannya.
Ada apa dengan kondisi anak-anak kita hari ini? Dimana yg menjadi korban adalah teman mereka sendiri. Mereka bukan hanya melakukan perundungan/bullying (kekerasan psikis) seperti menghina, merendahkan, dan mengolok-olok teman mereka sendiri. Tetapi mereka juga melakukan kekerasan yg sifatnya fisik seperti memukul dan menendang yang membuat korban tidak berdaya. Bahkan, mereka merekam peristiwa kejahatan tersebut sambil tertawa.
Apakah hati anak-anak kita sudah begitu keras sehingga tidak merasa iba melihat darah tercecer dan mendengar rintihan kesakitan? Ini adalah masalah serius yang harus menjadi perhatian serius pula bagi para orang tua dan pendidik, guru, ustadz, dan ustadzah.
Bagaimana cara kita menjadikan ini sebagai masalah serius? Yaitu kita perlu mencari akar masalahnya, dari mana sumbernya. Jadi bukan hanya sekedar mengeluh dan marah-marah di media sosial, tetapi berusaha mencari sumber permasalahannya.
Setelah menemukannya, kita perlu mencari solusinya. Marah-marah di media sosial atau ikut-ikutan mencaci maki tidak akan menyelesaikan masalah ini.
Identifikasi masalah
Jangan-jangan salah satu sumber masalahnya adalah kebebasan yang diberikan orang tua kepada anak-anak mereka dalam menggunakan HP, dimana mereka bisa menonton konten yang menyuguhkan kekerasan, baik dalam film maupun game.
Jadi, setelah berhasil mengidentifikasi sumber masalahnya, kita perlu mencari solusi dan tindakan yang dapat diambil. Apakah karena terlalu banyak main game yang mengandung adegan tembak-menembak dengan skor tertinggi jika berhasil membunuh lawan?
Setiap hari, anak-anak kita dilatih untuk membunuh tanpa rasa penyesalan, bahkan merasa senang dengan itu. Bisa jadi ini adalah sumber masalahnya.
Pertanyaannya adalah, apakah tujuan pembuat game ini hanya mencari uang saja? Tidak hanya itu, sangat mungkin salah satu tujuan mereka adalah merusak generasi kita.
Modal Mendidik Anak
Perlu dipahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kita modal yang membantu dalam mendidik anak-anak kita agar menjadi baik.
Ketika kita berusaha mendidik anak-anak, kita tidak tanpa modal. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita modal, tips, trik, dan cara yang diperlukan. Modal itulah yang dikenal sebagai fitrah. Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap bayi terlahir itu pasti sudah ditanamkan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu fitrah bawaan bayi itu adalah menyukai kelembutan dan membenci kekasaran. Artinya, setiap bayi senang saat diperlakukan dengan lembut dan tidak senang saat diperlakukan kasar. Jika Anda tidak percaya, coba perhatikan respons bayi saat Anda tersenyum padanya atau melotot dengan ekspresi serius. Jika bayi disenyumi maka dia ikut senyum. berarti dia senang. Sedangkan ketika dipelototi, dia akan menangis. Padahal, saat sedang hamil, apakah Anda mengajari bayi dalam kandungan Anda untuk merespon dengan wajah cemberut atau menangis? Tentu tidak.