Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Bentuk Lain Kekerasan Terhadap Anak
    Bentuk Lain Kekerasan Terhadap Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 08 Muharram 1443 H / 17 Agustus 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Prinsip dan Kaedah Memukul Anak

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Bentuk Lain Kekerasan Terhadap Anak
    Pada pertemuan yang lalu kita telah menjelaskan kaidah dalam memberikan hukuman berupa pukulan kepada anak. Hal ini adalah perkara yang penting kita ulang, karena kadang-kadang kita menggunakan opsi hukuman berupa pukulan, akan tetapi kita harus ketahui hukuman berupa pukulan memiliki kriteria. Yaitu:

    * Hukuman berupa pukulan baru boleh diberikan untuk anak di atas usia 10 tahun keatas.
    * Meminimalisir hukuman berupa pukulan semampu mungkin. Artinya kalau masih ada opsi lain, maka jangan menempuh opsi ini.
    * Pukulan hanya boleh mengenai kulit luar. Artinya tidak boleh sampai memberikan efek kepada organ dalam atau menyebabkan luka.
    * Alat yang digunakan untuk memukul tidak boleh berasal dari jenis bahan yang keras, tajam atau benda-benda yang membuat orang itu hina seperti sandal, sepatu, atau benda-benda yang rendah lainnya.
    * Tidak boleh mengangkat tangan tinggi-tinggi. Yaitu tidak boleh memukul dengan ancang-ancang.
    * Menghentikan pukulan apabila anak meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    * Tidak boleh memukul anggota tubuh yang vital seperti kepala, wajah, leher, dada, perut, atau kemaluan.
    * Hindari memukul pada saat emosi sedang memuncak.
    * Dalam hukuman selain hudud, maka tidak boleh lebih dari 10 kali. Bahkan Umar bin Abdul Aziz menulis surat agar para guru tidak menghukum murid lebih dari tiga kali.

    Bentul Lain Kekerasan Terhadap Anak
    Soyogyanya orang tua adalah pelindung yang mencurahkan kasih sayang kepada anak. Maka seharusnya anak memperoleh keteduhan, keamanan dan ketenangan di dalam rumah dan di dekat orangtuanya, terutama ibu. Ibu adalah sumber kasih sayang dan pusat kelembutan. Dekapan dan pangkuannya mampu memberi kehangatan bagi anak. Maka kegelisahan anak pun akan reda begitu jatuh dalam pelukan ibunya.
    Demikian juga ayah sebagai sumber inspirasi bagi anak, teladan dan sosok yang menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi si anak. Kehadiran ayah itu kadang-kadang sudah lebih dari cukup bagi seorang anak. Maka keberadaan ayah serta ibu di sini anak secara alamiah seharusnya membuat si anak merasa nyaman dan tentram.
    Akan tetapi bagaimana jika ternyata justru sebaliknya. Kehadiran orang tua menjadi momok menakutkan bagi si anak. Ada banyak juga anak-anak yang takut dengan orangtuanya, dan orang tua sengaja menciptakan suasana takut ketika anak itu berhadapan dengan orang tua. Mungkin orang tua ini ingin anak itu tunduk kepadanya dengan menakut-nakuti dan mengintimidasinya. Benar bahwa orang tua ini mungkin mendapatkan penghormatan dari anaknya sesaat. Tapi lain ceritanya ketika anak lepas dari rasa takutnya. Justru sekarang si orang tua inilah yang lemah, kondisinya bisa berbalik 180 derajat. Maka dari itu pendekatan seperti itu tidak benar, walaupun sebagian orang tua sengaja menampilkan aura yang menakutkan di hadapan anak.
    Bagaimanan penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian
    Lihat juga: Cara Mendidik Anak dan Pentingnya Mencetak Generasi Rabbani

    0 min
  • Meminta Wasiat Sebelum Safar
    Meminta Wasiat Sebelum Safar adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 08 Muharram 1443 H / 17 Agustus 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Adab Ketika Sedang Dalam Perjalanan
    Ceramah Agama Islam Tentang Meminta Wasiat Sebelum Safar
    Pada pertemuan yang lalu kita telah membahas bagian dari adab-adab di dalam perjalanan. Demikian pula wasiat yang seyogyanya bagi seorang yang akan berpergian meminta wasiat/nasihat dari seorang yang alim ketika dia akan bepergian.
    Ada satu hadits yang juga sebagai tambahan bagi kita dalam hal ini. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata:
    أن معاذ بن جبل أراد سفرا فقال : يا رسول الله أوصني . قال : « اعبد الله ولا تشرك به شيئا . قال : يا رسول الله زدني ، قال : إذا أسأت فأحسن وليحسن خلقك»
    “Pernah suatu ketika Mu’adz bin Jabal ingin bepergian. Maka beliau mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Wahai Rasulullah, berikanlah aku wasiat (yang akan aku jadikan sebagai pegangan dalam perjalanan).’
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Sembahlah engkau hanya kepada Allah dan jangan engkau menyembah kepada selain Allah.’ Kemudian kata Mu’adz: ‘Ya Rasulullah, berilah aku tambahan wasiat.’ Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Jika kamu berbuat keburukan, maka berbuat baiklah setelah itu. Dan hendaknya akhlakmu menjadi akhlak yang baik (ketika dalam perjalanan).'” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
    Ini adalah wasiat yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada orang yang akan bepergian. Di sini kita melihat ada tiga hal;

    * Apa yang menjadi hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu senantiasa mentauhidkan Allah, senantiasa beribadah hanya kepada Allah dimanapun berada. Ketika bermukim ataupun bepergian, tetap beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu.
    * Apa yang menjadi hak diri seseorang. Di antaranya hak diri kita adalah kalau berbuat kejelekan maka segera berbuat baik. Hal ini supaya perbuatan baik ini menghapus perbuatan buruk yang pernah kita lakukan.
    * Apa yang menjadi hak orang lain, bahkan hak makhluk yang lain. Yaitu hendaknya akhlakmu menjadi akhlak yang baik. Ini adalah hamba-hamba Allah yang lainnya.

    Maka seorang yang berpergian semestinya menjaga tiga hak ini. Bahkan tidak hanya ketika bepergian, tetapi ketika kita bermukim pun demikian.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajiannya.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Riyadush Shalihin – Meminta Wasiat Sebelum Safar
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Meminta Wasiat Sebelum Safar” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya.
    0 min
  • Mentauhidkan Allah dalam Ibadah
    Mentauhidkan Allah dalam Ibadah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 9 Muharram 1443 H / 18 Agustus 2021 M.
    Kajian Tentang Mentauhidkan Allah dalam Ibadah
    Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, ia berkata, “Aku pernah dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di atas seekor keledai. Lalu Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku:
    يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا
    Wahai Mu’adz! Apakah engkau mengetahui apa hak Allah atas hambaNya dan apa hak hamba atas Allah? Lalu aku berkata, ‘Allah dan RasulNya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya hak Allah atas hambaNya adalah mereka beribadah kepadaNya dan tidak mensyirikkanNya dengan suatu apapun. Dan hak hamba atas Allah adalah Dia tidak menyiksa siapa saja yang tidak mensyirikkanNya dengan suatu apapun.’
    Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku beritahukan kabar gembira ini kepada orang-orang?’ Lalu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jangan diberitahukan kepada mereka karena mereka akan bersandar’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Inilah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hak kepada hamba atas tauhid hambaNya. Hamba-hamba yang bertauhid dan tidak mensyirikkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka berhak untuk mendapatkan surga dan tidak disiksa di neraka. Hak ini adalah hak yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan sebagai nikmat dan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan hak yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan karena hamba mewajibkannya terhadap Allah.
    Inilah pendapat Ahlus Sunnah yang berbeda dengan pendapat kaum Mu’tazilah. Dimana mereka menganggap bahwasanya jika seorang hamba telah beribadah kepada Allah, mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka wajib bagi Allah untuk tidak menyiksanya di neraka.
    Adapun pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah apabila seorang hamba mentauhidkan Allah, tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan hamba-hamba kepada surga dan tidak menyiksa mereka di neraka. Ini adalah karunia dan juga nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan gantian atas tauhid hamba dan bukan paksaan dari hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Adab seorang murid
    Perkataan Muadz bin Jabal ketika ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu Mu’adz menjawab “Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” di dalam perkataan ini terdapat adab yang baik dari seorang murid, yaitu bahwa semestinya jika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahui hendaknya dia mengucapkan الله ورسوله أعلم. Berbeda dengan orang yang berpura-pura tahu.
    Perkataan الله ورسوله أعلم ini semestinya dikatakan juga di zaman sekarang. Akan tetapi para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan الله أعلم.
    Ini adalah pelajaran bagi kita, apabila kita tidak mengetahui maka jangan berpura-pura tahu, tapi ucapkanlah الله أعلم.
    Mentauhidkan Allah dalam ibadah
    Dalam hadits ini disebutkan: “Hak Allah atas hambaNya adalah beribadah kepadaN...
    0 min
  • Talbis Iblis Terhadap Khawarij
    Talbis Iblis Terhadap Khawarij adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 7 Muharram 1443 H / 16 Agustus 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Talbis Iblis Terhadap Khawarij
    Khawarij adalah salah satu dari 72 golongan yang dikabarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan muncul di tengah-tengah umat. Di sini Ibnu Jauzi berusaha untuk menjelaskan kepada kita bagaimana iblis menyesatkan kelompok ini dari jalan yang benar.
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa tokoh Khawarij, yaitu orang yang paling buruk di kalangan mereka, pencetus pertamanya adalah orang yang dijuluki Dzul Khuwaishirah. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia bercerita bahwa ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu mengutus seseorang untuk menyerahkan emas dari Yaman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah wadah kulit yang di samak namun belum dibersihkan dari debunya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima emas itu lalu membagikan kepada empat sahabat; Zaid Al-Khair, Aqra’ bin Habis, Uyainah bin Hisn dan Alqamah bin Ulatsah atau Amir bin Ath-Thufail (perawi yang meriwayatkan hadits ini ragu apakah ini atau itu). Namun sebagian sahabat, termasuk juga orang-orang Anshar dan lain-lain merasa kurang setuju atas penyerahan harta itu.
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada mereka: “Tidakkah kalian percaya kepadaku, padahal aku orang kepercayaan Allah yang ada di langit, datang kepadaku berita langit pagi dan petang.”
    Wahyu turun kepada beliau setiap saat, artinya kalau itu salah Nabi akan ditegur. Dan Nabi melakukan itu bukan dengan hawa nafsu, tapi wahyu yang diturunkan kepada beliau.
    Maka para sahabat (termasuk kaum Anshar) menerima perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kalau Nabi sudah mengatakan sesuatu maka sami’na wa atha’na. Inilah iman para sahabat yang mulia, termasuk didalamnya Muhajirin dan Anshar.
    Akan tetapi ada seseorang yang belum bisa menerima, walaupun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah mengucapkan kata-kata itu. Disaat demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam didatangi seorang laki-laki yang bermata cekung, menonjol bagian atas kedua pipinya, menyembul dahinya, lebat jenggotnya, menyingsingkan sarungnya, botak kepalanya. Lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah, takutlah engkau kepada Allah.”
    Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat wajah beliau kearah orang itu dan berkata: “Celaka kamu, bukankah di muka bumi ini orang yang paling takut kepada Allah adalah aku?”
    Tidak lama berselang, laki-laki itu pun menjauh. Maka Khalid yang berada di dekat Nabi berkata: “Wahai Rasulullah, bolehkah aku memenggal leher orang itu?” Maka Nabi menjawab: “Tidak, barangkali dia masih mengerjakan shalat.”
    Maka Khalid mengatakan: “Sungguh banyak orang yang shalat namun mengucapkan apa yang tidak ada dalam hatinya.” Maka Nabi berkata kepada Khalid: “Aku tidaklah diutus untuk  mengoyak hati manusia atau membelah perut mereka.” Kemudian Nabi memandangi laki-laki itu saat dia berpaling, dan Nabi pun berkata:
    إنه سيخرج من ضئضئ هذا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم
    “Sungguh akan muncul dari anak keturunan orang ini satu kaum, mereka membaca Al-Qur’an tapi bacaan itu tidak melewati kerongkongan mereka.”
    Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak mereka pahami. Artinya itu hanyalah bacaan di bibir saja.
    0 min
  • Hakikat Ruh dan An-Nafs
    Hakikat Ruh dan An-Nafs merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 7 Muharram 1443 H / 16 Agustus 2021 M.

    Kajian Tentang Hakikat Ruh dan An-Nafs
    Pada kajian kali ini dibahas tentang الروح والنّفس. Ada sebagian orang yang membedakan antara ruh dengan an-nafs. Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa ruh adalah yang mengatur dan menggerakkan badan, dialah nanti yang akan berpisah dengan badan dikarenakan adanya kematian. Ruh itulah yang ditiupkan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada diri manusia disaat dia berada dalam rahim ibunya. Dan dialah juga yang disebut dengan an-nafs (jiwa) yang terpisah dengan adanya kematian.
    An-nafs (jiwa) adalah ruh, ruh adalah jiwa, sehingga ini bukan dua hal yang berbeda. Ruh dikatakan an-nafs karena dia yang menggerakkan badan, sedangkan dikatakan ruh karena lembutnya dia. Terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kata “ruh” untuk sebutan Malaikat Jibril, sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Asy-Syu’ara:
    نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ
    “Yang turun dengannya Ruh Al-Amin (Jibril).” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 193)
    Juga dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا…
    “Dan demikian juga Kami wahyukan kepada engkau ruh (Al-Qur’an) dari urusan Kami.” (QS. Asy-Sura[42]: 52)
    Namun yang ada pada diri manusia, ruh adalah an-nafs (jiwa).
    Apakah ruh memiliki bentuk?
    Dikarenakan ruh adalah makhluk dari jenis yang tidak ada contohnya di alam ini, maka otomatis kita tidak bisa mengetahui bagaimana bentuknya. Allah memberitahu kita bahwa ruh itu bisa naik dan bisa turun, dia juga bisa mendengar, melihat, bicara dan yang lainnya. Hanya saja sifat-sifat ini berbeda dengan sifat benda-benda yang kita ketahui.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang sangat bermanfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hakikat Ruh dan Jiwa – Al-Qiyamah Ash-Shughra
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Hakikat Ruh dan An-Nafs” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    0 min
  • Ar-Rasyid Billah
    Ar-Rasyid Billah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Faidah-Faidah Sejarah Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 14 Dzulqa’dah 1442 H / 25 Juni 2021 M.

    Download juga kajian sebelumnya: Biografi Imam Abu Bakar At-Turtushi
    Kajian Tentang Biografi Ar-Rasyid Billah
    Ar-Rasyid Billah adalah anak Al-Mustarsyid Billah yang sebelumnya berkuasa. Beliau lahir 502 Hijriyah. Dia diangkat sebagai putra mahkota saat berumur 13 tahun, kemudian diangkat menjadi Khalifah secara resmi setelah mangkanya orangtuanya pada tahun 529 Hijriyah di bulan Dzulqa’dah.
    Orang tua beliau sebelumnya mengalami banyak sekali tantangan dari penguasa yang disebut dengan Sultan. Terjadi perselisihan antara Sultan Mas’ud dengan Khalifah Al-Mustarsyid Billah, yang akhirnya orang tua beliau melakukan perlawanan dan kemudian orang tua beliau tertawan. Setelah itu Sultan Mas’ud diberi nasihat oleh saudaranya untuk menghentikan pertempuran karena begitu banyaknya gejolak yang terjadi di wilayah Islam, terutama di kota Baghdad dan beberapa kota lain untuk menentang Sultan Mas’ud.
    Akhirnya Khalifah dikembalikan pada posisinya. Ketika dalam perjalan untuk kembali ke Baghdad, ada penyusup sekitar 10 orang dari aliran Batiniyah. Mereka masuk ke dalam bagian dari pasukan pengawal. Ketika khalifah sedang beristirahat di tendanya, 10 orang ini melakukan aksinya untuk menghabisi khalifah dalam perjalanannya, maka akhirnya khalifah terbunuh.
    Inilah sejarah orang tua Ar-Rasyid Billah. Beliau adalah orang yang pemberani, sangat sayang dengan rakyatnya, sehingga beliau dicintai oleh kaum muslimin. Beliau juga memiliki pandangan yang jauh kedepan, sangat baik di dalam memberikan motivasi kepada rakyatnya, pejabat yang dicintai orang umum maupun pejabat khusus. Maka pejabat-pejabat tinggi membaiat anaknya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Ar-Rasyid Billah
    Untuk mp3 kajian  yang lain silahkan kunjungi mp3.radiorodja.com
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
    0 min
  • Biografi Imam Abu Bakar At-Turtushi
    Biografi Imam Abu Bakar At-Turtushi merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Faidah-Faidah Sejarah Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 30 Syawal 1442 H / 11 Juni 2021 M.

    Download juga kajian sebelumnya: Biografi Imam Al-Baghawi
    Kajian Tentang Biografi Imam Abu Bakar At-Turtushi
    Di antara para ulama yang wafat di masa kekuasaan Al-Mustarsyid Billah adalah Imam Abu Bakar At-Turtushi dari salah seorang ulama Malikiyah. Turtushi adalah salah satu daerah di Andalusia atau Spanyol.
    Beliau ini cukup fenomenal dari kalangan ulama Malikiyah yang juga konsisten dalam menegakkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga beliau memiliki karya yang fenomenal. Judulnya adalah Al Hawadits wal Bida‘ (الحوادث والبدع). Di dalam kitab tersebut beliau menjelaskan berbagai penyimpangan-penyimpangan dalam praktek ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin yang beliau saksikan.
    Kitab ini cukup penting untuk dibaca oleh penuntut ilmu ataupun dibacakan kepada masyarakat agar opini yang dibangun oleh sebagian orang ketika ada nasehat tentang hal-hal yang menyimpang dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka selalu mengatakan ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah atau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
    Kita ingin buktikan bahwa kita tidak hanya mengambil pendapat ulama-ulama setelah Ibnu Taimiyah, tapi bahkan Ibnu Taimiyah sendiri mengambil ilmu itu dari ulama-ulama sebelumnya.
    Dari kitab-kitab para ulama terdahulu kita akan mengetahui apakah ustadz-ustadz yang menjelaskan kepada umat tentang bahaya bid’ah terhadap amalan mereka itu mengada-ada atau memang mereka adalah orang yang betul-betul mengambil faedah dari penjelasan para ulama sebelumnya Ibnu Taimiyah.
    Sehingga kita akan tahu bahwa apa yang dijelaskan selama ini bukan keluar dari kepala dan hasil penelitian sendiri, tapi itu diambil dari sumber-sumber kitab ulama yang para ulama tersebut menjelaskan dalil-dalilnya kepada umat.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Biografi Imam Abu Bakar At-Turtushi
    Untuk mp3 kajian  yang lain silahkan kunjungi mp3.radiorodja.com
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
    0 min
  • Khutbah Jumat: Doa Malaikat Pemikul ‘Arsy Untuk Orang Beriman
    Khutbah Jum’at tentang Doa Malaikat Pemikul ‘Arsy Untuk Orang Beriman ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 04 Muharram 1443 H / 13 Agustus 2021.
    Khutbah Pertama – Doa Malaikat Pemikul ‘Arsy Untuk Orang Beriman
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan para malaikat, di antaranya untuk kemaslahatan manusia. Allah menciptakan para malaikat untuk senantiasa bertasbih memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak pernah lelah-lelahnya mereka bertasbih, Allah berfirman:
    يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
    “Mereka bertasbih mensucikan Allah sepanjang malam dan sepanjang siang dan tak pernah ada lelah-lelahnya.” (QS. Al-Anbiya[21]: 20)
    Mereka malaikat yang mulia, makhluk-makhluk yang Allah ciptakan hanya ibadah kepadaNya. Mereka senantiasa ruku’ dan sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mereka tidak pernah memaksiati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Di antara malaikat itu, saudaraku.. Ada malaikat yang Allah tugaskan untuk memikul ‘ArsyNya. ‘Arsy Allah, dimana Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy. ‘Arsy adalah makhluk paling besar yang Allah ciptakan, yang disebutkan dalam hadits yang dishahihkan oleh Syaikh Albani Rahimahullah:
    “Tidaklah tujuh langit dan tujuh bumi dibandingkan dengan kursi Allah, kecuali seperti dirham dibandingkan dengan perisai -dalam satu riwayat yang lain- dibandingkan dengan tanah lapang. Dan tidaklah kursi Allah dibandingkan dengan ‘ArsyNya, kecuali seperti cincin dibandingkan dengan tanah lapang.”
    Bagaimana besarnya ‘Arsy Allah, tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tujuh langit dan tujuh bumi yang kita lihat saja sangat luas sekali. Bagaimana di langit sana ratusan ribu bahkan miliaran galaksi yang ada, Allah ciptakan itu. Dan ternyata dibandingkan dengan kursi Allah sangat kecil sekali. Dan kursi Allah yang sangat besar yang Allah sebutkan dalam FirmanNya:
    وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
    “Kursi Allah meluasi langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)
    Ternyata dibandingkan dengan ‘Arsy Allah sangat kecil sekali.
    Dan Arsy’ Allah dipikul oleh malaikat-malaikat yang sangat besar. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أُذِنَ لي أن أحدِّثَ عن ملَكٍ مِن ملائِكَةِ اللَّهِ تَعالى مِن حَمَلةِ العَرشِ إنَّ ما بينَ شَحمةِ أذُنِهِ إلى عاتقِهِ مَسيرةُ سَبعِمائةِ عامٍ
    “Aku diizinkan oleh Allah untuk menceritakan kepada kalian bagaimana besarnya malaikat pemikul ‘Arsy. Yaitu jarak antara daging telinganya dengan pundaknya 700 tahun perjalanan.” (HR. Ahmad)
    Bagaimana besarnya malaikat pemikul ‘Arsy. Dan ternyata malaikat-malaikat pemikul ‘Arsy, di antara tugasnya bukan sebatas pemikul ‘Arsy. Akan tetapi mendoakan orang-orang yang senantiasa mengikuti Allah dan RasulNya. Allah berfirman dalam surah Ghafir ayat 7:
    الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
    “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beriman kepadaNya, serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Rabb kami, sungguh rahmat dan ilmu Engkau meluasi segala sesuatu, maka ampunilah orang-orang yang bertaubat di antara m...
    0 min
  • Agama Yang Diridhai Disisi Allah Adalah Islam
    Agama Yang Diridhai Disisi Allah Adalah Islam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 22 Syawwal 1442 H / 03 Juni 2021 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Agama Yang Diridhai Disisi Allah Adalah Islam
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ‏‏
    “Sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah adalah Islam. Tiada orang-orang yang diberi Al-Kitab berselisih melainkan setelah datang kepada mereka ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya.” (QS. Ali-Imran[3]: 19)
    Yang diinginkan dari makna “Ad-Din” dalam ayat ini adalah beribadah kepada Allah dan beramal untukNya, dia adalah Islam. Arti Islam ada dua makna; makna secara umum adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan syariatNya. Adapun makna Islam secara khusus adalah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Dalil atas pembagian ini adalah dari Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an dengan, حَنِيفًا مُّسْلِمًا (hanif dan muslim). Juga tentang Raja atau Ratu Saba’ di dalam surat An-Naml ayat 44, Allah berfirman tentang perkataan Ratu Saba’:
    وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    “Dan aku berislam (menyerahkan diri) bersama Sulaiman kepada Allah Rabbul ‘Alamin.” (QS. An-Naml[27]: 44)
    Juga perkataan Nabi Ya’kub kepada anak-anaknya, Allah berfirman:
    فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
    “Jalanlah kalian meninggal melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Al-Baqarah[2]: 132)
    Kemudian juga tentang Taurat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا
    “yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Para Nabi yang muslim.” (QS. Al-Maidah[5]: 44)
    Ayat tentang hal ini sangat banyak. Sehingga kalau ada orang yang bertanya apakah orang-orang Yahudi dan Nasrani itu adalah orang-orang muslim? Maka jawabannya adalah bahwa secara umum mereka muslim. Yaitu maksudnya ketika syariat Taurat berdiri tegak dan mereka mengikutinya, maka mereka adalah orang-orang muslim tanpa ada keraguan. Tetapi kalau ditinjau dari makna yang khusus, dimana tidak diinginkan dari makna Islam melainkan adalah Islam yang dengannya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus, maka mereka tidak dikatakan muslim, tetapi mereka kafir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Maka yang terjadi di masa sekarang di sekolah-sekolah, ketika mereka berbicara tentang Yahudi, Nasrani dan Islam, mereka mengatakan bahwa semuanya adalah agama samawi. Dengan kalimat “agama samawi” maka orang yang mendengarnya mengira bahwa agama Yahudi itu haq, agama Nasrani juga haq seperti agama Islam. Tentunya ini tidak benar.
    Agama-agama yang tadi disebut -tanpa ada keraguan- adalah merupakan agama samawi. Akan tetapi selain Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah terjadi perubahan-perubahan. Dan tentunya telah dihapus dengan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan (agama-agama itu) bukan agama yang diridha...
    0 min
  • Orang Yang Tidak Berilmu Mudah Disesatkan
    Orang Yang Tidak Berilmu Mudah Disesatkan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 3 Muharram 1443 H / 12 Agustus 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Orang Yang Tidak Berilmu Mudah Disesatkan
    Sudah kita bahas di pertemuan yang lalu ketika Ali bin Abi Thalib membagi manusia menjadi tiga golongan. Sudah kita bahas yang pertama ulama rabbani, yang kedua seorang penuntut ilmu yang selalu di atas jalan keselamatan, dan yang ketiga adalah orang-orang yang rendah dan hina karena mereka tidak berilmu dan juga tidak berusaha mempelajarinya.
    Sifat golongan yang ketiga ini adalah mengikuti setiap orang yang menyeru tanpa paham mana yang benar dan mana yang salah. Mereka mempertimbangkan mana seruan yang paling keras dan paling menarik, itulah yang diikuti. Hal ini karena mereka tidak punya ukuran untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga wajar mereka gampang disesatkan dan dibawa kepada penyimpangan. Artinya siapa saja yang berteriak dan menyeru mereka, maka mereka akan mengikutinya. Ini golongan yang terbanyak di kalangan manusia.
    Jadi, sama saja seruan tersebut benar atau salah. Karena mereka tidak punya ilmu tentang seruan yang mereka dengarkan apakah itu benar atau atau salah. Maka ini harus kita perhatikan, karena ini menyangkut masalah keselamatan kita di akhirat nanti.
    Orang-orang yang seperti ini akan mudah ditarik kesana kemari. Makanya mereka ini paling disukai oleh setan. Mereka mudah disesatkan dan mudah menjadikan orang lain ikut karena mereka jumlahnya paling banyak. Mereka-mereka ini adalah manusia yang paling membahayakan dan mengancam kebaikan agama Islam. Hal ini karena jumlahnya paling banyak.
    Inilah jawaban kenapa Al-Qur’an selalu mencela orang-orang kebanyakan di muka bumi? Jawabannya adalah karena sifat mereka rata-rata seperti ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
    “Kalau kalian mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi ini, mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala…” (QS. Al-An’am[6]: 116)
    Inilah orang-orang yang mudah diperangkap oleh setan untuk mengikuti tipu dayanya dan merekalah jumlahnya yang paling banyak sehingga paling membahayakan bagi agama.
    Bagaimana penjelasan selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Orang Yang Tidak Berilmu Mudah Disesatkan
    Mari turut membagikan link download kajian “Orang Yang Tidak Berilmu Mudah Disesatkan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    0 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah