Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Hikmah dan Maksud Diutusnya Para Nabi dan Rasul

    Hikmah dan Maksud Diutusnya Para Nabi dan Rasul adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 17 Rabi’ul Awal 1445 H / 2 Oktober 2023 M.







    Kajian Tentang Hikmah dan Maksud Diutusnya Para Nabi dan Rasul



    Ada 10 hikmah dan maksud diutusnya para nabi dan rasul. Yaitu:



    1. Mendakwahi hamba-hamba Allah kepada tauhid



    Ini merupakan maksud dan tugas yang terbesar diutusnya para nabi dan rasul. Di antara dalilnya adalah surah Al-Anbiya ayat 25, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ



    “Dan tidaklah Kami mengutus sebelum engkau (wahai Muhammad), seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Aku, maka sembahlah Aku.”(QS. Al-Anbiya[21]: 25)



    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ…



    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul, tugas mereka adalah menyampaikan kepada manusia, ‘Sembahlah Allah semata dan menjauhi thaghut.'” (QS. An-Nahl[16]: 36)



    Dua ayat yang mulia ini sangat jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengutus para nabi dan rasul kecuali untuk mendakwahi manusia dengan dakwah tauhid. Tidak ada seorang nabi pun melainkan dakwahnya adalah dakwah tauhid.



    Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihis Salam:



    وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ



    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Nuh berkata: ‘Wahai kaumku, sembah Allah saja, kalian tidak memiliki sesembahan kecuali Dia. Tidakkah kalian bertakwa?'” (QS. Al-Mu’minun[23]: 23)



    Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam:



    وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ



    “Dan ingatlah Nabi Ibrahim ketika berkata kepada kaumnya: ‘Sembahlah Allah saja dan bertakwalah kalian kepada Allah, itu lebih baik untuk kalian jika kalian mengetahui.'” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 16)



    Semua para nabi, seperti Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Syu’aib, semuanya berkata: “Wahai kaumku, sembah Allah semata. Tidak ada sesembahan yang berhak kalian sembah kecuali Dia.” Bahkan Nabi Isa ‘Alaihis Salam , Allah berfirman tentangnya:



    …وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ



    “Al-Masih berkata: ‘Wahai Bani Israil, sembahlah Allah saja, Dia adalah Rabbku dan Rabb kalian.’ Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada penolong bagi orang-orang dzalim.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 72)
    54 min
  • Diharamkannya Ghibah dan Perintah untuk Menjaga Lisan

    Diharamkannya Ghibah dan Perintah untuk Menjaga Lisan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 18 Rabi’ul Awal 1445 H / 3 Oktober 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Karamah Orang-Orang Shalih







    Diharamkannya Ghibah dan Perintah untuk Menjaga Lisan



    Kita sampai pada باب تحريم الغيبة والأمر بحفظ اللسان (Diharamkannya ghibah dan perintah untuk menjaga lisan). Karena memang lisan ini sesuatu yang sangat berbahaya. Seorang yang tidak menjaga lisannya, maka ini akan menjerumuskan dirinya sendiri dalam bahaya besar, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari tentang masalah ini, masalah ghibah.



    Para ulama Ahlul Ilmi semua bersepakat tentang diharamkannya ghibah dari setiap orang, setiap muslim. Pada hakikatnya, ghibah dilarang dan diharamkan. Di dalam Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kita dapat melihat dan mendengar bagaimana Allah melarang, begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengharamkan ghibah.



    Di antara ayat yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala adalah:



    …وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ



    “Dan janganlah sebagian di antara kalian mengghibah sebagian yang lain. Maukah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengan perbuatan itu. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat[49]: 12)



    Di dalam ayat ini, jelas Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ghibah di antara kaum muslimin satu dengan yang lainnya. Allah memberikan perumpamaan bahwa mengghibah seseorang sama dengan memakan bangkainya. Membicarakan saudara seiman dengan cara negatif seperti ini diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya, yang tentu saja merupakan perbuatan yang keji dan menjijikkan.



    Seorang muslim memakan bangkai saudaranya, ini adalah tindakan yang sangat tercela. Makanya, Allah Ta’ala kemudian memerintahkan kita untuk bertakwa. “Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat.” Jadi, jika seseorang berbuat dosa, dia bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada orang yang dia ghibahi, maka sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.



    Pengertian Ghibah



    Ghibah adalah menyebut sesuatu yang ada pada saudaranya dimana saudaranya tidak senang kalau dibicarakan. Kalau membicarakan sesuatu yang tidak ada pada orang lain, maka ini namanya fitnah. Memfitnah seperti ini, jangankan kepada seorang muslim, kepada seorang kafir pun kita tidak boleh melakukannya. Misalnya dia tidak mencuri tetapi kita katakan dia mencuri, ini tidak boleh. Apalagi kepada sorang muslim.



    Sebagian ulama menjelaskan masalah ghibah ini berdasarkan ayat yang telah dibacakan sebelumnya, yaitu surah Al-Hujurat ayat ke-12, bahwa ghibah adalah menyebut aib seseorang ketika orang tersebut tidak berada di depan kita. Itulah yang disebut ghibah.


    56 min
  • Memperbarui Keimanan dalam Hati

    Memperbarui Keimanan dalam Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 17 Rabi’ul Awal 1445 H / 2 Oktober 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Memperbarui Keimanan dalam Hati



    Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam Kitab Mustadrak, juga Ath-Thabrani dalam Mu’jamnya, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasannya Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda:



     إنَّ الإيمانَ ليَخلَقُ في جوفِ أحدِكم كما يَخْلَقُ الثوبُ ، فاسأَلوا اللهَ أن يُجدِّدَ الإيمانَ في قلوبِكم



    “Sesungguhnya iman itu bisa menua di diri salah seorang di antara kalian sebagaimana tuanya pakaian. Maka mintalah agar Allah memperbaharui keimanan dalam hati-hati kalian.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani)



    Iman sebagaimana yang kita ketahui adalah seuatu yang paling berharga, paling penting, paling tinggi nilainya. Dengan iman itu kita bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman:



    مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ



    “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (bahagia), dan sesungguhnya akan Kami beri balasan di akhirat nanti dengan sesungguhnya yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl[16]: 97)



    Dengan keimanan, seseorang bisa masuk ke dalam surga, bisa selamat dari neraka, dan juga bisa melihat Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman:



    وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ‎﴿٢٢﴾‏ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ‎﴿٢٣﴾



    “Wajah-wajah ketika itu (pada hari kiamat) berseri-seri karena melihat wajah Allah ‘Azza wa Jalla.” (QS. Al-Qiyamah[75]: 22-23)



    Begitu juga Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda:



    إنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَومَ القِيَامَةِ



    “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)



    Maksudnya adalah ahlul iman, yaitu orang-orang yang beriman. Dan sungguh iman ini mempunyai banyak sekali buah-buah yang indah dan pengaruh-pengaruh yang baik di dunia dan di akhirat.



    Orang yang berakal adalah orang yang memperhatikan keimanannya dan menjadikan perhatian terbesarnya adalah menjaga keimanannya. Bagaimana tidak, keimanan adalah sesuatu yang paling berharga yang dimiliki oleh seseorang, dan ini kita bisa mengetahui ketika menyadari bahwa keimanan itu butuh untuk terus diperbaharui dan dijaga. Karena penghalang-penghalang dan perusak-perusak keimanan itu sangat banyak dan bermacam-macam. Dan perusak keimanan tersebut datang dari segala arah. Maka seseorang yang beriman perlu untuk terus memperhatikan, selalu sadar, dan berusaha untuk menjaga keimanannya.



    Seseorang perlu berusaha untuk selalu menjaga dan memperbaiki keimanannya, menguatkan hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla,
    52 min
  • Shalat Malam

    Shalat Malam ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 17 Rabi’ul Awal 1445 H / 2 Oktober 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Qunut dalam Shalat Witir



    Kajian Tentang Shalat Malam



    Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang qiyamul lail (shalat malam). Shalat malam adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari, setelah shalat Isya dan shalat ba’diyahnya. Shalat malam ini lebih umum daripada shalat witir, shalat witir adalah bagian dari shalat malam. Shalat malam juga lebih umum daripada shalat tahajud, karena menurut mayoritas ulama, shalat tahajud adalah shalat sunnah malam yang dilakukan setelah bangun dari tidur. Kalau definisinya seperti ini, maka shalat tahajud adalah bagian dari shalat malam, karena shalat malam bisa jadi dilakukan sebelum tidur.



    Shalat malam ini sangat besar sekali keutamaannya dan sangat tinggi sekali kedudukannya di dalam Islam. Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang hamba-hamba Allah yang Allah cintai. Di antara sifat hamba tersebut adalah:



    وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا



    “Yaitu orang-orang yang ketika malam hari mereka banyak bersujud dan banyak berdiri (maksudnya adalah banyak menjalankan shalat malam).” (QS. Al-Furqan[25]: 63)



    Ini menunjukkan bahwa di antara ciri-ciri hamba Allah yang Allah cintai adalah ketika mereka menjalankan shalat malamnya.



    Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:



    يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ‎﴿١﴾‏ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ‎﴿٢﴾‏ نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ‎﴿٣﴾‏ أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا ‎﴿٤﴾



    “Wahai orang yang berselimut (yaitu nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), shalatlah di malam hari, kecuali hanya sedikit, (yaitu) setengah malam, atau kurangi dari setengah malam dengan pengurangan yang sedikit, atau lebihkan dari itu, dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil[73]: 1-4)



    Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perintah ini kepada nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba Allah yang paling mulia. Ketika perintah diarahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hambaNya yang paling mulia, ini menunjukkan bahwa amalan ini adalah amalan yang sangat istimewa.



    Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ciri-ciri orang bertakwa yang masuk surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



     إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ‎﴿١٥﴾‏ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ ‎﴿١٦﴾‏ كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ‎﴿١٧﴾‏ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ‎﴿١٨﴾



    “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada di taman-taman dan mata air-mata air, mereka mengambil nikmat-nikmat yang Rabb mereka berikan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang melakukan kebaikan.
    52 min
  • Bersungguh-sungguh Menjaga Shalat Ashar dan Larangan untuk Shalat Sunnah Setelahnya

    Bersungguh-sungguh Menjaga Shalat Ashar dan Larangan untuk Shalat Sunnah Setelahnya merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 16 Rabi’ul Awal 1445 H / 1 Oktober 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Bersungguh-sungguh Menjaga Shalat Ashar dan Larangan untuk Shalat Sunnah Setelahnya



    Kita masuk bab bersungguh-sungguh menjaga shalat Ashar dan larangan untuk shalat sunnah setelahnya.



    Hadits 215:



    عَنْ أَبِي بَصْرَةَ الْغِفَارِيِّ ﵁ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ الْعَصْرَ بِـ (الْمُخَمَّصِ) فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ عُرِضَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَضَيَّعُوهَا فَمَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَهَا حَتَّى يَطْلُعَ الشَّاهِدُ وَالشَّاهِدُ النَّجْمُ. 



    Dari Abu Bashrah Al-Ghifari -semoga Allah meridhainya-, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat mengimami kami, yaitu shalat ashar di sebuah tempat bernama Mukhammash. Setelah shalat beliau bersabda: ‘Sesungguhnya shalat ini ditampakkan kepada orang-orang sebelum kalian, namun mereka menyia-nyiakannya. Maka siapa yang sungguh-sungguh menjaganya, maka untuk dia pahalanya dua kali lipat. Dan tidak ada lagi shalat setelahnya sampai munculnya bintang (maksudnya sampai masuknya waktu magrib).'” (HR. Muslim)



    Keistimewaan shalat Ashar



    Hadits ini menunjukkan keistimewaan shalat Ashar, bahwa shalat Ashar memiliki nilai lebih dibandingkan dengan shalat yang lainnya. Kemarin sudah kita sebutkan ada dua shalat yang sangat dianjurkan kita untuk betul-betul memperhatikannya, yaitu shalat Subuh dan Ashar.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ…



    “Jaga oleh kalian shalat-shalat lima waktu, terutama shalat wusthaa (shalat Ashar atas pendapat yang paling kuat)…” (QS. Al-Baqarah[2]: 238)



    Tidak disyariatkan shalat sunnah setelah Ashar



    Tidak disyariatkan shalat sunnah setelah Ashar, dikecualikan darinya shalat dzawatul asbab (shalat-shalat yang memiliki sebab). Contoh shalat dzawatul asbab adalah tahiyat masjid, shalat thawaf, ini boleh dilakukan shalat dua rakaat walaupun setelah Ashar. Karena shalat-shalat dzawatul asbab itu bersifat umum waktu shalatnya. Sedangkan larangan setelah Ashar itu bersifat umum semua shalatnya. Maka pada waktu itu dikhususkan untuk shalat dzawatul asbab, karena sifatnya lebih khusus dibandingkan dengan shalatnya. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan itu yang paling kuat.



    Bab ancaman keras bagi yang terluput dari shalat Ashar



    Hadits 216:



    عَنْ عبد الله بْنِ عُمَرَ ﵄ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ.



    Dari ‘Abdullah bin ‘Umar -semoga Allah meridhainya-, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang terluput dari shalat Ashar, maka seakan-akan ia terputus dari keluarganya dan hartanya.'” (HR. Muslim)



    Imam Al-Khaththabi menyebutkan makna hadits ini, bahwa artinya berkurang keluarganya, hartanya, bahkan Allah ambil itu semua,
    42 min
  • Hukum-Hukum Yang Tertera dalam Surah Al-Fatihah

    Hukum-Hukum Yang Tertera dalam Surah Al-Fatihah adalah kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada Ahad, 16 Rabi’ul Awal 1445 H / 1 Oktober 2023 M.



    Kajian Tentang Hukum-Hukum Yang Tertera dalam Surah Al-Fatihah



    Al-Fatihah adalah surah yang paling agung dalam Al-Qur’an, ia adalah Ummul Qur’an (induknya Al-Qur’an). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu bertemu dengan sahabat, lalu kemudian Rasulullah memegang tangannya sambil berkata:



    أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِى الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ » . فَأَخَذَ بِيَدِى فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ . قَالَ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) هِىَ السَّبْعُ الْمَثَانِى وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِى أُوتِيتُهُ »



    “Maukah aku ajarkan kepada kamu surah yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid?” Terus Rasulullah berbicara dengan sahabat ini sampai mau keluar masjid. Lalu sahabat ini berkata: “Hai Rasulullah, tadi engkau mengatakan mau mengajarkan aku surah yang paling agung dalam Al-Qur’an?”



    Beliau menjawab, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam) dan ia adalah merupakan tujuh ayat yang diulang-ulang, ia adalah Al-Qur’an yang agung yang Allah berikan kepadaku.” (HR. Bukhari)



    Oleh karena itu perhatian para ulama dalam mengkaji, menafsirkan dan memperdalam surah Al-Fatihah sangat luar biasa. Karena kandungan Al-Fatihah ini hakikatnya menceritakan seluruh Al-Qur’an.



    1. Memulai dengan basmalah



    Disyariatkannya memulai menulis “Bismillahirrahmanirrahim”, baik dalam kitab-kitab, surah, khutbah, nasihat, dalam rangka mencontoh Al-Qur’an. Yang perlu digarisbawahi, beda antara basmalah dengan tasmiyah. Kalau tasmiyah adalah “Bismillah” saja. Adapun basmalah adalah ucapan lengkap “Bismillahirrahmanirrahim”.



    Dalam masalah bagaimana membacanya juga harus sesuai dengan dalil. Adaupun “Bismillahirrahmanirrahim” yang disebutkan dalam dalil, Rasulullah mengucapkannya saat menulis surat, saat mau membaca Al-Qur’an di awal surah.



    Adapun “bismillah” saja, itu dianjurkan dalam banyak tempat. Di antaranya sebelum berwudhu, ketika mau keluar rumah, ketika mau jima, ketika mau masuk WC. Demikian pula dalam perkara-perkara yang sifatnya mubah seperti kita mau duduk, mau berbaring, itu dianjurkan untuk membaca bismillah.



    Manfaatnya adalah dalam rangka kita isti’anah (meminta dan memohon pertolongan kepada Allah). Karena ب dalam kata “bismillah”, mempunyai makna isti’anah, yaitu meminta pertolongan melalui nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    2. Disyariatkannya memuji Allah



    Disyariatkan memuji Allah ketika membuka tulisan, baik dalam kitab, khutbah, nasihat, dan ini adalah sunnah. Hal ini karena berbicara dan menulis adalah nikmat dari Allah. Kita bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam hati, bisa bicara dengan teman-teman, demi Allah itu nikmat sekali.



    Subhanallah.. dengan kita bisa bicara itu luar biasa. Kita bisa menulis yang dengan tulisan itu kita menyampaikan ilmu, menyampaikan berbagai macam faedah, maka kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    3. Allah memuji dan memuliakan diriNya



    Allah memuji diriNya dan memuliakan diriNya. Karena Allah-lah pemilik sifat yang sempurna.
    2 hr 12 min
  • Mencintai Rasulullah, Meneladani dan Mengamalkan Sunnahnya

    Mencintai Rasulullah, Meneladani dan Mengamalkan Sunnahnya adalah kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada Sabtu, 15 Rabi’ul Awal 1445 H / 30 September 2023 M.



    Kajian Tentang Mencintai Rasulullah, Meneladani dan Mengamalkan Sunnahnya



    Mencintai Rasulullah ‘Alaihish Shalatu was Salam adalah kewajiban setiap muslim. Siapa yang tidak mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka mungkin ia bukan muslim, karena muslim tidak mungkin membenci Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah konsekuensi iman. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    لَا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْهِ مِن والِدِهِ ووَلَدِهِ والنَّاسِ أجْمَعِينَ.



    “Tidak beriman seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai dari anaknya, dari orang tuanya, dan dari seluruh manusia.” (HR. Bukhari)



    Maka ketika kita lebih mencintai anak, orang tua dan dari seluruh manusia, daripada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ini musibah untuk agama kita. Allah mengancam dalam surah At-Taubah bagi mereka yang lebih mencintai selain Allah dan RasulNya. Allah Ta’ala berfirman:



    قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ



    “Katakanlah: ‘jika ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, keluargamu, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian ridhai, adalah lebih kalian cintai daripada mencintai Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan urusannyaNya.’ Dan Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah[9]: 24)



    Allah menyebutkan bahwa orang yang lebih mencintai bapaknya, anaknya, keluarganya, teman-temannya, istrinya, perniagaannya, jika ternyata itu lebih ia cintai daripada Allah dan RasulNya, maka Allah menganggap mereka fasik. Dan Allah tidak akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang fasik.



    Berarti ini menunjukkan bahwa kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya harus melebihi segala-galanya. Ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Demi Allah, Hai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu, kecuali dari diriku sendiri.” Apa kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?



    لا والذي نفسي بيده، حتى أكون أحب إليك من نفسك



    “Belum (sempurna imanmu Hai Umar), sampai aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.”



    Maka ‘Umar bin Khattab berkata: “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu sampai dari diriku sendiri.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:



    الآن يا عمر



    “Sekarang imanmu sempurna, Umar.” (HR. Bukhari)



    Subhanallah, saudaraku seiman, berarti mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu hukumnya wajib, bukan sunah. Bahkan itu merupakan konsekuensi iman. Iman kita tidak sempurna kalau ternyata masih ada yang lebih kita cintai daripada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

    36 min
  • Khutbah Jumat: Hati Yang Mengagungkan Allah

    Khutbah Jumat: Hati Yang Mengagungkan Allah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 14 Rabi’ul Awal 1445 H / 29 September 2023 M.







    Khutbah Jumat: Hati Yang Mengagungkan Allah



    Sesungguhnya hati yang senantiasa mengagungkan Allah, itulah hati yang paling khusyuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang menyadari bahwa Rabbnya Maha Agung, lalu hatinya mengagungkan Allah seagung-agungnya. Sehingga tidak ada yang lebih besar dari Allah. Berkonsekuensi, sehingga Allah yang paling besar yang ia ingat.



    Maka pada waktu itu, hati seperti ini adalah hati yang Allah berikan taufik kepadanya. Tidak ada lagi sesuatu yang lebih nikmat di hatinya dari mengingat Allah, Rabbul ‘Izzati wal Jalalah. Tidak ada yang lebih nikmat di hatinya dari bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Oleh karena itu, kewajiban seorang hamba adalah mengagungkan Allah seagung-agungnya. Itu yang senantiasa kita ucapkan ketika shalat, kita ucapkan “Allahu akbar,” Allah yang paling besar. Maka ketika hati kita sangat membesarkan Allah, tidak ada di hati kita yang lebih besar dari Allah, pasti anggota badannya akan khusyuk, akan khusyuk hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi ketika ada yang lebih besar di hatinya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia tidak akan bisa khusyuk di dalam shalatnya.



    Oleh karena itu, jadikan Allah yang terbesar dalam ingatan kita. Allah berfirman:



    وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَ



    “Dan mengingat Allah itu yang paling besar.” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 45)



    Seorang mukmin, mengingat selain Allah adalah hakikatnya penyakit untuk hatinya, sebagaimana para ulama berkata:



    ذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ، وَذِكْرُ اللهِ دَوَاءٌ



    “Mengingat manusia itu adalah penyakit, sedangkan mengingat Allah itu obat hati.”



    Seorang mukmin tidak ada yang lebih indah di hatinya dari mengingat Tuhannya, mengingat Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah. Sehingga pada waktu itu, ucapannya selalu dzikir kepada Allah. Sehingga pada waktu itu, ucapannya pun terbimbing. Karena lisan yang senantiasa mengingat Allah, pasti lisannya dibimbing oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lisan yang senantiasa mengingat Allah, dan hati yang merasa indah dan merasa nikmat dengan mengingat Allah, maka lisannya akan dijauhkan oleh Allah dari ghibah, Allah akan menjauhkan lisannya dari dusta, Allah akan menjadikan lisannya tidak ingin mengucapkan kecuali apa yang Allah ridhai untuknya.



    Kenapa ada seseorang yang senang sekali lisannya menyakiti orang? Kenapa ada orang yang senang sekali lisannya menggibah manusia, menjelek-jelekkan orang lain? Karena lisannya jarang ia berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Akibat lisannya berpaling dari mengingat Allah, Allah memberikan sanksi sehingga lisannya lebih senang melakukan sesuatu yang Allah tidak sukai. Sehingga akhirnya ketika ia membaca Al-Qur’an terasa berat baginya. Tapi ketika bernyanyi, bagi dia itu terasa indah di hatinya.



    Maka saudaraku, jadikan lisan kita terbiasa mengingat Allah. Jadikan Allah yang paling besar di hati kita. Dan tanda orang yang membesarkan Allah adalah mengagungkan perintah-perintah Allah. Orang yang mengagungkan Allah, dia akan mengagungkan larangan-laranganNya.



    Maka ketika seseorang meremehkan perintah Allah, meremehkan larangan Allah,
    12 min
  • Penghambaan Diri kepada Allah Ketika Tergelincir Melakukan Dosa

    Penghambaan Diri kepada Allah Ketika Melakukan Dosa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 13 Rabi’ul Awal 1445 H / 28 September 2023 M.







    Ceramah Agama Islam Tentang Penghambaan Diri kepada Allah Ketika Tergelincir Melakukan Dosa



    Kita masih melanjutkan pembahasan di kitab tentang akidah dan tauhid, masih penjelasan tentang ubudiyah hak dan tingkatan-tingkatan Al-Ubudiyah (penghambaan diri kepada Allah). Yakni bahwa seorang hamba itu dituntut untuk selalu menunaikan ubudiyah, bukan dalam keadaan senang atau lapang saja, tapi juga dalam keadaan susah atau mendapatkan musibah, dia tetap dituntut untuk melaksanakan ibadah, dan ketika dia bisa menegakkan ibadah tersebut, maka dialah hamba Allah yang sejati karena selalu menunaikan hak penghambaan diri kepada Allah dalam semua keadaannya.



    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala selanjutnya menjelaskan tentang penghambaan diri kepada Allah ketika melakukan hal-hal yang menjadi celaan bagi hamba itu, yakni berbuat dosa dan maksiat. Apa yang harus kita tegakkan ubudiyah dalam keadaan seperti ini? Yaitu bersegera untuk bertaubat darinya, serta menjauhkan diri, kemudian berdiri pada kedudukan memohon ampun kepada Allah dan merasa diri penuh dengan kekurangan dan kelemahan di hadapan Allah, dengan dia mengetahui bahwasanya tidak ada yang bisa mengangkat keburukan tersebut selain Allah, dan tidak ada yang bisa melindunginya dari dampak buruk perbuatan maksiat selain Allah, dan bahwasannya celaan keburukan maksiat tersebut kalau terus-menerus ada pada dirinya, itu akan menjauhkan dia dari kedekatan kepada Allah dan akan mengusir dia dari pintu Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Maka hamba ini memandang keburukan-keburukan maksiat tersebut termasuk kecelakaan yang tidak bisa diangkat kecuali oleh Allah. Bahkan dia sampai memandangnya lebih besar dibandingkan bahaya yang menimpa pada anggota badannya.



    Jadi, ketika kita melakukan perbuatan maksiat, dan sudah kita sebutkan, manusia tidak mungkin luput dari kesalahan. Bahkan disifati di dalam hadits yang sahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    كلُّ بني آدم خَطَّاءٌ، وخيرُ الخَطَّائِينَ التوابون



    “Semua manusia itu banyak berbuat salah, tapi sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah orang yang banyak bertaubat dan selalu kembali kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan lain-lain. Hadits ini hasan, menurut syaikh al-Albani rahimahullah)



    Inilah penghambaan diri sewaktu kita lalai sehingga berbuat maksiat, melanggar ketentuan syariat Allah, atau melakukan perbuatan yang dilarangNya. Na’udzubillahi min dzalik, kita bersegera untuk bertaubat, dan menempatkan diri kita pada posisi memohon pengampunan dan merasa diri penuh dengan kekurangan. Yang seperti ini menunjukkan kepada kita bahwa seorang hamba, ketika dia menempatkan ubudiyah ini dengan benar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintainya. Memang perbuatan buruk dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu pasti akan mengurangi iman kita. Akan tetapi jika dengan sebab melakukan perbuatan buruk tadi, seorang hamba kemudian sungguh-sungguh bertaubat, sungguh-sungguh kembali kepada Allah,
    41 min
  • Pembagian Surah-Surah Al-Qur’an

    Pembagian Surah-Surah Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 13 Rabi’ul Awal 1445 H / 28 September 2023 M.







    Pembagian Surah-Surah Al-Qur’an



    Pembagian Al-Qur’an kita bisa lihat, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits:



     أُعطِيتُ مكانَ التَّوراةِ السَّبعَ ، وأُعطِيتُ مكانَ الزَّبورِ المئين ، وأُعطِيتُ مكانَ الإنجيلِ المثانيَ ، وفُضِّلتُ بالمُفصَّلِ 



    Aku diberi As Sab’ut Thiwal (tujuh surat yang panjang) sebagai ganti Taurat, aku diberi Al Mi’in (ratusan) sebagai ganti Zabur, aku diberi Al Matsani sebagai ganti Injil, dan aku diberi kelebihan dengan Al Mufashshal.”



    “Aku diberikan ganti dari kitab Taurat dengan 7 surah, aku diberi ganti dari Zabur dengan Al-Mi-in, dan aku diberi ganti dari kitab Injil dengan Al-Matsani, serta aku dilebihkan daripada yang lainnya dengan Al-Mufashal.” (HR. Imam Ahmad, Ath-Thayalisi, dan yang lainnya, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah)



    Di dalam hadis ini, Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa Al-Qur’an ini terbagi menjadi 4 bagian. Yaitu:




    * Tujuh surah yang panjang itu adalah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf, Al-Anfal dan At-Taubah. Tujuh surah yang panjang ini menggantikan Taurat.



    * Kemudian ada المئين sebagi ganti Az-Zabur. Yang dimaksud dengan المئين yaitu surah-surah yang jumlah kebanyakan ayatnya 100 lebih. Yaitu dari surah Yunus sampai akhir surah As-Sajadah.



    * Kemudian ada المثاني, dimana kedudukannya seperti pengganti dari Al-Injil. Yang dimaksud المثاني yaitu surah-surah yang jumlah ayatnya kurang dari seratus. Yaitu dari surah Al-Ahzab sampai akhir surah Al-Hujurat.



    * Kemudian ada المفصل. Ini kelebihan yang diberikan untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam daripada nabi-nabi yang lainnya. Surah المفصل lebih pendek daripada surah yang lainnya. Dia dimulai dari surah Qaf sampai An-Naas.




    Imam Hasan Al-Bashri berkata:



    إن الله أودع علوم الكتب السابقة في القرآن ، ثم أودع علوم القرآن الفاتحة ، فمن علم تفسيرها كان كمن علم تفسير جميع الكتب المنزلة



    “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menitipkan ilmu kitab-kitab sebelum itu ada dalam Al-Qur’an. Kemudian ilmu-ilmu Al-Qur’an itu disaripatikan di surah-surah Mufashal. Kemudian disaripatikan di Surat Al-Fatihah. Barangsiapa yang mengilmui tafsirnya, maka seakan-akan dia mengetahui semua tafsir dari semua kitab yang ada.”



    Apa faedah kita memahami Pembagian Surah-Surah Al-Qur’an ini? Faedahnya supaya kita tahu sunnah ketika shalat. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Pembagian Surah-Surah Al-Qur’an” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    29 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah