Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Shalat Tarawih

    Shalat Tarawih ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 29 Rabi’ul Akhir 1445 H / 13 November 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Shalat Malam



    Kajian Tentang Shalat Tarawih



    Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang shalat tarawih. Shalat tarawih adalah shalat malam yang dilakukan di malam-malam bulan Ramadhan. Sebenarnya, shalat tarawih ini masuk dalam pembahasan shalat malam secara umum. Hanya saja, karena shalat tarawih ini memiliki sisi-sisi perbedaannya, maka dibahas dengan pembahasan yang berdiri sendiri.



    Shalat tarawih disunnahkan untuk kaum laki-laki dan kaum wanita. Dan sunnahnya sampai pada derajat sunnah muakkadah (sangat ditekankan untuk dilakukan). Ini baik untuk laki-laki maupun perempuan. Shalat tarawih inilah yang dimaksudkan oleh nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sabdanya:



    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.



    “Barang siapa yang shalat Qiyamul lail di malam-malam bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Muttafaq ‘alaihi)



    Ini tentunya amalan yang sangat besar pahalanya, karena dosa-dosa yang telah lalu bagi seseorang itu adalah dosa yang sangat banyak. Bisa jadi seseorang melakukan dosa selama 30 tahun, kemudian setelah itu shalat tarawih, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima shalat tarawihnya dan memberikan keutamaan ini, dosa-dosanya yang telah lalu semuanya diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bisa jadi umurnya lebih dari itu, sehingga lebih banyak lagi dosa yang diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi dia.



    Shalat tarawih ini dijalankan oleh nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama para sahabatnya hanya di sebagian malam-malam bulan Ramadhan, tidak di semua malamnya. Beliau tidak menjalankan shalat tarawih bersama para sahabatnya di semua malam bulan Ramadhan, karena beliau khawatir, beliau takut apabila nantinya shalat tarawih ini diwajibkan kepada umatnya, kemudian umatnya tidak mampu menjalankannya karena beratnya shalat tarawih ini.



    Makanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya melakukan shalat tarawih bersama para sahabatnya di sebagian malam bulan Ramadhan. Tapi ini bukan berarti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menjalankan shalat Tarawih di bulan Ramadhan, kecuali hanya malam-malam itu saja. Beliau, ketika tidak keluar untuk mengimami para sahabatnya di shalat tarawih, beliau mengganti shalat tarawihnya di rumahnya dan beliau lakukan sendiri.



    Ada sebuah hadits dari ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha yang menjelaskan kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak keluar untuk mengimami para sahabatnya di shalat Tarawih di sebagian besar malam bulan Ramadhan. Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu shalat (shalat malam di bulan Ramadan) di masjid. Maka akhirnya orang-orang menjadikan beliau sebagai imam dalam shalat tersebut. Di malam yang berikutnya,
    57 min
  • Berjalan Menuju Shalat

    Berjalan Menuju Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 28 Rabi’ul Akhir 1445 H / 12 November 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Berjalan Menuju Shalat



    Kita sampai pada bab المَشي إِلَى الصلاة تمحى به الخَطايَا وتَرْفَعُ به الدَرَجَات (Berjalan menuju shalat yang dengannya akan dihapus dosa-dosa dan diangkat derajat).



    Hadits 243:



    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﵁ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَنْ تَطَهَّرَ في بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَاتهُ (١) إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً.



    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Siapa yang bersuci di rumahnya kemudian ia berjalan kaki menuju rumah Allah (Masjid), untuk melaksanakan kewajiban shalat wajib yang Allah wajibkan (maksudnya shalat lima waktu), maka langkah-langkahnya salah satunya menggugurkan dosa, dan yang lainnya mengangkat derajat.” (HR. Bukhari)



    Hadits ini menunjukkan akan keutamaan pergi ke masjid, dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan di sini bahwa orang yang pergi ke masjid, langkah kakinya itu mengangkat satu derajat, kemudian menggugurkan satu kesalahan. Akan tetapi, di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan syarat. Syarat untuk bisa mendapatkan pahala tersebut, yaitu kalau dia bersuci di rumahnya. Kata-kata “rumah” di sini sifatnya kebiasaan, tidak menutup yang lainnya, misalnya seseorang berangkat dari kantor atau tempat kerja, yang jelas di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan syarat.



    Dari hadits ini juga kita mengetahui bahwa bersuci sebaiknya di rumah, bukan di masjid. Namun, kalau misalnya seseorang berkata: “Ah, nanti saja saya berwudunya di masjid,” ini boleh, tidak masalah. Namun Antum tidak mendapatkan keutamaan. Di antara keutamaannya adalah setiap langkah kakinya menaikkan satu derajat, dan menggugurkan satu dosa. Di antaranya juga, kalau Antum berangkat dari rumah dalam keadaan berwudu, Antum tetap dapat pahala shalat, dan itu hilang gara-gara Antum tidak berwudu terlebih dahulu.



    Berjalan kaki lebih utama daripada naik kendaraan. Maka dari itu, Antum yang punya motor, digembok aja dulu. Biasakan jalan kaki ke masjid, insyaAllah sehat. Bukan cuma sehat, bahkan dapat pahala di bi’idznillah. Jangan biasakan memanjakkan diri kita dengan pakai motor. Dan dalam hadits yang sudah kita bacakan pada pertemuan sebelumnya, ada sahabat yang rumahnya paling jauh, bahkan di ujung kota Madinah, sekitar 5 km, tapi tidak pernah sekalipun absen dari shalat berjamaah. Ketika sahabat ini disuruh untuk beli kendaraan, dia tidak mau dan berkata: “Saya ingin setiap langkah kaki saya mengangkat satu derajat, menggugurkan satu dosa.” Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    إِنَّ لَكَ مَا احْتَسَبْتَ



    “Kamu mendapatkan apa yang kamu niatkan tersebut.” (HR. Muslim)



    Subhanallah… Maka, kita biasakan jalan kaki ke masjid. Ini juga menunjukkan bahwa masjid itu adalah Baitullah (rumah Allah). Dan itu menunjukkan akan keistimewaan dan kemuliaan masjid, sampai-sampai masjid itu disebut dengan rumah Allah. Makanya, masjid adalah merupakan rumah yang siapapun yang mencintainya itu ...
    56 min
  • Kisah Samurah bin Jundub al-Fazari

    Samurah bin Jundub al-Fazari merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 23 Rabi’ul Akhir 1445 H / 7 November 2023 M.







    Kajian Tentang Samurah bin Jundub al-Fazari



    Ada beberapa sahabat yang sudah kita bahas, contoh-contoh remaja pada masa Nabi. Terakhir, kita membahas Anas bin Malik; beliau adalah seorang remaja yang menjadi khadim Nabi selama lebih dari 10 tahun. Beliau adalah seorang remaja yang bisa diandalkan, khususnya dalam hal menyimpan rahasia-Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berkhidmat melayani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di usia yang muda, beliau memiliki kecakapan untuk melayani. Tentunya, tidak semua orang punya bakat untuk melayani, dan mengetahui kebutuhan orang yang dikhidmati.



    Berikutnya, potret remaja selanjutnya, yaitu Samurah bin Jundub al-Fazari. Setelah ayah beliau gugur sebagai syuhada, sang ibu mendaftarkannya untuk berjihad. Kemudian, ibunya dinikahi oleh salah seorang sahabat Anshar. Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menginspeksi pasukan pada perang Uhud, Rafi’, Samurah dan sahabat-sahabat muda lainnya, para remaja, berjalan dengan kaki berjinjit agar terlihat tinggi dan besar. Mereka takut ditolak oleh Nabi. Karena Nabi adalah Panglima pasukan yang berhak untuk memilih siapa yang ikut dan siapa yang tidak ikut. Namun, kemudian Rasulullah memulangkan Rafi’. Lalu ada yang mengatakan bahwa Rafi’ adalah seorang dengan keahlian memanah. Karena keterampilannya memanah itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengizinkannya ikut berperang.



    Ketika tiba di hadapan Samurah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menolaknya karena dia masih remaja, di bawah 15 tahun. Samurah menangis dan berkata, “Engkau izinkan dia (yaitu Rafi’), sementara aku engkau tolak. Andai aku berhadapan dengannya, aku bisa mengalahkannya.” Maka, Samurah dan Rafi’ pun kemudian saling berhadapan. Dan Samurah berhasil merobohkan Rafi’. Akhirnya beliau mengizinkan keduanya ikut dalam peperangan Uhud.



    Rasulullah juga pada saat itu menolak Usamaah bin Zaid, Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, Barra’ bin Azib, Amr bin Hazm, Usaid bin Zahir saat Perang Uhud karena mereka belum baligh. Setelah menginjak usia 15 tahun, barulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengizinkan mereka ikut serta dalam Perang Khandaq. Ini menunjukkan bagaimana antusias para remaja dahulu untuk ikut berjuang bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Usia tidak menghalangi mereka; hanya saja, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengizinkan mereka pada saat itu karena mereka belum baligh. Ketika mereka sudah menginjak usia 15 tahun ke atas, sudah lewat masa tengah remaja, mereka dinilai cukup mampu untuk ikut perang bersama Nabi. Barulah Nabi mengizinkannya.



    Adapun Samurah dan Rafi’ diizinkan karena mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh remaja-remaja lainnya. Rafi’ ini adalah seorang remaja yang mahir memanah, dan itu dibutuhkan oleh kaum muslimin, terutama pada Perang Uhud. Kita tahu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meletakkan para pemanah di Jabal Rumat, dan Nabi mengizinkan Samurah bin Jundub ikut karena ia adalah seorang remaja yang tangguh, bisa mengalahkan anak yang lebih besar darinya.



    Ini potret remaja pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu,
    51 min
  • Haramnya Mendengarkan Ghibah

    Haramnya Mendengarkan Ghibah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 23 Rabi’ul Akhir 1445 H / 7  November 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Haramnya Merusak Kehormatan Seorang Muslim







    Haramnya Merusak Kehormatan Seorang Muslim



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    …إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا



    “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban (oleh Allah Ta’ala di hari kiamat kelak).” (QS. Al-Isra'[17]: 36)



    Ini salah satu dalil dari Al-Qur’anul Karim yang dibawakan oleh An-Nawawi Rahimahullah tentang dilarangnya mendengarkan ghibah.



    Adapun hadits yang dibawakan oleh An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala, yaitu:



    وعن أَبي الدرداء – رضي الله عنه – عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أخيهِ، رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَومَ القيَامَةِ». رواه الترمذي، وقال: «حديث حسن».



    Dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya, Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka di hari kiamat kelak.” (HR. At-Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan)



    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang kewajiban seorang muslim dalam membela hak saudaranya, yaitu dengan menyanggah dan membantah apabila kehormatan seorang muslim dilecehkan.



    Hadits ini memberikan pelajaran kepada kita, yaitu kewajiban seorang muslim untuk membela dan menjaga kehormatan saudaranya. Misalnya ada seseorang ghibah (membicarakan tentang seseorang), si B menggibahi Si C. Kemudian di situ ada seorang yang mendengar bahwa si B membicarakan tentang si C. Lalu apa yang dibicarakan oleh si B ini diketahui oleh si D bahwa itu tidak benar. Maka dia mempunyai kewajiban untuk menyanggah dan membantah omongan dari si B tadi tentang si C. Jadi, dia menjelaskan bahwa apa yang dikatakan dan tuduhkan kepada si C itu tidak benar.



    Kewajiban kita, tatkala ada orang membicarakan seseorang, menjatuhkan kehormatannya, dan yang lainnya, sementara kita tahu betul bahwa apa yang dituduhkan itu tidak benar. Maka kita mempunyai kewajiban untuk membela saudara kita. Dan balasannya nanti di hari kiamat kelak adalah Allah menjauhkan wajah kita dari api neraka.



    Sekarang ini tidak sedikit kita jumpai majelis-majelis ghibah, bahkan yang melakukannya adalah orang-orang yang notabene adalah orang-orang yang punya punya ilmu. Tapi dalam obrolan-obrolan, mereka membincangkan (mengghibahi, atau menfitnah, atau menuduh) seseorang. Ini kalau tidak diselesaikan di dunia, nanti akan diselesaikan di akhirat dengan pemberian hadiah amal kebaikan kepada orang yang dighibahi itu.



    Kemudian, hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang seorang tatkala mendengarkan ada yang membicarakan tentang saudaranya sesama muslim, dan apa yang dibicarakan itu tidak benar, namun dia tidak mampu untuk mencegah atau menyanggah atau membantah omongan i...
    1 hr 19 min
  • Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam

    Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 22 Rabi’ul Akhir 1445 H / 6 November 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Faedah Mempelajari Kisah Para Nabi dan Rasul







    Kajian Tentang Kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam



    Kita akan bahas beberapa poin:




    * Apakah Adam seorang nabi?



    * Adam adalah manusia yang pertama kali, dia adalah nenek moyang kita.



    * Penciptaan dan keistimewaan Nabi Adam.



    * Di antara keistimewaan Nabi Adam yang dibahas adalah para malaikat sujud kepada Adam dalam rangka memuliakannya. Sedangkan iblis tidak mau sujud. Kemudian dibahas apakah iblis itu bagian dari malaikat atau bukan, dan kenapa iblis berada dalam shaf malaikat?




    Apakah Adam seorang nabi?



    Pertanyaan ini dijawab oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara langsung. Di dalam sebuah hadits yang shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Dikatakan bahwa Abu Dzar pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    يا رسول الله أي الأنبياء كان أول ؟ قال : آدم، قلت : يا رسول الله ونبي كان ؟ قال : نعم نبي مكلم



    “Wahai Rasulullah, nabi yang pertama kali itu siapa?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Adam.” Kemudian Abu Dzar bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah dia nabi?” Kata Rasul: “Iya, Nabi Mukallam (yang diajak bicara langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (HR. Imam Ahmad)



    Menit ke- Dalam hadits yang shahih, riwayat Tirmidzi dan yang lainnya, Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آَدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَبِيَدِيْ لِوَاءُ اْلحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ، وَ مَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آَدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَاءِيْ، وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ وَلاَ فَخْرَ.



    “Aku penghulunya anak cucu Adam pada hari kiamat, dan aku tidak sombong. Di tanganku ada bendera Al-Hamd, dan aku tidak sombong. Tidak ada seorang nabi pun, dari Nabi Adam dan selainnya, melainkan di bawah benderaku. Aku nabi yang pertama kali memberikan syafaat, dan diberi syafaat.” (HR. Tirmidzi)



    Dari sini kita mengetahui bahwa beliau adalah nabi.



    Kemudian, telah datang banyak dalil yang memperkuat hal ini. Di antaranya, dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 33, Allah Ta’ala berfirman:



    إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ



    “Sesungguhnya Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran di atas alam semesta.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 33)



    Kemudian, Surah Thaha ayat 121 dan 122, Allah berfirman:



    …وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ ‎﴿١٢١﴾‏ ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ ‎﴿١٢٢﴾



    “Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya dan sesatlah ia.
    57 min
  • Memperbaiki Hal-hal yang Terlintas di Hati

    Memperbaiki Hal-hal yang Terlintas di Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 22 Rabi’ul Akhir 1445 H / 6 November 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Memperbaiki Hal-hal yang Terlintas di Hati



    Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    إنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَجَاوَزَ لِأُمَّتي عَمَّا حَدَّثَتْ به أَنْفُسَهَا، ما لَمْ تَعْمَلْ، أَوْ تَكَلَّمْ بهِ



    “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menuliskan dosa untuk umatku apa yang dia ucapkan dalam hatinya selama dia tidak kerjakan atau dia tidak ucapkan.” (Muttafaq Alaihi, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).



    Sesungguhnya prinsip amalan seseorang, baik atau buruknya, tergantung dari pikiran-pikiran yang berputar di dalam dadanya, kemudian pikiran-pikiran itu berubah menjadi keinginan, dan keinginan berubah menjadi amal perbuatan. Oleh karena itu, barang siapa yang bisa menjaga pikiran-pikiran tersebut dengan baik, ia menghalangi dan menjauhkan dari hatinya pikiran-pikiran buruk tersebut, maka hatinya akan selamat dari kehancuran dan kebinasaan. Tapi, barang siapa yang membiarkan pikiran-pikiran buruk terus merasuk hatinya, maka hal tersebut akan merusak dan membuahkan keburukan dan kerusakan yang besar.



    Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah: Adapun pikiran-pikiran, maka perkaranya sangat berat, karena sumber kebaikan dan keburukan itu adalah pikiran. Darinya terlahirkan keinginan dan azam yang kuat. Maka, barang siapa yang memperhatikan pikiran-pikirannya, menjaga pikiran-pikirannya, ia akan menguasai dirinya, menguasai hawa nafsunya. Dan barang siapa yang terkalahkan oleh pikirannya, maka hawa nafsunya yang akan menguasainya. Dan barang siapa yang meremehkan pikiran-pikiran buruk, maka pikiran-pikiran buruk tersebut akan mengantarkannya kepada kebinasaan. Terus saja, pikiran-pikiran itu merasuk dalam hati, sampai berubah menjadi harapan-harapan dan impian-impian yang batil, seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka oleh orang-orang yang haus bahwa di sana ada air, sampai ketika ia ke sana tidak mendapatkan sesuatu, dan dia mendapati Allah di sisinya. Dan Allah memberi balasan yang sempurna. Dan Allah Maha cepat perhitungannya.



    Dan kiat yang paling bermanfaat untuk seorang hamba dalam bab ini, yaitu seseorang membatasi pikiran-pikirannya pada empat perkara. Yang pertama, pikiran-pikiran yang mendatangkan manfaat dunianya. Yang kedua, pikiran-pikiran yang menghalangi darinya bahaya-bahaya dunianya. Yang ketiga, pikiran-pikiran yang mendatangkan manfaat akhiratnya. Dan yang keempat, pikiran-pikiran yang menolak darinya bahaya di akhirat. Apabila seseorang membatasi pikiran-pikirannya pada empat perkara ini, maka ia akan sukses dan bahagia di dunia dan di akhirat.



    Berkata Ibnu Qayyim Rahimahullah: Hendaklah seorang membatasi pikiran-pikirannya pada empat perkara. Apabila terbatasi pada empat perkara ini, maka dia tidak akan terpikirkan perkara yang lain. Dan apabila pikiran-pikiran ini saling berkaitan, maka ia harus mendahulukan yang lebih penting daripada yang penting yang ditakutkan tidak ia dapatkan,
    43 min
  • Tipu Daya Iblis Terhadap Kaum Sufi Ketika Menyikapi Berita Kematian

    Tipu Daya Iblis Terhadap Kaum Sufi Ketika Menyikapi Berita Kematian ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 22 Rabi’ul Akhir 1445 H / 6  November 2023 M.







    Kajian Tentang Tipu Daya Iblis Terhadap Kaum Sufi Ketika Menyikapi Berita Kematian



    Salah satu talbis iblis terhadap mereka adalah bahwa orang yang meninggal tidak boleh ditangisi. Maka, siapa yang menangis atas kematian seseorang, berarti dia telah menyimpang dari jalur makrifat. Kita sudah jelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menangis ketika Putra beliau, yaitu Ibrahim, wafat. Dan juga para sahabat juga menangis ketika menerima berita kematian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jadi, itu adalah reaksi yang wajar, asalkan tidak melampui batas dengan meratap atau meraung-raung, menyertai tangisan dengan ucapan-ucapan ratapan, atau perbuatan-perbuatan seperti menampar pipi, merobek baju, atau mencakar wajah, dan sejenisnya.



    Lihat: Larangan niyahah



    Menangis adalah air mata yang normal dan biasa dialami seseorang ketika sedang bersedih. Sementara itu, kaum sufi mengatakan bahwa sama sekali tidak boleh menangisi orang yang meninggal.



    Kemudian, talbis iblis yang kedua terhadap mereka adalah saat ada yang meninggal, mereka mengadakan sebuah acara yang mereka sebut sebagai ‘pesta kematian.’ Dalam acara ini, mereka menyanyi, menari, dan bermain. Mereka mengatakan: ‘Kami bahagia karena si mayit ini telah sampai kepada penciptanya.’ Hal ini berkembang menjadi suatu perayaan yang melibatkan hidangan makanan dan minuman, serta acara-acara untuk menunjukkan kebahagiaan mereka.



    Sunnah Nabi ketika mendapatkan musibah kematian



    Sunnah Nabi ketika ada orang yang mengalami musibah kematian, maka keluarga yang berduka seharusnya dibuatkan makanan, karena sedang sibuk dan hati mereka oleh musibah tersebut, sehingga tidak sempat untuk memasak. Bukan sebaliknya, yaitu keluarga yang berduka membuat makanan untuk disuguhkan kepada orang lain.



    Dalil yang menganjurkan agar dibuatkan makanan apabila ada yang berduka adalah hadits shahih dari Abdullah bin Ja’far, dia berkata: “Saat berita kematian Jafar sampai kepada kami, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    اصنعوا لأهل جعفر طعاما فإنه قد جاءهم ما يشغلهم



    “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka musibah kematian yang menyibukkan mereka.” (HR. Tirmidzi)



    Ini sunnah yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin, yaitu membantu keluarga yang sedang berduka dengan membuatkan makanan untuk mereka. Bukan sebaliknya, keluarga yang berduka justru membuatkan makanan hingga kadang-kadang harus berhutang untuk menjamu para pelayat atau para tamu.



    Maka ketika kita berkunjung kepada keluarga yang sedang berduka, kita tidak boleh berlama-lama, dan kita juga hendaknya membawa makanan untuk mereka, tidak datang dengan tangan kosong. Itulah anjuran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidak perlu membuat panggung ataupun tenda sehingga orang-orang berkumpul di situ. Tentunya, mereka akan repot untuk menjamu tamu,
    35 min
  • Memohon Kebaikan Ketika Masuk Rumah

    Memohon Kebaikan Ketika Masuk Rumah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 22 Rabi’ul Akhir 1445 H / 6  November 2023 M.



    Lihat sebelumnya: Mengucapkan Salam Saat Masuk Rumah







    Kajian Tentang Memohon Kebaikan Ketika Masuk Rumah



    Di antara doa masuk rumah yang dibaca adalah:



    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلَجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا



    “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan masukku ini dan kebaikan keluarku ini. Dengan menyebut nama Allah (aku memohon pertolonganMu Ya Allah) kami masuk, dan dengan menyebut nama Allah kami keluar, kami bertawakal kepada Allah.”



    Landasannya adalah sebuah hadits yang sebuah hadits yang berbunyi:



    إِذَا وَلَجَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلَجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا ثُمَّ لِيُسَلِّمْ عَلَى أَهْلِهِ



    “Apabila salah seorang dari kalian masuk rumah, hendaklah dia membaca: allāhumma innī as`aluka khairal maulaji wa khairal makhraji bismillahi walajnā wa bismillahi kharajnā wa ‘alaallahī rabbina tawakkalnā (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan masukku ini dan kebaikan keluarku ini. Dengan menyebut nama Allah kami masuk, dan dengan menyebut nama Allah kami keluar, kami bertawakal kepada Allah) kemudian setelah itu hendaklah dia mengucapkan salam kepada keluarga yang ada di rumah itu.” (HR. Abu Dawud)



    Hadits ini masih ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai keabsahannya. Ada sebagian ulama, seperti Imam Ibnu Muflih dan juga Syaikh bin Baz, mengatakan hadits ini Hasan. Kalau haditsnya Hasan, berarti bisa dipakai. Ada sebagian ulama yang lain, yaitu Imam Al-Munawi dan juga Syaikh Al-Albani, mengatakan haditsnya dha’if.



    Bagi yang meyakini haditsnya Hasan, silakan dipakai. Adapun yang meyakini haditsnya dha’if, maka tidak dipakai pun tidak mengapa. Toh, dia sudah punya “bismillah” sama “Assalamualaikum” sebagaimana yang kita bahas pada kajian sebelumnya.



    Kalau ada hadits yang masih diperselisihkan para ulama (ada yang mengatakan kuat, ada yang mengatakan dha’if), maka sikap yang bijaksana adalah saling menghargai.



    Di dalam hadits ini, kita diajarkan untuk meminta kebaikan dalam setiap aktivitas. Di dalam hadits ini, aktivitas yang disebutkan adalah masuk dan keluar. Saat masuk rumah, kita minta kepada Allah kebaikan. Dan saat keluar rumah juga minta kebaikan.



    Ketika masuk rumah, kita minta kebaikan kepada Allah. Supaya ketika masuk rumah, yang kita dapatkan di dalam rumah adalah kebaikan. Yaitu mendapatkan ketenangan, kedamaian, ketentraman, dan kerukunan.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Memohon Kebaikan Ketika Masuk Rumah” ini ke jej...
    46 min
  • 8 Kaidah dalam Masalah Hidayah

    8 Kaidah dalam Masalah Hidayah adalah ceramah agama Islam oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. yang disampaikan pada Sabtu, 20 Rabi’ul Akhir 1445 H / 4 November 2023 M.







    8 Kaidah dalam Masalah Hidayah



    Sebelum masuk ke dalam delapan kaidah ini, sebuah keyakinan yang Allah nyatakan di dalam Al-Qur’an, sebuah aqidah yang kita tidak boleh ragu di dalamnya, bahwa hidayah di tangan Allah. Allah memberikan hidayah kepada orang yang Ia inginkan dan Allah menjauhkan dari orang yang Ia pilih. Ini banyak ayat di dalam Al-Qur’an:



    … فَيُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ…



    ” Allah memberikan kesesatan kepada orang yang Allah inginkan dan Allah memberikan hidayah kepada orang-orang yang Ia inginkan.” (QS. Ibrahim[14]: 4)



    …وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ



    “Allah-lah yang telah memberikan kecintaan kepada kalian terhadap iman dan menghiasi iman itu di dalam hati kalian. Allah Tabaraka wa Ta’ala juga yang telah memberikan kebencian kepada kalian terhadap kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan, mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas jalan petunjuk yang benar (mendapat hidayah).” (QS. Al-Hujurat[49]: 7)



    Lihat, Allah yang menumbuhkan kecintaan terhadap iman, menghiasinya di dalam hati. Allah yang memberikan kebencian terhadap kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Bahkan semua kita tahu siapa-siapa di antara manusia yang berjalan di atas jalan hidayah dan menutup hayatnya di atas jalan hidayah, dan siapa di antara manusia yang tidak berjalan di atas jalan hidayah dan wafat di atas jalan kesesatan. Itu sudah Allah tulis di dalam rahim seorang wanita sebelum kita dilahirkan. Bahkan jauh sebelum itu, Allah telah menuliskannya di Lauhul Mahfud. Sebagai bukti bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala yang telah memberikan hidayah kepada orang yang diinginkan Allah dan menjauhkannya dari orang yang diinginkan Allah.



    Dalam hal ini, banyak sekali pertanyaan manusia, dan mayoritas pertanyaan itu logika manusia. Mudah-mudahan delapan kaidah berikut ini mampu menjawab itu semua. Dan kita berharap setelah kita mendengarkan delapan kaidah yang disampaikan oleh para ulama, yang kita nukilkan kepada Antum pada kesempatan kali ini, menjawab pertanyaan itu.



    Di antara pertanyaan tersebut adalah kenapa Si Fulan diberikan hidayah dan wafat di atas hidayah? Kenapa Si Fulan tidak diberikan hidayah dan wafat di atas kesesatan? Bahkan telah turun firman Allah Tabaraka wa Ta’ala menyatakan Fulan di dalam neraka, Fulan wafat di atas kekufuran, walau dia masih hidup di permukaan bumi.



    1. Hidayah bagian daripada takdir



    Takdir terbagi dua, ada yang bisa diketahui dan ada yang tidak. Ketika seseorang diberikan oleh Allah hidayah atau seseorang dihalangi oleh Allah dari hidayah, ini merupakan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, ada hal-hal yang bisa kita ketahui dan ada yang tidak.



    Ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala mentakdirkan Abu Jahal, Firaun, Qarun sebagai penduduk neraka, Allah tidak memberikan hidayah kepada mereka. Allah memberitahu kita sebab-sebabnya, sehingga kita mengetahui mengapa Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak memberikan hidayah kepada mereka.



    Ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan hidayah kepada para sahabat, kita tahu sebagian sejarahnya, bagaimana Abu Bakar, Salman Al-Farisi, dan Bilal bin Rabah mempertahankan agamanya.

    1 hr 46 min
  • Hadits Keutamaan Membangun Masjid

    Hadits Keutamaan Membangun Masjid merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 21 Rabi’ul Akhir 1445 H / 5 November 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Keutamaan Membangun Masjid



    Kita sampai pada باب: إتيان مسجد قباء والصلاة فيه (Bab mendatangi Masjid Quba dan shalat di dalamnya).



    Hadits 239:



    عَنْ ابْنِ عُمَرَ ﵄ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ رَاكِبًا أَو مَاشِيًا فَيُصَلِّي فِيهِ رَكْعَتَيْنِ.



    Dari Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasanya mendatangi Masjid Quba baik dengan berkendaraan ataupun dengan berjalan kaki, lalu Beliau shalat di Masjid Quba dua rakaat.” (HR. Muslim)



    Di sini menunjukkan bahwa kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu shalat di Masjid Quba. Jarak dari Madinah ke Masjid Quba itu sekitar 5 km, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tentang keutamaannya, dalam hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad Tirmidzi dan disahihkan Imam As-Suyuti.



    صلاة في مسجد قباء تعدل عمرة



    “Shalat di Masjid Quba itu pahalanya sama dengan umrah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan disahihkan Imam As-Suyuti.)



    Dan dalam Ash-Shahihain, dari Abdullah bin Umar:



    أن رسول الله صلى الله عليه وسلم : كان يأتي قباء يعني كل سبت، كان يأتيه راكبا وماشيا ، قال ابن دينار: وكان ابن عمر يفعله .



    “Bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasanya mendatangi Masjid Quba itu setiap Sabtu (seminggu sekali). Beliau mendatanginya terkadang dengan berjalan kaki dan terkadang berkendaraan.” Ibnu Dinar berkata: “Adalah Abdullah bin Umar juga melakukan hal itu.”



    Ini menunjukkan akan keutamaan shalat di Masjid Quba. Bahkan sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sungguh-sungguh untuk shalat di sana, seperti misalnya Saad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkata:



     لأن أصلي في مسجد قباء ركعتين أحب إليَّ من أن آتي بيت المقدس مرتين، لو يعلمون ما في قباء لضربوا إليه أكباد الإبل



    “Aku shalat di Masjid Quba dua rakaat, lebih aku sukai daripada mendatangi Baitul Maqdis dua kali. Kalaulah mereka mengetahui bagaimana besarnya pahala shalat di Masjid Quba, tentu mereka akan membeli unta-unta untuk pergi kepadanya.” (Kata Al-Hafidz Ibnu Hajar sanadnya shahih)



    Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata:



     لو كان مسجد قباء في آفاق لضربنا إليه أكباد المطي



    “Kalaulah Masjid Quba itu adanya di ufuk yang jauh, kami pasti akan mendatanginya dengan menggunakan unta-unta.” (HR. Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf)



    Ini menunjukkan betapa besarnya pahala shalat di Masjid Quba. Dan Alhamdulillah, setiap antum yang umrah pasti, InsyaAllah, biasanya diajak untuk shalat di sana. Maka gunakan kesempatan tersebut.



    Bab keutamaan orang yang membangun masjid



    Kita sampai pada باب: فضل من بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا (Bab keutamaan orang yang membangun masjid).



    Masjid adalah bangunan yang dibangun untuk ditegakkan padanya shalat berjamaah dan statusnya wakaf.
    55 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah